"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Sabtu, 03 September 2011

Mensyukuri Nikmat yang ALLAH Berikan dan Keharusan Bertawakal

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ اللَّـهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَن يَبْسُطُوٓا۟ إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنكُمْ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ وَعَلَى اللَّـهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Hai orang-orang yang beriman ingatlah ni’mat Allah atas kamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan kepada kamu tangan mereka (buat mengganggu), lalu Allah halangi tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah, dan kepada Allah-lah hendaknya Mu’minin berserah diri. (QS. 5 : 11).

Tafsir Ayat 
"Hai orang-orang yang beriman ingatlah ni’mat Allah atas kamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan kepada kamu tangan mereka (buat mengganggu), lalu Allah halangi tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu;...". Dalam banyak catatan riwayat turunnya ayat telah berkali-kali sejak di Mekah, bahkan saat telah berhijrah tidak pustus mufakat orang-orany yang tidak bersepakat dengan Islam hendak membunuh beliau, Rasulullah ﷺ.  

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi saw. keluar beserta Abubakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah dan Abdur-rahman bin ‘Auf menuju Ka’ab bin al-Asyraf dan yahudi Bani Nadlir untuk meminjam uang sebagai pembayar diyat (denda) yang harus dibayarnya. Orang yahudi berkata: “Silahkan duduk, kami akan sajikan makanan dan memberikan apa yang tuan perlukan. Kemudian Rasulullah duduk. Haj bin Akhthab berkata kepada kawannya: (Tanpa setahu Nabi ) “Kalian tidak akan dapat melihat dia lebih dekat daripada sekarang. Timpakan di kepalanya dan bunuhlah dia, kalian nanti tidak akan menghadapi kesulitan lagi”. Mereka mengangkat batu penggiling gandum yang sangat besar untuk ditimpakan kepada Rasul. Akan tetapi Allah menahan tangan mereka, sehingga datanglah Jibril memberitahu agar Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Maka menurunkan ayat ini (S. 5 : 11) sebagai perintah untuk syukuri nikmat. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Yazid bin Abi Ziad. Lafadh Hadits ini bersumber dari Yazid. Diriwayatkan pula seperti itu oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abdullah bin Abi Bakar, ‘Ashim bin Umar bin Qatadah, Mujahid, Abdullah bin Katsir dan Abi Malik.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S. 5 : 11) diturunkan kepada Rasulullah di saat beliau berada di kebun kurma ketika diintai oleh Banu Tsa’labah dan Banu Muharib pada peperangan ketujuh. Mereka bermaksud membunuh Nabi yang sedang tidur, dengan mengutus seorang Arab untuk melaksanakannya. Ia mengambil pedang beliau kemudian menghunusnya dan menggertak Nabi sambil berkata: “Siapa yang menghalangi engkau dari pada pedang ini?”. Nabi bersabda: “Allah”. Maka jatuhlah pedang dari tangannya, dan Rasulullah tidak membalasnya. Ayat ini (S. 5 : 11) turun sebagai perintah untuk selalu bertawakkal kepada Allah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.

Sekiranya salah satu maksud jahat itu berhasil, niscaya tidaklah terjadi apa yang ada sekarang, kejayaan Islam dan Muslimin dibawah pimpinan Rasulullah ﷺ. Tetapi semua maksud jahat itu aigagalkan Allah ta'ala.
"...;  dan berbaktilah kepada Allah, dan kepada Allah-lah hendaknya Mu’minin berserah diri". Semua catatan bahwa Rasulullah telah terlepas dari segala ancaman karena beliau berpegang pada dua syarat perjuangan; takwa dan tawakkal, dua alat hati yang sekali-kali tidak boleh berpisah. Dengan takwa maka hubungan dengan Allah ta'ala tetap terpelihara dan Allah senantiasa dalam ingatan. Dijaga segala perintah-Nya dan dihentikan segala larangan-Nya. Dengan tawakkal, berserah diri kepada-Nya, mempercayai apa yang ditentukan-Nya. Itulah yang pasti terjadi. Tawakkal menghilangkan kebimbangan dan menimbulkan keberanian. Apa yang telah dituliskan Allah ta'ala, tidaklah dapat dihapus dengan was-was kita.
-----------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 177 - 178.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 212.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 6, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan Septemper 2000, halaman 158 - 160.
Tulisan Arab Al-Qur'an. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar