"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Beriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Beriman. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Juni 2012

Perintah Bertaubat Sungguh-sungguh

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى اللَّـهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللَّـهُ النَّبِىَّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah satu taubat yang ikhlas. Mudah-mudahan Tuhan kamu hapuskan dari pada kamu kejahatan-kejahatan kamu, dan Ia masukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir padanya sungai-sungai pada hari yang Allah tidak kecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman besertanya; cahaya mereka berjalan di hadapan mereka dan di kanan-kanan mereka; mereka berkata : “Hai Tuhan kami! sempurnakanlah bagi kami cahaya dan ampunkanlah kami; sesungguhnya Engkau atas tiap-tiap suatu Berkuasa. (QS. 66 : 8).

Tafsir Ayat
"Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah satu taubat yang ikhlas..."  Maksud kata "NASUH" yaitu murni karena Allah, sunyi dari pamrih-pamrih lain. Perkataan itu diambil dari "NUSH" (nasehat) dan menunjukkan kepada keutamaan taubat, "... Sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri." (QS 2 : 222). Rasulullah ﷺ bersabda : "Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah, dan orang yang bertaubat itu seperti orang yang tidak mempunyai dosa."
Dalam kesempatan lain Rasulullah ﷺ bersabda : "Bagi Allah, lebih baik taubat hamba yang mukmin dari pada taubat seorang laki-laki yang turun dari tunggangannya di tempat sunyi sepi padang pasir, kemudian ia meletakkan kepalanya dan jatuh tertidur. Ketika ia bangun binatang tunggangannya beserta makanan dan minumannya tidak ada. Lalu dicarinya sampai ia diserang panas, dahaga dan lain-lain, sampai ia berkata : "Aku akan kembali ke tempatku semula akan tidur sampai mati." Kemudian ia menaruh kepalanya diatas tangannya agar bisa mati. Akhirnya ia terbangun dan tiba-tiba tunggangannya beserta bekal dan minumannya datang kembali. Maka Allah lebih menyukai taubat seorang hamba mukmin daripada kesukaannya orang ini dengan kembalinya binatang tunggangannya." (Ihya 'Ulumuddin, Imam Ghazali, 9-10).
------------------------------------
Bibliography :
Ihya 'Ulumuddin Jilid IV, Imam Ghazali, Penerbit PT. Tintamas Indonesia Jakarta Pusat, Cetakan Ke-enam 1983.  
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1117.

Sabtu, 09 Juni 2012

Perintah Memelihara Diri dan Keluarga dari Api Neraka

 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang yang beriman peliharalah diri-diri kamu dan anak isteri kamu daripada neraka yang pembakarannya itu manusia dan batu, yang penjaganya itu malaikat yang kasar, yang tegak, yang tidak durhaka kepada Allah (tentang) apa yang Ia suruh mereka, dan mereka berbuat apa yang mereka diperintah. (QS. 66 : 6).

Tafsir Ayat
يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...

Makna yang dimaksud ialah didiklah mereka dan ajarilah mereka. Yakni amalkanlah ketaatan kepada Allah dan hindarilah perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah, serta perintahkanlah kepada keluargamu untuk berzikir, niscaya Allah akan menyelamatkan kamu dari api neraka. Bertakwalah kamu kepada Allah dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk bertakwa kepada Allah.

وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
 ... yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...

Waqud (وَقُودُ)artinya bahan bakarnya yang dimasukkan ke dalamnya, yaitu tubuh-tubuh anak Adam, dan batu (وَالْحِجَارَةُ).

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan batu adalah berhala-berhala yang dahulunya dijadikan sesembahan :

إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ

Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah adalah umpan Jahanam. (QS. Al-Anbiya : 98)

عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras.

Yakni watak mereka kasar dan telah dicabut dari hati mereka rasa belas kasihan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah. Merekajuga keras, yakni bentuk rupa mereka sangat keras, bengis, dan berpenampilan sangat mengerikan.
 
لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
 
yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan­Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Maksudnya, apa pun yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, maka mereka segera mengerjakannya tanpa terlambat barang sekejap pun, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengerjakannya: tugas apa pun yang dibebankan kepada mereka, mereka tidak mempunyai kelemahan. Itulah Malaikat Zabaniyah atau juru siksa, semoga Allah melindungi kita dari mereka.
------------------------------------
Bibliography :
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1116 - 1117.
Tafsir Ibnu Katsir Online   

Kamis, 07 Juni 2012

Hati-hatilah terhadap Kehidupan Duniawi

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوٰجِكُمْ وَأَوْلٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 64 : 14).

إِنَّمَآ أَمْوٰلُكُمْ وَأَوْلٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّـهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): dan di sisi Allahlah pahala yang besar. (QS. 64 : 15).

فَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا۟ وَأَطِيعُوا۟ وَأَنفِقُوا۟ خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ ۗ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 64 : 16).

إِن تُقْرِضُوا۟ اللَّـهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضٰعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّـهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (QS. 64 : 17).

عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهٰدَةِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 64 : 18).

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 64 : 14
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat “inna min azwajikum wa auladikum ‘aduwwan lakum fahdzaruhum” (QS. 64 : 14) turun berkenaan dengan sesuatu kaum dari ahli Mekah yang masuk Islam, akan tetapi isteri-isteri dan anak-anaknya menolak hijrah ataupun ditinggal hijrah ke Madinah. Lama-kelamaan mereka pun hijrah. Sesampainya ke Madinah mereka melihat kawan-kawannya telah banyak mendapat pelajaran dari Nabi saw. Karenanya mereka bermaksud menyiksa isteri dan anak-anaknya yang menjadi penghalang untuk berhijrah. Maka turunlah ayat selanjutnya “wain ta’fu watash fahu wa taghfiru fainnallaha ghafururrahim” (QS. 64 : 14) yang menegaskan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang menganggap bahwa Hadits ini shahih yang bersumber dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa surat at-Taghabun seluruhnya turun di Mekah, kecuali ayat “Ya ayyuhal ladzina amanu inna min azwajikum wa auladikum ‘aduwwal lakum fahdzaruhum” (QS. 64 : 14). Ayat ini (QS. 64 : 14) turun berkenaan dengan ‘Auf bin Malik al-Asyja’i yang mempunyai anak isteri yang selalu menangisinya apabila akan pergi berperang bahkan menghalanginya dengan berkata : “Kepada siapa engkau akan titipkan kami ini”. Ta merasa kasian kepada mereka dan tidak; berangkat perang. Selanjutnya ayat-ayat lainnya sampai akhir surat diturunkan di Madinah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Atha’ bin Yasar.

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 64 : 16
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika turun ayat “ittaqullaha haqqa tuqatih” (QS. 3 : 102) Kaum Muslimin melakukan berbagai amal sehingga bengkak-bengkak kaki dan luka-luka dahi mereka. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (QS. 64 : 16) yang mengentengkan Kaum Muslimin. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.
-------------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 942.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke -5, 1985, halaman 529 - 530.

Senin, 04 Juni 2012

Peringatan kepada Orang-orang Mu’min

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُلْهِكُمْ أَمْوٰلُكُمْ وَلَآ أَوْلٰدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّـهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذٰلِكَ فَأُو۟لٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. 63 : 9).

وَأَنفِقُوا۟ مِن مَّا رَزَقْنٰكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِىَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَآ أَخَّرْتَنِىٓ إِلَىٰٓ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصّٰلِحِينَ
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata : “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. 63 : 10).

وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّـهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّـهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. 63 : 11).
-----------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 937 - 938.

Sabtu, 02 Juni 2012

Beberapa Hukum yang Berhubungan dengan Sholat Jum’at

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا۟ إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّـهِ وَذَرُوا۟ الْبَيْعَ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 62 : 9).

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَوٰةُ فَانتَشِرُوا۟ فِى الْأَرْضِ وَابْتَغُوا۟ مِن فَضْلِ اللَّـهِ وَاذْكُرُوا۟ اللَّـهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS. 62 : 10).

وَإِذَا رَأَوْا۟ تِجٰرَةً أَوْ لَهْوًا انفَضُّوٓا۟ إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَآئِمًا ۚ قُلْ مَا عِندَ اللَّـهِ خَيْرٌ مِّنَ اللَّـهْوِ وَمِنَ التِّجٰرَةِ ۚ وَاللَّـهُ خَيْرُ الرّٰزِقِينَ
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah : “Apa yang di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki. (QS. 62 : 11).

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 61 : 11
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. berkhutbah pada hari Jum’at, datanglah kafilah yang membawa dagangan dari Syam. Orang-orang yang sedang mendengarkan khutbah keluar menjemput rombongan kafilah itu, sehingga hanya tinggal dua belas orang saja yang duduk mendengarkannya. Ayat ini (QS. 62 . 11) turun berkenaan dengan peristiwa itu yang menegaskan bahwa apa yang ada di sisi Allah, jauh lebih baik daripada apa yang ada pada perniagaan. Diriwayatkan oleh as-Syaikhani yang bersumber dari Jabir.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa apabila ada gadis-gadis yang nikah, berlangsunglah keramaian dengan seruling dan alat musik lainnya, sehingga orang-orang pergi melihat keramaian itu dan meninggalkan Rasulullah saw. berdiri sedang khutbah di atas mimbar. Maka turunlah ayat ini (QS. 62 : 11) yang menegas bahwa nikmat yang diberikan oleh Allah lebih baik daripada keramaian dan perniagaan. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Jabir.
Tepatnya ayat ini turun berkenaan dengan kedua peristiwa di atas.

Keterangan :
Menurut Ibnul Mundzir yang bersumber dari Jabir bahwa kisah nikah dan datangnya kafilah itu bersamaan waktunya dari satu arah, dan ayat ini turun berkenaan dengan kedua perkara itu.
------------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 933 - 934.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 523 - 524.

Kamis, 24 Mei 2012

Seruan ALLAH kepada Orang Beriman untuk Menjadi Penolong-penolong Agama-Nya

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوٓا۟ أَنصَارَ اللَّـهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّۦنَ مَنْ أَنصَارِىٓ إِلَى اللَّـهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّـهِ ۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٌ مِّنۢ بَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٌ ۖ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ عَلَىٰ عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا۟ ظٰهِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolung agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka mènjadi orang-orang yang menang. (QS. 61 : 14).
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 930.

Selasa, 15 Mei 2012

Kemenangan Dapat Diperoleh Hanya dengan Pengorbanan

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجٰرَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sukalah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (QS. 61 : 10).

تُؤْمِنُونَ بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُجٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّـهِ بِأَمْوٰلِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (QS. 61 : 11).

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنّٰتِ عَدْنٍ ۚ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. (QS. 61 : 12).

Tafsir Ayat
QS. 61 : 10. Hai orang-orang yang beriman, sukalah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?

QS. 61 : 11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 60 : 10 - 11
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa para Shahabat ingin mengetahui amal yang paling dicintai oleh Allah dan yang lebih afdlal (utama). Maka turunlah ayat ini (QS. 61 : 10, 11) yang menegaskan bahwa berjihad adalah amal yang utama. Tapi ternyata mereka segan berjihad sehingga mereka diberi peringatan oleh Allah swt. karena menyalahi ucapannya dengan turun ayat 2 dan 3 surat 61. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumbar dari Abi Shalih. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan Ali yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika turun ayat “ya ayyuhai ladzuna amanu hal adullukum ‘ala tijaratin tunjikum min adzabin alim” (QS. 61 : 10). Kaum Muslimin berkata: “Sekiranya kami tahu apa yang dimaksudkan tijarah itu pasti kami akan ikut serta memberikan harta benda dan ahli famili”. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (QS. 61 : 11) yang menjelaskan bahwa tijarah itu ialah beriman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair.

QS. 61 : 12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam syurga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya "Mukhtashar Zadul Maad", halaman 207 - 208, menuturkan bahwa Allah mengaitkan keselamatan dari nereka, ampunan dosa dan masuk syurga dengan jihad, "Hai orang-orang yang beriman, sukalah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, (QS. Ash-Shaff (61) : 10-12). Allah mengabarkan, jika suka melakukan hal ini, maka Allah akan memberikan apa yang mereka sukai, yaitu berupa pertolongan dan kemenangan yang dekat waktunya. Bahkan Allah membeli diri dan harta serta akan memberikan ganti berupa surga. "Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah (9) : 11).
Allah menguatkan janji ini, bahwa tidak ada yang bisa memenuhi janji tersebut selain Allah sendiri. Allah juga menguatkannya dengan memerintahkan mereka untuk menerima kabar gembira ini, seraya memberitahukan bahwa itulah keuntungan yang besar. Allah-lah yang membeli, lalu memberikan harga berupa surga. Satu barang dari jual beli ini telah dipersiapkan untuk suatu urusan dengan amat besar. Maskawin surga dan cinta adalah yang akan Allah beli dari orang-orang Mukmin.
---------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 929 - 930.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 519 - 521.
Mukhtashar Zadul Maad, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Penerbit Pustaka Azzam, Cetakan Pertama, Pebruari 1999.

Senin, 14 Mei 2012

Keharusan Umat Islam Mempertahankan Agamanya dalam Barisan yang Teratur

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (QS. 61 : 2).

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّـهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. 61 : 3).

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيٰنٌ مَّرْصُوصٌ
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. 61 : 4).

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِۦ يٰقَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِى وَقَد تَّعْلَمُونَ أَنِّى رَسُولُ اللَّـهِ إِلَيْكُمْ ۖ فَلَمَّا زَاغُوٓا۟ أَزَاغَ اللَّـهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِينَ
Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS. 61 : 5).

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يٰبَنِىٓ إِسْرٰٓءِيلَ إِنِّى رَسُولُ اللَّـهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَىَّ مِنَ التَّوْرَىٰةِ وَمُبَشِّرًۢا بِرَسُولٍ يَأْتِى مِنۢ بَعْدِى اسْمُهُۥٓ أَحْمَدُ ۖ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنٰتِ قَالُوا۟ هٰذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”. (QS. 61 : 6).

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰٓ إِلَى الْإِسْلٰمِ ۚ وَاللَّـهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِينَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. 61 : 7).

يُرِيدُونَ لِيُطْفِـُٔوا۟ نُورَ اللَّـهِ بِأَفْوٰهِهِمْ وَاللَّـهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُونَ
Mereka ingin hendak memadamkan Cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (QS. 61 : 8).

هُوَ الَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. (QS. 61 : 9).

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 61 : 2 - 3
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika para Shahabat Rasulullah saw. duduk-duduk bermudzakarah, di antara mereka ada yang berkata: “Sekiranya kami mengetahui ‘amal yang lebih dicintai oleh Allah, pasti kami akan mengerjakannya”.
Ayat ini (QS. 61 : 2) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut di atas, yang kemudian dibacakan oleh Rasulullah sampai akhir surat.
Surat ini turun sebagai tuntunan amal yang diridlai Allah swt. untuk berkurban mempertahankan Agama dan mengamalkannya.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim yang dishahihkannya yang bersumber dari Abdullah bin Salam. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat “lima taquluna mala taf’alun (QS. 61 : 2) turun berkenaan dengan orang-orang yang berkata tentang perang akan tetapi tidak pernah melakukannya baik memukul, menusuk ataupun membunuh. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir yang bersumber dari ad-Dlahhak.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S. 61 : 2, 3) turun di waktu Kaum Muslimin mundur terdesak pada waktu perang Uhud. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil.
----------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 928 - 929.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke -5, 1985, halaman 519 - 521.

Sabtu, 12 Mei 2012

Larangan Menjadikan Kaum yang Dimurkai ALLAH sebagai Penolong

 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَوَلَّوْا۟ قَوْمًا غَضِبَ اللَّـهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا۟ مِنَ الْءَاخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحٰبِ الْقُبُورِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah, sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat Sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. 60 : 13).

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 60 : 13
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abdullah bin Umar dan Zaid bin al-Harts bershahabat rapat dengan golongan yahudi. Maka turunlah ayat ini (QS. 60 : 13) yang melarang berkawan dengan kaum yang dimurkai Allah. Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Ishaq dari ‘Ikrimah dan Abu Sa’id yang bersumber dari Ibnu Abbas.
---------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 925.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 518.

Jumat, 11 Mei 2012

Perlakuan Terhadap Wanita-wanita Mu’min yang Masuk Daerah Islam

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا جَآءَكُمُ الْمُؤْمِنٰتُ مُهٰجِرٰتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّـهُ أَعْلَمُ بِإِيمٰنِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنٰتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَّهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَءَاتُوهُم مَّآ أَنفَقُوا۟ ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَن تَنكِحُوهُنَّ إِذَآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا۟ بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَسْـَٔلُوا۟ مَآ أَنفَقْتُمْ وَلْيَسْـَٔلُوا۟ مَآ أَنفَقُوا۟ ۚ ذٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّـهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّـهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benan) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-penempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 60 : 10).

وَإِن فَاتَكُمْ شَىْءٌ مِّنْ أَزْوٰجِكُمْ إِلَى الْكُفَّارِ فَعَاقَبْتُمْ فَـَٔاتُوا۟ الَّذِينَ ذَهَبَتْ أَزْوٰجُهُم مِّثْلَ مَآ أَنفَقُوا۟ ۚ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ الَّذِىٓ أَنتُم بِهِۦ مُؤْمِنُونَ
Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman, (QS. 60 : 11).

Tafsir Ayat
QS. 60 : 10. Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka; maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benan) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang telah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-penempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa setelah Rasulullah saw. membuat perjanjian dengan kaum kafir Quraisy di dalam naskah Hudaibiyah, datanglah wanita-wanita Mu’minat dari Mekah. Maka turunlah ayat ini (S. 60 : 10) yang memerintahkan untuk menguji dahulu kaum wanita-wanita yang hijrah itu, dan tidak boleh dikembalikan ke Mekah. Diriwayatkan oleh as-Syaikhani yang bersumber dari al-Miswar dan Marwan bin al-Hakam.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa setelah penandaman perjanjian Hudaibiyyah Ummu Kaltsum binti ‘Uqbah Abi Mu’aith berhijrah dari Mekah. Kedua saudaranya yang bernama ‘Imarah dan al-Walid bin ‘Uqbah menyusul Ummu Kaltsum (saudaranya) sehingga sampai kepada Nabi saw. Keduanya meminta agar Ummu Kaltsum diserahkan kembali kepada mereka. Dengan turunnya ayat ini (QS. 60 : 10) Allah membatalkan perjanjian Rasulullah dengan kaum musyrikin, khusus tentang wanita-wanita, yaitu melarang kaum wanita yang iman dikembali kepada kaum musyrikin. Diriwayatkan oleh at-Thabarani dengan sanad yang lemah yang bersumber dari Abdullah bin Abi Ahmad.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (QS. 60 : 10) turun berkenaan dengan kisah Umaimah binti Basyar isteri Abi Hasan ad-Dahdahah yang hijrah dari Mekah setelah perjanjian Hudaibiyyah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Yazjd bin Abi Habib.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Saidah, isteri Shaifi ar-Rahib hijrah dari Mekah ke Madinah meninggalkan suami yang musyrik. Ia hijrah setelah perdamaian Hudaibiyyah. Kaum Quraisy menuntut pengembaliannya. Dengan turunnya ayat ini (QS. 60 : 10) ia tidak dikembalikan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa az-Zuhri menghadap kepada Rasulullah yang sedang berada di lembah Hudaibiyyah. waktu itu Rasulullah sedang membuat perjanjian Hudaibiyyah yang isinya antara lain “Barangsiapa yang melarikan diri ke Madinah hendaknya dikembalikan ke Mekah. Akan tetapi ketika wanita-wanita (yang sudah Islam) melarikan diri ke pihak Mu’minin, turunlah ayat ini (QS. 60 : 10) yang melarang mengembalikan mu’minat ke Mekah. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari az-Zuhri.
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Umar bin Khatthab masuk Islam akan tetapi isterinya masih mengikuti pihak kaum musyrikin, maka turunlah ayat ini (QS. 60 : 10) yang melarang  Kaum Mu’minin berpegang pada perkawinan dengan wanita Kafir. Diriwayatkan oleh Ibnu Mani dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas.

QS. 60 : 11. Dan jika seseorang dari isteri-isterimu lari kepada orang-orang kafir, lalu kamu mengalahkan mereka maka bayarkanlah kepada orang-orang yang lari isterinya itu mahar sebanyak yang telah mereka bayar. Dan bertakwalah kepada Allah Yang kepada-Nya kamu beriman,
 

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (QS. 60 : 11) turun berkenaan dengan Ummul Hakam binti Abi Sufyan yang murtad (kemudian ia melarikan diri dari suaminya) bahkan selanjutnya ia nikah dengan seorang laki-laki bangsa Tsaqif. (Dalam Hadits itu dikemukakan pula bahwa) tidak seorang pun wanita lainnya dari bangsa Quraisy yang murtad selain daripadanya.
Ayat ini (S. 60 : 11) memerintahkan untuk membayar maskawin dari ghanimah kepada laki-laki yang telah ditinggalkan isterinya yang murtad kembali.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan.
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 924 - 925.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 516 - 518.

Sabtu, 05 Mei 2012

Larangan Menjadikan Seseorang dari Golongan Musuh sebagai Teman Setia

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ عَدُوِّى وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَآءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا۟ بِمَا جَآءَكُم مِّنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ ۙ أَن تُؤْمِنُوا۟ بِاللَّـهِ رَبِّكُمْ إِن كُنتُمْ خَرَجْتُمْ جِهٰدًا فِى سَبِيلِى وَابْتِغَآءَ مَرْضَاتِى ۚ تُسِرُّونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا۠ أَعْلَمُ بِمَآ أَخْفَيْتُمْ وَمَآ أَعْلَنتُمْ ۚ وَمَن يَفْعَلْهُ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِيلِ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar ke luar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya. maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan sang lurus. (QS. 60 : 1).

إِن يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا۟ لَكُمْ أَعْدَآءً وَيَبْسُطُوٓا۟ إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُم بِالسُّوٓءِ وَوَدُّوا۟ لَوْ تَكْفُرُونَ
Jika mereka menangkap kamu niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir. (QS. 60 : 2).

لَن تَنفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلَآ أَوْلٰدُكُمْ ۚ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Karib kerabat dan anak-anakmu sekali-kali tiada bermanfa’at bagimu pada hari Kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 60 : 3).

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِىٓ إِبْرٰهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُۥٓ إِذْ قَالُوا۟ لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءٰٓؤُا۟ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدٰوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا۟ بِاللَّـهِ وَحْدَهُۥٓ إِلَّا قَوْلَ إِبْرٰهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَآ أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّـهِ مِن شَىْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dariipada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya : “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata: “Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kama kembali, (QS. 60 : 4).

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. 60 : 5).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ اللَّـهَ وَالْيَوْمَ الْءَاخِرَ ۚ وَمَن يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّـهَ هُوَ الْغَنِىُّ الْحَمِيدُ
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah. Dia lah Yang Maha Kaya lagi Maha terpuji. (QS. 60 : 6).

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 60 : 1 –  4
Dalam suatu riwayat dikemukakan hahwa Rasulullah saw. mengutus Ali, Zubair dan al-Miqdad bin al-Aswad, dengan bersabda: “Pergilah kalian ke kebun Khakh. Di sana akan bertemu dengan seorang wanita yang membawa surat. Ambillah surat itu daripadanya dan bawalah surat itu kepadaku”. Berangkatlah mereka bertiga hingga sampai ke tempat yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw. Di situ mereka bertemu dengan seorang wanita yang naik unta. Berkatalah mereka: “Berikan surat itu kepadaku”. Ia menjawab: “Saya tidak membawa surat”. Mereka berkata “Sekiranya engkau tidak menyerahkannya akan kami telanjangi engkau”. Dengan susah payah ia pun mengeluarkan surat itu dari sanggul rambutnya.
Kemudian mereka membawa surat itu kepada Rasulullah saw. Ketika diperiksa, ternyata surat itu dari golongan Shahabat yan bernama Hathib bin Abi Balta’ah yang ditujukan kepada orang-orang musyrikin di Mekah, yang isinya memberitahukan kepada mereka beberapa perintah Nabi saw. Akhirnya Hathib bin Abi Balta’ah dipanggil oleh Rasulullah saw. Setelah berada di hadapan Rasulullah, Rasulullah bertanya kepada Hathib: “Apakah ini wahai Hathib? (sambil memperlihatkan surat)”. Hathib menjawab dengan ketakutan: “Janganlah tergesa-gesa (menghukum aku) ya Rasulallah. Aku mempunyai teman dari golongan Quraisy, akan tetapi aku sendiri tidak termasuk golongan mereka. Di antara shahabat-shahabat Kaum Muhajirin yang ada sekarang, di sana mempunyai kerabat yang bisa menjaga famili dan harta bendanya. Sedang aku sendiri tak mempunyai kerabat seperti mereka. Karenanya aku membuat budi kepada mereka supaya mereka menjaga keluargaku yang lemah dan harta bendaku. Aku berbuat demikian bukan karena kufur atau murtad dari Agama dan bukan ridla akan kekufuran”. Rasulullah saw. bersabda: “Ia mengatakan yang sebenarnya”
Ayat ini (QS. 60 : 1 s/d 4) turun berkenaan dengan peristiwa ini yang melarang Kaum Mu’minin memberikan kabar berita terhadap kaum kafir karena rasa cinta terhadap mereka.
Diriwayatkan oleh as-Syaikhani yang bersumber dari Ali.
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 922 - 923.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 513 - 515.

Selasa, 01 Mei 2012

Beberapa Peringatan

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اتَّقُوا۟ اللَّـهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 59 : 18).

وَلَا تَكُونُوا۟ كَالَّذِينَ نَسُوا۟ اللَّـهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ أُو۟لٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُونَ
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. 59 : 19).

لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحٰبُ النَّارِ وَأَصْحٰبُ الْجَنَّةِ ۚ أَصْحٰبُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَآئِزُونَ
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni syurga; penghuni-penghuni syurga itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 59 : 20).

لَوْ أَنزَلْنَا هٰذَا الْقُرْءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللَّـهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثٰلُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Quräan ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. 59 : 21).

--------------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 919.

Sopan Santun Menghadiri Majlis Nabi (2)

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نٰجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىْ نَجْوَىٰكُمْ صَدَقَةً ۚ ذٰلِكَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَأَطْهَرُ ۚ فَإِن لَّمْ تَجِدُوا۟ فَإِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tiada memperoleh (yang akan disedekahkan) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 58 : 12).

 ءَأَشْفَقْتُمْ أَن تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىْ نَجْوَىٰكُمْ صَدَقٰتٍ ۚ فَإِذْ لَمْ تَفْعَلُوا۟ وَتَابَ اللَّـهُ عَلَيْكُمْ فَأَقِيمُوا۟ الصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ الزَّكَوٰةَ وَأَطِيعُوا۟ اللَّـهَ وَرَسُولَهُۥ ۚ وَاللَّـهُ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya - dan Allah telah memberi taubat kepadamu - maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58 : 13).

Tafsir Ayat
QS. 58 : 12.

Latar Belakang Turunnya Ayat

Dalam suatu riwayat dikemuka bahwa Kaum Muslimin terlalu banyak bertanya kepada Rasulullah sehingga membebaninya. Untuk meringankan beban Rasulullah , Allah menurunkan ayat ini (QS. 58 : 12) sebagai perintah bersedaqah kepada fakir miskin sebelum bertanya”.
Setelah turun ayat ini (QS. 58: 12) kebanyakan orang menahan diri untuk banyak bertanya. Maka turuntah ayat berikutnya (QS. 58 : 13) sebagai teguran kepada orang-orang yang tidak mau bertanya karena takut mengeluarkan shadaqah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa setelah turun ayat “ya ayyuhalladzina amanu idza najaitumurrasula” Nabi bersabda kepada Ali bin Abi Thalib: “Bagaimana pendapatmu kalau shadaqah satu dinar?”- Ali menjawab “Mereka tidak akan mampu”. Rasul bersabda: “Setengah dinar?”. Ali menjawab “Mereka tidak akan mampu”. Nabi bertanya: “Kalau begitu berapa?”. Ali menjawab: “Satu butir sya’ir”. Rasulullah jawab: “Engkau terlalu sederhana”. Maka turunlah ayat ini (QS. 58 : 13) sebagai teguran kepada orang-orang yang ingin bertanya kepada Rasulullah tapi takut miskin karena harus membayar shadaqah lebih dahulu: Selanjutnya Ali berkata: “Karena peristiwa itulah ummat ini dientengkan bebannya”. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya yang menganggap hadits ini hasan yang bersumber dari Ali.

QS. 58 : 13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya - dan Allah telah memberi taubat kepadamu - maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 911.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke -5, 1985, halaman 503 - 504.

Senin, 30 April 2012

Sopan Santun Menghadiri Majlis Nabi (1)

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوا۟ يَفْسَحِ اللَّـهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا۟ فَانشُزُوا۟ يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا۟ الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 58 : 11)

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa apabila ada orang yang baru datang ke majlis Rasulullah, para Shahabat tidak mau memberikan tempat duduk di sisi Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (QS. 58 : 11) sebagai perintah untuk memberikan tempat kepada orang yang baru datang. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini, (QS. 58: 11) turun pada hari Jum’at,, di saat pahlawan-pahlawan. Baru datang ke tempat pertemuan yang penuh sesak. Orang-orang tidak memberi tempat kepada yang baru datang itu, sehingga terpaksa mereka berdiri. Rasulullah menyuruh berdiri kepada pribumi, dan tamu-tamu itu (pahlawan Badr) disuruh duduk di tempat mereka. Orang-orang yang disuruh pindah tempat itu merasa tersinggung perasaannya. Ayat ini (QS. 58 : 11) turun sebagai perintah kepada Kaum Mu’minin untuk menta’ati perintah Rasulullah dan memberikan kesempatan duduk kepada sesama Mu’minin. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil.
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 910 - 911.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 502 - 503.

Sabtu, 28 April 2012

Celaan terhadap Perundingan Rahasia untuk Memusuhi Islam

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا تَنٰجَيْتُمْ فَلَا تَتَنٰجَوْا۟ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوٰنِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَتَنٰجَوْا۟ بِالْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ الَّذِىٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwaiah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS. 58 : 9).

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطٰنِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَيْسَ بِضَآرِّهِمْ شَيْـًٔا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّـهِ ۚ وَعَلَى اللَّـهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal. (QS. 58 : 10).

Tafsir Ayat
QS. 58 : 9. "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul. Dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. Dan bertakwaiah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.

QS. 58 : 10. "Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum munafiq berbisik-bisik sesamanya menyombongkan diri di hadapan Kaum Mu’minin sehingga menyinggung perasaan Kaum Mu’minin. Ayat ini (S. 58 : 10) turun melukiskan bahwa berbisik-bisik seperti’itu merupakan perbuatan syaithan. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.
---------------------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979, halaman 910.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 502.

Kamis, 26 April 2012

Perintah Iman kepada ALLAH dan Rasul

Hai orang-orang yang beriman ! berbaktilah kepada Allah, dan percayalah kepada Rasul-Nya, niscaya Ia beri kepada kamu dua ganda dan dari rahmat-Nya, dan Ia akan adakan bagi kamu cahaya yang kamu bisa berjalan dengannya, dan Ia akan ampuni kamu, karena Allah itu Pengampun, Penyayang. (QS. 57 : 28).
Supaya diketahui oleh Ahli Kitab bahwa mereka tidak berkuasa atas (mendapat) satupun dari kurnia Allah, dan bahwa kurnia itu ada di tangan Allah; Ia berikannya kepada siapa-siapa yang Ia sukai; dan Allah itu Ia-lah yang mempunyai kurnia yang besar. (QS. 57 : 29).

Tafsir Ayat
QS. 57 : 28. Dalam ayat ini sudah jelas seruan-Nya, kepada orang yang beriman. Dan dijelaskan dalam ayat ini bahwa beriman saja tidaklah cukup, hendaklah diiringi pula dengan takwa. Yaitu memelihara terus hubungan dengan Allah ta'ala. Kemudian perkuatlah iman dan takwa yang telah diperteguhkan dengan beriman pada Rasul-Nya.
Bagaimana bisa mengerjakan perintah Allah ta'ala kalau tidak ada petunjuk pelaksanaan dari Rasulullah?
"...,niscaya Dia akan memberikan kepada kamu dua bagian dari rahmat-Nya,...", Ibnu Zaid mengatakan bahwa dua bagian itu ialah kebahagiaan dunia dan akhirat. Orang ta'at, iman dan takwa kepada Allah merasakan tenang dan tentram dalam dunia ini.
"... dan Dia jadikan bagi kamu cahaya yang kamu bisa berjalan dengannya,..." Bertambah tinggi tingkat iman dan takwa, bertambah gilang gemilang cahaya yang menerangi diri.
"..., dan Dia akan ampuni dosa kamu,..." Sehingga jika pun ada kesalahan, keteledoran hidup sebagai manusia. Sekarang datang obatnya dari Tuhan sendiri, dosa telah diampuni.
Latar Belakang Turunnya
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa 40 orang shahabat Nabi dan an-Najasyi datang kepada Nabi saw. Kemudian turut berjihad dalam perang Uhud. Di antara mereka ada yang mendapat luka-luka, tetapi tidak seorang pun yang meninggal di medan perang itu. Ketika mereka mengetahui bahwa Kaum Mu’minin memerlukan, bantuan karena penderitaan, mereka berkata: “Ya Rasulallah kami ini orang-orang berada. Idzinkanlah kami membawa harta benda kami untuk membela Kaum Muslimin”.
Ayat 52 surat 28 turun berkenaan dengan peristiwa itu yang melukiskan bahwa orang-orang tersebut beriman kepada Kitab-kitab Allah yang turun sebelum al-Quran dan mereka beriman kepada al-Quran.
Setelah turun ayat itu, mereka berkata: “Hai Kaum Muslimin! Orang-orang yang beriman akan kitabmu, akan mendapat dua ganjaran, dan yang tidak iman akan kitabmu akan mendapat satu ganjaran seperti ganjaran kalian”. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 57 : 28) yang memerintahkan orang-orang yang beriman kepada kitab-kitab sebelumnya untuk beriman kepada Rasul-Nya (Muhammad) agar mendapat lipatan Rahmat Allah.
Diriwayatkan oleh at-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang di dalam sanadnya terdapat orang yang tak terkenal, yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika turun ayat : “Ulaika yu’tauna ajrahum marrataini bima shabaru” (S. 28 : 54) menyombonglah Kaum Mu’minin yang berasal dari Nashara terhadap shahabat-shahabat Nabi saw dengan berkata: “Kami mendapat dua ganjaran dan kalian hanya mendapat satu ganjaran” Ucapan ini menyinggung perasaan para Shahabat, maka Allah menurunkan ayat ini (S. 57 : 28) yang menjanjikan lipatan ganjaran bagi orang yang bertaqwa kepada Allah serta beriman kepada Rasul-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ketika turun ayat : “Yu’tikum kiflaini mirrahmatihi” (S. 57 : 28), Shahabat Nabi yang berasal dari kaum Nashara, merasa iri terhadap Kaum Mushim (karena akan mendapat lipatan rahmat Allah). Maka turunlah ayat berikutnya (S. 57 29) yang menegäskan bahwa kurnia Allah diberikan kepada orang-orang yang disukai-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.

QS. 57 : 29. Dalam ayat ini Allah ta'ala memberikan ketegasan bahwa Allah ta'ala sendiri yang menentukan kurnia-Nya kepada hamba-hamba-Nya. "Dan sesungguhnya kurnia itu ada di tangan Allah; diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki;...". Maka sebagai penutup Tuhan memberikan penghargaan yang besar bagi hamba-hamba-Nya, karena kasih-Nya dan karena sayang-Nya. "Allah mempunyai kurnia yang besar." Dia Maha Kuasa, menganugerahkan kurnia kepada siapapun yang dikehendaki. Tetapi kita mempunyai dua perasaan. Pertama, KHAUF, takut akan murka-Nya. Kedua, RAJAA', yaitu selalu mengharap akan kurnia-Nya. Dua perasaan yang menemani kita menjalani hidup dalam dunia ini. Semoga Allah sambut dengan Rahman-Nya dan Rahim-Nya.

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum yahudi berkata : “Sudah hampir tiba waktunya turun seorang Nabi yang (melaksanakan hukum) potong tangan dan kaki”. Ketika Nabi (yang melaksanakan hukum itu) dilahirkan dari bangsa Arab, mereka kufur. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 57 : 29) yang menegaskan bahwa Allah akan memberikan kurnia (kenabian) terhadap yang disukai-Nya. Diriwayatkan oleb Ibnu Muadzir yang bersumber dari Mujahid.
----------------------------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVII, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit H. Abdul Karim Surabaya, cetakan ketiga 1982, halaman 345 - 347.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke -5, 1985, halaman 496 - 498.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1076 - 1077.

Senin, 23 April 2012

Larangan Banyak Sangkaan

 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا۟ اللَّـهَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman ! jauhilah kebanyakan dari sangkaan, (karena) sesungguhnya sebahagian dari sangkaan-sangkaan itu dosa; dan janganlah kamu mengintai-ngintai kesalahan orang lain; dan janganlah sebahagian dan kamu mengumpat sebahagian; apakah suka seseorang dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ? Maka (tentu) kamu jijik kepadanya ! dan berbaktilah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang. (QS. 49 : 12).


Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Salman al-Farisi yang apabila selesai makan ia terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang mempergunjingkan perbuatannya itu. Maka turunlah ayat ini (S. 49 : 12) yang melarang seseorang mengumpat menceriterakan keaiban orang lain. Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari lbnu Juraij.

Tafsir Ayat
"Hai orang-orang yang beriman ! jauhilah kebanyakan dari sangkaan,...". Prasangka / sangkaan ialah tuduhan yang bukan-bukan, persangkaan yang tidak beralasan, hanya semata-mata tuduhan yang tidak pada tempatnya.
",... (karena) sesungguhnya sebahagian dari sangkaan-sangkaan itu dosa;...". Prasangka adalah dosa, karena dia adalah tuduhan yang tidak beralasan dan bisa saja memutuskan silatur-rahmi di antara dua orang yang berhubungan baik. Rasulullah sangat mencegah perbuatan prasangka yang sangat buruk itu dengan sabdanya : "Sekali-kali janganlah kamu berburuk sangka, karena sesungguhnya berburuk-sangka adalah perkataan yang paling bohong. Dan janganlah kamu mengintai-intai, dan janganlah kamu usil dan janganlah kamu bergunding-gundingan dan janganlah kamu berdengki-dengkian dan janganlah kamu berbenci-bencian dan janganlah kamu saling membelakangi dan jadilah kamu seluruhnya hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
"...; dan janganlah kamu mengintai-ngintai kesalahan orang lain;...". Mengorek-ngorek kalau-kalau ada si anu dan si fulan bersalah, untuk menjatuhkan maru-ah si fulan di muka umum.
";... dan janganlah sebahagian dan kamu mengumpat sebahagian;...". Mengumpat / menggunjing ialah membicarakan aib dan keburukan seseorang sedang dia tidak ada di tempat. Hal ini kerapkali sebagai mata-rantai dari kemunafikan. Ini adalah perbuatan hina dan pengecut!
"...; apakah suka seseorang dari kamu memakan daging bangkai saudaranya ?...". Membicarakan keburukan seseorang keyika dia tidak ada, sama artinya dengan makan bangkai yang busuk.
"... Maka (tentu) kamu jijik kepadanya !...". Memakan bangkai teman yang mati sudah pasti engkau jijik. Maka membicarakan aib celanya sedang saudara itu tidak ada samalah artinya dengan memakan bangkainya.
"... dan berbaktilah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah itu Pengampun, Penyayang". Jika perangai buruk ini ada pada diri kita, segeralah hentikan dan bertaubat dari kesalahan yang hina itu disertai dengan penyesalan dan taubat. Allah senantiasa membuka pintu kasih-sayang-Nya, membuka pintu bagi hamba-Nya yang ingin menukar perbuatan salah dengan perbuakan baik, kelakuan yang durjana hina dengan kelakuan terpuji sebagai manusia yang budiman.
-------------------------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984, halaman 239 - 243. 
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 474 - 475.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1016 - 1017.

Sabtu, 21 April 2012

Larangan Memperolok-olok

Hai orang-orang yang beriman ! janganlah segolongan memperolok-olok segolongan, (karena) boleh jadi adalah mereka itu lebih baik dari mereka ini; dan janganlah (segolongan) perempuan (memperolok-olok segolongan) perempuan, (karena) boleh jadi mereka itu lebih baik dari mereka ini; dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan janganlah kamu berpanggilan dengan gelaran-gelaran (yang jelek, karena) sebusuk.busuk nama ialah (panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman; dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itu ialah orang-orang yang melewati batas. (QS. 49 : 11).

Tafsir Ayat
"Hai orang-orang yang beriman ! janganlah segolongan memperolok-olok segolongan,..." Mengolok-olok, mengejek, menghina, merendahkan dan seumpamanya, janganlah semuanya itu terjadi dalam kalangan orang yang beriman.
"... boleh jadi adalah mereka itu lebih baik dari mereka ini; ...". Ini peringatan yang halus dari Allah ta'ala. Mengolok-olok, mengejek dan menghina tidaklah layak dilakukan kalau orang merasa dirinya orang yang beriman. Sebab orang yang beriman akan selalu menilik kekurangan yang ada pada dirinya. Dan hanya orang yang tidak beriman jualah yang lebih banyak melihat kekurangan orang lain dan tidak ingat akan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri.
"... dan janganlah (segolongan) perempuan (memperolok-olok segolongan) perempuan, (karena) boleh jadi mereka itu lebih baik dari mereka ini;...". Orang-orang yang kerjanya hanya mencari kesalahan dan kekhilafan orang lain, niscaya lupa akan kesalahan dan kealpaan yang ada pada dirinya sendiri. Hendaklah kita berperangai tawadhu', merendahkan diri, menginsafi kekurangannya.
"... janganlah kamu mencela dirimu sendiri, ....". Sebenarnya mencela orang lain itu sama juga dengan mencela diri sendiri. Kalau sudah berani mencela orang lain, membuka rahasia aib orang lain, janganlah lupa bahwa orang lain pun sanggup membuka rahasia aib kita.
"... dan janganlah kamu berpanggilan dengan gelaran-gelaran (yang jelek), ...". Sebuah anjuran bagi kaum yang beriman, supaya janganlah memanggil teman dengan gelaran-gelaran atau panggilan yang buruk, tukarlah dengan bahasa yang baik yang lebih menyenangkan hatinya.
"... sebusuk.busuk nama ialah (panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman; ...". Maka kalau orang telah beriman, suasana telah bertukar dari jahiliyah kepada Islam. Karena penukaran nama itu juga ada pengaruhnya bagi jiwa.
"... dan barangsiapa tidak bertaubat, maka mereka itu ialah orang-orang yang melewati batas". Penggantian nama atau panggilan dari yang buruk ketika fasik kepada yang bagus setelah beriman adalah pertanda yang baik dari kepatuhan sejak semula.
Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki mempunyai dua atau tiga nama, dan dipanggil dengan nama tertentu agar orang itu tidak senang dengan panggilan itu. 
Ayat ini (S. 49 : 11) turun sebagai larangan untuk menggelari orang dengan nama-nama yang tidak menyenangkan. Diriwayatkan dalam kitab Sunan yang empat yang bersumber dari Abi Jubair Ibnu Dhahhak. Menurut at-Tirmidzi Hadits ini hasan.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa nama-nama gelaran di zaman Jahiliyyah sangat banyak. Ketika Nabi saw. memanggil Seseorang dengan gelarnya, ada orang yang memberi tahukan kepada Nabi bahwa gelar itu tidak disukainya. Maka turunlah ayat ini (S. 49 : 11) yang melarang memanggil orang dengan gelaran yang tidak disukainya.Diriwayatkan oleh al-Hakim dan yang lainnya yang bersumber dari Abi Jubair Ibnu Dlahhak.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (S. 49 : 11) turun berkenaan dengan Bani Salamah. Ketika Nabi saw. tiba di Madinah orang-orang mempunyai dua atau tiga nama. Apabila Rasulullah memanggil seseorang yang disebutnya dengan salah satu nama itu tetapi ada orang yang berkata : “Ya Rasulallah ! Sesungguhnya ia marah dengan panggilan itu”.
Ayat “wala tana bazu bil alqab” (S. 49 : 11) turun sebagai larangan memanggil orang dengan sebutan yang tidak disukainya. Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Abi Jubair Ibnu Dlahhak.
---------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984, halaman 236 - 239.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 473 - 474.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1016.

Menyikapi Kabar dari Orang Fasik

Hai orang-orang yang beriman ! jika datang kepada kamu seorang fasiq dengan membawa satu khabar, maka selidikilah, supaya kamu tidak berbuat sesuatu kepada satu kaum lantaran tidak tahu, lalu kamu jadi menyesal atas apa-apa yang kamu telah kerjakan. (QS. 49 : 6).
Dan ketahuilah bahwa di antara kamu ada Rasulullah; jika ia turut kemauan-kemauan kamu dalam kebanyakan urusan, niscaya kamu akan jatuh dalam kebinasaan, tetapi Allah jadikan iman itu kecintaan kamu, dan Ia hiasinya dalam hati kamu dan Ia jadikan kekufuran dan perlewatan batas dan durhaka itu kebencian kamu --- merekalah orang- orang yang berlaku lurus. (QS. 49 : 7).
Sebagai kemurahan dari Allah dan (sebagai) satu ni’mat, karena Allah itu Mengetahui, Bijaksana. (QS. 49 : 8).

Tafsir Ayat
QS. 49 : 6. Ayat ini jelas memberikan larangan yang keras, lekas percaya kepada berita yang dibawa oleh orang fasik, memburukkan seseorang atau suatu kaum. Janganlah perkara itu langsung saja diiyakan atau ditidakkan, melainkan diselidiki terlebih dahulu dengan seksama. Jangan sampai terburu menjatuhkan keputusan yang buruk atas suatu perkara, sehingga orang yang diberitakan mendapat hukuman, padahal tidak ada sama sekali salahnya dan perkara yang diberitakan orang itu.

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam, suatu riwayat dikemukakan bahwa al-Harts menghadap kepada Rasulullah , Beliaü mengajak kepadanya untuk Masuk Islam. Ia pun ikrar menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, dan ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata “Ya Rasulallah aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam, dan menunaikan zakat. Barang siapa yang mengikuti ajakanku, aku akan kumpulkan zakatnya. Apabila telah sampai waktunya. kirimlah utusan untuk mengambil zakat yang telah kukumpulkan itu”.
Ketika al-Harts telah banyak mengumplkan zakat itu, dan waktunya yang sudah ditetapkan telah tiba, akan tetapi tak seorang pun utusan yang muncul kepadanya al’.Harts mengira telah terjadi sesuatu gang menyebabkan Rasulullah
marah kepadanya. Ia pun memanggil para hartawan kaumnya dan, berkata : “Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu akan mengutus seseorang, untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan tidak pernah Rasulullah menyalahi janjinya, akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu mungkinkah beliau marah. Mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw.”.
Adapun Rasulullah saw. sesuai dengan waktu yang telah ditetapkannya mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada al-Harts. Ketika al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar dan ia pun pulang sebelum sampai di tempat yang dituju dan melapor (laporan palsu) kepada Rasulullah bahwa al-Harts tidak menyerahkan zakatnya kepadanya, bahkan ia akan membunuhnya”
Kemudian Rasulullah mengirim utusan berikutnya kepada al-Harts beserta Shahabat-shahabatnya bertemu dengan utusan itu diperjalanan dan bertanya : “Kepada siapa engkau diutus?“. Utusan itu menjawab: “Kami diutus kepadamu”. Dia bertanya : Mengapa?”. Mereka menjawab : “Sesungguhnya Rasulullah
telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah. Ia mengatakan. engkäu tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya”. Al-Harts nenjawab “Demi Allah, yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya, dan tidak ada yang datang kepadaku”.
Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah
bertanya beliau : “Mengapa engkau menahan zakat, dan akan membunuh utusanku ?“. Ia menjawab “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian”. Maka turunlah ayat ini (S. 49 : 6) sebagai peringatan kepada Kaum Mu’minin untuk selalu tidak menerima keterangan dari sebelah fihak saja.
Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad yang baik yang bersumber dari al-Harts bin Dlirar al-Khuzai, Sanad rawi Hadits-hadits ini sangat dapat dipercaya. Diriwayatkan oleb at-Thabarani yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, ’Alqamah bin Najiah dan Ummu Salamah.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al’Ufi yang bersumber dari Ibnu., ‘Abbas. Di samping itu Ibnu Jarir meriwayatkan dari sumber lain yang mursal.

QS. 49 : 7. "Dan ketahuilah bahwa di antara kamu ada Rasulullah;...". Tidaklah boleh berdusta padahal sedang berkumpul dengan Rasulullah ﷺ, tidaklah boleh bermain-main dan membuat berita bohong.
"... jika ia turut kemauan-kemauan kamu dalam kebanyakan urusan, niscaya kamu akan jatuh dalam kebinasaan, ...". Jika tiap laporan yang disampaikan adalah berita bohong, siapa yang akan dapat kesulitan / kebinasaan? Siapa yang akan dapat dosa besar karena membuat kacau?
"..., tetapi Allah jadikan iman itu kecintaan kamu, ...". Orang-orang yang lebih mencintai iman dan kejujuran, pastilah mengatakan yang sebenarnya, berpikir lebih dahulu dengan seksama barulah mereka bertindak.
"..., dan Ia hiasinya dalam hati kamu ...". Mereka orang yang dihiaskan Allah iman dalam hatinya itu lebih suka jika berita yang mereka sampaikan kepada Rasulullah ﷺ itu adalah kabar yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan.
"... dan Ia jadikan kekufuran dan perlewatan batas dan durhaka itu kebencian kamu ...". Dalam hati mereka yang baik itu iman ditimbulkan pada hati mereka dan kebencian kepada sifat-sifat buruk yang dapat mengacaukan masyarakat, yaitu kufur, melampaui batas (fasik) dan kedurhakaan kepada Allah.
"... merekalah orang- orang yang berlaku lurus (bijak)". Orang bijak ialah yang berkata sepatah dipikirkan, kerjakan selangkah menghadap surut. Apa saja pekerjaan yang akan mereka lakukan, semuanya di pertimbangkan mana yang besar manfaatnya dengan madharatnya. Kalau manfaat lebih besar dari madharatnya, walaupun diri sendiri akan menjadi kurban, asal membawa faedah bagi bersama, maka tidak ragu-ragu akan mengerjakan.

QS. 49 : 8. "Sebagai kemurahan dari Allah dan (sebagai) satu ni’mat,..." . Apabila dalam suatu masyarakat, buah pikiran orang yang bijak, berpikiran mendalam, mempertimbangkan madharat dan manfaat lebih banyak hadir, itulah karunia Allah paling besar nikmat yang membawa kebahagiaan bersama.
"..., karena Allah itu Mengetahui, Bijaksana". Kalaulah pengetahuan telah ada terhadap suatu soal, dipandang dari segala seginya, tidaklah kita terburu-buru mengambil suatu keputusan, sehingga kita dapat menambil keputusan yang menunjukkan keluasan paham dengan penuh kebijaksanaan. 
---------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984, halaman 223 - 228.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 470 - 471.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1015.

Sabtu, 07 April 2012

Tatakrama terhadap Rasulullah S.A.W. (2)

Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu angkat suara-suara kamu lebih dari pada suara Nabi, dan janganlah kamu keraskan omongan, kepadanya, sebagaimana sebahagian kamu keraskan terhadap sebahagian, karena khawatir akan gugur amal-amal kamu, padahal kamu tidak sadar. (QS. 49 : 2).
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara-suara mereka di sisi Rasulullah, merekalah orang-orang yang telah diuji oleh Allah hati mereka untuk berbakti; bagi mereka ada keampunan dan ganjaran yang besar. (QS. 49 : 3).
Sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu dari luar bilik-bilik itu, kebanyakan dari mereka tidak mengerti. (QS. 49 : 4).
Padahal kalau mereka bersabar sehingga engkau keluar menemui mereka, niscaya adalah yang demikian lebih baik bagi mereka, tetapi Allah itu Pengampun, Penyayang. (QS. 49 : 5).

Tafsir Ayat  
QS. 49 : 2. "Hai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu angkat suara-suara kamu lebih dari pada suara Nabi, dan janganlah kamu keraskan omongan, kepadanya,...". Berhadapan dengan Nabi s.a.w. ketika berbicara dalam hadapan majelis ataupun sendiri dengan beliau, janganlah bersuara keras, karena bersuara keras itu pun sikap yang tidak hormat kepada beliau.
"... karena khawatir akan gugur amal-amal kamu, padahal kamu tidak sadar". Ibnu Katsiir di dalam tafsirnya menukilkan, bahwasannya berkata lemah lembut itupun berlaku Nabi s.a.w. bukan saja diwaktu hidup beliau, bahkan didekat makam beliau saat berziarah hendaknya bersikap lemah lembut, sopan santun dan jangan bersuara keras.
Dalam kitab "Madarijus Salikin", Ibnul Qayyim al-Jauziyah menerangkan juga bahwa hendaklah kita menjaga juga kesopanan kita bilamana ada orang sedang menuturkan suatu hadits dari sabda beliau, dengarkanlah baik-baik dengan penuh hormat, apalagi jika kita yang membacanya.

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa orang-orang berbicara keras dan nyaring ketika berbicara dengan Nabi s.a.w. Maka turunlah ayat ini (S. 49 : 2) sebagai larangan akan perbuatan seperti itu. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat : “La tarfau ashwatakum fauqa shautin nabi” (S. 49: 2) terhempaslah Tsabit bin Qais di jalan sambil menangis. Ketika itu lalulah Ashim bin ‘Adi bin al-Ajlan dan bertanya : “Mengapa engkau menangis ?“. Ia menjawab “Aku takut ayat ini turun berkenaan diriku, karena aku ini seorang yang bersuara keras”. Hal ini diajukan oleh ‘Ashim itu kepada Rasulullah saw. dan Tsabit pun dipanggil. Rasul bersabda: “Apakah engkau tidak ridla jika engku hidup terpuji, mati syahid, dan masuk surga”. Ia menjawabnya : “Aku ridla” dan aku tidak akan mengeraskan suaraku selama-lamanya di hadapan Rasulullah saw.”. Maka turunlah ayat selanjutnya (S. 49 : 3) yang melukiskah janji Allah kepada orang-orang yang taat akan ketetapan-Nya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas.

QS. 49 : 3. "Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara-suara mereka di sisi Rasulullah, merekalah orang-orang yang telah diuji oleh Allah hati mereka untuk berbakti;...". Ini amat penting diperhatikan, karena ada setengah manusia yang sangat bernafsu buat turut berbicara, baik di zaman Nabi s.a.w. ataupun sampai sekarang. Maka kalau kita dapat menahan hati, tidak turut bicara, turut bertanya, itupun suatu ujian juga bagi kebaktian / ketakwaan hati kita. Sebab menjaga pertumbuhan rasa takwa dalam jiwa kita sendiri adalah lebih penting daripada mengemukakan pertanyaan.
"... bagi mereka ada keampunan dan ganjaran yang besar". Orang yang dapat membatasi diri sehingga sikap yang tadinya terburu hendak bertanya, setelah dibawa berpikir tenang, tidak jadi dia bertanya. Bagi mereka disediakan ampunan dan pahala yang besar. Lantaran itu sikap manapun yang akan kita ambil hendaklah ingat suatu tujuan yang suci, memelihara rasa takwa yang mulai tumbuh dalam diri.

QS. 49 : 4. Sebagaimana dimaklumi, ketika mulai perjuangan dan perkembangan Islam memang ada pengikut Rasulullah berasal dari berbagai golongan; ada orang kota dan ada orang dusun (badwi). Adalah orang-orang badwi yang tidak mengenal kesopanan yang halus, mereka datang dari dusun hendak menemui Rasulullah di waktu beliau istirahat, sambil berteriak-teriak dari luar rumah. Maka tidaklah layak, tidak sopan kalau memanggil Nabi di waktu-waktu tersebut. Dalam ayat ini dikatakan bahwa orang yang seperti itu tidak mempergunakan akalnya.

QS. 49 : 5. "Padahal kalau mereka bersabar sehingga engkau (Nabi) keluar menemui mereka, niscaya adalah yang demikian lebih baik bagi mereka,...". Kalaulah orang-orang itu mempergunakan akal yang sehat, tidaklah layak mereka memanggil-manggil dari luar. Tunggu sajalah baik-baik dengan sabar, niscaya di waktu tertentu, beliau akan keluar kepada orang ramai, berjama'ah ke masjid menjadi iamam,. Sesudah sholat beliau memberi nasehat, fatwa dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang penting. Maka yang sebaik-baiknya, demi sopan santun dengan Rasulullah, lebih baik menunggu dengan sabar. Sebab beliau pun amat rindu bertemu dengan sahabat-sahabatnya dan ummat skalian.
"..., tetapi Allah itu Pengampun, Penyayang". Terburu memanggil Rasulullah dengan tidak beraturan merupakan kesalahan yang lewat karena belum tahu. Tetapi untuk selanjutnya tentu tidak boleh berbuat serampangan. Sebab Allah ta'ala memperlakukan Rasul-Nya dengan penuh hormat, memanggil gelar dan jabatannya pada tiap waktu tertentu dengan tidak menyebut namanya, mengangkat martabatnya sampai tinggi, tentu seharusnya kita ummatnya.

Latar Belakang Turunnya Ayat QS. 49 : 4 - 5
Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa apabila orang-orang Arab berkunjung ke rumah Rasulullah saw. mereka berteriak memanggil Rasulullah dari luar dengan ucapan-ucapan : “Hai Muhammad! Hai Muhammad!”. Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 49 4, 5) yang melukiskan bahwa perbuatan seperti itu bukanlah akhlak Islam. Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Abu Ya’la dengan sanad yang Hasan yang bersumber dari Zaid bin Arqam.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. sambil berteriak memanggilnya dari luar : “Hai Muhammad! Pujianku sangat baik tapi juga cacianku sangat tajam”. Rasulullah bersabda : “Celakalah engkau, yang bersifat demikian itu adalah Allah”. Ayat ini (S. 49: 4) turun sebagai larangan kepada orang-orang yang suka berteriak-teriak dari luar rumah. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah. Riwayat ini mursal tapi mempunyai saksi-saksi yang marfu’ dari Hadits al-Barra bin ‘Azib dan lainnya yang ada dalam kitab Sunan Tirmidzi tapi tidak menyebutkan nuzulul ayat. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hasan.

Dalam riwayat lain dkemukakan bahw al-’Aqra bin Habis memanggil-manggil Raulullah saw dari luar rumah, akan tetapi Rasulullah s.a.w., tidak menjawabnya. Ia pun berteriak : “Hai Muhammad ! Sesungguhnya pujianku baik, dan cacianku sangat tajam”. Bersabdalah Rasulullah “Yang bersifat demikian itu adalah Allah?’. Ayat ini (S. 49 4, 5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut di atas. Diriwayatkan oleh Ahmad dengan Sanad yang shahih yang bersumber dari al-’Aqra bin Habis.

Dalam riwayat lain dikemukaka bahwa al-Aqra datang kepada Nabi s.a.w. dan berteriak-teriak dari luar rumah : “Hai Muhammad ! keluarlah”. Ayat ini (S. 49 4, 5) turun sebagai teguran terhadap kekurang-sopanan dalam bertamu. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya yang bersumber dari al-‘Aqra.
---------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984, halaman 239 - 243.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 469 - 470.
Tafsir Qur'an Al-Furqan, A. Hassan, Penerbit Al Ikhwan Surabaya, Cetakan Kedua 1986, halaman 1014 - 1015.