"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 20 Maret 2017

JUMPA dan CERMIN

"Betapa inginnya aku", ujar seorang murid pada Imam Ahmad, "Setiap hari menjumpaimu, duduk di majelismu." Dia tinggal di luar kota dan harus merawat ibunya yang lanjut usia; hanya bisa datang sesekali saja.
Imam Ahmad tersenyum dengan asih. "Ada beberapa orang", ujar beliau, "Yang tak pernah kami temui, tapi jauh lebih kami cintai daripada yang setiap hari berada di sisi." Ya, bukankah seharusnya Rasulullah ﷺ ada di puncak daftar semacam itu?
Begitulah dalam ukhuwah sejati, saling mendoakan lebih penting dibanding berjumpa, dan berkunjung sesekali boleh jadi lebih menguatkan cinta daripada yang setiap saat senantiasa bersama.
Yang lebih kita hajatkan adalah selalu bercermin, jumpa ataupun tak jumpa, seperti sabda Nabi ﷺ, "Al mukmin mir-atul mukmin." Keraton Kadariyah di Kampung Dalam Bugis, Pontianak, yang didirikan Sultan Syarif ’Abdurrahman Al-Kadri pada tahun 1771 itu, menyimpan dua buah benda berpasangan yang sangat indah. Keduanya adalah cermin besar buatan Perancis dari abad kedelapan belas. Keduanya begitu menjulang, lebih dari dua meter. Bingkainya cantik, penuh ornamen berkilauan. Meja rias yang menyatu dengannya berkaki logam penuh ukiran. Tetapi yang paling menarik adalah bahwa kedua cermin ini dipasang berhadapan.

Maka apa?
Keduanya saling menampakkan bayangan kawannya, berbolak-balik pantul memantul, kian dalam makin kecil hingga titik jauh yang seakan tak terhingga. Di dalam bayangan, ada bayangan. Ada lagi dan lagi. Sepertinya mereka saling mengaca, terus menerus tanpa henti hingga jumlah bayangnya tak lagi bisa dihitung. Orang-orang menyebut mereka berdua sebagai ‘Kaca Seribu.’ Mungkin begitulah seharusnya kita dalam dekapan ukhuwah. Kita terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga. (Salim A. Fillah). 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar