"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 30 Mei 2014

ALAM AKHIRAT (8)

Jasmaniyah dan Rohaniyah
Kehidupan jasmani saja tidak mungkin karena tanpa ruh, jasmani tidak dapat hidup. Tetapi kehidupan rohani saja adalah mungkin sebab ruh sendiri itulah yang menyebabkan dan merupakan kehidupan. Sedang kehidupan jasmani dan rohani adalah mungkin karena dengan adanya ruh maka jasmani dapat hidup. Kehidupan di dunia ini adalah kehidupan jasmaniyah dan rohaniyah. Setelah manusia mati dia berada di alam barzakh dan di sana mengalami kehidupan rohaniyah saja. Kelak pada hari Kiyamat jasmani manusia dibentuk kembali lalu ruhnya dimasukkan ke dalamnya, maka manusia kembali hidup, dan itulah yang dinamakan kiyamat atau kebangunan. Jika andaikata kehidupan di akhirat hanya kehidupan rohani, maka tidak perlu adanya Kiyamat itu karena manusia masih dalam keadaan hidup rohani dalam alam barzakh. Dan jika siksa Neraka dan pahala Syurga juga hanya berbentuk rohani, maka tidak perlu pulalah adanya Neraka dan Syurga itu karena di alam barzakh ruh manusia telah menerima siksa atau pahala rohani, yaitu ‘adzab atau nikmat kubur.
Sebagian mereka yang berpendapat bahwa kehidupan di Akhirat adalah kehidupan rohani, disebabkan karena meraka malu dicela orang bahwa i’tiqad agama demikian itu mustahil dan menggelikan. Tetapi Sebagian lagi justru karena pemikirannya sendiri dengan beberapa macam alasan. Perlu rasanya beberapa alasan mereka dikemukakan di sini dengan disertai tanggapan-tanggapan seperlunya.
  • Buah-buahan dalam Syurga yang diterangkan Allah dalam firman-Nya adalah bukan buah pohon-pohonan tetapi mempunyai arti kiasan; yaitu buah dan amal kebaikan yang telah mereka lakukan di dunia, berupa keridlaan Allah. Dalam Syurga tidak mungkin ada makan dan minum. Kalau ada maka ada pula buang air kecil atau besar yang merupakan kotoran, sedang dalam Syurga tidak mungkin ada kotoran.
Tanggapan :
Padahal kalau kita memahami firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 25 tersebut di atas, kita mengetahui bahwa penduduk Syurga yang menerima rezeki buah-buahan itu berkata : “Inilah yang pernah direzekikan kepada kami dahulu.” Kemudian Allah menjelaskan bahwa memang mereka diberi buah menyerupai yang dahulu. Ini membuktikan bahwa kata-kata “tsamarat” tidak tepat diartikan secara kiasan tetapi harus secara arti-haqiqi yaitu : buah. Kata-kata “rezeki atau rizqan” menguatkan keharusan pengertian-haqiqi itu. Apa yang keluar dari perut manusia adalah ampas dan makanan. Karena berbau busuk dan kotor maka dinamakan kotoran. Sampai seberapa jauh bau busuk dan kotornya ampas itu tergantung kepada apa yang telah dimakan dan kepada keadaan tubuh manusia. Jika orang memakan jengkol, petai, daging dan sebagainya, maka ampasnya akan lebih kotor dan lebih berbau busuk daripada orang yang hanya memakan sayur dan buah serta hanya minum air tawar. Orang sakit kotorannya lebih berbau busuk lagi. Orang yang sehat walafiat memakan sayur dan buah yang terpilih bersih serta halus, mencernanya dengan sempurna dan minumannya air jernih; niscaya kotorannya tidak berapa baunya. Buah-buahan dan minuman dalam Syurga adalah demikian bersih dan halusnya; demikian pula jasmani manusia di sana yang sehat walafiat, pasti tidak mustahil ampasnya tidak kelihatan kotor dan tidak pula berbau. Sungai-sungai yang mengalir akan menghanyutkan itu. Atau juga tidak mustahil bahwa buah-buahan Syurga begitu bersih, jernih dan lembut hingga tidak berampas sama sekali. Seluruhnya tercerna dan meresap ke dalam darah, sedang pembuangan semata-mata berupa keringat yang tidak bau pula. Atau juga bagaimanapun, Allah takdirkan ampas yang keluar dari manusia di Syurga berbau harum. Kita ingat saja kepada binatang sebangsa musang yang bernama rase, yang mampu mengeluarkan air atau keringat yang berbau sangat harum yang bernama “kesturi”.
  • Dalam Syurga tidak ada nikah, kawin dan berumahtangga; karena jika ada tentu terjadi pula kehamilan, kelahiran anak dan cucu. Demikian pula akan terjadi berpacaran, bercumbuan, berebut isteri atau suami, dan mungkin perzinaan. Sebagaimana halnya tidak ada makan dan minum, dalam Syurga tidak ada pula hubungan kelamin; sebab setiap penghuni berada dalam kehidupan rohani. Dalam firman Allah tersebut di atas, kata-kata “jawwajna hum bi hurin ‘inin”, tidak berarti bahwa mereka dijodohkan dengan bidadari tetapi diberi teman bidadari. Sebab di belakang kata-kata “zawwajna:hum” ada kata depan “bi” yang artinya “dengan”.
Tanggapan :
Kalaupun dalam Syurga ada nikah, kawin dan ber-rumahtangga lalu ada kehamilan dan kelahiran anak; apakah keberatan kita terhadapnya? Dan apakah itu bukan sesuatu yang wajar? Maka anak yang lahir dalam Syurga adalah anak yang elok serta saleh. Akan tetapi karena bidadari itu suci tidak berdatang bulan maka tidak akan ada kehamilan. Kesucian wanita dalam pengertian tidak berdatang bulan berlaku pula di dunia, yakni apabila mereka telah mencapai usia tertentu, dan ada pula wanita yang memang sejak semula tidak berdatang bulan. Allah serba kuasa untuk menciptakan organisme dalam tubuh wanita Syurga sedemikian rupa sehingga terhindar samasekali daripada haid. Adapun kata-kata “zawwaja” memang berarti “menjodohkan” walaupun di belakangnya ada kata depan “bi”. Kata depan itu tidak merubah arti sebab memang hubungannya dengan kata-kata “hurin”. Dengan demikian menurut tatabahasa Arab kata “hurin” dikatakan berada dalam posisi majrur dengan harf-jah. Memang “bi” dapat dihilangkan tanpa merobah arti : “Zawwajna:hum hu:ran”. Di sini “hu ran” menjabat posisi objek atau maf’ul-bih dan dibaca mans-shub; artinya tetap : “Kami jodohkan mereka dengan bidadari”. Adapun kaum wanita yang masuk ke dalam Syurga, mereka menjadi bidadari atau semacam bidadari dan ikut diperjodohkan.
  • Apabila kehidupan dalam Neraka dan Syurga itu berbentuk jasmani, tentu memerlukan adanya semacam bumi untuk tempat penghuninya. Di manakah letaknya bumi itu?
Tanggapan :
Pendapat di atas itu benar belaka. Setiap kehidupan jasmani memerlukan tempat. Karena dalam Syurga terdapat air, pohon dan buah, tentu memerlukan tanah atau bumi. Bagaimana keadaan dan di mana letaknya bumi itu hanya Allah yang tahu. Apakah di suatu planit tertentu? Tidak mustahil! Kalau di planit tentu akhirnya akan musnah pula? Allah pindahkan ke planit lain dan demikian seterusnya; atau memang ada planit yang ditakdirkan Allah menjadi abadi, atas kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas!
Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa :
  1. Kehidupan di Syurga dan Neraka sesuai dengan firman Allah adalah kehidupan rohani dan jasmani semacam kehidupan di dunia ini. Bagaimana bentuk dan susunan jasmani manusia adalah terserah kepada kehendak dan kekuasaan Allah.
  2. Kehidupan jasmani memang memerlukan adanya tempat dan ruang. Maka Syurga dan Neraka memang merupakan tempat dan ruang yang letaknya hanya Allah yang tahu. Adapun manusia baru akan tahu setelah berada di sana.
  3. Orang yang masuk Syurga adalah kekal abadi. Orang kafir dan musyrik kekal dan abadi dalam neraka. Orang beriman yang berdosa akan disiksa dalam neraka sampai dosanya selesai, kemudian dimasukkan ke dalam Syurga.
  4. Keyakinan bahwa kehidupan di akhirat adalah kehidupan jasmani dan rohani, adalah berdasarkan firman Allah Yang Maha Kuasa Pencipta segala alam dunia dan akhirat serta berdasarkan logika yang sehat. Jika andaikata kehidupan di akhirat hanya rohani, maka tidak perlu adanya Qiyamat dan Akhirat; sebab sesudah manusia mati sesungguhnya ruhnya masih hidup terus dalam alam rohani.

Dengan kesimpulan tersebut di atas sebagai bentuk iman kepada Akhirat secara yakin, manusia akan lebih mantap jiwanya untuk mengabdi kepada Yang Maha Khaliq, dan untuk dengan sukses membebaskan diri daripada cengkaman pengaruh duniawi yang menyesatkan, dan akhirnya untuk mengharap ni’mat dan rahmat serta Ridla Allah yang kekal abadi.
-------------------------
Menyingkap Tabir Rahasia Maut, Cetakan ke-2, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 34-38.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar