"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 01 April 2013

MENAPAKI JEJAK CHENG HOO DI GEDUNG BATU

OBYEK WISATA. Jika TravelNusa (Traveler Nusantara) berlibur ke Semarang Jawa Tengah, jangan lupa kunjungi Klenteng Sam Poo Kong menjadi salah satu destinasi kalian. Klenteng Sam Poo Kong adalah sebuah kuil Tionghoa yang terletak di daerah Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kotamadia Semarang, Indonesia. Tempat ini  oleh masyarakat Semarang lebih dikenal dengan nama Gedong Batu. Mencapai lokasi  ini tak sulit, kurang lebih 4 km jaraknya dari kawasan Tugu Muda menuju arah selatan kota. Setelah melewati Mapoltabes Semarang kalian akan bertemu dengan pertigaan di RS Dr. Karyadi Semarang ambil ke kanan arah barat dan terus melewati jembatan yang melintasi sungai Banjir Kanal Barat maka dari kejauhan kalian sudah bisa melihat bangunan serba merah.
Seluruh bangunan klenteng diperkirakan seluas 3,2 Ha ini berwarna merah menyala. Warna merah memang menjadi ciri khas China yang juga menjadi asal kedatangan Laksamana Cheng Hoo. Sejak 29 Juli 2011 lalu di klenteng ini dibuatkan patung Laksamana Cheng Hoo yang terbuat dari perunggu dengan berat 3,7 ton dan tinggi sekitar 10,7 meter, yang merupakan sumbangan dari seorang warga dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah.
Kini, sesudah lebih dari 600-an tahun berlalu. Klenteng Sam Poo Kong tetap berdiri gagah dan memikat hati wisatawan lokal maupun mancanegara yang datang berkunjung. Pada umumnya, traveler mengenal Sam Poo Kong sebagai tempat ibadah umat Tionghoa. Padahal sebenarnya pada awal bangunan ini digunakan sebagai masjid. Namun karena bentuk bangunan yang memang seperti klenteng, lama kelamaan berubah fungsi menjadi klenteng. Di dalam kompleks klenteng ini terdapat anjungan, yakni Klenteng Besar dan Gua Sam Poo Kong, Klenteng Tho Tee Kong, dan empat tempat pemujaan. Bangunan ini pun punya perbedaan dengan klenteng lainnya.
Bangunan beratap susun ini juga menjadi serambi yang terpisah. Ini sangat menguatkan fungsi utama bangunan sebagai sebuah masjid. Dengan sarana lahan parkir kendaraan yang cukup luas, baik untuk kendaraan pribadi maupun bis, semakin memberikan kenyamanan bagi wisatawan. Para wisatawan berkewajiban untuk membayar retribusi masuk sebesar Rp 3.000,- per orang, ini untuk memasuki wahana lapangan luar klenteng, sedangkan bila ingin memasuki bangunan inti klenteng dan gua diwajibkan untuk membayar lagi sebesar Rp. 10.000,-, untuk parkir mobil pribadi dikenakan retribusi Rp. 3.000,-.
Di kompleks ini terdapat 4 klenteng yang bernama Klenteng Dewi Laut, Dewa Bumi, Kyai Juru Mudi, dan Klenteng Sam Poo Kong. Sedangkan di bagian bawah yang agak tersembunyi terdapat petilasan Kyai Jangkar, Kyai Tumpeng, dan Kyai Tjundrik Bumi. Di belakang altar utama, terdapat relief yang menggambarkan tentang kisah pelayaran Cheng Ho, lengkap dengan keterangan dalam 3 bahasa.
Di dalam klenteng, disediakan fasilitas berfoto dengan pakaian khas Tiongkok dari berbagai macam Dinasti dan corak untuk memanjakan para pengunjung berfoto-foto ria, tetapi jelas tidak gratis, dikenakan biaya sebesar Rp. 80.000,- untuk dua kali pengambilan gambar (shot).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar