"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 23 April 2012

Larangan Banyak Sangkaan

 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman ! jauhilah kebanyakan dari sangkaan, (karena) sesungguhnya sebahagian dari sangkaan-sangkaan itu dosa; dan janganlah kamu mengintai-ngintai kesalahan orang lain; dan janganlah sebahagian dan kamu mengumpat sebahagian; apakah suka seseorang dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ? Maka (tentu) kamu jijik kepadanya ! dan berbaktilah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang. (QS. 49 : 12).


Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Salman al-Farisi yang apabila selesai makan ia terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang mempergunjingkan perbuatannya itu. Maka turunlah ayat ini (S. 49 : 12) yang melarang seseorang mengumpat menceriterakan keaiban orang lain. Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari lbnu Juraij.

Tafsir Ayat
"Hai orang-orang yang beriman ! jauhilah kebanyakan dari sangkaan,...". Prasangka / sangkaan ialah tuduhan yang bukan-bukan, persangkaan yang tidak beralasan, hanya semata-mata tuduhan yang tidak pada tempatnya.
",... (karena) sesungguhnya sebahagian dari sangkaan-sangkaan itu dosa;...". Prasangka adalah dosa, karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silatur-rahmi di antara dua orang yang berhubungan baik. Rasulullah sangat mencegah perbuatan prasangka yang sangat buruk itu dengan sabdanya : "Sekali-kali janganlah kamu berburuk sangka, karena sesungguhnya berburuk-sangka adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kamu mengintai-intai, dan janganlah kamu usil dan janganlah kamu bergunding-gundingan dan janganlah kamu berdengki-dengkian dan janganlah kamu berbenci-bencian dan janganlah kamu saling membelakangi dan jadilah kamu seluruhnya hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
"...; dan janganlah kamu mengintai-ngintai kesalahan orang lain;...". Mengorek-ngorek kalau-kalau ada si anu dan si fulan bersalah, untuk menjatuhkan maru-ah si fulan di muka umum.
";... dan janganlah sebahagian dan kamu mengumpat sebahagian;...". Mengumpat / menggunjing ialah membicarakan aib dan keburukan seseorang sedang dia tidak ada di tempat. Hal ini kerapkali sebagai mata-rantai dari kemunafikan. Ini adalah perbuatan hina dan pengecut!
"...; apakah suka seseorang dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ?...". Membicarakan keburukan seseorang keyika dia tidak ada, sama artinya dengan makan bangkai yang busuk.
"... Maka (tentu) kamu jijik kepadanya !...". Memakan bangkai teman yang mati sudah pasti engkau jijik. Maka membicarakan aib celanya sedang saudara itu tidak ada samalah artinya dengan memakan bangkainya.
"... dan berbaktilah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang". Jika perangai buruk ini ada pada diri kita, segeralah hentikan dan bertaubat dari kesalahan yang hina itu disertai dengan penyesalan dan taubat. Allah senantiasa membuka pintu kasih-sayang-Nya, membuka pintu bagi hamba-Nya yang ingin menukar perbuatan salah dengan perbuakan baik, kelakuan yang durjana hina dengan kelakuan terpuji sebagai manusia yang budiman.
-------------------------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984, halaman 239 - 243. 
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 474 - 475.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1016 - 1017.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar