"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Minggu, 04 Desember 2011

TINGKAT DAN DERAJAT ORANG-ORANG YANG SABAR

Dilihat dari sudut kekuatan dan kelemahan menghadapi sesuatu keadaan atau situasi, tingkat kasabaran manusia terbagi tiga macam.
Pertama, yang dapat menguasai dan menaklukkan hawa nafsunya terus-menerus. Mereka tetap mempunyai pendirian yang kuat (istiqamah), senantiasa menuruti jalan lurus, teguh hati mematuhi ketentuan-ketentuan Agama.
Mereka itulah yang dinamakan kaum Siddiqun atau Muqarrabun, yaitu orang-orang yang lurus-jujur dan selalu menghampirkan diri kepada Tuhan.
Mereka senantiasa melaksanakan kehidupan yang digariskan Tuhan:
“Kembalilah kepada Tuhan engkau dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (Fajar : 28).
Kedua, yang dikuasai oleh hawa nafsunya, yang selalu menyerah-berlutut kepada keinginannya dalam setiap hal dan di segala zaman. Hawa nafsunya dikendalikan oleh syaitan, dia tidak mampu melawannya. Hidupnya selalu dibuaikan oleh kemewahan dunia. Mereka itulah yang dinamakan kaum Ghafilun, kaum yang lalai, lengah. Mereka yang dilukiskan oleh Tuhan di dalam Al-Quran dengan kalimat :
“Mereka mempunyai hati, tapi tidak mau mengerti, mempunyai mata, tapi tidak melihat; mempunyai telinga, tapi tidak mau mendengar. Mereka tak obahnya seperti hewan, malah lebih sesat dari itu lagi. Mereka itu adalah orang-orang yang lalai (ghafilun).” (At-A’raf : 179).

Ketiga, orang yang terus-menerus berjuang (berjihad) melawan hawa nafsunya. Dalam perjuangan itu silih berganti dia mengalami up and down, bangkit dan jatuh. Sewaktu-waktu menang, kadang-kadang kalah. Tapi ia tidak kehilangan kemauan dan spirit (semangat), tidak putus asa. Mereka itu dinamakan kaum Mujahidun, kaum yang berjihad, berjuang. Terhadap mereka Tuhan memberikan jaminan di dalam Al-Quran :
“Dan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada (agama) KAMI, sesungguhnya KAMI pimpin mereka kejalan yang KAMI ridhoi.” (Al-’Ankabut: 69)
---------------
SABAR DAN SYUKUR, M. Yunan Nasution, Penerbit Ramadhani, halaman 13 - 15

Tidak ada komentar:

Posting Komentar