"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Sabtu, 13 Juli 2013

AL-‘ALIYYU

AL-’ALIYYU (الْعَلِيُّ) artinya Allah itu Maha Tinggi, yakni tingkatan yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal pikiran siapa pun dan tidak dapat difahami oleh otak yang bagaimanapun pandainya. Ketinggian manusia atau raja-raja, ada batasnya tidak kekal abadi, pada satu ketika dia disanjung-sanjung, dihormati, disegani, karena pangkatnya, kayanya dan sebagainya, tapi pada satu ketika lagi, dia menjadi manusia yang dibenci, tak disukai, apalagi dihormati dan disegani. Demikianlah lelakon dunia, ibarat sandiwara, diwaktu sedang bermain dia menjadi raja, menjadi baginda putri dan sebagainya. Tapi setelah layar tertutup, dia adalah orang biasa.
Oleh karena itu manusia tidak boleh bersombong diri, selagi dia ditinggikan dan dihormati orang. Tingginya manusia itu, karena ditinggikan, tapi tingginya Allah tak ada yang dapat menandingi-Nya.
Firman الله سبحانه وتعالى dalam Al-Qur’an surat Asy-Syura ayat 51 yang artinya :
“Tiada mungkin manusia bercakap-cakap dengan Allah, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari balik dinding, atau diutusnya utusan (Malaikat) lalu diwahyukan-Nya dengan izin-Nya apa-apa yang dikehendaki-Nya. Sungguh Dia Maha Tinggi lagi Bijaksana.”

Firman الله سبحانه وتعالى dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 114 yang artinya :
“Maha Tinggi Tuhan, Raja yang sebenarnya. Janganlah engkau bersegera membaca Al-Qur’an, sebelum habis turun wahyu kepada engkau. Katakanlah! Hai Tuhanku! Tambahlah pengetahuanku!”
--------------------------------
URAIAN ASMA'UL HUSNA, H. Hadiyah Salim, PT. Alma'arif, Cetakan Pertama 1983, halaman 48-49.
DO’A ASMAULLAH AL HUSNA DAN URAIAN MAKNANYA, Staf Redaksi C.V. Peladjar, C.V. Peladjar Bandung, halaman 29.

KEUTAMAAN LAPAR DAN SEDERHANA DALAM HIDUP (12)

Abu Hurairah r.a. berkata : Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Ia. Adakalanya saya terpaksa menekankan perutku ke tanah karena lapar. Dan adakalanya saya mengikat batu di perutku karena lapar. Dan pada suatu hari saya duduk dijalanan, mendadak Nabi s.a.w. berjalan dan tersenyum ketika melihat saya, dan mengerti benar penderitaanku, maka berkata : Ya Aba Hirr : Jawabku : Labbaika ya Rasulullah. Ikutlah Aku. Maka saya ikuti Rasulullah s.a.w. hingga sampai di rumahnya kemudian mengizinkan saya masuk, dan di situ Rasulullah menemukan segelas susu. Ia bertanya kepada isterinya : Dari manakah susu ini? Jawab isterinya : Fulan telah mengirimkan hadiyah untukmu. Rasulullah lalu memanggil saya : Ya Aba Hirr : Labbaika ya Rasulullah. Nabi menyuruh saya : Pergilah panggil ahlusshuffah (orang-orang yang tak berumah atau keluarga), jika Rasulullah mendapat sedekah maka dikirim langsung kepada mereka dan Rasulullah tidak mengambil sedikitpun daripadanya, tetapi jika mendapat hadiyah dimakan sebagian dari padanya, dan sebagian diberikan ahlusshuffah, tetapi saya merasakan berhak mendapat seteguk lebih dahulu, untuk mengembalikan kekuatan yang telah hilang daripadaku itu. Dan nanti kalau ahlusshuffah datang tentu saya yang akan disuruh melayani mereka, dan tinggal apa buat saya? demiklan suara hati kecilku. Namun perintah Allah dan Rasulullah tidak boleh dibantah. Maka saya pergi dengan segera memanggil ahlusshuffah. Dan ketika mereka telah datang ke rumah Nabi, masing-masing sudah mengambil tempat duduknya, Nabi memanggil saya : Hai Aba Hirr : Jawabku : Labbaika ya Rasulullah. Bersabda Nabi : Terima ini dan bagi-bagikan kepada mereka. Maka saya terima gelas itu dan saya berikan kepada orang pertama untuk diminum sampai puas, kemudian dikembalikan kepadaku dan saya berikan kepada orang kedua, ketiga, keempat dan semuanya minum sehingga puas baru mengembalikan gelas itu kepadaku, hingga berakhir kembali kepada Rasulullah s.a.w. setelah selesai semua yang hadir itu, maka Rasulullah menerima kembali gelas itu sambil tersenyum padaku dan berkata : Ya Aba Hirr. Labbaika ya Rasulullah. Bersabda Nabi : Tinggal saya dan kau. Jawabku : Benar ya Rasulullah. Nabi bersabda : Duduklah minum. Maka saya duduk sambil minum. Dan Nabi bersabda : Minumlah, maka terus saya minum. Dan Nabi selalu mengulangi : Minumlah ! hingga saya berkata : Demi Allah yang mengutus kau dengan hak, tidak ada tempat lagi dalam perutku. Kemudian Rasulullah bersabda : Berikan kepada Aku gelas itu. Kemudian Rasulullah memuji syukur kepada Allah dan membaca : Bismillah dan meminum sisa itu. (HR. Buchary).
--------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 424-426.

URUSAN PERSAKSIAN (1)

Dari Zaid bin Khalid Aljuhany r.a.; Bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda :” Maukah kalian kuberitahu tentang sebaik-beiknya saksi? Ialah yang mendatangkan persaksian sebelum diminta”. Diriwayatkan oleh Muslim.
-------------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Babus-Syahadat, halaman 516.

Jumat, 12 Juli 2013

YAHUDI FADAK

Setelah Yahudi Khaibar minta damai selama Muslimin mengepung mereka di perbentengan Watih dan Sulalim, Nabi telah mengutus orang kepada penduduk Fadak (Fadak ialah sebuah desa daerah koloni Yahudi di Hijaz, tidak jauh dari Medinah) dengan maksud supaya mereka mau menerima ajakannya atau menyerahkan harta-benda mereka. Mengetahui peristiwa yang sudah terjadi di Khaibar, penduduk Fadak sudah merasa ketakutan sekali. Persetujuan diadakan dengan menyerahkan separuh harta mereka tanpa pertempuran. Kalau daerah Khaibar menjadi milik Muslimin karena mereka yang telah berjuang membebaskannya, maka Fadak untuk Muhammad karena pihak Muslimin tidak memperolehnya dengan pertempuran.

MENYERAHKAN WADI’L-QURA
Selesai semua itu Rasul pun berkemas-kemas hendak kembali ke Medinah melalui Wadi’l-Oura (ialah sebuah wadi atau lembah terletak antara Medinah dengan Syam). Akan tetapi pihak Yahudi daerah ini sudah menyiapkan diri hendak menyerang Muslimin. Dan pertempuran segera pecah. Tetapi mereka juga terpaksa menyerah dan minta damai seperti halnya dengan pihak Khaibar. Sebaliknya golongan Yahudi Taima’ mereka bersedia membayar jizya (pajak) tanpa terjadi peperangan atau pertempuran.
Dengan demikian semua orang Yahudi tunduk kepada kekuasaan Nabi, dan berakhir pulalah semua kekuasaan mereka di seluruh jazirah. Dan jurusan utara ke Syam sekarang Muhammad sudah tidak kuatir lagi, sama halnya seperti dulu, dari jurusan selatan juga ia sudah tidak kuatir lagi setelah adanya Perjanjian Hudaibiya.
Dengan habisnya kekuasaan Yahudi itu, maka kebencian pihak Muslimin terutama kaum Anshar — terhadap kepada mereka jadi berkurang sekali. Bahkan mereka menutup mata terhadap beberapa orang Yahudi yang kembali ke Yathrib. Dan Nabi berdiri bersama-sama dengan orang-orang Yahudi yang sedang berkabung terhadap kematian Abdullah bin Ubayy dan menyatakan turut berdukacita pula kepada anaknya. Kepada Mu’adh bin Jahal pun dipesannya untuk tidak membujuk orang-orang Yahudi itu dari agama Yahudinya. Juga pajak jizya tidak dikenakan kepada orang-orang Yahudi Bahrain meskipun mereka tetap berpegang pada keyakinan agama mereka. Dengan Yahudi Banu Ghazia dan Banu ‘Aridz dibuat pula persetujuan bahwa mereka akan memperoleh dhimma (perlindungan) dan kepada mereka dikenakan pula pajak.
---------------------------------------
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 424-425.

KEUTAMAAN LAPAR DAN SEDERHANA DALAM HIDUP (11)

Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah dalam do’anya bersabda : “ALLAHUMMA IJ’AL RIZQO AALI MUHAMMADIN QUTAN”. (Ya Allah berilah rizqi keluarga Muhammad sekedar sesuap makanan semata-mata) (HR. Buchary dan Muslim).
--------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 424.

SEBAB-SEBAB AMPUNAN DIBULAN RAMADHAN

Dalam bulan Ramadhan, banyak sekali sebab-sebab turunnya ampunan. Di antara sebab-sebab itu adalah :
1. Melakukan shoum Romadhon.
Rasulullah s.a.w bersabda : “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).

2. Melakukan shalat tarawih dan tahajjud di dalamnya.
Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampun dosa-dosanya yang telah lalu .“ (Muttafaq ‘alaih).

3. Melakukan shalat dan ibadah di malam Lailatul Qadar.
Yaitu pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia adalah malam yang penuh berkah, yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’anul Karim. Dan pada malam itu pula dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. Rasulullah s.a.w bersabda : “Barangsiapa melakukan shalat di malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih).

4. Memberi ifthar (makanan untuk berbuka) kepada orang yang berpuasa.
Rasulullah s.a.w bersabda : Barangsiapa yang di dalamnya (bulan Ramadhan) memberi ifthar kepada orang berpuasa, niscaya hal itu menjadi (sebab) ampunan dari dosa-dosanya, dan pembebasan dirinya dari api neraka.” ( HR. Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi dan lainnya).

5. Beristighfar. Meminta ampunan serta berdoa ketika dalam keadaan puasa, berbuka dan ketika makan sahur.
Allah memerintahkan agar kita berdoa dan Dia menjamin mengabulkannya. Allah berfirman : “Dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya untukmu.” (Ghafir : 60).
Dan dalam sebuah hadits disebutkan “Ada tiga macam orang yang tidak ditolak doanya ; di antaranya disebutkan, “orang yang berpuasa hingga ia berbuka.” (HR. Ahmad, At-tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah).
Nabi s.aw. bersabda : “Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada setiap malam ke langit dunia, yaitu ketika masih berlangsung sepertiga malam yang akhir seraya berfirman : “Barangsiapa berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, barangsiapa memohon kepada-Ku niscaya Aku memberinya dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya.” (HR. Muslim).

6. Istighfar (permohonan ampun) para malaikat untuk orang-orang berpuasa, sampai mereka berbuka.
Jika sebab-sebab ampunan di bulan Ramadhan demikian banyak, maka orang yang tidak mendapatkan ampunan di dalamnya adalah orang yang memiliki seburuk-buruk nasib. Kapan lagi ia mendapatkan ampunan jika ia tidak diampuni pada bulan ini? Kapan dikabulkannya permohonan orang yang ditolak pada saat Lailatul Qadar? Kapan akan baik orang yang tidak menjadi baik pada bulan Ramadhan?
------------------------------------
Buletin Jum'at "AL-HUSNA", Edisi 77/ Th. XII/ 23  Sya'ban 1433 H/ 13 Juli 2012 M

UMMU WARAQAH

Beliau adalah putri dan Abdullah bin Al-Haris bin Uwaimar bin Naufal Al-Anshariyyah. Beliau dikenal dengan kunyah Ummu Waraqah binti Abdullah atau dikenal dengan Ummu Waraqah binti Naufal, dinisbahkan pada kakeknya.
Beliau termasuk wanita yang mulia dan yang paling mulia pada zamannya. Rasulullah s.a.w. telah mengunjungi beliau beberapa kali dan beliau menjulukinya dengan gelar Asy-Syahidah.
Beliau adalah seorang wanita yang memiliki ghirah tinggi terhadap Islam dan bercita-cita untuk mati syahid di jalan Allah dalam rangka meninggikan kalimat Allah. Oleh karena itu beliau tidak terhalang untuk berjihad bersama kaum muslimin dan mendapatkan pahala mujahidin. Tatkala Rasulullah s.a.w. hendak berangkat perang Badar, Ummu Waraqah berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Ya Rasulullah ijinkanlah aku berangkat bersama anda, sehingga aku dapat mengobati orang-orang yang terluka di antara kalian, merawat orang yang sakit di antara kalian dan agar Allah mengaruniai diriku syahadah.
Maka Nabi s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya Allah akan mengaruniai dirimu syahadah tapi tinggallah kamu di rumahmu karena sesungguhnya engkau adalah syahidah.”
Beliau turut mengumpulkan Al-Qur’anul Karim, dan beliau adalah seorang wanita yang ahli dalam membaca Al-Qur’an. Oleh karena itulah Nabi s.a.w. memerintahkan beliau agar menjadi imam bagi para wanita di daerahnya. Dan Rasulullah s.a.w. menyiapkan sendiri muadzin bagi beliau.
Disebutkan dalam Al-Musnad dan As-Sunan dari hadits Abdurrahman bin Khalad dari Ummu Waraqah mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. mengunjungi beliau di rumahnya, kemudian memberikan seorang muadzin untuknya. Abdurrahman berkata : “Aku melihat muadzin tersebut seorang laki-laki yang sudah tua.
Begitulah, jadilah rumah Ummu Waraqah rumah Allah yang di sana ditegakkan shalat lima waktu. Alangkah terhormatnya seorang wanita yang menduduki posisi sebagaimana seorang wanita mukminah seperti Ummu Waraqah .
Ummu Waraqah senantiasa istiqamah dengan keadaannya yaitu menjaga syari’at-syari’at Allah hingga pada suatu ketika budak dan jariyahnya yang telah dijanjikan oleh beliau untuk akan dimerdekakan setelah beliau wafat”, membunuh beliau. Tatkala pagi Umar bin Khaththab berkata : “Demi Allah aku tidak mendengar suara bacaan bibiku Ummu Waraqah semalam.” Kemudian beliau memasuki rumahnya namun tidak melihat suatu apapun, kemudian beliau memasuki kamamya ternyata beliau telah terbungkus dengan kain di samping rumah (yakni telah wafat). Umar berkata : “Alangkah benar sabda Rasulullah s.a.w. tatkala bersabda : “Marilah pergi bersama kami untuk mengunjungi wanita yang syahid. “
Selanjutnya Umar naik mimbar dan mengabarkan berita tersebut lantas berkata : “Hadapkanlah dua budak tersebut kepadaku!” Maka didatangkanlah dua orang tersebut dan beliau menanyai keduanya dan mereka mengakui bahwa mereka berdua telah membunuhnya, maka beliau perintahkan agar kedua orang tersebut disalib, dan mereka berdualah yang pertama kali disalib di dalam Islam.
Semoga Allah merahmati Ummu Waraqah, semoga Allah membalas semua kebaikannya, yang mana beliau senantiasa membaca Al-Qur’an dan mengumpulkannya, beliau adalah imam bagi para wanita di zamannya, amat sangat rindu untuk berjihad dengan harapan mendapat pahala mujahidin, akhirnya Allah-pun mengabulkan permohonannya dan mendapatkan pahala mujahidin.
-----------------------------------
NISAA' HAULAR RASUL, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), MENGENAL SHAHABIAH NABI S.A.W. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 191 – 193

Kamis, 11 Juli 2013

ASY-SYAKURU

ASY-SYAKURU (الشَّكُوْرُ) artinya Yang Maha Memberikan balasan yang banyak sekali terhadap hamba-Nya, walaupun amalan hamba-Nya itu kecil (sedikit).
Firman الله سبحانه وتعالى dalam Al-Qur’an surat Az-Zilzal ayat 7 – 8 yang artinya :
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah (debu yang amat halus) niscaya akan dibalasi kebaikannya itu. Barangsiapa yang mengerjakan sebesar zarrah kejahatan, niscaya akan dbalasi kejahatan itu.”

Firman الله سبحانه وتعالى dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 147 yang artinya :
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur kepada-Nya serta beriman? Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”.

Allah سبحانه وتعالى Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Agung, dan Maha Besar, tidak melupakan amal-amal baik hamba-Nya, tapi hamba Allah (manusia-jin) yang melupakan anugerah Allah terhadapnya dengan jalan mendurhakai Allah.
Bersifat dengan sifat ini ialah bahwa kita harus selalu syukur kepada nikmat-nikmat Allah سبحانه وتعالى  dengan memperbanyak taat dan amal, serta berterimakasih kepada sesama manusia atas segala budi kebaikan mereka walau sekecil apapun.
--------------------------------
URAIAN ASMA'UL HUSNA, H. Hadiyah Salim, PT. Alma'arif, Cetakan Pertama 1983, halaman 47-48.
DO’A ASMAULLAH AL HUSNA DAN URAIAN MAKNANYA, Staf Redaksi C.V. Peladjar, C.V. Peladjar Bandung, halaman 28-29.

KEUTAMAAN LAPAR DAN SEDERHANA DALAM HIDUP (10)

Sa’ad bin Abi Waqqosh r.a. berkata : Saya termasuk orang pertama yang melempar dengan panah dalam perjuangan untuk agama Allah. Dan kami dahulu berperang bersama Rasulullah s.a.w. sedang tidak ada bekal makanan selain dari daun pohon, sehingga kami kalau buang air seperti kotoran kambing, bahkan daun itu tidak dapat campur karena keringnya. (HR. Buchary dan Muslim).
--------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 423.

SUJUD SAHWI (11)

Dari Abu Bakrah r.a.; “Bahwasanya Nabi s.a.w. apabila datang kepada beliau suatu perkara yang menggembirakan beliau tunduk bersujud karena Allah”. Diriwayatkan oleh Imam yang Lima (Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i) kecuali Nasa’i.

Dari Abdurrahman bin Auf r.a, ia berkata; “Nabi s.a.w. pernah sujud dan memanjangkan sujudnya itu, lalu beliau angkat kepalanya, dan bersabda : “Bahwasanya Jibril telah datang padaku dan memberikan kabar gembira kepadaku, maka aku sujud bersyukur kepada Allah”. Diriwayatkan oleh Ahmad dan di sahkan oleh Hakim.

Dari Barra bin ‘Azib r.a.; “Bahwasanya Nabi s.a.w. telah mengutus Ali ke Yaman”, dan ia sebut Alhadits, dan ia berkata : “Lalu Ali kirim surat kepada Nabi s.a.w. tentang ke Islaman mereka; maka tatkala Nabi s.aw. habis membaca surat itu, beliau tunduk bersujud bersyukur kepada Allah ta’ala atas kejadian itu”. Diriwayatkan oleh Baihaqy dan asalnya dari Bukhary.

Hadits tersebut diatas adalah keterangan “sujud tilawah”.
---------------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabush Sholat, halaman 132.

Rabu, 10 Juli 2013

SEBABNYA YAHUDI PUTUS ASA

Sekarang pihak Muslimin mengepung benteng Zubair. Pengepungan ini tampaknya cukup lama disertai dengan pertempuran yang sengit pula. Sungguhpun begitu mereka tidak juga berhasil menaklukkannya. Baru setelah akhirnya saluran air ke benteng itu diputuskan, pihak Yahudi terpaksa keluar dan dengan mati-matian mereka memerangi kaum Muslimin sekalipun mereka itu akhirnya lari juga. Dengan demikian benteng-benteng itu satu demi satu jatuh ke tangan Muslimin yang berakhir pada benteng Watih dan Sulalim dalam kelompok perbentengan Katiba, dua buah benteng terakhir yang kukuh dan kuat.
Sejak itulah perasaan putus asa mulai merayap ke dalam hati mereka. Kini mereka minta damai. Semua harta-henda mereka di dalam benteng-benteng asy-Syiqq, Natat dan Katiba diserahkan kepada Nabi untuk disita, asal nyawa mereka diselamatkan. Permohonan ini oleh Muhammad diterima. Dibiarkannya mereka itu tinggal di kampung halaman mereka, yang menurut hukum penaklukan sudah berada di bawah kekuasaannya. Mereka akan mendapat separuh hasil buah-buahan daerah itu sebagai imbalan atas tenaga kerja mereka.

PERDAMAIAN KHAIBAR
Muhammad memperlakukan Yahudi Khaibar tidak sama seperti terhadap Yahudi Banu Qainuqa dan Banu Nadzir tatkala mereka dikosongkan dan kampung halaman itu; sebab dengan jatuhnya Khaibar itu ia sudah merasa terjamin dari adanya bahaya Yahudi dan yakin pula bahwa mereka samasekali tidak akan bisa lagi mengadakan perlawanan. Di samping itu di Khaibar terdapat pula beberapa perkebunan, ladang dan kebun-kebun kurma. Semua ini masih memerlukan tenaga-tenaga ahli yang cukup banyak untuk mengolahnya dan yang akan dapat pula mengurus pengolahan itu dengan cara yang sebaik-baiknya. Kendatipun pengikut-pengikut Medinah terdiri dari penduduk yang bercocok tanam, tanah mereka pun sangat pula memerlukan tenaga mereka, namun mengingat, bahwa Nabi juga sangat memerlukan tentara untuk angkatan perangnya, maka ia tidak suka membiarkan mereka semua itu dalam bercocok tanam. Dalam pada itu orang-orang Yahudi Khaibar tetap bekerja meskipun kekuasaan politik mereka sudah runtuh demikian rupa yang juga mempengaruhi kegiatan mereka, sehingga dari segi pertanian dan perkebunan pun cepat sekali Khaibar mengalami kemunduran dan kehancuran; padahal sudah begitu baik Nabi memperlakukan penduduk daerah itu, di samping Abdullah bin Rawaha utusan Nabi kepada mereka yang cukup adil, setiap tahun mengadakan pembagian hasil dengan mereka. Demikian baiknya Nabi memperlakukan penduduk Yahudi Khaibar itu sehingga tatkala kaum Muslimin menyerbu mereka, dan di antara barang-barang rampasan perang itu terdapat juga ada beberapa buah kitab Taurat, ketika oleh pihak Yahudi diminta. maka oleh Nabi diperintahkan supaya kitab-kitab itu diserahkan kembali kepada mereka. Ia tidak sampai berbuat seperti yang pernah dilakukan oleh pihak Rumawi ketika menaklukkan Yerusalem. Kitab-kitab suci itu oleh mereka dibakar dan diinjak-injak dengan telapak kaki. Juga ia tidak melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pihak Nasrani dalam perang menindas kaum Yahudi Andalusia (Spanyol). Kitab-kitab Taurat itu oleh mereka juga dibakar.
----------------------------------
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 423-424.