"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 30 Juni 2017

Sikap Manusia Kepada Orang Shalih

Pertama; meremehkan dan tidak mengetahui hak-hak mereka atau bahkan memusuhi mereka. Di antara kelompok ini adalah orang-orang ahlul kitab yang membunuh da’i-da’i Allah s.w.t. dari kalangan para Nabi dan Rasul dan para pengikutnya. (QS. Ali Imran (3) : 21).
Kedua; berlebih-lebihan dalam mengagungkan mereka (ghulu), di antara kelompok ini adalah Nasrani dan Yahudi. (QS. At-Taubah (9) : 31).
Ketiga;  golongan pertengahan yang mengenal hak-hak mereka dan menunaikannya sesuai dengan yang dikehendaki Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. (QS. Al-Baqarah (2) : 143). Golongan ketiga inilah yang wajib kita ikuti bersikap tengah-tengah, tidak meremehkan mereka dan tidak pula berlebih-lebihan hingga menyembah mereka tanpa sadar.
-------------------------------------------
Abu Lutfia; Buletin Dakwah Islam Al-Furqon, Tahun ke-8, Volume 4 Nomor 1, halaman 2.

Munculnya Keimanan

Kabar gembira, “Di antara sebab munculnya keimanan adalah munculnya penentang Islam dari kalangan orang-orang pendusta” (Ibnu Taymiyah رحمه الله dalam al-Jawaab as-Shahiih 1/13)

Dr. Abdul ‘Aziz alu Abdul Latif, dosen Jurusan Aqidah Universitas Al-Imam, anggota lembaga editorial dan pusat penelitian dan studi Majalah al-Bayan. (Twitter : @dralabdullatif) - Twit Ulama 

Tahap Menimba Ilmu

Sufyan Ats Tsauri رحمه الله berkata, “Tahapan awal menimba ilmu adalah diam. Yang kedua adalah mendengarkan dan menghafalkannya. Yang ketiga adalah mengamalkannya. Yang keempat yaitu menyebarkan dan mengajarkannya.” [Manaqib al Imam al A’zham]
----------
Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta

Kamis, 29 Juni 2017

Penghamba Nalar

Note Trip. Sekira 3 bulan yang lalu, ketika berada di sebuah bengkel tambal ban di kabupaten Kendal. Aku ikut mendengarkan pembicaraan dua bapak-bapak yang sedang menanti jasa tambal ban. Sebenarnya jauh-jauh tahun obrolan bertema "Ilmu dan Iman" ditambah masih hangatnya soal memilih pemimpin kafir dikalangan orang beriman sudah bergelut dikalangan akar rumput, dan jawaban-jawaban dari lisan-lisan shalih-shalihat masih terus terdengar manis menentramkan hatiku. Ternyata Indonesiaku masih dipenuhi insan-insan yang ta'at agamanya, khususnya pemahaman mereka akan Islam sebagai agama yang dipeluknya. Alhamdulillah Allah terus jaga negeri ini dengan orang-orang shalih-shalihat meski tak terlihat dipermukaan. Terima kasih untuk para ulama ahlus-sunnah yang terus mencerahkan ummat.
Sebut saja kedua bapak itu Ban Luar dan Ban Dalam.
Ban Luar : "Kebodohan itu obatnya ilmu, bukan iman. Beriman tanpa pengetahuan ya tetap bodoh. Makanya, ayat pertama ke Nabi dimulai dengan "Bacalah!", itu perlunya belajar dan menggunakan akal."
Ban Dalam : "Tawazun saja pak, pengetahuan tanpa iman jadinya liberal, sampai-sampai menghalalkan pemimpin dari kaum Kafir yang telah memusuhi dan menista Islam. Jelas-jelas dalam al-Qur'an Allah memperingatkan supaya berhati-hati dan menghindari masih saja berani menentang peringatan Allah"

Meski jawaban ini sering ku dengar, tetapi tetap saja jleb. Lisan-lisan shalih-shalihat masih saja lebih hebat dan menentramkan dari penghamba nalar.

Lautan Kesyirikan

Terus-terusan berbuat maksiat menyeret pada sikap takut kepada selain Allah, berharap kepada selain Allah, cinta untuk selain Allah, dan tawakkal kepada selain Allah, yang bisa menyebabkan seseorang tenggelam di lautan kesyirikan. (Ibnul Qayyim رحمه الله)

Dr. Abdul ‘Aziz alu Abdul Latif, dosen Jurusan Aqidah Universitas Al-Imam, anggota lembaga editorial dan pusat penelitian dan studi Majalah al-Bayan. (Twitter : @dralabdullatif) - Twit Ulama 

Makruh Melarikan Diri Dari Kota Yang Berjangkit Waba’, Sebagaimana Pula Sebaliknya

Ibn ‘Abbas رضي الله عنهما berkata : Ketika ‘Umar bin Alkhoththob keluar menuju Syam, maka sesampainya di Sargh bertemu dengan kepala-kepala pasukan diantaranya: Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah dan kawan-kawannya, maka mereka memberitahukan bahwa di Syam sedang berjangkit penyakit waba’. Maka ‘Umar menyuruh ‘Abdullah bin ‘Abbas رضي الله عنهما : Panggilkan kemari sahabat Muhajirin yang pertama, dan ketika telah hadir semua di depan ‘Umar, ‘Umar memberitahu kepada mereka bahwa waba’ sedang berjangkit di Syam, maka bagaiamanakah pendapatmu. Sebagaian berkata : Engkau telah keluar untuk sesuatu, maka lebih baik jangan mundur kembali; sebagian lagi berkata : Kau sedang membawa sisa-sisa sahabat Nabi, maka lebih baik jangan menghadapkan mereka kepada bahaya ini. Karena pendapat yang berselisih, maka ‘Umar berkata : Pergilah kamu, dan segera menyuruh panggil sahabat-sahabat Anshor dan ketika mereka ini dimintai pendapat, tidak berbeda dengan pendapat kaum Muhajirin itu, karena berselisih, maka ‘Umar berkata : Bangunlah kamu dari sini. Kemudian menyuruh panggilkan kaum Muhajirin Fatah Makkah dan pemuka-pemuka bangsa Quraisy, maka mereka ini tidak sampai ada yang berselisih, semua berpendapat: Lebih baik kau bawa kembali orang-orang dan jangan kau hadapkan kepada waba’ itu. Maka ‘Umar segera memberitahu (memerintahkan) : Bahwa saya besok akan berangkat kembali, maka siaplah kamu untuk pulang kembali. Tiba-tiba Abu ‘Ubaidah menegur ‘Umar : Apakah akan lari dari takdir Allah? ‘Umar berkata : Andaikan selain kau hai Abu ‘Ubaidah yang berkata demikian, sebab ‘Umar tidak suka berselisih faham dengan Abu ‘Ubaidah, .Jawab ‘Umar : Ya lari dari takdir Allah kepada takdir Allah. Bagaimanakah pendapatmu kalau kau membawa ternakmu ke lembah yang mempunyai dua bidang ladang yang subur dan kering, tidakkah kalau kaubawa ke tempat yang subur berarti takdir Allah, dan jika kau bawa ke bagian yang kering juga dengan takdir Allah. Kemudian datang Abdurrahman bin ‘Auf yang sejak tadi tidak hadir karena suatu hajat, maka berkata : Saya ada mempunyai pengetahuan, saya telah mendengar Rasulullah bersabda : Jika kamu mendengar waba’ berjangkit di suatu tempat jangan kamu masuk ke dalamnya, dan bila kamu berada di dalamnya, jangan keluar untuk melarikan diri daripadanya. Maka Umar mengucap : Ahamdulillah dan segera kembali. (HR. Buchary dan Muslim).

Usamah رضي الله عنهما berkata : Bersabda Nabi : Jika kamu mendengar waba’ (tha’un) sedang berjangkit di suatu tempat, maka jangan kamu masuk ke tempat itu, dan jika berjangkit dalam negeri yang kamu sedang berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar daripadanya. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 586-588.

Al-Qur'an Sebaik-baik Kisah

Di dalam al-Qur'an Surat Yuusuf (12) : 3 ; الله سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَآ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ هٰذَا الْقُرْءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبْلِهِۦ لَمِنَ الْغٰفِلِينَ

Kami ceritakan kepadamu sebaik-baik cerita dengan apa yang Kami wahyukan kepadamu al-Qur'an ini, sekali pun engkau sebelumnya termasuk orang-orang yang lalai (belum mengetahui).

Asbabun Nuzul
Menurut riwayat yang dikemukakan Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dan riwayat yang dikemukakan dari Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنهما, mereka berkata : "Ya Rasulullah, bagaimana jika tuan mengisahkan sesuatu kepada kami." Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. Yuusuf : 3) yang menegaskan bahwa di dalam al-Qur'an sudah terdapat kisah-kisah yang baik sebagai tauladan bagi kaum mukminin.
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 276.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 435.

Rabu, 28 Juni 2017

Mereka Yang Disitimewakan

Akun-akun yang paling bermanfaat bagimu di twitter adalah akun yang punya perhatian tentang tadabbur Quran.Maka bersemangatlah, perhatikan twitnya, dan sebarkanlah. Bisa jadi dengan melakukan hal-hal tersebut engkau menjadi ahlul qur'an, yaitu mereka yang menjadi keluarganya Allah dan mereka diistimewakan oleh Allah.

Dr. Abdullah asy-Syahri Doktor dalam bidang akidah dan madzhab kontemporer, Riyadh. (Twitter : @ALSHEHRI89) - Twit Ulama

Membaca Surat Al Ikhlas, Ketika Shalat Maghrib Pada Malam Jum’at

Ketika mengerjakan shalat Maghrib (shalat wajib) pada malam jum’at. Surat Al Kafirun dibaca pada raka’at pertama setelah membaca Al Fatihah, sedangkan surat Al Ikhlash dibaca pada raka’at kedua.
Dari Jabir bin Samroh, beliau mengatakan,
 
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقْرَأُ فِي صَلاَةِ المَغْرِبِ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ : ( قَلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ ) وَ ( قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika shalat maghrib pada malam Jum’at membaca Qul yaa ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul ‘ huwallahu ahad’. ” (Syaikh Al Albani dalam Takhrij Misykatul Mashobih (812) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Kajian selengkapnya di  rumaysho.com 

Selasa, 27 Juni 2017

Ketaqwaan Hati

Allah ta’ala berfirman
 
وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّـهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. al-Hajj : 32)
 
Ibnu Hajar رحمه الله berkata: Menampakkan kegembiraan di hari-hari raya termasuk syi’ar agama. (Al Fath, 2/443)

Dr. Farhan bin ‘Ubaid Doktor dalam Ilmu Bahasa Arab, Imam dan Khatib di salah satu masjid di Kuwait. (Twitter : @Dr_Farhan_Obaid) - Twit Ulama 

Makruh Memuji di Muka Orang jika Dikhawatirkan Merusak atau Menimbulkan Kesombongan

Abu Musa Al-Asy’ary r.a. berkata : Nabi  s.a.w. mendengar seorang memuji orang setinggi-tinggi pujian, maka Nabi s.a.w. bersabda : Kamu telah membinasakan atau mematahkan punggung orang itu. (HR. Buchary dan Muslim).

Abu Bakrah r.a. berkata : Seorang dipuji di depan Rasulullah s.a.w. maka Nabi bersabda : Kau telah memotong leher kawanmu, diulangnya peringatan itu beberapa kali. Kalau salah satu kamu akan memuji hendaknya berkata : Saya kira ia begini, begitu, Allah sendiri yang akan menentukan itu dan jangan ada seorang mendahului Allah memuji orang. (HR. Buchary dan Muslim).

Hammam bin Alharits berkata : Ketika Almiqdad melihat seorang memuji ‘Utsman, maka segera Almiqdad jongkok dan menyiratkan tanah kerikil ke mukanya. Maka ‘Utsman bertanya : Mengapa kau itu? Jawab Miqdad : Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : Jika kamu melihat orang yang memuji-muji maka siratkan tanah di muka mereka. (HR. Muslim).

Dalam hadits-hadits ini nyata larangan, tetapi di lain ada menunjukkan boleh memuji. Maka untuk mempertemukan antara kedua keterangan ini, para ulama berpendapat : Jika orang yang dipuji sempurna iman dan tidak kuatir berpengaruh, maka tidak mengapa memuji sebagaimana sabda Nabi kepada Abu Bakr : Aku mengharap semoga kau tergolong orang yang dapat masuk sorga dari semua pintu-pintunya. Juga sabda Nabi s.a.w. kepada Umar r.a. : Tiada syaithan melihat kau jalan di suatu jalan melainkan ia menyimpang ke lain jalan.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979 , halaman 585.