"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Kamis, 08 September 2016

Aniaya Harta

Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 188, Allah ta'ala menasehati orang beriman dalam firman-Nya :

وَلَا تَأْكُلُوٓا۟ أَمْوٰلَكُم بَيْنَكُم بِالْبٰطِلِ وَتُدْلُوا۟ بِهَآ إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنْ أَمْوٰلِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan batil (tidak halal) dan kamu bawa perkaranya kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain dengan cara (berbuat) dosa sedang kamu mengetahui. (188).

Asbabun Nuzul
Bersumber dari Sa'id bin Jubair, ayat ini turun berkenaan dengan Imriil Qais bin 'Abis dan 'Abdan bin Asyma' al-Hadirami yang bertengkar dalam soal tanah. Imriil Qais berusaha untuk mendapatkan tanah itu menjadi miliknya dengan bersumpah di depan hakim. Ayat ini sebagai peringatan kepada orang-orang yang merampas hak orang dengan jalan batil. (HR. Ibnu Abi Hatim).

Tafsir Ayat
QS. 2 : 188. "Dan janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan batil (tidak halal) ...". Ayat ini membawa orang beriman kepada kesatuan, kekeluargaan dan persaudaraan. Ditanamkan disini bahwa harta benda kawanmu itu adalah harta benda kamu juga. Kalau kamu aniaya hartanya, samalah dengan kamu menganiaya harta bendamu sendiri juga. Memakan harta benda dengan jalan yang slah, ialah tidak menurut jalannya yang patut dan benar. Maka termasuklah disini segala macam penipuan, pengicuhan, pemalsuan, reklame dan adpertensi yang berlebih-lebihan, asal keuntungan masuk. "... dan kamu bawa perkaranya kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta orang lain dengan cara (berbuat) dosa sedang kamu mengetahui". Timbullah dakwa-mendakwa di muka hakim. Alih-alih hendak mencari penyelesaian, padahal hubungan si pendakwa dan di terdakwa telah keruh, dendam kesumat telah timbul, usahkan selesai, malahan bertambah kusut. Karena tamak akan harta dunia, mereka tidak berkeberatan mengingakari peraturan agama yang telah mereka peluk untuk kembali kepda adat jahiliyah. Apatah lagi tiap-tiap harta yang didapat dengan jalan tidak benar itu amatlah panasnya dalam tangan, membawa gelisah diri dan menghilangkan ketentraman. Sehingga walaupun di luar kelihatan mampu, pada batinnya itulah orang yang telah amat miskin, ada yang hilang dari dalam dirinya, IMAN.
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 58.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 2, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan September 1987, halaman 110 - 114.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 52.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar