"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 16 Mei 2014

Pelantikan Abu Bakr

Muslimin Terkejut Karena Kematian Rasulullah
Rasulullah telah berpulang ke sisi Tuhannya pada 12 Rabiulawal tahun 11 Hijri (3 Juni 632 M.). Subuh hari itu Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam merasa sudah sembuh dari sakitnya. Ia keluar dari rumah ‘Aisyah ke mesjid dan ia sempat berbicara dengan kaum Muslimin. Dipanggilnya Usamah bin Zaid dan diperintahkannya berangkat untuk menghadapi Rumawi.
Setelah tersiar berita bahwa Rasulullah telah wafat tak lama setelah duduk-duduk dan berbicara dengan mereka, mereka sangat terkejut sekali. Umar bin Khattab yang berada di tengah-tengah mereka berdiri dan berpidato, membantah berita itu. Ia mengatakan bahwa Rasulullah tidak meninggal, melainkan sedang pergi menghadap Tuhan seperti halnya dengan Musa bin Imran, yang menghilang dari masyarakatnya selama empat puluh malam, kemudian kembali lagi setelah tadinya dikatakan meninggal. Umar terus mengancam orang-orang yang mengatakan bahwa Rasulullah telah wafat. Dikatakannya bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wassallam akan kembali kepada mereka dan akan memotong tangan dan kaki mereka.

Peranan Abu Bakr Ketika Nabi Wafat
Abu Bakr sudah pulang ke rumahnya di Sunh di pinggiran kota Medinah setelah Nabi ‘alaihis-salam kembali dari mesjid ke rumah ‘Aisyah. Sesudah tersiar berita kematian Nabi orang menyusul Abu Bakr menyampaikan berita sedih itu. Abu Bakr segera kembali. Ia melihat Muslimin dan Umar yang sedang berpidato. Ia tidak berhenti tetapi terus menuju ke rumah ‘Aisyah. Dilihatnya Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam di salah satu bagian dalam rumah itu, sudah diselubungi kain. Ia maju menyingkap kain itu dari wajah Nabi lalu menciumnya dan katanya : “Alangkah sedapnya sewaktu engkau hidup, dan alangkah sedapnya sewaktu engkau wafat.” Ia keluar lagi menemui orang banyak lalu berkata kepada mereka : “Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa menyembah Allah, Allah hidup selalu, tak pernah mati.” Selanjutnya ia membacakan firman Allah : “Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau terbunuh kamu akan berbalik belakang? Barangsiapa berbalik belakang samasekali tak akan merugikan Allah tetapi Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qur’an, 3 : 144).
Setelah didengarnya Abu Bakr membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah dia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat. Orang semua terdiam setelah mendengar dan melihat kenyataan itu. Setelah sadar dan rasa kebingungan demikian, mereka tidak tahu apa yang hendak mereka perbuat.

Satu Segi dari Kejiwaannya
Di sini kita berhenti pula sejenak untuk melukiskan Abu Bakr dari segi psikologi dan di sini akan kita lihat pula peranannya dengan lebih jelas. Kalaupun ada di kalangan Muslimin yang akan merasa tercekam perasaannya karena meninggalnya Rasulullah seperti yang dialami Umar itu, maka Abu Bakr-lah orangnya. Dia teman dekat dan pilihan Nabi, dia yang diminta oleh Nabi berada di dekalnya dalam setiap kesempatan. Dia yang menangis ketika Nabi mengatakan : “Seorang hamba oleh Allah disuruh memilih tinggal di dunia ini atau di sisi-Nya, maka ia akan memilih di sisi Allah,” dan dia pula yang mengatakan ketika mendengar kata-kata itu dengan air mata yang sudah tak tertahankan “Kami akan menebus Tuan dengan jiwa kami dan anak-anak kami. Tetapi keterharuannya dengan berpulangnya Rasulullah itu tidak sampai membuatnya kebingungan seperti yang terjadi pada Umar Begitu ia yakin bahwa Rasulullah sudah berpulang, ia keluar dan berpidato di depan orang banyak seperti sudah kita baca tadi.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 28 - 30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar