"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 29 November 2010

Djarnawi Hadikusumo

Djarnawi Hadikusumo dilahirkan pada hari Ahad, tanggal 4 Juli 1920 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Djarnawi. Setelah dewasa, di belakang namanya ditambah dengan nama ayahandanya, Hadikusumo. Djarnawi adalah putera dari Ki Bagus Hadikusumo dan Siti Fatimah/Fatmah. Dari garis keturunan ayahnya, Djarnawi berasal dari keturunan keluarga RH. Lurah Hasyim, yaitu seorang abdi dalem santri yang menjabat sebagai lurah bidang keagamaan di keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Sementara dari garis ibunya, dia termasuk keturunan RH. Suhud yang juga seorang abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Dengan latar belakang seperti itu, berarti Djarnawi berasal dari lingkungan keluarga yang berkultur abdi dalem dan santri. Hanya saja, pada perkembangannya kemudian dia lebih tumbuh menjadi seorang santri dan ulama yang disegani daripada seorang abdi dalem.
Djarnawi lahir dari keluarga yang berkecukupan. Hanya saja, salah seorang kerabat ayahnya, yang bernama Ibu Sodik, meminta Djarnawi untuk diasuh olehnya. Kebetulan Ibu Sodik ini belum dikaruniai keturunan hingga usia senjanya. Djarnawi diasuh oleh Ibu Sodik selama satu tahun sebelum akhirnya dikembalikan ke orangtuanya mengingat karena Ibu Sodik semakin lanjut usianya dan sering jatuh sakit. Tak berapa lama setelah kembali hidup bersama kedua orangtuanya, ibunya, Siti Fatimah, wafat. Untuk mengasuh anak-anaknya yang masih kecil, Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Ibu Moersilah. Di bawah asuhan Ibu Moersilah itulah Djarnawi menapak masa remaja dan dewasanya.
Pendidikan formal yang mula-mula ditempuhnya adalah Sekolah Bustanul Athfal Muhammadiyah di Kauman. Selanjutnya, secara berturut-turut dia meneruskan ke jenjang berikutnya, yaitu ke Standaardschool Muhammadiyah dan Kweekschool Muhammadiyah. Pada tahun 1935 Kweekschool Muhammadiyah diubah menjadi Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah. Di Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah itulah tempat terakhir pendidikan formal Djarnawi Hadikusumo.
Dari uraian di atas tampak bahwa latar belakang pendidikan Djarnawi semuanya berada di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Demikian pula guru-guru yang pernah membimbingnya sebagian besar adalah tokoh dan ulama Muhammadiyah, seperti K.H. Mas Mansur, K.H. Faried Ma`ruf, K.H. Abdul Kahar Mudzakir, Siradj Dahlan dan H. Rasyidi. Selain itu, ketika bertugas di Sumatera, dia juga sempat berguru kepada Buya Hamka dan Buya Zainal Arifin Abbas.

A. Aktivitas Djarnawi di dalam Muhammadiyah

Gerakan Muhammadiyah bagi Djarnawi bukanlah sesuatu yang asing lagi. Sejak masih usia kanak-kanak, dia sudah begitu akrab dengan lingkungan dan kultur Muhammadiyah. Apalagi keluarganya merupakan keluarga aktivis gerakan Muhammadiyah. Selain itu, semua pendidikan formalnya dia tempuh di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Dengan demikian, hubungan Djarnawi dengan gerakan Muhammadiyah sangatlah dekat yang kemudian dapat diketahui dari bebarapa aktivitasnya setelah dewasa.
Aktivitas Djarnawi di dalam gerakan Muhammadiyah mulai dijalankan sejak dia lulus dari Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai tempat penggodokan kader-kader guru dan juru dakwah Muhammadiyah. Pada saat itu, tepatnya tahun 1937, setelah lulus dari Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah dia diberi tugas oleh HB. Muhammadiyah (Pimpinan Pusat Muhammadiyah) untuk menjadi guru agama Islam dan juru dakwah pada sekolah Muhammadiyah di daerah Perkebunan Merbau, Medan,  Sumatera Utara. Setelah itu, pada tahun 1938 sampai tahun 1942 dia dipercaya menjadi kepala sekolah Muhammadiyah di Medan. Selanjutnya, sejak tahun 1944 sampai 1949 dia dipercaya untuk menjadi kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah Tebingtinggi, hingga September 1949, sebelum akhirnya Djarnawi kembali ke Yogyakarta.
Selain aktif di lembaga pendidikan Muhammadiyah, sejak masih di Merbau, Djarnawi aktif sebagai pengurus grup (ranting) Muhammadiyah Merbau. Ketika pindah ke Tebingtinggi, dia aktif di Muhammadiyah Cabang Tebingtinggi. Aktivitas Djarnawi di organisasi Muhammadiyah meningkat setelah dia pulang ke Yogyakarta pada tahun 1949. Saat itu dia mulai tercatat sebagai salah seorang anggota Majlis Tablig Pengurus Pusat Muhammadiyah hingga tahun 1962.
Selanjutnya, pada tahun 1962 Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Jakarta. Dalam Muktamar tersebut dia terpilih sebagai sekretaris II Pengururs Pusat Muhammadiyah. Sesudah itu, pada Muktamar Muhammadiyah yang ke-36 di Bandung tahun 1967 dia terpilih sebagai ketua III Pengurus Pusat Muhammadiyah. Untuk periode-periode berikutnya, dia diangkat menjadi sekretaris PP. Muhammadiyah berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Kemudian sebagai wakil Ketua PP Muhammadiyah berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta tahun 1985, dan sebagai anggota PP. Muhammadiyah yang mengetuai bidang Tajdid dan Tablig yang mengkoordinasi Majlis Tarjih, Tablig, Pustaka serta Lembaga Dakwah Khusus berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1990.

Aktifitas di TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

Aktivitas lainnya di dalam organisasi Muhammadiyah juga tampak di Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH. Keaktifannya ini bahkan sudah tercatat sejak masa-masa awal berdirinya TAPAK SUCI. Dulunya masih bernama Lembaga Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah (Lembaga Tapak Suci). Di lembaga ini nama Djarnawi tercatat sebagai salah seorang tokoh utama ketika didirikan pada tanggal 31 Juli 1963.  Beliau adalah salah seorang tokoh utama yang paling banyak memberi pengayoman dan dukungan, disamping beliau juga telah menunjukkan kepiawaiannya dalam berorganisasi dan secara aktif mengedepankan gerakan TAPAK SUCI sebagai Gerakan Muhammadiyah, tidak saja pada saat berdirinya TAPAK SUCI, namun juga pada masa-masa perkembangan TAPAK SUCI. Beliau pula tokoh yang merumuskan do`a dan ikrar perguruan Tapak Suci. Pada kepengurusan periode pertama, Djarnawi didudukkan sebagai Pelindung. Selanjutnya, sejak tahun 1966 sampai 1991 beliau dipilih sebagai Ketua Umum lembaga perguruan pencak silat milik Muhammadiyah itu.
Dipercayanya Djarnawi untuk menduduki posisi Ketua Umum itu karena dia dipandang sebagai seorang tokoh yang mumpuni, baik di bidang keagamaan, kepemimpinan maupun bidang beladiri.  Untuk bidang yang pertama dan kedua telah dia buktikan melalui aktivitasnya sebagai pengurus Muhammadiyah. Sementara untuk bidang yang terakhir, dia adalah mata rantai yang tidak bisa diputuskan dalam sejarah besar Tapak Suci. Kepandaian Djarnawi dalam hal ilmu beladiri pencak silat tersebut dipelajarinya semasa mudanya di Kampung Kauman, yang kala itu Tapak Suci belum berdiri. Selain itu, ketika bermukim di Sumatera dia sempat berguru ilmu silat kepada Sutan Chaniago dan Sutan Makmun, dua orang pendekar yang memiliki nama besar di Wilayah Sumatera utara.
Sosok Djarnawi sesungguhnya adalah sosok seorang aktivis gerakan Muhammadiyah, baik dilihat dari latar belakang keluarga, pendidikan dan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, dalam berkiprah di Muhammadiyah pun tidak tanggung-tanggung. Dia tidak hanya menfokuskan kiprahnya pada aktivitas secara praktis saja, tapi juga berusaha menyumbangkan ide-ide dan pemikirannya untuk membesarkan Muhammadiyah. Kiprah Djarnawi melalui pemikiran-pemikirannya tersebut mulai muncul sejak dia duduk di dalam Kepengurusan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1962. Pada saat itu, dia bersama-sama dengan H. AR. Fachruddin dan HM. Mawardi diberi tugas untuk menggodok bahan-bahan rumusan Kepribadian Muhammadiyah yang telah disampaikan oleh tokoh-tokoh senior Muhammadiyah seperti K.H. Fakih Usman, K.H. Faried Ma`ruf, K.H. Wardan Diponingrat, Hamka, M. Djindar Tamimy dan M. Shaleh Ibrahim. Melalui kerja keras, akhirnya rumusan Kepribadian Muhammadiyah dapat diselesaikannya.
Sumbangan pemikiran Djarnawi lainnya bagi dinamika Muhammadiyah juga tampak pada era 1980-an. Saat itu Muhammadiyah sedang dihadapkan pada persoalan asas tunggal Pancasila yang kontroversial. Setelah melalui pembahasan, pemikiran dan perhitungan yang cukup seksama, akhirnya pada Muktamar yang ke-41 di Surakarta pada tahun 1985 Muhammadiyah menerima kedudukan Pancasila sebagai asas tunggal ormas/orpol. Djarnawi termasuk salah seorang anggota tim perumus, Djarnawi berpandangan bahwa Muhammadiyah bersedia menerima Pancasila sebagai asas tunggal karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa diartikan sebagai keimanan kepada Allah SWT. Penafsiran arti sila pertama dari Pancasila tersebut menurutnya adalah untuk menghindari agar Muktamar tidak lagi menolak asas Pancasila, maka Muhammadiyah akan sulit terlepas dari perpecahan dan pembubaran yang tentu sangat merugikan Muhammadiyah sendiri.
Apa yang dikemukakan Djarnawi di atas mengingatkan semua orang pada sikap ayahnya ketika terjadi ketegangan berkaitan dengan rumusan dasar negara Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan. Penerimaan Muhammadiyah terhadap asas Pancasila akhirnya melegakan semua pihak. Oleh karena itu Muhammadiyah dianggap telah lulus dari salah satu ujian berat yang pernah dihadapinya dalam perjalanan sejarahnya. Muktamar yang berjalan penuh dengan ketegangan itupun kemudian ditutup dengan rasa haru dan gembira pada tanggal 11 Desember dengan diiringi lagu Mars Milad Muhammadiyah yang diciptakan Djarnawi pada sekitar tahun 1976.

B. Aktivitas Djarnawi di Bidang Politik
Selain dikenal sebagai seorang tokoh Muhammadiyah, Djarnawi juga dikenal sebagai seorang politikus. Hanya saja, tidak seperti aktivitasnya di Muhammadiyah yang sudah digelutinya sejak usia dini, di bidang politik dia mulai aktif setelah menginjak usia dewasa. Aktivitas Djarnawi berkaitan dengan bidang politik diawali sekitar tahun 1945. Pada saat itu sampai sekitar tahun 1949 dia bergabung di dalam Batalyon Istimewa TNI (sekarang Kopasus) Brigade XII Daerah Sumatera Utara. Hanya saja, pada saat dia pulang kembali ke Yogyakarta, karir tersebut terputus.
Aktivitas Djarnawi di bidang politik mulai terlihat lagi setelah memasuki pertengahan dekade 1960-an. Antara tahun 1966 sampai 1971 dia tercatat sebagai anggota MPRS/DPRGR. Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, pada bulan Februari 1968 berdiri Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Orang yang kemudian dipercaya untuk menjadi Ketua Umumnya adalah Djarnawi Hadikusuma. Jabatan tersebut diembannya hingga bulan November 1968. Selanjutnya, pada tanggal 4-7 November 1968 Parmusi menggelar kongres. Di dalam kongres tersebut Mr. Moh. Roem terpilih sebagai Ketua Umumnya. Hanya saja, karena dia adalah eks tokoh Masyumi, sehingga kemunculannya tidak direstui oleh pihak pemerintahan. Sebagai alternatifnya, maka Djarnawi kembali diangkat sebagai Ketua Umum Parmusi untuk kedua kalinya.
Jabatan sebagai Ketua Umum Parmusi yang kedua itu dipegangnya hingga tahun 1970. Pada tahun itu di dalam tubuh Parmusi mulai terjadi perpecahan yang kemudian memunculkan kudeta atau pembajakan atas kepemimpinan Djarnawi oleh H.J. Naro beserta para pendukungnya. Peristiwa tersebut terjadi tanggal 17 Oktober 1970. Dengan adanya kejadian itu, maka di dalam tubuh Parmusi muncul dualisme kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Djarnawi dan H.J. Naro. Dualisme kepemimpinan dia dalam tubuh Parmusi itu akhirnya berakhir setelah pemerintah sebagai pembina kehidupan parpol turut campur dengan mengangkat H.S. Mintaredja sebagai ketua Umum Parmusi pada tanggal 20 November 1970. Dengan begitu, berakhirlah masa kepemimpinan Djarnawi di dalam Parmusi.
Setelah tidak lagi menjadi Ketua Umum Parmusi, pada awalnya ada upaya untuk memposisikan Djarnawi sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai Parmusi. Hanya saja, upaya itu digagalkan oleh pihak yang ingin menyingkirkan Djarnawi dari Parmusi. Pembunuhan karir politik Djarnawi tersebut dilakukan karena sikapnya dianggap bertentangan dengan pihak pemerintah. Begitulah, sejak saat itu sampai akhir hayatnya, Djarnawi kembali ke basis awal gerakannya, yaitu Muhammadiyah. Apalagi pada saat itu Muhammadiyah telah memutuskan untuk kembali kepada jati dirinya sebagai gerakan sosial keagamaan.

C. Karya-karyanya

Selain dikenal sebagai seorang aktivis dan praktisi, ternyata Djarnawi juga seorang pemikir atau penulis yang produktif. Itulah kelebihan Djarnawi dibandingkan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya yang seangkatan dengannya. Menurut salah seorang putranya, yaitu Ir. Gunawan Budiyanto, MP. bahwa sampai masa akhir hayatnya setidaknya Djarnawi sudah menulis sekitar 20 buah karya tulis selain beberapa tulisan lepasnya di berbagai media cetak, seperti Suara Muhammadiyah, Suara `Aisyiyah, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos dan The Indonesia Times.
Apabila dirinci, tulisan-tulisan karya Djarnawi dapat diklasifikasikan menjadi lima bidang, yaitu bidang keislaman, sastera, kristologi, sejarah dan pendidikan. Dari kelima bidang itu, tulisan yang paling banyak adalah di bidang keislaman sekitas tujuh buah, yaitu : Risalah Islamiyah (1973), Kitab Tauhid (1987), Ilmu Akhlak (1990), Kitab Fekih (t.t.), Ahlus Sunnah Wal Jama`ah (t.t.), Bid`ah Khurafat (t.t.), Menyingkap Rahasia Maut (t.t.), dan Jalan Mendekatkan Diri Kepada Tuhan (t.t.).
Adapun di bidang sastera karya tulis Djarnawi semuanya berjenis novel. Di bidang ini ada enam karya yang dihasilkannya, yaitu Korban Perasaan (1947), Penginapan di jalan Sunyi (1947), Orang dari Marotai (1949), Pertentangan (1952), Angin Pantai Selatan (1954) dan Di Bawah Tiang Gantungan. Untuk karyanya yang terakhir itu adalah terjemahan dari Guillotine, novel tentang pergolakan pada saat Revolusi Perancis. Hanya saja hasil terjemahan tersebut belum sempat diterbitkan.
Sementara di bidang sejarah (Islam) dia menulis sebanyak tiga buah, yaitu Aliran-Aliran Pembaruan Islam: Dari Jamaluddin Al-Afghani sampai K.H. Ahmad Dahlan (t.t.), Matahari-Matahari Muhammadiyah (t.t.) dan Derita Seorang Pemimpin : Riwayat Hidup, Perdjoangan dan Buah Pikiran Ki Bagus Hadikusuma (1979). Di bidang Kristologi dia menulis dua buah buku, yaitu Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (t.t.) dan Buku Kristologi (1982). Di bidang pendidikan dia hanya menulis sebuah buku yang diberinya judul Pendidikan dan Kemajuan (1949). Selain itu Djarnawi menciptakan lagu yang berjudul Sang Surya, yang kemudian menjadi mars Muhammadiyah.

D. Penutup
Djarnawi Hadikusuma wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada tanggal 26 Oktober 1993. Beliau meninggalkan seorang isteri, yaitu Sri Rahayu dan tujuh orang putera. Sebenarnya putera Djarnawi ada sepuluh, tetapi yang tiga orang meninggal ketika masih kecil. Adapun tujuh anak tersebut adalah Siswanto D. Kusumo, Hartono, Pitoyo Kusumo, Darmawan Susanto, Sri Purwaningsih, Ahmad Poernomo, dan Gunawan Budiyanto (PNS).
-----------------------------------
Sumber : Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar