"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 08 April 2016

Nikmatnya Kampung Akhirat

Jika kemikmatan itu di cari untuk diri sendiri, lalu mengakibatkan penderitaan yang lebih besar atau menghalangi kenikmatan lain yang lebih baik, maka itu adalah kenikmatan yang dicela. Namun kenikmatan itu dipuji jika bisa membantu kenikmatan yang abadi dan kekal, yang tiada lain adalah kenikmatan di kampung akhirat, yang kenikmatannya lebih baik dari segala kenikmatan serta lebih kekal. Firman Allah ta'ala;
وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ .....
.... dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

وَلَأَجْرُ الْءَاخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ يَتَّقُونَ
Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. (QS. Yusuf (12) : 56 - 57).

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ الْءَاخِرَةِ خَيْرٌ ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ  ...
.... orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (QS. an-Nahl (16) : 30).

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَوٰةَ الدُّنْيَا
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.

وَالْءَاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ 
Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. al-A'la (87) : 16-17).

وَإِنَّ الدَّارَ الْءَاخِرَةَ لَهِىَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ   .......
.... Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Ankabuut (29) : 64).

فَاقْضِ مَآ أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِى هٰذِهِ الْحَيَوٰةَ الدُّنْيَآ   .......
....; maka putuslah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.

إِنَّآ ءَامَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطٰيٰنَا وَمَآ أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّـهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ 
Sesungguhnya kami telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya). (QS. ThaaHaa (20) : 72-73).

Allah menciptakan manusia untuk kepentingan kampung akhirat yang abadi dan menjadikan semua kenikmatan ada disana. Firman-Nya ;
.......   وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ   .......
... dan di dalam syurga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata .... (QS. az-Zukhruf (43) : 71).

فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّآ أُخْفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَآءًۢ بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
 Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. as-Sajdah (32) : 17).

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ; "Allah berfirman 'Aku telah menyediakan bagi hamba-hamba-Ku yang shalih apa-apa yang belum dilihat mata dan didengar oleh telinga serta tidak terlintas di dalam hati manusia, tidak seperti yang terlihat kalian lihat'". (HR. al-Bukhary, Muslim dan at-Tirmidzy).

Inilah tujuan yang hendak dicapai seorang mukmin yang suka menasihati kaumnya, sebagaimana yang dijelaskan Allah ta'ala :
وَقَالَ الَّذِي آمَنَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُونِ أَهْدِكُمْ سَبِيلَ الرَّشَادِ
Orang yang beriman itu berkata : "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ
 Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. (QS. al-Mu'min (40) : 38-39).

Allah ta'ala mengabarkan bahwa dunia ini hanyalah kesenangan sementara, yang boleh dinikmati untuk mendapatkan kesenangan dikampung yang lain. Sedangkan akhirat adalah tempat kembali yang abadi dan merupakan tujuan.  
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979.

Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah; Penerbit Darul Falah Jakarta Timur, cetakan kesebelas : Jumadil Tsani 1423H (2002 M), halaman 126-127.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar