"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Selasa, 20 Mei 2014

Kemarahan Ansar kepada Muhajirin

Golongan Ansar penduduk Medinah pernah marah kepada kaum Muhajirin, karena pertama kali mereka datang sebagai tamu bersama Rasulullah, kaum Ansar jugalah yang memberi tempat perlindungan dan membela mereka. Setelah sekarang mereka dalam keadaan aman mereka mau menguasai sendiri keadaan. Demikian perasaan mereka pada masa Nabi, dan sudah wajar apabila setelah Nabi wafat hal ini akan jelas naik ke permukaan. Bahkan pada masa Nabi pun pernah terasa juga, yakni setelah Mekah dibebaskan dan sesudah perang Hunain dan Ta’if. Tindakan Muhammad memberikan rampasan perang yang cukup banyak kepada golongan “mualaf” penduduk Mekah telah menjadi bahan pembicaraan kalangan Ansar : “Rasulullah telah bertemu dengan masyarakatnya sendiri,” kata mereka.
Setelah hal ini disampaikan kepada Nabi, dimintanya Sa’d bin Ubadah —pemimpin Khazraj— mengumpulkan mereka. Sesudah mereka berkumpul kata Nabi kepada mereka : “Saudara-saudara kaum Ansar. Ada desas-desus disampaikan kepadaku, yang merupakan perasaan yang ada dalam hati kamu terhadap diriku, bukan? Bukankah kamu dalam kesesatan ketika aku datang lalu Allah membimbing kamu? Kamu dalam kesengsaraan lalu Allah memberikan kecukupan kepada kamu, kamu dalam permusuhan. Allah mempersatukan kamu?”
Mendengar itu Ansar hanya menekur, dan jawahan mereka hanyalah : “Ya benar, Allah dan Rasulullah juga yang lebih bermurah hati.”
Nabi bertanya lagi : “Saudara-saudara Ansar, kamu tidak menjawab kata-kataku!”
Mereka masih menekur, dan tak lebih hanya mengatakan : “Dengan apa harus kami jawab, ya Rasulullah? Segala kemurahan hati dan kebaikan ada pada Allah dan Rasul-Nya juga.”
Mendengar jawaban itu Rasulullah berkata lagi : “Ya, sungguh, demi Allah. Kalau kamu mau, tentu kamu masih dapat mengatakan —kamu benar dan pasti dibenarkan— “Engkau datang kepada kami didustakan orang, kamilah yang mempercayaimu; .engkau ditinggalkan orang, kamilah yang menolongmu, engkau diusir. kamilah yang memberimu tempat; engkau dalam sengsara, kami yang menghiburmu” Kata-kata itu diucapkan oleh Nabi dengan jelas sekali dan penuh keharuan. Kemudian katanya lagi : “Kamu marah, Saudara-saudara Ansar, hanya karena sekelumit harta dunia yang hendak kuberikan kepada orang-orang yang perlu diambil hatinya agar mereka sudi masuk Islam, sedang keislamanmu sudah dapat dipercaya. Tidakkah kamu rela Saudara-saudara Ansar, apabila orang-orang itu pergi membawa kambing, membawa unta, sedang kamu pulang membawa Rasulullah ke tempat kamu? Demi Dia Yang memegang hidup Muhammad! Kalau tidak karena hijrah, tentu aku termasuk orang Ansar. Jika orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan Ansar menempuh jalan yang lain, niscaya aku akan menempuh jalan Ansar. Allahumma ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar, anak-anak Ansar dan cucu-cucu Ansar.”
Begitu terharu orang-orang Ansar mendengar kata-kata Nabi yang keluar dari lubuk hati yang ikhlas diucapkan dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, terutama kepada mereka yang dulu pernah memberikan ikrar, pernah memberikan pertolongan dengan satu sama saling memberikan kekuatan sehingga orang-orang Ansar itu menangis seraya berkata : “Kami rela dengan Rasulullah sebagai bagian kami.”

Ansar dan Pembebasan Mekah
Pemberian harta rampasan perang Hunain kepada golongan mualaf bukan yang pertama kali menimbulkun kegelisahan dalam hati orang-orang Ansar. Kegelisahan demikian sudah pernah timbul tatkala Mekah dibebaskan. Mereka melihat Rasulullah berdiri di Safa sambil berdoa, dan ketika mereka melihatnya sedang menghancurkan berhala-berhala. yang dalam suatu hari berhasil diselesaikannya apa yang diserukannya selama dua puluh tahun. Sekarang terbayang oleh mereka bahwa ia pasti meninggalkan Medinah, kembali ke tempat tumpah darah semula. Mereka berkata satu sama lain : “Bagaimana pendapatmu, setelah Allah memberi kemenangan, akan menetapkah Rasulullah di negerinya sendiri?”
Setelah Muhammad mengetahui rasa kekhawatiran itu, ia langsung berkata : “Berlindunglah kita kepada Allah! Hidup dan matiku akan bersama kamu.”
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 31 - 32.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar