"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 04 November 2016

Gugur Dengan Taubat

Amalan-amalan shalih seperti haji dan selainnya tidak bisa menggugurkan dosa-dosa besar, Ibnu ‘Abdil Barr meriwayatkan ijma’ tentang ini.
Kalau shalat wajib saja tak bisa menghapuskan dosa besar apalagi yang di bawahnya seperti haji yang wajib, yang tidak bisa menghapuskan dosa besar. Dosa besar hanya bisa dihapuskan dengan taubat.

Dr. Abdul Aziz Ar-Rais, pengasuh situs islamancient.com (Twitter : @dr_alraies) - Twit Ulama

Hikmah Ujian

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
 
لَوْلاَ هَذَا الاِبْتِلاَءُ والاِمْتِحَانُ لَمَا ظَهَرَ فَضْلُ الصَّبْرِ وَالرِّضَا وَالتَّوَكُّلِ وَالْجِهَادِ وَالْعِفَّةِ وَالشَّجَاعَةِ وَالْحِلْمِ وَالْعَفْوِ وَالصَّفْحِ

"Kalau bukan karena ujian dan cobaan maka tidak akan terlihat keutamaan sabar, rido, tawakkal, jihad, kemuliaan menjaga kehormatan diri, keberanian, keutamaan memaafkan, dan berlapang dada." (Syifaaul 'Alil)
----------
FP : Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta
web : mahadumar.id
twitter, instagram, dan telegram : @mubk_jogja
BBM : 595F4CAC

Dialah yang Menanamkan Kasih-Sayang

Banyak yang merasa dirinya mencintai dan berkorban, namun sebetulnya itu hanya nafsu yang menuntut korban. Banyak yang merasa dirinya dicintai dan disayangi, tapi sebetulnya ia hanya dimanfaatkan dan merusak diri. Bukan cinta bila tanggung jawab saja dia tidak berkenan, nafsulah yang berbuat tanpa banyak pikir di depan jalan. Kata-kata dirangkai jadi janji namun tanpa jaminan apapun, engkau merasa dicinta namun didepan hanya ada penyesalan. Hari ini canda tawa masih ada karena ada nafsu yang dirasa, esok hari bila semua sudah direnggut habis lantas apa yang tersisa?
Siapa yang menjamin cinta terus ada tanpa lekang? Siapa jamin akan terus ada diantaranya kasih sayang?
Sesungguhnya hanya Allah saja, Dialah pemberi kasih dan sayang. "Sungguh yang beriman dan beramal saleh, Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan pada (hati) mereka kasih sayang". (QS. 19 : 96). Maka hanya dengan menaati Allah semata, seorang hamba peroleh kemampuan mencinta. Sungguh hanya dengan menaati Allah saja, maka seorang hamba menjadi layak dicinta.
Mencintai dalam ketaatan adalah mencintai ketaatannya, dicintai karena Allah adalah dicintai karena ketaatanmu. Mencinta karena ketaatan itu indah karena berpahala, dicinta karena Allah itu menenangkan sebab tanpa dosa. Jangan bilang cinta kalau tiada taat, jangan rasa dicinta bila diajak maksiat.

Ustadz Felix Siauw; 29 Januari 2015, pukul 6:19 WIB.

Kamis, 03 November 2016

Wuquf di Arafah

Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 199, Allah ta'ala menegaskan bahwa wukuf itu di Arafah dalam firman-Nya :

ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesudah itu berangkatlah kamu dari tempat berangkatnya orang-orang banyak (dari Arafah), dan minta ampunlah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (199).

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa orang-orang Arab wuquf di 'Arafah, sedangkan orang-orang quraisy wuquf di lembahnya (Muzdalifah), maka turunlah ayat tersebut diatas (QS. 2 : 199) yang mengharuskan wukuf di 'Arafah. (HR. Ibnu Jarir).
Menurut riwayat lain yang bersumber dari Asma binti Abu Bakr رضي الله عنهما, orang-orang quraisy wuquf di daratan rendah Muzdalifah, dan selain orangquraisy wuquf di daratan tinggi 'Arafah kecuali Syaibah bin Rabi'ah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut diatas (QS. 2 : 199) yang mewajibkan wuquf di 'Arafah. (HR. Ibnul Mundzir).

Tafsir Ayat
QS. 2 : 199. "Sesudah itu berangkatlah kamu dari tempat berangkatnya orang-orang banyak (dari Arafah), ...". Artinya berbuatlah seperi orang lain berbuat. Sebab orang quraisy di zaman Jahiliyah suka menyisihkan diri, mengambil tempat istimewa, tidak mau campur dengan orang Arab suku-suku lain yang datang dari pelosok lain, karena merasa diri golongan utama. Dengan peringatan ini, hilanglah bekas ajaran kaum Jahiliyah quraisy, jangan sampai menular kepada ummat Muhammad yang datang di belakang.  "..., dan minta ampunlah kamu kepada Allah, ...". Renungkanlah, bahwasannya setelah selesai mengerjakan pekerjaan besar itu, tiang (rukun) yang kelima dari Islam, kita sudah pasti mendapat pahala, namun kita masih dianjurkan memohon ampun. Sholat dan haji adalah wajib menurut hukum Fikih. Wajib ialah yang berpahala jika dikerjakan dan berdosa jika ditinggalkan. Mengapa Allah masih menyuruh kita meminta ampun lagi? Bahwasannya berapa dan betapa pun kita mengerjakan suatu ibadat, sambung menyambung sholat kita, namun apa yang kita kerjakan masih belum sepadan dengan kurnia Ilahi yang telah kita terima di dunia dan akan kita terima kelak di akhirat. Usia yang kita lalui dalam hidup terlalu pendek, dan masa untuk beribadat sangatlah kecil, sedangkan anugerah yang telah kita terima dan akan kita terima adalah sangat Maha Besar. Imbangan amal kita dengan ganjaran Tuhan laksana sebutir pasir dihadapan gunung, atau setetes air dihadapan samudera raya. Tidakkah patut kita memohon ampun? "..., sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Disini Tuhan membuka pintu rahmat dan maghfirah-Nya kepada kita dan disebut-Nyalah salah satu dari nama-Nya yang Mulia, bahwa Dia Maha Pengampun kepada yang lalai dan alpha, dan Diapun Maha Pengasih kepada hamba-Nya yang dilihat-Nya sendiri dengan ilmu-Nya yang meliputi segala yang ada, bahwa hamba ini benar-benar dalam perjalanan menuju ridho-Nya.
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 60.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 2, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan September 1987, halaman 139 - 141.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 56.

Para Hamba Allah Yang Terpilih

“Dan orang-orang yang memohon ampun di waktu sahur” (QS. Ali Imran : 17)

Merekalah para hamba yang dipilih oleh Allah untuk melakukan ibadah yang istimewa, dan Allah menjanjikan mereka sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tidak terbayangkan oleh fikiran manusia. Maka berjuanglah, hingga kita menjadi bagian dari mereka.

Fahad Al-Kundari, imam masjid besar negara Kuwait. (Twitter : @fahadalkandri) - Twit Ulama

Hasad, Penyakit Hati yang Menjangkiti Setiap Insan

Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah kembali memberikan pelajaran berharga mengenai penyakit hasad. Iri, dengki atau hasad –istilah yang hampir sama- berarti menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Hasad seperti inilah yang tercela. Adapun ingin agar semisal dengan orang lain, namun tidak menginginkan nikmat pada orang lain itu hilang, maka ini tidak mengapa. Hasad model kedua ini disebut ghibthoh. Yang tercela adalah hasad model pertama tadi.
Beliau, Ibnu Taimiyah rahimahullah memberikan keterangan yang amat bagus. Penyakit hasad atau iri adalah penyakit yang akan menjangkiti setiap orang. Maka tentu saja setiap orang mesti waspada.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
Sesungguhnya hasad adalah di antara penyakit hati. Inilah penyakit keumuman manusia. Tidak ada yang bisa lepas darinya kecuali sedikit sekali. Oleh karena itu ada yang mengatakan,
مَا خَلَا جَسَدٌ مِنْ حَسَدٍ لَكِنَّ اللَّئِيمَ يُبْدِيهِ وَالْكَرِيمَ يُخْفِيهِ
“Setiap jasad tidaklah bisa lepas dari yang namanya hasad (iri). Namun orang yang berpenyakit (hati) akan menampakkannya. Sedangkan orang yang mulia (hatinya) akan menyembunyikannya”.

Ada yang bertanya pada Al Hasan Al Bashri, “Apakah orang beriman itu bisa hasad (iri)?” “Tidakkah engkau perhatikan bagaimana kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya?”, jawab beliau. Jadi selama hasad itu tidak ditampakkan pada tangan dan lisan, maka itu tidak membahayakanmu.

Barangsiapa yang mendapati pada dirinya penyakit ini (yaitu hasad), maka hiasilah dirinya dengan takwa dan sabar, serta hendaklah ia membenci sifat hasad tersebut pada dirinya.

Sumber: Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/124-125.
------------------------------------
Lihatlah bagaimana penjelasan Ibnu Taimiyah. Intinya, inilah penyakit yang menjangkiti setiap insan. Tugas kita adalah selalu hiasi diri dengan sabar dan takwa. Sabar akan mengatasi seseorang tidak berkeluh kesah, tidak bertindak sewenang-wenang dengan tangan dan lisannya atau anggota badan lainnya ketika ia iri pada yang lain. Sedangkan takwa akan menunjukinya bagaimanakah semestinya memahami takdir dan ketentuan Allah.

Selanjutnya di website kami Rumaysho.Com

Haram Melihat Wanita yang Bukan Mahram (3)

Jarir r.a. berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah dari melihat yang sepintas lalu. Jawab Nabi : Palingkan matamu. (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 486.

Rabu, 02 November 2016

Sabar, Salah Satu Kunci Sukses

Bersabarlah, sabar adalah kunci sukses kita bertemu Allah. Sabar dlm ketaatan, sabar dari maksiat, sabar dengan takdir Allah.

Syaikh Dr Sulaiman ar Ruhaili, Dosen Universitas Islam Madinah (Twitter : @solyman24) - Twit Ulama

Lihat Kepada Besarnya Pahala Yang Didapat

Ketika engkau ragu untuk memaafkan dan mengampuni (kesalahan orang lain), janganlah engkau melihat seberapa besar penderitaan dan musibah yang menyusahkan yang diberikan kepadamu. Akan tetapi, lihatlah seberapa besar pahala dan pemberian yang akan kau dapatkan (berupa kebaikan di dunia dan kenikmatan di akhirat, -pent).

Dr. Khalid Al Mushlih (@Dr_almosleh) - Twit Ulama  

Selasa, 01 November 2016

Ujian Bagi Yang Menegakkan Kebenaran

Perjuanganmu dalam membela kebenaran, tidak akan bisa ditempuh kecuali melalui ujian dan gangguan dari manusia. Betapa para Nabi telah dibunuh, seperti halnya Yahya dan Zakaria, terusir seperti halnya Musa, dipenjara seperti halnya Yusuf, dan terasing, diboikot, dan diganggu secara fisik seperti halnya Sayyidul Anbiya’, Muhammad. Barulah kemudian kebenaran menang.

Dr. Abdul Aziz Tharifi (@AbdulazizTarifi) - Twit Ulama

Haram Melihat Wanita yang Bukan Mahram (2)

Abu Sa’id Alkhudry r.a. berkata : Bersabda Nabi : Awaslah kamu duduk di tepi jalan. Sahabat bertanya : Ya Rasulullah kami tidak dapat tidak harus duduk di tepi jalan untuk bicara-bicara di sana. Rasulullah bersabda : Kalau kamu tidak akan meninggalkannya, maka harus memberi hak jalan. Mereka bertanya : Apakah hak jalan itu? Jawab Nabi : Memejamkan mata, dan menahan gangguan, dan menjawab salam dan menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar. (HR. Buchary dan Muslim).

Abu Thalhah (Zaid) bin Sahl r.a. berkata : Ketika kami duduk di serambi depan rumah berbicara-bicara, mendadak datang Rasulullah bersabda : Mengapakah kamu duduk di pinggir jalan, tinggalkan duduk-duduk di tepi jalan. Jawab kami : Kami hanya mudzakarah dan bicara-bicara. Bersabda Nabi : Adapun kalau tidak suka meninggalkan, maka harus kamu tunaikan haknya, yaitu memejamkan mata dan menjawab salam dan bicara yang baik-baik. (HR. Muslim).

Mudzakarah mengingati (nasihat-menasihati).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 484-485.