"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Selasa, 15 Juli 2014

Abu Bakr Melepas Pasukan Usamah

Setelah Umar kembali ke Jurf, semua orang sudah tahu mengenai pesan Abu Bakr yang dibawanya. Mau tak mau mereka harus tunduk kepada Khalifah. Setelah itu Abu Bakr pun pergi mengunjungi markas pasukan itu. Ketika memberangkatkan dan melepas pasukan itu ia berjalan kaki, sementara Usamah di atas kendaraan, untuk menanamkan kesan kepada mereka tentang kepemimpinan Usamah yang harus diterima dan ditaati. Tetapi agaknya Usamah merasa malu melihat orang tua yang penuh wibawa dan sahabat Rasulullah serta penggantinya memerintah Muslimin itu berjalan kaki di sebelahnya sedang hewan tunggangannya dituntun oleh Abdur-Rahman bin Auf dari belakang.
“Oh Khalifah Rasulullah,’’ kata Usamah. “Tuan harus naik, kalau tidak saya akan turun.”
“Demi Allah, jangan turun!” Abu Bakr berkata. “Dan demi Allah aku tidak akan naik. Aku hanya menjejakkan kaki di debu sejenak demi perjuangan di jalan Allah!”
Setelah tiba saatnya akan melepas pasukan itu ia berkata kepada Usamah : “Kalau menurut pendapatmu Umar perlu diperbantukan kepadaku silakan.”
Usamah mengizinkan Umar meninggalkan pasukannya dan kembali (ke Medinah) bersama Abu Bakr.
Kiranya apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang masih menggerutu itu setelah menyaksikan peristiwa ini, padahal baru kemarin mereka membaiat Abu Bakr untuk mengurus kaum Muslimin besar kecil. Mereka yang tadinya tunduk terpaksa, setelah tindakan Abu Bakr yang sungguh bijaksana itu tak ada jalan lain harus menerima juga kalau tidak mereka akan menjadi buah mulut orang dan dituduh mementingkan diri sendiri. Kekhawatiran kita pada penilaian orang terhadap diri kita serta hukumannya yang dijatuhkan kepada kita sering mempengaruhi tingkah laku dan perbuatan kita, sama dengan berkuasanya kepuasan pribadi kita, meskipun sebab dan motifnya berbeda.

Pesan Abu Bakr kepada Pasukan Usamah
Bila sudah tiba saatnya Abu Bakr melepas pasukan, ia berdiri di depan mereka menyampaikan pidatonya :
“Saudara-saudara, ikutilah sepuluh pesan saya ini dan harus Saudara-saudara perhatikan : Jangan berkhianat, jangan korupsi, jangan mengecoh dan jangan menganiaya. Janganlah membunuh anak-anak, orang lanjut usia atau perempuan. Janganlah menebang atau membakar kebun kurma, jangan memotong pohon yang sedang berbuah, jangan menyembelih kambing, sapi atau unta kecuali untuk dimakan. Kamu akan melewati golongan manusia yang mengabdikan diri tinggal dalam biara, biarkan mereka, jangan diganggu. Kamu akan singgah pada suatu golongan yang akan menghidangkan pelbagai macam makanan, maka jika di antaranya ada yang kamu makan, sebutlah nama Allah. Juga kamu akan menjumpai beberapa golongan manusia, di bagian atas kepala mereka berlubang*) dan membiarkan sekelilingnya seperti pita, sapulah itu sekali dengan pedangmu. Terjunlah kamu dengan nama Allah, semoga Allah memberi perlindungan kepada kamu dari kematian dan penyakit.**)”
Kepada Usamah yang sudah mulai bergerak dengan pasukannya ia berkata :
“Kerjakan apa yang diperintahkan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam kepadamu. Mulailah dari daerah Quda’ah, kemudian masuk ke Abil. Jangan kaukurangi sedikit pun perintah Rasulullah. Jangan ada yang kautinggalkan apa yang sudah dipesankan kepadamu.”

Catatan :
*) Sebuah tamsil, berasal dari hadits Rasulullah, yang maksudnya bila setan telah bersarang di kepala manusia, segala kejahatan akan diperbuatnya, maka kikislah itu.
**) Bitta’n watta’un, harfiah, terbunuh dengan tombak dan wabah.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 81 - 82.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar