"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Kamis, 15 September 2011

BANGSA YANG MEMBENCI AGAMA IBRAHIM

Allah berfirman : (QS. Al-Baqarah : 130 & 133)
”Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim kecuali orang-orang yang menghinakan dirinya sendiri dan sungguh Kami telah pilih dia di dunia ini. Dan sungguh dia di akherat benar-benar tergolong orang-orang yang shaleh.” (QS 2 : 130)
”Adakah kamu menyaksikan di kala datang tanda maut kepada Ya’qub, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang akan kamu sembab sesudahku?” Mereka berkata, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Esa dan kami hanya berserah diri kepada-Nya.” (QS 2 : 133)

Diriwayatkan bahwa ayat ini turun disebabkan Abdullah bin Salam mengajak dua orang anak saudaranya, Salamah dan Muhajir untuk masuk Islam : katanya, “Kamu berdua telah mengetahui bahwa Allah berfirman dalam Taurat, ”Sungguh Aku akan bangkitkan seorang Nabi dari keturunan Ismail bernama Ahmad, barangsiapa beriman kepadanya, maka Ia telah mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa tidak beriman kepadanya, maka Ia telah terkutuk” Lalu Salamah masuk Islam, tetapi Muhajir tidak mau.
Bangsa Yahudi dengan bangga mengakui bahwa Nabi Ibrahim adalah nenek moyang mereka. Nabi Ibrahim adalah bapak segala Nabi Bani Israil yang mengajak kepada tauhid dan kepada Islam. Akan tetapi ternyata bangsa Yahudi kemudian menjadi penyembah berhala dan berkeyakinan bahwa Tuhan punya anak. Jelas keyakinan serupa ini menyalahi ajaran Nabi Ibrahim dan para Nabi Bani Israil.
Ketika Nabi saw mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menerima dakwah Islam ternyata mereka ingkar dan mengaku mengikuti ajaran-ajaran yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim. Dengan demikian nyata sekali bahwa bangsa Yahudi betul-betul manusia kepala batu, karena membenci dakwah Nabi yang mengajak kepada kemurnian tauhid sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim sendiri.
Ibrahim dibesarkan dalam masyarakat penyembahan berhala dan bintang, namun Allah memberinya hidayah sehingga ia tetap berjalan pada jalan kebenaran. Dengan hidayah itu dia dapat mengerti bahwa alam semesta ini diatur dan dikendalikan oleh Tuhan Maha Pengatur lagi Maha Esa, tempat kembali seluruh makhluk. Dia berjuang di tengah masyarakatnya untuk memberantas penyembahan berhala dengan argumentasi yang rasional dan menyanggah kepercayaan Tuhan punya anak seperti tersebut dalam Al Qur’an surat keenam ayat 80.
Tetapi kaum Yahudi dan kaum Nasrani yang mengaku dirinya sebagai pewaris agama Ibrahim ternyata menjadi penyembah berhala dan melanggar wasiat Nabi Ibrahim untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Maka kepada orang Yahudi diminta bukti sejarah adakah mereka dahulu benar-benar menyaksikan wasiat Nabi Ibrahim kepada anak cucunya yang membolehkan penyembahan berhala dan menyekutukan Allah? Dengan demikian kalau sekarang mereka menentang dakwah Nabi Muhammad untuk kembali ke ajaran tauhid dan menerima Islam, maka jelaslah pada hakekatnya mereka membenci agama Nabi Ibrahim itu sendiri. Maka pengakuan mereka, bahwa mereka adalah pewaris agama Nabi Ibrahim dan nabi-nabi Bani Israil dahulu adalah semata-mata pengakuan dusta. Bukti dan kedustaan mereka adalah penolakan mereka terhadap dakwah Islam yang dibawa oleh Rosulullah saw.
Ayat-ayat di atas pada hakekatnya menunjukkan bahwa agama yang dibawa para Nabi adalah satu. Karena saripati dari ajaran semua Nabi adalah prinsip tauhid dan jiwa pasrah kepada Allah serta tunduk kepada para Nabi.
Al Qur’an sebagal mata rantai dari Kitab-kitab samawi sebelumnya mendorong kepada ummat manusia untuk bersatu dalam agama yang mempunyai prinsip:
a. Bertauhid dan anti syirik.
b. Pasrah dan taat kepada Allah dalam setiap gerak-geriknya.

Maka orang yang tidak memenuhi prinsip-pninsip di atas berarti bukan pengikut Nabi Ibrahim, sehingga berarti Ia bukan orang yang beragama dengan agama Allah.
Dewasa ini orang menyebutkan kata “Islam” untuk menggelari segolongan manusia yang punya ciri-ciri keagamaan dan tradisi yang berbeda dari golongan manusia lainnya, yang juga digelari dengan berbagai gelar keagamaan lain, padahal sebagian golongan yang digelari sebutan “Islam” itu tidak berserah diri dan tidak ikhlas kepada Allah di dalam tingkah laku perbuatannya bahkan ada yang melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah, atau fasik dengan mempertuhankan hawa nafsunya.
Islam yang diserukan oleh Al Qur’an itulah Islam yang diseru oleh Nabi saw, bukan Islam yang dewasa ini sudah menjadi sebutan populer itu. Jadi Islam dalam pengertian yang ada dalam ayat ini itulah yang menjadi agama Nabi Ibrahim, tetapi ternyata kaum Yahudi dan Nasrani membencinya.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 80 - 83

Tidak ada komentar:

Posting Komentar