Selasa, 22 November 2011
Sabtu, 19 November 2011
Kamis, 17 November 2011
Kamis, 10 November 2011
Selasa, 08 November 2011
Kewajiban Berteguh Hati, Bersatu dalam Peperangan dan Larangan Berlaku Sombong dan Ria
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا۟ وَاذْكُرُوا۟ اللَّـهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. (QS. 8 : 45).
وَأَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ
وَلَا تَنٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوٓا۟ ۚ
إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8 : 46).
وَلَا تَكُونُوا۟ كَالَّذِينَ
خَرَجُوا۟ مِن دِيٰرِهِم بَطَرًا وَرِئَآءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن
سَبِيلِ اللَّـهِ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. 8 : 47).Latar Belakang Turunnya Ayat QS 8 : 47
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika kaum Quraisy keluar dari Mekah menuju perang Badr, mereka berpakaian indah-indah dan dibarengi dengan barisan musik. Maka Allah menurunkan ayat ini (QS. 8 : 47) yang melarang Kaum Muslimin berbuat seperti mereka, sombong dan ria. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi.
-----------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 268 - 269.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 231.
Tulisan Arab Al-Qur'an
Label:
Beriman
Lokasi:
Demak, Indonesia
BERHATI-HATI TERHADAP KENDALA-KENDALA KESABARAN
Bagi seluruh manusia khususnya orang beriman dan terutama para mujahid dakwah, apabila ingat tetap teguh dalam kesabaran, harus selalu waspada terhadap gejolak nafsu yang menghalangi perjalanan. Di antara kendala itu ialah :
A. Tergesa-gesa.
Nafsu dan watak manusia cenderung kepada sifat tergesa. Seolah-olah tergesa-gesa atau terburu-buru merupakan bagian dari perwujudan manusia.
Firman Allah :
”Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS Al Anbiyaa : 37)
Bila seorang merasa terlalu lama untuk memperoleh apa yang diinginkannya maka hilanglah kesabarannya dan terasa sempit dadanya. Dia lupa bahwa sunnatullah terhadap makhluknya pasti dan tidak berubah. Segala sesuatu telah ditentukan ajalnya, tidak dipercepat tidak juga diperlambat. Tiap buah ada saat matangnya untuk dipelik. Terburu-buru dipetik tidak akan mempercepat matangnya dengan baik. Semua makhluk tunduk kepada sunnatullah, masing-masing berjalan sesuai perhitungan dan ukurannya. Dalam masalah ini Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka” (QS Al Ahqaaf : 35).
Jelas di sini bahwa azab terhadap kaum kafir sudah ditentukan waktunya. Kaum musyrik karena kebodohan dan kesesatannya menantang dengan angkuh agar disegerakan azab Allah. Allah SWT memberi jawaban atas tantangan mereka Firman Allah :
”Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS Al Ankabuut : 53)
B. Marah-marah
Seorang mujahid dakwah dapat saja marah bila mad’u (obyek dakwah) berpaling daripadanya dan menjauhi dakwahnya. Dia kesal, berbuat yang tidak sepantasnya, putus asa kemudian menjauhi mereka. Mujahid dakwah seharusnya bersikap sabar terhadap mad’u dan tidak bosan untuk mengulang-ulangi kembali manuver dakwahnya, dengan harapan semoga hati mereka terbuka. Apabila hanya seorang saja yang tersentuh hatinya oleh nur hidayah maka itu sudah merupakan hasil yang besar dan lebih baik dari perolehan rezeki materi yang diberikan sinar matahani untuk dirinya. Karena itu Allah berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo‘a sedang ia dalam keadaan marah (terhadap kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”. (QS Al Qalam : 48 – 50).
Yanq dimaksud dalam ayat ini ialah Nabi Yunus AS. Dalam surat Al Anbiyaa disebut “Dzannun” (yang ditelan oleh annun). Annun artinya ikan besar (paus). Nabi Yunus A.S diutus kepada penduduk negeri yang dikenal dengan NINAWA di IRAQ. Dia menyeru mereka pada tauhid, tetapi mereka langsung menolaknya mentah-mentah. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyambut dan menerima dakwah Nabi Yunus. Nabi Yunus terlalu cepat kehilangan kesabarannya. Dengan marah dia pergi meninggalkan kaumnya sebelum diizinkan Allah. Dia mengira bumi Allah luas dan Allah tidak akan membatasi jangkauan dakwahnya. Dia berupaya mendatangi kaum yang lain dengan harapan kelak ada orang mukmin dan sholeh yang mau menerima dakwahnya Dia menuju pantai, melihat kapal yang sarat penumpang lalu menyelinap naik. Di tengah laut kapal yang penuh muatan hampir tenggelam. Harus ada penumpang yang dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dari bahaya karam. Mereka semua diundi dan undian jatuh kepada Yunus. Yunus dibuang ke laut, ditelan ikan besar (paus). Yunus tinggal dalam perut paus beberapa hari lamanya dan yang mengetahui nasibnya hanyalah Allah SWT. Dalam kegelapan berlapis tiga, kegelapan kedalaman laut, kegelapan perut ikan dan kegelapan malam hari Yunus berdo’a kepada Allah :
“Tidak ada illah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS Al Anbiyaa : 87)
Allah SWT mengabulkan do’a Yunus. Ia dimuntahkan oleh paus ke pantai dalam keadaan sakit dan ia menyalahkan dirinya sendiri. Allah menumbuhkan tanaman Yaqthin yaitu pohon rambat berdaun lebar-lebar (semacam labu) untuk melindungi tubuhnya dari terik matahari yang menyengat dengan keras. Kemudian Yunus diutus kembali kepada penduduk negeri itu yang berjumlah seratus ribu jiwa lebih dan serta merta beriman kepada Allah. Dan Allah menganugerahkan kemakmuran dan kesenangan bagi mereka. Kisah ini menjadi peringatan bagi Rasulullah SAW agar bersabar terhadap sunnatullah.
C. Rasa sedih dan susah yang mendalam
Yang paling menyedihkan dan menyakitkan hati para mujahid dakwah yang mukhlis ialah penolakan dan pembangkangan kaumnya terhadap dakwahnya. Belum lagi tipu daya muslihat, fitnah, tindakan permusuhan mereka terhadap mereka. Dalam hal ini Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW :
”Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” (QS An Nahl : 127).
Begitu mendalamnya kesedihan, kesusahan dan sakit hati Rasulullah SAW sehingga Al-Qur’an mengingatkan beliau dengan nada tegas dan keras.
”Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit dadamu karenanya. Karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan : “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan Allah pemelihara segala sesuatu”. (QS Huud : 12).
”Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” (QS Asy Syu’araa: 3).
Firman Allah:
”Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)” (QS Al Kahfi : 6).
”Janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ."(QS Faathir : 8).
"Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah orang-orang yang dimuka bumi seluruhnya beriman. Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (QS Yunus : 99).
Iman dan kufur, hidayah dan kesesatan merupakan suatu kenyataan yang berlaku di seluruh alam semesta dan termasuk takdir-Nya. Sunnatullah atau ketetapan hukum dan peraturan tidak dapat dihilangkan sama sekali bahkan dapat mengalahkan manusia.
D. Putus Asa
Putus asa merupakan kendala paling besar terhadap kesabaran. Dengan datangnya putus asa hilanglah kesabaran. Karena yang mendorong seseorang mengatasi kesulitan dan kelelahan bercocok tanam, mengairi dan memeliharanya ialah harapan memetik buahnya. Kalau hatinya dihinggapi keputus-asaan, maka hilanglah kesabarannya untuk melanjutkan pekerjaannya di lahan tanamannya Demikian juga halnya pekerja di bidangnya masing-masing dan para mujahid dakwah dengan risalah di dakwahnya. Firman Allah :
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang breiman. Jika kamu (pada perang Uhud) menderita luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) menderita luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu di jadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran : 139-140).
”Dan janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (QS Muhammad : 35).
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 103 - 107
A. Tergesa-gesa.
Nafsu dan watak manusia cenderung kepada sifat tergesa. Seolah-olah tergesa-gesa atau terburu-buru merupakan bagian dari perwujudan manusia.
Firman Allah :
”Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS Al Anbiyaa : 37)
Bila seorang merasa terlalu lama untuk memperoleh apa yang diinginkannya maka hilanglah kesabarannya dan terasa sempit dadanya. Dia lupa bahwa sunnatullah terhadap makhluknya pasti dan tidak berubah. Segala sesuatu telah ditentukan ajalnya, tidak dipercepat tidak juga diperlambat. Tiap buah ada saat matangnya untuk dipelik. Terburu-buru dipetik tidak akan mempercepat matangnya dengan baik. Semua makhluk tunduk kepada sunnatullah, masing-masing berjalan sesuai perhitungan dan ukurannya. Dalam masalah ini Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka” (QS Al Ahqaaf : 35).
Jelas di sini bahwa azab terhadap kaum kafir sudah ditentukan waktunya. Kaum musyrik karena kebodohan dan kesesatannya menantang dengan angkuh agar disegerakan azab Allah. Allah SWT memberi jawaban atas tantangan mereka Firman Allah :
”Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS Al Ankabuut : 53)
B. Marah-marah
Seorang mujahid dakwah dapat saja marah bila mad’u (obyek dakwah) berpaling daripadanya dan menjauhi dakwahnya. Dia kesal, berbuat yang tidak sepantasnya, putus asa kemudian menjauhi mereka. Mujahid dakwah seharusnya bersikap sabar terhadap mad’u dan tidak bosan untuk mengulang-ulangi kembali manuver dakwahnya, dengan harapan semoga hati mereka terbuka. Apabila hanya seorang saja yang tersentuh hatinya oleh nur hidayah maka itu sudah merupakan hasil yang besar dan lebih baik dari perolehan rezeki materi yang diberikan sinar matahani untuk dirinya. Karena itu Allah berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo‘a sedang ia dalam keadaan marah (terhadap kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”. (QS Al Qalam : 48 – 50).
Yanq dimaksud dalam ayat ini ialah Nabi Yunus AS. Dalam surat Al Anbiyaa disebut “Dzannun” (yang ditelan oleh annun). Annun artinya ikan besar (paus). Nabi Yunus A.S diutus kepada penduduk negeri yang dikenal dengan NINAWA di IRAQ. Dia menyeru mereka pada tauhid, tetapi mereka langsung menolaknya mentah-mentah. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyambut dan menerima dakwah Nabi Yunus. Nabi Yunus terlalu cepat kehilangan kesabarannya. Dengan marah dia pergi meninggalkan kaumnya sebelum diizinkan Allah. Dia mengira bumi Allah luas dan Allah tidak akan membatasi jangkauan dakwahnya. Dia berupaya mendatangi kaum yang lain dengan harapan kelak ada orang mukmin dan sholeh yang mau menerima dakwahnya Dia menuju pantai, melihat kapal yang sarat penumpang lalu menyelinap naik. Di tengah laut kapal yang penuh muatan hampir tenggelam. Harus ada penumpang yang dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dari bahaya karam. Mereka semua diundi dan undian jatuh kepada Yunus. Yunus dibuang ke laut, ditelan ikan besar (paus). Yunus tinggal dalam perut paus beberapa hari lamanya dan yang mengetahui nasibnya hanyalah Allah SWT. Dalam kegelapan berlapis tiga, kegelapan kedalaman laut, kegelapan perut ikan dan kegelapan malam hari Yunus berdo’a kepada Allah :
“Tidak ada illah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS Al Anbiyaa : 87)
Allah SWT mengabulkan do’a Yunus. Ia dimuntahkan oleh paus ke pantai dalam keadaan sakit dan ia menyalahkan dirinya sendiri. Allah menumbuhkan tanaman Yaqthin yaitu pohon rambat berdaun lebar-lebar (semacam labu) untuk melindungi tubuhnya dari terik matahari yang menyengat dengan keras. Kemudian Yunus diutus kembali kepada penduduk negeri itu yang berjumlah seratus ribu jiwa lebih dan serta merta beriman kepada Allah. Dan Allah menganugerahkan kemakmuran dan kesenangan bagi mereka. Kisah ini menjadi peringatan bagi Rasulullah SAW agar bersabar terhadap sunnatullah.
C. Rasa sedih dan susah yang mendalam
Yang paling menyedihkan dan menyakitkan hati para mujahid dakwah yang mukhlis ialah penolakan dan pembangkangan kaumnya terhadap dakwahnya. Belum lagi tipu daya muslihat, fitnah, tindakan permusuhan mereka terhadap mereka. Dalam hal ini Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW :
”Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” (QS An Nahl : 127).
Begitu mendalamnya kesedihan, kesusahan dan sakit hati Rasulullah SAW sehingga Al-Qur’an mengingatkan beliau dengan nada tegas dan keras.
”Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit dadamu karenanya. Karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan : “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan Allah pemelihara segala sesuatu”. (QS Huud : 12).
”Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” (QS Asy Syu’araa: 3).
Firman Allah:
”Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)” (QS Al Kahfi : 6).
”Janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ."(QS Faathir : 8).
"Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah orang-orang yang dimuka bumi seluruhnya beriman. Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (QS Yunus : 99).
Iman dan kufur, hidayah dan kesesatan merupakan suatu kenyataan yang berlaku di seluruh alam semesta dan termasuk takdir-Nya. Sunnatullah atau ketetapan hukum dan peraturan tidak dapat dihilangkan sama sekali bahkan dapat mengalahkan manusia.
D. Putus Asa
Putus asa merupakan kendala paling besar terhadap kesabaran. Dengan datangnya putus asa hilanglah kesabaran. Karena yang mendorong seseorang mengatasi kesulitan dan kelelahan bercocok tanam, mengairi dan memeliharanya ialah harapan memetik buahnya. Kalau hatinya dihinggapi keputus-asaan, maka hilanglah kesabarannya untuk melanjutkan pekerjaannya di lahan tanamannya Demikian juga halnya pekerja di bidangnya masing-masing dan para mujahid dakwah dengan risalah di dakwahnya. Firman Allah :
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang breiman. Jika kamu (pada perang Uhud) menderita luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) menderita luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu di jadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran : 139-140).
”Dan janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (QS Muhammad : 35).
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 103 - 107
Label:
Sabar
Lokasi:
Demak, Indonesia
BANGSA YANG TERLARANG BAGI KAUM MUKMININ UNTUK BERSETIA KAWAN
Allah berfirman: (QS. Ali Imran : 28)
”Dan janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman lebih dari orang-orang beriman. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka tidaklah ada (perlindungan) dari Allah sedikitpun. Kecuali karena kamu takut betul-betul (gangguan) dari mereka. Dan Allah mengancam kamu dengan diri-Nya dan kepada Allah tempat kembali.”
Ahli-ahli sejarah telah meriwayatkan bahwa sebagian orang yang tadinya masuk Islam terkecoh oleh kegagalan dan kekuatan orang-orang kafir kemudian mereka meninggalkan Islam dan memihak mereka. Soal seperti ini tidaklah aneh. Bahkan sesuatu yang sudah menjadi tabiat manusia.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata, “Adalah Hajjaj bin Amr dan lbnu Abil Huqaiqu dan Qais Ibnu Zaid, semuanya orang Yahudi berteman karib dengan beberapa orang Anshor. Mereka ini suka mengganggu agama orang-orang Anshor itu. Lalu Rifaah bin Mundair ini berkata, “Jauhilah orang-orang Yahudi itu. Tetapi beberapa orang Anshor enggan, bahkan tetap berteman karib dengan mereka, orang-orang Yahudi itu.” Lalu turunlah ayat ini.
Ayat di atas maksudnya, janganlah orang-orang beriman memuliakan orang-orang kafir, lalu menyampaikan rahasia-rahasia tertentu dalam soal-soal agama kepada mereka dan mendahulukan kepentingan mereka daripada kaum mukminin. Karena perbuatan seperti ini berarti mengutamakan mereka dan menyokong kekafiran, serta mengabaikan keimanan.
Ringkasnya, orang-orang mukminin dilarang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat atau pimpinan, karena hubungan keluarga atau persahabatan jahiliyah atau karena tetangga atau hubungan pergaulan lain-lainnya. Tetapi seharusnya orang-orang mukmin memperhatikan apa yang menjadi perintah Islam seperti mencintai dan membenci semata-mata haruslah berdasarkan pertimbangan agama. Berdasarkan pertimbangan inilah maka memilih teman dekat sesama orang beriman lebih menjadikan baik kepentingan agama mereka daripada berteman karib dengan orang-orang kafir.
Tetapi jika hubungan teman karib dan kawan penjanjian itu untuk kepentingan bersama kaum muslimin, maka tidak ada salahnya. Sebab Nabi saw pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan suku Khuza’ah yang masih musyrik. Begitu pula tidak salah seorang muslim pencaya dan berhubungan baik dengan orang-orang bukan Islam dalam urusan keduniaan.
Akan tetapi bila dalam keadaan tertentu yang mengharuskan kaum mukminin untuk mengambil golongan kafir sebagai teman kerja sama, maka hal ini dibolehkan.
Jika menjadikan mereka sebagai teman itu dibolehkan, karena adanya bahaya, maka adalah lebih utama membolehkan mengambil mereka sebagai teman dekat di dalam urusan yang menguntungkan ummat Islam. Jadi tidak ada salahnya suatu negara Islam, bila mengadakan perjanjian persahabatan dengan negara non-Islam bila membawa keuntungan yang lebih baik, mungkin untuk menolak bahaya atau memperoleh keuntungan. Tetapi tidak boleh mengadakan perjanjian persahabatan di dalam sesuatu hal yang merugikan ummat Islam. Kebolehan ini tidak hanya terbatas ketika keadaan lemah, tetapi berlaku pada segala waktu.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 104 - 106
”Dan janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai teman-teman lebih dari orang-orang beriman. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka tidaklah ada (perlindungan) dari Allah sedikitpun. Kecuali karena kamu takut betul-betul (gangguan) dari mereka. Dan Allah mengancam kamu dengan diri-Nya dan kepada Allah tempat kembali.”
Ahli-ahli sejarah telah meriwayatkan bahwa sebagian orang yang tadinya masuk Islam terkecoh oleh kegagalan dan kekuatan orang-orang kafir kemudian mereka meninggalkan Islam dan memihak mereka. Soal seperti ini tidaklah aneh. Bahkan sesuatu yang sudah menjadi tabiat manusia.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata, “Adalah Hajjaj bin Amr dan lbnu Abil Huqaiqu dan Qais Ibnu Zaid, semuanya orang Yahudi berteman karib dengan beberapa orang Anshor. Mereka ini suka mengganggu agama orang-orang Anshor itu. Lalu Rifaah bin Mundair ini berkata, “Jauhilah orang-orang Yahudi itu. Tetapi beberapa orang Anshor enggan, bahkan tetap berteman karib dengan mereka, orang-orang Yahudi itu.” Lalu turunlah ayat ini.
Ayat di atas maksudnya, janganlah orang-orang beriman memuliakan orang-orang kafir, lalu menyampaikan rahasia-rahasia tertentu dalam soal-soal agama kepada mereka dan mendahulukan kepentingan mereka daripada kaum mukminin. Karena perbuatan seperti ini berarti mengutamakan mereka dan menyokong kekafiran, serta mengabaikan keimanan.
Ringkasnya, orang-orang mukminin dilarang menjadikan orang-orang kafir sebagai teman dekat atau pimpinan, karena hubungan keluarga atau persahabatan jahiliyah atau karena tetangga atau hubungan pergaulan lain-lainnya. Tetapi seharusnya orang-orang mukmin memperhatikan apa yang menjadi perintah Islam seperti mencintai dan membenci semata-mata haruslah berdasarkan pertimbangan agama. Berdasarkan pertimbangan inilah maka memilih teman dekat sesama orang beriman lebih menjadikan baik kepentingan agama mereka daripada berteman karib dengan orang-orang kafir.
Tetapi jika hubungan teman karib dan kawan penjanjian itu untuk kepentingan bersama kaum muslimin, maka tidak ada salahnya. Sebab Nabi saw pernah mengadakan perjanjian persahabatan dengan suku Khuza’ah yang masih musyrik. Begitu pula tidak salah seorang muslim pencaya dan berhubungan baik dengan orang-orang bukan Islam dalam urusan keduniaan.
Akan tetapi bila dalam keadaan tertentu yang mengharuskan kaum mukminin untuk mengambil golongan kafir sebagai teman kerja sama, maka hal ini dibolehkan.
Jika menjadikan mereka sebagai teman itu dibolehkan, karena adanya bahaya, maka adalah lebih utama membolehkan mengambil mereka sebagai teman dekat di dalam urusan yang menguntungkan ummat Islam. Jadi tidak ada salahnya suatu negara Islam, bila mengadakan perjanjian persahabatan dengan negara non-Islam bila membawa keuntungan yang lebih baik, mungkin untuk menolak bahaya atau memperoleh keuntungan. Tetapi tidak boleh mengadakan perjanjian persahabatan di dalam sesuatu hal yang merugikan ummat Islam. Kebolehan ini tidak hanya terbatas ketika keadaan lemah, tetapi berlaku pada segala waktu.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 104 - 106
Label:
Yahudi
Lokasi:
Demak, Indonesia
Sabtu, 05 November 2011
Faedah Bertakwa
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟
إِن تَتَّقُوا۟ اللَّـهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ
سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّـهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS. 8 : 29).Tafsir Ayat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa para ulama salaf berpendapat mengenai firman Allah ta'ala; "..., jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil), ...", bahwa yang dimaksud dengan furqaan adalah nuur (cahaya) yang dengannya dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil. Sebagian mereka mengatakannya pula sebagai bashiiraa (petunjuk). Ayat ini berlaku umum untuk semua bentuk jalan keluar dari kesempitan, baik bersifat lahiriah maupun kesempitan batiniah.
-----------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 265.
Tazkiyatun Nafs, Ibnu Taimiyah, Penerbit : Darus Sunnah Press, Jakarta Timur, Cetakan Pertama : November 2008, halaman 60.
Tulisan Arab Al-Qur'an
Label:
Beriman
Lokasi:
Demak, Indonesia
BANGSA YANG MENJADIKAN AGAMA SEBAGAI ALAT KEBOHONGAN
Allah berfirman : (QS. Ali Imran 23 – 24)
“Tidakkah Engkau melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab suci, mereka diajak kepada kitab Allah untuk memisahkan di antara mereka, kemudian segolong mereka berpaling seraya mereka mengingkari.” (23)
Demikian itu, karena mereka telah berkata, ”Tidaklah api neraka akan menyentuh kami kecuali beberapa hari tertentu. Dan mereka telah terpedaya dalam agama mereka karena dusta yang mereka adakan.” (24)
Bangsa Yahudi sering berhakim kepada Nabi saw dengan niat untuk memajukan keputusan-keputusan yang ditetapkan beliau kepada mereka. Tetapi kalau putusan itu di luar yang mereka inginka, lalu mereka menolaknya dan pergi meninggalkan Nabi. Pernah sekelompok orang Yahudi terkemuka berbuat zina. Kemudian mereka datang kepada Nabi untuk minta pengadilan. Lalu Nabi menetapkan hukumannya sesuai dengan kitab suci mereka. Namun mereka ternyata menolak, sebab motif mereka datang kepada Nabi adalah untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan daripada yang ada di dalam kitab suci mereka.
Sekelompok pemuka Yahudi yang selama ini mengaku berpegang teguh pada kitab suci mereka, sehingga menolak kehadiran Nabi saw dan mengingkari kitab suci Al Qur’an, ternyata pada saat menerima keputusan hukum sebagaimana bunyi ketentuan kitab suci mereka sendiri juga mereka tolak. Mereka sebenarnya selalu ragu-ragu terhadap agama mereka sendiri, akan tetapi pada saat mereka mengingkari kerasulan Muhammad dan Kitab Al Qur’an, mereka jadikan kitab suci mereka sebagai kedok untuk membenarkan kekufuran mereka itu.
Sebagian dari kaum Yahudi mempunyai keyakinan, walaupun mereka berbuat dosa apapun, namun hanyalah sementara saja mengalami siksa neraka di akherat. Anggapan yang menganggap ringan adanya siksa neraka dan memandang kecil terhadap ancaman atas dosa-dosa yang mereka lakukan karena merasa punya hubungan darah dengan para Nabi mereka. Jadi mereka berani berbohong atas nama agama, yaitu sebagai keluarga dari para Nabi mendapatkan suatu perlakuan istimewa di sisi Allah.
Orang-orang yang menganggap kecil ancaman Allah, karena beranggapan tidak akan turun ancaman itu kepada orang yang semestinya dikenai hukuman, akan mengakibatkan orang seperti itu menyepelekkan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Sebab itu ia tanpa peduli melanggar kehormatan agama, menganggap remeh pemenuhan kewajiban. Demikianlah keadaan semua ummat ketika mereka berani durhaka kepada agamanya dan tidak memperdulikan perbuatan-perbuatan dosa. Hal ini telah terjadi pada bangsa Yahudi dan ummat Nasrani kemudian ummat Islam. Karena kebanyakan ummat Islam dewasa ini punya anggapan bahwa seorang muslim sekalipun berbuat dosa-dosa besar dan keji, mungkin ia akan mendapat syafaat atau selamat dengan membayar kafarat atau mungkin akan dimaafkan dan diampuni oleh Allah, karena karunia dan kebaikan Allah. Dan jika dosanya itu akan menerima siksa, maka siksanya sebentar. Kemudian keluar dari neraka masuk syurga. Sedangkan orang-orang yang beragama lain akan kekal di dalam neraka, sekalipun mereka berbuat baik atau berbuat dosa.
Bangsa Yahudi yang tertanjur punya doktrin sebagai kekasih Tuhan dan manusia pilihan dengan sangat berani mengadakan kebohongan-kebohongan yang diatas-namakan ajaran agama. Doktrin-doktrin mereka yang mereka pandang sebagai ajaran agama adalah sebagai berikut :
“Tidakkah Engkau melihat orang-orang yang telah diberi bagian dari Kitab suci, mereka diajak kepada kitab Allah untuk memisahkan di antara mereka, kemudian segolong mereka berpaling seraya mereka mengingkari.” (23)
Demikian itu, karena mereka telah berkata, ”Tidaklah api neraka akan menyentuh kami kecuali beberapa hari tertentu. Dan mereka telah terpedaya dalam agama mereka karena dusta yang mereka adakan.” (24)
Bangsa Yahudi sering berhakim kepada Nabi saw dengan niat untuk memajukan keputusan-keputusan yang ditetapkan beliau kepada mereka. Tetapi kalau putusan itu di luar yang mereka inginka, lalu mereka menolaknya dan pergi meninggalkan Nabi. Pernah sekelompok orang Yahudi terkemuka berbuat zina. Kemudian mereka datang kepada Nabi untuk minta pengadilan. Lalu Nabi menetapkan hukumannya sesuai dengan kitab suci mereka. Namun mereka ternyata menolak, sebab motif mereka datang kepada Nabi adalah untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan daripada yang ada di dalam kitab suci mereka.
Sekelompok pemuka Yahudi yang selama ini mengaku berpegang teguh pada kitab suci mereka, sehingga menolak kehadiran Nabi saw dan mengingkari kitab suci Al Qur’an, ternyata pada saat menerima keputusan hukum sebagaimana bunyi ketentuan kitab suci mereka sendiri juga mereka tolak. Mereka sebenarnya selalu ragu-ragu terhadap agama mereka sendiri, akan tetapi pada saat mereka mengingkari kerasulan Muhammad dan Kitab Al Qur’an, mereka jadikan kitab suci mereka sebagai kedok untuk membenarkan kekufuran mereka itu.
Sebagian dari kaum Yahudi mempunyai keyakinan, walaupun mereka berbuat dosa apapun, namun hanyalah sementara saja mengalami siksa neraka di akherat. Anggapan yang menganggap ringan adanya siksa neraka dan memandang kecil terhadap ancaman atas dosa-dosa yang mereka lakukan karena merasa punya hubungan darah dengan para Nabi mereka. Jadi mereka berani berbohong atas nama agama, yaitu sebagai keluarga dari para Nabi mendapatkan suatu perlakuan istimewa di sisi Allah.
Orang-orang yang menganggap kecil ancaman Allah, karena beranggapan tidak akan turun ancaman itu kepada orang yang semestinya dikenai hukuman, akan mengakibatkan orang seperti itu menyepelekkan perintah-perintah dan larangan-larangan Allah. Sebab itu ia tanpa peduli melanggar kehormatan agama, menganggap remeh pemenuhan kewajiban. Demikianlah keadaan semua ummat ketika mereka berani durhaka kepada agamanya dan tidak memperdulikan perbuatan-perbuatan dosa. Hal ini telah terjadi pada bangsa Yahudi dan ummat Nasrani kemudian ummat Islam. Karena kebanyakan ummat Islam dewasa ini punya anggapan bahwa seorang muslim sekalipun berbuat dosa-dosa besar dan keji, mungkin ia akan mendapat syafaat atau selamat dengan membayar kafarat atau mungkin akan dimaafkan dan diampuni oleh Allah, karena karunia dan kebaikan Allah. Dan jika dosanya itu akan menerima siksa, maka siksanya sebentar. Kemudian keluar dari neraka masuk syurga. Sedangkan orang-orang yang beragama lain akan kekal di dalam neraka, sekalipun mereka berbuat baik atau berbuat dosa.
Bangsa Yahudi yang tertanjur punya doktrin sebagai kekasih Tuhan dan manusia pilihan dengan sangat berani mengadakan kebohongan-kebohongan yang diatas-namakan ajaran agama. Doktrin-doktrin mereka yang mereka pandang sebagai ajaran agama adalah sebagai berikut :
- merasa menjadi anak Tuhan dan kekasihnya;
- manusia yang mendapat perlakuan istimewa di sisi Allah karena nenek moyangnya banyak yang menjadi Nabi;
- bahwa Allah berjanji kepada mereka untuk tidak menyiksa keturunan Nabi Ya’qub kecuali hanya sebentar saja.
Semua doktrin ini tidak satu pun dapat mereka buktikan sebagai ketentuan yang tercantum di dalam kitab suci mereka. Sebab itu mereka kemudian berusaha untuk memasukkan hal-hal tersebut ke dalam keyakinan mereka dalam dongeng-dongeng. Oleh karena itu kalau kita tuntut supaya mereka menunjukkan adanya firman Tuhan di dalam kitab suci mereka mengenai hal-hal tersebut, muncullah kebohongan-kebohongan mereka. Soal siksa misalnya adalah suatu masalah yang tidak dapat ditetapkan berdasarkan akal manusia. Karena soal ini bersifat ghaib. Dengan demikian mereka harus dapat menunjukkan adanya wahyu dari Allah yang menyatakan bahwa siksa neraka bagi bangsa Yahudi hanyalah beberapa hari saja. Karena wahyu semacam ini tidak ada, jelaslah bahwa doktrin-doktrin agama yang mereka percayai di atas adalah suatu kebohongan.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 101 - 104
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 101 - 104
Label:
Yahudi
Lokasi:
Demak, Indonesia
BERIMAN KEPADA TAQDIR DAN SUNNATULLAH
Salah satu faktor penunjang kesabaran ialah beriman bahwa taqdir Allah pasti berlaku. Apa yang menimpa diri seorang bukanlah suatu kesalahan atau kekeliruan atau terjadi secara kebetulan. Dan semua yang sudah ditentukan taqdir-Nya tidak mungkin salah atau meleset.
Berserah dan pasrah kepada taqdir Allah dalam situasi dan kondisi seperti itu merupakan suatu hal yang disyariatkan dan terpuji. Sebab itu merupakan suratan Qodar, tidak ada pilihan atau alternatif lain bagi manusia. Bencana alam, kemarau panjang, perubahan cuaca dan lain-lain merupakan contoh qodar. Jika demikian akan memiliki pengarut yang meringankan kesedihan batinnya atas kehilangan dan kerugian yang dideritanya.
Allah SWT berfirman :
‘Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadiid : 22 – 23).
Taqdir Allah merupakan suatu kepastian baik manusia itu rela menerimanya ataupun marah-marah menggerutu, baik dengan sabar ataupun dengan gelisah.
Orang yang berakal harus sabar dan rela agar tidak kehilangan pahala. Kalau tidak sabar dengan rela maka sabar terpaksa yang dilakukannya tidak ada nilainya baik dari segi dien ataupun dan segi moral
Sabda Rasulullah SAW. :
“Sesungguhnya sabar itu pada saat pukulan yang pertama.” (Riwayat Imam Bukhori).
Seorang ‘arif berkata :
”Orang yang berakal melakukan pada hari pertama tertimpa musibah apa-apa yang dilakukan orang jahil sesudah beberapa hari”
Mengeluh, menggerutu, gelisah, terkejut dan susah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang, juga tidak dapat menghidupkan kembali apa yang sudah mati dan tidak dapat merubah kepastian hukum Allah baik terhadap manusia maupun alam semesta.
Firman Allah :
”Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya sunnatullah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnatullah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS Faathir : 43).
Al-Qur’an memberi isyarat kepada Rasulullah SAW ketika beliau diganggu oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka mendustakan Rasulullah dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati.
Firman Allah :
”Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan kamu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula). Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-rasul itu. Dan jika berpalingnya mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu‘jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu janganlah kamu sekali-sekali termasuk orang-orang yang jahil “(QS Al An’aam : 33 – 35)
Ayat ini merupakan peringatan bagi Rasulullah SAW. Jika tidak dapat berlaku sabar maka silahkan membuat lubang di tanah atau tangga ke langit untuk melarikan diri.
Allah berfirman kepada orang-orang yang berputus asa dari pertolongan Allah dan patah harapan dari rahmat Allah dan bersikap sempit dada :
” Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-sekali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akherat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya’’ (QS Al Hajj : 15)
Sebagian orang mengatakan bahwa sabar merupakan usaha orang yang sudah tidak punya daya upaya. Apabila kunci masalah ada di tangan orang lain maka kita harus bersabar Apabila kunci masalah dikembalikan kepada kita, berangsur sedikit demi sedikit, meskipun kita sangat memerlukannya segera, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bersabar. Kalau tidak yang sedikit itupun akan hilang.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 101 - 103
Berserah dan pasrah kepada taqdir Allah dalam situasi dan kondisi seperti itu merupakan suatu hal yang disyariatkan dan terpuji. Sebab itu merupakan suratan Qodar, tidak ada pilihan atau alternatif lain bagi manusia. Bencana alam, kemarau panjang, perubahan cuaca dan lain-lain merupakan contoh qodar. Jika demikian akan memiliki pengarut yang meringankan kesedihan batinnya atas kehilangan dan kerugian yang dideritanya.
Allah SWT berfirman :
‘Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadiid : 22 – 23).
Taqdir Allah merupakan suatu kepastian baik manusia itu rela menerimanya ataupun marah-marah menggerutu, baik dengan sabar ataupun dengan gelisah.
Orang yang berakal harus sabar dan rela agar tidak kehilangan pahala. Kalau tidak sabar dengan rela maka sabar terpaksa yang dilakukannya tidak ada nilainya baik dari segi dien ataupun dan segi moral
Sabda Rasulullah SAW. :
“Sesungguhnya sabar itu pada saat pukulan yang pertama.” (Riwayat Imam Bukhori).
Seorang ‘arif berkata :
”Orang yang berakal melakukan pada hari pertama tertimpa musibah apa-apa yang dilakukan orang jahil sesudah beberapa hari”
Mengeluh, menggerutu, gelisah, terkejut dan susah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang, juga tidak dapat menghidupkan kembali apa yang sudah mati dan tidak dapat merubah kepastian hukum Allah baik terhadap manusia maupun alam semesta.
Firman Allah :
”Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya sunnatullah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnatullah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS Faathir : 43).
Al-Qur’an memberi isyarat kepada Rasulullah SAW ketika beliau diganggu oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka mendustakan Rasulullah dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati.
Firman Allah :
”Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan kamu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula). Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-rasul itu. Dan jika berpalingnya mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu‘jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu janganlah kamu sekali-sekali termasuk orang-orang yang jahil “(QS Al An’aam : 33 – 35)
Ayat ini merupakan peringatan bagi Rasulullah SAW. Jika tidak dapat berlaku sabar maka silahkan membuat lubang di tanah atau tangga ke langit untuk melarikan diri.
Allah berfirman kepada orang-orang yang berputus asa dari pertolongan Allah dan patah harapan dari rahmat Allah dan bersikap sempit dada :
” Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-sekali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akherat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya’’ (QS Al Hajj : 15)
Sebagian orang mengatakan bahwa sabar merupakan usaha orang yang sudah tidak punya daya upaya. Apabila kunci masalah ada di tangan orang lain maka kita harus bersabar Apabila kunci masalah dikembalikan kepada kita, berangsur sedikit demi sedikit, meskipun kita sangat memerlukannya segera, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bersabar. Kalau tidak yang sedikit itupun akan hilang.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 101 - 103
Jumat, 04 November 2011
Larangan Berkhianat
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ اللَّـهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمٰنٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS. 8 : 27).
وَاعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَآ أَمْوٰلُكُمْ وَأَوْلٰدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّـهَ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8 : 28).Tafsir Ayat
QS. 8 : 27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (QS 8 : 27) berkenaan dengan Abu Lubabah bin Abdil Mundzir (seorang Muslim) yang ditanya oleh Bani Quraidlah (yang memusuhi Kaum Muslimin) waktu perang Quraidlah tentang pandangan Kaum Muslimin terhadap mereka. Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangan pada lehernya (maksudnya akan dibunuh).
Setelah turun ayat’ ini (QS 8 : 27) Abu Lubabah menyesali perbuatannya karena membocorkan rahasia Kaum Muslimin. Ia berkata: “Teriris hatiku sehingga hatiku tidak dapat kugerakkan karena aku merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya”.Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lainnya yang bersumber dari Abdullah bin Abi Qatadah.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Abu Sufyan meninggalkan Mekah (memata-matai kegiatan Kaum Muslimin). Hal ini disampaikan oleh Jibril kepada Nabi saw. bahwa Abu Sufyan berada di suatu tempat. Bersabdalah Rasulullah saw. kepada para Shahabat: “Abu Sufyan sekarang berada di suatu tempat, tangkaplah dan tahanlah ia”. Seorang dan kaum munafqin yang mendengar perintah Rasul itu memberitahukannya dengan surat kepada Abu Sufyan agar dia berhati-hati karena Nabi Muhammad telah mengetahui maksudnya. Maka turunlah ayat ini (QS. 8 : 27) bagai peringatan untuk tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya”. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya yang bersumber dari Jabir bin Abdilah. Hadits ini sangat Gharib di dalam sanadnya, dan susunan bahasanya perlu diteliti kembali.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Kaum Muslimin mendengarkan perintah Nabi saw. (yang perlu dirahasiakan), tapi disebarkan di antara kawan-kawannya sehingga sampai kepada kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (QS. 8 : 27) yang menegaskan bahwa penyebaran perintah seperti itu adalah khianat kepada Allah dan Rasul-Nya.Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi.
QS. 8 : 28. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
-----------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 264.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 224 - 225.
Tulisan Arab Al-Qur'an
Label:
Beriman
Lokasi:
Blora, Indonesia
Langganan:
Komentar (Atom)