"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Time Tunnel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Time Tunnel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Februari 2018

Semangat "Wa tawasaubil haqqi wa tawasau bissabri"

TIME TUNNEL. Menyusuri Lorong Waktu untuk berkhidmat di majelis sepupu Rasulullah  ﷺ sangatlah menyenangkan dan penuh semangat. Meski usianya mendekati 70 tahun, tapi ingatannya masih cukup kuat untuk berbagi ilmu dengan kami. Hidupnya hanya untuk menekuni ilmu, dia belajar terus dan mengajarkannya sebagai buah nasehat dan ketaqwaan. Dituturkannya satu persatu apa yang pernah diajarkan Rasulullah  ﷺ kepadanya :
Jangan tertipu oleh nikmat sehat dan nikmat waktu luang (Riadhus-Shalihin 1, halaman 121).
Jangan seorang lelaki memakai cincin emas (Riadhus-Shalihin 1, halaman 202).
Bersabarlah dengan pemerintah yang kamu benci (Riadhus-Shalihin 1, halaman 539).
Saat menjenguk menjenguk/ menengok orang sakit, do'akan (Riadhus-Shalihin 2, halaman 64-65).
Jangan laki-laki berlagak perempuan (Riadhus-Shalihin 2, halaman 489-490).
Jika ingin menggambar, gambarlah pohon dan apa-apa yang tidak bernyawa (Riadhus-Shalihin 2, halaman 514).
Jangan menjadi makelar (perantara). (Riadhus-Shalihin 2, halaman 577).

Darinya pula, aku bisa melihat sosok Rasulullah  ﷺ tergambar jelas; tiada makan sore beberapa malam jika ada roti dari tepung sya’ir (tepung kasar); (Riadhus-Shalihin 1, halaman 430-431). Ibnu 'Abbas menceritakan bahwa Allah tidak mengutus seorang Nabi pun melainkan Dia mengambil perjanjian atasnya, bahwa jika Muhammad diutus sedang mereka masih hidup niscaya mereka beriman kepadanya dan pasti akan menolongnya. Dia memerintahkannya agar mengambil perjanjian atas umatnya, jika Muhammad diutus sedang mereka masih hidup niscaya mereka akan beriman kepadanya dan menolongnya.

Pada akhir hayatnya Ibnu 'Abbas mengalami kebutaan. Ada sebuah cerita, bersumber dari Ibnu 'Abbas sendiri, bahwa dia melihat seseorang yang tidak dikenalnya bersama Nabi. Abdullah bertanya kepada Nabi tentang orang itu. Nabi bertanya setelah itu kepadanya, "Engkau melihatnya?" Dijawabnya "Ya". Kata Nabi lagi "Dia Jibril, kalau begitu kau akan kehilangan penglihatanmu".
Setelah masa amirul mukminin Ali bin Abi Talib Ibnu 'Abbas berpindah ke Mekah, kemudian Hijaz di masa pemerintahan Mu'awiyah dan terus mengadakan perjalanan ke Damsyik dan setelah Mu'awiyah meninggal, ia tinggal di Ta'if dan wafat pada tahun 68 H / 687/688 M.
-----------------
Inspirasi :
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978.
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979.
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abdullah bin 'Abbas'", halaman 629-637.
Tazkiyatun Nafs, Ibnu Taimiyah, Penerbit : Darus Sunnah Press Jakarta 2008, Cetakan Pertama.

Jumat, 09 Juni 2017

Operasi Militer Sesudah Hijrah

TIME TUNNEL. Perjalanan Lorong Waktu untuk berguru dan menuntut ilmu pada para sahabat mulia Rasulullah  ﷺ tak pernah habis untuk senantiasa mencintai mereka, belajar apa yang telah Rasulullah ﷺ secara pribadi ajarkan pada masing-masing sahabat.
Perjalanan dalam "Lorong Waktu" yang telah lalu menyisakan arti berjuang pada semua segi baik fisik, ilmu dan semua hal demi tegaknya risalah Islam.
Aku teringat sekira delapan bulan selepas Rasulullah ﷺ dan kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, Rasulullah ﷺ mengirimkan tiga satuan operasi militer yang tidak diikuti Rasulullah ﷺ(sering disebut Sariyyah) begitu yang dituturkan para sahabat;

Bulan Ramadhan Awal
Rasulullah ﷺmengirimkan pamannya Hamzah bin Abdul Muttalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ke tepi laut Merah di bilangan 'Ish (al-'Aish) dengan 30 orang pasukan penunggang kuda dari kalangan Muhajirin saja. Di tempat ini pamanda Rasulullah ﷺ, Hamzah bin Abdul Muttalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه bertemu dengan kafilah Abu Jahal bin Hisyam beserta 300 orang pasukan dari Mekkah. Tetapi konfrontasi urung terjadi, karena dilerai oleh Majdi bin Amr al-Juhni yang menjadi juru damai kedua belah pihak. Masing-masing pulang tanpa terjadi pertempuran.

Bulan Syawwal
Rasulullah ﷺ mengirimkan 'Ubaidah bin al-Harits bin Abdul Muttalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه beserta 60 orang pasukan dari kalangan Muhajirin saja (dua kali lipat kekuatan pasukan Hamzah bin Abdul Muttalib) ke Wadi Rabigh (suatu tempat berair di Hijaz). Di tempat ini 'Ubaidah bin al-Harits bin Abdul Muttalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه bertemu dengan kafilah Abu Sufyan berserta 200 orang. Kedua belah pihak sempat saling melempar anak panah, tetapi tidak sampai terjadi peperangan jarak dekat. Sa'ad bin Abi Waqqash رَضِيَ اللََّهُ عَنْه melepas anak panahnya, dan ini anak panah pertama yang dilepaskan dalam sejarah Islam.

Bulan Dzulqa'dah
Rasulullah ﷺ mengutus Sa'ad bin Abi Waqqash رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ke al-Kharar di wilayah Hijaz beserta 8 orang pasukan Muhajirin saja (versi lain 20 orang) untuk memblokade kafilah dagang Quraisy. Saat sampai di al-Kharar ternyata tidak bertemu siapa-siapa karena kafilah Quraisy sudah lewat sehari sebelumnya, mereka pun kembali pulang ke Madinah.

Perkasanya pasukan Muslimin menghadapi musuh dalam jumlah besar dan persenjataan lengkap dari yang dimiliki pasukan Muslimin masih menyisakan tanya, semoga bisa belajar lebih jauh strategi perang Kekhalifahan Turki Utsmani sebelum penaklukan Konstantinopel.

Inspirasi :
Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 226.
Atlas al-Sirah al-Nabawiyah, Dr. Shauqi Abu Khalil, diterbitkan oleh PT. Mizan Publika, Cetakan I, Mei 2015, halaman 71 - 73.

Jumat, 23 Desember 2016

Berbagi Tempaan Jiwa dari Rasulullah

TIME TUNNEL. Perjalanan Lorong Waktu untuk berguru dan menuntut ilmu pada sahabat mulia Abu Darda' رَضِيَ اللََّهُ عَنْه yang zuhud dan ahli ibadah tak pernah membosankan. Beliau adalah seorang pria berwibawa, anggun dan menyinarkan cahaya, hikmatnya meyakinkan, sifat tingkahnya wara', logikanya benar dan cerdas. Tentu tak mengherankan karena beliau adalah hasil tempaan Rasulullah  ﷺ, murid al-Qur'an, putra Islam yang pertama dan rekan sejawat Abu Bakr رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Lihatlah kedekatannya dengan Rasulullah  ﷺ sehingga Nabi tak segan menasihatinya secara pribadi, simak kisah yang dituturkannya ; Rasulullah  ﷺ berpesan kepadaku untuk menjaga puasa tiga hari tiap bulan (puasa tengah bulan 13, 14 dan 15 bulan hijriyah), sholat dluha dan sholat witir sebelum tidur (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 255).
Lihat pula tempaan yang Rasulullah  ﷺ bagikan untuk Abu Darda' رَضِيَ اللََّهُ عَنْه :
  • Sholat berjamaah mesti ditegakkan jika tak ingin dijajah syaithan (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 163);
  • Senantiasa menuntut ilmu Allah sebagai jalan menuju surga (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 318-319);
  • Berdzikir kepada Allah sebagai sebaik-baik amal (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 345);
  • Hafalkan 10 ayat dari permulaan atau akhir surat Al-Kahfi (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 137);
  • Mendo'akan teman diluar sepengetahuannya (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 379);
  • Perumpamaan berbakti pada orangtua bagaikan masuk pintu surga yang tengah (Tarjamah Riadhus-Shalihin I-nya Salim Bahreisy halaman 307-308);
  • Kemenangan perjuangan bersama bantuan orang rendahan dan dlo'if (Tarjamah Riadhus-Shalihin I-nya Salim Bahreisy halaman 269);
  • Ber-khusnul-khuluq (baik budi), tidak keji mulut dan kelakuan (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 510-511);
  • Mempertahankan kehormatan saudaranya (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 407);
  • Jangan jadi pelaknat (tukang mengutuk) karena langit dan bumi enggan menerima laknat serta kelak di hari kiyamat tidak dapat menjadi saksi dan pemberi syafa'at (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 432-433). 
Lihatlah pula Rasulullah  ﷺ tak segan berbagi do'a yang pernah dipanjatkan nabi Dawud عليه السلام; Allahumma inni asaluka hubbaka, wahubba man yuhibhuka, wal amalalladzi yuballighuni hubbaka. Allahummaj’al hubbaka ahabba ilayya min nafsi wa ahli wa minal ma il baridi. (Ya Allah saya mohon kepada-Mu cinta pada-Mu, dan cinta pada siapa yang cinta kepada-Mu, dan amal perbuatan yang dapat menyampaikan aku kepada cinta kepada-Mu. Ya Allah jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi daripada cintaku pada diriku dan keluargaku dan air yang dingin) (Tarjamah Riadhus-Shalihin II-nya Salim Bahreisy halaman 375-376).
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978.
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979.

Jumat, 16 Desember 2016

Sang Jubir Amirul Mukminin

TIME TUNNEL.  Suatu ketika di masa amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Beliau mengutus Ibnu 'Abbas untuk berdialog dengan utusan kaum Khawarij.
"Hal apa yang menyebabkan kalian menaruh dendam terhadap amirul mukminin Ali bin Abi Thalib?", tanya Ibnu Abbas.
"Ada 3 hal yang menyebabkan kebencian kami padanya : Pertama; dalam agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman : "Tak ada hukum kecuali bagi Allah ....!" (karena amirul mukminin Ali bin Abi Thalib menerima dan mematuhi keputusan 2 orang perunding yang mewakilinya dan mewakili Mu'awiyah); Kedua; ia berperang, tapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil harta rampasan (sebab tentara Mu'awiyah yang tertawan dibebaskan kembali dan kekayaaannya tidak dirampas). Ketiga; waktu bertahkim, ia rela menanggalkan sifat amirul mukminin dari dirinya mengabulkan tuntutan lawan (waktu mengadakan perundingan Mu'awiyah minta supaya Ali bin Abi Thalib tidak menggunakan amirul mukminin, Ali menerima demi menghentikan pertumpahan darah kaum Muslimin)," ujar utusan kaum Khawarij.
Ibnu 'Abbas satu persatu mematahkan khayalan mereka :
"Tentang bertahkim kepada manusia dalam agama Allah, maka apa salahnya ....? Bukankah Allah ta'ala berfirman : "Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamian membunuh binatang buruan, sewaktu kalian dalam ihram ! Barangsiapa di antara kalian yang membunuhnya dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak yang sebanding dengan hewan yang dibunuhnya itu, yang untuk menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian sebagai hakimnya ....!" (TQS. Al-Maidah (5) : 95).
"Tentang menawan dan merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil 'Aisyah istri Rasulullah  ﷺ dan ummul mukminin sebagai tawanan? dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan perang ....?"
"Tentang menanggalkan sifat amirul mukminin, dengarlah, apa yang dilakukan oleh Rasulullah  ﷺ pada hari Hudaibiyah berbeda dengan apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Saat itu utusan Quraisy menghendaki penghilangan tulisan Rasulullah, dan Rasulullah pun meluluskan permintaan kaum Quraisy. Dan ingat Rasulullah  ﷺ berkata kepada mereka : "Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tak hendak mengakuinya....!"

Jawaban yang menakjubkan dari Ibnu 'Abbas, dan belum lagi tukar pikiran selesai 20.000 orang langsung menarik diri dari memusuhi amirul mukminin Ali bin Abi Thalib.
---------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 629-637.

Jumat, 22 Juli 2016

Tumpas Yahudi Khaibar

TIME TUNNEL. Perjalanan lorong waktu kali ini tepat di pagi hari dengan suasana Madinah yang begitu hangat dengan segenap persiapan, tidak lelaki, tidak pula wanita, semua bergembira menyambut seruan sang Nabi ﷺ untuk memerangi Yahudi Khaibar di utara Medinah (waktu tempuh tiga hari masa itu). Mereka itu gemar memprovokasi kaum untuk melawan Nabi  ﷺ, berharap pembagian rampasan perang) dan peserta Bait al-Ridwan-baiat dibawah sebuah pohon di Hudaibiyah.
Mereka percaya akan adanya pertolongan Tuhan, masih lekat dalam ingatan akan firman Allah ta’ala yang turun semasa Hudaibiyah; “Orang-orang yang tinggal di belakang itu akan berkata ketika kamu berangkat mengambil harta rampasan perang. Biarlah kami turut bersama-sama kamu. Mereka hendak mengubah perintah Tuhan. Katakanlah : “Kamu tidak akan turut bersama-sama kami”. Begitulah Allah telah menyatakan sejak dulu. Nanti mereka akan berkata : “Tetapi kamu dengki kepada kami”. Tidak. Mereka yang mengerti hanya sedikit saja. (QS. Al-Fath (48) : 15).
Kekuatan 1.400 orang (versi lain 1.600 orang) tentara diberangkatkan, dengan dua atau tiga ratus prajurit berkuda. Kaum wanita ikut serta dalam ekspedisi Khaibar ini untuk merawat prajurit yang sakit dan terluka, mengantarkan makanan dan minuman, serta mengambilkan busur dan anak panah.
Nabi  ﷺ terlebih dahulu mengirimkan surat kepada kum Yahudi Khaibar; menyeru mereka untuk beriman : “Demi nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, sahabat dan saudara Musa, yang membenarkan ajaran Musa. Bukankah Allah telah berfirman kepada kalian, wahai sekalian ahli Taurat dan kalian telah menjumpainya dalam kitab kalian : Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhoan-Nya. Pada wajah mereka tampa tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus diatas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman  dan mengerjakan kebajikan diantara mereka, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath (48) : 29).
“Aku bersumpah demi Allah; aku bersumpah demi apa yang diturunkan kepada kalian; aku bersumpah dengan mann dan salwa, makanan yang diturunkan kepada golonganmu sebelum kalian; aku bersumpah demi Zat yang mengeringkan laut untuk nenek moyang kalian sehingga selamat dari Fir’aun dan ulahnya, katakanlah padaku apakah kalian jumpai dalam kitab yang diturunkan Allah kepada kalian bahwa kalian hendak beriman kepadaku? Jika memang tak kalian jumpai, aku tidak akan memaksa kalian. Telah terang mana petunjuk dan mana kesesatan. Aku hanya mengajak kalian pada Allah dan Nabi-Nya.”
Lalu Nabi ﷺ melakukan siasat, berangkat ditemani dua penunjuk jalan untuk membawa beliau ke titik antara Khaibar dan Syria guna mencegah Yahudi Khaibar lari ke utara lalu bersekongkol atau meminta bantuan kepada sekutu-sekutu mereka dari Ghatafan. Pasukan pun dibawa hingga lembah ar-Raji’ dekat Khaibar.
--------------------------
Inspirasi : 
Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 418 - 419.
Taht Râyah al-Rasûl (Perang Muhammad), Dr. Nizar Abazhah, Penerbit Zaman Jakarta, Cetakan Pertama 1432 H / 2011 M, halaman 191-193.

Jumat, 01 Juli 2016

Lukisan Sepupu Rasulullah

TIME TUNNEL. Kembali berada di Lorong Waktu, bertanya apa kata mereka tentang gambaran Ibnu 'Abbas sepupu Rasulullah  ﷺ.
"Dia seorang yang cepat mengerti, tajam berfikir dan banyak menyerap ilmu serta santunnya luar biasa.", lukisan Sa'ad bin Abi Waqqas رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
"Ia tahu banyak hadits dari Rasulullah  , memiliki pengertian yang dalam, punya banyak waktu untuk mengajarkan fiqih, tafsir, riwayat dan strategi perang, tarikh dan ilmu hisab serta dia dihormati karena kealimannya.", lukisan 'Ubaidillah bin 'Utbah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
"Ia mengambil 3 perkara (menarik hati pendengar apabila ia berbicara; memperhatikan setiap ucapan pembicara dan memilih yang teringan apabila memutuskan perkara) dan meninggalkan 3 perkara (menjauhi sifat mengambil muka; menjauhi orang-orang yang rendah budi dan menjauhi setiap perbuatan dosa)", lukisan penduduk Basrah saat dia menjadi Gubernur di masa pemerintahan amirul mukminin Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
---------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 629-637.

Kamis, 23 Juni 2016

The Art Of War

TIME TUNNEL. Seni Perang, sebuah taktik berperang yang sangat menggelitik keingin-tahuanku mempelajarinya lebih dalam. Berawal dari pertarungan antar kelompok di cerita-cerita Suikoden yang mengadopsi seni perang ala Sun Tzu.
Seiring mengalirnya shalawat kepada Rasulullah  ﷺ, mengantarkanku untuk mencintai cara berperangnya beliau.
Perjalanan di lorong waktu mengenalkanku bahwa peperangan itu diperbolehkan membuat tipu daya atau muslihat seperti yang diceritakan Jabir r.a. dari Rasulullah  ﷺ. (HR. Muslim No. 1065, cek Terjemahan Hadits Shahih Muslim, halaman 44).
Sedangkan Abdullah bin Abu Aufa r.a. menceritakan beberapa taktik perang Rasulullah  ﷺ :
  1. Menunggu sampai matahari tergelincir,
  2. Memberikan amanat kepada pasukan, dan berkata : "Hai pasukan!, janganlah kamu mencita-citakan berjumpa dengan musuh. Berdo'alah kepada Allah ta'ala supaya sehat wal 'afiat.
  3. Ketika bertemu musuh di medan laga, TABAHLAH.
  4. Berdo'alah; "Allahumma munadz-dzilal kitaabi wamujriyassakhaabi waha a dzimil 'akhdzaabih dzimhum wanshurnaa 'alaihim" (Ya Allah, yang menurunkan al-Qur'an, yang menggerakkan dan yang kuasa menghalau musuh yang bersekutu. Halaulah mereka dan bantulahkami menghancurkan mereka itu)."
(HR. Muslim No. 1066, cek Terjemahan Hadits Shahih Muslim, halaman 44-45).

Dari hadits penuturan Abdullah bin Abu Aufa r.a. jelaslah bahwa Nabi kita  ﷺ belum pernah bersandar hatinya kepada kekuatan diri sendiri dalam suasana apapun. Allahu ya kariim, salam 'alaika yaa Rasulullah.
----------------------------------
Pustaka :
Terjemahan Hadits Shahih Muslim Jilid 3, H.A. Razak dan H. Rais Lathief (Tim Penterjemah), Penerbit Pustaka Al-Husna Jakarta, cetakan kedua 1983, halaman 44-45.

Kamis, 09 Juni 2016

Terbunuhnya Tgaqhut Al-Kadzab

TIME TUNNEL. Selepas pertemuan pertama dengan ksatria wanita Mukminah beberapa saat yang lalu di lorong waktu. Rindu sekali berkhidmat tentang ke-Islam-an dan kecintaan beliau pada Allah ta'ala dan Rasulullah s.a.w.
Ketika berada tak jauh dari rumah beliau, Ummu Umarah. Aku rasakan ada sesuatu yang hilang dari suasana kota Madinah. Ternyata aku sudah melewati masa duka Madinah. Setibanya di rumah Ummu Umarah, beliau menjamu aku dan mulai bercerita banyak bahwa selepas Uhud-nya; keikutsertaannya dalam baitur-ridwan bersama Rasulullah  ﷺ dalam perang Hudaibiyah, begitu juga tatkala perang Hunain.
Dan beliau bercerita tentang keikutsertaannya dalam perang Yamamah, memerangi kabilah murtad pimpinan Musailamah Al-Kadzab. Di dalam perang ini Nusaibah terlebih dahulu mendapat ujuan berat karena sang putra, Hubaib bin Zaid bin Ashim yang menjadi utusah khalifah Rasulullah  ﷺ, Abu Bakr As-Siddiq, syahid di tangan Musailamah Al-Kadzab ketika dipaksa bersyahadat atas kenabian Musailamah Al-Kadzab, tetapi Hubaib lebih memilih memegang kesaksiannya kepada Allah dan Rasulullah Muhammad  ﷺ.
Kemudian dengan segenap perjuangan Ummu Umarah memohon ijin kepada khalifah Rasulullah, Abu Bakr As-Siddiq untuk turut berperang bersama Abdullah bin Zaid bin Ashim putranya yang tersisa. Dengan penuh semangat kepahlawanan dan bertekad membunuh sang murtad. Tetapi takdir Allah menghendaki lain, bahwa yang mampu membunuh sang murtad adalah Washyi bin Harb.
Namun begitu Ummu Umarah ketika mengetahui kematian si Thaghut Al-Kadzab, maka beliau bersujud syukur kepada Allah ta'ala. 
Ummu Umarah pulang dari peperangan Yamamah dengan 12 luka pada tubuhnya, kehilangan satu tangannya dan kehilangan satu lagi anaknya yang tersisa, Abdullah bin Zaid bin Ashim.
--------------------------------
Inspirasi :
Nisaa' Haular Rasul, Mahmud Mahdi Al Istanbuli dan Musthafa Abu An Nashr Asy Syalabi (Para Penulis), Mengenal Shahabiah Nabi s.a.w. (Edisi Indonesia), Abu Umar Abdullah Asy Syarif (Penterjemah), At-Tibyan Solo, halaman 252 – 256.
Abu Bakr As-Siddiq, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 157-158.

Jumat, 20 Mei 2016

Sang Bijak Lurus Mulia

TIME TUNNEL. Perjalanan Lorong Waktu untuk bertemu dan menuntut ilmu pada sahabat mulia Abu Darda' r.a. selalu menumbuhkan kerinduan yang tak terperi. Bagi sahabat Abu Darda' r.a. ; "Kebaikan bukanlah karena banyaknya harta dan anak-pinakmu tetapi kebaikan yang sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmumu, dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah ta'ala !".
Dikisahkan suatu ketika Yazid bin Mu'awiyah putera sang Khalifah pernah melamar anaknya dan ditolaknya. Ia tidak hendak menerima lamaran tersebut. Kemudian putrinya dilamar oleh salah seorang Muslim yang shaleh tetapi hidupnya hanya berkecukupan saja, maka dinikahkanlah putrinya tersebut. Lihatlah alasan sang sahabat mulia Abu Darda' r.a.; "Bagaimana kiranya nanti dengan si Darda' bila ia telah dikelilingi para pelayan dan inang pengasuh dan terpedaya oleh kemewahan istana, dimanakah letak agamanya waktu itu..?".
Inilah kebijaksanaan insan berjiwa lurus dengan hati mulia, semua kesenangan harta benda dunia yang sangat diingini nafsunya dan didambakan kalbunya. Dengan sifat wara' ini ia bukan hendak lari dari kebahagiaan, malah berjalan ia sebaliknya. Karena kebahagiaan sejati ialah menguasai dunia bukan dikuasai dunia. Bila manusia hidup dalam batas bersahaja dan sederhana, dan mereka menggunakan hakikat dunia hanya sebagai jembatan yang akan menyeberangkan nya ke kampung halaman nan abadi, maka ia akan memperoleh kebahagiaan sejati yang lebih sempurna dan agung.
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.

Jumat, 06 Mei 2016

Gemar Bertanya dan Berfikir

TIME TUNNEL. Suatu ketika Ibnu 'Abbas mendapatkan satu hadits dari seorang sahabat dengan cara mendatangi rumahnya yang kebetulan ia tengah tidur siang. Ibnu 'Abbas membentangkan kainnya dimuka pintu rumah sahabat tersebut, lalu ia duduk menunggu. Ketika sahabat itu bangun dan mendapati Ibnu 'Abbas dimuka pintu, berkatalah ia : "Hai saudara sepupu Rasulullah apa maksud kedatanganmu? Kenapa tak kamu suruh orang saja datang kepadaku agar aku yang mendatangimu?"
"Tidak", jawab Ibnu 'Abbas
"Akulah yang harus datang mengunjungi Anda!", jelas Ibnu 'Abbas.

Begitulah kesantunan Ibnu 'Abbas menuntut ilmu. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya berkembang dan tumbuh meski usianya masih belia.
Diserapnya hikmat dari orang-orang tua, disadapnya ketenangan dan kebersihan pikiran mereka, hingga amirul mukminin Umar bin Khattab menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap urusan penting.
Ketika ditanya seseorang bagaimana ia mendapatkan ilmu dijawabnya : "Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir."
---------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 629-637.

Jumat, 22 April 2016

Negeri yang Kokoh

TIME TUNNEL. Perjalanan Lorong Waktu mempertemukanku dengan sang sahabat mulia, Abu Darda' r.a. Dari beliau aku dapat mengambil pelajaran tentang negara yang kokoh. Menurut Abu Darda' r.a.; bahwa keruntuhan cepat dijumpai bala tentara Islam pada negeri-negeri yang dibebaskan, sebabnya ialah karena negeri-negeri tersebut kehilangan pegangan ruhani yang benar yang melindunginya dan Agama yang betul-betul menghubungkannya dengan Allah ta'ala.
Dan karena itu pula ia mengkhawatirkan keadaan kaum Muslimin di saat ikatan iman mereka mengendor, hubungan mereka dengan Allah ta'ala menjadi lemah dengan yang haq dan dengan kebaikan, maka berpindahlah titipan itu dari tangan mereka dengan mudah sebagaimana dulu berpindah kepada mereka dengan mudah pula.
Semoga negeriku Indonesia ini terhindar dari kehilangan nikmat, semoga kaum Muslimin memiliki ikatan iman yang utuh hanya pada Allah ta'ala semata.
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.

Kamis, 24 Maret 2016

Amiinu haa dzihil ummati

TIME TUNNEL. Menyusuri lorong waktu ketika masa duka dulu, menumbuhkan semangat untuk terus ber-mulazamah (berguru langsung) pada sahabat Rasulullah  ﷺ yang satu ini, Abu 'Ubaidah, yang bernama lengkap Amir bin Abdillah bin Jarrah.
Beliau salah satu sahabat yang bersyahadat melalui Abu Bakr As-Siddiq di awal kerasulan, tepatnya sebelum Rasulullah s.a.w. mengambil rumah Arqam sebagai tempat dakwah. Ketika terjadi hijrah ke Habsyi yang kedua kalinya, beliau ikut serta. Dan saat mendengar Nabi  ﷺ telah berhijrah ke Madinah, beliau memutuskan untuk mendampingi Rasulullah  ﷺ sebagai tanda bai'at kepada Nabi  ﷺ, maka diserahkan segenap darma bakti dan pengurbanan tanpa memperhatikan kepentingan pribadi dan masa depannya. Hingga sikap jiwa dan tata cara kehidupannya ini oleh Rasulullah  ﷺ dihadiahi gelar, "Orang kepercayaan ummat". Tatkala datang perutusan nasrani najran dari Yaman menyatakan keislamannya dan meminta Nabi  ﷺ mengirimkan guru bersama mereka untuk mengajarkan al-Qur'an dan as-Sunnah serta seluk-beluk agama Islam, maka Abu "Ubaidah bin Jarrah mendapatkan kepercayaan itu.
Teringat akan penuturan Ummu 'Umarah tentang peristiwa Uhud pasca kekacauan dari atas bukit, dimana Abu 'Ubaidah dengan sigap menghampiri Nabi  ﷺ melindungi dan mencabut pecahan baja dengan giginya dari pipi Nabi  ﷺ  hingga dua buah gigi serinya tanggal.
Keberanian Abu 'Ubaidah bin Jarrah di medan perang dihadiahi Rasulullah  ﷺ dengan mengikut-sertakannya dalam tiap misi penyergapan dan peperangan, dimulai dari menjadi prajurit pimpinan Abu Salamah menumpas kekacauan pasca perang Uhud hingga menjadi panglima pasukan pendukung yang diutus Rasulullah  ﷺ dalam ekspedisi Dhat's-Salasil untuk menguatkan pasukan sebelumnya pimpinan 'Amar bin 'Ash.
--------------------------
Inspirasi : 
Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990.
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 287-295.
Taht Râyah al-Rasûl (Perang Muhammad), Dr. Nizar Abazhah, Penerbit Zaman Jakarta, Cetakan Pertama 1432 H / 2011 M, halaman 81 - 121.

Kamis, 10 Maret 2016

Dunia adalah Tempat Mengumpulkan Perbekalan

TIME TUNNEL. Abu Darda', memahaminya mesti larut dalam perilaku Rasulullah s.a.w. itu sendiri. Baginya dunia seisinya hanyalah pinjaman semata, bagai jembatan yang akan mengantarkan menuju kehidupan yang abadi dan mengasikkan. Pandangan ini baginya bukanlah sekedar arah pandang saja, tetapi sudah menjadi jalan hidup.
Tatkala ia sakit dan para sahabat menjenguknya didapatinya ia tengah berbaring dihamparan kulit saja. Dan para sahabat menawarkan kasur yang lebih empuk, tetapi ditolaknya dengan isyarat jari telunjuiknya sambil berkata "Kampung kita jauh disana .... untuknya kita mesti mengumpulkan bekal ...!"
Ketika Yazid bin Mu'awiyah putera khalifah melamar putri Abu Darda', olehnya tidak hendak diterima lamaran tersebut. Kemudian putrinya dilamar oleh seorang Muslim yang shaleh tapi miskin, maka dinikahkan putrinya kepada Muslim shaleh itu. Abu Darda' mengungkapkan alasannya tatkala orang-orang tercengan dengan tindakannya, katanya : "Bagaimana kiranya nanti dengan si Darda' bila telah dikelilingi para pelayan dan inang pengasuh dan terpedaya kemewahan istana .... dimana letak agamanya waktu itu...?" kemudian lanjutnya "Kebaikan bukanlah karena banyak harta dan anak-pinakmu, tetapi kebaikan sesungguhnya ialah bila semakin besar rasa santunmu, semakin bertambah banyak ilmumu dan kamu berpacu menandingi manusia dalam mengabdi kepada Allah ta'ala!" 
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.

Senin, 29 Februari 2016

Detasemen Abu Salamah

TIME TUNNEL. Menyusuri lorong waktu di masa awal hijrah, berharap manfa'at pelajaran tauhid terserap. Terangkum kisah dari penuturan saudara-saudara Muslim Madinah bak ber-mulazamah (berguru langsung) yang penuh keriangan berbagi kisah denganku.
Dua bulan setelah perang Uhud tersiar berita bahwa kabilah-kabilah Bani Asad siap-siap menyerang Madinah. Khalid bin Sufyan al-Hudzali menghimpun kaum pria untuk mengobrak-abrik kaum Muslim. Kabilah Adhal dan Qarah melanggar perjanjian bersama sekelompok sahabat. Amir bin Thufail membunuh 70 orang Muslim. Bani Nadhir mengabaikan perjanjian dengan Nabi  ﷺ dalam piagam Madinah dan berniat membunuh beliau. Untuk menunjukkan bahwa umat Muslim masih kuat dan keteledoran sebagian kecil umat Muslim di Uhud tidak meninggalkan dampak berarti, Nabi  ﷺ mengutus satuan detasemen.
Nabi segera memanggil Abu Salamah bin Abd'l Asad untuk memimpin 150 orang pasukan termasuk di dalamnya Abu 'Ubaidah bin Jarrah, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Usaid bin Hudzair. Mereka diperintahkan Nabi s.a.w. supaya berjalan pada malam hari dan siangnya bersembunyi dengan menempuh jalan yang tidak biasa dilalui orang, supaya jangan ada orang yang mengenal jejak mereka. Dengan demikian mereka akan dapat menyergap musuh dengan cara yang tiba-tiba pula. Strategi ini berhasil, musuh dapat disergap dalam keadaan tidak siap dipagi buta
Dua kelompok ditugaskan mengejar musuh dan merebut ghanimah. Setelah pembagian ghonimah, mereka kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan. Hanya saja misi kali ini membuat luka-luka Abu Salamah akibat perang Uhud terbuka dan kembali mengucurkan darah hingga meninggalnya.
-------------------------
Inspirasi :
Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad), Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D, Penerbit : P.T. Pustaka Litera Antar Nusa Jakarta-Bogor, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 310 - 311.
Taht Râyah al-Rasûl (Perang Muhammad), Dr. Nizar Abazhah, Penerbit Zaman Jakarta, Cetakan Pertama 1432 H / 2011 M, halaman 109 - 110, halaman 118 - 121.

Minggu, 14 Februari 2016

Adzan Terakhir Bilal di Negeri Syam

TIME TUNNEL. Mengikuti perjalanan iman seorang Bilal bin Rabah mengajarkanku betapa diriku masih jauh dari kesempurnaan iman. Ketika iman datang kepada Bilal bin Rabah menghujam dada beliau; “Ahad …! Ahad …! Ahad …!”, ucapan singkat itu pula yang tetap menegakkan iman meski dada dihimpit batu panas serta untaian kata itu pula yang menggetarkan dan melemahkan sendi-sendi tubuh sang mantan majikan, Umayah bin Khalaf saat bertemu di medan Badr. Perbuatan yang tak sia-sia bagiku adalah bisa ikut menangis bersama saudara muslimin Madinah tatkala mendengar adzan beliau di 3 hari sepulang Rasulullah s.a.w. ke rafiul a’la.
Senang bisa menempuh lorong waktu mengikuti perjalanan amirul mukminin Umar bin Khattab selepas masa kelaparan dan wabah penyakit di tahun 17 H  mengunjungi negeri Syam guna memeriksa keadaan kaum Muslimin di wilayah ini sampai ke pelosok. Dan aku hanya ingin bercerita tatkala amirul mukminin Umar bin Khattab merencanakan hendak kembali ke Madinah dari negeri Syam (wilayah Suria) meliwati Jabiah. Setelah amirul mukminin Umar bin Khattab berpidato dihadapan kaum Muslimin untuk mempersaksikan bahwa beliau telah menyelesaikan segala urusan umat di kawasan Syam. Selepas berpidato tibalah waktu sholat, ada di sekumpulan orang berkata : “Baiknya kita minta Bilal bin Rabah yang adzan”. Dan orang-orangpun sudah rindu mendengar suara adzan Bilal, sebagai ungkapan rasa syukur telah mengutus Rasul-Nya pada cahaya Islam dan mewariskan bumi ini, kemudian memperkuatnya dan berhasil menundukkan Persia dan Rumawi, serta berlalunya musibah kelaparan dan wabah penyakit.
Atas desakan amirul mukminin, Bilal pun berkenan menyerukan adzan lagi, suara merdunya yang bertahun-tahun tak terdengar tetap tidak berubah. Terkenang kembali ingatan mereka saat bersama-sama dengan Rasulullah, kala berdiri dibelakang Rasulullah dengan barisan teratur. Tak seorang pun dari mereka yang tidak menangis ketika Bilal sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”. Bahkan mereka yang tak pernah mengalami hidup bersama Rasulullah pun larut dalam tangis haru. Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah yang paling keras tangisnya.
Inilah adzan sholat yang pertama dan terakhir yang dikumandangkan Bilal bin Rabah muadzin Nabi udara Syam tak jauh dari Baitulmukadas.
--------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul
(Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 101-117.
Umar bin Khattab, Sebuah Tela'ah Mendalam Tentang Pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya, Muhammad Husain Haekal,diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Februari 2011, halaman 342-345.

Jumat, 22 Januari 2016

Gemar Menuntut Ilmu

TIME TUNNEL. Menyusuri Lorong Waktu ngepo-in Ibnu 'Abbas sahabat Rasulullah s.a.w. adalah hal yang senantiasa menyenangkanku, beliau adalah pemuda yang sungguh-sungguh menuntut ilmu, gemar meneliti dan menyelidiki sumber-sumber ilmu. Ibnu 'Abbas lahir 3 tahun sebelum hijrah (619 M) masa dimana Nabi dan keluarganya diasingkan ke Syi'ib di pegunungan Mekah.
Suatu hari ia menceritakan ketika ingin bertanya pada beberapa sahabat nabi tentang suatu masalah sepeninggal asulullah s.a.w. Dan ia mengajak teman sebayanya untuk menuntut ilmu karena hampir mereka sedang berkumpul,  tetapi jawab teman sebayanya : "Aneh sekali kamu ini, hai Ibnu 'Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka banyak terdapat sahabat Rasulullah?"
Namun begitu, Ibnu 'Abbas tetap mendatangi sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. untuk berguru.
---------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 629-630.
Ali bin Abi Talib, Ali Audah, Penerbit  PT. Pustaka Litera AntarNusa Jakarta, Cetakan Ketujuh, Juni 2010, halaman 398-399.

Jumat, 01 Januari 2016

Pembelajaran Uhud

TIME TUNNEL. Perang Uhud, sungguh takkan pernah terlupa di jiwa orang-orang beriman, mereka akan terus mengenangnya sebagai pembelajaran atas ketidak-patuhan pada perintah Rasulullah  ﷺ. Perhatikan peringatan Allah ta'ala : "..... kamu berkata : "Darimana datangnya (kekalahan) itu?" Katakanlah : "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri ..........". (QS 3 : 165).
Perang Uhud adalah tempat kita bercermin, dimanakah kita ingin berdiri; sebagai orang beriman atau orang munafiq (QS. 3 : 166-167).
Syahid yang gugur sejumlah 70 orang (sama dengan jumlah orang musyrik yang terbunuh di Badr).
Setelah menyemayamkan para syahid; Nabi  ﷺ berdiri di kaki bukit, lalu beliau berdo'a :
"Ya Allah, bagi-Mu-lah segala puji, segalanya. Ya Allah, tak ada yang mampu mengenggam bagi sesuatu yang Engkau bentangkan, dan tak ada yang mampu membentangkan bagi sesuatu yang Engkau genggam. Tak ada yang bisa memberi petunjuk bagi siapa yang Engkau sesatkan, dan tak ada yang bisa menyesatkan bagi siapa yang Engkau beri petunjuk. Tak ada yang bisa memberi bagi sesuatu yang Engkau tak memberi, dan tak ada yang bisa Engkau larang bagi sesuatu yang Engkau beri. Tak ada yang bisa mendekatkan bagi sesuatu yang Engkau jauhkan, dan tak ada yang bisa menjauhkan bagi sesuatu yang Engkau dekatkan."
"Ya Allah, bentangkanlah kepada kami keberkahan-Mu, rahmat-Mu, anugerah-Mu, dan rejeki-Mu. Ya Allah, kumohon pada-Mu kenikmatan yang tak berubah dan tak sirna. Ya Allah, kumohon pada-Mu kemudahan di masa sulit, keamanan di masa takut. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan sesuatu yang Engkau beri dan keburukan sesuatu yang tidak Engkau beri."
"Ya Allah, cintakanlah kepada kami keimanan, dan hiaskanlah ia dihati kami. Bencikanlah kepada kami kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan, serta jadikanlah kami orang yang mendapat petunjuk."
"Ya Allah, matikanlah kami sebagai Muslim, hidupkanlah kami sebagai Muslim, dan susulkanlah kami kepada orang-orang saleh tanpa kehinaan, aib, cacat dan tidak terfitnah."
"Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menutup jalan-Mu. Timpakanlah kepada mereka siksa dan azab-Mu. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang sebenarnya mereka telah diberi kitab!"
Mengenang para syahid Uhud; Hamzah bin Abdul Muttalib, Abdullah bin Jahsy, Abu Dujana sang perisai Rasulullah, Mush'ab bin Umair sang pembawa panji Rasulullah; Abdullah bin Amr bin Haram, Amr bin al-Jamuh dan syahid-syahid yang lain, salamku untuk kalian sahabat terbaik Rasulullah  ﷺ "Assalamu 'alaikum warohmatullahi wabarokatuh", semoga kalian membenarkan bahwa janji Allah itu nyata (QS. 3 : 169-170) dan Allah anugerahkan kepada kami iman seperti yang telah Allah anugerahkan kepada kalian semua, dan Allah tetapkan kami dalam keistiqomahan sampai akhir hayat kami."
perang
-----------------------------------------------
Inspirasi :
Sejarah Hidup Muhammad, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 89-90.
Taht Râyah al-Rasûl (Perang Muhammad), Dr. Nizar Abazhah, Penerbit Zaman Jakarta, Cetakan Pertama 1432 H / 2011 M, halaman 109 - 110.

Jumat, 25 Desember 2015

Jadikan Akhirat Tujuan dan Cita-cita

TIME TUNNEL. Terhadap kesenangan dan kemewahan, Abu Darda' sangat terkesan akan sabda Rasulullah  ﷺ ; "Yang sedikit mencukupi lebih baik daripada banyak membawa rugi ....", dan sabda Rasulullah  ﷺ yang lain ; "Lepaskanlah dirimu dari keserakahan akan dunia sekuasa kamu, sebab siapa yang dunia menjadi tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan miliknya yang telah terkumpul, lalu dijadikan-Nya kemiskinan dalam pandangan matanya. Dan siapa yang menjadikan akhirat tujuan dan cita-citanya, Allah akan menghimpunkan miliknya yang bercerai-berai, lalu dijadikan-Nya kekayaan dalam hatinya dan dimudahkannya mendapat segala kebaikan."
Bagi Abu Darda' harta hanyalah alat bagi kehidupan yang bersahaja dan sederhana, tidak lebih. Bertolak dari sana, maka menjadi kewajiban bagi manusia mengusahakannya dari yang halal dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, tidak dengan kerakusan dan mati-matian.
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.

Kamis, 03 Desember 2015

Bercermin pada Tsabit bin Qeis

TIME TUNNEL. Perjalanan Lorong Waktu di masa duka dulu kembali mengingatkanku kepada sosok yang berpenampilan "mewah" dan "garang" disekitar masjid. Dari penelusuranku, dia adalah sahabat mulai dari Anshar, Tsabit bin Qeis.
Dialah juru bicara Islam tatkala tiba masa perutusan dari berbagai penjuru semenanjung Arab menemui Rasulullah  ﷺ. Dia pula penyaksi peperangan penting semisal Uhud dan peperangan sesudahnya.
Dibalik kemewahan dan kegarangannya ternyata dia adalah insan yang mudah menangis dan berakhlaq lembut. Hatinya penuh khusyu' dan tenang. Ia juga insan yang pemalu dan takut kepada Allah ta'ala.
Suatu saat ketika Rasulullah  ﷺ memperdengarkan ayat; "Sesungguhnya Allah tidak suka pada setiap orang yang congkak dan sombong." (TQS. Luqman (31) : 18). Tsabit pun menutup pintu rumahnya dan duduk menangis hingga lama, sampailah kabarnya kepada Nabi  ﷺ dan dipanggillah ia. Berkata Tsabit : "Ya Rasulullah, aku senang kepada pakaian yang indah, dan sepatu yang bagus dan sungguh aku takut dengan ini akan menjadi orang congkak dan sombong ...!" "Engkau tidaklah termasuk dalam golongan mereka itu, bahkan engaku hidup dengan kebaikan ..., dan mati dengan kebaikan...., dan engkau akan masuk surga....!", hibur Rasulullah  ﷺ
Dan sewaktu Rasulullah  ﷺ memperdengarkan firman Allah ta'ala : "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian berkata kepada Nabi dengan suara keras. Sebagaimana kerasnya suara sebahagian kalian terhadap sebahagian yang lainnya, karena dengan demikian amalan kalian akan gugur, sedang kalian tidak menyadarinya ....!" (TQS. Al-Hujurat (49) : 2). Tsabit pun kembali menutup pintu rumahnya. Lalu menangis.... Saat Rasulullah mencari, menanyakan dirinya dan bertemu dengannya, ditanyailah ia : "Sesungguhnya aku ini seorang manusia yang keras suara dan sesungguhnya aku pernah meninggikan suaraku dari suaramu wahai Rasulullah...!" Karena itu tentulah amalanku menjadi gugur dan aku termasuk penduduk neraka ...!", jawab Tsabit bin Qeis. Rasulullah pun menghiburnya : "Engkau tidaklah termasuk salah seorang diantara mereka, bahkan engkau hidup terpuji dan nanti akan berperang sampai syahid, hingga Allah bakal memasukkanmu ke dalam surga ...".
Benarlah seperti sejarah hidup yang pernah ku dengar tentangnya. Dimasa perang Yamamah ketika Muslimin berperang melawan sang nabi palsu, Musailamatul Kadzdzab. Ia berseru : "Demi Allah, bukan begini cara kami berperang bersama Rasulullah  ﷺ....!". Kemudian ia pergi dan kembali lagi dengan membalut badannya dengan balutan jenazah dan memakai kain kafan, lalu berseru lagi : "Ya Allah, sesungguhnya aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat mereka (maksudnya tentara Musailamah) dan aku memohon ampunan kepada-Mu  dari apa yang diperbuat mereka (maksudnya kaum Muslimin yang kendor semangat jihadnya).
Maka bersama Salim bekas sahaya Rasulullah  ﷺ, mereka menggali lobang yang dalam untuk diri mereka, kemudian mereka masuk dengan berdiri didalamnya. Lalu mereka timbunkan pasir ke badan mereka sampai setengah badan. Mereka terus menggempur tentara Musailamah yang mendekat hingga mereka menemukan syahidnya.
Dan Tsabit bin Qeis pun menemukan kedudukannya sebagai syahid seperti yang dikabarkan Rasulullah  ﷺ.
---------------------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 515-520.

Kamis, 19 November 2015

Bersua Si Ahli Hikmat

TIME TUNNEL. Abu Darda' si Ahli Hikmat tak hendak menganjurkan orang menganut filsafat memencilkan diri, dan bukan pula dengan kata-katanya itu menyuruh orang meninggalkan dunia.
Dan Abu Darda' adalah insan yang telah dikuasai kerinduan yang amat sangat untuk melihat hakikat dan menemukannya. Keimanannya kepada Allah dan Rasulullah  ﷺ amatlah teguh.
Pernah ibunya ditanyai orang, tentang amal yang sangat disenangi Abu Darda', lalu dijawabnya : "Tafakkur dan mengambil i'tibar atau pelajaran!". Itulah yang ia resapi dengan sempurna firman Allah; "Hendaklah kamu mengambil ibarat-pelajaran, perbandingan dan sebagainya wahai orang yang mempunyai pikiran!" (TQS 59 : 2). Itulah yang aku kenal ketika pertama kali bersua di peristiwa "Gempar Madinah".
Saat bersyahadat Abu Darda' adalah seorang saudagar kaya Madinah; harta baginya hanyalah alat kehidupan, maka menjadi kewajiban bagi manusia untuk mengusahakan yang halal dan mendapatkannya secara sopan dan sederhana, tidak rakus dan mati-matian.
Sewaktu Cyprus ditaklukkan dan harta rampasan perang dikirim ke Madinah, orang-orang melihat Abu Darda' menangis. Mereka meminta Jubair bin Nafir menanyakan musababnya, maka dijawab oleh Abu Darda'; "Wahai Jubair, alangkah hinanya makhluk disisi Allah, bila mereka meninggalkan kewajibannya terhadap Allah. Selagi ia sebagai umat yang perkasa, berjaya, berkekuatan, lalu mereka tinggalkan amanat Allah. Maka jadilah mereka seperti yang engkau lihat. Karena menurut Abu Darda' runtuhnya negeri-negeri Islam karena mereka kehilangan pegangan ruhani yang benar yang akan melindunginya dan Agama yang benar lagi menghubungkannya dengan Allah.
-----------------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006, Bab "Abu Darda'", halaman 391-404.