"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Putri Rasulullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Putri Rasulullah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

FATHIMAH AZ-ZAHRA’

Beliau adalah sayyidah wanita seluruh alam pada zamannya, putri keempat dari Rasulullah s.a.w. dan ibunya Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid.
Allah menghendaki kelahiran Fathimah kurang dari lima tahun sebelum Nabi diutus, dekat dengan peristiwa yang agung yaitu di saat orang-orang Quraisy rela menyerahkan hukum kepada Muhammad tentang perselisihan yang hebat di antara mereka untuk meletakkan Hajar Aswad setelah diadakan pembaharuan Ka’bah. Beliau ‘Alaihis Shalatu Wassalam dengan kecerdikan akalnya mampu menyelesaikan problem dan mencegah pertumpahan darah antara kabilah-kabilah di Arab.
Rasulullah s.a.w. mendapat kabar gembira dengan kelahiran putrinya dan nampaklah barakah dan keberuntungan dengan kelahiran putrinya. Belaiu memberikan julukan kepada Fathimah dengan “Az-Zahra’”. Beliau dikunyahkan pula dengan Ummu Abiha (ibu dari ayahnya). Beliau s.a.w. adalah yang paling mirip dengan ayahnya Muhammad s.a.w..
Fathimah tumbuh dalam rumah tangga nahawi yang penuh kasih sayang. Nabi melindungi dan menjaganya dan tekun mendidik beliau agar beliau mengambil bagian yang cukup dari adab, kasib sayang dan nasehat nahawi yang lurus. Hal yang menggembirakan ibunya, Khadijah adalah sifat Fathimah yang baik, lemah lembut dan terpuji.
Dengan sifat-sifat itulah Fathimah tumbuh di atas kehormatan yang sempurna, jiwa yang berwibawa, cinta akan kebaikan dan akhlak yang baik mengambil teladan dari ayahnya Rasulullah s.a.w. yang menjadi contoh agung bagi Fathimah dan sebagai teladan yang baik dalam seluruh tindak-tanduknya.
Manakala usia Fathimah mendekatj usia lima tahun, mulailah suatu perubahan besar dalam kehidupan ayahnya dengan turunnya wahyu kepada beliau. Sehingga Fathimah turut merasakan mula pertama ujian dakwah. Beliau menyaksikan dan berdiri di samping kedua orang tuanya serta membantu keduanya dalam menghadapi setiap mara bahaya.
Beliau juga menyaksikan serentetan tipu daya orang-orang kafir terhadap ayahnya yang agung, sehingga beliau berangan-angan seandainya saja dia mampu, maka akan ditebus dengan nyawanya untuk menjaga beliau dari gangguan orang-orang musyrik. Hanya saja ketika itu beliau masih kecil.
Di antara penderitaan yang paling berat pada permulaan dakwah adalah pemboikotan yang kejam yang dilakukan oleh kaum musyrikin terhadap kaum muslimin bersama Bani Hasyim pada suku Abu Thalib. Sehingga pemboikotan dan kelaparan tersebut berpengaruh kepada kesehatan beliau. Sehingga sisa umurnya yang panjang beliau alami dengan lemahnya fisik.
Belum lagi Az Zahra’ kecil keluar dari ujian pemboikotan, tiba-tiba wafatlah ibunya yaitu Khadijah yang menyebabkan jiwa beliau penuh dengan kesedihan, penderitaan dan kesusahan.
Setelah wafatnya ibunda beliau, beliau merasakan ada tanggung jawab dan pengorbanan yang besar dihadapannya untuk membantu ayahnya, Nabi Muhammad s.a.w. yang sedang meniti jalan yang keras di jalan dakwah kepada Allah. Terlebih-lebih setelah wafatnya pamanda beliau Abu Thalib dan istri beliau yang setia yakni Khadijah.
Sehingga berlipat gandalah kesungguhan dan beban Fathimah dalam memikul beban dengan sabar dan teguh mengharap pahala Allah. Beliau mendampingi sang ayah dan maju sebagai pengganti tugas-tugas ibunya yang mana ibunya adalah seorang ibu yang paling utama dan istri yang paling mulia. Dengan sebab itulah Fathimah diberi gelar dengan “Ibu dari ayahnya”.
Ketika Rasulullah mengijinkan bagi para sahabat untuk hijrah ke Madinah, beliau menjaga rumah yang agung yang mana tinggal pula di dalamnya Ali bin Abi Thalib yang mempertaruhkan jiwanya untuk Rasulullah s.a.w.. Beliau tidur di tempat tidurnya Rasulullah s.a.w. untuk mengelabuhi orang-orang Quraisy (agar mereka menyangka bahwa Nabi belum keluar). Selanjutnya Ali menangguhkan hijrah beliau selama tiga hari di Makkah untuk mengembalikan titipan orang-orang Quraisy yang dititipkan kepada Rasulullah s.a.w. yang telah berhijrah.
Setelah hijrahnya Ali, maka hanya Fathimah dan saudara wanitanya Ummi Kultsum yang masih tinggal di Makkah sampai Rasulullah mengirimkan sahabat untuk menjemput keduanya yakni pada tahun ketiga setelah hijrah. Ketika itu umur Fathimah telah mencapai 18 tahun. Beliau melihat di Madinah para muhajirin dapat hidup tenang dan telah hilang rasa kesepian tinggal di negeri asing. Rasulullah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan anshor sedangkan beliau mengambil Ali sebagai saudara?
Setelah menikahnya Rasulullah dengan sayyidah ‘Aisyah maka orang-orang utama di kalangan sahabat mencoba melamar Az Zahra’ setelah mereka tadinya menahan diri karena keberadaan dan tugas Fathimah di sisi Rasulullah s.a.w..
Di antara sahabat yang melamar Az Zahra’ adalah Abu Bakar dan Umar, akan tetapi Nabi menolak dengan cara yang halus. Kemudian Ali bin Abi Thalib mencoha mendatangi Nabi untuk meminang Fathimah. Ali bercerita : “Aku ingin mendatangi Rasulullah s.a.w. untuk meminang putri beliau yaitu Fathimah. Aku berkata : “Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa.” Kemudian aku ingat akan kebaikan beliau maka aku beranikan diri untuk meminangnya. Nabi bersabda kepadaku : “Apakah kamu memiliki sesuatu?” Aku berkata : “Tidak ya Rasulullah.” Kemudian beliau bertanya “Lantas di manakah baju besi Al-Khuthaimah yang pernah aku berikan kepadamu pada hari lalu?”“Masih aku bawa ya Rasulullah Jawabku. Selanjutnya Nabi bersabda: ‘Berikanlah barang itu kepada Fathimah sebagai mahar.”
Kemudian segeralah Ali pergi dan sebentar kemudian datang dengan membawa baju besi. Rasulullah memerintahkan kepada beliau untuk menjualnya, kemudian hasilnya sebagai perlengkapan pernikahan. Akhirnya baju besi tersebut dibeli oleh Utsman bin ‘Affan dengan harga 470 dirham. Lalu Ali menyerahkan uang tersebut kepada Rasulullah s.a.w.. Maka beliau menyerahkan sebagim uang tersebut kepada bilal untuk dibelikan parfum dan wewangian, sedangkan sisanya diserahkan kepada Ummu Salamah untuk dibelikan perlengkapan pengantin.
Selanjutnya Nabi mengundang para sahabat dan mempersaksikan kepada mereka bahwa beliau telah menikahkan putrinya Fathimah dengan Ali bin Abi Thalib dengan mahar 400 mitsqal perak menurut sunnah yang lurus dan berdasarkan faridhah yang wajib. Beliau mengakhiri khutbah nikahnya dengan memohonkan barakah kepada Allah bagi kedua mempelai serta mendo’akan mereka agar menjadi keluarga yang shalih. Setelah itu beliau menyambut para tamu yakni para sahabat yang mulia yang tersedia di hadapan mereka dengan buah kurma.
Pada malam pernikahan Az Zahra’ bersama Farisul Islam Ali bin Abi Thalib, Rasulullah s.a.w. memerintahkan Ummu Salamah agar membawa pengantin putri ke rumah Ali bin Abi Thalib yang telah dipersiapkan sebagai tempat tinggal mereka berdua, dan beliau meminta agar mereka berdua menunggu beliau di sana.
Setelah shalat Isya’, Rasulullah s.a.w. mendatangi keduanya, kemudian beliau meminta diambilkan air dan beliau berwudhu dengannya lalu menuangkan air tersebut kepada mereka berdua seraya berdo’a “Ya Allah berkahilah keduanya, berikanlah barakah atas mereka dan berkahilah keturunan mereka berdua.”
Maka bergembiralah kaum muslimin dengan pernikahan Az-Zahra’dan imam Ali. Datang pula Hamzah paman Rasulullah dan juga paman Ali dengan membawa dua biri-biri kemudian disembelih lalu para sahabat memakannya di Madinah.
Belum genap satu tahun setelah pernikahan keduanya, Allah mengaruniakan penyejuk pandangan kepada Fathimah dan kekasihnya dengan lahirnya cucu pertama dari Rasulullah s.a.w. yang diberi nama Hasan bin Ali pada tahun ketiga setelah hijrah. Sehingga hal itu menggembirakan Nabi s.a.w. dengan kegembiraan yang besar, maka didengungkanlah adzan ke telinga bayi, dan digosoklah langit-langit mulut bayi tersebut dengan kurma serta diberi nama “Hasan”, lalu digundullah kepalanya dan disedekahkanlah perak seberat rambut tersebut kepada orang-orang fakir.
Belum lagi umur Hasan berumur satu tahun menyusul kemudiin lahirlah Husein pada bulan Sya’ban tahun 4 Hijriyah.
Maka terbukalah hati Nabi s.a.w. terhadap kedua cucunya yang berharga yakni Hasan dan Husein, sungguh beliau melihat bahwa kedua cucunya memiliki arti khusus bagi kehidupan beliau di muka bumi ini, maka beliau melimpahkan kecintaan dan kasih sayang yang dalam kepada keduanya. Tatkala turun ayat yang artinya :
“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. A1-Ahzab : 33)

Adalah Nabi ketika itu bersama Ummu Salamah dan beliau mengundang Fathimah, Ali, Hasan dan Husein kemudian beliau menyelimuti mereka dengan kain seraya berdo’a :
“Ya Allah inilah ahli baitku, Ya Allah hilangkanlah dosa-dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka dengan sebersih-bersihnya.”

Demikianlah Rasulullah s.a.w. mengulanginya tiga kali kemudian beliau melanjutkan do’anya :
“Ya Allah jadikanlah shalawat-Mu dan barakah-Mu terlimpah kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkannya kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. “

Kemudian diikuti buah yang penuh barakah yakni Fathimah melahirkan anak wanita pada tahun 5 Hijriyah yang oleh kakeknya diberi nama Zainab. Setelah berselang dua tahun lahir seorang anak wanita lagi yang diberi nama oleh Rasulullah Ummi Kultsum.
Karena itulah Allah telah mengaruniakan kepada Az-Zahra’ nikmat yang agung karena keturunan Nabi hanya diteruskan oleh anaknya, demikian pula Allah telah menjaga mereka yang memiliki silsilah keturunan yang paling mulia yang dikenal oleh manusia.
Karena kecintaan Rasulullah kepada putrinya yakni Fathimah, apabila pulang dari safar, beliau masuk masjid lalu shalat dua rekaat kemudian mendatangi Fathimah baru kemudian mendatangi istri-istri beliau. Telah diceritakan oleh Ummul mukminin ‘Aisyah, “Belum pernah aku melihat orang yang paling mirip dengan Rasulullah s.a.w. dalam berbicara melebihi Fathimah, apabila dia masuk menemui Nabi, maka Nabi berdiri untuk menyambutnya dan menciumnya serta melapangkan tempatnya. Begitu pula sebaliknya perlakuan Fathimah terhadap Nabi.”
Sungguh Rasulullah s.a.w. telah menggambarkan kecintaannya kepada putri beliau yang mulia tatkala beliau berkhutbah di mimbar : “Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dagingku, maka barangsiapa yang menjadikan dia marah berarti telah menjadikan aku marah.”
Dan dalam riwayat lain : “Sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari potongan dagingku, maka barangsiapa yang mendustainya berarti mendustaiku dan barangsiapa yang mengganggunya berarti dia mengganggu diriku.“

Sekalipun demikian melimpahnya kecintaan ini akan tetapi Nabi s.a.w. menjelaskan kepada putrinya dan juga yang lain agar senantiasa beramal dan berbekal takwa. Suatu hari beliau berdiri dan berseru :
 “Wahai sekalian orang-orang Quraisy jagalah diri kalian, sesungguhnya aku tidak dapat membantu kalian di sisi Allah sedikit pun, wahai... wahai... wahai Fathimah binti Muhammad mintalah kepadaku hartaku yang kamu sukai, aku tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah sedikit pun.”
Dalam riwayat lain: “Wahai Fathimah binti Muhammad selamatkanlah dirimu dari naar, karena sesungguhnya aku tidak kuasa memberikan madharat dan manfaat di sisi Allah. “
Dan Tsauban berkata : “Rasulullah s.a.w. masuk ke rumah Fathimah sedangkan ketika itu aku bersama beliau s.a.w.. Fathimah mengambil kalung emas dari lehernya seraya berkata: “Ini adalah kalung yang di hadiahkan Abu Hasan kepadaku.” Maka beliau bersabda : “Wahai Fathimah apakah engkau senang jika orang-orang berkata : inilah Fathimah binti Muhammad sedangkan di tangannya ada kalung dari naar?” Kemudian beliau memarahi Fathimah dengan keras dan menghardiknya, kemudian beliau keluar tanpa duduk terlebih dahulu. Maka Fathimah mengambil sikap untuk menjual kalungnya, kemudian hasilnya beliau belikan seorang budak wanita setelah itu beliau merdekakan. Tatkala hal ini sampai kepada Rasulullah s.a.w. , bersabdalah beliau : “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan Fathimah dari naar. “
Maka kedudukan yang telah diraih oleh Fathimah di sisi ayahnya Rasulullah s.a.w. tersebut tidak menghalangi Rasulullah memarahinya, mencelanya bahkan mengancamnya dan bahwasanya sekali-kali Rasulullah s.a.w. tidak dapat menolong Fathimah dari kehendak Allah. Bahkan beliau juga memberikan ancaman, seandainya dia mencuri, maka akan ditegakkanlah hukum atasnya yakni hukum potong tangan. Sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang seorang wanita A1-Makhzumiyah yang mencuri kemudian kaumnya memintakan ampunan agar wanita tersebut bebas melalui Usamah bin Zaid bin Haritsah kekasih Rasulullah s.a.w., maka beliau bersabda : “Demi Allah seandainya Fathimah binti Muhammad itu mencuri niscaya akan aku potong tangannya.”
Bahkan lebih dari itu, dengan kapasitas kecintaan Nabi yang sangat mendalam kepada Fathimah, beliau lebih mendahulukan pemberiannya kepada orang-orang fakir dari yang membutuhkan daripada Fathimah, sekalipun beliau menghadapi sulit dan susahnya kehidupan. Ali berkata kepada Fathimah , “Alangkah lelahnya engkau wahai Fathimah sehingga menyedihkan hatiku. Sungguh Allah telah memberikan tawanan kepada Rasulullah s.a.w., maka mintalah kepada beliau satu tawanan saja yang akan membantumu dalam bekerja!” Fathimah menjawab, “Akan aku lakukan insya Allah.”
Kemudian Fathimah mendatangi Nabi s.a.w., tatkala beliau melihat kedatangannya beliau menyambutnya dan bertanya, “Ada keperluan apa engkau datang ke sini wahai anakku?” Fathimah menjawab, “Kedatanganku ke sini untuk mengucapkan salam buat ayah.” Tiba-tiba beliau malu untuk mengutarakan permintaannya, maka beliau pulang dan kembali lagi bersama Ali, lalu Ali menceritakan keadaan Fathimah kepada Nabi s.a.w.. Namun Rasulullah bersabda:
“Demi Allah aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua sedangkan aku membiarkan ahlu shuffah dalam keadaan lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku infakkan kepada mereka, tapi aku akan menjual para tawanan tersebut dan hasilnya akan aku infakkan kepada mereka.”
Maka kembalilah mereka berdua ke rumahnya kemudian Rasulullah s.a.w. mendatangi keduanya. Beliau masuk rumah mereka dan mendapatkan keduanya sedang berselimut yang apabila ditutupkan kepalanya maka terbukalah kakinya dan apabila ditutupkan kakinya maka terbukalah kepalanya. Keduanya hendak bangkit untuk menyambut Nabi s.a.w. namun beliau bersabda “Tetaplah di tempat kamu berdua..! Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta kepadaku itu?” Mereka berdua menjawab, “Mau ya Rasulullah!’ Kemudian beliau bersabda : “Kuajarkan kepada kalian kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, ucapkanlah setiap selesai shalat fardhu Subhanallah 10 kali, Alham dulillah 10 kali, dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur maka bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu adalah lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu.”

Maka Ali berkata: “Demi Allah, aku tidak meninggalkan kata-kata ini sejak beliau mengajarkannya kepadaku.” Salah seorang sahabat bertanya, “Tidak kau tinggalkan juga tatkala malam di perang shiffin?” Beliau menjawab, “Walaupun di malam perang shiffin.”
Sungguh sayyidah Fathimah telah melalui banyak kejadian-kejadian besar yang ruwet dan sangat keras, hal itu beliau alami sejak usia muda tatkala wafatnya ibu beliau, disusul kemudian saudara perempuannya yang bernama Ruqayyah, kemudian pada tahun 8 Hijriyah wafatlah kakaknya yakni Zainab dan pada tahun 9 Hijriyah menyusul kemudian wafatnya Ummi Kultsum.
Beliau juga menanggung hidup dalam kekurangan dan banyak mengalami kesulitan dan kesusahan. Akan tetapi seorang wanita yang dibina oleh Rasulullah tidak akan bersedih hati terlebih lagi berputus asa. Bahkan beliau adalah profil dan wanita yang sabar, konsisten dan muhajirah.
Tatkala Rasulullah s.a.w. melakukan haji yang terakhir (Hujjatul wada’) dan telah meletakkan dasar-dasar Islam dan Allah telah menyempurnakan dienul Islam, Rasulullah menderita sakit. Manakala Fathimah mendengar berita tersebut beliau dengan segera pergi menemui ayahnya untuk menghibur dan menenangkan hatinya, sementara Rasululah s.a.w. ketika itu bersama Ummul Mukminin ‘Aisyah . Pada saat Nabi s.a.w. melihat kedatangan putrinya, dengan riang gembira beliau bersabda, Selamat datang wahai putriku,’ kemudian beliau menciumnya dan mendudukkannya dikanannya atau di kirinya, kemudian Nabi s.a.w.  membisikkan sesuatu kepadanya sehingga membuat Fathimah menangis dengan tangisan yang memilukan, namun ketika Nabi melihat kesedihannya beliau membisikkan kepadanya untuk yang kedua kali sehingga menyebabkan Fathimah tertawa. ‘Aisyah berkata: “Rasulullah s.a.w. mengistimewakan engkau dari seluruh wanita anggota keluarganya dalam hal yang rahasia, tapi kamu malah menangis?” Tatkala Rasulullah sedang berdiri, ‘Aisyah bertanya, “Apa yang Rasulullah katakan kepadamu?” Fathimah menjawab, “Aku tidak akan menyebarkan rahasia Rasulullah s.a.w.”
‘Aisyah berkata: “Ketika Rasulullah wafat aku berkata kepada Fathimah, aku bertekad agar engkau menceritakan kepadaku tentang apa yang telah dikatakan Rasulullah s.a.w. kepadamu.” Fathimah berkata: “Adapun sekarang, baiklah aku ceritakan. Pada saat beliau membisiki aku yang pertama, beliau mengatakan bahwa biasanya Jibril memeriksa bacaan Qur’annya sekali dalam setahun, akan tetapi sekarang Jibril memeriksa bacaannya dua kali dan beliau merasa ajalnya sudah dekat. Maka takutlah kepada Allah dan bersabarlah, Sesungguhnya aku adalah sebaik-baik penghulu bagimu. Maka aku menangis dengan tangisan yang engkau lihat. Tatkala beliau melihatku sedih, beliau membisiki aku untuk yang kedua kalinya, beliau bersabda: “Wahai Fathimah relakah engkau menjadi ratu bagi para wanita di jannah? Dan engkau adalah anggota keluargaku yang paling cepat menyusulku.”
Mendengar kabar tersebut maka aku tertawa.’”
Semakin bertambahlah rasa sakit yang di derita oleh Rasulullah s.a.w. dan bertambah sedihlah Fathimah. Beliau berdiri disamping ayahnya untuk menjaga dan membantu beliau serta berusaha untuk bersabar. Akan tetapi manakala Fathimah melihat ayahnya nampak berat dan mulai kesakitan, Fathimah menangis tersedu-sedu dan berkata dengan suara lirih menandakan kesedihan, “Sakit wahai ayah..?” Maka beliau bersabda : “Tidak ada sakit lagi bagi ayahmu setelah hari ini.”
Tatkala beliau wafat Fathimah berkata : “Wahai ayah engkau telah memenuhi panggilan Rabb-mu.. wahai ayah jannah firdaus adalah tempat tinggalmu.. .wahai ayah kepada Jibril kami beritahukan wafatmu
Ketika Nabi ‘Alaihis shalatu wassalam dikubur, Fathimah berkata : “Wahai Anas bagaimana kalian tega menimbun ayah dengan tanah?’ Maka menangislah Az-Zahra’ ibu dan ayahnya dan menangislah kaum muslimin seluruhnya atas kematian Nabi dan Rasul Muhammad s.a.w. dan mereka ingat firman Allah :
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul.” (Ali Imran : 144).
Dan juga firman Allah :
“Kami tidak rnenjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu wafat, apakah mereka akan kekal?” (Al-Anbiya’ : 34)

Tidak beberapa lama kemudian setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. kira-kira enam bulan, Az-Zahra’sakit namun dirinya bergembira dengan kabar gembira yang telah dikabarkan oleh ayahanda beliau s.a.w., bahwa dirinya adalah anggota keluarga pertama yang akan bertemu dengan Nabi, dan berpindahlah Fathimah keharibaan Allah pada malam selasa pada tanggal 3 Ramadhan 11 Hijriyah tatkala beliau berumur 27 tahun.
Semoga Allah merahmati Az-Zahra’ Raihanah (bunga yang harum) putri dari penghulu anak Adam, istri dari penghulu para prajurit penunggang kuda dan ibu dari Hasan dan Husein bapaknya para syuhada’ dan ibu dari Zainab pahlawan Karbala’.
Sungguh Az-Zahra’ telah memberikan teladan yang istimewa bagi kita, profil yang paling tinggi dalam hidupnya dan sungguh beliau adalah contoh yang paling tinggi sebagai istri shalihah yang bersabar menghadapi kesulitan dan kesempitan hidup. Beliau juga merupakan tokoh paling ideal dalam bergaul dengan tetangga dan kerabat-kerabatnya. Beliau adalah qudwah dalam menasehati umat dan pemberi arahan bahkan bagi anggota keluarganya.
-------------------------------------------------------
NISAA' HAULAR RASUL, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), MENGENAL SHAHABIAH NABI S.A.W. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 117 – 129

Minggu, 01 April 2012

UMMU KULTSUM

Beliau adalah seorang wanita yang padat tubuhnya, cantik wajahnya dan lebar kedua pipinya. Rasulullah s.a.w. memberikan nama bagi beliau Ummu Kultsum. Beliau dilahirkan setelah kakaknya yang bernama Ruqayyah. Keduanya sama besar dan sangat mirip dan saling mengasihi dan seolah-olah mereka berdua kembar.
Tatkala Ruqayyah dan Ummu Kulstum telah mencapai usia dewasa, kedua-duanya dipinang secara bersamaan untuk kedua anak Abu Lahab, yaitu Utbah dan Utaibah. Akan tetapi Allah menghendaki kebaikan kepada Ruqayyah dan Ummu Kultsum, maka mereka berdua dikembalikan secara bersama-sama pula sesuai dengan perintah Abu Lahab sang musuh Allah kepada kedua anaknya, “Kepalaku dan kepala kalian berdua haram jika kalian berdua tidak mau menceraikan kedua anak Muhammad.”
Begitulah, dengan perceraian tersebut Ummu Kultsum selamat dari kesulitan hidup bersama pembawa kayu bakar (istri Abu Lahab), begitu pula Ruqayyah juga selamat dari kesengsaraan tersebut bahkan pada gilirannya Ruqayyah dinikahi oleh Utsman bin Affan, selanjutnya beliau berhijrah ke Habsyah.
Maka tinggalah Ummu Kultsum bersama adiknya yaitu Fathimah berada di rumah ayahnya di Makkah ikut membantu ibunya yakni Khadijah Ummul mukminin menghadapi beratnya kehidupan dan ikut meringankan gangguan orang-orang musyrik yang ditujukan kepada kedua orang tuanya.
Hingga sampai pada puncak kebodohannya, orang-orang Quraisy memutuskan untuk memboikot kaum muslimin dan Bani Hasyim. Pemboikotan ketika itu berupa menghalangi mereka dari berbagai keperluan, menggencet ekonomi dan kemasyarakatan. Maka di sanalah sebagaimana orang lain, Ummu Kultsum juga termasuk di antara orang yang merasakan sempitnya hidup karena pemboikotan dan merasakan perihnya rasa lapar yang amat sangat, sampai-sampai mereka makan daun-daunan pohon. Hal itu berlangsung hingga tiga tahun lamanya.
Pada saat itulah Ummu Kultsum memiliki tanggung jawab yang paling besar, karena ibunya Khadijah menderita sakit karena pemboikotan tersebut maka beliau hanya bisa berbaring di tempat karena sakit parah. Ditambah lagi adiknya Fathimah Azhra’ masih butuh penjagaan dan bantuannya. Dan tidak lain Ummu Kultsumlah yang senantiasa merawat ibunya yang sedang mengurusi adiknya dan turut meringankan beban penderitaan dan kesedihan ayahnya.
Setelah kaum muslimin keluar dari ujian pemboikotan, maka bertambahlah ujian yang menimpa mereka dan bertambah kuat pula tekad mereka dengan adanya cobaan tersebut. Di rumah nubuwwah di Makkah Khadijah Ummul mukminin sedang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sementara ke tiga putrinya, Zainab, Ummu Kultsum dan Fathimah mengelilingi beliau. Begitu pula suami yang dicintainya duduk di sampingnya ikut meringankan sakaratul maut dan memberi kabar gembira kepada istrinya dengan apa yang telah Allah janjikan untuk dirinya berupa nikmat di akherat.
Pada tanggal 10 Ramadhan tahun kesepuluh setelah bi’tsah, berangkatlah ruh yang suci menghadap Allah Azza wa Jalla. Maka Ummu Kultsum menjadi orang yang paling bertanggung jawab mengurus rumah tangga Nubuwah yang suci.
Setelah orang-orang Quraisy merasa gagal untuk mencegah beliau melalui bidang politik dan kemasyarakatan, mereka memutuskan untuk melenyapkan Nabi s.a.w. Akan tetapi Allah telah memberitahukan kepada beliau tentang rahasia musuh dan memerintahkan kepada beliau untuk hijrah ke Yatsrib.
Kaum muslimin hijrah menuju tempat yang memiliki izzah dan pembela. Begitu pula Rasulullah hijrah dengan ditemani sahabat beliau Abu Bakar Ash Shidiq, sedangkan yang tetap tinggal adalah Ummu Kultsum dan Fathimah di Makkah dengan menjaga keselamatan mereka hingga Rasulullah mengirimkan utusan yakni Zaid bin Haritsah untuk menjemput mereka berdua menuju Yatsrib.
Dan setelah dua tahun Rasulullah tinggal di Madinah, Ummu Kultsum menyaksikan kembalinya Nabi dari perang Badar dengan membawa kemenangan. Namun beliau juga menyaksikan wafatnya saudarinya yang mirip dengannya yakni Ruqayyah istri Utsman bin Affan karena sakit yang dideritanya.
Bersamaan dengan permulaan tahun ketiga Hijriyah, Ummu Kultsum sering melihat Utsman bin Affan bolak-balik menemani ayahnya untuk mencari jalan keluar yang dapat menghibur dirinya setelah kehilangan istri yang sangat berarti bagi dirinya. Pada saat yang sama Umar bin Khaththab menemui Rasulullah untuk mengadu dan nampak marah atas sikap Abu Bakar dan Utsman yang menolak tatkala Umar menawarkan kepada mereka untuk menikahi putrinya yaitu Hafshah. Ketika itu Ummu Kultsum mendengar ayahnya ‘Alaihish Shalatu Wassalam bersabda kepada Umar dengan lemah lembut :
“Hafshah akan dinikahi oleh orang yang lebih baik daripada Utsman dan Utsman akan menikah dengan wanita yang lebih baik daripadi Hafshah.“
Maka berdebar-debarlah hati Ummu Kultsum, karena dengan kecerdasannya beliau bisa menangkap maksud ayahnya bahwa diri akan dinikahkan dengan Utsman, sebab siapa lagi yang lebih baik daripada Hafshah binti Umar selain putri Nabi s.a.w.?
Ketika Ummu Kultsum mengenang saat-saat bersama saudari dekatnya, Ruqayyah tatkala masih hidup, tiba-tiba Rasulullah s.a.w. memanggil beliau untuk menyampaikan kabar.
Kemudian dilakukanlah akad nikah antara Ummu Kultsum dengan Utsman bin Affan, pada hari itu pula Utsman dijuluki “Dzun Nuuraini” sebab belum pernah ada seorangpun yang dinikahkan dengan dua putri Nabi selain dirinya. Berpindahlah Ummu Kultsum ke rumah suaminya dan beliau hidup bersamanya selama enam tahun. Beliau menyaksikan Islam sampai pada puncak kejayaan. Beliau juga menyaksikan ayahnya s.a.w. keluar dalam peperangan demi peperangan untuk menguatkan Islam dan menjadikan Islam jaya. Adapun suaminya “Dzun Nuuraini” bersama dengan para sahabatnya berjihad dengan harta dan jiwa.
Ummu Kultsum juga menyaksikan “Yaumun Nashr Al-A kbar” yakni hari dibukanya kota Makkah, sehingga timbullah keinginan hati beliau untuk dapat mengunjungi kubur ibunya, hanya saja wafat telah mendahuluinya pada bulan Sya’ban tahun 9 Hijriyah. Maka Rasulullah menguburkan beliau disamping saudari dekat yang dicintainya yakni Ruqayyah.
Semoga Allah merahmati Ummu Kultsum yang ikut andil besar dalam menanggung beban dakwah di jalan Allah yang mana beliau berada pada masa yang penuh dengan penderitaan dan posisi dakwah yang paling sulit serta kerasnya hari-hari berjihad.
-------------------------------------------------------
NISAA' HAULAR RASUL, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), MENGENAL SHAHABIAH NABI S.A.W. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 130 – 133

Minggu, 25 Maret 2012

RUQAYYAH

Ruqayyah dilahirkan setelah kakaknya Zainab. Tidak beberapa lama kemudian lahirlah adiknya yang bernama Ummu Kultsum. Mereka tumbuh sejajar dengan berkumpul dan saling berkasih sayang.
Setelah Zainab dinikahi oleh Abu A1-’Ash bin Rabi’, sedangkan umur Ruqayyah dan Ummu Kulstum mendekati usia kawin, maka datanglah kepada Nabi utusan dari keluarga Abdul Muththalib yang mewakilkan Abu Thalib, dia melamar kedua putrinya yakni Ruqayyah dan Ummu Kuitsum untuk kedua anak Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib (Abu Lahab) yakni Utbah dan Utaibah.
Ketika itu Muhammad belum diangkat menjadi Nabi, maka Muhammad menerima lamaran tersebut, maka beliau meminta tangguh kepada utusan tersebut untuk mengutarakan kepada keluarganya dan kedua putrinya yang memiliki kepentingan dalam hal itu.
Khadijah diam karena takut mengutarakan pendapatnya, khawatir akan menyebabkan kemarahan suaminya, atau beliau juga khawatir kalau-kalau suaminya menduga bahwa dia berkeinginan memutuskan hubungan kekerabatan antara suaminya dengan keluarganya.
Begitu pula dua gadis putri Rasulullah juga diam karena malu. Begitulah keadaannya, maka terlaksanalah akad nikah, sang ayah memberkahi kedua putrinya yang disayanginya dan menyerahkan penjagaannya kepada Allah.
Sebentar kemudian, Muhammad s.a.w. menerima risalah dari Rabb-nya dan mengajak kepada dien yang haq. Kemudian berkumpullah orang-orang Quraisy untuk membicarakan tentang Rasulullah s.a.w. Berkata salah seorang di antara mereka, “Sesungguhnya kalian telah memberi peluang kepada Muhammad terhadap kepentingannya, maka kembalikanlah kedua putrinya agar dia sibuk mengurusi mereka..!” Maka Abu Lahabpun mengembalikan istri dari kedua anaknya yakni kedua putri Rasulullah s.a.w. dengan mengatakan kepada kedua putranya, “Kepalaku haram atas kepala kalian jika kalian tidak mau menceraikan kedua putri Muhammad.’
Maka kembalilah kedua putri Rasulullah kepada yang punya sebelum sempurna menjadi istri dari kedua anak Abu Lahab. Abu Lahab dan istrinya (tukang pembawa kayu bakar) tidak cukup berhenti sampai disitu, bahkan sampai pada tahap menyakiti Rasulullah s.a.w. hingga Allah menurunkan ayat : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. “ (Al-Lahab : 1-5).
Akan tetapi rumah tangga mukmin tiada akan bertambah dengan ujian dan bala’ di jalan Allah melainkan semakin kokoh dan tegar. Maka Muhammad berkata kepada istrinya yang setia sejak beliau diangkat menjadi nabi : “Telah berlalu masa untuk tidur wahai Khadijah..!”

Sayyidah Khadijah menjaga betul pendidikan tersebut, sehingga beliau tetapkan jiwanya untuk berdiri mendampingi suaminya Nabi yang mulia, maka beliau selalu meneguhkan hati Rasulullah s.a.w., dan meringankan kesedihan yang menimpa beliau hingga lenyaplah kesedihannya itu.”
Begitu pula anda mendapatkan Ruqayyah dan Ummu Kultsum sesuai dengan apa yang dikehendaki ayahnya. Sehingga mereka berdua merasa nikmat dengan berbagi rasa dengan kedua orang tuanya menempuh segala macam gangguan dan rintangan di jalan Allah.
Maka luputlah persangkaan “pembawa kayu bakar” dan suaminya (Abu Lahab), begitu pula orang-orang musyrik Quraisy karena ternyata Rasulullah s.a.w. tidak menderita dengan dikembalikannya (diceraikannya) kedua putri beliau. Rasulullah s.a.w. tidak merasa mendapat kesulitan dengan diceraikannya kedua putri beliau, justru hal itu berarti Allah menyelamatkan kedua putrinya dari ujian hidup bersama kedua anak Abu Lahab dan istrinya pembawa kayu bakar. Bahkan Allah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik daripada kedua anak Abu Lahab. Allah gantikan dengan seorang suami yang shalih, mulia dan termasuk di antara delapan orang yang paling awal masuk Islam, dialah Utsman bin ‘Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdi Syams. Beliau juga termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang mendapatkan kabar gembira masuk jannah.” Dari segi nasab beliau adalah pemuda yang paling mulia nasabnya di Quraisy.
Utsman bin ‘Affan menikahi Ruqayyah sehingga membuat orang-orang Quraisy tidak bisa tidur karena jengkel dan sekaligus tercengang dengan keadaan kelompok kecil dari manusia yang berada di sekitar Muhammad dan mereka tidak ragu-ragu untuk mengikuti beliau dengan darah dan jiwa mereka.
Maka meningkatlah gangguan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin. Kaum muslimin betul-betul mendapat perlakuan buruk dari mereka. Sampai akhimya Rasulullah memberi ijin kepada para sahabat untuk hijrah ke Habsyah dalam rangka menyelamatkan diennya sehingga tidak terkena gangguan. Utsman bin Affan adalah orang pertama yang berhijrah ke Habsyah, sedangkan istri beliau Ruqayyah turut menyertainya di saat belum lama dilangsungkannya pernikahan antara keduanya.’
Maka pemuda Umayyah (Utsman bin ‘Affan) meninggalkan negeri nenek moyangnya dan mengikuti izzahnya, beliau tinggalkan pula manusia yang paling dia cintai dalam rangka berhijrah ke negeri yang jauh untuk hidup dalam keterasingan, akan tetapi yang menghibur hatinya adalah karena beliau disertai oleh putri dari penghulu anak Adam Ruqayyah sehingga apa yang beliau alami terasa ringan. Ruqayyah berkata kepada suaminya : “Allah menyertai kita dan orang-orang yang berada di sekitar Baitul ‘Atiq.”
Negeri Habsyah yang rajanya adalah Najasyi memberi kelonggaran kepada kaum muhajirin yang pertama, sehingga mereka tinggal di sana dengan nyaman dan merdeka untuk beribadah kepada Allah tanpa ada yang mengusik mereka dan mengganggu posisi mereka melainkan mata-mata Quraisy yang mengikuti mereka hingga mendatangi raja Najasyi dan berita tentang keadaan keluarga mereka di Makkah yang masih menghadapi intimidasi dan siksaan dari orang-orang Quraisy.
Kemudian berlalulah masa yang cukup lama sementara para muhajirin senantiasa mengikuti perkembangan situasi dengan cara mendengar berita-berita tentang Rasul dan para sahabatnya dalam memerangi thaghut musyrikin Quraisy. Maka tatkala mereka mendengar tentang masuk islamnya Hamzah bin Abdul Muththalib dan Umar bin Khaththab, serta tahapan dakwah telah naik kepada tahapan yang baru timbul keinginan mereka untuk kembali ke Makkah karena kerinduan mereka terhadap keluarga dan kampung halaman.
Utsman bin ‘Affan dan Ruqayyah termasuk dari mereka yang rindu untuk kembali ke Makkah. Akan tetapi belum lagi keduanya menginjakkan kakinya di negeri Makkah ternyata kekejaman semakin meningkat, bahkan mereka mendengar sendiri suara kaum musyrikin menghalang-halangi dan mengancam mereka dengan siksa dan pembantaian. Maka sebagian kaum muhajirin masuk dengan jaminan Walid bin Mughirah Al-Makhzumi dan yang lain dengan jaminan Abu Thalib bin Abdul Muthalib.
Ruqayyah adalah orang yang paling sedih di antara yang kembali karena wafatnya ibu beliau Khadijah , akan tetapi beliau senantiasa bersabar terhadap takdir dan qadha’ dari Allah dan Ruqayyah dikenal sebagai seorang gadis yang mujahadah dan sabar
Tidak lama setelah tinggalnya Ruqayyah di Makkah kaum muslimin berhijrah ke Madinah bersama Rasulullah . Maka Ruqayyah turut serta berhijrah bersama suaminya menuju negeri hijrah yang baru dan di negeri inilah beliau melahirkan putranya yang bernama Abdullah. Beliau merasa bahagia dengan kelahiran tersebut sehingga hilanglah penderitaan yang telah lampau. Akan tetap kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama, sebab putra yang dicintai meninggal di saat berumur enam bulan tatkala dipatuk ayam jantan. Karena musibah yang berat tersebut mengakibatkan Ruqayyah jatuh sakit demam. Suami yang mengasihinya merawat beliau dan menggantikan tugas-tugasnya. Tidak lama kemudian yakni hanya beberapa hari kemudian Utsman mendengar suara panggilan jihad dan seruan untuk keluar ke Badar. Timbullah keinginan Utsman untuk menjawab panggilan yang agung tersebut Akan tetapi Rasulullah memerintahkan kepada beliau untuk tetap tinggal di sisi istrinya untuk merawat dan membantunya.
Semakin lama sakitnya semakin bertambah parah sakit beliau dan suaminya yang setia berada di sampingnya, hingga Ruqayyah wafat dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka beliau menghadap Rabb-nya sedangkan beliau menjadi profil seorang istri yang sabar dan seorang muhajirah. Beliau juga menjadi teladan yang cemerlang bagi wanita yang suci dan pengasih.
-------------------------------------------------------
NISAA' HAULAR RASUL, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), MENGENAL SHAHABIAH NABI S.A.W. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 112 – 116

Sabtu, 17 Maret 2012

ZAINAB AL-KUBRA

Zainab dilahirkan sepuluh tahun sebelum diangkat ayah beliau sebagai Nabi. Beliau putri pertama Rasulullah dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid .
Zainab tumbuh dalam keluarga nubuwwah dengan meneguk akhlak dan kebiasaan kedua orang tuanya secara langsung. Muhammad s.a.w. diutus sebagai rahmat untuk sekalian alam yang memiliki akhlak yang agung. Sedangkan Khadijah adalah sayyidah wanita seluruh alam. Maka tumbuhlah Zainab menjadi teladan yang utama dalam seluruh sifat-sifat yang terpuji.
Hampir sempurnalah sifat kewanitaan Zainab, sehingga putra dari bibinya yang bernama Abul ‘Ash bin Rabi’ salah seorang yang terpandang di Makkah dalam hal kemuliaan dan harta berhasrat untuk melamar beliau. Dia adalah pemuda Quraisy yang tulus dan bersih, nasabnya bertemu dengan Nabi dari jalur bapaknya, yakni Abdi Manaf bin Qushai. Adapun dari jalur ibu, nasabnya bertemu dengan Zainab pada kakek mereka berdua yakni Khuwailid. Karena ibunya adalah Halah binti Khuwailid saudari Khadijah yang merupakan istri dari nabi kita Muhammad s.a.w..
Abul ‘Ash mengenal betul tentang kepribadian dan sifat Zainab karena dia sering berkunjung ke rumah bibinya yakni Khadijah. Begitu pula Zainab dan kedua orang tuanya juga telah mengenal bagusnya Abu A1-’Ash. Oleh karena itu diterimalah lamaran dari pemuda yang telah diridhai Nabi s.a.w. dan Khadijah juga oleh Zainab.
Maka masuklah Zainab ke dalam rumah tangga suaminya yakni Abu A1-’Ash. Dalam usianya yang masih muda, Zainab mampu mengatur rumah tangga suaminya hingga menumbuhkan kebahagiaan dan ketenteraman. Allah mengkaruniai dalam perkawinan ini dua orang anak yang bernama Ali dan Umamah. Maka semakin sempurnalah kebahagiaan rumah tangga dengan kehadiran keduanya, dalam rumah penuh dengan kebahagiaan dan kenikmatan.
Pada suatu saat ketika Abul ‘Ash berada dalam suatu perjalanan, terjadilah peristiwa besar dalam sejarah kehidupan manusia. Yaitu diangkatnya Muhammad sebagai Nabi dengan membawa risalah. Bersegeralah Zainab menyambut seruan dakwah yang haq yang dibawa oleh orang tuanya yakni Rasulullah s.a.w.. Beliau jadikan dienullah sebagai pedoman hidup dan undang-undang yang mana beliau berjalan di atasnya.
Tatkala suaminya kembali dari bepergian, Zainab menceritaka perubahan yang terjadi pada kehidupannya yang mana bersamaan dengan kepergiaan suaminya muncullah dien yang baru dan lurus. Beliau menduga bahwa suaminya akan bersegera menyatakan keislamannya. Akan tetapi beliau mendapatkan bahwa suaminya mensikapi kabar tersebut dengan diam dan tidak bereaksi.
Kemudian Zainab mencoba dengan segala cara untuk meyakinkan suaminya, namun dia menjawab, “Demi Allah, bukannya saya tidak percaya dengan ayahmu, hanya saja saya tidak ingin di katakan bahwa aku telah menghina kaumku dan mengkafirkan agama nenek moyangku karena ingin mendapatkan keridhaan istriku”.
Hal itu rnerupakan pukulan yang telak bagi Zainab karena suaminya tidak mau masuk Islam. Maka isi rumah tangga menjadi guncang dan gelisah. Dan tiba-tiba kegembiraan berubah menjadi kesengsaraan.
Zainabpun tinggal di Makkah di rumah suaminya dan tidak ada seorangpun di sekelilingnya yang dapat meringankan penderitaannya karena jauhnya dirinya dengan kedua orang tuanya Ayahnya telah berhijrah ke Madinah A1-Munawarah bersama sahabat-sahabatnya sedangkan ibunya telah menghadap Ar-Rafiiqul A’la dan saudari-saudarinyapun telah menyusul ayahnya di bumi hijrah. Tatkala pecah perang Badar, kaum musyrikin mengajak Abu Al- ‘Ash keluar bersama mereka untuk memerangi kaum muslimin. Akhirnya nasib suaminya adalah menjadi tawanan kaum muslimin.
TatkaIa Abu A1-’Ash dihadapkan kepada Rasulullah s.a.w., maka Rasulullah s.a.w. bersabda kepada para sahabat : “Perlakukanlah tawanan ini dengan baik.”
Ketika itu Zainab mengutus seseorang untuk menebus suamiya dengan harta yang dibayarkan kepada ayah beliau beserta kalung yang dihadiahkan ibu beliau yakni Khadijah tatkala pernikahannya dengan Abu Al-’Ash. Tiada henti-hentinya Rasulullah s.a.w. memandang kalung tersebut sehingga menghanyutkan hati beliau untuk mengenang istrinya yang setia yakni Khadijah yang telah menghadiahkan kalung tersebut kepada putrinya. Yang mana Zainab tidak mendapatkan sesuatu yang lebih berharga untuk menebus suami yang dicintainya, juga putra bibi yang dekat dengannya. Hal ini mengetuk hati Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya karena betapa mengharukan kisah tersebut. Setelah Rasulullah beberapa saat terdiam Nabi s.a.w. bersabda dengan lembut dan santun: “Jika kalian melihatnya (sebagai kebaikan), maka bebaskanlah tawanan tersebut dan kembalikanlah harta tebusannya, maka lakukanlah! “
Para sahabat semuanya berkata: “Baik ya Rasulullah.”
Selanjutnya Rasulullah s.a.w. mengambil janji dari Abu Al-’Ash agar membiarkan jalan Zainab (untuk hijrah) karena Islam telah memisahkan hubungan antara keduanya.
Maka kembalilah Abu Al-’Ash menuju Makkah sementara Zainab menyambutnya dengan riang gembira. Akan tetapi Abu Al-’Ash datang dalam keadaan lesu ada tersirat rasa kesedihan, kemudian dia berkata kepada istrinya sedangkan kepalanya tertunduk, “Aku datang untuk berpisah wahai Zainab!.. Maka berubahlah sikap Zainab dan riang gembira menjadi sedih serta meneteskan air mata. Beliau bertanya dengan terbata-bata, “Hendak ke mana? dan untuk keperluan apa wahai suamiku yang kucintai?’ Berkatalah Abu A1-’Ash sedangkan kedua matanya menatap wajah Zainab, “Bukan saya yang akan pergi wahai Zainab... akan tetapi kamulah yang akan pergi. Karena ayahmu telah meminta kepadaku agar aku mengembalikanmu kepadanya karena Islam telah memisahkan hubungan di antara kita. Aku juga telah berjanji akan menyuruhmu untuk menyusul ayahmu, dan tidak mungkin bagiku untuk memungkiri janji.
Maka keluarlah Zainab dari Makkah, meninggalkan Abu Al ‘Ash dengan perpisahan yang sangat mengharukan. Akan tetapi orang-orang Quraisy menghalangi hijrah beliau mereka mencegah dan mengancam beliau. Ketika itu beliau sedang hamil dan akhirnya gugurlah kandungannya. Selanjutnya beliau kembali ke Makkah dan Abu Al-’Ash merawatnya hingga kekuatannya pulih kembali. Kemudian beliau keluar pada suatu hari di saat orang-orang Quraisy lengah perhatiannya. Beliau keluar bersama saudara Abu A1-’Ash yang bernama Kinanah bin Ar-Rabi’ hingga sampai kepada Rasulullah s.a.w. dengan aman.
Berlalulah masa selama enam tahun beserta peristiwa-peristiwa besar yang menyertainya, sedang Zainab berada dalam naungan ayahnya di Madinah. Beliau hidup dengan optimis tak kenal putus asa, yakni berusaha agar Allah melapangkan dada Abu Al-’Ash untuk Islam.
Pada bulan Jumadil Ula tahun 6 Hijriyah, tiba-tiba Abu A1-’Ash mengetuk pintu Zainab, kemudian Zainab membuka pintu tersebut. Seolah-olah beliau tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sehingga beliau ingin mendekat dengannya, namun beliau menahan dirinya karena seharusnyalah dipastikan tentang akidahnya, karena akidah adalah yang pertama dan yang terakhir.
Abu Al-’Ash menjawab, “Kedatanganku bukanlah untuk menyerah, akan tetapi saya keluar untuk berdagang membawa barang-barangku dan juga milik orang-orang Quraisy, namun tiba-tiba saya bertemu denga pasukan ayahmu yang di dalamnya ada Zaid bin Haritsah bersama 170 tentara. Selanjutnya mereka mengambil barang-barang yang saya bawa dan akupun melarikan diri dan sekarang aku mandatangimu dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindunganmu
Zainab yang memiliki akidah yang bersih berkata dengan rasa sedih dan iba, “Marhaban wahai putra bibi.. Marhaban wahai ayah Ali dan Umamah.
Tatkala Rasulullah selesai shalat shubuh, dan dalam kamar Zainab berteriak dengan suara yang keras, Wahai manusia sesungguhnya aku melindungi Abu A1-’Ash bin Rabi’. Maka keluarlah Rasulullah seraya bersabda: “Wahai manusia apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”
Mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.”
Beliau bersabda:
“Ada pun demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tiadalah aku mengetahui hal ini sedikit pun hingga saya mendengar sebagaimana yang kalian dengar. Dan orang-orang yang beriman adalah tangan bagi selain mereka sehingga berhak memberikan perlindungan kepada orang yang dekat dengannya, dan sungguh kita telah melindungi orang yang dilindungi oleh Zainab. “
Kemudian masuklah Rasulullah s.a.w. menemui putri beliau Zainab kemudian bersabda : “Muliakanlah tempatnya dan janganlah dia berbuat bebas kepadamu, karena kamu tidak halal baginya.”
Selanjutnya Zainab memohon ayahnya agan mau mengembalikan harta dan barang-barang Abu A1-’Ash. Maka keluarlah Rasulullah s.a.w. menuju tempat di mana para sahabat sedang duduk-duduk. Beliau bersabda :“Sesungguhnya laki-laki ini sudah kalian kenal. Kalian telah mengambil hartanya, maka jika kalian rela kembalikanlah harta itu kepadanya dan, saya menyukai hal itu, namun jika kalian menolaknya maka itu adalah fai’ (rampasan) yang Allah karuniakan kepada kalian dan apa yang. telah Allah berikan kepada kalian maka kalian lebih berhak terhadapnya.”
Para sahabat menjawab dengan serentak, “Bahkan kami akan mengembalikan seluruhnya ya Rasulullah.” Maka merekapun mengembalikan seluruh hartanya seolah-olah dia tidak pernah kehilangan sama seka1i.”
Selanjutnya Abu Al-’Ash pergi meninggalkan Zainab, dia menuju Makkah dengan membawa sebuah tekad. Tatkala orang-orang Quraisy melihat kedatangannya dengan membawa dagangan mereka beserta labanya, maka mulailah Abu Al-’Ash mengembalikan setiap yang berhak, kemudian beliau berdiri dan berseru, “Wahai orang-orang Quraisy masih adakah di antara kalian yang hartanya masih berada di tanganku dan belum diambil?” Mereka menjawab, “Tidak.. .semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, sungguh kami dapatkan bahwa anda adalah seorang yang setia janji dan mulia.” Kemudian di tempat inilah Abu Al-’Ash berkata “Adapun aku, aku bersaksi bahwa tiada ilah yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Demi Allah tiada yang menghalangi diriku untuk masuk Islam (tatkala di Madinah) melainkan karena saya khawatir kalian menyangka bahwa saya hanyalah ingin melarikan harta kalian. Maka tatkala Allah mengembalikan barang-barang kalian dan sudah aku laksanakan tanggung jawabku maka akupun masuk Islam.
Abu A1-’Ash bertolak ke Madinah sebagai seorang muslim. Beliau berhijrah menuju Allah Rasul-Nya, dan di sanalah beliau bertemu orang yang dia cintai yakni Muhammad dan para sahabatnya. Akhirnya Rasulullah s.a.w. mengembalikan Zainab kepada Abu Al-‘Ash sehingga berkumpullah keduanya. Mereka bangun rumah tangga sebagaimana sebelumnya dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Akan tetapi berkumpulnya mereka sekarang dalam akidah yang satu yang tidak dikotori oleh apapun.
Berlalulah masa selama satu tahun, kemudian tibalah saatnya perpisahan yang tidak lagi akan bertemu di dunia yang fana ini, sebab Sayyidah Zainab wafat pada tahun 8 Hijriyah karena sakit yang masih membekas pada saat keguguran ketika beliau berhijrah. Abu Al-’Ash menangisi beliau hingga menyebabkan orang-orang sekitar beliau turut menangis. Kemudian datanglah Ayah Zainab ‘Aluihish Shalatu Wassalam dalam keadaan sedih dan mengucapkan selamat tinggal lalu bersabda kepada para wanita : “Basuhlah dengan bilangan yang ganjil, tiga atau lima kali, dan yang terakhir dengan kapur barus atau sejenisnya. Apabila kalian selesai memandikan beritahukanlah kepadaku.” Tatkala mereka telah selesai memandikannya beliau memberikan kain penutup dan bersabda: “Pakaikanlah ini kepadanya.“
Semoga Allah merahmati Zainab Al-Kubra binti Rasulullah s.a.w. yang telah bersabar, berjuang dan bermujahadah, semoga Allah membalas amalan beliau seluruhnya dengan balasan yang baik.
-------------------------------------------------------
NISAA' HAULAR RASUL, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), MENGENAL SHAHABIAH NABI S.A.W. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 105 – 111