"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Batikadventure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batikadventure. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 November 2014

Warna hijau dari daun mangga

Tanaman mangga (Mangitera Indica Lina) merupakan jenis pohon yang hidup di iklim yang agak kering. Tinggi pohon mangga dapat mencapai lebih dari 40 m tetapi untuk pohon mangga peliharaan biasanya hanya mencapai 10 m. Batang mangga tegak, bercabang agak kuat, dengan daun-daun lebat membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Pohon ini mempunyai kulit batang yang tebal dan kasar serta mempunyai sisik-sisik bekas tangkai daun. Kulit batang yang sudah tua biasanya biasanya berwarna coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir hitam. Kulit kayu dan daun pohon mangga merupakan penghasil warna hijau yang dapat digunakan sebagai pewarna batik. (Batik Nusantara).

Sabtu, 08 November 2014

Warna merah kecoklatan

Tanaman jati (Tectona Grandis L) merupakan pohon yang berusia hingga 100 tahun. Pohon jati memiliki tinggi hingga mencapai hingga 30-45 m. Separuh dari tinggi pohon ini dapat berupa batang saja dimana diameternya mencapai 220 cm. Sedangkan daunnya berbentuk seperti jantung membulat dengan ujung runcing dan permukaannya berbulu. Daun yang masih muda berwarna hijau kecoklatan, sedangkan daun yang tua berwarna hijau tua keabu-abuan. Pada saat musim kemarau, tanaman ini akan menggugurkan daunnya dan akan kembali tumbuh jika memasuki musim penghujan. Daun jati yang masih muda dapat digunakan sebagai pewarna alami dan menghasilkan warna merah kecoklatan. (Batik Nusantara)

Jumat, 07 November 2014

Warna merah dari akar mengkudu

Pohon mengkudu / pace / morinda citrifolia termasuk perdu atau pohon kecil yang tumbuhnya membengkok dengan tinggi mencapai 3-8 m. Mengkudu mempunyai daun berukuran besar, tebal, tunggal dan mengkilap. Buah mengkudu berbentuk bulat seperti telur penuh dengan benjolan. Ketika masih muda buah mengkudu berwarna hijau muda dan ketika matang berwarna kekuningan, lembek dan berair. Pohon mengkudu mempunyai akar tunggang. Akar pohon mengkudu menghasilkan warna merah yang dapat digunakan sebagai pewarna alami batik. (Batik Nusantara)


Selasa, 30 September 2014

Motif Asem khas Semarang

Setelah menghasilkan karya batik pertamaku, petualangan membatikku dilanjutkan dengan membuatkan baju batik untuk temanku. Kebetulan ketika suatu hari kami mengadakan perjalanan dia menunjukkan sebuah baju batik gaya Semarangan, motif Asem. Dan untungnya dia pasrahkan soal desain motif kepadaku, yang penting warna background baju hitam.

Praktek Membatik
Pertama; menyiapkan kain batik dari jenis mori primisima dengan ukuran 200 cm x 115 cm.
Kedua; membuat pola (nyorek atau mola). Proses ini adalah menggambar motif dasar dan pola batik tulis diatas kain dengan menggunakan pensil ataupun arang kayu.
Ketiga; Soletan (nyolong warna) yang kontras dengan menggunakan warna Remasol, karena dalam batik tradisional itu dikenal permainan gradasi warna.
Keempat; setelah mendiamkan warna soletan minimal 1 x 24 jam, dilanjutkan dengan fiksasi (penguncian warna Remasol) dengan waterglass yang perbandingannya 1 kilogram waterglass dicampurkan air 1 liter.
Kelima; setelah didiamkan dalam ruangan teduh dan kondisi media yang difiksasi sudah tidak lengket maka lakukan pencucian dengan air.
Keenam; setelah kain kering dari diangin-angin dalam ruang teduh, bidang pola atau warna yang telah disolet menjadi hasil yang diinginkan maka bidang pola atau warna tadi siap ditemboki (proses mbironi) dengan menggunakan lilin.
Ketujuh; pewarnaan background dengan menggunakan Remasol warna hitam. Caranya ; menyiapkan satu ember air bersih untuk pencucian kain secara merata; masukkan kain ke dalam ember lain yang sudah dilarutkan warna Remasol tiris angin-anginkan hingga kering; 
Kedelapan; setelah mendiamkan celupan warna hitam Remasol minimal 1 x 24 jam, dilanjutkan dengan fiksasi (penguncian warna Remasol) dengan waterglass yang perbandingannya 1 kilogram waterglass dicampurkan air 1 liter.
Kesembilan; proses nglorot (pesisiran) / ngebyok (Jogja/Solo), yaitu proses menghilangkan malam (lilin batik) pada kain dengan merebus kain dalam campuran air dan soda abu mendidih, kemudian membilasnya dengan air dingin.

Jumat, 19 September 2014

Workshop batik warna alam

Pada tanggal 10 Februari 2011 lalu aku berkesempatan melakukan perjalanan "My Batik Adventure" untuk melihat proses membatik di workshop batik Naturaldyer dengan spesialisai pewarnaan alam kepunyaan Hanafi di Pekuncen RT 03 RW 03 No 283 Wiradesa, Pekalongan.

Rabu, 10 September 2014

Pembuat Zat Warna Alam Indigofera

Membuat Pasta Indigofera
Photo : Toko Batik Tulis Asli Giriloyo
Dari obrolan bersama pak Marheno beberapa waktu yang lalu, aku mencoba merangkum tentang cara membuat pasta indigo, dari daun indigo sampai menjadi pasta, pembuatan untuk tiap 1 kg pasta.
Mula-mula dipilih daun Indigo yang segar (kurang lebih 7 - 9 kg); lalu rendam daun indigo segar dalam air (diusahakan daun indigo benar-benar terendam air) selama 2 hari; kemudian saring larutan yang terbentuk, tuangkan pada bak atau ember yang berbeda. Setelah itu masukkan air Kapur, lalu lakukan proses pengkeburan / aerasi / peragian (bisa dilakukan dengan cara mengambil larutan dengan gayung lalu menuangkan larutan kembali ke ember dari ketinggian hingga menimbulkan buih-buih). Proses Pengkeburan / aerasi / peragian ini dilakukan hingga buih-buih yang tercipta menghilang, dan larutan hijau berubah menjadi biru; kembali diamkan larutan biru yang tercipta selama satu hari hingga tercipta endapan berwarna biru pekat; buang larutan bening diatasnya, ambil endapan berwana biru di bagian bawah yang sudah menjadi Pasta Indigo. 

Membuat Larutan Pewarna dari Pasta
Pasta Indigo yang terbentuk dari proses diatas sudah siap untuk digunakan mewarnai, caranya adalah sebagai berikut ; Mula-mula campur 1 kilogram pasta indigo dengan 5 litet air, larutkan; tambahkan Kapur dan Gula Jawa / Gula Aren / Gula Legen, dan lain-lain dengan perbandingan 1 : 1 (bisa juga 2 : 1, tergantung eksperimen dan arah warna yang ingin dihasilkan). Catatan : Gula dilarutkan dahulu dengan cara direbus dengan air secukupnya; diamkan larutan selama setengah hari (kurang lebih 12 jam) hingga larutan berwarna hijau; kemudian larutan Indigo siap digunakan untuk mencelup / mewarnai kain.

Minggu, 07 September 2014

Tanaman Nila (Indigofera L)

Tanaman Nila (Indigofera L) adalah salah satu jenis tanaman yang termasuk binaan Perkebunan dari kelompok tanaman semusim. Berikut disajikan profil dari tanaman tersebut.

Asal usul dan penyebaran geografis
Marga Indigofera (tanaman nila) yang besar (kira-kira 700 jenis) tersebar di seluruh wilayah tropika dan subtropika di Asia, Afrika dan Amerika sebagian besar jenisnya tumbuh di Afrika dan Himalaya bagian selatan. Kira-kira 40 jenis asli Asia Tengara, dan banyak jenis lainnya telah diintroduksikan ke wilayah ini. Banyak jenisnya yang telah dibudidayakan di seluruh wilayah tropika. Indigofera arrecta adalah tumbuhan asli Afrika Timur dan Afrika bagian selatan, serta telah diintroduksikan ke Laos, Vietnam, Filipina (Luzon), dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Sumba, Flores). Kedua anak jenis dari Indigofera suffruticosa berasal dari Amerika tropika, dan di daerah-daerah tertentu di Jawa dibudidayakan. Indigofera tinctoria mungkin berasal dari Asia, tetapi kini tersebar di seluruh wilayah pantropik.
Di Nusantara bahan indigo disamping dari tanaman Marsdenia tinctoria R. BR, dari suku Asclepiadaceae, hanya dihasilkan dari daun berasal dari beberapajenis tanaman yang masuk marga indigofera. Mengenai pengolahan dan budidaya indigo kering yang terutama digunakan untuk pasaran Eropa, sedang mengenai Indigo basah yang terutama digunakan dari dua jenis bahan tersebut tidak begitu banyak harapan.

Manfaat dan kegunaan
Indigofera dimanfaatkan secara luas sebagai sumber pewarna biru, tarum, di seluruh wilayah tropika. Jenis-jenis ini juga dianjurkan untuk ditanam sebagai tanaman penutup tanah dan sebagai pupuk hijau, khususnya di perkebunan-perkebunan teh, kopi, karet. Daun Indigofera arrecta dan Indigofera tinctoria digunakan dalam pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit ayan dan gangguan syaraf, juga untuk luka dan borok.

Kandungan kimia
Daun Indigofera arrecta mengandung : N 4,46 %; P2O5 0,02 %; K2O 1,95 %; CaO 4,48 % dan Indigofera tinctoria : N 5,11 %;, P2O5 0.78 %; K2O 1,67 %; CaO 5,35 % ( menurut bobot keringnya).

Sifat Kimia
Tanaman Indigofera mengandung glukosida indikan. Setelah tanaman ini direndam di dalam air, proses hidrolisis oleh enzim akan mengubah indikan menjadi indisil (tarum-putih) dan glukosa. Indoksil dapat di oksidasi menjadi tarum – biru.
Banyak jenisnya yang mengandung senyawa –senyawa organik nitro yang beracun. Walaupun demikian, disebutkan bahwa Indigofera tinctoria dapat dimakan ternak.

Botani Klasifikasi 
Divisi Spermatophyta
Sub divisi Angiospermae
Kelas Dicotyledonae
Bangsa Rosales
Suku Leguminosae
Marga Indigofera
Jenis : Indigofera arrecta L.
Jenis-jenis utama dan sinonim :
Indigofera arrecta Hochst.ex A. Ric, Tent, F1 Abys, 1; 184 (1847)
Indigofera suffruticosa Miller ssp. Suffruticosa, Gard. Diet, ed .8, No. 2 (1768), sinonim : I. Anil L (1771);
  • Indigofera suffruticosa Miller ssp. Guatemalensis (Mocino, Sesse & Cerv, ex Backer) de Kort & Thijase, Blumea 30 : 135 (1984), sinonim Indigofera guatemalensis Mocino, Sesse & Cerv.ex Backer (1908);
  • Indigofera tinctoria L. Sp.pl.2 : 751 (1753), sinonim : Indigofera Sumatrana Gaertner (1971)

Nama umum dagang Nila
Nama daerah umum (Inggris) : indigo, Indonesia : tom, tarum. Malaysia : tarom Filipina : anil. Thaliland : kharam. Vietnam : cham.
  • I. Arrecta Inggris : Natal –indigo, Bengal-indigo, Java-indigo, Indonesia : tom atal, tom tatemas (Jawa).
  • I. Suffruticosa ssp. Suffrucosa : Indonesia : taem –taem, tagom-tagom, toma cantik. Filipina : tina-tinaan(Tagalog), tayum (Bisaya, Ilokano). Thailand : khraam-thuean (Shan- Chiang Mai), khraam yai (Ubon Rachathani)
  • I. Suffrucosa ssp. Guatemalensis. Inggris : Guatemala indigo. Indonesia : tom presi.
  • I. Tinctoria Inggris : common indigo, Indian indigo. Indonesia : tom jawa, tarum alus, tom kayu. Malaysia : nila, tarum. Filipina : tagung-tagung (Bisaya), taiom (Ilokano), taiung (pampango). Kamuchea : trom. Laos khaam. Thailand : khraam (umum), na-kho (Karen, Mae Hong Son). Vietnam : cham, cham Nhuom.

Deskripsi
Marga indigofera Mencakup perdu
Habitus Perdu kecil, dan terna,
Batang Berkayu di bagian pangkal batangnya, dengan percabangan yang tegak atau memancar, tertutup indumentum yang berupa bulu-bulu bercabang dua. Daun Daun-daunnya berseling, biasanya bersirip ganjil, kadang-kadang beranak daun tiga atau tunggal.
Bunga : Bunga-bunganya tersusun dalam suatu tandan di ketiak daun, bertangkai; daun kelopaknya berbentuk genta bergerigi lima; daun mahkotanya berbentuk kupu-kupu.
Buah : Umumnya bertipe polong , berbentuk pita (pada beberapa jenis hampir bulat), lurus atau bengkok, berisi 1 - 20 biji yang kebanyakan bulat sampai jorong. Semainya dengan perkecambahan epigeal, keping bijinya tebal, cepat rontok.
Akar : Tunggang.

Jenis Indigofera adalah :
  • Indigofera arrecta : Berawakan perdu besar, tingginya mencapai 3 m, sering dibudidayakan sebagai tanaman setahun, dengan bunga panjangnya kira-kira 5 mm dan polongnya 2-2,5 cm, berisi 6-8 biji.
  • Indigofera suffruticosa : berperawakan perdu, tingginya sampai 2,5 m, ssp dengan bunga panjang 5 mm dan polongnya yang bengkok berisi 6-8 biji.
  • Indigofera suffruticosa : memiliki ukuran bunga yang lebih kecil (3 mm) dan ssp guatemalensis polong yang lurus, berisi 1-3 biji.
  • Indigofera tinctoria : berperawakan perdu kecil (sampai 1 m tingginya) dengan bunga yang panjangnya 5 mm, polongnya lurus atau sedikit bengkok, berisi 7-12 biji.

Teknik Budidaya dan Persyaratan tumbuh
Jenis-jenis Indigofera dapat tumbuh dari 0 meter sampai 1.650 m diatas permukaan laut, dan tumbuh subur di tanah gembur yang kaya akan bahan organik. Sebagai tanaman penghasil pewarna, indigofera ditanam di dataran tinggi dan sebagai tanaman sekunder ditanah sawah. Lahan sebaiknya berdainase cukup baik.
Jika digunakan sebagai tanaman penutup tanah, Indigofera arrecta hanya dapat ditanam di kebun dengan sedikit naungan atau tanpa naungan. Jenis ini menyenangi iklim yang panas dan lembab dengan curah hujan tidak kurang dari 1.750 mm/tahun. Tanaman ini mampu bertahan terhadap pengenangan selama 2 bulan.
Indigofera tinctoria tidak toleransi terhadap curah hujan tinggi dan penggenangan.
Dalam keadaan tumbuh secara alami atau miliar, jenis-jenis tarum dijumpai di tempat-tempat terbuka dengan sinar matahari penuh, misalnya lahan-lahan telantar, pinggir jalan, pinggir sungai, dan padang rumput, kadang-kadang sampai ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut.
Pada umumnya penduduk asli menam indigo pada umumnya di tanah tegalan, maupun di sawah, disawah diusahakan sebagai tanaman palawija setelah panen padi.

Perbanyakan tanaman
Perkembangan biakan tanaman indigofera adalah dengan biji, kecuali Indigofera suffruticosa yang dapt dibiakkan dengan setek. Untuk mencegah kerusakan oleh serangga, biji –biji dapat diberi perlakuan dengan abu dapur sebelum ditabur. Biji Indigofera arrecta memiliki kulit yang keras dan perlu dikikir.
Juga dapat diperbanyak dengan stek indigo yang digunakan adalah cabang-cabang yang paling baik pertumbuhannya, terutama pada lahan yang sudah menghasilkan/produksi. Pemotongan perlu dilakukan dengan pisau yang tajam dan untuk enghindari memar/sobek, maka pada waktu pemotongan menjadi bahan tanaman/stek yang panjangnya + 30 cm.
Bahan yang akan dipotong dengan tangan , stek –stek tersebut tidak segera ditanam tetapi diikat dibiarkan selama 1 sampai 3 hari tempat yang teduh/dingin dengan ujung stek diletakkan diatas. Setelah permukaan pepotongan kering barulah stek dapat ditanam di lapangan.

Penamanan
Setelah lahan/tegalan satu atau beberapa kali dibajak atau dicangkuli, maka ditanam indigo dengan jarak antara 60 cm dan dalam barisan 70 -90 cm, untuk lain-lain indigo 45 – 60 cm.Untuk mengalirkan air hujan pada tiap jarak 360 cm dibuat saluran drainase untuk pembuangan air. Jika penanaman dengan biji maka dapat langsung ditanam di lapangan, tiap lubang diisi 3 atau 4 butir biji, cara lain membuat pesemaian lebih dahulu. Perkecambahan di pesemaian memakan waktu 4 hari. Jika digunakan pesemaian , bibit dapat dipindahkan ke pertanaman pada umur 4 – 6 minggu.

Pemeliharaan
Setelah tanaman berumur 1 bulan dan kelihatan hijau segar maka dapat dilakukan penyulaman dan penyiangan, pada waktu yang sama barisan-barisan dibumbun. Satu bulan kemudian dilakukan penyiangan ke 2 kali dan tanah pada waktu tersebut dibuat gembur serta barisan dibumbunlagi sehingga terjadi guludan yang lebih tinggi. Pada akhir umur 4 bulan atau permulaan 5 bulan setelah terjadi tanaman menutup tanah, saatnya untuk dipotong. Pada umumnya, waktu ini jatuh bersamaan dengan pembungaan yang banyak. Sebagai tanaman penutup tanah batangnya dipotong pada jangka waktu yang teratur.

Pemberantasan hama dan penyakit:
Indigofera arrecta dapat diserang oleh Bacillus solanaceaarum. Di Jawa Indigofera tinctoria tidak rentan terhadap hama dan penyakit, tetapi setelah terjadi lignifikasi di wilayah yang lembab, jenis ini dapat terserang berbagai jenis jamur dan serangga, oleh nematoda Heterodera glycines.

Panen
Kalau daun indigofera yang warnanya sudah warna hijau tua merata mulai layu dan mulai menguning maka hasil indigofera menjadi kurang. Cara menentukan waktu panen memang sulit. Berdasarkan para pengusaha /petani yang berpengalaman menentukan waktu panen berdasarka >warna daun dan pada bau daun kalau diremas–remas dengan jari. Cabang-cabang pohon dipanen, biasanya pada pagi hari, ketika tanaman berumur 4-5 bulan dan telah membentuk tegakan yang rapat.
Saat itu biasanya merupakan stadium berbunga. Kira-kira 3-4 bulan kemudian tanaman dapat dipotong lagi.; tanaman tarum dapat dipanen 3 kali dalam setahun. Masa hidup tanaman sebagai penghasil pewarna adalah 2-3 tahun, dan sebagai penutup tanah 1,5-2 tahun. Tarum hanya dapat dipanen sekali jika ditanam disawah, sebab tanaman ini harus memberi ruang pada tanaman padi berikutnya.

Prospek pengembangan tanaman nila
Tarum pernah dinyatakan sebagai ’ raja pewarna ’. Tidak ada tanaman pewarna lain yang terjalin sangat erat dengan kebudayaan seperti halnya tanaman tarum. Warna biru tua dari pewarna ini sangat disukai, dan sejarahnya menakjubkan serta berlangsung ribuan tahun.
Walaupun demikian, penggunaan tarum yang berasal dari tumbuhan hampir habis dan hampir seluruhnya diambil alih oleh tarum sintetik.
Dalam tahun-tahun belakangan ini minat terhadap pewarna alami meningkat lagi di berbagai negara, tidak hanya karena kepedulian terhadap pencemaran lingkungan yang disebabkan yang disebabkan oleh industri-industri kimia penghasil pewrana dan adanya pengaruh berbahaya dari pewarna sintetik terhadap kesehatan, tetapi juga karena timbulnya kembalinya minat dalam kaitan antara pewarna dan kebudayaan. Diharapkan agar minat baru ini akan memperoleh landasan yang cukup cepat untuk melindungi tarum dari kepunahannya secara total sebagai tanaman budidaya tanaman di Asia Tenggara.

Produksi dan perdagangan dunia
Budidaya Indigofera secara besar-besaran dimulai dalam abad -16 di India dan Asia Tenggara. Kemudian, perkebunan –perkebunan besar juga dibangun di Amerika Tengah dan Amerika Serikat bagian selatan. Ekspor tarum ke Eropa sangat penting dan harus bersaing dengan pewarna dari ’woad’ (Isatis tinctoria L), yang dibudidayakan terutama Perancis, Jerman dan Inggris. Produksi tarum sintetik secara komersial yang dimulai digunakan pada tahun1897, terbukti membahayakan produksi tarum alami, dan menjelang tahun 1914 hanya 4 % dari keseluruh produksi dunia berasal dari pewarna nabati. Kini, tanaman tarum masih dibudidayakan untuk keperluan pewarna, tetapi hanya dalam skalakecil, yaitu di India ( di bagian utara Karnataka) dan di beberapa tempat di Afrika dan Amerika Tengah. Di Indonesia Indigofera masih dibudidayakan di beberapa desa pantai utara dan di seluruh wilayah Indonesia Timur, yang disana digunakan untuk mewarnai kain tradisional dan kain untuk keperluan upacara adat.
Sebagai bahan yang diusahakan di perkebunan besar terutama di Jakarta, daerah Yogyakarta dan Solo pada tahun 1920 diolah 202.071 kg indigo kering dan 288 kg indigo basah dari luas 3.102 bau (1.035,3 ha); pada tahun 1921 diolah 201.981 kg indigo kering dan 41.616 kg indigo basah dari luas tanah 3.793 bau (1.264 ha); pada tahun 1922 diolah 37.244 kg indigo kering dan 50.400 kg indigo basah dari luas tanah 1.726 bau ( 575 ha); pada tahun 1923 di perkebunan besar mendapatkan panen indigo 744 kg dengan luas tanah 285 bau (95 ha) dan tahun 1924 panen indigo 655 kg dengan luas tanah 285 bau (95 ha). Dapat dikemukakan bahwa persaingan antara bahan pewarna alamiah dan bahan pewarna buatan dimenangkan oleh indigo buatan tom werdi (Jawa). Bahan buatan ini telah demikian umum dipakai di kalangan perusahaan batik hingga sewaktu pada tahun 1914 pengiriman dihentikan, terjadi penghambatan pekerjaan perusahaan batik.
Berdasarkan surat dari 67 perusahaan batik yang menyatakan lebih senang menggunakan bahan indigo buatan dan tidak tahu menahu tentang bahan indigo alamiah. Sekiranya persediaan bahan indigo buatan cukup maka industri batik berdasarkan pertimbangan ekonomi tidak akan menggunakan bahan indigo buatan.

Copy-paste dari Pasta Alami "Sarikebon" Temanggung.

Sabtu, 16 Agustus 2014

Cara Merawat Batik dengan Pewarna Alam

BATIK PEKALONGAN. Batik yang dicelup menggunakan pewarna alami memang lebih cepat pudar dibanding dengan menggunakan pewarna kimiawi, karena batik dengan pewarna alami tidak mengalami proses fiksasi (penguncian warna) yang maksimal. Kain batik dengan pewarnaan alami membutuhkan penanganan khusus dibanding kain batik biasa. Untuk merawat kain batik dengan pewarna alami, caranya antara lain :
  • Mencuci kain batik dengan menggunakan sampo rambut. Sebelumnya, larutkan dulu sampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu baru kain batik dicelupkan. Anda juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di pasaran. Harap diperhatikan, anda juga tidak perlu merendamnya terlalu lama.
  • Kain batik jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Cara mencuci kain batik seperti ini akan membuat warna alami kain batik tak bertahan lama.
  • Sebaiknya Anda juga tidak menjemur kain batik berpewarna alami di bawah sinar matahari langsung, dan lebih bagus jika anda menjemurnya dalam keadaan terbalik
  • Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan kain pelapis lainnya lebih baik yang berwarna muda/polos, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.
  • Masih dengan kain pelapis, Anda bisa menyetrika kain batik berpewarna alami tersebut. Jangan menyetrika langsung pada kainnya karena ini bisa memengaruhi warna motifnya.
  • Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik berpewarna alami.

Minggu, 10 Agustus 2014

Wirda Belajar Membatik di Trusmi Cirebon

Wirda tengah diajari membatik oleh mbak Selly
Sabtu, 9 Agustus 2014 lalu, Wirda Salamah Ulya putri ustadz Yusuf Mansur belajar membatik di kampung Batik Trusmi. Di bawah arahan mbak Selly Giovanny istri mas Ibnu Riyanto pemilik Pusat Grosir Batik Trusmi Cirebon Jl. Trusmi Kulon No.148, Plered Cirebon, dengan tekun Wirda mencanting malam diatas kain batik seukuran 25 cm x 25 cm. Terbayang olehku keseruanya bila Wirda jadi supervisornya lalu para pengrajin batik sambil bekerja sekalian setoran hafalan Qur'an. Mengingat sejarah terbentuknya kampung batik ini juga tak lepas dari peran Ki Gede Trusmi, salah satu murid Sunan Gunungjati dalam menyebarkan Islam sambil mengajarkan membatik. 
Di sepanjang jalan utama yang berjarak 1,5 km dari desa Trusmi sampai Panembahan, saat ini banyak kita jumpai puluhan showroom batik. Berbagai papan nama showroom nampak berjejer menghiasi setiap bangunan yang ada di tepi jalan. Munculnya berbagai showroom ini tak lepas dari tingginya minat masyarakat terutama dari luar kota terhadap batik Cirebon.
Batik Trusmi berhasil menjadi ikon batik dalam koleksi kain nasional. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan Batik Pesisir, namun juga sebagian batik Cirebon termasuk dalam kelompok batik keraton. Hal ini dikarenakan Cirebon memiliki dua buah keraton yaitu Keratonan Kasepuhan dan Keraton Kanoman, yang konon berdasarkan sejarah dari dua keraton ini muncul beberapa desain batik Cirebonan Klasik yang hingga sekarang masih dikerjakan oleh sebagian masyarakat desa Trusmi di antaranya seperti Mega Mendung, Paksinaga Liman, Patran Keris, Patran Kangkung, Singa Payung, Singa Barong, Banjar Balong, Ayam Alas, Sawat Penganten, Katewono, Gunung Giwur, Simbar Menjangan, Simbar Kendo, dan lain-lain. (diambil dari berbagai sumber).

Kamis, 07 Agustus 2014

Desain Baju Batik Pertama

Tema lembaran baju batik karya pertamaku ini terispirasi dari kesukaanku minum teh hangat dan kesenanganku memainkan game PSP Final Fantasy Crisis Core. Maka tertuanglah dalam karya lembaran kain baju batik pertamaku, "Suasana Perkebunan Teh" di sisi muka, ku desain dengan tebaran daun dan serangga (capung dan kupu-kupu) sebagai pelengkap. Dan "Satria dari Hutan" disisi belakang, ku desain sebuah pedang yang digunakan oleh Zack Fair tokoh utama dalam game PSP Final Fantasy Crisis Core.

Praktek Membatik
Pertama; menyiapkan kain batik dari jenis mori primisima dengan ukuran 200 cm x 115 cm.
Kedua; membuat pola (nyorek atau mola). Proses ini adalah menggambar motif dasar dan pola batik tulis diatas kain dengan menggunakan pensil ataupun arang kayu.
Ketiga; Soletan (nyolong warna) yang kontras dengan menggunakan warna Remasol, karena dalam batik tradisional itu dikenal permainan gradasi warna.
Keempat; setelah mendiamkan warna soletan minimal 1 x 24 jam, dilanjutkan dengan fiksasi (penguncian warna Remasol) dengan waterglass yang perbandingannya 1 kilogram waterglass dicampurkan air 1 liter.
Kelima; setelah didiamkan dalam ruangan teduh dan kondisi media yang difiksasi sudah tidak lengket maka lakukan pencucian dengan air.
Keenam; setelah kain kering dari diangin-angin dalam ruang teduh, bidang pola atau warna yang telah disolet menjadi hasil yang diinginkan maka bidang pola atau warna tadi siap ditemboki (proses mbironi) dengan menggunakan lilin.
Ketujuh; pewarnaan background dengan menggunakan Naptol warna merah. Caranya ; menyiapkan satu ember air bersih untuk pencucian kain secara merata; masukkan kain ke dalam ember lain yang sudah dilarutkan dalam air berisi 5 - 6 liter dengan ASBO 20 gram ditambah kustik (Soda Abu atau Na2CO3) 3 - 4 gram, setelah rata tercelup tiriskan hingga air yang ada di kain tidak menetes; lalu masukkan kain ke dalam ember lain yang berisi 5 - 6 liter air dan garam pembangkit warna merah (Garam Merah B) 30 gram, pastikan terendam rata angkat dan tiriskan; nikmati hasil warna yang diinginkan.
Kedelapan; proses nglorot (pesisiran) / ngebyok (Jogja/Solo), yaitu proses menghilangkan malam (lilin batik) pada kain dengan merebus kain dalam campuran air dan soda abu mendidih, kemudian membilasnya dengan air dingin.

Selasa, 05 Agustus 2014

Batik Legenda

Batik Legenda (Photo : De reis naar Batik)
Setelah awal Ramadhan 1435 H ini menyambangi workshop-nya Zie Batik, senin lalu sampai juga lagi di Zie Batik lagi dan ketemu pak Heno beserta ibu, dan ini petikan obrolan yang bisa aku sarikan. Pada sekitar tahun 2005 beliau meramaikan perbatikan di Semarang, bersamaan itu pula muncul sebanyak 16 industri batik yang kembali berproduksi. Dan salah satunya home industri batik yang dikerjakan Marheno Jayanto yang saat itu tinggal di Jalan Batik Widoharjo Nomor 252 Rejomulyo, Semarang Timur, seorang mantan pegawai Museum Batik Jakarta. Berbekal dari pengetahuan aneka macam batik Nusantara dari tempatnya bekerja itulah, pria ini bersama istrinya, Zazilah, hijrah ke Semarang untuk mencoba memberikan pelatihan membatik di sekolah-sekolah. Meski mulanya banyak yang menolak, tetapi lelaki kelahiran Jakarta, 24 April 1970 tetap tekun memberi pelatihan membatik bersama sang istri. Bagi dia, materi bukan yang utama karena tujuan dia mengajari anak sekolah tersebut adalah untuk memperkenalkan batik Semarang.
Hingga kemudian Marheno bertemu dengan Sinto Sukawi (istri Walikota saat itu) yang memberitahukan bahwa di Semarang juga ada Kampung Batik, namun sudah jarang pengrajin batik dari sana. Pada 2006 dia pun bergabung dengan Dekranasda Kota Semarang. Selanjutnya dia melatih ibu-ibu kampung batik di Kelurahan Rejomulyo tempat tinggal beliau saat itu.
"Semarang adalah kota yang unik. Semarang memiliki bangunan atau wadah berupa Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) tetapi saya belum pernah melihat motif batiknya. Oleh karena itu, saya mencoba menciptakan motif batik khusus," cerita Marheno di rumah Kampung Malon.
Bersama istrinya, Zie, Marheno mencoba menggali info tentang ikon kota, dan mencoba menciptakan motif yang berbentuk buah asem, gedung Lawang Sewu, Tugu Muda, burung bangau (blekok), hingga cerita-cerita wayang. Seluruh motif tersebut saat ini menjadi ciri khas motif batik Kota Semarang. Bakunya adalah motif flora fauna khas Semarang.
Ada pula motif batik yang sarat pesan-pesan moral di dalamnya, batik jenis ini dinamainya 'batik legenda'. Mengenai warna, kain batik tersebut tanpa menggunakan pewarna sintetis, Zie hanya memberi warna natural seperti hitam, cokelat, kuning dan biru.  Pemasaran batik-batik ini di Semarang pun terbilang bagus. Selain Semarang batik milik Zalzilah ini banyak dipesan di Jakarta, Bali, Bandung dan Palangkaraya.
Dia kemudian dipercaya mengajar di Disperindag Kota Semarang, Disperindag Provinsi Jateng, Disnakertrans Kota Semarang dan dinas lain yang melatih ibu-ibu membatik. Usaha merintis batik Semarangan ini menghantrarkan Marheno meraih sejumlah penghargaan dari Pemerintah Kota Semarang.
Saat ini Heno bersama istrinya mengelola Zie Batik dan tinggal di Kampung Malon 15 RT 02 RW 05, Gunungpati. Dia memutuskan pindah dari Kampung Batik karena mencari tempat produksi yang lebih luas. Dalam pelaksanaan produksinya Heno dan istri dibantu 4 orang pembatik yang mengerjakan di workshop mereka dan 6 orang pembatik yang membawa pekerjaan batiknya di rumah mereka masing-masing.
Selain motif yang unik, Marheno mengungkapkan, produknya menggunakan bahan pewarna alami untuk menghasilkan kualitas terbaik serta menghindari pencemaran lingkungan. Pewarna yang dia gunakan sebagian besar diperoleh dari sekitar tempat tinggalnya, seperti kulit kayu pohon mangga, kulit kayu pohon tingi, dan mengkudu. Marheno mengakui, dengan memakai pewarna alami proses pewarnaan membutuhkan waktu lebih lama karena proses pencelupan kain serta penjemuran yang tidak boleh langsung di bawah sinar matahari. "Pencelupan kain bisa sampai sepuluh kali untuk mendapatkan warna yang diinginkan," katanya.
Menurutnya, dengan memakai pewarna alami, warna yang dihasilkan tidak kalah bagus dari pewarna kimia bahkan warna yang dihasilkan bisa lebih bervariasi. Saat ini beliau tengah mengembangkan pewarna alami dari biji propagul mangrove dan daun indigofera.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Batik Tancep Khas Gunungkidul

Peta Sentra Batik Tancep
Ketika mengadakan perjalanan wisata ke pantai Pulsa, aku sempat mencari lokasi pengrajin batik khas gunungkidul sebagai tambahan referensi ilmuku.
Kabupaten Gunungkidul selain terkenal dengan pesona wisata pantainya yang elok ternyata juga mempunyai ciri khas tersendiri di bidang kerajinan, diantaranya Kerajinan Batik yang sekaligus jadi identitas Batik Khas dari Gunungkidul yang mendapat julukan ”Batik Tancep”.
Sentra kerajinan batik tulis terletak di Desa Tancep Kecamatan Ngawen Gunungkidul, lokasinya sedikit jauh dari kota Wonosari, sekitar 30 menit perjalanan ke arah utara.
Nyanting
Keunggulan Batik Tancep sendiri adalah, Proses pembuatan dilakukan secara manual dan yang lebih Istimewanya lagi pewarna yang digunakan untuk membuat batik itu sendiri berasal dari Bahan Alam seperti Akasia, Akar Jalawe, dan daun Mahoni. Batik ini tidak hanya cocok untuk dijadikan baju atau kebaya namun juga bisa dijadikan taplak meja sarung bantal bahkan gorden. Motif yang beragam juga menjadi keunggulan Batik Tulis Tancep. Beberapa motif batik Tancep diantaranya sekar jagad, gajah birowo, galaran perahu, sekar kanthil dan babon angrem.
Ternyata Batik tancep ini juga telah tembus ke pasar dunia seperti ke Eropa, karena memang diakui “Batik Tancep” ini memiliki kualitas bagus serta memiliki corak yang khas. Jika pengen berkunjung ke Desa Wisata Tancep, lebih baik berkunjung di siang hari dan bisa langsung menikmati proses pembuatan sekaligus bertanya langsung ke pengrajinnya.

Sabtu, 26 Juli 2014

Kreasi Jumputan ala Batik Tiga Putra Pekalongan

Workshop Batik Tiga Putra
Alhamdulillah, akhirnya bisa juga sampai di gerai dan workshop Batik Tiga Putra (BTP) di Jl. Yudha Bakti Gg. III No.184A, Pekalongan 51111, Jawa Tengah, Indonesia. Satu industri kreatif yang menghasilkan produk Mukena, Pasmina dan Gamis dengan teknik jumputan (ikat celup).
Batik Jumputan menurut Dethie adalah batik yang dikerjakan dengan cara ikat celup, di ikat dengan tali di celup dangan warna. Batik ini tidak menggunakan malam tetapi kainnya diikat atau dijahit dan dikerut dengan menggunakan tali. Secara umum ada dua teknik membuat batik jumputan; 
Pertama, teknik ikat. Adalah bagian yang ikat, kencang itu pada saat dicelup tidak terkena warna, sehingga setelah ikatannya dilepas akan terbentuk gambarnya,
Kedua, teknik jahitan. Adalah kain diberi pola terlebih dahulu lalu dijahit dengan menggunakan tusuk jelujur pada garis warnanya dengan menggunakan banang, lalu benang ditarik kuat sehingga kain berkerut serapat mungkin. Pada waktu dicelup benang yang rapat akan menghalangi warna masuk ke kain, benang yang dipakai sebaiknya benang yang tebal dan kuat seperti benang plastik / sintesis, benang jins, atau benang sepatu. Hasil jumputan teknik jahitan ini berupa titik-titik yang agak menyambung membentuk gambar.

Mukena BTP
Adapun persiapan dan tahapan dalam mempraktekkan pembuatan Batik dengan teknik jumputan (ikat celup) adalah sebagai berikut:
Bahan-bahan yang dibutuhkan : Kain berjenis Blaco, Mori prima, Primissima; Dua sendok Garam dan Cuka secukupnya; Dua liter Air untuk satu kemasan warna; Pewarna dan penguatnya dalam satu kemasan (Wenter ataupun Wantex).
Alat-alat yang digunakan : Karet gelang; Kelereng, Uang koin, Batu; Kompor; Bejana (Panci); Sendok kayu sebagai alat pengaduk; Ember.
Cara membuatnya : Pastikan kain dalam kondisi bersih; Membuat bentuk/desain motif dengan mengikat Kelereng, Uang koin, atau Batu pada beberapa bagian kain menggunakan karet secara kencang dan bervariatif; Rebus air menggunakan Bejana (Panci) hingga mendidih; Setelah mendidih, campurkan pewarna dan penguat yang berada dalam satu kemasan Wenter ataupun Wantex; Tambahkan garam dua sendok makan dan cuka secukupnya disertai dengan mengaduk larutan hingga merata; Basahi kain yang telah diikati dan dibuat motif dengan air bersih; Celupkan kain tersebut pada cairan warna. Bila menginginkan satu warna, celupkan seluruh bagian kain dalam larutan pewarna yang mendidih. Aduk dalam waktu 20-30 menit agar warna merata dan merekat kuat; Bila menginginkan warna lain, langkah pembersihan lalu mencelupkan hanya sebagian pada cairan pewarna pertama dan mencelupkan kain yang belum terkena warna pada cairan pewarna lainnya. Celupkan berkali-kali sesuai jumlah warna yang dikehendaki; Apabila proses pencelupan warna selesai, kain diangkat dan dibilas menggunakan air dingin yang bersih; Kemudian semua ikatan dilepas, kain ditiris dan dikeringkan; Setelah kering, rapikan dengan menyetrika kain tersebut.

Sabtu, 19 Juli 2014

Batik Mangrove di Semarang

Suasana Pelatihan di Workshop Zie Batik
Batik sebagai warisan budaya bangsa nampaknya terus mendapat tempat dihati masyarakat. Kota Semarang memiliki banyak ikon batik diantaranya motif burung blekok, asem arang, tugumuda, lawang sewu dan lain-lain. Motif-motif tersebut banyak dikembangkan oleh pembatik Semarangan.
Penggunaan warna sintetis terkadang untuk beberapa orang menimbulkan iritasi, dan alasan ini pula banyak pengrajin batik di Semarang mengembangkan pewarnaan alami. Salah satu pengrajin batik yang menggunakan pewarna alami adalah sepasang suami istri Marheno dan Zazilah, pemilik Zie Batik yang memiliki workshop di Kampung Malon 15 RT 02 RW 05 Kelurahan Gunungpati - Kecamatan Gunungpati Semarang. Mereka mencoba mengembangkan pewarna alami dari buah mangrove kering yang gagal menjadi tunas. Sedangkan untuk menghindari kesan warna yang monoton, mereka memadu-padankan dengan pewarna lain seperti daun mangga, kulit jengkol, jolawe, buah jenitri, jambal tegeran, indigo dan lain-lain.
Zie Batik menerima pesanan batik tulis dan cap, seragam serta cindera mata atau souvenir. Jika ada yang berkenan mendapatkan pelatihan membatik pun bisa membantu baik batik tulis, batik cap atau pelatihan pewarnaan alam.

Akses menuju Workshop Zie Batik
Jika kita dari alun-alun Ungaran ambil arah menuju terminal Sisemut Ungaran, lalu ambil arah ke pasar tradisional Gunungpati. Setelah melewati SMAN 12 Semarang di sisi kanan jalan, temukan pertigaan yang kenanan menuju Goa Kreo dan yang lurus menuju pasar tradisional Gunungpati maju sedikit setelah melewati Warung Bakso Balungan dan Mie Ayam Ceker "Sopo Nyono" dikiri jalan, temukan pertigaan, kalau ambil lurus ke arah Polaman atau Cangkiran sedangkan kalau ambil arah kekiri menuju obyek wisata Curug Lawe-Benowo desa Kalisidi Ungaran, tandanya mudah dipertigaan itu ada makam SIWOGO dan papan nama arah Yayasan Yatim dan Pondok Pesantren AT-TOHARIYYAH. Ambil arah kekiri, ikuti jalan kurang lebih satu kilometer, jika jalan sudah mendaki perhatikan sisi kanan jalan pada tanjankan itu akan terlihat workshop batik yang mirip dengan garasi, berarti kita sudah sampai. Dan koleksi batik bisa dinikmati di rumah atasnya workshop (lokasinya berkontur khas tanah pegunungan).

Selasa, 17 Juni 2014

Makna dan Filosofi Motif Batik Mega Mendung

Pada bentuk mega mendung, bisa kita lihat garis lengkung dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) yang menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun).
Motif Mega Mendung
Hal itu kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar atau menjalani kehidupan sosial agama). Pada akhirnya, membawa dirinya memasuki dunia baru menuju ke dalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut  (naik dan turun) dan pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Dengan demikian, kita bisa lihat bentuk mega mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil, tetapi tidak boleh terputus. (Ragam Batik Indonesia)
Motif mega mendung bisa juga melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan. (Kriyalea).
Jadi bisa dikatakan bahwa kekhasan motif mega mendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan. (Presiden)
Terlepas dari makna filosofis bahwa mega mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu, ditinjau sisi produksi memang mengharuskan bentuk garis lengkung mega mendung bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pewarnaan bisa lebih mudah.

Kamis, 12 Juni 2014

Batik Cipratan

Proses nyiprat lilin malam
Pada hari Senin tanggal 9 Juni 2014 M / 11 Sya'ban 1435 H lalu aku berkesempatan menengok workshop batik karya adik-adik penyandang down syndrom, tuna grahita berat, anak autis, tuna rungu maupun tuna wicara di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang yang beralamatkan di jalan Elang Raya 2 Kelurahan Mangunharjo Kecamatan Tembalang Kotamadia Semarang. Sebuah karya batik sederhana karena dikerjakan tanpa pola motif batik tradisional, motif batik diganti cipratan malam dari sendok sebagai pengganti canting. Pewarnaan menggunakan bahan remasol dan dikunci (difiksasi) dengan waterglass, kemudian direbus (dilorod) untuk menghilangkan lilin malam. 

Proses Membatik
Motif dengan Remasol
Dari pengamatan lapangan, langkah proses membatik adik-adik SLB bisa kusimpulkan sebagai berikut :
Pertama; menyiapkan kain batik dari jenis mori primisima dengan ukuran 225 cm x 115 cm.
Kedua; membentangkan kain yang diikat ujung-ujungnya pada sebuah bidang gawangan yang fungsinya kain yang akan dibatik melayang.
Ketiga; proses cipratan lilin malam ke bidang kain batik yang dikerjakan.
Keempat; membuat motif batik menggunakan warna Remasol.
Kelima; setelah mendiamkan batik yang sudah diwarnai minimal 1 x 24 jam, dilanjutkan dengan fiksasi (penguncian) warna Remasol dengan waterglass yang perbandingannya 1 kg waterglass dicampurkan air 1 liter.
Keenam; setelah didiamkan dalam ruangan teduh dan kondisi media yang difiksasi sudah tidak lengket maka lakukan pencucian dengan air.
Ketujuh; proses nglorot (pesisiran) / ngebyok (Jogja/Solo), yaitu proses menghilangkan malam (lilin batik) pada kain dengan merebus kain dalam campuran air dan soda abu mendidih, kemudian membilasnya dengan air dingin.

Sabtu, 07 Juni 2014

Makna Warna Batik Tradisional Yogyakarta

Motif Grompol
Batik merupakan kesenian khas Indonesia yang sudah ada sejak berabad-abad yang lalu, sehingga kesenian batik sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan mengalami perkembangan motif atau pun warna karena pengaruh dari budaya setempat atau pengaruh dari kebudayaan bangsa lain yang berakulturasi dengan budaya Indonesia. Batik tradisional Yogyakarta merupakan batik (kain yang memiliki gambar atau pola tertentu) yang dibuat secara turun-temurun tanpa ada perubahan warna atau corak hanya untuk kalangan keluarga Kraton Yogyakarta yang memiliki arti filosofis tersendiri dalam warna dan corak batik tersebut.
Seperti yang kita tahu, Yogyakarta adalah salah satu sentra batik terkenal di daerah Jawa Tengah. Batik Yogyakarta pun sudah dikenal sejak lama. Ciri khas dari batik Yogyakarta adalah dari latar atau warna dasar kain. Warna dasar kain batik Jogja ada dua macam, yaitu warna putih (melambangkan pribadi yang suci, polos, lugu, jujur, bersih, spiritual, pemaaf, cinta, dan terang yang melambangkan sifat religius masyarakat Jawa) dan hitam (melambangkan pribadi yang gelap, misteri, kukuh, formal, dan memiliki keahlian), sedangkan warna batik bisa berwarna putih, biru tua kehitaman, dan coklat (melambangkan pribadi yang hangat, terang alami, rendah hati, bersahabat, kebersamaan, tenang dan sentosa sesuai dengan masyarakat Jawa yang mengutamakan rasa dalam segala tindak-tanduknya). (Kriyalea dan Exogenesis)

Minggu, 01 Juni 2014

Mencarikan guru membatik

Setelah mengikuti pelatihan membatik di BLK Kota Semarang, banyak teman-temanku yang mengenal aktifitas baruku ini. Seorang temanku di daerah Plombokan menawari aku untuk mengajari perwakilan ibu-ibu sekelurahan Plombokan membatik, tetapi aku merasa belum siap dan kurang cukup jam terbangku. Maka terpikir olehku untuk membantu dengan mencarikan mereka guru, dan yang terlintas dalam pikiranku adalah ke kampung batik Buba'an Semarang.
Mbak Yayuk di showroom batiknya
Lokasi Kampung Batik Semarang yang tidak jauh dari Bundaran Bubakan, Semarang Tengah. Bundaran ini cukup dekat dari pusat kota lama Semarang. Jika kita dari Pasar Johar, cari saja jalan yang menuju arah Jalan Patimura atau Dr. Cipto. Sedang jika kita dari Simpang Lima, bisa menuju Jalan MT. Haryono, terus saja maka akan bertemu Bundaran ini.
Rabu, 28 Mei 2014 M / 28 Rajab 1435 H lalu dari Banyumanik ku arahkan langkah menuju Bundaran Buba'an melalui jalan Setyabudi, pasar Jatingaleh, jalan Dr. Wahidin, pasar Peterongan dan jalan MT. Haryono. Ku arahkan kendaraan menuju jalan Patimura. Antara gedung Bank Pemerintah di ujung jalan Patimura dan Hotel Djelita ada gapura cukup besar, temukan plang nama jalan bertuliskan Jl. Batik. Begitu masuk jalan tersebut jangan berharap terlihat aktifitas membatik. Kita bisa berkeliling melihat banyaknya deretan show room batik di kampung ini.
Setelah muter-muter menggunakan feeling untuk mencari guru akhirnya aku berhenti di sebuah show room batik agak di ujung sebelah kiri dari jalan masuk kampung batik, Rusyda Batik.
Setelah mengutarakan maksud kedatanganku dan mendapatkan tetek-bengek informasi pelatihan membatik, akhirnya mbak-mbak yang aku tanyai sampai mumpluk ternyata adalah owner Rusyda Batik, mbak Yayuk (Rahayuningsih). Show room batik-nya mbak Yayuk jadi satu dengan show room Handayani Batik milik mbak Rini dan mereka namai dengan workshop Batik Gedong 410 Kampoeng Batik Buba'an Semarang.

Minggu, 25 Mei 2014

Phoenix Kawung

Salah satu koleksi baju batik printing ku yang aku suka adalah yang bertema “Phoenix- Kawung”. Karena masing-masing mereka memiliki arti tersendiri. 

Batik Printing Phoenix Kawung
Phoenix
Dalam mitologi Mesir Phoenix memiliki arti keabadian. Burung api ini digambarkan memiliki bulu yang sangat indah berwarna merah keemasan. Sedangkan dalam mitologi Cina burung Phoenix (Fenghuang) adalah pemimimpin burung yang menjadi symbol hubungan mesra antara suami dan istri.
Phoenix (dalam masyarakat jawa disebut burung Hong) dikatakan dapat hidup 500 atau 1461 tahun, setelah hidup selama itu ia akan membakar dirinya. Lalu abunya akan muncul burung Phoenix muda begitu seterusnya. (Satu Lingkar dan Aliefqu)
Kalau ngomongin Phoenix jadi keinget game seri Final Fantasy :D

Kawung
Motif kawung mempunyai makna yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat asal usulnya. Jaman dahulu, motif kawung sering digunakan dikalangan kerajaan dengan harapan mencerminkan pribadi pemimpin yang mampu mengendalikan hawa nafsu serta menjaga hati nurani agar dapat keseimbangan dalam berperilaku hidup sebagai manusia. (Parasantique Pekalongan)

Phoenix Kawung
Kalau dilihat dari motifnya, batik Phoenix Kawung koleksiku ini mirip dengan gaya batik Laseman yang senantiasa memadukan unsur motif Cina (Phoenix) dan unsur motif Jawa (Kawung), tetapi dari pewarnaan mengikuti motif batik Solo atau Yogyakarta, coklat. Harapan yang aku inginkan dengan memaknai motif baju batik printingku “Phoenix-Kawung” adalah diberi keistiqomahan yang abadi untuk senantiasa jadi manusia yang wara’ dan zuhud.

Jumat, 23 Mei 2014

Makna Simbolik Motif Batik Tradisional

Setelah mengunjungi sanggar batik Mutiara Hasta yang dikelola oleh bapak Rajimin Slamet di jalan Rogojembangan Timur No. 4, Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang Semarang beberapa waktu yang lalu, menumbuhkan keingin-tahuanku makna yang terkandung dalam motif-motif batik yang dituangkan.
Keingin-tahuanku sedikit terbayar setelah mencoba buka-buka situs milik Kiani Batik dan Kinanthi. Setidaknya ini akan menambah sedikit kedalaman pemahaman terhadap beberapa makna filosofis motif batik

1. Motif Sawat
Sawat Berarti Melempar. dahulu kala orang jawa percaya dengan para dewa sebagai kekuatan yang mengendalikan alam semesta. Salah satu dewa tersebut adalah Batara Indra. Dewa ini mempunyai senjata yang disebut wajra atau bajra, yang berarti kilat.senjata pusaka tersebut digunakan untuk melempar. Senjata pusaka Wjra ini diwujudkan ke dalam motif batik berupa sebelah sayap dengan harapan agar si pemakai akan selalu mendapatkan pelindungan dalam kehidupannya.

2. Motif Gurda
Gurda berasal dari kata Garuda. Dalam pandangan masyarakat jawa, Burung Garuda mempunyai kedudukan yang sangat penting. bentuk motif Gurda ini terdiri dari 2 buah sayap dan di tengah-tengahnya terdapat ekor dan badan. Motif gurda ini juga tidak lepas dari kepercayaan masalalu. garuda merupakan tunggangan Batara Wisnu. oleh masyarakat jawa, garuda selain sebagai simbol kehidupan juga sebagai simbol kejantanan.

3. Motif Meru
Kata Meru berasal dari gunung Mahameru. gunung ini dianggap sebagai tempat tinggal bagi Tri Murti, yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Siwa. Tri murti dilambangkan sebagai sumber dari segala kehidupan, sumber kemakmuran dan segala kebahagiaan hidup di dunia. meru digunakan sebagai kain motif batik agar si pemakai selalu mendapatkan kemakmuran dan kebahagiaan.

4. Motif Semen
Kata semen berarti semi atau tunas. Terdapat beberapa jenis ornamen pokok pada motif-motif semen. Yang pertama adalah ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan mega mendung. Sedangkan yang ketiga adalah ornament yang berhubungan dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Jenis ornament tersebut kemungkinan besar ada hubungannya dengan paham Triloka atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci, serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak benar/dipenuhi angkara murka. Ketika dijadikan motif batik diharapkan agar si pemakai selalu dapat berhubungan dengan sang maha Pencipta.

5. Motif Bango-Tulak
Motif ini terdiri dari dua warna hitam dan putih, dalam sejarah batik motif ini dianggap sebagai motif tertua. nama bango-tulak berasal dari nama burung, yaitu burung tulak. Burung ini berwarna hitam dan putih, burung ini dianggap sebagai lambang umur panjang. Warna hitam artinya lambang kekal, sedang warna putih artinya lambang hidup. Jadi hitam putih melambangkan hidup kekal.

6. Motif Sindur
Sindur
merupakan motif batik dengan dominasi warna merah dan putih. Warna merah terdapat pada bagian tengah, dan putih pada bagian pinggir, membentuk gelombang. Kedua warna tersebut melambangkan asal mula kehidupan. Warna putih mengandung arti hidup sedang merah artinya suci. Oleh karena itu motif ini sering dipakai dalam upacara pernikahan. Pemakaian sindur dimaksudkan mempertemukan laki-laki dan perempuan sebagai cikal bakal kelahiran hidup di dunia.

7. Motif Gadhung Mlathi
Motif Gadhung Mlathi merupakan kombinasi dari warna hijau dan putih. Warna putih terletak di tengah dan hijau di bagian pinggir. Motif ini sering pula dipergunakan oleh pengantin pria maupun wanita. Namun sekarang motif batik ini jarang dipakai lagi pada kain jarik, melainkan hanya sebagai kemben bagi perempuan dan ikat kepala bagi pria.

8. Motif Kawung
Motif Kawung berpola bulatan mirip buah Kawung (sejenis kelapa atau kadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris yang melambangkan kebijaksanaan dan keseimbangan hidup . Kadang, motif ini juga diinterpretasikan sebagai gambar bunga lotus (teratai) dengan empat lembar daun bunga yang merekah. Lotus adalah bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian.
Biasanya motif-motif Kawung diberi nama berdasarkan besar-kecilnya bentuk bulat-lonjong yang terdapat dalam suatu motif tertentu. Misalnya : Kawung Picis adalah motif kawung yang tersusun oleh bentuk bulatan yang kecil. Picis adalah mata uang senilai sepuluh senyang bentuknya kecil. Sedangkan Kawung Bribil adalah motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar daripada kawung Picis. Hal ini sesuai dengan nama bribil, mata uang yang bentuknya lebih besar daripada picis dan bernilai setengah sen. Sedangkan kawung yang bentuknya bulat-lonjong lebih besar daripada Kawung Bribil disebut Kawung Sen.