ARSIP VIDEO (11 November 2018) : Konfrontasi antara pemuda Palestina dengan serdadu penjajah "israel" di kota Tekoa selatan, Betlehem, Palestina.
Tampilkan postingan dengan label Syam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syam. Tampilkan semua postingan
Selasa, 11 Desember 2018
Kamis, 22 November 2018
Penghancuran 16 Pertokoan Palestina (3)
Inilah pelanggaran hukum internasional yang sangat mencolok ❣ 16 toko milik warga Palestina dihancurkan oleh buldoser-buldoser otoritas penjajah "israel" di wilayah kamp pengungsi Shu'fat Baitul Maqdis timur terjajah, Palestina. Sedari pagi 21 November 2018.
Sumber : Shehab News.
Sumber : Shehab News.
Penghancuran 16 Pertokoan Palestina (2)
Puluhan serdadu "israel" menyerbu ke wilayah kamp pengungsi Shufat di Baitul Maqdis timur, untuk menghancurkan sejumlah pertokoan milik warga Palestina dan menembaki wartawan untuk membersihkan pelanggaran yang dilakukan otoritas penjajah "israel".
Sumber : Quds News Network.
Sumber : Quds News Network.
Penghancuran 16 Pertokoan Palestina (1)
Puluhan serdadu penjajah "israel" menyerbu ke wilayah kamp pengungsi Shufat di Baitul Maqdis timur, untuk menghancurkan sejumlah pertokoan milik warga Palestina. Sedari pagi 21 #November 2018 mereka telah memenuhi lokasi pembongkaran.
Sumber : Shehab News.
Sumber : Shehab News.
Sabtu, 17 November 2018
Operasi Bendera
VIDEO ARSIP : (17/2/2018) Beberapa detik setelah serdadu penjajah "israel" mencabut bendera Palestina di perbatasan Khan Younis timur, Jalur Gaza, Palestina. Saatnya serdadu penjajah zionis "israel" beserta kawannya dihancurkan Brigade Nashr Sholahuddin.
Minggu, 24 Juli 2016
Serdadu Zionis Aniaya Penggembala di Lembah Yordan
LEMBAH YORDAN, Rabu (PIC): Serdadu-serdadu Zionis Ahad (17/7) lalu menganiaya para penggembala Badui Arab di daerah Hamsa al-Fawqa di Lembah Yordan Utara dan melarang mereka menggunakan mata air untuk hewan ternak mereka. Warga setempat mengungkapkan pada PIC bahwa gerombolan serdadu itu mengejar para penggembala hingga ke bukit-bukit di daerah Hamsa al-Fawqa, menangkapi beberapa dari mereka sebentar, dan memerintahkan mereka untuk tidak membiarkan ternak mereka memakan rumput atau minum di mata air kawasan tersebut. Sumber-sumber tersebut juga menambahkan bahwa para serdadu mengancam akan mengusir seluruh keluarga dari Hamsa al-Fawqa dan merampas hewan ternak mereka jika mereka tidak mematuhi perintah tersebut.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto : PIC) Jumat, 22 Juli 2016
Wartawan Palestina Ini Dihukum Enam Bulan Penjara Karena Dukung Intifadhah
BAITUL MAQDIS, Rabu (Ma’an News Agency): Pengadilan ‘Israel’ Senin (18/7) lalu memvonis wartawan Palestina enam bulan penjara atas dakwaan “melakukan penghasutan”. Demikian ungkap keluarganya kepada Ma’an. Keluarga Samah Dweik (25), wartawan yang bekerja di Shabakat al-Quds (The Jerusalem Network), mengatakan bahwa ia ditangkap para April lalu di rumahnya di kawasan Ras al-Amud, Timur Baitul Maqdis karena dituduh “menghasut” di Facebook. Hakim pengadilan ‘Israel’ di Baitul Maqdis menyatakan Dweik bersalah karena mempublikasikan pernyataan bernada “hasutan” di media sosial.
Amjad Abu Asab, kepala Komite Keluarga Tawanan di Baitul Maqdis, mengatakan pada Ma’an Mei lalu bahwa Dweik ditahan karena menulis status di Facebook dan menyebarluaskan sebuah foto untuk mendukung para syuhada yang gugur oleh pasukan ‘Israel’. Beberapa bulan terakhir ini, penjajah Zionis telah menahan sejumlah warga Palestina karena aktivitas mereka di media sosial. Penjajah menuduh gelombang intifadhah yang melanda wilayah Palestina terjajah sejak Oktober lalu sebagian besar didorong oleh “hasutan” yang disebarkan melalui media sosial. Sebaliknya, warga Palestina justru menuding rasa frustasi dan putus asa akibat penjajahan militer ‘Israel’ yang hampir 50 tahun dan tidak adanya horizon politiklah yang jadi penyebab utamanya.
Pada Mei lalu, Pusat Studi Tawanan Palestina (PPCS) memperkirakan setidaknya 28 wanita Palestina ditahan oleh penjajah Zionis sejak Oktober lalu karena dituduh “melakukan penghasutan” di media sosial, enam dari mereka masih berada di penjara termasuk Dweik. Kamis lalu, jaksa penuntut umum militer ‘Israel’ menuntut Tamer Tarayra –saudara lelaki Muhammad Nasser Tarayra yang tewas oleh pasukan Zionis usai melakukan penikaman di permukiman ilegal Yahudi di distrik Al-Khalil, sebelah selatan Tepi Barat terjajah– atas tuduhan “melakukan penghasutan”.
Muhammad Nasser Tarayra sendiri diberitakan menyatakan kekagumannya di Facebook terhadap warga Palestina yang tewas saat melakukan penikaman atau dituduh melakukan penikaman, termasuk sepupunya Yousef Mustafa Tarayra, yang ditembak mati bersama dua pemuda Palestina lainnya pada Maret lalu karena dituduh melakukan dua serangan berturut-turut.
Perihal tuduhan penghasutan yang ditujukan terhadap warga Palestina, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat menuding ‘Israel’ lah yang bertanggung jawab atas hasutan tersebut. Ia menyatakan, pejabat ‘Israel’ melontarkan pernyataan penuh kebencian, rasisme, dan bersikap diskriminatif terhadap warga Palestina. Terlebih lagi hal itu diperkuat dengan perlindungan institusi terhadap mereka yang melakukan atau mendorong tindak kekerasan terhadap warga Palestina.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Amjad Abu Asab, kepala Komite Keluarga Tawanan di Baitul Maqdis, mengatakan pada Ma’an Mei lalu bahwa Dweik ditahan karena menulis status di Facebook dan menyebarluaskan sebuah foto untuk mendukung para syuhada yang gugur oleh pasukan ‘Israel’. Beberapa bulan terakhir ini, penjajah Zionis telah menahan sejumlah warga Palestina karena aktivitas mereka di media sosial. Penjajah menuduh gelombang intifadhah yang melanda wilayah Palestina terjajah sejak Oktober lalu sebagian besar didorong oleh “hasutan” yang disebarkan melalui media sosial. Sebaliknya, warga Palestina justru menuding rasa frustasi dan putus asa akibat penjajahan militer ‘Israel’ yang hampir 50 tahun dan tidak adanya horizon politiklah yang jadi penyebab utamanya.
Pada Mei lalu, Pusat Studi Tawanan Palestina (PPCS) memperkirakan setidaknya 28 wanita Palestina ditahan oleh penjajah Zionis sejak Oktober lalu karena dituduh “melakukan penghasutan” di media sosial, enam dari mereka masih berada di penjara termasuk Dweik. Kamis lalu, jaksa penuntut umum militer ‘Israel’ menuntut Tamer Tarayra –saudara lelaki Muhammad Nasser Tarayra yang tewas oleh pasukan Zionis usai melakukan penikaman di permukiman ilegal Yahudi di distrik Al-Khalil, sebelah selatan Tepi Barat terjajah– atas tuduhan “melakukan penghasutan”.
Muhammad Nasser Tarayra sendiri diberitakan menyatakan kekagumannya di Facebook terhadap warga Palestina yang tewas saat melakukan penikaman atau dituduh melakukan penikaman, termasuk sepupunya Yousef Mustafa Tarayra, yang ditembak mati bersama dua pemuda Palestina lainnya pada Maret lalu karena dituduh melakukan dua serangan berturut-turut.
Perihal tuduhan penghasutan yang ditujukan terhadap warga Palestina, Sekretaris Jenderal Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Saeb Erekat menuding ‘Israel’ lah yang bertanggung jawab atas hasutan tersebut. Ia menyatakan, pejabat ‘Israel’ melontarkan pernyataan penuh kebencian, rasisme, dan bersikap diskriminatif terhadap warga Palestina. Terlebih lagi hal itu diperkuat dengan perlindungan institusi terhadap mereka yang melakukan atau mendorong tindak kekerasan terhadap warga Palestina.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Kamis, 21 Juli 2016
Serdadu Zionis Bunuh Bocah Palestina Saat Bentrokan di Tepi Barat
RAMALLAH, Rabu (Ma’an News Agency): Seorang bocah Palestina 12 tahun tewas Selasa (19/7) malam saat terjadi bentrokan antara warga dengan serdadu Zionis di kota al-Ram sebelah utara Baitul Maqdis di pusat Tepi Barat terjajah. Menurut sumber-sumber medis, peluru baja berlapis karet yang ditembakkan serdadu Zionis mengenai jantung Muhye Muhammad Sidqi al-Tabbakhi.
Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan, Muhye dinyatakan sudah meninggal dunia saat tiba di Pusat Medis Palestina.
Bentrokan terjadi setelah pasukan Zionis menggerebek kota al-Ram. Para pemuda Palestina melemparkan batu dan botol-botol kosong ke arah para serdadu Zionis. Kemudian, serdadu membalas aksi lempar itu dengan menembakkan peluru baja berlapis karet dan bom-bom gas airmata. Pasukan Zionis telah berulang kali menjadi sasaran kritik atas penggunaan kekuatan berlebihan, serta metode-metode mematikan untuk mengendalikan kerumunan sehingga seringkali mengakibatkan kematian atau luka pada para demonstran.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Kementerian Kesehatan Palestina mengungkapkan, Muhye dinyatakan sudah meninggal dunia saat tiba di Pusat Medis Palestina.
Bentrokan terjadi setelah pasukan Zionis menggerebek kota al-Ram. Para pemuda Palestina melemparkan batu dan botol-botol kosong ke arah para serdadu Zionis. Kemudian, serdadu membalas aksi lempar itu dengan menembakkan peluru baja berlapis karet dan bom-bom gas airmata. Pasukan Zionis telah berulang kali menjadi sasaran kritik atas penggunaan kekuatan berlebihan, serta metode-metode mematikan untuk mengendalikan kerumunan sehingga seringkali mengakibatkan kematian atau luka pada para demonstran.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Senin, 18 Juli 2016
Jabatan Penting untuk Rabi yang Bolehkan Perkosaan Saat Perang
![]() |
| Operasi militer di desa Salem, Tepi Barat, 30 Mei 2016 |
PALESTINA, Ahad (salon.com): Eyal Karim dinominasikan menjadi pimpinan rabi Angkatan Perang ‘Israel’, bergabung dengan tokoh-tokoh konservatif garis keras lainnya. Inilah tokoh Yahudi yang membenarkan serdadu Zionis memperkosa wanita saat perang.
Rabi Kolonel Eyal Karim dinominasikan untuk posisi rabi tertinggi itu oleh Kepala Staf Angkatan Perang ‘Israel’ (IDF) Senin (11/7) lalu. Eyal menimbulkan kontroversi di media pada 2012, ketika terungkap bahwa pada 2003 di sebuah situs keagamaan ia mengusulkan para serdadu diperbolehkan melakukan perkosaan semasa perang. “Satu hal penting dan nilai-nilai krusial dalam perang adalah menjaga kesiapsiagaan perjuangan militer…kebutuhan dan emosi individu dikesampingkan demi kesuksesan bangsa dalam peperangan,” tulisnya menanggapi pertanyaan mengenai para serdadu yang memerkosa warga sipil dalam perang.
“Meskipun bergaul dengan wanita non-Yahudi merupakan hal yang buruk, itu diperbolehkan dalam perang karena mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para serdadu,” lanjut Eyal, berdasarkan terjemahan dari media ‘Israel’. “Karena kesuksesan bersama adalah hal yang harus menjadi perhatian utama kita dalam perang. Kitab Taurat juga membolehkan individu untuk memuaskan nafsunya dalam kondisi-kondisi yang memungkinkan demi kesuksesan bersama,” katanya.
Pada 2012, ketika pernyataan ini dipublikasikan secara luas, Eyal bersikeras itu merupakan kesalahpahaman dan di luar konteks. Ia mengatakan tidak membenarkan pemerkosaan. Eyal juga sebelumnya membantah bahwa para wanita seharusnya tidak diperbolehkan mengabdi di militer. Selasa (12/7) lalu, Eyal merilis pernyataan lainnya yang menyatakan bahwa ia menentang pemerkosaan dan kini mendukung diizinkannya para wanita mengabdi dalam militer.
Para politisi sayap kiri ‘Israel’ mengecam pengangkatan Eyal. Zahava Galon, pemimpin partai Meretz, mengatakan Eyal “tidak cocok untuk mewakili etnis Yahudi. Pernyataan mengerikannya, rasis dan kejam (terhadap wanita) tidak dapat diterima untuk pengangkatan posisi senior apapun,” tambahnya, sebagaimana diberitakan Haaretz.
Serangan balik ini membuat IDF untuk sementara mempertimbangkan kembali pengangkatannya. Militer ‘Israel’ mengaku tak tahu soal pernyataan Eyal di masa lalu dan tidak melakukan pengecekan latar belakang menyeluruh. Namun, kantor juru bicara IDF bersikeras kepada media ‘Israel’ pada Selasa lalu bahwa mereka tak memiliki niat untuk membatalkan pengangkatan Eyal. Esoknya (13/7), Kepala Staf IDF Gadi Eizenkot menjelaskan bahwa Eyal akan menjadi rabi kepala militer ‘Israel’.* (salon.com | Sahabat Al-Aqsha | Foto: AP/Majdi Mohammed)
Rabi Kolonel Eyal Karim dinominasikan untuk posisi rabi tertinggi itu oleh Kepala Staf Angkatan Perang ‘Israel’ (IDF) Senin (11/7) lalu. Eyal menimbulkan kontroversi di media pada 2012, ketika terungkap bahwa pada 2003 di sebuah situs keagamaan ia mengusulkan para serdadu diperbolehkan melakukan perkosaan semasa perang. “Satu hal penting dan nilai-nilai krusial dalam perang adalah menjaga kesiapsiagaan perjuangan militer…kebutuhan dan emosi individu dikesampingkan demi kesuksesan bangsa dalam peperangan,” tulisnya menanggapi pertanyaan mengenai para serdadu yang memerkosa warga sipil dalam perang.
“Meskipun bergaul dengan wanita non-Yahudi merupakan hal yang buruk, itu diperbolehkan dalam perang karena mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para serdadu,” lanjut Eyal, berdasarkan terjemahan dari media ‘Israel’. “Karena kesuksesan bersama adalah hal yang harus menjadi perhatian utama kita dalam perang. Kitab Taurat juga membolehkan individu untuk memuaskan nafsunya dalam kondisi-kondisi yang memungkinkan demi kesuksesan bersama,” katanya.
Pada 2012, ketika pernyataan ini dipublikasikan secara luas, Eyal bersikeras itu merupakan kesalahpahaman dan di luar konteks. Ia mengatakan tidak membenarkan pemerkosaan. Eyal juga sebelumnya membantah bahwa para wanita seharusnya tidak diperbolehkan mengabdi di militer. Selasa (12/7) lalu, Eyal merilis pernyataan lainnya yang menyatakan bahwa ia menentang pemerkosaan dan kini mendukung diizinkannya para wanita mengabdi dalam militer.
Para politisi sayap kiri ‘Israel’ mengecam pengangkatan Eyal. Zahava Galon, pemimpin partai Meretz, mengatakan Eyal “tidak cocok untuk mewakili etnis Yahudi. Pernyataan mengerikannya, rasis dan kejam (terhadap wanita) tidak dapat diterima untuk pengangkatan posisi senior apapun,” tambahnya, sebagaimana diberitakan Haaretz.
Serangan balik ini membuat IDF untuk sementara mempertimbangkan kembali pengangkatannya. Militer ‘Israel’ mengaku tak tahu soal pernyataan Eyal di masa lalu dan tidak melakukan pengecekan latar belakang menyeluruh. Namun, kantor juru bicara IDF bersikeras kepada media ‘Israel’ pada Selasa lalu bahwa mereka tak memiliki niat untuk membatalkan pengangkatan Eyal. Esoknya (13/7), Kepala Staf IDF Gadi Eizenkot menjelaskan bahwa Eyal akan menjadi rabi kepala militer ‘Israel’.* (salon.com | Sahabat Al-Aqsha | Foto: AP/Majdi Mohammed)
Jumat, 15 Juli 2016
Gembong Zionis Anjurkan ‘Penculikan’ Warga Palestina
![]() |
| Menteri Pendidikan ‘Israel’ Naftali Bennett |
Dalam sebuah wawancara dengan Radio Darom, Bennett membahas masalah pembebasan para tawanan Palestina sebagai bagian dari kesepakatan untuk mengembalikan warga Yahudi Avraham Mengistu dan Hisham al-Sayed, serta “jasad” Hadar Goldin dan Oron Shaul, dua serdadu yang dianggapnya tewas saat agresi ‘Israel’ atas Gaza pada 2014.
“Saya konsisten selama bertahun-tahun: menentang semua kesepakatan yang tidak seimbang dalam membebaskan para ‘teroris’, dan khususnya sebagai pertukaran dengan jenazah,” demikian Times of Israel mengutip perkataan Bennett. Menurut The Jerusalem Post, Bennett menganjurkan untuk menculik warga Palestina demi membebaskan serdadu-serdadu Zionis yang “tewas” dan warga Yahudi yang hilang.
“Kita harus melakukan apa yang ‘Israel’ pernah lakukan,” katanya. “Yang pernah kita lakukan dalam situasi seperti ini adalah kita harus pergi dan menculik pihak lain, dan menciptakan pengaruh baru terhadap pihak lain, ketimbang membebaskan lebih banyak ‘teroris’.”
Masih belum jelas dari pernyataan Bennett tersebut apakah ia menganjurkan penculikan warga Palestina untuk digunakan sebagai alat tawar pertukaran dengan warga ‘Israel’, atau sebagai taktik intimidasi guna memaksa pihak yang menahan warga ‘Israel’ di Gaza untuk membebaskan mereka.
Tidak jelas pula apakah Bennett mendesak pemerintah ‘Israel’ menahan lebih banyak lagi warga Palestina yang kini sekitar 7.000 orang ditahan di penjara-penjara ‘Israel’, atau terus perlakukan mereka tanpa proses hukum termasuk memperbanyak eksekusi di jalanan.
Bennett terkenal dengan retorika hasutannya terhadap warga Palestina. Segera setelah sejumlah serangan yang menewaskan dua warga ‘Israel’ pekan lalu, termasuk bocah berusia 13 tahun, dan tiga warga Palestina, Bennett menganjurkan sejumlah tindakan yang dikecam oleh kelompok-kelompok HAM sebagai hukuman kolektif.
Tindakan-tindakan yang disarankan itu –banyak yang diterapkan– termasuk meningkatkan pembangunan permukiman ilegal Yahudi; menghancurkan properti warga Palestina; kontrol penuh militer Zionis atas keseluruhan Tepi Barat; menutup kampung-kampung halaman warga Palestina yang dituduh melakukan penyerangan; menahan anggota keluarga yang disangka melakukan penyerangan; memutus internet dan akses seluler distrik Al-Khalil, Tepi Barat.
Hingga kini penjajah Zionis masih menahan setidaknya tujuh jenazah warga Palestina yang tewas oleh pasukan Zionis sejak Oktober lalu. Pihak keluarga warga Palestina yang tewas itu masih belum mendapat kepastian tentang kapan jenazah-jenazah itu akan dibebaskan untuk dimakamkan.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: AFP/Menahem Kahana)
“Saya konsisten selama bertahun-tahun: menentang semua kesepakatan yang tidak seimbang dalam membebaskan para ‘teroris’, dan khususnya sebagai pertukaran dengan jenazah,” demikian Times of Israel mengutip perkataan Bennett. Menurut The Jerusalem Post, Bennett menganjurkan untuk menculik warga Palestina demi membebaskan serdadu-serdadu Zionis yang “tewas” dan warga Yahudi yang hilang.
“Kita harus melakukan apa yang ‘Israel’ pernah lakukan,” katanya. “Yang pernah kita lakukan dalam situasi seperti ini adalah kita harus pergi dan menculik pihak lain, dan menciptakan pengaruh baru terhadap pihak lain, ketimbang membebaskan lebih banyak ‘teroris’.”
Masih belum jelas dari pernyataan Bennett tersebut apakah ia menganjurkan penculikan warga Palestina untuk digunakan sebagai alat tawar pertukaran dengan warga ‘Israel’, atau sebagai taktik intimidasi guna memaksa pihak yang menahan warga ‘Israel’ di Gaza untuk membebaskan mereka.
Tidak jelas pula apakah Bennett mendesak pemerintah ‘Israel’ menahan lebih banyak lagi warga Palestina yang kini sekitar 7.000 orang ditahan di penjara-penjara ‘Israel’, atau terus perlakukan mereka tanpa proses hukum termasuk memperbanyak eksekusi di jalanan.
Bennett terkenal dengan retorika hasutannya terhadap warga Palestina. Segera setelah sejumlah serangan yang menewaskan dua warga ‘Israel’ pekan lalu, termasuk bocah berusia 13 tahun, dan tiga warga Palestina, Bennett menganjurkan sejumlah tindakan yang dikecam oleh kelompok-kelompok HAM sebagai hukuman kolektif.
Tindakan-tindakan yang disarankan itu –banyak yang diterapkan– termasuk meningkatkan pembangunan permukiman ilegal Yahudi; menghancurkan properti warga Palestina; kontrol penuh militer Zionis atas keseluruhan Tepi Barat; menutup kampung-kampung halaman warga Palestina yang dituduh melakukan penyerangan; menahan anggota keluarga yang disangka melakukan penyerangan; memutus internet dan akses seluler distrik Al-Khalil, Tepi Barat.
Hingga kini penjajah Zionis masih menahan setidaknya tujuh jenazah warga Palestina yang tewas oleh pasukan Zionis sejak Oktober lalu. Pihak keluarga warga Palestina yang tewas itu masih belum mendapat kepastian tentang kapan jenazah-jenazah itu akan dibebaskan untuk dimakamkan.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: AFP/Menahem Kahana)
Kamis, 14 Juli 2016
Gadis Palestina Divonis Penjara 4 Bulan Karena Terlibat Pameran Buku
BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Selasa (PIC): Hakim Pengadilan ‘Israel’ di Baitul Maqdis terjajah kemarin (11/7) menjatuhkan vonis empat bulan penjara kepada gadis Baitul Maqdis berusia 19 tahun, Hala al-Bitar. Komite keluarga para tawanan Baitul Maqdis mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa pengadilan memvonis Bitar karena ia berpartisipasi dalam aktivitas mahasiswa (pameran buku) di Universitas Yerusalem. Bitar ditahan di penjara-penjara ‘Israel’ sejak 19 April lalu. Ia dipindahkan ke sejumlah penjara ‘Israel’ dan kini ditahan di penjara al-Damon.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto: PIC)
Rabu, 13 Juli 2016
Serdadu Zionis Serang Gadis Ini Saat Menuju Al-Aqsha
BAYT LAHM, Selasa (PIC): Pasukan penjajah Zionis (IOF), yang mangkal di sebelah utara pos pemeriksaan Bayt Lahm, menyerang gadis Palestina berusia 16 tahun kemudian menangkap dan membawanya ke pusat tahanan yang tak diketahui pada Jumat (8/7) sore. Para saksi mata mengungkapkan, serdadu Zionis dengan sengaja memprovokasi gadis bernama Noor Manasra itu dan tidak mengizinkannya melintas ke dalam Baitul Maqdis terjajah untuk melaksanakan shalat di Masjidil Aqsha. Para serdadu IOF menyerang gadis tersebut karena bersikeras melintas ke dalam Baitul Maqdis terjajah, lantas menangkapnya.
Serdadu-serdadu Zionis menyebar di pos-pos pemeriksaan utama yang menghubungkan antara Tepi Barat dan Baitul Maqdis terjajah sejak Jumat pagi. Hanya wanita di atas usia 30 tahun yang diizinkan melintas ke dalam Baitul Maqdis. Sementara pria, hanya yang berusia di atas 50 tahun yang boleh melintas.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto: PIC)
Serdadu-serdadu Zionis menyebar di pos-pos pemeriksaan utama yang menghubungkan antara Tepi Barat dan Baitul Maqdis terjajah sejak Jumat pagi. Hanya wanita di atas usia 30 tahun yang diizinkan melintas ke dalam Baitul Maqdis. Sementara pria, hanya yang berusia di atas 50 tahun yang boleh melintas.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto: PIC)
Sabtu, 09 Juli 2016
Dua Tahun Usai Perang, 900 Warga Gaza yang Terluka Masih Butuh Perawatan
BAYT LAHM, Jum’at (Ma’an News Agency): Sekitar 900 warga Palestina di Jalur Gaza masih terus membutuhkan perhatian medis karena disabilitas permanen yang mereka derita akibat serangan 51 hari ‘Israel’ di wilayah kecil tersebut, yang dimulai pada 8 Juli 2014. Demikian ungkap badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA.
Pada peringatan tahun kedua perang tersebut, rumah sakit Shifa di Jalur Gaza telah menerima pendaftaran 3.839 pasien yang menanti jadwal operasi. Berdasarkan pernyataan yang dipublikasikan UNRWA Senin lalu, lebih dari setengah jumlah tersebut tergolong operasi besar dan penetapan waktu pembedahan telah dijadwalkan hingga tahun 2018. “Sejumlah pasien yang terluka masih menderita selama dua tahun ini dan butuh perawatan berkelanjutan. Banyak pula yang masih menunggu kaki palsu. Kondisi prostetik di Gaza masih sangat rawan,” kata dokter bedah tulang di rumah sakit Shifa Gaza, Dr. Mahmoud Matar kepada UNRWA.
UNRWA menekankan dalam pernyataan mereka bahwa, “Daftar tunggu yang panjang membuat banyak pasien frustasi, terkadang mereka mengalami rasa sakit yang tidak perlu dan menghadapi risiko kesehatan yang terkait dengan perawatan yang tertunda.” Sementara itu, bagian penting dari infrastruktur pelayanan kesehatan juga masih rusak parah. Bahkan menurut Kementerian Kesehatan Palestina dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infrastruktur pelayanan kesehatan di sana telah hampir runtuh sebelum dimulainya peperangan.
Rumah sakit Al-Wafa di Kota Gaza dan tiga klinik pelayanan kesehatan utama telah benar-benar hancur saat perang. Sekitar 18 rumah sakit dan 60 klinik lainnya juga mengalami kerusakan. “Hingga saat ini, semua fasilitas itu telah atau sedang dalam proses diperbaiki/dibangun kembali, dengan pengecualian rumah sakit al-Wafa yang membutuhkan dana besar untuk memulai rekonstruksi,” ungkap UNRWA.
Berdasarkan dokumentasi PBB, sekitar 11.200 warga Palestina –termasuk 3.800 anak-anak– menderita luka saat perang. Sementara itu menurut WHO, sekitar 36.000 warga Palestina –20 persen populasi Jalur Gaza– diperkirakan membutuhkan bantuan perawatan kesehatan jiwa akibat perang. UNRWA mengatakan, tertundanya perawatan sebagian besar akibat kurangnya tenaga ahli dalam sistem pelayanan kesehatan di Jalur Gaza. “Situasi ini sebagian akibat blokade ‘Israel’ yang membatasi peluang-peluang pelatihan di luar, dan konflik internal Palestina yang mengakibatkan karyawan publik direkrut oleh otoritas de facto, termasuk staf kesehatan, tanpa gaji tetap.”
Jalur Gaza telah menderita di bawah blokade militer ‘Israel’ sejak tahun 2007, yakni saat Hamas terpilih untuk mengatur wilayah tersebut. Penduduk Gaza menderita akibat tingginya angka orang yang kehilangan pekerjaan dan kemiskinan, serta konsekuensi tiga perang dengan ‘Israel’ yang meluluhlantakkan Gaza sejak 2008, dan yang terakhir pada musim panas 2014. Menurut PBB, serangan 51 hari ‘Israel’ yang disebut operasi “Protective Edge” oleh otoritas penjajah Zionis itu setidaknya menewaskan 1.462 warga sipil Palestina dimana sepertiganya adalah anak-anak.
PBB juga pernah menyatakan bahwa wilayah Palestina terblokade itu akan menjadi “tak layak huni” pada tahun 2020, dimana 1,8 juta penduduknya tetap berada dalam kemiskinan akibat blokade ‘Israel’ yang melumpuhkan ekonomi, meluasnya kerusakan akibat serangan-serangan ‘Israel’, dan lambannya upaya rekonstruksi untuk membangun kembali rumah-rumah bagi 75.000 warga Palestina yang masih mengungsi akibat serangan terakhir ‘Israel’ atas Gaza.* (Ma’an News Agency | Foto: AFP/Thomas Coex | Sahabat Al-Aqsha)
Pada peringatan tahun kedua perang tersebut, rumah sakit Shifa di Jalur Gaza telah menerima pendaftaran 3.839 pasien yang menanti jadwal operasi. Berdasarkan pernyataan yang dipublikasikan UNRWA Senin lalu, lebih dari setengah jumlah tersebut tergolong operasi besar dan penetapan waktu pembedahan telah dijadwalkan hingga tahun 2018. “Sejumlah pasien yang terluka masih menderita selama dua tahun ini dan butuh perawatan berkelanjutan. Banyak pula yang masih menunggu kaki palsu. Kondisi prostetik di Gaza masih sangat rawan,” kata dokter bedah tulang di rumah sakit Shifa Gaza, Dr. Mahmoud Matar kepada UNRWA.
UNRWA menekankan dalam pernyataan mereka bahwa, “Daftar tunggu yang panjang membuat banyak pasien frustasi, terkadang mereka mengalami rasa sakit yang tidak perlu dan menghadapi risiko kesehatan yang terkait dengan perawatan yang tertunda.” Sementara itu, bagian penting dari infrastruktur pelayanan kesehatan juga masih rusak parah. Bahkan menurut Kementerian Kesehatan Palestina dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infrastruktur pelayanan kesehatan di sana telah hampir runtuh sebelum dimulainya peperangan.
Rumah sakit Al-Wafa di Kota Gaza dan tiga klinik pelayanan kesehatan utama telah benar-benar hancur saat perang. Sekitar 18 rumah sakit dan 60 klinik lainnya juga mengalami kerusakan. “Hingga saat ini, semua fasilitas itu telah atau sedang dalam proses diperbaiki/dibangun kembali, dengan pengecualian rumah sakit al-Wafa yang membutuhkan dana besar untuk memulai rekonstruksi,” ungkap UNRWA.
Berdasarkan dokumentasi PBB, sekitar 11.200 warga Palestina –termasuk 3.800 anak-anak– menderita luka saat perang. Sementara itu menurut WHO, sekitar 36.000 warga Palestina –20 persen populasi Jalur Gaza– diperkirakan membutuhkan bantuan perawatan kesehatan jiwa akibat perang. UNRWA mengatakan, tertundanya perawatan sebagian besar akibat kurangnya tenaga ahli dalam sistem pelayanan kesehatan di Jalur Gaza. “Situasi ini sebagian akibat blokade ‘Israel’ yang membatasi peluang-peluang pelatihan di luar, dan konflik internal Palestina yang mengakibatkan karyawan publik direkrut oleh otoritas de facto, termasuk staf kesehatan, tanpa gaji tetap.”
Jalur Gaza telah menderita di bawah blokade militer ‘Israel’ sejak tahun 2007, yakni saat Hamas terpilih untuk mengatur wilayah tersebut. Penduduk Gaza menderita akibat tingginya angka orang yang kehilangan pekerjaan dan kemiskinan, serta konsekuensi tiga perang dengan ‘Israel’ yang meluluhlantakkan Gaza sejak 2008, dan yang terakhir pada musim panas 2014. Menurut PBB, serangan 51 hari ‘Israel’ yang disebut operasi “Protective Edge” oleh otoritas penjajah Zionis itu setidaknya menewaskan 1.462 warga sipil Palestina dimana sepertiganya adalah anak-anak.
PBB juga pernah menyatakan bahwa wilayah Palestina terblokade itu akan menjadi “tak layak huni” pada tahun 2020, dimana 1,8 juta penduduknya tetap berada dalam kemiskinan akibat blokade ‘Israel’ yang melumpuhkan ekonomi, meluasnya kerusakan akibat serangan-serangan ‘Israel’, dan lambannya upaya rekonstruksi untuk membangun kembali rumah-rumah bagi 75.000 warga Palestina yang masih mengungsi akibat serangan terakhir ‘Israel’ atas Gaza.* (Ma’an News Agency | Foto: AFP/Thomas Coex | Sahabat Al-Aqsha)
Minggu, 03 Juli 2016
Pagi Ini ‘Israel’ Serang Gaza
GAZA, Sabtu (Ma’an News Agency): Pasukan penjajah Zionis pagi tadi meluncurkan serangan udara ke sejumlah tempat di Jalur Gaza yang sudah mereka blokade 10 tahun ini.
Warga ‘Israel’ dan sumber-sumber setempat mengungkapkan, pesawat-pesawat tempur ‘Israel’ menembakkan roket-roket ke dua tempat yang kabarnya digunakan oleh mujahidin Brigade Al-Qassam di selatan Kota Gaza, dan mengarahkan rudal-rudal ke lima lokasi lainnya yang mereka anggap dipakai Brigade Al-Qassam dan Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam.
Rudal-rudal tersebut menghantam sebuah tempat di Beit Lahiya, tempat pandai besi di kawasan Zaytun, tempat di dekat menara al-Irsal di timur Jabaliya, lahan kosong di dekat lokasi Brigade Al-Quds di sebelah utara Beit Lahiya, dan sebuah lumbung di dekat kampus pertanian di timur Beit Hanun di sebelah utara Jalur Gaza. Namun, militer ‘Israel’ menyatakan bahwa mereka menyasar empat lokasi di utara dan pusat Jalur Gaza yang merupakan “bagian-bagian infrastruktur operasional Hamas.” Tak ada laporan korban luka, kendati properti rusak parah.
Penjajah Zionis mengklaim serangan-serangan udara tersebut merupakan balasan atas serangan roket dari Gaza pada Jumat (1/7) malam ke sebelah selatan ‘Israel’, yang menyerang kota Sderot dan mengakibatkan sebuah gedung rusak. ‘Israel’ menuduh Hamas bertanggung jawab atas semua roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza, meskipun kelompok-kelompok Palestina lainnya aktif di kawasan tersebut.
Agresi ‘Israel’ ini terjadi kurang lebih dua bulan setelah meningkatnya aksi kekerasan di kawasan yang terkepung itu. Yakni, ketika pasukan penjajah Zionis melakukan serangan udara selama beberapa hari berturut-turut pada bulan Mei yang diklaim sebagai balasan atas tembakan mortir lintas-perbatasan dan sebuah roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza ketika ‘Israel’ melakukan operasi pembongkaran terowongan-terowongan yang dibangun Hamas.
Sekitar 1,8 juta warga Jalur Gaza ‘’dikurung” di dalam wilayah sempit itu selama hampir 10 tahun blokade militer ‘Israel’ yang didukung Mesir di perbatasan sebelah selatan.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Warga ‘Israel’ dan sumber-sumber setempat mengungkapkan, pesawat-pesawat tempur ‘Israel’ menembakkan roket-roket ke dua tempat yang kabarnya digunakan oleh mujahidin Brigade Al-Qassam di selatan Kota Gaza, dan mengarahkan rudal-rudal ke lima lokasi lainnya yang mereka anggap dipakai Brigade Al-Qassam dan Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam.
Rudal-rudal tersebut menghantam sebuah tempat di Beit Lahiya, tempat pandai besi di kawasan Zaytun, tempat di dekat menara al-Irsal di timur Jabaliya, lahan kosong di dekat lokasi Brigade Al-Quds di sebelah utara Beit Lahiya, dan sebuah lumbung di dekat kampus pertanian di timur Beit Hanun di sebelah utara Jalur Gaza. Namun, militer ‘Israel’ menyatakan bahwa mereka menyasar empat lokasi di utara dan pusat Jalur Gaza yang merupakan “bagian-bagian infrastruktur operasional Hamas.” Tak ada laporan korban luka, kendati properti rusak parah.
Penjajah Zionis mengklaim serangan-serangan udara tersebut merupakan balasan atas serangan roket dari Gaza pada Jumat (1/7) malam ke sebelah selatan ‘Israel’, yang menyerang kota Sderot dan mengakibatkan sebuah gedung rusak. ‘Israel’ menuduh Hamas bertanggung jawab atas semua roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza, meskipun kelompok-kelompok Palestina lainnya aktif di kawasan tersebut.
Agresi ‘Israel’ ini terjadi kurang lebih dua bulan setelah meningkatnya aksi kekerasan di kawasan yang terkepung itu. Yakni, ketika pasukan penjajah Zionis melakukan serangan udara selama beberapa hari berturut-turut pada bulan Mei yang diklaim sebagai balasan atas tembakan mortir lintas-perbatasan dan sebuah roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza ketika ‘Israel’ melakukan operasi pembongkaran terowongan-terowongan yang dibangun Hamas.
Sekitar 1,8 juta warga Jalur Gaza ‘’dikurung” di dalam wilayah sempit itu selama hampir 10 tahun blokade militer ‘Israel’ yang didukung Mesir di perbatasan sebelah selatan.* (Ma’an News Agency | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MaanImages)
Jumat, 01 Juli 2016
Lima Alasan Gaza Masih Dikepung
![]() |
| Pabrik semen sederhana di Jalur Gaza yang terblokade. |
LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Perdana Menteri Turki Binali Yildirim menyatakan pada Senin (27/6) lalu bahwa blokade ‘Israel’ atas Jalur Gaza “sebagian besar telah dicabut” sebagai bagian dari rekonsiliasi baru antara ‘Israel’ dan Turki. Normalisasi hubungan Turki-‘Israel’ terjadi enam tahun setelah pasukan ‘Israel’ menewaskan 10 warga negara Turki di atas kapal yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Termasuk rencana sesudah rekonsiliasi ini adalah mulai dibangunnya sebuah rumah sakit berkapasitas 200 ranjang, proyek perumahan dan instalasi desalinasi di Gaza. Kendati dengan syarat bahan-bahan tersebut harus berjalan melalui pelabuhan ‘Israel’ Ashdod lebih dulu.
Sayangnya, tak ada satu pun dari lima hal di bawah ini yang merupakan indikasi “pencabutan blokade” masuk dalam klausul rekonsiliasi. Berbagai larangan yang diberlakukan ‘Israel’ di Jalur Gaza dan 1,8 juta penduduknya masih tetap ada. Jadi, inilah lima hal yang mengindikasikan blokade masih belum berubah:
1. Penjajah masih melarang barang-barang masuk Gaza.
Rata-rata tiap minggu sekitar 2.145 truk penuh muatan masuk ke Jalur Gaza pada 2016 (hampir setengahnya bahan-bahan bangunan), dan ini merupakan 76 persen dari keseluruhan statistik sebelum blokade. ‘Israel’ memberlakukan daftar panjang pelarangan benda-benda yang ‘ganda penggunaannya’, termasuk benda-benda sebenarnya dapat diklasifikasikan bersifat sangat sipil dan “kritis bagi keselamatan nyawa penduduk sipil.” (Catatan Redaksi: Alasan pelarangan terhadap benda-benda itu karena dianggap dapat diubah menjadi senjata.) Rekonstruksi setelah serangan ‘Israel’ pada tahun 2014 juga berjalan sangat lambat. Hanya pada Oktober tahun lalu rumah pertama dibangun kembali dan sekitar 90.000 warga Palestina masih mengungsi.
2. Penjajah masih melarang barang-barang keluar dari Gaza untuk dijual ke luar negeri atau pasar-pasar utama kawasan, yakni Tepi Barat dan ‘Israel.’ Pada 14-20 Juni, misalnya, hanya 26 truk penuh muatan yang ke luar Gaza, tidak lebih dari sepersepuluh sebelum blokade. Tahun lalu, pejabat senior Bank Dunia mengatakan bahwa blokade ‘Israel’ dan perang 2014 menunjukkan bahwa “ekspor Gaza hampir lenyap” (ia tidak melebih-lebihkan – ekspor jatuh 97 persen antara tahun 2007 dan 2012).
3. Penjajah masih melarang pergerakan orang – termasuk ke dan dari Tepi Barat.
Bahkan setelah ‘konsesi’ yang dibuat ‘Israel’ setelah operasi ‘Protective Edge’, angka orang yang melakukan perjalanan di pelintasan Gaza yang dikuasai ‘Israel’, Erez, masih hanya tiga persen pada September 2000. Selain itu, ‘Israel’ terus melarang keluarga-keluarga Palestina saling mengunjungi satu sama lain. Menuntut ilmu di universitas-universitas di Tepi Barat juga terlarang bagi para mahasiswa Palestina di Gaza. Bahkan larangan juga diberlakukan terhadap orang-orang yang sudah memegang izin dari ‘Israel’ untuk “kasus-kasus medis dan kemanusiaan lainnya, para pedagang, serta para pekerja kemanusiaan.”
4. Pasukan penjajah Zionis menyerang para nelayan dan petani.
Pasukan penjajah Zionis masih terus menyerang warga sipil Palestina di Jalur Gaza, terutama para nelayan di laut, dan para petani yang bekerja di ladang mereka yang terletak di dekat pagar perbatasan. Senin lalu, pasukan penjajah menembaki nelayan-nelayan Palestina dan (dua kali) menembak petani. Menurut tokoh PBB, antara 7-20 Juni pasukan Zionis menembaki warga Palestina di wilayah-wilayah yang disebut Access Restricted Areas di darat dan laut pada 32 peristiwa terpisah.
5. Mesir masih terus menutup Rafah.
Ketika ‘Israel’ mengontrol hampir seluruh pelintasan Jalur Gaza, otoritas Mesir memainkan peran penting dalam ‘mencekik’ Gaza. Pekan ini, Mesir membuka pelintasan Rafah di kedua arah selama lima hari, tapi ini pengecualian. Karena PBB mencatat bahwa pelintasan ditutup sejak 24 Oktober 2015, “kecuali untuk 42 hari”.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MEMO)
Termasuk rencana sesudah rekonsiliasi ini adalah mulai dibangunnya sebuah rumah sakit berkapasitas 200 ranjang, proyek perumahan dan instalasi desalinasi di Gaza. Kendati dengan syarat bahan-bahan tersebut harus berjalan melalui pelabuhan ‘Israel’ Ashdod lebih dulu.
Sayangnya, tak ada satu pun dari lima hal di bawah ini yang merupakan indikasi “pencabutan blokade” masuk dalam klausul rekonsiliasi. Berbagai larangan yang diberlakukan ‘Israel’ di Jalur Gaza dan 1,8 juta penduduknya masih tetap ada. Jadi, inilah lima hal yang mengindikasikan blokade masih belum berubah:
1. Penjajah masih melarang barang-barang masuk Gaza.
Rata-rata tiap minggu sekitar 2.145 truk penuh muatan masuk ke Jalur Gaza pada 2016 (hampir setengahnya bahan-bahan bangunan), dan ini merupakan 76 persen dari keseluruhan statistik sebelum blokade. ‘Israel’ memberlakukan daftar panjang pelarangan benda-benda yang ‘ganda penggunaannya’, termasuk benda-benda sebenarnya dapat diklasifikasikan bersifat sangat sipil dan “kritis bagi keselamatan nyawa penduduk sipil.” (Catatan Redaksi: Alasan pelarangan terhadap benda-benda itu karena dianggap dapat diubah menjadi senjata.) Rekonstruksi setelah serangan ‘Israel’ pada tahun 2014 juga berjalan sangat lambat. Hanya pada Oktober tahun lalu rumah pertama dibangun kembali dan sekitar 90.000 warga Palestina masih mengungsi.
2. Penjajah masih melarang barang-barang keluar dari Gaza untuk dijual ke luar negeri atau pasar-pasar utama kawasan, yakni Tepi Barat dan ‘Israel.’ Pada 14-20 Juni, misalnya, hanya 26 truk penuh muatan yang ke luar Gaza, tidak lebih dari sepersepuluh sebelum blokade. Tahun lalu, pejabat senior Bank Dunia mengatakan bahwa blokade ‘Israel’ dan perang 2014 menunjukkan bahwa “ekspor Gaza hampir lenyap” (ia tidak melebih-lebihkan – ekspor jatuh 97 persen antara tahun 2007 dan 2012).
3. Penjajah masih melarang pergerakan orang – termasuk ke dan dari Tepi Barat.
Bahkan setelah ‘konsesi’ yang dibuat ‘Israel’ setelah operasi ‘Protective Edge’, angka orang yang melakukan perjalanan di pelintasan Gaza yang dikuasai ‘Israel’, Erez, masih hanya tiga persen pada September 2000. Selain itu, ‘Israel’ terus melarang keluarga-keluarga Palestina saling mengunjungi satu sama lain. Menuntut ilmu di universitas-universitas di Tepi Barat juga terlarang bagi para mahasiswa Palestina di Gaza. Bahkan larangan juga diberlakukan terhadap orang-orang yang sudah memegang izin dari ‘Israel’ untuk “kasus-kasus medis dan kemanusiaan lainnya, para pedagang, serta para pekerja kemanusiaan.”
4. Pasukan penjajah Zionis menyerang para nelayan dan petani.
Pasukan penjajah Zionis masih terus menyerang warga sipil Palestina di Jalur Gaza, terutama para nelayan di laut, dan para petani yang bekerja di ladang mereka yang terletak di dekat pagar perbatasan. Senin lalu, pasukan penjajah menembaki nelayan-nelayan Palestina dan (dua kali) menembak petani. Menurut tokoh PBB, antara 7-20 Juni pasukan Zionis menembaki warga Palestina di wilayah-wilayah yang disebut Access Restricted Areas di darat dan laut pada 32 peristiwa terpisah.
5. Mesir masih terus menutup Rafah.
Ketika ‘Israel’ mengontrol hampir seluruh pelintasan Jalur Gaza, otoritas Mesir memainkan peran penting dalam ‘mencekik’ Gaza. Pekan ini, Mesir membuka pelintasan Rafah di kedua arah selama lima hari, tapi ini pengecualian. Karena PBB mencatat bahwa pelintasan ditutup sejak 24 Oktober 2015, “kecuali untuk 42 hari”.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MEMO)
Rabu, 29 Juni 2016
Antara Shalahuddin Al-Ayyubi dan Imam Al-Ghazali
Inpasonline.com: Film Kingdom of Heaven arahan Ridley Scott cukup berhasil menampilkan sosok pahlawan Islam Shalahuddin al-Ayyubi secara lebih obyektif. Wajar, jika film yang menampilkan sisi-sisi hitam sejarah Kristen itu memeranjatkan banyak orang di Barat. Sebab, selama ini sosok Shalahuddin memang dipersepsikan sebagai “momok”, yang dibenci. Jenderal Geraud, saat berhasil menaklukkan Damaskus, pada abad ke-20, menginjakkan kakinya di makam Shalahuddin, sambil berteriak: “Saladin, wake up. We are back!”
Karen Armstrong, dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, menguraikan dampak Perang Salib dalam membentuk persepsi masyarakat Barat terhadap Muslim. Film Kingdom of Heaven mengungkap fakta yang sangat kontras antara sikap pasukan Kristen dan pasukan Islam saat merebut Jerusalem. Tahun 1099, saat menduduki Jerusalem, pasukan Salib membantai hampir semua kaum Muslim dan Yahudi. Sekitar 30 ribu orang dibantai di Jerusalem, sehingga di Masjid al-Aqsha terjadi genangan darah setinggi mata kaki. Tapi, saat Shalahuddin merebut kembali Jerusalem, ia membebaskan kaum Kristen untuk meninggalkan Jerusalem dengan aman.
Sosok Shalahuddin, telah berabad-abad melegenda dalam tradisi masyarakat Barat. Jo Ann Hoeppner Moran Cruz, dalam tulisanya “Popular Attitudes towards Islam in Medieval Europe” (Lihat, David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, 1999), memaparkan cerita-cerita menarik seputar legenda-legenda yang hidup di kalangan masyarakat Barat pada Zaman Pertengahan terhadap Islam.
Misal, legenda tentang Eleanor of Aquitaine yang diisukan memiliki affair dengan Shalahuddin al-Ayyubi, saat ia menemani suaminya, Louis VII, dalam Perang Salib II. Ada pula legenda tentang Shalahuddin yang dikabarkan merupakan keturunan dari anak perempuan Count of Ponthieu di Utara Perancis. Juga, legenda bahwa Shalahuddin telah dibaptis pada akhir hayatnya.
Apa pun persepsi Barat tentang Shalahuddin, bagi kaum Muslim, Shalahuddin al- Ayyubi dipandang sebagai pahlawan. Hingga kini, banyak orang Muslim bangga memberi nama anaknya “Shalahuddin”. Kisah-kisah kepahlawanan Shalahuddin, Muhammad al-Fatih, dan penguasa-penguasa (umara) Muslim lainnya, telah memberikan inspirasi kepada banyak generasi Muslim, bahwa jalan kebangkitan umat Islam adalah dengan menunggu dan berusaha menghadirkan seorang pemimpin politik kenegaraan. Bahkan, terkadang, harapan itu begitu besar, saat Negara dan masyarakat dalam kondisi terpuruk, banyak yang berharap hadirnya pemimpin baru akan memberikan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Harapan itu sering kali berakhir sia-sia. Pemimpin baru yang tampil tak mampu berbuat banyak, atau bahkan seringkali menunjukkan kualitas jauh lebih rendah dari pada citra yang dimunculkan saat kampanye pemilihan kepemimpinan negara.
Peran Ulama
Kisah kebangkitan umat Islam dalam Perang Salib – setelah terpuruk dan dibantai Pasukan Salib dari Eropa – bisa menjadi pelajaran penting bagi umat Islam saat ini. Kebangkitan umat Islam ketika itu terjadi bukan melalui hadirnya seorang pemimpin hebat seperti Shalahuddin al-Ayyubi, tetapi justru terjadi melalui kerja keras para ulama – melalui madrasah-madrasah – yang berhasil melahirkan satu generasi yang hebat, yaitu “Generasi Shalahuddin” (Jiilu Shalahuddin). Kisah kebangkitan itu dipotret dan dianalisis dengan baik oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Aadat al-Quds. Buku ini memaparkan peran ulama- ulama seperti Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dan sebagainya, dalam mendidik dan melahirkan generasi Shalahuddin tersebut.
Peran Imam al-Ghazali dalam kebangkitan umat Islam saat itu juga digambarkan dalam Kitab al-Jihad yang ditulis ‘Ali b. Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498 H), enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami bertemu dengan al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al- Sulami adalah imam di Masjid tersebut dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib.
Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad. Ada dua kondisi yang harus disiapkan sebelumnya. Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum Muslim ketika itu. Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.
Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral” dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan the greater jihad (al- jihad al-akbar). Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib (Franks).
Peran al-Ghazali dalam membangun moral kaum Muslim disebutkan oleh Elisseef. Bahwa, kelemahan spiritual di kalangan Muslim pada awal Perang Salib ditekankan oleh al-Ghazali, yang ketika itu mengajar di Damascus. Al-Ghazali menekankan jihad melawan hawa nafsu, melawan kejahatan, di atas jihad melawan musuh. Tujuannya adalah untuk membantu kaum Muslim mereformasi jiwa mereka.
(The spiritual laxness existing in Islam on the eve of the Crusades was underlined by al- Ghazali, in 1096. The illustrious philosopher who, at the time, was teaching in Damascus, emphasized the priority of jihad of the soul, the jihad al-akbar (the major jihad) – struggle against evil – over the jihad al-aÃŽghar (the minor jihad), i.e. the struggle against infidel. His aim was to help the Muslim rediscover his soul. At this time, it was necessary to effect the reform of morals and beliefs and to create ways of combating the various heterodoxies existing in the very bosom of Islam).
Faktanya, sekitar 50 tahun kemudian, di masa Nur ad-Din Zengi, kaum Muslim mampu melaksanakan jihad efektif. Elisseef mencatat: “The person who would realize the ideal of the jihad which as-Sulami, Ghazali, and the ‘ulama of Damascus had advocated, was Nur ad-Din.”
Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zengi, ayah Nur al-Din. Dua tahun sesudah itu, Zengi wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187.
Istilah jihad, secara yuridis Islam, kemudian berkembang menjadi makna khusus, dan telah dipahami oleh para sarjana Muslim dalam pengertian “perang” (qital). Dalam makna khusus dalam bidang fiqih inilah, istilah jihad memiliki makna syariat. Semisal, ada ketentuan-ketentuan hukum dimana orang yang mati dalam jihad – dengan makna qital – diperlakukan jenazahnya sebagai syahid. Namun, memang terdapat berbagai hadith Nabi ï·º yang menunjukkan berbagai jenis jihad dalam makna yang umum, seperti jihad dengan mengeluarkan kata-kata yang benar di depan penguasa yang zalim. Begitu juga dengan jihad melawan hawa nafsu, dengan lisan, dan harta.
Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dengan baik.
Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menakankan pentingnya masalah ilmu. Ia membuka kitabnya itu dengan “Kitabul Ilmi”. Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama.
Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar, yang dikatakan oleh Ali al-Sulami sebagai tahap “reformasi moral”. Tentu, tahap kebangkitan dan reformasi jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?
Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehensif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya Ulumuddin, dengan makna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya.
Problema politik umat ketika itu merupakan masalah yang sangat serius. Tetapi, problematika keilmuan dan akhlak merupakan masalah yang lebih mendasar, sehingga solusi dalam bidang politik, tidak dapat dicapai jika kerusakan dalam bidang yang lebih mendasar itu tidak diselesaikan terlebih dahulu. Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya.
Nabi Muhammad ï·º memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah ï·º mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah ï·º: Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim)
Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah.
Banyak kaum Muslimin yang berpikir bahwa jika aspek politik direbut oleh gerakan Islam tertentu, maka akan selesailah masalah umat. Pendapat ini sebagian benar. Tapi kurang sempurna. Kekuasaan politik adalah bagian dari masalah penting umat Islam. Sebab, ad-daulah adalah penyokong penting perkembangan agama. Bukan hanya Islam. Tetapi, juga agama-agama lain. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa atas jasa besar Kaisar Konstantin yang mengeluarkan Dekrit ‘Edict of Milan’ (tahun 313) dan Kaisar Theodosius yang menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara Romawi (Edict of Theodosius, tahun 392). Perkembangan agama Budha juga tidak lepas dari peran Raja Asoka.
Begitu juga eksistensi dan perkembangan agama-agama lain, sulit dipisahkan dari kekuatan politik. Sama halnya, dengan ideologi-ideologi modern yang berkembang saat ini. Eksistensi dan perkembangan mereka juga sangat ditopang oleh kekuasaan politik. Komunisme menjadi kehilangan pamornya setelah Uni Soviet runtuh. Sulit membayangkan Kapitalisme akan diminati oleh umat manusia jika suatu ketika nanti Amerika Serikat mengalami kebangkrutan sebagaimana Uni Soviet.
Tetapi, perlu dicatat, bahwa kekuasaan politik bukanlah segala-galanya. Banyak peristiwa membuktikan, bahwa pemikiran, keyakinan, dan sikap masyarakat, tidak selalu sejalan dengan penguasa. Di masa Khalifah al-Makmun, yang Muktazily, umat Islam lebih mengikuti para ulama Ahlu Sunnah, ketimbang paham Muktazilah. Di masa penjajahan Belanda, umat Islam tidak mengikuti agama penjajah, dan lebih mengikuti kepemimpinan ulama. Banyak lagi contoh lain.
Karena itu, ulama dan umara memang dua tiang penyangga umat yang penting. Kedua aspek itu harus mendapatkan perhatian yang penting. Para aktivis politik umat harus memiliki pemahaman yang benar tentang Islam. Jika tidak, para pemimpin politik justru bisa menjadi perusak Islam yang signifikan. Karena ketidaktahuannya, bisa saja melakukan tindakan yang keliru.
Sebagai contoh, mereka mati-matian merebut kursi kepemimpinan di daerah atau departemen tertentu, sedangkan kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah dianggap sepele. Ribuan orang dikerahkan untuk berdemonstrasi karena faktor kursi kekuasaan, tetapi tidak demonstrasi apa-apa ketika ada penyimpangan dalam aqidah Islam, semisal kasus Ahmadiyah, penyebaran paham Pluralisme Agama, atau kezaliman yang sangat mencolok, semisal pembangunan patung yang memakan dana rakyat milyaran rupiah, di saat rakyat sedang dililit kesulitan hidup dan berbagai penyakit yang mematikan.
Jadi, tidaklah benar jika dalam perjuangan mengabaikan salah satu aspek kehidupan. Tetapi, semuanya harus ditempatkan dalam proporsi dan tempatnya. Itulah yang namanya adil. Nabi Muhammad saw memulai dakwah Islam dengan aspek ilmu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang konsep-konsep dasar dalam Islam, seperti konsep tentang Tuhan, Nabi, wahyu, adil, agama, dan sebagainya. Pondasi pemikiran (afkar), pemahaman (mafahim), standar-standar nilai (maqayis), dan ketundukan (qana’at), yang Islamiy ditanamkan secara kokoh oleh Nabi Muhammad saw kepada para sahabat ketika itu. Mereka tampil sebagai sosok-sosok ulama dan cendekiawan serta pejuang yang tangguh dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa dilihat, bagaimana hebatnya argumentasi Ja’far bin Abi Thalib ketika berdebat dengan Raja Najasyi dan orang-orang kafir Quraisy Mekkah di Habsyah. Ja’far dan kaum Muslimin yang sedang dalam kondisi terjepit meminta perlindungan kepada Najasyi, mampu memberikan argumen-argumen yang canggih seputar masalah Isa a.s. yang menjadi titik sentral kontroversi Islam dengan Kristen.
Ringkasnya, perjuangan Islam dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat ini, perlu memadukan dan mensinergikan berbagai aspek, yakni aspek keilmuan, kejiwaan, harta benda, dan sebagainya. Jihad melawan hawa nafsu atau berjuang dalam bidang keilmuan, tidak perlu dipertentangkan dengan jihad melawan musuh. Semua perlu dipadukan, sebagaimana telah dilakukan di zaman Rasulullah saw, Perang Salib, dan sebagainya, sehingga kaum Muslim berhasil mengukir kemenangan yang gemilang dalam berbagai arena perjuangan.
Rasulullah ï·º bersabda: “Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”. (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu, dan lisan-lisanmu). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa’i, Ahmad, al-Darimi, dengan sanad yang sangat kuat. Ibn Hibban, al-Hakim, dan an-Nawawiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih.
Melalui hadits tersebut, Rasulullah ï·º menekankan pentingnya kaum Muslimin melakukan jihad secara komprehensif, dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki, baik harta, jiwa, maupun lisan. Dalam arena perjuangan, atau arena jihad, sebenarnya tiga aspek: harta, jiwa, dan lisan, saling terkait satu dengan yang lain. Peperangan fisik adalah salah satu bagian dari sebuah perjuangan yang luas dan panjang antara al-haq dan al-bathil.
Bahkan, dalam hadits lainnya, Rasulullah ï·º juga menekankan pentingnya jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah ï·º bersabda: “Al-Mujahid man jahada nafsahu fi- Allah ‘Azza wa-Jalla”. (Mujahid adalah seseorang yang melakukan jihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah). Al-Iraqiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih, dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
Jadi, dalam arena perjuangan atau arena jihad, kaum Muslim sebenarnya diminta untuk menggabungkan seluruh kemampuan atau potensi – baik potensi jiwa, harta, maupun lisan (intelektual) dan menempatkan masing-masing pada proporsi yang sebenarnya. Kapan kekuatan fisik digunakan, kapan kemampuan intelektual, dan kapan potensi harta benda diperlukan. Semua itu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT.
Semua potensi jihad itu tidak bisa digunakan jika manusia dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka, perang melawan hawa nafsu secara otomatis menjadi faktor penting dalam bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Jika kaum Muslim mampu menggabungkan semua potensi tersebut, maka dalam sejarahnya, kaum Muslim mampu tampil sebagai umat yang hebat, gemilang dan terbilang. Jika potensi itu terpecah belah dan tidak teratur dengan baik, maka kekalahan menimpa kaum Muslimin.
Peran ilmu dan ulama
Sepeninggal Rasulullah ï·º, umat Islam ditinggali dua perkara, yang jika keduanya dipegang teguh, maka umat Islam tidak akan tersesat selamanya. Keduanya, yakni, al-Quran dan Sunnah Rasululullah. Tapi, di samping itu, Rasulullah ï·º juga mewariskan para ulama kepada umat Islam. Ulama adalah pewaris nabi. Ulama-ulamalah yang diamanahkan untuk menjabarkan, mengaktualkan, membimbing, menerangi, dan memimpin umat dalam bidang kehidupan. Banyak ulama yang mensyaratkan ‘kemampuan berijtihad’ bagi kepala negara (khalifah).
Adalah ideal jika ulama dan umara sama-sama baik. Dalam sejarahnya, Islam akan cepat berkembang jika ulama dan umaranya baik. Tapi, ada fase-fase dalam sejarah, dimana salah satu dari dua pilar umat itu bobrok atau rusak. Ketika itu, keberadaan ulama yang baik lebih diperlukan. Ketika Khalifah al-Makmun memaksakan paham Muktazilah, para ulama Ahlu Sunnah melakukan perlawanan yang gigih. Umat selamat, dan lebih mengikuti ulama ketimbang umara. Di zaman penjajahan Belanda, umaranya jelas rusak. Tetapi, ulama-ulama Islam ketika itu gigih mempertahankan ad-Dinul Islam. Alhamdulillah, meskipun Belanda berusaha sekuat tenaga menghancurkan Islam, umat Islam lebih mengikuti ulamanya.
Maka, yang perlu diperhatikan dan dicermati, –di samping kerusakan umara– adalah kerusakan ulama. Lahirnya ulama-ulama yang jahil, yang tidak kapabel keilmuannya, yang korupsi ilmu agama, yang berfatwa tanpa ilmu yang memadai, yang akhlaknya rusak, yang cinta dunia, dan sebagainya, adalah bencana terbesar yang dihadapi oleh umat Islam. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi, maka umat Islam harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan. Lebih rusak lagi jika para ulama sudah mencintai dunia, menjual agama dengan harta benda dunia, dan yang merusak ilmu-ilmu agama dengan dalih menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman.
Adalah musibah dan fitnah besar, misalnya, jika dari Perguruan Tinggi Islam justru lahir orang-orang yang berpaham atheis atau yang gila dunia. Jika ilmu agama sudah dirusak, maka akan lahir ulama yang rusak (ulama as-su’); yakni ulama, yang harusnya menjadi penjaga agama, justru menjadi penghancur agama. Ketika ilmu-ilmu Islam dirusak, maka tidak ada jalan kembali bagi peradaban Islam untuk bangkit lagi. Karena itu sangat diprihatinkan, jika umat Islam membiarkan terjadinya serangan pemikiran yang akan merusak ilmu-ilmu agama.
Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Al-Ilmu menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi” sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Hadid: 25)
Penutup
Sekelumit kisah kebangkitan umat Islam di era Perang Salib tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita, betapa pentingnya peran ulama dalam proses kebangkitan umat Islam. Ulama adalah pewaris Nabi. Maknanya, Nabi mewariskan perjuangannya pada kepemimpinan ulama. Jatuh bangunnya umat terletak pada baik atau tidaknya kualitas ulamanya. Jika ulamanya jahat atau jahil maka bencana besar menimpa umat.
Jadi, sepanjang zaman, ulama harus senantiasa ada dalam jumlah yang memadai.
Sebab, perjuangan Nabi tidak boleh berhenti. Ulama tidak dilahirkan dan tidak turun dari langit. Tapi, ulama lahir dari proses pendidikan. Ironis, jika di masa penjajahan, lembaga pendidikan Islam bisa melahirkan ulama-ulama hebat, tapi di masa kemerdekaan, justru tidak mampu melahirkan ulama-ulama hebat pewaris Nabi. Semoga musibah itu tidak menimpa lembaga pendidikan kita. Amin. (Oleh: Dr Adian Husaini; Artikel ini diterbitkan kembali oleh Sahabat Al-Aqsha dengan izin InPAS Online dan penulisnya)
Karen Armstrong, dalam bukunya, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, menguraikan dampak Perang Salib dalam membentuk persepsi masyarakat Barat terhadap Muslim. Film Kingdom of Heaven mengungkap fakta yang sangat kontras antara sikap pasukan Kristen dan pasukan Islam saat merebut Jerusalem. Tahun 1099, saat menduduki Jerusalem, pasukan Salib membantai hampir semua kaum Muslim dan Yahudi. Sekitar 30 ribu orang dibantai di Jerusalem, sehingga di Masjid al-Aqsha terjadi genangan darah setinggi mata kaki. Tapi, saat Shalahuddin merebut kembali Jerusalem, ia membebaskan kaum Kristen untuk meninggalkan Jerusalem dengan aman.
Sosok Shalahuddin, telah berabad-abad melegenda dalam tradisi masyarakat Barat. Jo Ann Hoeppner Moran Cruz, dalam tulisanya “Popular Attitudes towards Islam in Medieval Europe” (Lihat, David R. Blanks and Michael Frassetto (ed), Western Views of Islam in Medieval and Early Modern Europe, 1999), memaparkan cerita-cerita menarik seputar legenda-legenda yang hidup di kalangan masyarakat Barat pada Zaman Pertengahan terhadap Islam.
Misal, legenda tentang Eleanor of Aquitaine yang diisukan memiliki affair dengan Shalahuddin al-Ayyubi, saat ia menemani suaminya, Louis VII, dalam Perang Salib II. Ada pula legenda tentang Shalahuddin yang dikabarkan merupakan keturunan dari anak perempuan Count of Ponthieu di Utara Perancis. Juga, legenda bahwa Shalahuddin telah dibaptis pada akhir hayatnya.
Apa pun persepsi Barat tentang Shalahuddin, bagi kaum Muslim, Shalahuddin al- Ayyubi dipandang sebagai pahlawan. Hingga kini, banyak orang Muslim bangga memberi nama anaknya “Shalahuddin”. Kisah-kisah kepahlawanan Shalahuddin, Muhammad al-Fatih, dan penguasa-penguasa (umara) Muslim lainnya, telah memberikan inspirasi kepada banyak generasi Muslim, bahwa jalan kebangkitan umat Islam adalah dengan menunggu dan berusaha menghadirkan seorang pemimpin politik kenegaraan. Bahkan, terkadang, harapan itu begitu besar, saat Negara dan masyarakat dalam kondisi terpuruk, banyak yang berharap hadirnya pemimpin baru akan memberikan perubahan besar dalam kehidupan mereka. Harapan itu sering kali berakhir sia-sia. Pemimpin baru yang tampil tak mampu berbuat banyak, atau bahkan seringkali menunjukkan kualitas jauh lebih rendah dari pada citra yang dimunculkan saat kampanye pemilihan kepemimpinan negara.
Peran Ulama
Kisah kebangkitan umat Islam dalam Perang Salib – setelah terpuruk dan dibantai Pasukan Salib dari Eropa – bisa menjadi pelajaran penting bagi umat Islam saat ini. Kebangkitan umat Islam ketika itu terjadi bukan melalui hadirnya seorang pemimpin hebat seperti Shalahuddin al-Ayyubi, tetapi justru terjadi melalui kerja keras para ulama – melalui madrasah-madrasah – yang berhasil melahirkan satu generasi yang hebat, yaitu “Generasi Shalahuddin” (Jiilu Shalahuddin). Kisah kebangkitan itu dipotret dan dianalisis dengan baik oleh Dr. Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa-Hakadza ‘Aadat al-Quds. Buku ini memaparkan peran ulama- ulama seperti Imam al-Ghazali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani, dan sebagainya, dalam mendidik dan melahirkan generasi Shalahuddin tersebut.
Peran Imam al-Ghazali dalam kebangkitan umat Islam saat itu juga digambarkan dalam Kitab al-Jihad yang ditulis ‘Ali b. Thahir al-Sulami an-Nahwi (1039-1106), seorang imam bermazhab Shafi‘i dari Damaskus. Ia adalah seorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan Salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498 H), enam tahun setelah penaklukan Jerusalem oleh pasukan Salib. Adalah sangat mungkin al-Sulami bertemu dengan al-Ghazali di Masjid Ummayad, sebab Ali al- Sulami adalah imam di Masjid tersebut dan al-Ghazali juga sempat tinggal di tempat yang sama pada awal-awal periode Perang Salib.
Dalam Kitabnya itu, Ali al-Sulami mencatat, bahwa satu-satunya solusi yang dapat menyelamatkan wilayah-wilayah Muslim, adalah menyeru kaum Muslim kepada jihad. Ada dua kondisi yang harus disiapkan sebelumnya. Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum Muslim ketika itu. Invasi pasukan Salib harus dilihat sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan agar kaum Muslim bersatu. Kekalahan Muslim, menurut al-Sulami, adalah sebagai hukuman Allah atas kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan di atas semua itu, adalah kealpaan menjalankan jihad. Tahap kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan Salib menguasai negeri-negeri Islam. Dalam kitabnya, al-Sulami menyebutkan dengan jelas tentang situasi saat itu dan stretagi untuk mengalahkan pasukan Salib.
Konsep al-Sulami dalam melawan pasukan Salib berupa “reformasi moral” dari al-Ghazali’s memainkan peran penting. Sebab, menurut al-Sulami, melakukan jihad melawan pasukan Salib akan hampa jika tidak didahului dengan the greater jihad (al- jihad al-akbar). Ia juga mengimbau agar pemimpin-pemimpin Muslim memimpin jalan ini. Dengan demikian, perjuangan melawan hawa nafsu, adalah prasyarat mutlak sebelum melakukan perang melawan pasukan Salib (Franks).
Peran al-Ghazali dalam membangun moral kaum Muslim disebutkan oleh Elisseef. Bahwa, kelemahan spiritual di kalangan Muslim pada awal Perang Salib ditekankan oleh al-Ghazali, yang ketika itu mengajar di Damascus. Al-Ghazali menekankan jihad melawan hawa nafsu, melawan kejahatan, di atas jihad melawan musuh. Tujuannya adalah untuk membantu kaum Muslim mereformasi jiwa mereka.
(The spiritual laxness existing in Islam on the eve of the Crusades was underlined by al- Ghazali, in 1096. The illustrious philosopher who, at the time, was teaching in Damascus, emphasized the priority of jihad of the soul, the jihad al-akbar (the major jihad) – struggle against evil – over the jihad al-aÃŽghar (the minor jihad), i.e. the struggle against infidel. His aim was to help the Muslim rediscover his soul. At this time, it was necessary to effect the reform of morals and beliefs and to create ways of combating the various heterodoxies existing in the very bosom of Islam).
Faktanya, sekitar 50 tahun kemudian, di masa Nur ad-Din Zengi, kaum Muslim mampu melaksanakan jihad efektif. Elisseef mencatat: “The person who would realize the ideal of the jihad which as-Sulami, Ghazali, and the ‘ulama of Damascus had advocated, was Nur ad-Din.”
Titik balik Perang Salib terjadi dengan kejatuhan Edessa di tangan Muslim pada 539/1144, di bawah komandan Imam al-Din Zengi, ayah Nur al-Din. Dua tahun sesudah itu, Zengi wafat, tahun 1146. Ia telah meratakan jalan buat anaknya, Nur al-Din, untuk memimpin perjuangan melawan Pasukan Salib. Pada 544/1149, Nur al-Din meraih kemenangan melawan pasukan Salib dan pada 549/1154 ia sukses menyatukan Syria di bawah kekuasaan Muslim. Nur al-Din digambarkan sebagai sosok yang sangat religius, pahlawan jihad, dan model penguasa sunni. Setelah meninggalnya Nur al-Din pada 569/1174, Shalahuddin al-Ayyubi, keponakan Nur al-Din, memegang kendali kepemimpinan Muslim dalam melawan pasukan Salib. Ia kemudian dikenal sebagai pahlawan Islam yang berhasil membebaskan Jerusalem pada tahun 1187.
Istilah jihad, secara yuridis Islam, kemudian berkembang menjadi makna khusus, dan telah dipahami oleh para sarjana Muslim dalam pengertian “perang” (qital). Dalam makna khusus dalam bidang fiqih inilah, istilah jihad memiliki makna syariat. Semisal, ada ketentuan-ketentuan hukum dimana orang yang mati dalam jihad – dengan makna qital – diperlakukan jenazahnya sebagai syahid. Namun, memang terdapat berbagai hadith Nabi ï·º yang menunjukkan berbagai jenis jihad dalam makna yang umum, seperti jihad dengan mengeluarkan kata-kata yang benar di depan penguasa yang zalim. Begitu juga dengan jihad melawan hawa nafsu, dengan lisan, dan harta.
Secara ringkas dapat dipahami, bahwa di masa Perang Salib, kaum Muslim berhasil menggabungkan konsep jihad al-nafs dan jihad melawan musuh dengan baik.
Karya-karya al-Ghazali dalam soal jihad menekankan pentingnya mensimultankan berbagai jenis potensi dalam perjuangan umat, baik potensi jiwa, harta, dan juga keilmuan. Adalah menarik, bagaimana dalam situasi perang seperti itu, Imam Ghazali mampu melihat masalah umat secara komprehensif; secara mendasar. Dan melalui Ihya Ulumuddin, al-Ghazali juga menakankan pentingnya masalah ilmu. Ia membuka kitabnya itu dengan “Kitabul Ilmi”. Aktivitas al-Ghazali yang aktif dalam memberikan kritik-kritik keras terhadap berbagai pemikiran yang dinilainya menyesatkan umat, juga menunjukkan kepeduliannya yang tinggi terhadap masalah ilmu dan ulama.
Al-Ghazali seperti berpesan kepada umat, ketika itu, bahwa problema umat Islam saat itu tidak begitu saja bisa diselesaikan dari faktor-faktor permukaan saja, seperti masalah politik atau ekonomi. Tetapi, masalah umat perlu diselesaikan dari masalahnya yang sangat mendasar, yang dikatakan oleh Ali al-Sulami sebagai tahap “reformasi moral”. Tentu, tahap kebangkitan dan reformasi jiwa ini tidak dapat dilakukan tanpa melalui pemahaman keilmuan yang benar. Ilmu adalah asas dari pemahaman dan keimanan. Ilmu yang benar akan menuntun kepada keimanan yang benar dan juga amal yang benar. Ilmu yang salah akan menuntun pada pehamaman yang salah. Jika pemahaman sudah salah, bagaimana mungkin amal akan benar?
Jadi, dalam perjuangan umat, diperlukan pemahaman secara komprehensif terhadap problematika yang dihadapi oleh umat Islam. Ketika itu, umat Islam menghadapi berbagai masalah: politik, keilmuan, moral, sosial, dan sebagainya. Problema itu perlu dianalisis dan didudukkan secara proporsional dan adil. Yang penting ditempatkan pada posisinya, begitu juga yang kurang penting. Di situlah, al-Ghazali menulis kitab Ihya Ulumuddin, dengan makna “Menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama”. Ketika itu, dia seperti melihat, seolah-olah ilmu-ilmu agama sudah mati, sehingga perlu dihidupkan. Dalam Kitabnya, ia sangat menekankan pada aspek niat dan pembagian keilmuan serta penempatannya sesuai dengan proporsinya.
Problema politik umat ketika itu merupakan masalah yang sangat serius. Tetapi, problematika keilmuan dan akhlak merupakan masalah yang lebih mendasar, sehingga solusi dalam bidang politik, tidak dapat dicapai jika kerusakan dalam bidang yang lebih mendasar itu tidak diselesaikan terlebih dahulu. Al-Ghazali dan para ulama ketika itu berusaha keras membenahi cara berpikir ulama dan umat Islam serta menekankan pada pentingnya aspek amal dari ilmu, sehingga jangan menjadi ulama-ulama yang jahat. Sebab, ilmu yang rusak, dan ulama yang jahat, adalah sumber kerusakan bagi Islam dan umatnya.
Nabi Muhammad ï·º memberi amanah kepada para ulama untuk menjaga agama ini. Tentu saja, itu harus mereka lakukan dengan cara menjaga keilmuan Islam dengan baik. Bahkan, Rasulullah ï·º mengingatkan akan datangnya satu zaman yang penuh dengan fitnah dan banyaknya orang-orang jahil yang memberi fatwa. Sabda Rasulullah ï·º: Bahwasanya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu dengan sekaligus dari manusia. Tetapi Allah menghilangkan ilmu agama dengan mematikan para ulama. Apabila sudah ditiadakan para ulama, orang banyak akan memilih orang-orang bodoh sebagai pemimpinnya. Apabila pemimpin yang bodoh itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (HR Muslim)
Sepanjang sejarah Islam, para ulama sejati sangat aktif dalam mempertahankan konsep-konsep dasar Islam, mengembangkan ilmu-ilmu Islam, dan menjaganya dari perusakan yang dilakukan oleh ulama-ulama su’, atau ulama jahat. Penyimpangan dalam bidang keilmuan tidak ditolerir sama sekali, dan senantiasa mendapatkan perlawanan yang kuat, secara ilmiah.
Banyak kaum Muslimin yang berpikir bahwa jika aspek politik direbut oleh gerakan Islam tertentu, maka akan selesailah masalah umat. Pendapat ini sebagian benar. Tapi kurang sempurna. Kekuasaan politik adalah bagian dari masalah penting umat Islam. Sebab, ad-daulah adalah penyokong penting perkembangan agama. Bukan hanya Islam. Tetapi, juga agama-agama lain. Agama Kristen berkembang pesat di Eropa atas jasa besar Kaisar Konstantin yang mengeluarkan Dekrit ‘Edict of Milan’ (tahun 313) dan Kaisar Theodosius yang menjadikan Kristen sebagai agama resmi negara Romawi (Edict of Theodosius, tahun 392). Perkembangan agama Budha juga tidak lepas dari peran Raja Asoka.
Begitu juga eksistensi dan perkembangan agama-agama lain, sulit dipisahkan dari kekuatan politik. Sama halnya, dengan ideologi-ideologi modern yang berkembang saat ini. Eksistensi dan perkembangan mereka juga sangat ditopang oleh kekuasaan politik. Komunisme menjadi kehilangan pamornya setelah Uni Soviet runtuh. Sulit membayangkan Kapitalisme akan diminati oleh umat manusia jika suatu ketika nanti Amerika Serikat mengalami kebangkrutan sebagaimana Uni Soviet.
Tetapi, perlu dicatat, bahwa kekuasaan politik bukanlah segala-galanya. Banyak peristiwa membuktikan, bahwa pemikiran, keyakinan, dan sikap masyarakat, tidak selalu sejalan dengan penguasa. Di masa Khalifah al-Makmun, yang Muktazily, umat Islam lebih mengikuti para ulama Ahlu Sunnah, ketimbang paham Muktazilah. Di masa penjajahan Belanda, umat Islam tidak mengikuti agama penjajah, dan lebih mengikuti kepemimpinan ulama. Banyak lagi contoh lain.
Karena itu, ulama dan umara memang dua tiang penyangga umat yang penting. Kedua aspek itu harus mendapatkan perhatian yang penting. Para aktivis politik umat harus memiliki pemahaman yang benar tentang Islam. Jika tidak, para pemimpin politik justru bisa menjadi perusak Islam yang signifikan. Karena ketidaktahuannya, bisa saja melakukan tindakan yang keliru.
Sebagai contoh, mereka mati-matian merebut kursi kepemimpinan di daerah atau departemen tertentu, sedangkan kemunkaran di bidang aqidah Islamiyah dianggap sepele. Ribuan orang dikerahkan untuk berdemonstrasi karena faktor kursi kekuasaan, tetapi tidak demonstrasi apa-apa ketika ada penyimpangan dalam aqidah Islam, semisal kasus Ahmadiyah, penyebaran paham Pluralisme Agama, atau kezaliman yang sangat mencolok, semisal pembangunan patung yang memakan dana rakyat milyaran rupiah, di saat rakyat sedang dililit kesulitan hidup dan berbagai penyakit yang mematikan.
Jadi, tidaklah benar jika dalam perjuangan mengabaikan salah satu aspek kehidupan. Tetapi, semuanya harus ditempatkan dalam proporsi dan tempatnya. Itulah yang namanya adil. Nabi Muhammad saw memulai dakwah Islam dengan aspek ilmu, memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang konsep-konsep dasar dalam Islam, seperti konsep tentang Tuhan, Nabi, wahyu, adil, agama, dan sebagainya. Pondasi pemikiran (afkar), pemahaman (mafahim), standar-standar nilai (maqayis), dan ketundukan (qana’at), yang Islamiy ditanamkan secara kokoh oleh Nabi Muhammad saw kepada para sahabat ketika itu. Mereka tampil sebagai sosok-sosok ulama dan cendekiawan serta pejuang yang tangguh dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa dilihat, bagaimana hebatnya argumentasi Ja’far bin Abi Thalib ketika berdebat dengan Raja Najasyi dan orang-orang kafir Quraisy Mekkah di Habsyah. Ja’far dan kaum Muslimin yang sedang dalam kondisi terjepit meminta perlindungan kepada Najasyi, mampu memberikan argumen-argumen yang canggih seputar masalah Isa a.s. yang menjadi titik sentral kontroversi Islam dengan Kristen.
Ringkasnya, perjuangan Islam dalam menghadapi problematika yang dihadapi umat ini, perlu memadukan dan mensinergikan berbagai aspek, yakni aspek keilmuan, kejiwaan, harta benda, dan sebagainya. Jihad melawan hawa nafsu atau berjuang dalam bidang keilmuan, tidak perlu dipertentangkan dengan jihad melawan musuh. Semua perlu dipadukan, sebagaimana telah dilakukan di zaman Rasulullah saw, Perang Salib, dan sebagainya, sehingga kaum Muslim berhasil mengukir kemenangan yang gemilang dalam berbagai arena perjuangan.
Rasulullah ï·º bersabda: “Jahid al-mushrikina bi amwalikum wa anfusikum wa alsinatikum”. (Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan hartamu, jiwamu, dan lisan-lisanmu). Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Nasa’i, Ahmad, al-Darimi, dengan sanad yang sangat kuat. Ibn Hibban, al-Hakim, dan an-Nawawiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih.
Melalui hadits tersebut, Rasulullah ï·º menekankan pentingnya kaum Muslimin melakukan jihad secara komprehensif, dengan menggunakan berbagai potensi yang dimiliki, baik harta, jiwa, maupun lisan. Dalam arena perjuangan, atau arena jihad, sebenarnya tiga aspek: harta, jiwa, dan lisan, saling terkait satu dengan yang lain. Peperangan fisik adalah salah satu bagian dari sebuah perjuangan yang luas dan panjang antara al-haq dan al-bathil.
Bahkan, dalam hadits lainnya, Rasulullah ï·º juga menekankan pentingnya jihad melawan hawa nafsu. Rasulullah ï·º bersabda: “Al-Mujahid man jahada nafsahu fi- Allah ‘Azza wa-Jalla”. (Mujahid adalah seseorang yang melakukan jihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah). Al-Iraqiy menyatakan, bahwa hadits ini sahih, dan diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
Jadi, dalam arena perjuangan atau arena jihad, kaum Muslim sebenarnya diminta untuk menggabungkan seluruh kemampuan atau potensi – baik potensi jiwa, harta, maupun lisan (intelektual) dan menempatkan masing-masing pada proporsi yang sebenarnya. Kapan kekuatan fisik digunakan, kapan kemampuan intelektual, dan kapan potensi harta benda diperlukan. Semua itu harus dilandasi dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT.
Semua potensi jihad itu tidak bisa digunakan jika manusia dikuasai oleh hawa nafsunya. Maka, perang melawan hawa nafsu secara otomatis menjadi faktor penting dalam bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Jika kaum Muslim mampu menggabungkan semua potensi tersebut, maka dalam sejarahnya, kaum Muslim mampu tampil sebagai umat yang hebat, gemilang dan terbilang. Jika potensi itu terpecah belah dan tidak teratur dengan baik, maka kekalahan menimpa kaum Muslimin.
Peran ilmu dan ulama
Sepeninggal Rasulullah ï·º, umat Islam ditinggali dua perkara, yang jika keduanya dipegang teguh, maka umat Islam tidak akan tersesat selamanya. Keduanya, yakni, al-Quran dan Sunnah Rasululullah. Tapi, di samping itu, Rasulullah ï·º juga mewariskan para ulama kepada umat Islam. Ulama adalah pewaris nabi. Ulama-ulamalah yang diamanahkan untuk menjabarkan, mengaktualkan, membimbing, menerangi, dan memimpin umat dalam bidang kehidupan. Banyak ulama yang mensyaratkan ‘kemampuan berijtihad’ bagi kepala negara (khalifah).
Adalah ideal jika ulama dan umara sama-sama baik. Dalam sejarahnya, Islam akan cepat berkembang jika ulama dan umaranya baik. Tapi, ada fase-fase dalam sejarah, dimana salah satu dari dua pilar umat itu bobrok atau rusak. Ketika itu, keberadaan ulama yang baik lebih diperlukan. Ketika Khalifah al-Makmun memaksakan paham Muktazilah, para ulama Ahlu Sunnah melakukan perlawanan yang gigih. Umat selamat, dan lebih mengikuti ulama ketimbang umara. Di zaman penjajahan Belanda, umaranya jelas rusak. Tetapi, ulama-ulama Islam ketika itu gigih mempertahankan ad-Dinul Islam. Alhamdulillah, meskipun Belanda berusaha sekuat tenaga menghancurkan Islam, umat Islam lebih mengikuti ulamanya.
Maka, yang perlu diperhatikan dan dicermati, –di samping kerusakan umara– adalah kerusakan ulama. Lahirnya ulama-ulama yang jahil, yang tidak kapabel keilmuannya, yang korupsi ilmu agama, yang berfatwa tanpa ilmu yang memadai, yang akhlaknya rusak, yang cinta dunia, dan sebagainya, adalah bencana terbesar yang dihadapi oleh umat Islam. Jika kondisi seperti ini sudah terjadi, maka umat Islam harus bersiap-siap mengalami kebangkrutan. Lebih rusak lagi jika para ulama sudah mencintai dunia, menjual agama dengan harta benda dunia, dan yang merusak ilmu-ilmu agama dengan dalih menyesuaikan Islam dengan tuntutan zaman.
Adalah musibah dan fitnah besar, misalnya, jika dari Perguruan Tinggi Islam justru lahir orang-orang yang berpaham atheis atau yang gila dunia. Jika ilmu agama sudah dirusak, maka akan lahir ulama yang rusak (ulama as-su’); yakni ulama, yang harusnya menjadi penjaga agama, justru menjadi penghancur agama. Ketika ilmu-ilmu Islam dirusak, maka tidak ada jalan kembali bagi peradaban Islam untuk bangkit lagi. Karena itu sangat diprihatinkan, jika umat Islam membiarkan terjadinya serangan pemikiran yang akan merusak ilmu-ilmu agama.
Abu Harits al-Hasbi al-Atsari dalam kata pengantarnya untuk tulisan Ibnul Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Al-Ilmu menjelaskan, bahwa Allah telah menurunkan “Kitab” dan “Besi” sebagai sarana untuk tegaknya agama Allah. “Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (Keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergukan besi) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS al-Hadid: 25)
Penutup
Sekelumit kisah kebangkitan umat Islam di era Perang Salib tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita, betapa pentingnya peran ulama dalam proses kebangkitan umat Islam. Ulama adalah pewaris Nabi. Maknanya, Nabi mewariskan perjuangannya pada kepemimpinan ulama. Jatuh bangunnya umat terletak pada baik atau tidaknya kualitas ulamanya. Jika ulamanya jahat atau jahil maka bencana besar menimpa umat.
Jadi, sepanjang zaman, ulama harus senantiasa ada dalam jumlah yang memadai.
Sebab, perjuangan Nabi tidak boleh berhenti. Ulama tidak dilahirkan dan tidak turun dari langit. Tapi, ulama lahir dari proses pendidikan. Ironis, jika di masa penjajahan, lembaga pendidikan Islam bisa melahirkan ulama-ulama hebat, tapi di masa kemerdekaan, justru tidak mampu melahirkan ulama-ulama hebat pewaris Nabi. Semoga musibah itu tidak menimpa lembaga pendidikan kita. Amin. (Oleh: Dr Adian Husaini; Artikel ini diterbitkan kembali oleh Sahabat Al-Aqsha dengan izin InPAS Online dan penulisnya)
Senin, 27 Juni 2016
Warga Gaza Makmurkan Masjid-masjid yang Dihancurkan ‘Israel’
LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Dua tahun setelah penghancuran masjid-masjid di Gaza oleh ‘Israel’ dalam serangan terakhirnya terhadap Jalur Gaza pada 2014, warga Palestina kini melaksanakan shalat di bagian yang masih tersisa dari bangunan-bangunan yang dihancurkan itu. Kerugian akibat kerusakan tempat beribadah di Gaza selama agresi militer yang dinamai Protective Edge oleh ‘Israel’ diperkirakan mencapai $50 juta. Demikian ungkap komite di Kementerian Waqaf yang melakukan penaksiran kerugian akibat kerusakan.
Tercatat 73 masjid sepenuhnya hancur dan 197 rusak sebagian selama agresi ‘Israel’, serta 10 dari anggota dewan kemakmuran masjid juga tewas. Masjid Imam Shafi’i, Masjid Khalil Al-Wazir, Masjid Al-Shamaa di Kota Gaza, serta Masjid Izz el-Deen al-Qassam di kamp pengungsi Nuseirat di pusat Jalur Gaza dan Masjid Al-Montar seluruhnya hancur saat perang. Penduduk Gaza bersikeras melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadhan di masjid-masjid yang hancur itu demi memakmurkan kembali masjid-masjid tersebut.
Kementerian Waqaf dan Urusan Agama menyatakan telah menyelesaikan fase pertama rekonstruksi sembilan masjid yang dihancurkan oleh penjajah Zionis saat agresi ‘Israel’ di Gaza pada 2014. Kementerian menyatakan, banyak tantangan, kendala, serta kesulitan yang harus mereka hadapi, dan Turki berperan penting dalam mengatasinya. Turki memang berjanji akan membantu rekonstruksi masjid-masjid yang dihancurkan penjajah saat serangan terakhir di Jalur Gaza. Menteri Waqaf Turki Dr. Muhammad Kormaz, usai berakhirnya agresi ‘Israel’ mengatakan, “Ada kesadaran publik yang tinggi dan dukungan terhadap Gaza di Turki.” Ia berjanji akan membangun sepuluh masjid yang benar-benar hancur saat berkunjung ke Gaza tahun lalu.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MEMO/Mohammed Asad)
Tercatat 73 masjid sepenuhnya hancur dan 197 rusak sebagian selama agresi ‘Israel’, serta 10 dari anggota dewan kemakmuran masjid juga tewas. Masjid Imam Shafi’i, Masjid Khalil Al-Wazir, Masjid Al-Shamaa di Kota Gaza, serta Masjid Izz el-Deen al-Qassam di kamp pengungsi Nuseirat di pusat Jalur Gaza dan Masjid Al-Montar seluruhnya hancur saat perang. Penduduk Gaza bersikeras melaksanakan ibadah pada bulan suci Ramadhan di masjid-masjid yang hancur itu demi memakmurkan kembali masjid-masjid tersebut.
Kementerian Waqaf dan Urusan Agama menyatakan telah menyelesaikan fase pertama rekonstruksi sembilan masjid yang dihancurkan oleh penjajah Zionis saat agresi ‘Israel’ di Gaza pada 2014. Kementerian menyatakan, banyak tantangan, kendala, serta kesulitan yang harus mereka hadapi, dan Turki berperan penting dalam mengatasinya. Turki memang berjanji akan membantu rekonstruksi masjid-masjid yang dihancurkan penjajah saat serangan terakhir di Jalur Gaza. Menteri Waqaf Turki Dr. Muhammad Kormaz, usai berakhirnya agresi ‘Israel’ mengatakan, “Ada kesadaran publik yang tinggi dan dukungan terhadap Gaza di Turki.” Ia berjanji akan membangun sepuluh masjid yang benar-benar hancur saat berkunjung ke Gaza tahun lalu.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: MEMO/Mohammed Asad)
Minggu, 26 Juni 2016
Warga Yahudi Maroko Ajak Boikot Kurma ‘Israel’
LONDON, Sabtu (Middle East Monitor): Warga Yahudi Maroko Sion Asidon memimpin kampanye boikot kurma-kurma ‘Israel’, terutama selama bulan suci Ramadhan; saat kurma paling banyak dikonsumsi. Asidon dan rekan-rekannya di gerakan BDS Maroko berkeliling ke kota-kota di penjuru Maroko, mengunjungi pasar-pasar setempat, berbicara kepada para pedagang dan pembeli sambil memegang selebaran yang bertuliskan “Boikot kurma-kurma Zionis. Jangan membiayai peluru-peluru yang bersarang di dada-dada rakyat Palestina.”
Menurut BDS Maroko, kurma-kurma ini “menembus pasar-pasar dunia dan Maroko sepanjang tahun, terutama saat Ramadhan dengan harga-harga murah yang bersaing dengan produk-produk lokal.” “Kurma-kurma ini, seperti halnya setiap produk ekspor penjajah, membiayai mesin militer mereka,” kata relawan Maroko itu. Menurut Asidon (70), sejumlah kurma yang memasuki kerajaan secara legal dan ilegal dipasarkan dengan label palsu, seperti “berasal dari: Afrika Selatan,” dan dalam beberapa kasus tak ada yang merinci secara detail di mana kurma-kurma tersebut diproduksi di samping barcode yang mengindikasikan barang-barang tersebut berasal dari ‘Israel’.
Asidon mengatakan pada kantor berita Anadolu bahwa gerakan BDS Maroko telah menghubungi pemerintah Maroko untuk menghentikan impor kurma-kurma itu. Ia juga menyatakan, baik secara legal maupun ilegal pihak yang berwajib sangat tahu di mana produk-produk tersebut disimpan. Awal bulan ini, Menteri Komunikasi Maroko dan juru bicara pemerintah Maroko, Mustapha Khalfi mengatakan bahwa tengkulak menyelundupkan kurma-kurma ‘Israel’ ke dalam Maroko kendati tidak ada hubungan resmi langsung antara Maroko dan ‘Israel’. Ia menambahkan, komite boikot telah mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Abdelilah Benkirane terkait masalah ini.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: huffingtonpostarabi.com)
Menurut BDS Maroko, kurma-kurma ini “menembus pasar-pasar dunia dan Maroko sepanjang tahun, terutama saat Ramadhan dengan harga-harga murah yang bersaing dengan produk-produk lokal.” “Kurma-kurma ini, seperti halnya setiap produk ekspor penjajah, membiayai mesin militer mereka,” kata relawan Maroko itu. Menurut Asidon (70), sejumlah kurma yang memasuki kerajaan secara legal dan ilegal dipasarkan dengan label palsu, seperti “berasal dari: Afrika Selatan,” dan dalam beberapa kasus tak ada yang merinci secara detail di mana kurma-kurma tersebut diproduksi di samping barcode yang mengindikasikan barang-barang tersebut berasal dari ‘Israel’.
Asidon mengatakan pada kantor berita Anadolu bahwa gerakan BDS Maroko telah menghubungi pemerintah Maroko untuk menghentikan impor kurma-kurma itu. Ia juga menyatakan, baik secara legal maupun ilegal pihak yang berwajib sangat tahu di mana produk-produk tersebut disimpan. Awal bulan ini, Menteri Komunikasi Maroko dan juru bicara pemerintah Maroko, Mustapha Khalfi mengatakan bahwa tengkulak menyelundupkan kurma-kurma ‘Israel’ ke dalam Maroko kendati tidak ada hubungan resmi langsung antara Maroko dan ‘Israel’. Ia menambahkan, komite boikot telah mengirimkan surat kepada Perdana Menteri Abdelilah Benkirane terkait masalah ini.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: huffingtonpostarabi.com)
Kamis, 23 Juni 2016
Penjajah Larang Kiriman Sahur untuk Para Penjaga Masjidil Aqsha
BAITUL MAQDIS TERJAJAH, Selasa (PIC): Petugas keamanan Zionis menghalangi pemberian makanan sahur bagi murabithun Palestina dengan melarang masuk para relawan yang biasa mendistribusikan ratusan makanan sahur di Masjidil Aqsha. Sejak awal bulan suci Ramadhan, Departemen Waqaf Islam memberi kesempatan pada jamaah untuk i’tikaf di Masjidil Aqsha.
Senin lalu, para pemukim ilegal Yahudi bersama sejumlah serdadu Zionis menyerbu Masjidil Aqsha dari gerbang Magharibah yang dikendalikan ‘Israel’ dengan perlindungan ketat pasukan keamanan. Murabithun mulai meneriakkan takbir sebagai wujud protes terhadap tindakan provokatif para pemukim ilegal Yahudi itu di tempat suci ummat Islam, terlebih lagi di bulan Ramadhan.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto: PIC)
Senin lalu, para pemukim ilegal Yahudi bersama sejumlah serdadu Zionis menyerbu Masjidil Aqsha dari gerbang Magharibah yang dikendalikan ‘Israel’ dengan perlindungan ketat pasukan keamanan. Murabithun mulai meneriakkan takbir sebagai wujud protes terhadap tindakan provokatif para pemukim ilegal Yahudi itu di tempat suci ummat Islam, terlebih lagi di bulan Ramadhan.* (PIC | Sahabat Al-Aqsha | Foto: PIC)
Rabu, 22 Juni 2016
1.800 Tawanan Palestina Sakit di Penjara-penjara Zionis ‘Israel’
LONDON, Selasa (Middle East Monitor): Jumlah tawanan Palestina yang meringkuk di penjara-penjara ‘Israel’ bertambah menjadi 1.800 orang. Demikian kantor berita Safa mengutip pernyataan pejabat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Kepala Komite Tawanan dan Eks Tawanan PLO, Isa Qaraqe, mengatakan kasus-kasus paling kritis adalah 20 tawanan yang kini ditahan di rumah sakit penjara Ramala, setengahnya menderita disabilitas dan lumpuh. Ia mengatakan, ada upaya-upaya berkelanjutan untuk menyoroti masalah penderitaan para tawanan yang dalam beberapa kasus meninggal dunia akibat kurangnya perawatan medis dan obat-obatan. Eks tawanan Bassam Abu-Akar, yang menghabiskan 12 tahun di penjara, meminta campur tangan dunia internasional untuk menyelamatkan nyawa para tawanan yang sakit karena jiwa mereka dalam bahaya.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha | Foto: Dokumentasi MEMO)
Langganan:
Postingan (Atom)













