"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label 570. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 570. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Januari 2018

Kemanfaatan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ta'ala yang memberi kami hidayah untuk menulis ulang terjemahan hadits dari buku-buku Terjemahan Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung dan Terjemahan Riadhus-Shalihin 1 dan 2 karya Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, koleksi almarhum bapak. Harapanku semoga terjemahan-terjemahan hadits ini bermanfaat bagi kita semua, dan bagi yang ingin memahami makna lebih dalam ada baiknya membaca buku tersebut dengan tulisan aslinya (baca : tulisan arabnya). Jika ada kemanfaatan dari perbuatan ini semoga pahalanya mengalir kepada almarhum bapak dan kami mendapatkan keberkahan sebagai hamba yang taat.

Rabu, 29 November 2017

Muhammad Nabi Terakhir

Tahun gajah ...
Adalah tahun pemisah

Sebelum itu ...
Kezaliman, kemungkaran, kebiadaban merajalela
Anak wanita dibunuh, dikubur, takut tercemar nama
Batu ditatah ...
Diberi nama Uzza dan Latta
Disembah ...
Kemusyrikan merata ...

Abrahah pimpinan tentara mengendara gajah
Penyerang Ka'bah di kota Mekkah
Hancur berantakan dikutuk Allahu wahdah

Saat itu lahir bayi Muhammad anak Aminah
Lahir yatim ditinggal mati ayahanda Abdullah
Dunia beserta isinya menyambut gembira
Allahumma sholli ala Muhammad
Allahumma sholli ala wassalim

Muhammad nabi terakhir
Pembawa risalah suci dari illahi Robbi
Membawa manusia ke arah bahagia hakiki
Bahagia di dunia dan dihari nanti

#570

Selasa, 29 November 2016

KESANTUNAN

Betapa inginku dikau menyambut sinar mentari serta menyongsong lembutnya hembusan angin dengan serapan kulitmu sendiri, sebab nafas kehidupan ada dalam cahaya surya dan tangan kehidupan berada di angin.
Janganlah kau lupa bahwa kesantunan insan adalah perisai penolak pandangan, Pemandang tak suci.
Dan apabila yang tak suci telah tiada lagi, maka apalah rasa malu, selain dari sebuah noda pencemaran budi ………………………..?
-----------------------------
#570

Minggu, 29 November 2015

Kebaikan dan Kesalahan

Seringkali kudengar kau bicara tentang orang yang bersalah. Seolah-olah dia bukan orang kerabat, tapi asing bagimu. Seseorang yang hadir diduniamu bagai duri pengganggu.
Tetapi aku berkata kepadamu,bahwa orang bijaksana dan paling keramatpun tak mungkin lebih unggul derajatnya daripada percik api tertinggi, yang bersemayam tersembunyi dalam setiap pribadi.
Yang jahat dan paling lemah watakpun, tak mungkin jatuh lebih hina dari unsur terendah manusia yang juga bersarang dalam dirimu.
Dan karena sehelai daunpun tak dapat menguning tanpa sepengetahuan seluruh pohon, walau diam-diam.
Demikian pulalah si Salah tak dapat berbuat tanpa keinginan. Nafsu sekalian manusia walau terpendam, Laksana iring-iringan kalian berjalan, sekaligus perintis jalan itu sendiri, dan apabila orang diantaramu sampai jatuh tersandung, kejatuhan itu demi kebaikan mereka yang dibelakang. Sebuah peringatan adanya batu yang menghalang; Ya bahkan diapun telah tersungkur demi kebaikan yang berjalan didepan, karena meskipun mereka melangkah lebih tegap dan lebih mantap, namun telah alpa menyingkirkan batu perintang jalan.
Orang yang tertipu tidak sepenuhnya suci dari sebab perbuat penipu, dan orang yang jujur tak seluruhnya bersih dari sebab perbuatan si Curang. Bagi mereka yang tanpa salah,serta tanpa noda.
Tak dapat kita pisahkan antara yang adil dengan yang zalim, antara kebaikan dan kejahatan, sebab keduanya tergelar dihadapan wajah sang mentari. Ibaratnya benang tenun hitam putih suci, bersamaan membentuk kain,dan apabila sesekali putuslah benang hitam, penenun mestilah memeriksa seluruhnya, alat penenun pun juga diteliti.
Semuanya teranyam dalam jalinan mesra dijantung bumi yang diam.
Dan kau yang berhasrat memahami keadilan, betapa kau akan mengerti, tanpa meninjau segala perbuatan... …………....?
-----------------------------
#570

Sabtu, 29 November 2014

PERSAHABATAN

Sahabat adalah kebutuhan jiwa yang mendapat imbangan.
Dialah ladang hati yang dengan kasih kau taburi dan kau pungut buahnya penuh terima kasih, dia pulalah naungan sejuk keteduhanmu.
Sebuah pendiangan demi kehangatan sukmamu, karena kau menghampirinya dikala hati gersang kelaparan, dan mencarinya dikala jiwa membutuhkan kedamaian.
Segala fikiran, harapan dan keinginan dicetuskan bersama dan didukung bersama, dengan suka-cita yang utuh pun tiada disimpan.
Disaat berpisah dengan teman, kau tiadakan berduka-cita, sebab apa yang paling kau kasihi darinya amatlah mungkin lebih cemerlang dari kejauhan. Sebagaimana sebuah gunung nampak lebih agung dari tanah ngarai dataran.
Janganlah ada tujuan lain dari persahabatan, kecuali saling memperkaya kejiwaan, sebab kasih yang masih mengandung pamrih diluar misterinya sendiri bukanlah kasih, namun jarring yang ditebar hanya akan menangkap yang tiada diharapkan.
Persembahkanlah yang terindah demi persahabatan; jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu, sebab siapakah sahabat itu, hingga kau hanya mendekatinya untuk bersama sekedar akan membunuh waktu …? Carilah ia untuk bersama menghidupkan waktu …! Sebab dialah orangnya untuk mengisi kekuranganmu. Bukannya untuk mengisi keisenganmu.
Dan dalam kemanisan persahabatan, biarlah ada tawa-ria kegirangan, berbagi duka dan kesenangan, sebab dari titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menghirup fajar pagi dan menemukan gairah segar kehidupan.
-----------------------------
#570

Minggu, 17 Agustus 2014

Bercermin dan berbenah

Kalau kita menghadapi masalah yang mencemaskan;
  1. Tanyakan pada diri sendiri; Apakah yang terburuk yang mungkin terjadi?
  2. Siapkan diri kita untuk menerima hal yang terburuk itu, jika memang akan terjadi.
  3. Kemudian dengan tenang lakukan perbaikan-perbaikan yang mungkin terhadap sesuatu yang buruk itu.

#570

Kamis, 01 Mei 2014

Hari ini tak akan menjadi fajar kembali

Hari ini itulah masa depan. Hari selamat bagi setiap orang adalah hari ini. Berbahagialah insan dan berbahagialah dia seorang. Dia yang dapat merenggut (= menarik; menyentak, merebut atau mencabut dengan paksa. (artikata .com)) hari ini bagi hidupnya. Dia yang dengan pasti dapat berkata; "Hari besok jangan pedulikan, karena telah kunikmati hari ini."
Hari ini tak akan menjadi fajar kembali. Hari ini itulah milik kita yang paling berharga. Nikmati hidup hari ini. Kemarin hanya impian. Dan besok hanya bayangan.

#570

Jumat, 29 November 2013

Izzatun-Nafs

Izzatun Nafs, tahu harga diri dan gengsi diri sendiri, mengajarkan percaya kepada diri sendiri. Kesadaran harga diri sebagai ummat Muhammad. Ummat yang dibangkitkan ditengah-tengah manusia ramai, dengan tugas tertentu.
Ummat Islam dibangkitkan bukan untuk meramaikan “Pesta Dunia”, tetapi untuk menyeru manusia kepada kebenaran dan kesucian. Garis-garis perbedaan di dunia semakin jelas, masing-masing golongan telah memilih posisinya masing-masing.
Ummat Islam harus tetap sadar atas posisi, misi dan fungsinya di dunia. Mereka tidak boleh hanyut dalam arus dunia dan percaturan manusia.
Sebagai ummat Risalah, mereka harus percaya kepada diri sendiri, harus sanggup menentukan nasibnya sendiri. Sadar posisi dan fungsinya di dunia, memesankan suatu makna yang lebih jauh, bahwa mereka harus perlu menyusun diri, menghimpun Dana dan Tenaga untuk merampungkan persoalan mereka sendiri, menyelesaikan tugas bersama.
Hilangnya kepercayaan kepada diri sendiri menumbuhkan apes, rusuh dan risau dalam hati, pesimisme dan nglokro. Kepada Pemimpin Besar Ummat Islam Muhammad s.a.w., Allah s.w.t. berfirman :
“Wahai Nabi !!! Cukuplah bagimu Allah dan Ummat pengikutmu dari kaum Mukminin (menjadi penolongmu)”. (QS. Al-Anfaal : 64)
Izzatun Nafs juga memesankan kata kepada kaum Muslimin itu, agar mereka membangun dirinya menjadi “Khajra Ummah” Ummat yang baik dan utama, baik dan utama karena memegang keyakinan, melakukan kebaikan dan kebajikan di dunia untuk kebahagiaan seluruh alam ini, menjadi guru alam. #570

Minggu, 17 November 2013

Hubbillah

Hubbillah, mencintai Allah mengatasai segala cinta.
Jiwa yang ridlo kepada Allah sebagai Robb, akan meletakkan cinta kepada-Nya diatas segala-galanya. Cinta kepada-Nya semata artinya berkurban buat Dia belaka, bukan buat yang lainnya.
Ibrahim a.s. rela mengurbankan anak satu-satunya itu untuk memenuhi amar Illahi. Ismail a.s. rela mengurbankan dirinya, rela melepaskan nyawanya tatkala Tuhan memanggilnya; berpisah jasmani dengan rohani untuk memenuhi panggilan Illahi.
Memenuhi tugas dengan penuh cinta, melayani perjuangan dengan penuh hati dan budi, kecintaan dan pengurbanan menumbuhkan kegairahan, kegemberiaan berjuang dan harapan berjuang. Mukmin mencintai Tuhannya berdasarkan harap dan percaya. Harap dan percaya hendak melihat wajah dan menghadap Tuhan Allah s.w.t. mencintai Allah dan Rasul-Nya dan mencintai perjuangan pada jalan-Nya lebih dari mencintai apa juga yang ada ini, itulah lukisan jiwa Mukmin yang sejati.
“Katakanlah !!! Jika adalah bapak-bapak kamu dan anak-anak kamu dan saudara-saudara kamu, istri-istri kamu dan keluarga kamu dan harta benda yang kamu kumpulkan dan perdagangan yang kamu takuti ruginya, dan tempat tinggal yang kamu senangi, jika semuanya itu lebih kamu cintai daripada mencintai Allah dan Rasul-Nya dan berjuang pada jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah menurunkan siksa-Nya, karena Allah tidak akan memberikan pimpinan kepada kaum yang fasik”. (QS. At-Taubah : 24)
Mahabbah kepada Allah menuntun kita supaya menghadapi manusia dengan perasaan cinta dan kasih sayang. Mukmin yang mendasarkan amalnya kepada Hubbillah, cinta kepada Allah akan mencintai masyarakat ramai dengan sepenuh hati dan budi. Bukan pertentangan dan perlawanan kelas, tetapi cinta dan kasih sayang. Bukan perpecahan, pertentangan yang dibentangkan dalam masyarakat, tetapi tali kasih sayang dan cinta.
TALI KASIH SAYANG ialah pedoman yang harus dijadikan pegangan bagi setiap Mukmin dalam menjalankan tugasnya dalam masyarakat. #570

Selasa, 29 Oktober 2013

Ridlo

Ridlo, rela dan mesra menerima ketetapan Illahi. Menerima pimpinan Illahi artinya menerima kebijaksanaan-Nya. Kebijaksanaan Illahi menentukan dan menetapkan sesuatu. Tempo-tempo kita gagal dalam usaha, padahal kita telah memberikan kesungguhan dan pengurbanan. Manusia berusaha dan membuat rencana tapi ketetapan dan keputusan terakhir ditangan Tuhan.
Manusia berusaha taqdir menentukan !!!
Manusia membuat rencana, dari sudut yang gelap taqdir mentertawakan dia. Kita seringkali menemukan kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan perhitungan kita.
Ada Maha Kekuatan dan Maha Kekuasaan dibelakang segala ikhtiar manusia !!! Ada Maha Kekuatan dan Maha Kekuasaan yang mempunyai “Hak Veto” yang menentukan nasib dan bahagia kita. Diri kita terpelanting antara harap dan cemas, terhempas antara dua dunia yang saling bertabrakan. Jaya atau binasa, derita dan malapetaka yang menimpa, segala itu ada hubungannya dengan Maha Kekuatan dan Maha Kekuasaan yang memegang pimpinan dan kebijaksanaan atas seluruh alam yang besar ini.
“Jika Allah menimpakan bahaya kepada kamu, maka tidak ada siapapun juga dapat melepaskannya, melainkan Dia. Dan jika Ia memberikan kebaikan kepadamu, maka sesungguhnya Ia berkuasa atas segala sesuatu”. Dan Ia-lah yang berkuasa atas segala hamba-Nya, dan Ia-lah yang bijaksana, yang amat Mengetahui”. (QS. Al-An’am : 17 – 18)
Segala yang dijadikan, segala kejadian, ketetapan dan kebijaksanaan Tuhan, pasti ada rahasia yang terkandung didalamnya, ada “Sirrun Illahiyyun” yang gelap dalam pandangan mata, tetapi cerah dalam pandangan bathin.
Ada “Hikmah Illahiyyah” yang tersimpan didalam kebijaksanaan Illahi itu. Ma kholaqta hadza batila !!! Galilah rahasia dan misteria itu, dan terimalah kebijaksanaan itu !!! Mukmin yang sudah ridlo kepada Allah sebagai Robb, ridlo kepada Islam sebagai Agamanya dan ridlo Muhammad Nabi dan Rasul, itu artinya dia telah sampai kepuncak. Tak ada lagi yang lebih atas dari itu, tak ada lagi yang lebih tinggi dari itu. Mukmin yang begitu akan mendapat MARDLOTILLAH, keridloan Illahi. Itulah tujuan kita, dan bukan keridloan manusia. Itu yang memesrakan kita tenggelam dalam mengabdi dan berbakti, larut dalam kehidupan yang maha luas ini.
Dia ridlo kepada Tuhan, dan Tuhan ridlo kepadanya; demikian hendaknya hubungan Mukmin dengan Tuhannya ! Menerima pimpinan dan kebijaksanaan-Nya tanpa cadangan. Hendak digantung tinggi atau dilempar jauh oleh-Nya, bulat terserah semata-mata kepada-Nya belaka. Ia berkuasa hamba menerima. Itulah jiwa tauhid, jiwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang suci dan murni. Marilah kaum Muslimin kita miliki jiwa ini dahulu sebelum berangkat, agar tidak ada penyesalan ditengah jalan. Marilah kita menghiasi jiwa dan diri dengan perasaan Ridlo, Insya Allah kita akan menemukan keyakinan didalam hidup ini. marilah kita pegang erat-erat dan jangan dilepaskan !!!
“Wahai jiwa yang yakin !!! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridlo dan diridloi !!! Masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam jannah-Ku !!!” (QS. Al-Fajr : 27 – 30)
#570

Kamis, 17 Oktober 2013

Ikhlas

Ikhlas, meluruskan niat dan sengaja hati. Sebagai Muslim yang Muslih dan tidak boleh diombang-ambingkan oleh puji dan cela manusia. Maju bukan karena pujian dan tidak mundur karena cacian dan makian. Jujur dalam amalan, ikhlas kepada Cita, setia kepada tujuan. Ikhlas adalah jiwa dari segala amal !!! Tuhan menilai niat dan sengaja hati, bukan menilai besar atau kecilnya jasa, banyak sedikitnya amal.
“Dan Kami memeriksa dan menilai kepada apa yang mereka kerjakan dalam amal kebajikan mereka, lalu kami jadikan dia debu yang berterbangan”. (QS. Al-Furqan : 23)
Segala jasa dan karya, segala pembantingan tulang dan cucuran keringat akan menjadi “Haba’an Mantsura”, jika tidak didasarkan kepada niat yang ikhlas dan sengaja yang tulus. Mukmin yang ikhlas ialah yang menyerahkan dirinya hanya untuk kepentingan Cita dan Agama. Cita dan Agama telah menelan seluruh hidupnya. Niat menjiwai Cita, Cita yang mempunyai jiwa. Niat dan sengaja hati menuntun kita dalam menyelesaikan persoalan ummat ini.
Selisih faham dan sengketa pendapat yang biasa kita temui dalam perjuangan, retak antara kawan seiring, akan mudah diselesaikan, jikalau kita sama-sama ikhlas memiliki kejujuran dan ketulusan hati. Tak ada dendam dan kebencian, tak ada kesumat dan iri hati antara manusia. Marilah kita memfanakan diri demi kepentingan Cita dan Agama !! Bukan Cita dan Agama untuk diri sendiri, tetapi diri sendiri untuk Cita dan Agama !!
Ikhlaskan diri sebelum berangkat, kelak Tuhan akan menggelimangi hajat kita dengan Rahman dan Rahim-Nya, dan akan memberikan ‘Inayah, Hidayah dan Ma’unah kepada kita. Tanpa ‘Inayah, Hidayah dan Ma’unah Illahi, kita tidak akan bertemu jalan yang benar, tidak akan bertemu dengan Cita dan Agama. Marilah kita berlaku jujur dalam perjuangan hidup, agar halaman sejarah hidup kita tidak bernoda dengan titik-titik yang menghitamkan diri. #570

Minggu, 29 September 2013

Sabar

Sabar, tahan dan tabah dalam perjuangan.
Dalam kehidupan dan kegiatan kita kerap kali bertemu dengan kegagalan dan kejatuhan. Jatuh dan bangun kembali, roboh dan tegak lagi. Berpantang menyerah ditelan oleh kenyataan, maju dengan tenaga baru dan semangat yang baru.
“Wahai orang-orang yang beriman !!! Sabarlah dan lawanlah dengan sabar dan melakukan persiapan dan persediaan dan berbakti kepada Allah supaya kamu beroleh kejayaan”. (QS. Al-Imran : 200)
“Maka sabarlah dalam menjalankan hukum Tuhanmu dan janganlah engkau ikuti kemauan manusia bernoda dengan dosa dan ingkar”. (QS. Al-Insaan : 24)
“Dan sabarlah, karena tidak ada kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu berduka-cita terhadap mereka, dan janganlah ada kesempitan hati terhadap tipu-daya mereka”. (QS. An-Nahl : 127)
“Mudah-mudahan keselamatan atas kamu lantaran kesabaran kamu (Salamun ‘alaikum bima shabartum), maka alangkah baiknya balasan seberat itu !!!” (QS. Ar-Ra’d : 24)
Kesabaran, gigih dan ulet dalam mengendalikan jalan perjuangan, menempuh segala kelok dan liku. Itulah semangat dan jiwa Muslim sejati.
Lihatlah kesabaran air dalam menuju laut kemenangan !!! Dari puncak gunung nan tinggi dia turun kebawah, melalui semak dan belukar, menempuh lebat dan kayu nan besar. Dengan sabar dia turun memenuhi lembah. Setelah itu dia berjalan terus dengan penuh harapan. Ditengah jalan bertemu dengan batu yang besar, dia bersibak dan berkuak sebentar kekiri dan sebentar kekanan, akhirnya bertemu kembali, bersatu lagi.
Dalam perjalanan yang jauh, terik sinar matahari mengancam dirinya, hendak menelan dan melenyapkan dirinya menjadi uap. Dia menembus perut bumi dan masuk kedalam tanah, setelah udara sejuk dia keluar lagi menampakkan dirinya seperti biasa, meneruskan perjalanan. Dia terus berjalan ……….. dan dengan kesabaran yang dimilikinya itu, dia sampai kelaut kemenagan dan kejayaan.
Kegiatan dan perjuangan yang didasarkan atas kesabaran, menjaga kelestarian dan kelanggengan; tidak terputus dan patah ditengah. Kesabaran memesankan kemampuan mengendalikan diri, mematuhi undang perjuangan dan undang perhitungan. Tidak menempuh jalan melintas jika ternyata jembatan yang hendak dilalui sudah lapuk, kelak awak akan masuk jurang yang dalam : kekuatan meneruskan perjuangan, ketabahan menempuh ujian dan percobaan, adalah wajah semangat perjuangan yang sejati.#570

Selasa, 17 September 2013

Tawakkal 'Alallah

Tawakkal’alallah, menyerahkan dan mempercayakan diri bulat-bulat kepada Allah.
Gelanggang perjuangan hidup yang dihadapi, maha kesulitan yang datang silih berganti, bala dan bencana yang bertemu ditengah jalan, segala itu hanya dapat diatasi oleh Mukmin yang bertawakkal kepada Allah s.w.t. bertawakkal dan berusaha, berserah diri dalam melakukan tugas, mempercayakan diri sewaktu menunaikan amanat Illahi, perjuangan hidup demi Cita dan Agama. Menyerahkan diri bulat-bulat dalam memegang keyakinan dan memperjuangkan keyakinan.
Itulah pesan dan sunnat perjuangan yang disampaikan Musa kepada pengikutnya :
“Dan Musa berkata; “Wahai bangsaku !!! Jika sungguh-sungguh kamu sekalian beriman kepada Allah, maka kepada-Nya sajalah kamu menyerahkan diri, kalau betul-betul kamu golongan Muslimin”. Lalu bangsanya berkata; “Kepada Allah sajalah kami berserah diri. Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami menjadi fitnah-percobaan bagi kaum yang zalim. Dan selamatkanlah kami denganrahmat-Mu dari kaum yang kafir itu””. (QS. Yunus : 84 – 86)
“Mengapa kami tidak menyerahkan diri kepada Allah, padahal Ia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan sungguhnya kami akan sabar melayani gangguan kamu kepada kami, dan kepada Allah-lah hendaknya bertawakkal orang-orang yang berserah diri”. (QS. Ibrahim : 12)
#570

Kamis, 29 Agustus 2013

Taqwallah

Taqwallah, hanya kepada Allah dia berbakti, tidak kepada yang lain-Nya. beban berat yang dipikulnya, jalan jauh yang ditempuhnya, tugas suci yang dikerjakannya, itu semua adalah ciri pembaktian dirinya kepada Allah s.w.t.
Dalam kamus hidupnya hanya ada satu kata, ialah tugas. Menjalankan tugas karena Allah semata, itulah yang dinamakan taqwallah. Taqwallah ialah menempatkan diri kita ditempat yang disukai oleh Allah, dan tidak menempatkan diri kita ditempat yang tidak disukai oleh Allah.
Kepada ummat taqwa itu banyak benar janji, jaminan dan kepastian yang diberikan Allah. Ummat taqwa akan menemukan jalan keluar dari segala kebuntuan dan kemacetan. Ummat taqwa akan memandang ringan segala tugas yang bagaimanapun beratnya. Hanya kepada ummat taqwa dijanjikan ampunan dari segala dosa dan kekeliruan yang pernah dilakukan.
“………… Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, akan ditunjukkan kepadanya jalan keluar, dan akan diberi rizki dari sumber yang tidak disangkanya. Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, akan dimudahkan segala urusannya. Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah akan dihapus segala kesalahannya dan diberi ganjaran yang besar ………..”. (QS.  Ath-Thalaaq : 2 – 3)
Ummat taqwa ialah ummat yang menjaga dirinya, memelihara dirinya, mengawasi dan mengendalikan dirinya. Kehidupan taqwa adalah tujuan terakhir dari ummat Islam. Kegiatan dikembangkan, pembantingan tulang, peluh dan keringat berbuat dan berjuang, segalanya adalah hanya tanda bhakti manusia taqwa.
“Apakah orang yang mendirikan bangunan (masjid) diatas dasar taqwa kepada Allah dan keridlaan-Nya lebih baik, ataukah orang yang menegakkan bangunannya diatas pinggir tebing yang runtuh?, maka terjerumuslah bersama-sama dengan itu ke dalam neraka jahanam. Allah tidak akan memberi petunjuk jalan kepada kaum yang zalim. Senantiasa bangunan yang telah mereka buat itu (diliputi) oleh keragu-raguan dalam hati mereka, sehingga hati mereka terpotong-potong. Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana”. (QS. At-Taubah : 109 – 110)
Kehidupan dan kegiatan taqwa, itulah yang harus meromankan kehidupan dan kegiatan bagi Mukmin dan Muslim yang Muslih !!! #570

Sabtu, 17 Agustus 2013

Hikmah Kebijaksanaan

Hikmah adalah ilmu untuk menggunakan ilmu; pengetahuan kebijaksanaan untuk menyampaikan kebenaran.
Mengajak manusia kepada jalan kebenaran, menurut adanya kebijaksanaan. Tanpa memiliki kebijaksanaan sulitlah untuk mengajak manusia lain agar menjadi orang yang ber-taqwa.
“Serulah manusia kejalan Tuhanmu dengan hikmah kebijaksanaan dan nasehat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih baik dan lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia pulalah yang mengetahui siapa yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl : 125)
Ilmu hikmah tidak diberikan kepada sembarang orang !
Ilmu hikmah tidak diberikan kepada sembarang manusia !
Ilmu yang banyak, pengetahuan yang luas, tahu segala seluk beluk agama, tidak bermanfa’at kepada manusia dan kepada dirinya, jikalau tidak memakai hikmah, tidak memiliki hikmah.
“Ia yang memberi Hikmah-Kebijaksanaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan barangsiapa yang diberi Hikmah-Kebijaksanaan, maka sesungguhnya ia telah diberi kebajikan yang banyak, dan tidak ingat melainkan orang-orang yang berfikir”. (QS. Al-Baqarah : 269)  
Hikmah-Kebijaksanaan adalah bukan sikap menyembunyikan kebenaran karena perhitungan atau ketakutan, tetapi pengetahuan “Cara Lalu” ditengah-tengah manusia yang berbagai ragam dan ragi ini. Ilmu hikmah dan kebijaksanaan adalah syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang Muslim yang Mushlih.
Mukmin yang sudah diberi ilmu hikmah dan kebijaksanaan, akan memiliki kemampuan menembus segala lapisan hati, menembus lapisan kabut tebal, memandang perkembangan segala dari hubungan yang luas. Dengan kata dan kalimat yang hidup membekas (qaulan baligha), dia berbicara kepada dunia dan manusia. Dengan kata dan kalimat yang hidup ia menyeru manusia ramai. Mukmin yang sudah dikaruniai ilmu hikmah akan menjadi mercusuar pemimpin dalam masyarakat. #570

Senin, 29 Juli 2013

Khosy-Syah

Khosy-syah, takutnya hanya kepada Allah semata.
Jiwa mukmin yang sudah dapat maghfirah – keampunan Tuhan, sesudah memiliki Sakinah – ketentraman jiwa dan ketenangan jiwa, sudah memiliki Istiqomah, tidak ada ketakutan baginya selain dari kepada Allah.
Takut kepada Syadidul ‘Iqob dan Sari’ul Hisab-Nya Allah, takut kepada azab, siksaan dan perhitungan Allah. Takut hendak melanggar larangan dan hudud yang sudah ditetapkan oleh Allah, takut akan murka dan bencana yang dijanjikan Allah kepada manusia yang melanggar batas. Dia mendahulukan Khosy-syah daripada Hikmah !!!. Dia mematangkan dirinya untuk takut kepada alam yang syahadah ini. tidak takut kepada manusia atau dewa, walaupun bagaimana kuat dan kuasanya, karena semua itu maha kecil dan maha lemah dihadapan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Allah.
“…….. Tidak takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya, melainkan Ulama……..”.  (QS. Faathir : 28)
Ciri dari ke-Ulama-an seseorang ialah takutnya kepada Allah, takutnya ia akan melanggar hukum dan undang-undang Allah.
“Ketahuilah ! Sesungguhnya (pejuang-pejuang) dalam agama Allah itu tiada ketakutan atas mereka dan tidak berduka-cita. Yaitu orang-orang yang ber-Iman dan adalah mereka orang-orang yang berbakti”. (QS. Yunus : 62 – 63)
“………. Oleh sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi hendaklah takut kepada-Ku, dan karena Aku hendaklah menyempurnakan nikmat-Ku atas kamu, dan supaya kamu terpimpin”. (QS. Al-Baqarah : 150)
Karena takutnya hanya kepada Allah, lapang dan lega dadanya menghendaki tugas menyampaikan janjian hiburan dan ancaman wahyu kepada manusia.
“Inilah sebab kitab yang diturunkan kepada kamu, oleh sebab itu janganlah sesak dalam dadamu karenanya, untuk engkau ancam manusia dengan dia dan sebagai perintah bagi orang yang ber-Iman”. (QS. Al-A’raaf : 2)
#570

Rabu, 17 Juli 2013

Istiqomah

Istiqomah, teguh pendirian, kuat keyakinan.
Pesona dunia tidak merubah pendiriannya, godaan pangkat tidak menggoyangkan hatinya. Loncatan keatas atau kebawah yang ditemuinya dalam hidup, tidak merubah sikap dan pandangannya. Ombak hidup yang melambung tinggi dan menurun rendah, tidak melenyapkan dia dari muka air kehidupan dan kemanusiaan. Dalam bidang Cita dan Agama, bagi Mukmin sejati yang sudah istiqomah, tidak ada pertemuan antara Iman dan Nifaq, Tauhid dan Syirik, Islam dan Kufur.
Tidak sudi menjual aqidah, keyakinan dan pendirian dengan harta benda dan keuntungan yang dekat.
“Sesungguhnya orang yang berkata; Tuhan kami ialah Allah; kemudian ber-istiqomah dalam memegang pendirian itu, akan turunlah kepada mereka Malaikat, supaya jangan mereka berduka-cita dan takut”. (QS. Fush-shilat : 30)
“Sesungguhnya orang yang berkata; Tuhan kami ialah Allah, kemudian berpegang teguh dengan pendirian itu, maka tiada ketakutan atas mereka, dan tidaklah mereka berduka-cita”. (QS. Al-Ahqaaf : 13)
“Apabila mereka tetap ber-istiqomah menempuh jalan itu (agama Islam), pastilah akan Kami beri minum mereka dengan air yang sejuk (rezki yang banyak)”. (QS. Al-Jin : 16)
“Oleh sebab itu bersikap Istiqomah-lah sebagaimana kamu diperintahkan dan begitu juga orang-orang yang bertaubat bersama kamu, dan janganlah kamu melewati batas, karena Ia sesungguhnya melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah engkau condong kepada kaum yang zalim, lantaran nanti kamu akan kena api neraka, padahal tidak ada bagi kamu penolong selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan ditolong”. (QS. Hud : 112 – 113).
#570

Sabtu, 29 Juni 2013

Sakinah

Sakinah, ketenangan jiwa dan ketentraman hati.
Tidak gugup menghadapi suasana apapun jua, tidak gamang dalam suasana yang bagaimanapun juga. Dengan tenang dan tentram diatasinya segala maha kesulitan yang bagaimanapun besar dan beratnya. Tidak cepat melompat, teliti, cermat dalam perhitungan, seksama dalam mempertimbangkan sesuatu.
Walaupun tengah menghadapi bahaya dan bencana, tetap ia tenang, tidak gugup dan tidak gamang.
Tidak lekas mengambil kesimpulan sebelum dibuatnya analisa yang tajam dan mendalam. Pandai menghitung dan mempertalikan antara sebab dan akibat. Itulah jua sifat yang dimiliki Nabi dan para sahabat yang setia, Abu Bakar Ash-Shiddiq khususnya, tatkala keduanya berada dalam sebuah gua karena kejaran dari rezim Quraisy. Sifat itu pulalah yang dimiliki Nabi tatkala menghadapi delegasi rezim Quraisy dalam perundingan Hudaibiyah.
“Ia-(Allah)-lah yang telah menurunkan sakinah (ketentraman) pada hati kaum Mukminin supaya bertambah iman mereka dari pada iman yang sudah mereka miliki; dan bagi Allah tentara langit dan bumi, dan Allah itu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Fath : 4)
“Ingatlah tatkala kaum kafir itu bersikap sombong dalam hatinya – kesombongan jahiliyah, lalu Allah turunkan ketentraman-Nya pada Rasul-Nya dan atas Mukminin, dan Ia wajibkan mereka (mengucapkan) perkataan untuk menjaga keselamatan, karena mereka lebih berhak dengan itu dan memang mereka ahlinya dan adalah Allah lebih mengetahui tiap-tiap sesuatu”. (QS. Al-Fath : 26)
#570

Senin, 17 Juni 2013

Maghfirah

Maghfirah, ampunan dan kebebasan dari segala dosa yang pernah dikerjakannya, disengajanya atau tidak, nyata atau sembunyi. Jiwa juga sudah kembali, taubat menyesali langkah salah dan keliru selama ini, dan tidak akan kembali berbuat, akan diberi karunia ampunan dan maghfirah.
Ampunan Tuhan lebih besar dari dosa dan kesalahan insane. Mukmin yang sudah kembali itu menemukan lagi jalan kesucian, jalan lurus yang benar.
Ghafururrahim-Nya Allah s.w.t. selalu membukakan pintu taubat untuk hamba-Nya yang hendak masuk dan kembali.
Marilah kita masuk kedalamnya pasti diterima !!!
“Berlomba-lombalah ke jalan keampunan Tuhan kamu …………”. (QS. Al-Hadiid : 21)
“Allah menjanjikan kepada ummat-Nya (Mukmin) yang melakukan amal shaleh, bahwa mereka akan mendapat ampunan dan ganjaran yang besar”. (QS. Al-Maaidah : 9)
“Dan tidak ada ucapan mereka melainkan perkataan; Wahai Tuhan kami ! Ampunkanlah dosa dan pelanggaran batas yang kami lakukan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami kami dan tolonglah  kami dalam mengalahkan kaum yang ingkar itu”. (QS Al-Imran : 147)
“Balasan buat mereka adalah keampunan dari Tuhan mereka, dan sorga yang mengalir padanya sungai-sungai dan mereka akan kekal di dalamnya. Alangkah baiknya balasan orang-orang yang beramal !” (QS Al-Imran : 136
#570

Rabu, 29 Mei 2013

Pendakian Taubat

Kita harus taubat, ialah agar supaya beroleh taufiq untuk ta’at sebab, banyak dosa itu menyebabkan segan ta’at dan malas ‘ibadah. Dan juga taubat itu ialah agar supaya Allah terima baik ‘ibadah sinnah yang kita kerjakan. Sebab taubat itu wajib, harus ditunaikan lebih dahulu sebelum melakukan yang sunnah. Taubat itu pekerjaan hati, membersihkan hati dari pada dosa, niat tak akan kembali melakukan dosa, ialah karena menjunjung tinggi perintah Tuhan, takut dibenci dan dimurkai-Nya. jika meninggalkan dosa karena malu dari orang lain atau sebab takut penjara, tetapi perbuatan ini tak dapat dinamakan taubat kepada Allah. Seorang pencuri, pezina setelah tua dan lemah ia ingin taubat, tetapi apa arti taubatnya itu sesudah hilang tenaganya untuk merampok atau berzina? Bagaimana jalannya supaya dapat taubat, sedang pintu taubat belum tertutup???.
Ia harus meninggalkan dosa-dosa yang masih dapat dilakukan olehnya dan masih sederajat dengan dosanya (mencuri, merampok dan sebagainya itu), ialah seperti; dusta, mengumpat, memfitnah dan sebagainya. Dosa itu kiranya ada tiga macam atau tiga sederajat yakni :
  1. Dosa Kufur
  2. Dosa Bid’ah
  3. Dosa-dosa lainnya

Juga ada tiga hal yang mendorong kepada taubat;
  1. Ingat akan kejahatan dosa.
  2. Ingat akan kerasnya siksa Illahi dan sakitnya dibenci dan dimurkai-Nya.
  3. Ingat akan kelemahan dan kedunguan diri sendiri.

Orang tidak tahan panasnya matahari, tidak kuat tahan tamparan polisi, tidak tahan digigit semut, masakan tahan api jahanam, pukulan malaikat Zabaniah. Oh Tuhanku, lindungilah ……..
Marilah kita ingat hal ini siang malam, mudah-mudahan Allah memberikan taufiq akan taubat kita, amin.
Janganlah kita punya fikiran; buat apa taubat, sebentar lagi akan kembali berbuat dosa, tak kuat menahan nafsu.
Ini adalah keliru dan salah besar, tipuan setan belaka, sebab darimanakah kita tahu dan dapat menentukan bahwa akan kembali berdosa? Siapa tahu, barangkali ajal kita datang sebelum kembali berdosa? Kita tak boleh takut akan kembali berdosa!!!
Marilah kita kuatkan hati tidak akan kembali berbuat dosa. Maju untuk kedepan itu bagaimana kehendak Tuhan. Jika taqdir dapat terus lurus, memang itulah yang dimaksud, kalaupun tidak demikian, inipun masih juga untung sebab dosa yang dahulu sudah berampun, yang baru ditaubati.
Taubat itu tidak akan sia-sia. Kita jangan segan taubat karena takut kembali berbuat dosa !
Kiranya membersihkan diri daripada berbuat dosa itu begini jalannya; Dosa ada tiga macam yakni;
  1. Dosa meninggalkan kewajiban, seperti : sholat, puasa wajib, zakat dan sebagainya. Ini harus kita bayar.
  2. Dosa terhadap Tuhan, seperti minum-minuman keras, makan riba dan sebagainya. Disini harus kita menyesal dan keras niat tidak akan kembali melakukannya.
  3. Dosa terhadap sesame hamba Allah. Ini agak sulit dan ada beberapa bagian. Pertama; dalam urusan harta benda. Kedua; dalam perkara jiwa. Ketiga;  dalam perkara nama baik. Dan keempat; dalam hal kehormatan.
Urusan harta benda; menghasap atau merampas harta orang lain, maka taubatnya harus disertai dengan mengembalikannya kepada si pemilik, kecuali kalau si pemilik itu menghalalkan bagi siperampas. Kalau tidak mungkin mengembalikan umpamanya si pemilik sudah mati, haruslah siperampas itu memberikan kepada fakir miskin dan sebagainya. Sedekah atau derma yang pahalanya untuk si pemilik yang sudah mati tersebut. Kalau tidak dapat sedekah atau derma hendaklah ia memperbanyak ‘amal kebaikan dan memohon supaya si pemilik itu oleh Allah rela terhadapnya kelak kemudian.
Perkara jiwa; memukul, menembak atau membacok orang lain, maka taubatnya itu harus disertai menyerahkan diri untuk pembalasan, kecuali kalau yang dianiaya itu suka mema’afkan. Pembunuh harus menyerahkan dirinya untuk dibunuh, mati sebagai pembalasan. Jika keluarga yang berhak tidak suka memberi ampun. Jika tidak mungkin demikian maka si pembunuh harus kembali kepada Allah, mohon supaya siterbunuh ditakdirkan rela, kelak pada hari yaumul qiyamah.
Urusan nama baik; jika kita mengumpat atau memaki seseorang haruslah kita menarik kembali semua perkataan kita itu dimuka orang-orang yang mendengar umpat atau makian itu dan minta ma’af kepada orang yang bersangkutan. Kalau tidak mungkin berbuat demikian karena kuatir bertambah marahnya atau tambah mempersulit soalnya, baiklah kita kembali kepada Allah mohon kerelaan orang itu dan mohon supaya ia mengampuni segala dosa siteraniaya, jika sekiranya kita berdosa.
Urusan kehormatan; menganggu, ma’afkanlah, kehormatan istri atau gadis anak seseorang adalah urusan yang sulit sekali, jalan untuk minta ma’af. Segeralah taubat dengan sesungguh-sungguhnya, kembali kepada Tuhan.
Urusan Agama; kalau kira menuduh kufur atau bid’ah ataupun sesat kepada seseorang, padahal sebetulnya tidak demikian, maka ini adalah satu dosa yang paling sulit. Pertama; harus menarik perkataan kita dengan cara yang bisa sampai kepada orang yang telah mendengar atau membaca tuduhan kita itu. kedua minta ma’af kepada orang yang bersangkutan ataukalau tidak mungkin, kembali pula kepada Allah Ta’ala seperti tersebut yang lalu.
Pendeknya segala apa yang membikin hati si teraniaya itu rela dan senang, ini sedapat mungkin harus kita kerjakan. Kalau tidak dapat karena bertambah sulit soalnya, kembali sajalah kepada Allah Ta’ala dan memperbanyak sedekah dan segala ‘amal kebajikan. Mudah-mudahan kalau kelihatan oleh-Nya keikhlasan kita, dijadikannya di teraniaya itu suka memberi ma’af kelak dihari kemudian.
Setelah berbuat demikian dan sesuadah membersihkan hati dan mengeraskan niat tidak akan kembali berbuat dosa itu dengan seikhlas-ikhlasnya, maka berarti kita sudah keluar daripada dosa, sudah suci hati kita, insya Allah kita semuanya diberi-Nya taufiq dan hidayah. Amin.
Dosa itu janganlah dibiarkan saja, harus segera ditaubati, sebab mula-mula ia menyebabkan keras hati, akhirnya………
Ya Allah lindungilah hamba …….
Ajal tak dapat ditentukan. Bagaimana besar  sesalan kita jika mati sebelum bertaubat. Karena itu janganlah kita tangguhkan lagi, hari ini, jam ini, menit ini pula mari kita bertaubat !!!
Kembali berdosa, kembali bertaubat asal dengan keikhlasan hati. Sebelum nyawa kita sampai pada kerongkongan maka pintu taubat masih terbuka lebar.
Pendeknya marilah kita membersihkan hati kita daripada segala dosa, ialah dengan memperkuat niat tidak akan kembali berbuat dosa. Setelah itu marilah kita kerjakan perintah Allah dan marilah kita tinggalkan jauh-jauh segala larangan-Nya.
Disamping mengerjakan sholat yang wajib kerjakan yang sunnah. Biasakanlah kita mengerjakan yang diridloi Allah.
Marilah kita mohon ampun seperti cara yang sudah kita pelajari bersama seperti yang tersebut dimuka. #570