"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Sabtu, 30 Juli 2011

NU’AIM BIN MAS’UD

MELAKUKAN TUGAS PENTING
Diwaktu perang Ahzab yang lazim juga disebut perang Khandaq, Rasulullah s.a.w. menghàdapi lawan dalam dua front:
Pertama, lawan yang sudah aktif mengepung kota Medinah dari luar, yakni Banu Quraisy beserta sekutu-sekutunya Banu Ghathfan dan lain-lain.
Kedua, yang masih potensiil, kaum Yahudi Banu Quraidzah dan lain-lain yang berada didalam kota Medinah sendiri.
Dikalangan kaum Muslimin diwaktu itu ada seorang bernama Nu’aim bin Mas’ud, dari suku Banu Ghathfan. Dia bukan seorang sahabat yang terkenal, tidak pula terkemuka. Malah masuknya kedalam Islam, tidak diketahui oleh sukunya sendiri. Tetapi dia seorang yang cerdas, otaknya "encer”. Dia hanya seorang kader. Tapi kader yang berjiwa hidup, dan tidak terkenal diluar lingkungan Islam disekitar Rasulullah s.a.w.
Rasulullah s.a.w. sendiri tentu mengetahui benar sifat dan bakat Nu’aim ini, sebagaimana beliau mengenali sahabat lainnya satu persatu, kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Diwaktu kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya mengepung kota Medinah, datanglah Nu’aim kepada Rasulullah s.a.w., meminta tugas. Maka berlakulah percakapan antara Rasulullah s.a.w. dengan Nu’aim sebagai berikut:
Nu’aim :
”Ya Rasulullah! Aku sudah masuk Islam, tetapi kaumku sendiri belum tahu bahwa aku sudah masuk Islam. Sekarang perintahkan apa yang Rasulullah kehendaki dari padaku”.
Rasulullah:
”Engkau ini hanyalah satu-satunya dari suku Ghathfan. Jika engkau melangkah keluar (lingkungan kita), maka kalau bisa, engkau pura-pura sudah meninggalkan kami (dalam perjuangan). Itu lebih baik daripada apabila engkau tetap berada dikalangan kita ini. Oleh karena itu pergilah keluar, ”sesungguhnya perang itu adalah tipu daya !“ (dalam perang menghadapi musuh kita di harus mempergunakan siasat dan tipu-daya)”
Lalu Nu’aim bin Mas’ud berangkatlah dan menemui lebih dahulu kaum Yahudi Medinah, Banu Quraidzah. Dahulu, sebelum masuk Islam, dia pernah bergaul baik dengan orang-orang Banu Quraidzah itu.
Nu‘aim:
”Ya Banu Quraidzah! Kamu kan tahu bagaimana cintaku kepadamu, lebih-lebih aku ingin melanjutkan hubungan baik kita selama ini”.

Banu Quraidzah:
”Katakanlah apa yang hendak kau katakan. Kami tidak curiga padamu”

Nu’aim:
”Kaum Quraisy dan Ghathfan itu tidak seperti kamu, Negeri ini negerimu sendiri. Disini terletak hartamu, disini pula tinggal anak-cucumu. Sedang kaum Quraisy dan Ghathfan itu orang-orang yang datang untuk memerangi Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Dan kamu membantu mereka melawan Muhammad.
Kaum Quraisy dan Ghathfan itu, bila melihat kesempatan, mereka akan menggunakannya dengan baik. Kalau tidak, mereka kembali kenegeri mereka, dan akan meninggalkan kamu di Medinah ini sendirian menghadapi Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Oleh karena itu, janganlah kamu berperang dipihak kaum Quraisy, kecuali hanya bila kamu menerima jaminan berupa pemimpin-pemimpin mereka sebagai ”hostages” (saudara)“.
Sesudah itu Nu’aim pergi kekalangan Quraisy. Kepada mereka itu, Nu’aim berkata:
”Kamu sudah tahu, bagaimana kecintaanku kepadamu, wahai kaum Quraisy. Dan juga tentang perpecahan dengan Muhammad. Aku mengetahui suatu hal, yang perlu disampaikan kepadamu. Tetapi, awas jangan kamu katakan kepada siapa pun”.

Banu Quraisy:
“Baiklah !“.

Nu‘aim:
“Kamu tahu, bahwa Banu Quraidzah sebenarnya sudah menyesali perbuatannya dengan meninggalkan Muhammad.
Mereka berkata: “Kami menyesal atas perbuatan kami; maukah engkau, bila kami tangkap beberapa orang Quraisy dan Ghathfan, lalu kami serahkan kepadamu untuk dibunuh. Sesudah itu kami besertamu akan menumpas habis mereka sampai akarnya?“.
Sesudah itu Nu’aim pergi pula ke Banu Ghathfan, dan begitu pula yang dibicarakannya tentang Yahudi Banu Quraidzah itu.
Khud’ah Nu’aim rupanya “mempan”. Abu Sofyan mengutus ’Akramah bin Abu Jahal kepada Banu Quraidzah untuk menyampaikan bahwa dikalangan mereka (Quraisy dan Ghathfan), sudah banyak kuda-kuda dan unta yang mati, sedangkan mereka berada didaerah yang bukan tempat tinggal mereka. Mereka menganjurkan kepada Banu Quraidzah supaya bersiap-siap untuk berperang besok harinya, sampai Muhammad kalah.
Banu Quraidzah menyawab: “Besok itu hari Sabtu, dan tuan-tuan kan tahu, bahwa kami orang Yahudi tak boleh berbuat apa-apa pada hari Sabtu. Selain dari pada itu, kami tidak hendak berperang besertamu, kalau kamu tidak berikan kepada kami beberapa orang dari orang pentingmu sebagai jaminan. Karena kami kuatir, kalau-kalau nanti tidak kuat meneruskan peperangan, lalu kamu pulang kenegerimu kembali, sedangkan kamu meninggalkan kami disini sendirian menghadapi Muhammad seterusnya”.
Begitu jawab Banu Quraidzah (persis seperti yang disarankan oleh Nu’aim kepada mereka). Dan diwaktu 'Akramah bin Abu Jahal melaporkan reaksi Quraidzah yang demikian kepada Markas tentara Quraisy, mereka itu berkata: ”Wah, memang benar kiranya, apa yàng dikatakan Nu’aim bin Mas’ud itu! Betul rupanya Banu Quraidzah mau menangkap dan akan menyerahkan orang-orang penting kita kepada Muhammad. Untuk itulah mereka pura-pura minta ”orang jaminan” dari kita”.
Lalu Abu Sofyan mengirim utusan lagi kepada Banu Quraidzah, dan menyampaikan bahwa mereka tidak bersedia memberi orang-orang jaminan. Kalau Banu Quraidzah mau turut serta menyerang Muhammad, boleh. Kalau tidak, masa bodoh.
Berkat kecerdasan Nu’aim, berhasil terpecah front musuh : antara musuh dari luar (Quraisy Cs) dan musuh dari dalam (Yahudi Medinah).
----------
Disajikan kembali dari buku “dibawah naungan risalah” tulisan M. Natsir, Sinar Hudaya – Documenta 1971,halaman 32 - 37

Tidak ada komentar:

Posting Komentar