"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Sabtu, 31 Desember 2011

BANGSA YANG SUKA MENGHALANGI ORANG BERJALAN PADA KEBENARAN

Allah berfirman (Ali-Imran : 99)
”Katakanlah, “Hai ahli kitab, mengapa kamu membelokkan orang-orang yang telah beriman dari jalan Allah, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan ?“ Allah sekali-kali tidak lalai terhadap perbuatan-perbuatan kamu.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Said bin Aslam, Ia berkata, “Sya’as bin Qois, seorang Yahudi yang sangat permusuhan dan celaannya pada kaum muslimin, pada suatu hari lewat di depan beberapa orang sahabat Nabi yang sedang duduk bercakap-cakap, terdiri dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini tampak rukun setelah datang Islam pada mereka. Padahal di zaman Jahiliyah dahulu mereka saling bermusuhan. Melihat hal ini Sya’as merasa gusar dan beranggapan bahwa, kalau suku Aus dan Khazraj menjadi bersatu di negeri ini, bangsa Yahudi nantinya tidak akan memperoleh tempat untuk berdiam. Lalu iapun menyuruh seorang pemuda Yahudi yang berjalan bersamanya seraya diperintahkan kepadanya, “Datanglah ke tempat mereka itu. Duduklah bersama mereka, kemudian bangkitkanlah kepada mereka kenangan perang Ba’ats. Pemuda ini kemudian mendatangi mereka seraya mengucapkan beberapa bait syair yang mengingatkan pertumpahan darah itu. Maka terjadilah pertengkaran di antara kedua suku tersebut sehingga ada dua orang dari suku ini yang melompat ke depan dan saling mengatai, sehingga terlontarlah ucapan, “Demi Allah, kalau kalian bersedia, bolehlah kita mengulang kembali gejolak muda dahulu itu (maksudnya perang). Maka kedua suku ini terbakar oleh rasa marah dan menjawab, “Silakan, kami pun mau, Tunggulah di Harrah (satu tempat yang di luar Madinah). Lalu mereka keluarlah ke tempat tersebut dan orang banyak sudah bersiap-siap. Suku Aus lalu berkumpul. Begitu pula suku Khazraj, memenuhi panggilan yang menjadi tradisi pada zaman Jahillyah. Kejadian ini sampailah kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau bersama dengan beberapa sahabat Muhajirin mendatangi mereka, kemudian mengingatkan, “Ingatlah kepada Allah Apakah kalian ini mengikuti ajakan Jahiliyah, padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian, lagi pula kalian telah diberi hidayah oleh Allah ke jalan Islam dan dijadikannya manusia terhormat serta dilepaskan dari ikatan Jahiliyah, diselamatkannya dari kekafiran dan dipersatukan hati kalian. Karena itu patutkah kalian kembali lagi kepada kekufuran yang dahulu itu ?“.
Segeralah kedua golongan ini menyadari percikan api syetan dan tipu daya dari musuh mereka. Kernudian mereka lemparkan senjata yang ada ditangan mereka, dan mereka menangis seraya saling berpelukan antara suku Aus dan Khazraj. Kemudian mereka pun bubar, pergi bersama Rasulullah dengan perasaan penuh kepasrahan. Dengan demikian Allah memadamkan tipu daya musuh Allah yaitu Sya’as bin Qois, yang memercikkan api dendam kepada mereka.
Riwayat yang menjelaskan sebab turunnya ayat di atas dengan jelas menggambarkan betapa gigihnya bangsa Yahudi berusaha menghalangi manusia untuk berjalan kepada kebenaran.
Ayat di atas dengan keras memberikan teguran kepada bangsa Yahudi khususnya, dan ahli kitab umumnya. Kepada mereka ini Allah mengajukan pertanyaan, “Apa sebab kamu, wahai ahli kitab berupaya memalingkan orang-orang yang sudah beriman kepada Nabi Muhammad, yang sudah taat kepadanya, yang telah berbuat amal shaleh, berakhlaq luhur? Mengapa kamu mendustakan mereka dengan penuh rasa kekufuran dan kedurhakaan, kedengkian dan kesombongan? Mengapa pula kamu menimbulkan perasaan ragu dan bimbang yang bathil dengan penuh perasaan dengki serta tipu daya di tengah orang-orang Islam yang masih lemah imannya terhadap Nabi saw? Kamu, wahai Ahli Kitab melakukan tindakan-tindakan semacam itu terhadap orang-orang yang berjalan pada jalan kebenaran dan menjadi pemeluk agama Allah adalah dengan maksud menyesatkan dan memalingkan dari jalan yang benar. Padahal bukankah kamu telah mengetahui jauh sebelumnya perihal Muhammad yang telah diberitakan kedatangannya pada kitab-kitab suci serta kamu pun sudah tahu bukti kebenaran kenabiannya. Karena itu tentulah tidak patut bagi kamu terus menerus mengikuti jalan yang bathil dan sesat serta berusaha menyesatkan orang. Peringatan keras yang Allah tujukan kepada bangsa Yahudi sebagaimana tersebut dalam ayat ini membuktikan bahwa bangsa Yahudi tidak akan pernah lengah untuk mengatur segala macam cara untuk menyesatkan ummat manusia dan memalingkannya dari jalan yang benar.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 126 - 129

Tidak ada komentar:

Posting Komentar