"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Sabtu, 11 Mei 2013

PENGHARAPAN / OPTIMISMA (25)

Abu Najih (Amru) bin Abasah Assulamy r.a. berkata : Pada masa Jahiliyah, saya merasa bahwa semua manusia dalam kesesatan, karena mereka menyembah berhala. Kemudian saya mendengar berita ; Ada seorang di Mekkah memberi ajaran-ajaran yang baik. Maka saya pergi ke Mekkah, di sana saya dapatkan Rasulullah s.a.w. masih sembunyi-sembunyi, dan kaumnya sangat congkak dan menentang padanya. Maka saya berdaya-upaya hingga dapat menemuinya, dan bertanya kepadanya : Apakah kau ini? Jawab nya : Saya Nabi. Saya tanya : Apakah Nabi itu? Jawabnya : Allah mengutus saya. Diutus dengan apakah? Jawabnya : Allah mengutus saya supaya menghubungi famili dan menghancurkan berhala, dan meng-Esa-kan Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Saya bertanya : Siapakah yang telah mengikuti engkau atas ajaran itu? Jawabnya : Seorang merdeka dan seorang hamba sahaya (Abubakar dan Bilal). Saya berkata : Saya akan mengikuti kau. Jawabnya: Tidak dapat kalau sekarang, tidakkah kau perhatikan keadaan orang-orang yang menentang kepadaku, tetapi pulanglah kembali ke kampung, kemudian jika telah mendengar berita kemenanganku, maka datanglah kepadaku.
Maka segera saya pulang kembali ke kampung, hingga hijrah Rasulullah s.a.w. ke Madinah, dan saya ketika itu masih terus mencari berita, hingga bertemu beberapa orang dari familiku yang baru kembali dari Madinah, maka saya bertanya : Bagaimana kabar orang yang baru datang ke kota Madinah itu? Jawab mereka : Orang-orang pada menyambutnya dengan baik, meskipun ia akan dibunuh oleh kaumnya, tetapi tidak dapat. Maka berangkatlah saya ke Madinah dan bertemu pada Rasulullah s.a.w. Saya berkata : Ya Rasulullah apakah kau masih ingat pada saya? Jawabnya : Ya, kau yang telah menemui saya di Mekkah. Lalu saya berkata : Ya Rasulullah beritahukan kepada saya apa yang telah diajarkan Allah kepadamu dan belum saya ketahui. Beritahukan kepada saya tentang sholat? Jawab Nabi : Sholatlah waktu Subuh, kemudian hentikan sholat hingga matahari naik tinggi sekadar tombak, karena pada waktu terbit matahari itu seolah-olah terbit di antara dua tanduk syaithan, dan ketika itu orang-orang kafir menyembah sujud kepadanya.
Kemudian setelah itu kau boleh sholat sekuat tenagamu dari sunnat, karena sholat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga matahari tegak di tengah-tengah, maka di situ hentikan sholat karena pada sa’at itu dinyalakan jahannam, maka bila telah telingsir dan mulai ada bayangan, sholatlah, karena sholat itu selalu disaksikan dan dihadiri Malaikat, hingga sholat Asar.
Kemudian hentikan sholat hingga terbenam matahari, karena ketika akan terbenam matahari itu seolah-olah terbenam di antara dua tanduk syaithan dan pada sa’at itu bersujudlah orang-orang kafir. Saya bertanya : Ya Nabiyullah, ceriterakan kepada saya tentang wudlu’! Bersabda Nabi : Tiada seorang yang berwudlu’ lalu berkumur dan menghirup air, kemudian mengeluarkannya dari hidungnya melainkan keluar semua dosa-dosa dari mulut dan hidung. Kemudian jika ia membasuh mukanya menurut apa yang diperintahkan Allah, jatuhlah dosa-dosa mukanya dari ujung jenggotnya bersama tetesan air. Kemudian bila membasuh kedua tangan sampai kedua siku, jatuhlah dosa-dosa dari ujung jari-jarinya bersama tetesan air. Kemudian mengusap kepala maka jatuh semua dosa dari ujung rambut bersama tetesan air, kemudian membasuh dua kaki ke matakaki, maka jatuhlah semua dosa kakinya dari ujung jari bersama tetesan air. Maka bila ia sholat sambil memuja dan memuji Allah menurut lazimnya, dan membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, maka keluar dari semua dosanya bagaikan baru lahir dari perut ibunya.
(HR. Muslim)

Ketika Amru bin Abasah menceritakan hadits ini kepada Abu Umamah, oleh Abu Umamah ditegur : Hai Amru bin Abasah perhatikan keteranganmu itu, masakan dalam satu perbuatan orang diberi ampun demikian rupa. Jawab Amru : Hai Abu Umamah, telah tua usiaku, dan rapuh tulangku, dan hampir ajalku, dan tiada kepentingan bagiku untuk berdusta terhadap Allah atau Rasulullah s.a.w. Andaikan saya tidak mendengar dari Rasulullah, hanya satu dua kali atau tiga empat kali, atau lima enam tujuh kali tidak akan saya ceritakan, tetapi saya telah mendengar lebih dari itu. (HR. Muslim).
----------------------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 380-384.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar