"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Minggu, 04 Desember 2016

Persiapan Festival Budehuc

Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate. Dalam Ruangan di benteng Budehuc, Thomas terus berpikir tentang cara terbaik menyatukan pengungsi Grassland dan Zexen. Pagi hari itu Thomas telah disambut kedatangannya saat keluar dari kamar tidurnya. Cecile, Sebastian dan yang lainnya. Thomas segera melakukan kunjungan ke barak-barak untuk mendengarkan keluhan-keluhan para pengungsi.
Siang hari Thomas mengadakan sebuah rapat kecil dengan dihadiri nenek Sana', Apple dan beberapa perwakilan pengungsi untuk membuat aturan dalam wilayah benteng Budehuc. Rapat itu memutuskan bahwa dilarang membawa senjata dalam lingkungan benteng, jika meninggalkan area benteng harus ijin dan tidak boleh melakukan kekerasan. Sebagai pemilik benteng Thomas memberikan sangsi bagi para pelanggar.
Meski dengan berat hati mereka yang mengungsi di benteng pun menyerahkan semua senjatanya untuk diamankan.
Malam harinya, Thomas mengajak makan malam bersama penghuni benteng terdahulu Eike dan yang lain untuk membicarakan cara terbaik mendamaikan pengungsi Grassland dan Zexen. Dan Cecile mengusulkan dibuatkan Festival Rakyat, yang akan digelar aneka pertunjukan dan makanan. (sumber : Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate 9, karya Aki Shimizu; Kadokawa Corporation; Tokyo Japan 2002).

Sabtu, 03 Desember 2016

Wasiat Agung Nan Singkat

Wasiat teragung dan tersingkat dalam sejarah : jagalah (aturan) Allah, Allah pun akan jaga Anda.

Dr. Ahmad Isa al-Mu'sharawi, ketua lajnah tashih al-Quran di al-Azhar, Doktor ilmu hadits Universitas al-Azhar, Mesir. (Twitter : @elmasrw) - Twit Ulama

Mundur ke Benteng Budehuc

Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate. Serbuan pasukan Lizard dari celah tersembunyi mengejutkan Albert Silverberg sebagai sang strategiest. Luc pun mengeluarkan Wind Rune-nya untuk menciptakan monster-monster aneh untuk menghadang pergerakan pasukan klan Lizard yang terus datang bergelombang.
Di tengah pertempuran Yuber dan Dupa bertarung one by one. Dari arah udara Futch, Sharon dan Bright mencoba menyerang Luc. Tetapi gagal. Tiba-tiba angin berputar-putar diatas medan pertempuran. Belum sempat pasukan yang bertarung mengetahui penyebabnya, seketika itu langit sudah dihiasi dengan titik-titik hitam yang berdengung, pasukan serangga pun tiba, menjadi pasukan tambahan bagi Grassland.
Disaat peristiwa keterkejutan yang beruntun itu Hugo akhirnya mampu mendekati Luc, mereka pun bertarung one by one.
Luc mencoba menghipnotis Hugo agar mengikuti kemauannya, tetapi Fubar segera memecahkan upaya Luc. Dan pertarungan pun terus berlangsung hingga Lucia meminta pasukan Grassland mundur ke benteng Budehuc. (sumber : Manga Gensō Suikoden III - The Successor of Fate 9, karya Aki Shimizu; Kadokawa Corporation; Tokyo Japan 2002).

Haram Menyambung Rambut (Cemara) (2)

Humaid bin Abdurrahman telah mendengar Mu’awiyah ketika berkhotbah di atas mimbar menerima potongan rambut dari tangan pengawalnya sambil berkata : Hai ahli Madinah, di manakah ulama-ulama kamu? Saya telah mendengar Nabi melarang seperti ini dan bersabda : Sesungguhnya kebinasaan Bani Isra’il ketika para wanitanya mempergunakan ini. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 496-497.

Jumat, 02 Desember 2016

Tidak Akan Tegak Dunia dan Agama Seseorang

Andai manusia meninggalkan amal setiap kali menjumpai kesulitan, tidak akan tegak dunia dan agama mereka. -Umar bin Khaththab

Dr. Ahmad Isa al-Mu'sharawi, ketua lajnah tashih al-Quran di al-Azhar, Doktor ilmu hadits Universitas al-Azhar, Mesir. (Twitter : @elmasrw) - Twit Ulama

Miskin Tapi Kaya

Imam As-Syafi'i رحمه الله berkata :
إِذَا مَا كُنْتَ ذَا قَلْبٍ قَنُوْعٍ ..... فَأَنْتَ وَمَالِكُ الدُّنْيَا سَوَاءُ

"Jika engkau memiliki hati yang selalu qona'ah …
maka sesungguhnya engkau sama seperti raja dunia"

----------
FP : Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta
web : mahadumar.id
twitter, instagram, dan telegram : @mubk_jogja
BBM : 595F4CAC

Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku

Walau masih berbeda aqidah dengan kedua orangtua, Alhamdulillah saya dikaruniai kemudahan dalam keluarga. Di tahun 2002 saya menjadi Muslim setelah 18 tahun merayakan Natal, banyak yang berubah setelah saya memahami agama Islam. Proses berpikir yang mengantarkan saya pada Islam, agama logis yang bisa memuaskan akal, menenangkan hati, dan sesuai fitrah. Prinsip tauhid di dalam Islam itu sederhana dan mengena, prinsip satu Tuhan itu menenangkan dan menentramkan. 
Setelah menjadi seorang Muslim tentu banyak penyesuaian yang harus saya lakukan, aqidah Islam tentu mengubah banyak prinsip hidup. Salah satu prinsip yang terpenting adaah penjagaan terhadap aqidah, pengakuan bahwa Allah itu satu dan tiada yang menyamai-Nya. Saya memasuki Islam sekira bulan Oktober 2002, maka ujian pertama ada di bulan Desember 2002 saat perayaan Natal keluarga. Sulit sekali pada waktu itu untuk menyampaikan pada orangtua saya sudah menjadi seorang Muslim, apalagi menjelaskan tentang Natal. Terbayang sudah selaksa bantahan dan omelan yang bakal diterima, apalagi menjelaskan bahwa saya tidak lagi ikut-ikutan Natalan. Hanya saja saya tahu persis apa itu Natal, bagi kaum Nasrani itu perayaan terbesar, yaitu kelahiran Yesus, Tuhan Juruselamat. Maka perayaan Natal itu bagi saya memiliki konsekuensi aqidah, yang takkan pernah saya sampaikan selamat padanya apalagi saya ikuti.
Terbayang lagi respon yang saya terima nantinya? dimarahi? diamuk? diusir? Bagaimanapun juga ini prinsip aqidah yang harus sampai. Benar saja, orangtua saya tentu tidak terima, dengan perdebatan alot 3 hari akhirnya ke-Islam-an saya bisa mendapat tempat. Saat itu ayah saya berucap; "Papi tidak bisa melarang kamu Muslim, tapi papi juga tidak bisa menerima kamu Muslim".
Sementara isak tangis ibu saya menjadi latar diskusi alot kita sepanjang 3 hari. Hati anak mana yang tak sedih melihat airmata ibunya? Tapi sekali lagi ini adalah aqidah yang tidak bisa ditawar. Saya menguatkan hati sambil mengingat perjuangan Saad bin Abi Waqqash. Saya hanya berharap pada Allah bila saya bertahan dengan aqidah ini, Allah memperkenankan suatu saat kelak ayah-ibu saya Muslim. Namun ada hal yang benar-benar sulit mereka terima, "Mengapa juga tidak boleh hanya sekadar mengucap Natal atau ikut merayakan?". Saya pahami cara pikir orangtua saya tentu tidak sama dengan apa yang saya pahami, menjelaskan prinsip aqidah bukan mudah. Bagi mereka "Selamat Natal" itu cuma sekedar ucapan, bagi saya kata-kata "cuma" itu seringkali hasutan setan yang paling laris manis. Walau "cuma" ucapan selamat, saya tidak ingin mengingkari keyakinan utama, bahwa Allah itu satu dan tiada yang bersekutu dengan-Nya.
Dengan berat hati dan kelu lidah karena beratnya amanah ini, saya mencoba menjelaskan pada kedua orangtua saya. 
"Islam itu sangat menghormati Yesus (Isa), namun kami memuliakannya sebagai Nabi bukan sebagai Tuhan".
"Isa Ibnu Maryam disebut lebih banyak dari Muhammad di dalam Al-Qur'an, namun kami tidak bisa menerima bahwa dia dianggap Tuhan".
"Sedang ibunya Maryam itu wanita terbaik di dunia tersebab kesuciannya, namun kami tidak bisa menganggapnya ibunda dari Tuhan".
"Sedang kelahiran dari Isa Ibnu Maryam tertulis mulia di dalam Al-Qur'an, dan keselamatan padanya selalu sepanjang masa".
"Dan salam dilimpahkan kepadaku, pada hari aku lahir, pada hari aku wafat dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (QS. 19 : 33).
"Kami menghormati Isa sebagaimana kami memuliakan ibunya, juga keluarga Imran, Daud, Musa, dan Ibrahim".
"Sulit kami merayakan atau mengucapkan yang dianggap sebagai hari lahir (natal) Tuhan Yesus (Isa), tidak mampu kami menyelesihi Isa".
Sedang Isa bin Maryam berpesan; "Sungguh aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku Nabi" (QS. 19 : 30).

Amanah sudah kami sampaikan bahwa kami tidak bisa ikuti perayaan Natal, tidak juga mengucap selamat pada satu hal yang batil. Kami mengakui dan memberi salam pada kelahiran Isa Ibnu Maryam Sang Nabi yang disucikan, bukan salam pada hari kelahiran Tuhan. Begitulah saya jelaskan dengan baik, dengan perkataan lembut lagi menghormati kedua orangtua sebagaimana perintah Allah.
Alhamdulillah, sampai saat ini mereka memahami dengan baik, bahwa toleransi Muslim adalah membiarkan perayaan mereka.
Alhamdulillah pula mereka melihat perubahan saya setelah menjadi Muslim, yang tentu lebih menghargai, menyayangi, menghormati orangtua. Tiada kebencian pada orang selain Islam, justru karena sayang kita ingin mengajak mereka menuju cahaya Islam, termasuk orangtua saya. Tidak pernah hubungan saya-ayah, saya-ibu lebih baik dari hari ini, bercanda bergurau, berkisah, tak pernah ada ini sebelum Muslim.
Islam mengajarkan saya menghormati dan memuliakan orangtua sepenuh jiwa, maka tak pernah ada cerita mereka protes tentang toleransi. Karena orangtua saya tahu persis hanya karena Islam saya bisa berkasih dengan mereka, Allah yang ajarkan saya menyayangi kedua orangtua.
Alhamdulillah, Allah memudahkan saya menjaga aqidah saya, bukan terombang-ambing tak jelas atas alasan toleransi.  Bila kita selalu baik pergaulannya setiap saat pada saudara kita non-Muslim, tidak mengucap Natal tak menjadi soalan dan masalah.
Alhamdulillah Allah sudah menunjuki kita Islam, mudah-mudahan kita selalu menjaganya. Wallahua'lam.

Ustadz Felix Siauw; 21 Desember 2013.

Baca Juga :
Tentang Mengucapkan Selamat Hari Raya Agama Lain?
Toleransi itu menghormati bukan mengikuti, "bagimu agamamu, bagiku agamaku"

Kamis, 01 Desember 2016

Istiqomahlah

Perkara terpenting adalah konsisten di atas jalan yang lurus, dari awal hingga akhir -Ibnu Rajab

Dr. Muhammad Majdu’ asy-Syahri pengasuh situs aefaf.com penasihat masalah rumah tangga. (Twitter : @mmajdo) - Twit Ulama

Inna Nashrallahi Qariib

Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 214, Allah ta'ala menasehati orang beriman dalam firman-Nya :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّـهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللَّـهِ قَرِيبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana apa yang (diderita) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan mereka digoncangkan (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (214).

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Qatadah رضي الله عنهما dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut diatas (QS. 2 : 214) bersangkutan dengan peristiwa peran al-Ahzab. Ketika itu Nabi ﷺ mendapat berbagai kesulitan yang sangat hebat dan kepungan musuh yang sangat ketat. Ayat ini menunjukkan bahwa perjuangan itu meminta pengurbanan (HR. Abdur-Razzaq).

Tafsir Ayat
QS. 2 : 214. "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana apa yang (diderita) orang-orang terdahulu sebelum kamu? ...". Yaitu Nabi-nabi dan Rasul-rasul Allah dan orang-orang yang berjuang mengikuti jejak beliau di dalam menegakkan kebenaran dan pelajaran Tuhan di dalam dunia ini, sejak dari zaman Adam عليه السلام, sampai Nuh عليه السلام, Ibrahim عليه السلام, Luth عليه السلام, Musa عليه السلام, Isa عليه السلام dan lain-lain. "...? Mereka ditimpa kesengsaraan, kemelaratan dan mereka digoncangkan (dengan berbagai cobaan), ...". Kesusahan karena kekurangan harta benda dan kemelaratan, kecelakaan karena penyakit atau luka-luka, kegoncangan karena dikejar-kejar, dihinakan dan dibunuh. Nabi-nabi kaum bani israil konon sampai 70 orang yang mati dibunuh oleh kaum mereka sendiri. Nabi Ibrahim عليه السلام dibakar, Nabi Zakaria عليه السلام kepalanya digergaji. Maka kamu wahai ummat Muhammad ﷺ yang mengaku beriman kepadanya, jangan menyangka akan enak-enak bagai "Itik pulang petang", melenggang-lenggok masuk surga tanpa menderita menegakkan kebenaran. "..., sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" ...". Kalaulah Rasul bertanya bila pertolongan Allah akan datang, dan orang-orang yang beriman bersamanya telah sama mengeluh demikian, niscaya telah memuncak rintangan itu. Sebab di waktu rintangan tidak ada, semua orang mudah saja menyebut bahwa pertolongan Allah akan datang. Tetapi bila kesusahan, kecelakaan dan kegoncangan itu benar-benar telah datang, seakan-akan tertutup segala pintu dan tiadalah nampak harapan. "... Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". Mengapa Tuhan memberikan kepastian seperti itu? Apabila tekanan musuh sudah sangat memuncak sehingga kita yang berjuang menegakkan kebenaran itu seperti lemah tampaknya, tetapi dia kuat di dalam batin. Maka tumbuhlah ikhlas kepada Tuhan. Hingga datang pertolongan Tuhan entah dari mana datangnya dan bagaimana caranya.
Terkadang sebagai seorang Muslim, kita menjadi takut membaca ayat-ayat seperti ini; baru berapa jasa kita kepada Islam yang sudah kita "terima jadi" sebagai pusaka dari Nabi kita ﷺ? Padahal walau seluruh umur kita berikan untuk beliau ﷺ belumlah seimbang dengan cahaya iman dalam dada kita yang kita terima dari beliau ﷺ. Salam 'alaika ya Rasulullah
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 70.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 2, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan September 1987, halaman 171 - 176.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 60.

Keutamaan Para Sahabat Nabi

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah ﷺ , para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari kiamat.
Kaum muslimin yang kami muliakan, para sahabat Nabi ﷺ adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah ﷺ dalam keadaan beriman kepada beliau, dan mati dalam keadaan muslim. Mereka adalah generasi terbaik dari umat ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya”. (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3651, dan Muslim, no. 2533)

Para sahabat Nabi ﷺ memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Ta’ala. Mereka telah diberikan anugerah yang begitu besar yakni kesempatan bertemu dan menemani Nabi-Nya ﷺ . Allah Ta’ala telah memilih mereka untuk mendampingi dan membantu Nabi ﷺ dalam menegakkan agama-Nya. Orang-orang pilihan Allah ini, tentunya memiliki kedudukan istimewa di bandingkan manusia yang lain. Karena Allah Ta’ala tidak mungkin keliru memilih mereka.

‘Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,
إِنَّ اللهَ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ
“Sesungguhnya Allah memperhatikan hati para hamba-Nya. Allah mendapati hati Muhammad adalah hati yang paling baik, sehingga Allah memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya sebagai pembawa risalah-Nya. Kemudian Allah melihat hati para hamba-Nya setelah hati Muhammad. Allah mendapati hati para sahabat beliau adalah hati yang paling baik. Oleh karena itu, Allah menjadikan mereka sebagai para pendukung Nabi-Nya yang berperang demi membela agama-Nya. Apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin (para sahabat), pasti baik di sisi Allah. Apa yang dipandang buruk oleh mereka, pasti buruk di sisi Allah”. (Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad, I/379, no. 3600. Syaikh Ahmad Syakir mengatakan bahwa sanadnya shohih).

Para sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang paling tinggi ilmunya. Merekalah yang paling paham perkataan dan perilaku Nabi ﷺ . Merekalah manusia yang paling paham tentang Al-Qur’an, karena mereka telah mendampingi Rasulullah ﷺ tatkala wahyu diturunkan, sehingga para sahabat benar-benar mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ .

Keberkahan Para Sahabat radhiyallahu ‘anhum
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melimpahan keberkahan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan para sahabat yang begitu taat dan besar cintanya kepada beliau. Tidak ada satupun Nabi maupun para raja yang mendapatkan keberkahan seperti ini dari umatnya.
‘Urwah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, tatkala dulu masih kafir, dia berkata kepada kaumnya dan menceritakan bagaimana para sahabat radhiyallahu ‘anhum begitu memuliakan Nabi ﷺ . Dia mengatakan, “Wahai kaumku! Demi Allah, sungguh aku telah datang kepada para raja. Aku telah bertemu Kaisar, Kisra, dan an-Najasyi. Demi Allah, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya melebihi apa yang dilakukan para sahabat Muhammad kepada Muhammad. Demi Allah, tidaklah Muhammad membuang dahak melainkan dahak itu jatuh ke tangan salah seorang dari mereka, lalu dia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya. Jika Muhammad memerintahkan sesuatu kepada mereka, niscaya mereka melaksanakannya dengan segera. Jika Muhammad berwudhu, mereka hampir berkelahi memperebutkan tetesan airnya. Jika mereka berbicara, mereka memelankan suara di hadapannya. Mereka tidak berani menatapnya karena penghormatan mereka yang besar kepadanya”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab Asy-Syuruuth, V/329-332).

Bandingkanlah kemuliaan mereka dengan para sahabat Nabi Musa ‘alaihis salam. Tatkala Nabi Musa mengajak mereka untuk beriman, mereka mengatakan,

يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً
“Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas”. (QS. Al-Baqarah : 55).

Demikian pula ketika mereka diajak berjuang di jalan Allah, mereka berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam,
يَا مُوْسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوْا فِيْهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلاَ إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُوْنَ (24)
“… Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS. Al-Maidah : 24).

Padahal orang-orang yang Allah Ta’ala ceritakan dalam ayat ini adalah 70 orang terbaik dari kaumnya Nabi Musa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :
وَاخْتَارَ مُوْسَى قَوْمَهُ سَبْعِيْنَ رَجُلاً لِمِيْقَاتِنَا … (155)

“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya”. (QS. Al-A’raaf : 155).

Ayat ini menunjukkan bahwa 70 orang ini adalah manusia terbaik dari Bani Israil dan manusia pilihan dari kaum Nabi Musa ‘alaihis salam. Akan tetapi, lihatlah sikap mereka kepada Nabinya, sampai-sampai Allah memberi teguran kepada mereka dengan bergetarnya bumi yang mereka pijak, sehingga Nabi Musa pun berkata kepada Allah Ta’ala,
أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا (155)
“Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami?” (QS. Al-A’raaf : 155).

Nabi Musa ‘alaihis salam menyebut mereka sebagai orang-orang yang  kurang akal (bodoh), sekali pun mereka adalah orang-orang pilihan dari kaumnya. Lantas, bagaimana menurut Anda dengan orang-orang yang bersama Nabi Musa, yang bukan pilihan?
Tentang penghormatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Nabi ﷺ, kita tidak akan mendapatkan bandingannya selama-lamanya. Bagaimana mereka menundukkan pandangannya dan memelankan suara di hadapan Nabi ﷺ. Demikian pula bagaimana mereka begitu semangat meraih berkah dari riak dan sisa air wudhu Nabi ﷺ, sampai mereka berebut.
Kaum muslimin rahimakumullah, perlu kami ingatkan bahwa mengambil berkah dari riak dan air bekas wudhu ini hanya berlaku bagi Nabi ﷺ dan tidak berlaku pada orang lain. Tidak diperbolehkan seorang muslim mengambil berkah dari riak, sisa air wudhu atau sisa air minum ulama, kyai atau ustadznya. Oleh karena itu suatu kekeliruan jika para santri berebut sisa air minum kyainya karena dianggap ada berkah khusus pada minumannya. Semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada kita ke jalan yang lurus.

Kemuliaan Hati Para Sahabat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ , maka Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk bertanya kepada para istri beliau.
Mereka menjawab, “Kami hanya punya air.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Siapa berkenan menerima orang ini sebagai tamunya?” Maka seorang laki-laki dari Anshar (yakni Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu) mengatakan, “Saya bersedia”. Lalu dia pulang membawa tamunya ke rumah. Dia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ”. Istrinya berkata, “Tapi kita tidak mempunyai makanan apa pun selain makanan anak-anak.”
Laki-laki itu berkata kepada istrinya, “Siapkan makanan, nyalakan lampu, tidurkanlah anak-anakmu jika kami hendak makan malam.” Maka istrinya menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.
Kemudian istrinya berdiri seolah-olah hendak memperbaiki lampunya, namun justru memadamkannya. Lalu laki-laki itu bersama istrinya menampakkan kepada tamunya bahwa mereka berdua juga ikut makan (padahal tidak makan). Di malam itu, keduanya bermalam dalam keadaan menahan lapar.
Di pagi hari, laki-laki itu berangkat kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Tadi malam Allah takjub kepada perbuatan kalian berdua. Maka Allah Ta’ala menurunkan (firman-Nya):

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوْقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang orang yang beruntung”. (QS.  Al-Hasyr : 9). (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3798 dan Muslim, no. 2054)

Kedermawanan dan sifat mulia ini bukan hanya milik beberapa orang saja. Namun inilah sifat para sahabat Nabi ﷺ .

Penulis: Muhaimin Ashuri - Muslim 

Haram Menyambung Rambut (Cemara) (1)

Asma’ r.a. berkata : Seorang wanita datang kepada Nabi bertanya : Ya Rasulullah, putriku terkena penyakit panas (gabak), sehingga rontok rambutnya dan kini ia akan saya kawinkan, apakah boleh saya sambung rambutnya? Jawab Nabi : Allah melaknat orang perempuan yang menyambung rambutnya dan yang disambung, dan yang minta di sambung. (HR. Buchary dan Muslim).

Juga hadits dari ‘Aisyah seperti yang di atas ini.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 496.