"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Bias Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bias Hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2018

Jangan Pusing !

لا تحمل هم الدنيا فإنها لله ، ولاتحمل همَّ الرزق فإنه من الله ، ولاتحمل هم المستقبل فإنه بيد الله .. فقط احمل همًا واحدًا : كيف ترضي الله

Jangan pusingkan dunia, dia milik Allah,
Jangan pusingkan rizki, dia dari Allah,
Jangan pusingkan masa depan, dia di tangan Allah,
Cukup pusingkan satu saja; Bagaimana Allah ridha.

Selasa, 20 Maret 2018

Sa'atnya Meneladani Rasulullah ﷺ

Masalah besar yang kita saksikan dengan sangat jelas dan terang di dunia Islam adalah bahwa komitmen terhadap akhlak yang diserukan oleh Islam dan dianjurkan dalam al-Qur'an dan as-Sunnah masih sangat jauh dari harapan.
Kita lihat bahwa Islam berada pada suatu lembah sementara kaum muslimin berada pada lembah lainnya. Orang Islam hanya sebatas nama, identitas dan kebangsaan saja, adapun dalam pengamalan, komitmen dan mu'amalah serta perangai, sama sekali tidak tersentuh oleh nilai-nilai ajaran Islam sedikit pun, arahan-arahannya tidak memiliki peran, rambu-rambunya tidak memiliki kedudukan, dan prinsip-prinsipnya tidak dihormati.
Demikian pula kita saksikan dari hari kehari manusia semakin jauh dari petunjuk Islam, dan semakin lalai dalam merealisasikannya. Fenomena inilah yang menjelaskan mengapa kaum Muslimin ditimpa kondisi yang sangat menyedihkan; bencana-bencana menimpa mereka setiap hari, kekalahan militer dan psikis yang menimpa mereka di setiap tempat dan ketertinggalan dalam bidang teknologi, indutri, dan pertanian dimana umat-umat lain jauh melangkah mendahului kita.
Sungguh telah tiba masanya umat Islam kembali kepada agamanya, telah tiba waktunya bagi kaum Muslimin untuk kembali kepada Islam yang hanif dan telah tiba waktu yang sangat kondusif agar mereka merenungkan layaknya seorang arif lagi mendalam pemahamannya, agar mereka menyingkap bahwa para pendahulu mereka yang shalih mulia karena Islam, kekuatan mereka bersumber dari Islam, kemajuan mereka disebabkan karena Islam dan bahwa generasi pelanjut tidak mungkin memiliki kemuliaan, kekuatan dan kemajuan melainkan dengan berpegang teguh kepada Islam, sebagaimana diperintahkan dalam kitab Allah Azza wa Jalla dan sangat dianjurkan oleh sunnah Nabi ﷺ.

Inilah Rasulullah
Keterangan Ilahi yang menjelaskan kepada kita tentang Rasulullah ﷺ dan menerangkan sifat beliau; "Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur". (QS. al-Qalam : 4).
Pada tempat yang lain Allah ta'ala menjelaskan kepada kita mengenai akhlak Rasulullah ; "Jadilah pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh". (QS al-A'raaf : 199).
Dalam Shahih Muslim dari Sa'd bin Hisyam, ia bertanya kepada 'Aisyah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tentang akhlak Rasulullah ﷺ. 'Aisyah menjawab; "Akhlak beliau adalah al-Qur'an". Ia lalu berkata, "Saya bertekad segera berdiri dan pergi, serta tidak bertanya lagi sesuatu apapun".
Anas bin Malik رَضِيَ اللََّهُ عَنْه -pelayan Rasulullah ﷺ- berkata; "Rasulullah adalah manusia yang paling baik akhlaknya".
Lebih lanjut Anas رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata; Saya tidak pernah menyentuh kain sutera yang lebih lembut dari tangan Rasulullah ﷺ, dan tidak pernah sama sekali saya mencium bau yang lebih wangi dari wewangian beliau . Saya pernah menjadi pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun dan beliau sama sekali tidak pernah berkata kepada saya, "Cih", dan tidak pernah mengatakan terhadap apa yang aku perbuat, "Mengapa kamu melakukan ini?", dan tidak pernah aku melakukan sesuatu lalu beliau berkata, "Seandainya kamu melakukan ini?!"
Nabi ﷺ memotivasi orang-orang beriman untuk senantiasa komitmen terhadap akhlak yang baik dan menjauhi perangai yang keji.
At-Tirmidzy meriwayatkan dari Abu Ad-Darda' رَضِيَ اللََّهُ عَنْه bahwa Nabi bersabda ﷺ; "Tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah benar-benar membenci kekejian yang kotor".
Beliau juga menjelaskan bahwa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah akhlak yang baik dan takwa kepada Allah.
Dalam Sunan at-Tirmidzy disebutkan dari Abu Hurairah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه; "Bahwa Rasulullah ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga? Beliau menjawab, "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik"".
Beliau juga ditanya tentang yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka? Beliau menjawab, "Mulut dan kemaluan". Lalu beliau menjelaskan bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.
Di dalam Sunan at-Tirmidzy disebutkan dari 'Aisyah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dari Nabi ﷺ, "Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imanya adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap isterinya".
Rasulullah ﷺ menjadikan orang yang paling dekat tempat duduknya dari beliau pada hari kiamat adalah orang yang memiliki akhlak terpuji, dan yang paling jauh darinya adalah orang yang memiliki akhlak tercela.
Di dalam Sunan at-Tirmidzy disebutkan dari Jabir رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dari Nabi ﷺ, "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian, paling dekat majelisnya kepadaku pada hari kiamat adalah orang yang baik akhlaknya. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan paling jauh majelisnya dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak berceloteh, lebar mulut dan al-mutafaihiquun". Mereka berkata, "Kami telah mengetahui orang yang banyak berceloteh dan lebar mulut, lalu apa yang dimaksud dengan al-mutafaihiquun?" Beliau menjawab, "Orang-orang yang sombong".
--------------------------------
Inspirasi :
Tazkiyatun Nafs
, Ibnu Taimiyah رحمه الله, Penerbit : Darus Sunnah Press, Jakarta Timur, Cetakan Pertama : November 2008.

Kamis, 15 Februari 2018

Nasehat untuk Para Wanita

Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : "... dan melihat neraka mendadak isinya kebanyakan kaum wanita." (baca Tarjamah Riadhus Shalihin 1, halaman 415).

Lantas bagaimana kaum wanita bisa terhindar dari ancaman neraka?
Ibnu Umar رضي الله عنهما menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda : "Hai para wanita bersedekahlah kamu, dan perbanyaklah membaca istiqhfar." (baca Tarjamah Riadhus Shalihin 2, halaman 656).

Lantas apa yang membuat wanita mendapat ancaman neraka?
Masih dalam riwayat hadits yang sama Nabi ﷺ menjelaskan : "Karena kamu (wanita) banyak mengomel, menghilangkan (tidak mengakui) kebaikan dari suami dan kamu adalah orang yang kurang sempurna akal dan agama. (maksudnya persaksian dua wanita sama dengan seorang lelaki, tanda kurang akal; dan sering tidak sholat beberapa hari, tanda kurang agama." (baca Tarjamah Riadhus Shalihin 2, halaman 656)
--------------------------
Inspirasi : 
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978.
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979.
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006, halaman 629-637.

Senin, 15 Januari 2018

Kemanfaatan

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah ta'ala yang memberi kami hidayah untuk menulis ulang terjemahan hadits dari buku-buku Terjemahan Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung dan Terjemahan Riadhus-Shalihin 1 dan 2 karya Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, koleksi almarhum bapak. Harapanku semoga terjemahan-terjemahan hadits ini bermanfaat bagi kita semua, dan bagi yang ingin memahami makna lebih dalam ada baiknya membaca buku tersebut dengan tulisan aslinya (baca : tulisan arabnya). Jika ada kemanfaatan dari perbuatan ini semoga pahalanya mengalir kepada almarhum bapak dan kami mendapatkan keberkahan sebagai hamba yang taat.

Minggu, 31 Desember 2017

Tanda Kebinasaan

Tidak membantu saudara-saudara kita yang sedang berjihad di Suriah adalah tanda kebinasaan, “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah : 195).

Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa makna ayat ini adalah, “Kalau kalian meninggalkan sedekah, kalian akan binasa”.

Dr. Abdul Aziz Tharifi, ulama yang mengampu berbagai majelis di Riyadh Saudi Arabia, Kepala Bidang Riset dan Penelitian Kementerian Urusan Islam, KSA (Twitter : @AbdulazizTarifi) 

Minggu, 17 Desember 2017

Bahaya Sihir

"...., padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaithan-syaithan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia ...." TQS. Al-Baqarah (2) : 102.

Abu Hurairah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه menerangkan bahwa Rasulullah ﷺ menasehati agar meninggalkan salah satu dosa yang membinasakan, yaitu SIHIR / TENUN (baca : Tarjamahan Riadhus-Shalihin 2, halaman 589).
Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما mengingatkan kepada kita akan nasehat Rasulullah ﷺ bahwa mempelajarinya adalah tambahan dosa, dan bertambah menurut banyak yang dipelajarinya. (baca : Tarjamahan Riadhus-Shalihin 2, halaman 509-510).
Abu Mas'ud Al-Badry mengingatkan pula akan nasehat Rasulullah ﷺ bahwa beliau telah melarang hasil perdukunan. (baca : Tarjamahan Riadhus-Shalihin 2, halaman 510).
"Siapa yang datang kepada tukang tebak dan menanyakan sesuatu lalu dipercayainya, maka sholatnya tak diterima selama empatpuluh hari", tegas Shofiyah binti Abi Ubaid ((baca : Tarjamahan Riadhus-Shalihin 2, halaman 509).

Tetap memohon bimbingan Allah ta'ala agar kita terhindar dari perbuatan tersebut diatas, semoga Allah ta'ala memberikan rahmatnya kepada kita dengan dijauhkan dari perbuatan sihir dan orang-orang yang mempraktekkannya.

Senin, 20 Maret 2017

JUMPA dan CERMIN

"Betapa inginnya aku", ujar seorang murid pada Imam Ahmad, "Setiap hari menjumpaimu, duduk di majelismu." Dia tinggal di luar kota dan harus merawat ibunya yang lanjut usia; hanya bisa datang sesekali saja.
Imam Ahmad tersenyum dengan asih. "Ada beberapa orang", ujar beliau, "Yang tak pernah kami temui, tapi jauh lebih kami cintai daripada yang setiap hari berada di sisi." Ya, bukankah seharusnya Rasulullah ﷺ ada di puncak daftar semacam itu?
Begitulah dalam ukhuwah sejati, saling mendoakan lebih penting dibanding berjumpa, dan berkunjung sesekali boleh jadi lebih menguatkan cinta daripada yang setiap saat senantiasa bersama.
Yang lebih kita hajatkan adalah selalu bercermin, jumpa ataupun tak jumpa, seperti sabda Nabi ﷺ, "Al mukmin mir-atul mukmin." Keraton Kadariyah di Kampung Dalam Bugis, Pontianak, yang didirikan Sultan Syarif ’Abdurrahman Al-Kadri pada tahun 1771 itu, menyimpan dua buah benda berpasangan yang sangat indah. Keduanya adalah cermin besar buatan Perancis dari abad kedelapan belas. Keduanya begitu menjulang, lebih dari dua meter. Bingkainya cantik, penuh ornamen berkilauan. Meja rias yang menyatu dengannya berkaki logam penuh ukiran. Tetapi yang paling menarik adalah bahwa kedua cermin ini dipasang berhadapan.

Maka apa?
Keduanya saling menampakkan bayangan kawannya, berbolak-balik pantul memantul, kian dalam makin kecil hingga titik jauh yang seakan tak terhingga. Di dalam bayangan, ada bayangan. Ada lagi dan lagi. Sepertinya mereka saling mengaca, terus menerus tanpa henti hingga jumlah bayangnya tak lagi bisa dihitung. Orang-orang menyebut mereka berdua sebagai ‘Kaca Seribu.’ Mungkin begitulah seharusnya kita dalam dekapan ukhuwah. Kita terus saling bercermin tanpa lelah. Kita menampilkan bayangan terindah yang akan berlipat-lipat tanpa henti sebab hati kita dan orang yang kita cintai terus saling belajar dan saling memahami. Lalu kita menjadi sepasang saudara yang tak hanya bernilai dua, melainkan seribu atau bahkan tak terhingga. (Salim A. Fillah). 

Minggu, 19 Maret 2017

Mush'ab bin Umair, Pemuda yang paling harum sekota Makkah

Dahulunya beliau adalah pemuda Makkah yang paling tampan wajahnya, harum badannya dan bagus bajunya. Ibunya sangat mencintainya hingga membelikannya semua pakaian dari berbagai negeri Syam dan Yaman. Ketika datang seruan Rasulullah kepada Tauhid, ia pun menyambut dakwah beliau tanpa ragu. Seketika itu beliau meninggalkan kekayaannya demi menjadi Dai pertama Islam.
Ibunya pun murka dan memutuskan semua hubungan dan harta berlimpahnya. Beliau pun ditugaskan Rasulullah untuk berdakwah ke Madinah. Hingga tiba di Madinah..mulailah beliau berdakwah dan berdakwah dengan Hikmahnya. Hingga seketika itu pula Islamlah seluruh Suku Aus hingga petinggi petinggi mereka pula.
Datanglah Rasulullah ke Madinah mendengar penduduknya yang masuk Islam melalui tangan Sahabat Mush'ab bin Umair setelah izin Allah. Ketika itu...datanglah Mush'ab Bin Umair..sang pemuda Harum dan tampan kepada Rasulullah... Ketika Mush'ab datang...tiba tiba mengalir air mata Rasulullah...
Iya, Sebaik baik Makhluk Allah tumpah air mata melihat keadaan dan perjuangan Mush'ab bin Umair.
Dengan pakaian Yang robek dan kekecilan...Sahabat Mush'ab datang kepada Nabi.
Beliau teringat keadaan Mush'ab yang harum dan tampan ketika dahulu masih di Makkah, namun beratnya perjuangan dan tulusnya hatinya...ia berdakwah kepada Islam dan menanggalkan itu semua.
Itu semua demi Islam...
Demi Tauhid...
Hingga wafatnya pun membuat para sahabat menangis...
Ketika Mush'ab wafat...para Sahabat tidak mendapati kain untuk mengkafani tubuh beliau.
Jika ditutup kakinya, maka tampak kepalanya.
Jika ditutup kepalanya, maka tampak kakinya.
Sehingga Rasulullah memerintahkan agar ditutup kakinya dengan alang alang harum yang tumbuh.
Perjuangan dakwah Mush'ab adalah kisah kisah abadi.
Maka hendaknya setiap pemuda yang hendak memulai dakwah maka bacalah sejarah dan kisahnya Mush'ab.

Admin Suara Madinah 

Jumat, 17 Maret 2017

Sahabat Sejati

Imam asy Syafi’i رحمه الله berkata ; “Jika engkau punya teman yang selalu membantumu dalam rangka keta'atan kepada Allah maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman baik itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali.”

Nasehat Imam Hasan al-Bashri رحمه الله ; "Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat."

Ciri-ciri sahabat sejati menurut Imam Al Ghazali رحمه الله :
  1. Jika kau berbuat baik kepadanya, maka ia juga akan melindungimu.
  2. Jika kau merapatkan ikatan persahabatan dengannya, maka ia akan membalas balik persahabatanmu itu.
  3. Jika kau memerlukan pertolongan darinya, maka ia akan berupaya membantu sesuai dengan kemampuannya.
  4. Jika kau menawarkan berbuat baik kepadanya, maka ia akan menyambut dengan baik.
  5. Jika ia memperoleh suatu kebaikan atau bantuan darimu, maka ia akan menghargai kebaikan itu.
  6. Jika ia melihat sesuatu yang tidak baik darimu, maka maka ia akan berupaya menutupinya.

Rabu, 08 Maret 2017

Ayah Hebat

Ayah Bunda, tahukah Ayah Hebat itu yang membahagiakan istri saat hamil agar anak merasa nyaman di dalam rahim.
Ayah Hebat itu yang membatalkan acara pentingnya guna mendampingi istri saat melahirkan sebab momen kelahiran takkan berulang.
Ayah Hebat itu yang memiliki anggaran khusus untuk membeli mainan dan alat edukasi anaknya sedari dini.
Ayah Hebat itu yang mencatat dan mendokumentasikan proses kehamilan istrinya guna menjadi pembelajaran sejarah untuk buah hatinya nanti.
Ayah Hebat itu yang menyiapkan diri untuk mendengarkan curhatan istrinya agar istri memiliki emosi yang nyaman saat mengasuh buah hati.
Ayah Hebat itu yang membangunkan anak tiap pagi dan mengajaknya bermain sejenak sebelum berangkat kerja.
Ayah Hebat itu yang lebih sering menanyakan kabar perasaan anak dibandingkan bertanya tentang PR atau makan.
Ayah Hebat itu yang mau baca Timeline pengasuhan dari sumber mana saja supaya menambah pengetahuan tentang anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah memandikan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah membangunkan anak di pagi hari.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah cebokin anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum nyuapin makan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum ketawa bareng sama anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah ngelitikin badan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum cium anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah bercerita dan mendongeng di depan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah nyanyi di depan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah lomba makan bareng sama anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah ngasih tebak-tebakan ke anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah menunjukkan muka jelek di depan anak.
Belum syah jadi Ayah Hebat kalau belum pernah menemani tidur anak di malam hari.
Semoga menjadi calon Ayah Hebat dan Ayah Hebat panutan bagi anak dan Istri. (Aliansi Cinta Keluarga <AILA>)

Senin, 20 Februari 2017

Ahlullah

Rasulullah :"Barangsiapa membaca Al-Qur'an dan mengamalkannya, menghalalkannya yang halal dan mengharamkan yang haram, maka Allah memasukkannya ke dalam surga dan dia boleh memberi syafaat 10 orang keluarganya yang sudah pasti masuk neraka." (Hadist Riwayat At-Tarmidzi).

Para penghafal Qur'an merupakan orang yang dimuliakan oleh Allah swt.  Seperti sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya Allah memiliki kerabat-kerabatnya di kalangan manusia" lalu mereka bertanya : "Siapakah mereka ya Rasulullah?" Jawab Baginda : "Mereka adalah ahli Al-Qur'an, merekalah kerabat Allah (Ahlullah) dan orang-orang pilihannya" (Hadist Riwayat Ibnu Majah)

Renungkanlah wahai sahabat... mari sama-sama kita buat niat kembali kepada ALLOH tanpa ngicipin neraka...
Yang ALLOH lihat niatmu, kesungguhanmu dalam berproses...
bukan hasilnya...  (Salman Al-Jugjawy

Rabu, 08 Februari 2017

Menta'ati Rasulullah ﷺ

Ketaatan kepada Nabi ﷺ merupakan konsekuensi dan tuntutan dari syahadat (persaksian) kita bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Allâh Azza wa Jalla. Sebab persaksian bahwa Muhammad ﷺ benar-benar utusan Allâh maknanya adalah mentaati perintahnya, membenarkan berita yang beliau ﷺ sampaikan, menjauhi larangan dan peringatannya ﷺ, serta tidak beribadah kepada Allâh kecuali dengan syariatnya.
Demikianlah bentuk pengagungan yang sempurna kepada beliau ﷺ serta penghormatan yang tertinggi. Pengagungan model apakah yang bisa diberikan kepada Nabi ﷺ oleh orang yang meragukan atau enggan taat kepada beliau atau mengadakan bid'ah dalam agama beliau dan beribadah kepada Allâh Azza wa Jalla dengan cara yang tidak sesuai dengan cara beliau ﷺ ?! Karena itu, begitu keras pengingkaran Allâh kepada orang-orang yang melakukan ibadah dengan cara-cara yang tidak pernah disyariatkan. Allâh berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allâh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allâh ? [as-Syûra/42:21]

Nabi bersabda :
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak [HR. Bukhari, no. 2550 dan Muslim, no. 4590].

Bukti pembelaan yang serius terhadap (kehormatan) Nabi ﷺ adalah dengan mengagungkan syari'ah (risalah) yang beliau ﷺ bawa dalam al-Qur`ân dan Sunnah (Hadîts) dengan pemahaman Salaful ummah. Yaitu dengan cara mengikuti dan berpegung teguh dengannya secara lahir dan batin, selanjutnya dengan menjadikan syari'ah ini sebagai hakim (penengah) dalam segenap sisi kehidupan dan urusan-urusan yang khusus maupun umum. Sungguh mustahil, keimanan akan sempurna tanpa itu. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ ۚ وَمَا أُولَٰئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ
Dan mereka berkata, "Kami telah beriman kepada Allâh dan rasul, dan kami mentaati (keduanya)." Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. [an-Nûr/24:47].

Sikap ini jelas merupakan bentuk pembelaan yang hakiki dan penghormatan yang sejati. Pasalnya, standar penilaian dalam segala urusan adalah kenyataan yang dibuktikan, bukan sekedar penampilan lahiriah atau simbol-simbol kosong atau pernyataan hampa. Karenanya, Allâh mengedepankan adab ini dari adab-adab lain yang mesti dilakukan bersama Nabi ﷺ. Allâh Azza wa Jalla melarang mendahului keputusan beliau ﷺ dengan keputusan yang tidak sejalan dengan keputusan beliau ﷺ atau pernyataan yang tidak sesuai dengan sabda beliau. Akan tetapi, mestinya mereka mengikuti segala perintah beliau ﷺ, tunduk kepada beliau dan menjauhi larangan beliau. Allâh berfirman di permulaan surat al-Hujurât :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allâh dan Rasûlnya dan bertaqwalah kepada Allâh. Sesungguhnya Allâh Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [al-Hujurât/49:1].

Termasuk sikap تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ (lancang mendahului Beliau ﷺ) yaitu sikap lebih memperioritaskan pemakaian undang-undang dan peraturan produk manusia daripada syari'at yang dibawa Muhammad ﷺ atau lebih mengutamakan hukum lain daripada hukum (ketetapan hukum) beliau ﷺ atau menyamakan hukum produk manusia tersebut dengan ketetapan hukum Nabi ﷺ atau berkomitmen untuk tetap berpegang teguh dengan ketentuan yang jelas-jelas bertentangan dengan petunjuk beliau ﷺ. Allâh berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ/4:65].

Orang yang paling berkomitmen dengan sunnah beliau ﷺ dan paling besar kansnya untuk menenggak air dari telaga Rasulullah adalah ahlus Sunnah wal Jamâ'ah. Karena mereka menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ serta mengikuti syari'at dan petunjuk beliau ﷺ.
Sebagian orang ada yang menampakkan bahwa dirinya sedang melakukan pembelaan terhadap Nabi ﷺ, namun ironisnya, ia justru tidak menaati perintahnya atau tidak menjauhi larangan dan tidak menghiraukan peringatan beliau ﷺ. Bahkan, terkadang kita temukan, sebagian dari mereka bermalasan dalam menjalankan shalat fardhu, mencukur jenggot, isbâl (memanjangkan celana sampai menutupi mata kaki) dan berbuat berbagai macam maksiat dan kemungkaran.
Syaikhul Islâm Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, "Pengagungan kepada para utusan Allâh diwujudkan dengan cara membenarkan berita yang mereka kabarkan dari Allâh, menaati perintah mereka, mengikuti, mencintai dan berwala kepada mereka, bukan (sebaliknya,) malah mendustakan risalah yang mereka emban, menomorduakan mereka atau berbuat melampaui batas dalam mengagungkan mereka. Justru ini adalah bentuk kekufuran terhadap mereka, pelecehan dan permusuhan terhadap mereka."
Jadi, Ittiba' (mengikuti) rasul adalah barometer untuk mengukur sejauh mana kejujuran orang yang mengaku-aku mengagungkan Nabi ﷺ. Sebab, tidak masuk di akal atau tidak dapat dibayangkan, ada orang mengklaim mengagungkan Nabi ﷺ dan menghormati beliau ﷺ, tapi (pada saat yang sama, dia) tidak berpegang teguh dengan perintah atau larangan beliau ﷺ, tidak memberikan perhatian dan memperhitungkan apa yang dibawa beliau ﷺ.
Allâh telah menjadikan ittibâ (mengikuti) Rasûlullâh ﷺ sebagai pertanda kecintaan kepada-Nya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allâh, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali Imrân/3:31]

Bahkan lebih dari itu, Allâh Azza wa Jalla menjadikannya sebagai syarat keimanaan dimana pengagungan terhadap Nabi ﷺ merupakan bagian dari keimanan itu. Allâh berfirman :
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ/4:65].

Ittibâ juga merupakan sifat kaum Mukminin, sebagaiman tertuang dalam firman Allâh Azza wa Jalla :
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Sesungguhnya jawaban oran-orang Mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allâh dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, "Kami mendengar dan kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. [an-Nûr/24:51]

Juga dalam firman-Nya :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allâh dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. [al-Ahzâb/33:36].

Kesimpulannya, tidak ada orang yang mengagungkan beliau ﷺ kecuali hanya orang-orang yang berpegang teguh dengan petunjuk beliau ﷺ dan berjalan di atasnya serta mengikuti petunjuk beliau.[Huqûqun Nabi ﷺ 'ala Ummatihi, 2/475]

Baca Selengkapnya di  almanhaj.or.id 

Minggu, 22 Januari 2017

Lamar

Apa yang terpikirkan jika ada seorang lelaki berwajah pas-pasan, belum berpenghasilan lantas merindukan punya pendamping keturunan bangsawan?
Banyak yang mengatakan hal itu bagai pungguk merindukan bulan. Mustahil kesampaian. Jarang ngaca, dan lain-lain.
Seolah-olah lelaki jelek dapatnya yang jelek. Yang miskin dapat yang miskin. Yang sarjana dapat yang sarjana. Apa iya?
Untunglah syariat Islam tak kenal kasta. Untuk urusan jodoh hanya punya dua standar : baik-buruk. Baik dapat baik. Buruk dapat buruk.
Itu artinya, meski wajah Anda tidak sesuai standar SNI masih berpeluang dapat akhwat baik berparas foto model selama Anda adalah orang baik.
Termasuk pula jika Anda pas-pasan isi kantong, cuma bisa makan singkong berpeluang dapat gadis baik yang punya rumah gedong. Jika anda baik.
Intinya, peluang jodoh-jodohan dalam Islam tak mengenal batasan materi, standar wajah dan asal keturunan. Maka jangan dulu minder.
Jika anda termasuk golongan yang pas-pasan baik muka, wajah maupun keturunan, maka perbaikilah perilaku Anda.
Punya impian melamar wanita sholehah, kaya raya, cantik menawan dan hafal Qur'an? Semua bisa diwujudkan. Jangan dulu minder.
Tentu ini berlaku juga kebalikannya bagi muslimah yang ingin dapat ikhwan idaman meski diri pas-pasan. Masih besar peluang untuk dapatkan.
Yang perlu kita ingat adalah jiwa setiap manusia termasuk hatinya berada dalam genggaman Allah. Ia lah yang bolak-balikkan hati.
Dialah Allah Al-Muqollobal Qulub. Jika ada yang tak suka kepada kita, atas kehendak-Nya bisa tergila-gila dengan kita, jika Allah berkehendak.
Hati manusia tak ada yang bisa menolak rasa. Benci, cinta, marah dan rindu itu titipan Allah. Maka, Allah bisa datangkan tiba-tiba kepada siapapun.
Bisa jadi, ia tak kenal kita. Melihat wajah kita pun keburu nunduk sebab emang serem hehehe... Tapi jika, Allah titipkan cinta tak kuasa ia menolak.
Itu artinya, rayulah pemilik hati manusia. Allah saja. Jujur kepada-Nya. Curhat apa adanya. Jangan jaim. Sebab Allah tau isi hati kita.
Jika ada saingan, nggak usah khawatir. Kuat-kuatan doa. Bukan kuat-kuatan harta. Harta tak bisa ikat hati manusia jika Allah tak kehendak (QS. 8 : 63).
Belajarlah dari kisah sahabat Rasul yang bernama Julaibib. Lelaki yang tak punya harta, pas-pasan, namun kuat ibadahnya. Tiba-tiba dapat kejutan.
Rasulullah jodohkan ia dengan wanita idaman pemuda saat itu : cantik, sholehah, kaya dan keturunan bangsawan.
Wanita ini hatinya telah Allah tundukkan. Sehingga saat Julaibib datang melamar, tak ada alasan keberatan. Ia menerima lamaran dengan senyuman.
Nah, jika hubungan kepada Allah sudah baik. Maka mulailah dengan ikhtiar yang baik. Pahami jurus melamar wanita idaman.
Selain dekati Allah, cara berikutnya yang tak boleh kita abaikan adalah dekati bapaknya selaku wali nikah. Ini ikhtiar utama.
Mungkin ia tolak kita. Tapi ingatlah rumus nikah : "Tak ada pernikahan tanpa izin wali nya" (HR. Muslim). Maka, wali pemegang kunci.
Karena itu nggak usah PDKT ke wanita idaman kita. Selain juga dilarang agama, khawatir fitnah. Mending dekati bapaknya.
Jika bapak si wanita setuju, tentu tak ada alasan untuk wanita tolak kita. Justru ia makin terpesona akan keberanian kita.
Bagi sebagian wanita, jika bisa taklukkan bapaknya, maka lunaklah hati mereka. Awalnya menolak lama-lama jinak. Berani?
Bahkan pernikahan tetap syah, jika bapak bersedia ijab qobul meski wanita belum terima. So, fokus ke bapak, bapak, bapak.
Ibunya sasaran berikutnya. Jika taklukkan hati ibu, maka wanita idaman pun ikut takluk. Tak mau kan dikutuk jadi batu?
Jika dirasa kedua kunci itu sudah dipegang, maka tunjukkan lamaran dengan cara berkesan. Jangan biasa-biasa aja. Sebab wanita suka kejutan.
Misalnya lamar dengan kalimat 'maukah telapak kakimu menjadi surga untuk anak-anakku nanti?". Ini menunjukkan visi yang panjang.
Atau sebelum melamar, murojaah hafalan 1 juz quran + 100 hadits. Ini baru lamaran yang hebat. Unik dan berkesan. Akhwat mana yang nolak?
Rumus sukses melamar : Minta kepada Allah + taklukkan ortu khususnya bapak + melamar yang unik = diterima. Segera lakukan.
Nah, yang terakhir. Bagian penting dari semuanya adalah pandai-pandailah mendokumentasikan semua tahapan. Buatlah diary khusus sampai lamaran sukses.
Kalau sukses, diary ini akan jadi pengikat hubungan dalam rumah tangga. Betapa istri anda beruntung dapatkan pejuang sejati.
Kalaupun gagal, anggaplah membacanya jadi hiburan buat Anda. Sekaligus evaluasi jangan-jangan ada rumus yang nggak dipakai.
So, jangan lama-lama pantengin Timeline ini. Segera lamar. Buat wanita, siap-siap dilamar. Buat catatannya juga boleh. Selamat mencoba. (Aliansi Cinta Keluarga <AILA>)

Jumat, 20 Januari 2017

Tanda Orang yang Tidak Cinta pada Allah

Ibnul Qayyim رحمه الله dalam Al-Jawab Al-Kafi, halaman 170; dengan kalimat nukilan sebagai berikut.
محبة كلام الله فانه من علامة حب الله وإذا أردت أن تعلم ما عندك وعند غيرك من محبة الله فانظر محبة القرآن من قلبك وإلتذاذك سماعه أعظم من إلتذاذ أصحاب الملاهي والغناء المطرب بسماعهم فإنه من المعلوم أن من أحب حبيبا كان كلامه وحديثه احب شيئا اليه كما قيل

ان كنت تزعم حبي فلم هجرت كتابي … أما تأملت ما فيه من لذيذ خطابي

وقال عثمان ابن عفان رضي الله عنه لو طهرت قلوبنا لما شبعت من كلام الله وكيف يشبع المحب من كلام من هو غاية مطلوبه


Semoga kita menjadi orang yang mencintai Allah dengan membuktikannya lewat mencintai kalam-Nya yaitu Al-Qur’an. Mencintainya berarti rajin membacanya, merenungkannya, menghayatinya, mengimani dan mengamalkan isinya serta rajin menggali ibrah dari kisah-kisah di dalamnya.

Kajian Selengkapnya di rumaysho.com  

Selasa, 17 Januari 2017

Do'a agar Jadi Hamba yang Selalu Bersyukur

Dari Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhumaa bahwasanya Rasulullah ﷺ berdoa :

رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا، لَكَ مُخْبِتًا، إِلَيْكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ صَدْرِي
Wahai Robbku jadikanlah aku hamba yang selalu bersyukur kepada-Mu, selalu berdzikir kepada-Mu, selalu takut kepada-Mu, selalu ta'at kepada-Mu, selalu menghiba kepada-Mu, selalu kembali kepada-Mu, Ya Robbku, terimalah taubatku, cucilah dosa-dosaku, kabulkanlah doaku, kokohkanlah hujjahku, luruskanlah lisanku, tunjukilah hatiku, dan bersihkanlah dadaku dari penyakit-penyakit. (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dan ia berkata : Hadits Hasan Shahih).

Minggu, 08 Januari 2017

Pelajarilah al-Qur'an dan Sunnah

Ketahuilah -semoga Allah memberiku taufik untuk menta’ati-Nya- wahaiku teruslah belajar dan memohon pertolongan Allah ta'ala diajarkan akan macam-macam tauhid yang tiga, juga yang selainnya dari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang telah disepakati dan mereka menyelisihi ahli bid’ah dan firqoh dalam hal itu: Seperti wala’ dan bara’ (mencintai dan membenci), amar ma’ruf dan nahi anil munkar, bersikap terhadap shahabat, menghormati serta membela mereka, bersikap kepada pemimpin, kepada orang yang berbuat maksiat dan dosa besar, serta bersikap kepada Ahli bid’ah dan membicarakan serta bermuamalah dengan mereka dan lain sebagianya dari pokok-pokok ajaran yang telah disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka memasukkannya dalam kandungan kitab-kitab aqidah dalam rangka menampakkan kebenaran dan menyelisihi ahli ahwa’ dan firqoh walaupun semua itu secara asal adalah amal perbuatan bukan aqidah/keyakinan.

Bila anda sudah menguasai masalah-masalah dan pokok-pokok ini maka -dengan seidzin Allah- kamu akan terjaga dari kebanyakan syubhat yang melanda negara-negara Islam.
Ketika kebanyakan dari mereka yang bertaubat meremehkan hal ini, dan tidak memulai dalam taubatnya dengan mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah serta metode mereka, mereka menjadi bingung dan terombang-ambing hanya karena syubhat yang kecil, kita mohon kepada Allah keselamatan dan hidayah-Nya.
Sungguh kebimbangan itu terjadi karena tidak adanya keinginan bagi diriku untuk mempelajari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para salaf, serta pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seandainya dia mempelajarinya maka sungguh dia akan mengetahui bahwa syubhat ini batil menyelisihi sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap ahli bid’ah yang dahulu maupun sekarang, dan dia akan mengetahui bahwa perkataan orang yang mengaku salafi itu (tidak ada seorangpun yang maksum setelah Rasul Shallallahu alaihi wa sallam dan bahwa semua orang itu pernah salah) adalah benar tapi maksudnya adalah batil, demikian itu karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan shahabat, tabi’in apabila salah seorang dari mereka salah tidaklah kesalahan itu bersumber dari hawa nafsu, atau dari ketidak adanya mengikuti atsar (hadits), dan tidak juga bersumber dari menyelewengkan nash-nash, serta mengikuti hal-hal yang mutasyabih/samar-samar, seperti yang dilakukan oleh ahli bid’ah, akan tetapi karena ketidak-tahuannya terhadap dalil atau dia mengetahui tapi menurutnya dalil tersebut tidak shohih atau lain sebagainya, yang disitu terdapat udzur baginya.

Wahai diriku dengarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam : “Apabila seorang hakim berhukum dan dia berijtihad lalu benar maka dia mendapat dua pahala dan apabila salah maka dia mendapat satu pahala” [HR. Bukhari dan Muslim].

Perhatikan wahai diriku, hal ini berlainan dengan ahli bid’ah dan firqoh yang tidak pernah memperhatikan atsar dan mereka lebih mendahulukan akal dari pada nash Al-Qur’an ataupun sunnah bahkan mereka membuat ajaran sendiri yang menyelisihi ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mereka ini tidak bisa diberi udzur seperti yang dikatakan oleh pengaku salafi itu, tidaklah yang menggolongkan mereka kedalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah melainkan orang jahil atau ahli bid’ah yang angkuh.
Wahai diriku, ketika kamu mendengar syubhat dari yang mengaku salafi : “Sesungguhnya membantah / mengkritik itu bukanlah dari ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah ! hal ini bisa membuat hati keras !![Kerasnya hati itu sesungguhnya disebabkan karena menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ bukan sebaliknya. Bagaimana bisa hati orang yang mengingkari kemungkaran lebih-lebih bid’ah dan kesesatan itu (dikatakan) keras ? padahal Rasulullah ﷺ bersabda : “(Fitnah itu dipaparkan kepada hati seperti tikar sehelai demi sehelai, hati mana saja yang menyerapnya maka dtulis padanya titik-titik hitam, dan hati mana saja yang menolaknya maka akan ditulis titik-titik putih, sehingga terbagi menjadi dua : hati yang putih seperti batu putih yang mengkilap tidak membahayakannya fitnah selama ada langit dan bumi, kedua : hati yang hitam kelam seperti cangkir yang miring tidak mengenal yang baik dan tidak mengingkari yang mungkar kecuali yang telah diserap oleh hawa nafsunya) [Diriwayatkan oleh Muslim 367]] dahulu ada seorang yang suka mengkritik golongan-golongan yang ada lalu dia berbalik kebelakang dengan sebab itu !!!., maka anda dapati dia mundur kebelakang, dan mengingkari pokok yang agung yang tegak dengannya agama ini (yaitu membantah ahli bid’ah -pent) bahkan kamu mendapatinya setelah itu berdakwah / menyeru manusia untuk meninggalkan pokok ini dengan alasan hal itu bisa mengeraskan hati.

Perhatikanlah wahai diriku, pokok yang agung tegak dengannya agama yang lurus ini, dan merupakan pintu yang kokoh dalam menjaga manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari penyelewengan, serta merupakan ibadah yang mulia yang mendekatkan kepada Allah sekaligus menambah iman seorang muslim tapi dengan dipenuhi syarat-syaratnya diantaranya adalah ikhlas dan lain-lain, pokok yang satu ini sama dengan ibadah lainnya yang dapat menambah iman.

Lalu jika hatimu mengeras,  maka penyimpangan ini bukan berasal dari pokok ajaran/manhaj tapi dari yang mempraktekkan pokok tersebut tanpa adanya kaidah/ketentuan, ketika syubhat itu mendapatkan tempat didalam hatinya dia lalu mengingkari pokok yang satu ini, padahal seharusnya dialah yang berhak untuk diiingkari karena tidak mempraktekkan pokok ajaran (Ahlus Sunnah wal Jama’ah).

Perhatikanlah olehmu para Imam petunjuk dari kalangan shahabat, tabi’in dan para pengiktut mereka dengan baik kecuali dalam keadaan bertakwa, zuhud, dan takut kepada Allah, hati mereka sangat lembut padahal mereka sangat sering membantah orang atau kelompok yang menyelisih (Al-Qur’an dan Sunnah-pent).
Lihatlah Abdullah bin Mubarak, Imam Ahmad bin Hambal, Yahya Bin Ma’in, Ali Bin Madini, Abu Hatim Ar-Rozi dan Bukhari.. Sejarah hidup mereka dipenuhi dengan zuhud, wara’, takut kepada Allah, dan takwa.
Pemutar balikan fakta dan pencampuradukan hal ini sebabnya adalah ketidak adanya keikhlasan dan kejujuran dalam bertaubat kepada Allah, dan ketidak adanya keinginan untuk mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah pada awal mulanya.
Wahai diriku, senantiasa berhati-hati dari perangkap yang berbahaya ini, dan kamu harus mengetahui bahwa tidak ada keselamatan bagimu dari syubhat yang menjalar dan dari perangkap yang menjerumuskan ini kecuali apabila Allah memberimu taufik / petunjuk dan kamu mempelajari pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Maka telusurilah jalan ini dengan semangat membara dan kemauan keras, Peganglah kuat-kuat (Surat Al-Baqarah : 63), serta jujur dan ikhlas, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. [Al-Ankabut : 69]

Yakinlah akan firman Allah Ta’ala :

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا۟ مِن دِيٰرِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا۟ مَا يُوعَظُونَ بِهِۦ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا
 وَإِذًا لَّءَاتَيْنٰهُم مِّن لَّدُنَّآ أَجْرًا عَظِيمًا
  وَلَهَدَيْنٰهُمْ صِرٰطًا مُّسْتَقِيمًا
“Dan sesungguhnya jika mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka), dan kalau demikian, pasti kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi kami, dan pasti kami tunjuki kepada jalan yang lurus. [An-Nisa’ : 66-68]

Berhati-hatilah dari rasa lemah, loyo dan putus asa terhadap apa yang menimpamu dijalan Allah, janganlah kamu lalai dari firman-Nya :

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِىٍّ قٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا۟ لِمَآ أَصَابَهُمْ فِى سَبِيلِ اللَّـهِ وَمَا ضَعُفُوا۟ وَمَا اسْتَكَانُوا۟ ۗ وَاللَّـهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِينَ
“Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka dijalan Allah dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh, Allah menyukai orang-orang yang sabar”. [Ali-Imran : 146]

Menasehati diri, terispirasi dari al-Washayya as-Saniyyah lit-Ta`ibi as-Salafiyyah

Selasa, 20 Desember 2016

Hidayah Itu Diusahakan

Di dalam QS. Muhammad (47) : 17 di firmankan : "Wal ladziinah tadau zaadahum hudaw wa aataahum taq waahum" (Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambahkan petunjuk kepada mereka dan menganugerahi mereka ketakwaan).

Di dalam "Al Quran Terjemahan Indonesia" yang disusun oleh Tim Disbintalad (Dinas Pembinaan Mental TNI-AD) halaman 1017 menjelaskan maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang yang telah mendapat hidayah dengan iman, maka dengan keimanannya itu tajam penglihatan hati nuraninya, jernih akal dan pikirannya karena mendapat ilham dari Allah untuk menyelesaikan segala urusan dan mengatasi semua persoalan yang dihadapinya.
Sedangkan di dalam "Tafsir Al-Azhar Juzu' 26"-nya Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), halaman 100 - 101 menerangkan : "Dan orang-orang yang mencari pimpinan, niscaya akan ditambahkan Allah bagi mereka petunjuk". Sebab maksud kedatangannya (seperti yang dipaparkan di QS. 47 : 16 sebelumnya) adalah untuk mendengarkan pembicaraan, seumpama mendengar ceramah atau syarahan. Itu ialah dengan maksud yang baik, semata-mata hendak mencari kebenaran. Hatinya terbuka, dadanya yang lapang, mukanya jernih, hatinya bersih. Maka berhasillah maksudnya mencari pimpinan yang baik itu, bahkan ditambah oleh Allah dengan petunjuk yang membukakan hatinya karena ke-ikhlas-annya. "Dan Dia akan memberi kepada mereka ketaqwaan mereka". Sejak semula dimana saja ada kesempatan orang yang semacam ini memohonkan kepada Allah agar diberi hidayah, diberi petunjuk jalan yang lurus, shirathal mustaqim. Lantaran tulusnya meminta, bukan saja petunjuk jalan yang ditunjukkan, bahkan dijaga Allah perjalanannya itu dengan tumbuhnya rasa takwa dalam hatinya, rasa menyerah kepada Allah, sehingga maksudnya berhasil dan hidupnya beroleh kebahagiaan.
Ternyata pemahamanku selama ini salah, dulu aku menganggap hidayah dan ketakwaan adalah hadiah yang ditakdirkan. Setelah memahami penjelasan tersebut diatas ternyata hidayah itu harus dikejar. Di dalam "Minhajus-Shalihin"-nya Izzuddin Bulyqe, halaman 401 menerangkan tentang sebuah hadits; bahkan meninggalkan pada hal-hal yang dikhawatirkan itu diwajibkan. Sebuah hadits di halaman 402 menerangkan "Athiyah bin Urwah Assa'dy r.a. berkata : Rasulullah bersabda : Seorang hamba tidak akan mencapai golongan orang muttaqin, sehingga dapat meninggalkan apa-apa yang tidak berdosa karena khawatir masuk ke dalam apa-apa yang berdosa." (HR. at-Tirmidzi).
Menempuh jalan hidayah harus tetap diistiqomahkan (QS. 46 : 13); penuh kesungguhan (QS. 3 : 120) dan sekuat tenaga (QS. 64 : 16). Ampuni kami, rahmati kami (QS. 23 : 109).
-----------------
Kepustakaan :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI
, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984.
Minhajus-Shalihin, Izzuddin Bulyqe, Penerbit PT. Bina Ilmu Surabaya, cetakan pertama 1987.
Al-Quran Terjemahan Indonesia, Tim Disbintalad (Dinas Pembinaan Mental TNI-AD), Penerbit : PT. Sari Agung Jakarta, cetakan ketujuh 1994.

Sabtu, 17 Desember 2016

Selalu Di Jalan-Mu

Apakah nikmat yang lebih besar daripada hidayah? Sebanyak apa pun kekayaan dalam genggaman kita, jika Allah Ta'ala tak memberikan hidayah kepada kita, maka bertumpuknya harta hanya akan memberatkan nasib kita di Yaumil Qiyamah. Sebanyak apa pun nikmat yang kita reguk di dunia ini, hidup akan kehilangan arah dan kerugian besar menanti kita di akhirat kelak jika kita terlepas dari hidayah.
Maka setiap saat kita perlu dan harus memohon hidayah kepada Allah 'Azza wa Jalla seraya berusaha mempelajari agama agar tak salah langka. Bukankah do'a itu di satu sisi adalah permohonan dan di sisi lain adalah ikrar kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala?Ada dua macam hidayah. Pertama, hidayah kepada Islam. Awalnya tidak beriman kepada Allah Ta'ala dan tidak meyakini Rasulullah ﷺ sebagai utusan-Nya, kemudian berpindah dari agama sebelumnya kepada dien al-Islam ini sepenuh sadar. Bukan sekedar sebagai taktik untuk dapat melangsungkan pernikahan, sesudah itu murtad dan kembali kepada agamanya semula seraya mengajak istri atau suaminya untuk murtad. Na'udzubillahi min dzaalik.
Bersyukurlah orang-orang yang memperoleh hidayah kepada Islam. Inilah agama yang Allah Ta'ala ridhai dan hanya ini agama yang Allah Ta'ala jaminkan kebenarannya hingga kiamat kelak. Tak akan muncul perselisihan selama kita masih berpegang teguh pada kebenaran, kecuali karena kedengkian. Rasa dengki inilah yang menyebabkan kita sulit menerima kebenaran, meski nyata dasarnya jelas hujjahnya.
Mengenai pernyataan dari Allah Ta'ala bahwa hanya Islam agama yang diridhai di sisi-Nya, mari kita ingat kembali firman-Nya:
إن الدين عند الله الإسلام وما اختلف الذين أوتوا

الكتاب إلا من بعد ما جاءهم العلم بغيا بينهم ومن يكفر بآيات الله فإن الله سريع الحساب
"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS. Ali Imran, 3: 19).

Kedua, hidayah di dalam Islam. Memperoleh hidayah sehingga menjadi muslim itu merupakan suatu keberuntungan. Dan keberuntungan yang sangat besar adalah apabila kita berislam dengan benar, meyakini apa yang sungguh-sungguh datangnya dari Islam dan terhindar dari memegangi keyakinan yang bathil serta beramal dengannya. Maka, meskipun kita sudah berislam semenjak kecil, kita harus terus menerus memohon hidayah kepada Allah Ta'ala. Kita meminta agar ditunjuki jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Inilah yang setiap saat --sebenarnya-- kita minta saat shalat. Tetapi alangkah banyak yang lalai dengan do'anya. Bahkan menghayati pun nyaris tak pernah.Hari ini, ketika tiba-tiba saja sangat banyak orang menawarkan kepada kita berbagai hal yang saling bertentangan dan semuanya terkesan dari Islam, amat terasa betapa kita perlu memohon hidayah serta kemampuan untuk memilih yang benar di antara berbagai persoalan yang diperselihkan. Kita tak dapat berkata "yang penting niat kita baik", sebab nilai amal dan ibadah kita bergantung pada dua hal, yakni ikhlas dan shawab (bersesuaian dengan tuntunan Nabi ﷺ). Ini berarti, kita perlu senantiasa berusaha perbaiki ilmu kita tentang dien. Semoga Allah Ta'ala baguskan amal dan ibadah kita.
Mari sejenak merenungi do'a yang dituntunkan oleh Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَالسَّمَاوَاتِوَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 
"Ya Allah, Tuhannya Jibril, Mikail, dan Israfil, pencipta langit dan bumi, yang Maha mengetahui hal yang ghaib maupun yang nampak. Engkaulah yang memutuskan perkara yang diperselisihkan para hamba-Mu, maka tunjukilah aku kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu. Sesungguhnya engkau menunjuki kepada siapa pun yang engkau kehendaki ke jalan yang lurus." (HR. Muslim).

Maka, jika kita menjumpai perselisihan pendapat dalam suatu perkara, hendaklah kita menjauhkan diri dari ta'ashshub (fanatisme golongan), memilih pendapat yang benar-benar bersesuaian dengan as-sunnah ash-shahihah sesuai pemahaman salafush-shalih. Sekiranya kita awam dalam masalah agama, pilihlah pendapat yang paling jelas dasar nash (Al-Qur'an atau hadis yang shahih). Kita mencerna dengan sungguh-sungguh, lalu mengambil untuk kita pendapat yang paling bersesuaian dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah untuk diri kita sendiri. Kita berhati-hati dalam mengambil pendapat seraya memohon petunjuk kepada Allah Ta'ala agar tidak terjatuh pada pada kesesatan, sesudah Allah Ta'ala berikan kita hidayah kepada Islam.

Mari sejenak renungi do'a yang termaktub dalam Al-Qur'an berikut ini:
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
 "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran, 3: 8).

Pada saat yang sama, kita berusaha dengan sungguh-sungguh mendidik diri sendiri agar tidak menjadikan dunia sebagai passion kita; sebagai tujuan besar kita, sebagai ketertarikan utama yang menjadikan kita senantiasa menujukan amal dan ibadah untuk meraih dunia yang lebih besar. Biarlah dunia datang merangkak kepada kita. Jika Allah Ta'ala kayakan kita, itu merupakan akibat. Bukan tujuan. Setidaknya sekedar sebagai wasilah, sehingga kerinduan terbesar kita adalah amal shalih.
Sejenak mari kita renungi hadis Nabi ﷺ:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَـمَّهُ ؛ فَـرَّقَ اللّٰـهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَـيْهِ ، وَلَـمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَـهُ ، وَمَنْ كَـانَتِ الْآخِرَةُ نِـيَّـتَـهُ ، جَـمَعَ اللّٰـهُ لَهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَـا وَهِيَ رَاغِمَةٌ
"Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai himmah-nya (passion, hasrat terbesarnya), maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina." (Hadis Shahih Riwayat Ahmad, Ibnu Majah & Ibnu Hibban).

Seseorang yang menjadikan dunia sebagai passion, boleh jadi Allah Ta'ala berikan kekayaan yang berlimpah, tetapi justru dialah orang yang paling takut berkurang hartanya dan jatuh miskin. Harta terus bertambah, tetapi kebahagiaan semakin berkurang, meski ia banyak bersenang-senang dengan beragam hiburan dan kemewahan. Sangat berbeda antara bersenang-senang dengan bahagia. Bukankah banyak orang yang pekerjaannya menghibur, hidup dalam gemerlap, tapi hatinya justru gelap dan jauh dari bahagia.
Banyak hal yang perlu kita renungkan untuk hidup kita. Saya hanya mampu menghadirkan renungan singkat. Semoga Allah Ta'ala senantiasa limpahkan hidayah kepada kita sehingga selalu hidup di jalan-Nya. Semoga akhir hidup kita adalah saat yang terbaik. Masa ketika kita benar-benar berserah diri hanya kepada Allah Ta'ala. Allah Ta'ala ridha kepada kita dan kita pun ridha kepada-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab. Ingatkan saya. Do'akan saya.
Mohammad Fauzil Adhim 

Kamis, 15 Desember 2016

Durhaka Kepada Orang Tua Adalah Dosa Besar

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua)1, sekarang kita membahas kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua. Sebagaimana tingginya keutamaan dan urgensi birrul walidain, maka konsekuensinya betapa besar dan bahayanya hal yang menjadi kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua.
Bahkan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Ini secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ :
أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ
“dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Dalam hadits Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi, Nabi ﷺ bersabda :
ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ
“maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari – Muslim).

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkali-kali memperingatkan para sahabat mengenai besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Subhaanallah!.
Dan perhatikan, sebagaimana perintah untuk birrul walidain disebutkan setelah perintah untuk bertauhid, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36). Maka di hadits ini dosa durhaka kepada orang tua juga disebutkan setelah dosa syirik. Ini menunjukkan betapa besar dan fatalnya dosa durhaka kepada orang tua.
Namun perlu di ketahui, sebagaimana dosa syirik itu bertingkat-tingkat, dosa maksiat juga bertingkat-tingkat, maka dosa durhaka kepada orang tua juga bertingkat-tingkat.

Durhaka kepada ibu, lebih besar lagi dosanya
Sebagaimana kita ketahui dari dalil-dalil bahwa berbuat baik kepada ibu lebih diutamakan daripada kepada ayah, maka demikian juga durhaka kepada ibu lebih besar dosanya. Selain itu, ibu adalah seorang wanita, yang ia secara tabi’at adalah manusia yang lemah. Sedangkan memberikan gangguan kepada orang yang lemah itu hukuman dan dosanya lebih besar dari orang biasa atau orang yang kuat.
Oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda :
إنَّ اللَّهَ حرَّمَ عليكم عقوقَ الأمَّهاتِ ، ومنعًا وَهاتِ ، ووأدَ البناتِ وَكرِه لَكم : قيلَ وقالَ ، وَكثرةَ السُّؤالِ ، وإضاعةَ المالِ
“sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka kepada para ibu, pelit dan tamak, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah juga tidak menyukai qiila wa qaala, banyak bertanya dan membuang-membuang harta” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahu ‘alam bis shawab.

Referensi: Fiqhul Ta’amul ma’al Walidain, Syaikh Musthofa Al ‘Adawi
Penyusun: Yulian Purnama
Copas dari artikel Muslim.or.id  

Kamis, 08 Desember 2016

Orangtua Yang Bertanggung-jawab

Rasulullah Shallaahu 'alaihi wasallam bersabda :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan firah. Maka bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, atau nasrani, atau majusi (HR. Bukhori).

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dengan akhlak dan perilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung dari orang tuanya, pembinaan dari orang tua adalah faktor terpenting dalam memperbaiki dan membentuk generasi yang baik. (Salman Al-Jugjawy).