"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yahudi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Cara Menghadapi Yahudi

Rasulullah dalam perjalanan dakwahnya memberikan kisi-kisi bagaimana cara menghadapi Yahudi, dan oleh amirulmukminin Umar bin Khattab kisi-kisi itu pun dilanjutkan demi sebuah persatuan akidah di Semenanjung.

Yahudi Bani Qainuqa’
Setelah mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam segera mengadakan persetujuan dengan pihak Yahudi yang ada di Yathrib (Madinah) atas landasan kebebasan dan persekutuan yang kuat, salah satunya dengan Yahudi Bani Qainuqa’.  Yahudi Bani Qainuqa’ adalah komunitas Yahudi pertama yang mengangkangi Piagam Madinah dan menyatakan perang terhadap kaum Muslimin setelah perang Badr disebabkan karena kedengkian kaum Yahudi secara sengit dan terbuka.
Bani Qainuqa’ menebar tipu daya ke tengah-tengah kaum Muslim dan mencari gara-gara. Seorang wanita arab datang membawa barang lalu menjual dipasar kaum Yahudi Banu Qainuqa’. Ia duduk ditempat di tempat tukang emas. Sekelompok yahudi mendatangi hendak membuka cadarnya. Tentu saja muslimah itu berontak. Si tukang emas diam-diam mengaitkan ujung baju wanita itu ke punggungnya sehingga ketika berdiri auratnya terbuka. Meledaklah tawa sekumpulan Yahudi Banu Qainuqa’. Sementara muslimah itu menjerit malu, seorang muslim yang melihat serentak menyerang dan membunuh si tukang emas. Orang-orang Yahudi tak terima lalu mengeroyok si muslim hingga meninggal. Keluarga muslim tersebut meminta bantuan Nabi, dan Nabi mengerahkan pasukan. Selama 15 hari Yahudi Banu Qainuqa’ DIKEPUNG sampai MENYERAH tanpa syarat (Syawal 2 H). Muncullah Abdullah ibn Ubayy ibn Salul memohon keringanan kaumnya, tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tak menggubrisnya. Lalu ia memaki dan secara kurang ajar memasukkan tangannya ke saku baju besi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam murka dan berusaha melepaskan diri. Tetapi Abdullah ibn Ubay ibn Salul terus meminta keringanan hukuman kaumnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengumpulkan Yahudi itu dan memberi keringanan, dan beliau memerintahkan Ubadah ibn al-Shamit (seorang Anshar dari suku Khazraj, salah satu dari 12 orang yang berbaiat saat “Bai’atul ‘Aqabah al-Ula”, sejak sebelum ke-Islam-annya keluarga Ubadah telah terikat perjanjian dengan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’) untuk mengungsikan (bahasa kasarnya mengusir) mereka dari Madinah. Dengan diusirnya Bani Qainuqa’ kaum Yahudi yang tersisa di pinggiran Madinah menjadi lemah. Sebagian besar mereka tinggal jauh dari pusat kota, di Khaibar atau di Umm al-Qura.

Yahudi Bani Nadhir
Bani Nadhir merupakan satu di antara tiga kabilah besar Yahudi yang mendiami benteng di luar Madinah. Nabi mendatangi benteng itu — yang tidak jauh dari Quba’— dengan 10 orang Muslimin terkemuka (Abu Bakr, Umar bin Khattab, Ali bin Abi Talib dan beberapa sahabat lain) untuk  meminta bantuan kepada Bani Nadhir terkait diat dua pria yang terbunuh secara tak sengaja oleh ‘Amr bin Umayya itu dan tidak diketahuinya pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan perlindungan kepada mereka.
Setelah dijelaskan maksud kedatangannya, mereka memperlihatkan sikap gembira dan dengan senang hati bersedia mengabulkan. Akan tetapi, sementara sebagian mereka sedang asyik bercakap-cakap dengan dia, dilihatnya yang lain sedang berkomplot. Salah seorang dari mereka pergi menyisih ke suatu tempat dan tampaknya mereka sedang mengingatkan kematian Ka’b bin Asyraf. Salah seorang dari mereka itu [‘Amr bin Jihasy bin Ka’b] tampak memasuki rumah tempat Muhammad sedang duduk-duduk bersandar di dinding. Ketika itulah ia merasa curiga sekali, lebih-lebih lagi karena persekongkolan mereka dan percakapan mereka itu telah didengarnya. Perihal peristiwa ini Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman ingatlah ni’mat Allah atas kamu tatkala satu kaum hendak mengulurkan kepada kamu tangan mereka (buat mengganggu), lalu Allah halangi tangan mereka daripada (sampai) kepada kamu; dan berbaktilah kepada Allah, dan kepada Allah-lah hendaknya Mu’minin berserah diri.” (TQS 5 : 11).
Kemudian Nabi memanggil Muhammad ibn Maslamah, dan katanya : “Pergilah kepada Yahudi Banu Nadzir dan katakan kepada mereka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus aku kepada kamu sekalian supaya kamu keluar dari negeri ini. Kamu telah melanggar perjanjian yang sudah kubuat dengan kamu dengan maksudmu hendak mengkhianati aku. Aku memberikan waktu sepuluh hari kepada kamu. Barangsiapa yang masih terlihat sesudah itu akan dipenggal lehernya.”
Yahudi Banu Nadzir sekarang merasa putus asa dan kebingungan Atas keterangan itu mereka tidak dapat membela diri lagi, mereka tidak menjawab apa-apa lagi: kecuali katanya kepada Ibn Maslamah : “Muhammad, kami tidak menduga hal ini akan datang dari orang golongan Aus.” Ini adalah suatu isyarat tentang persekutuan mereka dengan pihak Aus dahulu dalam perang dengan Khazraj. Tetapi Ibn Maslamah hanya menjawab : “Hati orang sudah berubah.”
Selama beberapa hari golongan ini sudah bersiap-siap. Tetapi dalam pada itu tiba-tiba datang pula dua orang suruhan Abdullah bin Ubayy dengan mengatakan : “Jangan ada orang yang mau meninggalkan rumah-rumah kamu dan harta-benda kamu. Tetaplah bertahan dalam benteng kamu sekalian. Dan golonganku sendiri ada dua ribu orang dan selebihnya dan golongan Arab yang akan bergabung dengan kita dalam benteng dan mereka akan bertahan sampai titik darah penghabisan, sebelum ada pihak lain menyentuh kamu.”
Banu Nadzir mengadakan perundingan atas keterangan Ibn Ubayy itu. Mereka tambah bingung. Ada yang sama sekali tidak percaya kepada Ibn Ubayy. Bukankah dulu pernah ia menjanjikan Banu Qainuqa’ seperti yang dijanjikannya kepada Banu Nadzir sekarang, tetapi tiba waktunya ia cuci tangan dan menghilang meninggalkan mereka? Juga mereka mengetahui, bahwa Banu Quraidzah takkan dapat membela mereka mengingat adanya suatu perjanjian dengan pihak Muhammad. Di samping itu, kalau mereka keluar dari kampung mereka itu ke Khaibar atau ke tempat lain yang berdekatan mereka masih akan dapat kembali ke Yathrib bila kurma mereka nanti sudah berbuah; mereka akan memetik buah kurma itu lalu kembali ke tempat mereka semula. Mereka tidak akan mengalami banyak kerugian.
“Tidak”, kata Huyayy bin Akhtab pemimpin mereka. “Malah kita yang harus mengirim pesan kepada Muhammad : bahwa kita tidak akan meninggalkan kampung kita dan harta-benda kita. Terserah apa yang akan diperbuat. Kita hanya tinggal memperbaiki kubu kita; kita akan memasuki tempat ini sesuka hati kita. Kita akan membiasakan memakai jalan-jalan kita, kita pindahkan batu-batu ke tempat itu. Persediaan makanan kita cukup buat setahun, air pun tidak pernah terputus. Muhammad tidak akan mengepung kita setahun penuh.”
Tetapi sepuluh hari sudah lampau. Mereka tidak juga keluar dari perkampungan itu. Dengan membawa senjata pihak Muslimin selama dua belas malam bertempur melawan mereka dan Ali bin Abi Talib menjadi pembawa bendera. Ketika itu bila sudah tampak Muslimin di jalan-jalan atau di rumah-rumah, mereka mundur ke rumah berikutnya sesudah rumah-rumah itu mereka robohkan. Kemudian Muhammad memerintahkan sahabat-sahabatnya menebangi pohon-pohon kurma kepunyaan orang-orang Yahudi itu, lalu membakarnya. Dengan demikian orang-orang Yahudi itu tidak akan terlalu terikat pada harta-bendanya lagi dan tidak akan terlalu bersemangat mau berperang.
Banu Nadzir pun DIKEPUNG, Rabi'ul Awwal 4 H. Dengan tidak sabar orang-orang Yahudi itu berteriak : “Muhammad! Tuan melarang orang berbuat kerusakan. Tuan cela orang yang berbuat begitu. Tetapi kenapa pohon-pohon kurma ditebangi dan dibakar?!”
Dalam hal ini firman Tuhan turun : “Mana pun pohon kurma yang kamu tebang atau kamu biarkan berdiri dengan batangnya, adalah dengan izin Allah juga, dan karena Ia hendak mencemoohkan mereka yang melanggar hukum itu.” (TQS 59 : 5) (Menebang atau merusak pohon atau hasil tanaman lainnya dalam perang sekalipun, dilarang dalam hukum Islam. Tetapi dalam suatu strategi perang untuk mengadakan tekanan terhadap musuh, dalam batas-batas tertentu dibolehkan)
Sia-sia saja rupanya pihak Yahudi Bani Nadhir itu menunggu adanya bantuan dari Abdullah bin Ubayy atau pertolongan yang mungkin datang dari salah satu golongan Arab. Sekarang mereka yakin, bahwa mereka hanya akan beroleh nasib buruk saja apabila terus bersitegang hendak berperang. Setelah ternyata mereka dalam putus asa dan ketakutan, mereka pun MENYERAH meminta damai kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, meminta jaminan keamanan atas harta-benda, darah serta anak-anak keturunan mereka; sampai mereka keluar dari Medinah. Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengabulkan permintaan mereka; asal mereka, keluar dari kota itu: Setiap tiga orang diberi seekor unta dengan muatan, harta-benda; persediaan makanan dan minuman sesuka hati mereka. Di luar itu tidak ada. Pihak Yahudi menerima. Mereka dipimpin oleh Huyayy bin Akhtab.
Dalam perjalanan itu mereka ada yang berhenti di Khaibar, yang lain meneruskan perjalanan sampai ke Adhri’at di bilangan Syam. Harta benda yang mereka tinggalkan menjadi barang rampasan Muslimin yang terdiri dari hasil bumi, senjata berupa 50 buah baju besi, 340 bilah pedang di samping tanah milik orang-orang Yahudi itu. Tetapi tanah ini tidak dapat dianggap sebagai rampasan perang; oleh karenanya tak dapat dibagi-bagikan kepada kaum Muslimin, melainkan khusus di tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang nantinya akan ditentukan sendiri menurut kebijaksananya. Dan tanah itu kemudian dibagi-bagikan kepada golongan Muhajirin yang pertama di luar golongan Anshar, setelah dikeluarkan bagian khusus yang hasilnya akan menjadi hak fakir miskin. Dengan demikian kaum Muhajirin itu tidak perlu lagi harus menerima bantuan kaum Anshar dan ini pun sudah menjadi harta kekayaan mereka. Dari pihak Anshar yang turut mendapat bagian hanya Abu Dujana dan Sahl bin Hunaif, yang sudah terdaftar sebagai orang miskin.
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bagian kepada mereka ini seperti kepada kaum Muhajirin.
Dan golongan Yahudi Banu Nadzir sendiri tak ada yang masuk Islam kecuali dua orang (Yamin ibn Umair dan Abu Sa’d ibn Wahb). Mereka masuk Islam karena harta mereka, yang kemudian mereka peroleh kembali.
Tidak begitu sulit orang akan menilai arti kemenangan Muslimin serta pengosongan Banu Nadzir dari Medinah itu, setelah kita kemukakan betapa Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam memperhitungkan, bahwa adanya mereka di tempat itu akan memberikan semangat dalam menimbulkan bibit-bibit fitnah, akan mengajak orang-orang munafik itu mengangkat kepala setiap mereka melihat pihak Muslimin mendapat bencana dan mengancam timbulnya perang saudara bila saja ada musuh menyerang kaum Muslimin.
Tentang perginya Banu Nadzir itu Surah Hasyr (59) ini turun : “Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang bersikap munafik, yang berkata kepada saudara-saudaranya yang tak beriman dan kalangan Ahli Kitab : Kalau kamu diusir ke luar, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu, dan tidak sekali-kali kami akan dipengaruhi oleh siapa pun menghadapi persoalanmu ini: dan kalau kamu dipengaruhi niscaya kami pun akan membelamu. Tetapi Tuhan mengetahui, bahwa mereka adalah pendusta belaka. Kalaupun mereka ini diusir ke luar, mereka pun tidak akan ikut bersama-sama keluar, juga kalau mereka ini diperangi, mereka pun tidak akan turut membantu, dan kalaupun mereka sampai membantu, niscaya mereka akan lari mengundurkan diri, lalu mereka ini tidak mendapat pertolongan. Sungguh dalam hati mereka kamu sangat ditakuti lebih dari Allah. Demikian itulah, sebab mereka adalah golongan yang  tidak mengerti.” (TQS 59 : 11 – 13)

Kemudian Surah itu dilanjutkan dengan memberi keterangan tentang iman dan kekuasaannya. Iman hanya kepada Allah semata-mata. Bagi jiwa manusia, yang tahu harga diri dan kehormatan. dirinya, yang dikenalnya hanyalah kekuasaan Tuhan.
“Dialah Allah. Tiada tuhan selain Dia. Maha mengetahui segala yang gaib dan yang nyata. Dia Pengasih dan Penyayang. Dialah Allah. Tiada Tuhan selain Dia. Maha Raja, Maha Kudus, Pembawa Keselamatan, Keamanan, Penjaga segalanya, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha Agung. Maha Suci Allah dan segala yang mereka persekutuan. Dialah Allah. Pencipta, Pengatur, Pembentuk rupa, Pada-Nyalah ada Asma Yang Indah. Segala yang ada di langit dan di bumi berbakti kepada-Nya. Dan Dia Mahakuasa, Mahabijaksana.
(TQS 59 : 22 - 24)

Yahudi Bani Quraizhah
Baru saja Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meletakkan senjata dan mandi, tiba-tiba Jibril datang menyuruh beliau bergerak ke Bani Quraizhah. Maka dikumandangkanlah seruan kepada penduduk Madinah. Setelah tiga ratus prajurit bersiap, bendera diserahkan kepada Ali bin Abi Talib dan Nabi berjalan dibelakangnya. Merka mengepung Bani Quraizhah selama 25 hari, Dzul Qo'dah 5 H.
Yahudi Bani Quraizhah telah melanggar nota perjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyatakan perang. Mereka lebih mendengar hasutan pimpinan pasukan gabungan dalam perang Khandaq, Abu Sufyan dan Huyayy bin Akhtab pemimpin Bani Nadhir. Atas perbuatannya itu Banu Quraizhah harus dibasmi. Dalam hal ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan supaya diserukan kepada segenap orang : “Barangsiapa yang tetap patuh kepada Rasulullah, jangan shalat Ashar kecuali di perkampungan Banu Quraizhah.”
Bani Quraizhah tinggal dalam benteng-benteng yang begitu kukuh seperti perbentengan Bani Nadzir, tetapi kendatipun benteng-benteng itu dapat melindungi mereka, namun mereka tidak tahan menghadapi kepungan pihak Muslimin. Persediaan bahan makanan kini berada di tangan penduduk Medinah, setelah pasukan gabungan Quraisy, kabilah Arab dan gabungan Yahudi yang dikomandoi Huyayy bin Akhtab meninggalkan tempat tersebut.
Selama pengepungan dua puluh lima malam telah terjadi beberapa kali bentrokan dengan saling melempar anak panah dan batu. Selama dalam kepungan itu Banu Quraizhah sama sekali tidak berani keluar dari kubu-kubu mereka. Setelah terasa lelah dan yakin pula bahwa mereka tidak akan dapat tertolong dari bencana dan mereka pasti akan jatuh ke tangan kaum Muslimin apabila masa pengepungan berjalan lama. Berada dalam kepungan, Bani Quraizhah mulai dirasuki ketakutan luar biasa, maka mereka mengutus orang kepada Rasul dengan permintaaan “supaya mengirimkan Abu Lubabah kepada kami untuk kami mintai pendapatnya sehubungan dengan masalah kami ini.” Sebenarnya Abu Lubabah ini golongan Aus yang termasuk sahabat baik mereka.
Begitu mereka melihat kedatangan Abu Lubabah, mereka memberikan sambutan yang luar biasa. Kaum wanita dan anak-anak segera meraung pula, menyambutnya dengan ratap tangis. Ia merasa iba sekali melihat mereka. Perundingan tak membuahkan hasil apa-apa, Abu Lubabah pun kembali.
Setelah berunding antara sesama mereka. Bani Quraizhah mengirimkan utusan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dengan meminta diijinkan mereka pergi ke Adhri’at dengan meninggalkan harta-benda mereka. Tetapi ternyata usul ini ditolak. Mereka harus tunduk kepada keputusan. Dalam hal ini mereka lalu mengirim orang kepada Aus dengan pesan : “Tuan-tuan hendaknya dapat membantu saudara-saudaramu ini; seperti yang pernah dilakukan oleh Khazraj  terhadap saudara-saudaranya.”
Sebuah rombongan dari kalangan Aus segera berangkat menemui Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
“Ya Rasulullah”, kata mereka memulai, “dapatkah permintaan kawan-kawan sepersekutuan  kami itu dikabulkan seperti permintaan kawan-kawan sepersekutuan Khazraj dulu yang juga sudah dikabulkan.”
“Saudara-saudara dari Aus”, kata Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “dapatkah kamu menerima kalau kuminta salah seorang dari kamu menengahi dengan teman-teman sepersekutuanmu itu?”
“Tentu sekali”, jawab mereka.
“Kalau begitu”, katanya lagi, “katakan kepada mereka memilih siapa saja yang mereka kehendaki.”
Dalam hal ini pihak Yahudi lalu memilih Sa’d bin Mu’adz (seorang Anshar dari suku Aus, 31 tahun ia masuk Islam dan dalam usia 37 tahun ia menemui syahidnya setelah beberapa hari dirawat setelah perang Khandaq dan keputusannya terhadap nasib Yahudi Khaibar). Saat itu Sa’d bin Mu’adz sedang dirawat di tenda darurat depan masjid Nabi akibat terluka parah setelah terkena anak panah di Khandaq. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh supaya ia dijemput dan dibawa oleh kaumnya menghadap ke Bani Quraizhah.
Mata Bani Quraizhah seolah-olah sudah tertutup dari nasib yang sudah ditentukan mereka itu, sehingga mereka samasekali lupa akan kedatangan Sa’d tatkala pertama kali mereka melanggar nota penjanjian dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat perang Khandaq berkecamuk, lalu kala itu mereka diberi peringatan, juga tatkala mereka memaki-maki Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di depannya serta mencerca kaum Muslimin tidak pada tempatnya.
Sa’d lalu membuat persetujuan dengan kedua belah pihak itu. Masing-masing hendaknya dapat menerima keputusan yang akan diambilnya. Setelah persetujuan demikian diberikan, kepada Banu Quraizhah diperintahkan supaya turun dan meletakkan senjata. Keputusan ini mereka laksanakan. Seterusnya Sa’d memutuskan, supaya mereka yang terjun melakukan kejahatan perang dijatuhi hukuman mati, harta-benda dibagi, wanita dan anak-anak supaya ditawan.
Mendengar keputusan itu Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Demi yang menguasai diriku. Keputusanmu itu diterima oleh Tuhan dan oleh orang-orang beriman, dan dengan itu aku diperintahkan.”
Tak ada wanita yang dibunuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali seorang sebagai kisas karena telah melempar kepala Khallad ibn Suwaid dengan batu penggilingan hingga meninggal.
Orang-orang Yahudi Bani Quraizhah tidak menduga akan menerima putusan hukuman demikian dari Sa’d bin Mu’adz teman sepersekutuannya itu. Bahkan tadinya mereka mengira ia akan bertindak seperti Abdullah bin Ubayy terhadap Banu Qainuqa’. Mungkin teringat oleh Sa’d, bahwa kalau pihak  pasukan gabungan Quraisy, kabilah Arab dan gabungan Yahudi yang menang karena pengkhianatan Banu Ouraizhah itu, kaum Muslimin pasti akan dikikis habis, akan dibunuh dan dianiaya. Maka balasannya seperti yang sedang mengancam kaum Muslimin sendiri.
Ada beberapa orang dari Bani Quraizhah yang masuk Islam sehingga selamatlah jiwa, keluarga dan harta mereka. Selamat pula anggota Bani Quraizhah yang waktu itu tak ada di tempat karena suatu alasan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berketetapan hanya memberi hukuman kepada mereka yang bertindak melanggar perjanjian dengan kaum Muslimin. Harta ganimah dibagi sesuai ketentuan, para tawanan dikirim ke Najd, Tihamah dan Syiria.

Yahudi Bani Khaibar
Sekembalinya dari Hudaibiya — menurut sebuah sumber ia hanya tinggal lima belas malam, sumber lain menyatakan satu bulan. Disuruhnya supaya orang bersiap-siap untuk menyerbu Khaibar, dengan syarat hanya mereka yang ikut ke Hudaibiya saja yang boleh menyerbu, juga harus sukarela tanpa ada rampasan perang yang akan dibagikan.
Sebanyak seribu enam ratus orang dengan seratus kavaleri Muslimin itu sekarang berangkat lagi. Mereka semua percaya akan adanya pertolongan Tuhan, mereka masih ingat akan firman Tuhan dalam Surah al-Fath yang turun semasa Hudaibiya.
“Orang-orang yang tinggal di belakang itu akan berkata ketika kamu berangkat mengambil harta rampasan perang : Biarlah kami turut bersama-sama kamu. Mereka hendak mengubah perintah Tuhan. Katakanlah : Kamu tidak akan turut bersama-sama kami. Begitulah Allah telah menyatakan sejak dulu. Nanti mereka akan berkata lagi : Tetapi kamu dengki kepada kami. Tidak. Mereka yang mengerti hanya sedikit saja.” (TQS. 48 : 15)
Jarak antara Khaibar dengan Medinah itu mereka tempuh dalam waktu tiga hari. Dengan tiada mereka rasakan ternyata malamnya mereka telah berada di depan perbentengan Khaibar. Keesokan harinya bila pekerja-pekerja Khaihar berangkat kerja ke ladang-ladang dengan membawa sekop dan keranjang, setelah melihat pasukan Muslimin, mereka berlarian sambil berteriak-teriak :
“Muhammad dengan pasukannya!”
Ketika mendengar suara mereka itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam berkata :
“Khaibar binasa. Apabila kami sampai di halaman golongan ini, maka pagi itu amat buruk buat mereka yang telah diberi peringatan itu.”
Akan tetapi Yahudi Khaibar memang sudah menanti-nantikan Muhammad akan menyerang mereka. Mereka ingin mencari jalan membebaskan diri. Sebagian mereka ini ada yang menyarankan supaya cepat-cepat dibentuk sebuah blok, yang terdiri dari mereka dan Yahudi Wadi’l-Qura dan Taima’ yang akan langsung menyerbu Yathrib (Medinah) tanpa menggantungkan diri kepada kabilah-kabilah Arab yang lain. Sedang yang sebagian lagi berpendapat supaya masuk saja bersekutu dengan Rasul, kalau-kalau kebencian terhadap mereka dapat terhapus dari hati kaum Muslimin — terutama dari pihak Anshar — setelah dalam kenyataan Huyayy bin Akhtab dan segolongan Yahudi lainnya terlibat dalam usaha menghasut kabiiah-kabilah Arab untuk menyerang Medinah dan secara kekerasan mengadakan perang Parit/ Khandaq/ Ahzab. Akan tetapi semangat kedua belah pihak sudah memuncak, sehingga sebelum terjadi perang pihak Muslimin sudah lebih dulu berhasil menewaskan pemimpin-pemimpin Khaibar masing-masing Sallam bin Abi’l-Huqaiq dan Yasir ibn Razzam.
Kelompok-kelompok Yahudi di Khaibar ini merupakan koloni Israil yang terkuat yang paling kaya dan paling besar pula persenjataannya. Di samping itu pihak Muslimin pun sudah yakin sekali, bahwa selamanya Yahudi tetap menjadi duri dalam daging seluruh jazirah, maka selama itu pula persaingan antara agama Musa dengan agama baru ini akan jadi panjang tanpa dapat mencapai suatu penyelesaian. Dengan demikian mereka terjun menyabung nyawa tanpa ragu-ragu lagi.
Nabi berangkat ditemani dua penunjuk jalan. “Bawa kami ke tempat antara Khaibar dan Syria.” Siasat ini dimaksudkan Nabi untuk mencegah Yahudi lari ke utara lalu bersekongkol atau meminta bantuan kepada sekutu-sekutu mereka dari Ghathafan. Nabi membawa pasukan hingga ke lembah al-Raji’ dekat Khaibar.
Abdullah bin Ubayy bin Salul, pemimpin kaum munafiq, segera mengirim pesan kepada Yahudi Khaibar.
Dengan persiapan senjata yang cukup kaum Muslimin sekarang sudah berada di depan perbentengan Khaibar. Yahudi juga sedang berunding dengan sesama mereka. Pemimpin mereka Sallam bin Misykam menyarankan, supaya harta-benda dan sanak keluarga mereka dimasukkan ke dalam benteng Watih dan Sulaim, bahan makanan dan perlengkapan dimasukkan ke dalam benteng Na’im. Perajurit dan barisan penggempur dimasukkan ke dalam benteng Natat dan Sallam bin Misykam sendiri bersama-sama mereka, mengerahkan mereka dalam peperangan.
Sekarang kedua belah pihak sudah berhadap-hadapan di sekitar benteng Natat dan pertempuran mati-matian sudah pula dimulai. Dalam hal ini sampai ada yang berkata : “Yang luka-luka dari pihak Muslimin sebanyak lima puluh orang. Apalagi jumlah yang luka-luka dari pihak Yahudi.”
Setelah Sallam bin Misykam tewas, maka pimpinan pasukan dipegang oleh Harith bin Abi Zainab. Ia keluar dari benteng Na’im itu dengan maksud hendak menggempung pasukan Muslimin. Tetapi oleh Khazraj ia dapat dihalau dan dipaksa kembali mundur ke bentengnya. Pihak Muslimin lalu memperketat kepungannya atas benteng-benteng Khaibar itu sedang pihak Yahudi mati-matian mempertahankan dengan keyakinan, bahwa kekalahan mereka menghadapi Muhammad berarti suatu penumpasan terakhir terhadap Banu Israil di negeri-negeri Arab.
Hal ini berlangsung selama beberapa hari. Kemudian Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkan bendera kepada Abu Bakr supaya memasuki benteng Na’im. Tetapi setelah terjadi pertempuran sehari penuh ia kembali tanpa berhasil menaklukkan benteng itu. Keesokan harinya pagi-pagi Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan Umar bin’l- Khattab. Dan pertempuran terjadi lebih sengit, tetapi dia pun mengalami nasib yang sama seperti Abu Bakr. Keesokan harinya Ali bin Abi Talib pun dipanggil Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam seraya katanya :
“Pegang bendera ini dan bawa terus sampai Tuhan memberikan kemenangan kepadamu.”
Ali berangkat membawa bendera itu. Setelah ia berada dekat dari benteng, penghuni benteng itu keluar menghadapinya dan seketika itu juga pertempuran pun terjadi. Salah seorang Yahudi dapat memukulnya dan perisai yang di tangannya terlempar. Tetapi Ali segera menyambar daun pintu yang ada di benteng dan dengan memperisaikan daun pintu yang masih di tangan itu ia terus bertempur. Benteng itu akhirnya dapat didobraknya. Kemudian daun pintu tadi dijadikannya jembatan dan dengan “jembatan” ini kaum Muslimin dapat menyeberang masuk ke dalam benteng itu. Akan tetapi benteng Na’im ini baru jatuh setelah komandannya, Harith bin Abi Zainab terbunuh. Hal ini menunjukkan betapa sebenarnya pihak Yahudi itu mati-matian bertempur dan betapa  pula pihak Muslimin juga mati-matian mengepung dan menyerbu.
Setelah benteng Na’im jatuh, sekarang pihak Muslimin menaklukkan benteng Qamush setelah lebih dulu terjadi pertempuran sengit karena persediaan bahan makanan pada mereka (Muslimin) sudah tidak mencukupi lagi terpaksa ada beberapa orang yang datang kepada Muhammad mengeluh, dan minta sesuatu sekadar dapat menyambung hidup, dan oleh karena tidak ada sesuatu yang dapat diberikannya kepada mereka itu, maka mereka diizinkan makan daging kuda. Dalam pada itu salah seorang dari pihak Muslimin melihat ada sekawanan kambing memasuki salah satu benteng Yahudi itu Dua ekor kambing di antaranya dapat mereka tangkap, lalu mereka sembelih dan mereka makan bersama-sama.
Kemudian setelah mereka menaklukkan benteng Sha’b bin Mu’adh, kebutuhan mereka sekarang sudah tidak begitu mendesak lagi, sebab ternyata di tempat ini persediaan makanan cukup banyak, yang akan memungkinkan lagi mereka meneruskan perjuangan melawan Yahudi dan mengepung benteng-benteng yang ada lainnya. Sementara itu tidak sejengkal tanah pun atau sebuah benteng pun mau diserahkan kepada pihak Yahudi sebelum mereka benar-benar mempertahankannya secara heroik dan setelah dengan tenaga mereka berusaha membendung serangan Muslimin itu. Dengan terlebih dulu menyiapkan persenjataan dan perlengkapan untuk berperang.
Demikianlah perang antara Yahudi dan Muslimin itu terjadi sangat seru sekali, ditambah lagi ketahanan benteng-benteng Yahudi ketika itu memang sangat kuat dan keras.
Sekarang pihak Muslimin mengepung benteng Zubair. Pengepungan ini tampaknya cukup lama disertai dengan pertempuran yang sengit pula. Sungguhpun begitu mereka tidak juga berhasil menaklukkannya. Baru setelah akhirnya saluran air ke benteng itu diputuskan, pihak Yahudi terpaksa keluar dan dengan mati-matian mereka memerangi kaum Muslimin sekalipun mereka itu akhirnya lari juga. Dengan demikian benteng-benteng itu satu demi satu jatuh ke tangan Muslimin yang berakhir pada benteng Watih dan Sulalim dalam kelompok perbentengan Katiba, dua buah benteng terakhir yang kukuh dan kuat.
Sejak itulah perasaan putus asa mulai merayap ke dalam hati mereka. Kini mereka minta damai. Semua harta-benda mereka di dalam benteng-benteng asy-Syiqq, Natat dan Katiba diserahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk disita, asal nyawa mereka diselamatkan. Permohonan ini oleh Muhammad diterima. Dibiarkannya mereka itu tinggal di kampung halaman mereka, yang menurut hukum penaklukan sudah berada di bawah kekuasaannya. Mereka akan mendapat separuh hasil buah-buahan daerah itu sebagai imbalan atas tenaga kerja mereka.
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memperlakukan Yahudi Khaibar tidak sama seperti terhadap Yahudi Banu Qainuqa’ dan Banu Nadzir tatkala mereka dikosongkan dari kampung halaman itu; sebab dengan jatuhnya Khaibar itu ia sudah merasa terjamin dari adanya bahaya Yahudi dan yakin pula bahwa mereka samasekali tidak akan bisa lagi mengadakan perlawanan. Di samping itu di Khaibar terdapat pula beberapa perkebunan, ladang dan kebun-kebun kurma. Semua ini masih memerlukan tenaga-tenaga ahli yang cukup banyak untuk mengolahnya dan yang akan dapat pula mengurus pengolahan itu dengan cara yang sebaik-baiknya. Kendatipun pengikut-pengikut Medinah terdiri dari penduduk yang bercocok tanam, tanah mereka pun sangat pula memerlukan tenaga mereka, namun mengingat, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga sangat memerlukan tentara untuk angkatan perangnya, maka ia tidak suka membiarkan mereka semua itu dalam bercocok tanam. Dalam pada itu orang-orang Yahudi Khaibar tetap bekerja meskipun kekuasaan politik mereka sudah runtuh demikian rupa yang juga mempengaruhi kegiatan mereka, sehingga dari segi pertanian dan perkebunan pun cepat sekali Khaibar mengalami kemunduran dan kehancuran; padahal sudah begitu baik Nabi memperlakukan penduduk daerah itu, di samping Abdullah bin Rawaha utusan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka yang cukup adil, setiap tahun mengadakan pembagian hasil dengan mereka. Demikian baiknya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperlakukan penduduk Yahudi Khaibar itu sehingga tatkala kaum Muslimin menyerbu mereka, dan di antara barang-barang rampasan perang itu terdapat juga ada beberapa buah kitab Taurat, ketika oleh pihak Yahudi diminta, maka oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diperintahkan supaya kitab-kitab itu diserahkan kembali kepada mereka. Ia tidak sampai berbuat seperti yang pernah dilakukan oleh pihak Rumawi ketika menaklukkan Yerusalem. Kitab-kitab suci itu oleh mereka dibakar dan diinjak-injak dengan telapak kaki. Juga ia tidak melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pihak Nasrani dalam perang menindas kaum Yahudi Andalusia (Spanyol). Kitab-kitab Taurat itu oleh mereka juga dibakar.

Yahudi Fadak
Setelah Yahudi Khaibar minta damai selama Muslimin mengepung mereka di perbentengan Watih dan Sulalim, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus orang kepada penduduk Fadak (Fadak ialah sebuah desa daerah koloni Yahudi di Hijaz, tidak jauh dari Medinah) dengan maksud supaya mereka mau menerima ajakannya atau menyerahkan harta-benda mereka. Mengetahui peristiwa yang sudah terjadi di Khaibar, penduduk Fadak sudah merasa ketakutan sekali. Persetujuan diadakan dengan menyerahkan separuh harta mereka tanpa pertempuran. Kalau daerah Khaibar menjadi milik Muslimin karena mereka yang telah berjuang membebaskannya, maka Fadak untuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam karena pihak Muslimin tidak memperolehnya dengan pertempuran.

Yahudi Taima’, Yahudi Bahrain, Yahudi Bani Ghazia dan Bani ‘Aridz
Selesai semua itu Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkemas-kemas hendak kembali ke Medinah melalui Wadi’l-Oura (ialah sebuah wadi atau lembah terletak antara Medinah dengan Syam). Akan tetapi pihak Yahudi daerah ini sudah menyiapkan diri hendak menyerang Muslimin. Dan pertempuran segera pecah. Tetapi mereka juga terpaksa menyerah dan minta damai seperti halnya dengan pihak Khaibar. Sebaliknya golongan Yahudi Taima’ mereka bersedia membayar jizya (pajak) tanpa terjadi peperangan atau pertempuran.
Dengan demikian semua orang Yahudi tunduk kepada kekuasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berakhir pulalah semua kekuasaan mereka di seluruh jazirah. Dari jurusan utara ke Syam sekarang Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tidak kuatir lagi, sama halnya seperti dulu, dari jurusan selatan juga ia sudah tidak kuatir lagi setelah adanya Perjanjian Hudaibiya.
Dengan habisnya kekuasaan Yahudi itu, maka kebencian pihak Muslimin —terutama kaum Anshar— terhadap kepada mereka jadi berkurang sekali. Bahkan mereka menutup mata terhadap beberapa orang Yahudi yang kembali ke Yathrib. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersama-sama dengan orang-orang Yahudi yang sedang berkabung terhadap kematian Abdullah bin Ubayy dan menyatakan turut berdukacita pula kepada anaknya. Kepada Mu’adz bin Jabal pun dipesannya untuk tidak membujuk orang-orang Yahudi itu dari agama Yahudinya. Juga pajak jizya tidak dikenakan kepada orang-orang Yahudi Bahrain meskipun mereka tetap berpegang pada keyakinan agama mereka. Dengan Yahudi Banu Ghazia dan Banu ‘Aridz dibuat pula persetujuan bahwa mereka akan memperoleh dhimma (perlindungan) dan kepada mereka dikenakan pula pajak.

Menggalang Persatuan Akidah di Semenanjung
Ketika mula-mula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Medinah ia sudah mengadakan persetujuan damai dengan pihak Yahudi. Setelah mereka melanggar persetujuan itu dan berusaha mengkhianatinya, mereka dikeluarkan dari Medinah. Juga dari beberapa tempat pemukiman mereka di Semenanjung mereka dikeluarkan setelah mereka melancarkan permusuhan kepadanya. Bukankah ini sudah suatu bukti bahwa keberadaan orang-orang Yahudi di pemukiman-pemukiman mereka itu tidak patut dihormati, dan berdamai dengan mereka merupakan suatu kebijakan demi kepentingan negara pada periode pertama di Yasrib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menggantikan kebijakan itu dengan kebijakan lain setelah melihat kepentingan negara yang utama tak dapat ditegakkan dengan itu! Menurut pendapat Umar ibn Khattab di masa pemerintahannya, kepentingan negara yang utama harus menyatukan akidah di seluruh Semenanjung itu. Oleh karenanya, langkah pertama yang diambilnya begitu ia memegang jabatan, mengeluarkan kaum Nasrani Najran dari Semenanjung dan memerintahkan Ya’la bin Umayyah supaya jangan ada orang yang teperdaya dari agamanya, dan mengeluarkan mereka yang masih berpegang pada agama mereka. Mereka diberi tanah di Irak seperti tanah mereka di Najran. Mereka harus diperlakukan dengan baik. Begitu juga terhadap orang-orang Yahudi di Khaibar dan di Fadak, mereka agar dipindahkan dari tempat-tempat mereka ke Syam dan memberi ganti uang sesuai dengan harganya, dan jangan sampai ada yang diganggu. Dengan demikian seluruh Semenanjung itu bersih dari segala keyakinan selain Islam. Sekarang tegaklah sudah dasar-dasar kesatuan yang dimaksud oleh Amirulmukminin.
Di riwayatkan dalam sebuah hadis dari Umar bin Khattab r.a. katanya bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Saya mesti akan mengeluarkan orang Yahudi dan Nasrani dari Jazirah Arab ini sehingga tidak akan saya biarkan menetap kecuali orang Muslim.” (HR. Muslim No. 1083).
Gambaran ini jelas sekali mengenai faktor yang mendorong Umar mengeluarkan Yahudi dan Nasrani dari Semenanjung Arab itu. Dalam hal ini dia tidak melanggar dan tidak keluar dari ketentuan sunah. Perjanjian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pihak Yahudi dan Nasrani tidak merupakan suatu ketentuan hukum yang sudah tetap, tetapi sebagai suatu kebijakan yang dapat berubah di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tak ada salahnya jika sesudah itu juga berubah. Umar mengadakan perubahan karena peristiwa-peristiwa yang terjadi waktu itu dan adanya perluasan pembebasan. Karena hasratnya yang begitu besar ingin menerapkan tali persatuan di Semenanjung maka perubahan itu boleh berlaku. Umar tidak mau membeku pada suatu zaman sementara zaman itu sendiri berubah, dan akan membahayakan kepentingan negara dan kebijakannya yang utama. Apatah yang akan di lakukannya sementara dengan sendirinya waktu dibatasi, berakhir dengan berakhirnya waktu itu dan tidak akan ada pembaruan, kecuali jika Amirulmukminin menghendakinya!
Hendaknya jangan ada orang yang menyangka bahwa saya menghubung-hubungkan hal yang tak terlintas dalam pikiran Umar sendiri mengenai persatuan bangsa Arab itu. Kalangan sejarawan sudah sependapat bahwa dalam mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu ia berpegang pada yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa dia mengatakan : “Tidaklah akan bertemu dua agama di negeri-negeri Arab.” Apa yang disebutkan oleh Balazuri dan yang lain bahwa menurut pendapat Umar, penduduk Najran bertambah banyak, dan ia khawatir mereka akan mengganggu Islam, maka dikeluarkanlah mereka, dengan memerintahkan kepada pejabat-pejabatnya di Irak dan Syam agar kepada mereka diberikan ganti tanah dan memperlakukan mereka sebaik-baiknya. Andaikata mereka dikeluarkan karena melanggar perjanjian tentu tidak akan bersikap begitu lemah lembut kepada mereka dan tidak pula memperlakukan begitu baik.
Untuk memperkukuh dasar-dasar persatuan itu di negeri-negeri Arab itu tidak cukup hanya dengan melarang ada agama lain di luar Islam, kalau di antara penduduknya masih ada diskriminasi yang akan membuat mereka merasa lebih banyak mendapat kebebasan dan lebih terhormat dari yang lain. dan kalau tak ada persamaan sejati sebagai tanda adanya kerja sama di antara mereka. Beberapa diskriminasi itu masih dirasakan karena adanya kaum Riddah dan peperangan yang sudah berhasil ditumpas. Jika Umar memang menginginkan persatuan itu benar-benar terwujud, diskriminasi itu harus dihilangkan dengan menghilangkan segala penyebabnya lebih dulu. Oleh karena itu ia mencabut ketentuan di masa Abu Bakr yang melarang mereka ikut berperang di barisan Muslimin! Juga memerintahkan para tawanan Arab dikembalikan kepada keluarga mereka dan memberikan kebebasan kembali kepada mereka, sebab ia tidak senang tawanan perang di kalangan Arab akan dijadikan suatu kebiasaan. Dengan demikian ia telah membuka era baru yang membuat hati semua orang Arab merasa senang — lepas dari daerah-daerah mereka masing-masing di Semenanjung itu. Mereka merasa bahwa mereka adalah satu “bangsa” dengan tujuan bersama dalam bimbingan suatu politik yang umum dan kepentingan yang utama di bawah pengawasan Amirulmukminin.
-------------------------
Pustaka :
Terjemah Hadis Shahih Muslim Jilid 3, Penerbit Pustaka Al-Husna Jakarta 1983, Cetakan Kedua.
Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad), Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D, Penerbit : P.T. Pustaka Litera Antar Nusa Jakarta-Bogor, Cetakan Kesebelas, Januari 1990.
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006.
Taht Râyah al-Rasûl (Perang Muhammad), Dr. Nizar Abazhah, Penerbit Zaman Jakarta, Cetakan Pertama 1432 H / 2011 M.
Al-Faruq ‘Umar (Umar bin Khattab), Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D, Penerbit : P.T. Pustaka Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Februari 2011.

Minggu, 01 April 2012

BANGSA YANG PALING KERAS PERMUSUHANNYA TERHADAP ISLAM

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 82, yang artinya :
“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami orang-orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.”

Ayat ini menyebutkan 2 golongan yang sangat keras permusuhannya kepada Islam, yaitu bangsa Yahudi dan kaum musyrik. Namun di antara 2 golongan ini bangsa Yahudilah yang lebih keras permusuhannya terhadap Islam. Karena bangsa Yahudi merasa sebagai bangsa pilihan sehingga tidak rela ada Nabi atau Rasul Allah yang diangkat di luar golongan Yahudi.
Sejarah Islam telah menunjukkan bahwa saham bangsa Yahudi dalam menggerakkan manusia untuk memusuhi Islam telah bermula sejak perkembangan Islam di Mekkah. Pada suatu hari para tokoh Quraisy yang memusuhi Islam mengadakan pertemuan untuk membahas upaya menghancurkan Islam. Dalam pertemuan ini para tokoh Quraisy bersepakat untuk bekerja sama dengan bangsa Yahudi di kota Madinah. Untuk itu mereka mengirimkan 2 orang utusan, yaitu Nadzar dan Uqbah, untuk bertemu dengan tokoh-tokoh Yahudi Madinah merundingkan cara-cara menghancurkan dakwah Nabi Muhammad saw. Setelah kedua orang utusan Quraisy bertemu dengan para pendeta Yahudi di Madinah dan menceritakan keperluannya kepada mereka, lalu para pendeta Yahudi ini memberi petunjuk kepada mereka untuk menghadapi Nabi Muhammad saw. Petunjuk yang mereka berikan itu menyangkut 3 hal, yaitu
a. tentang riwayat beberapa orang pemuda Ashabul Kahfi;
b. tentang Dzul Qarnain;
c. tentang ruh.
Kata para pendeta itu, jika Muhammad dapat menerangkan dengan benar, berarti ia seorang Nabi. Tetapi jika tidak, Ia adalah seorang pembual. Karena itu terserah pada kalian, bagaimana bertindak kepadanya.
Langkah pendeta Yahudi terhadap 2 utusan orang Quraisy ini adalah pangkal awal bagaimana mereka ingin menanamkan permusuhan lebih lanjut antara bangsa Quraisy dengan Nabi Muhammad, sehingga akhirnya dapat menyulut api peperangan.
Pada waktu 2 orang utusan ini pulang kembali ke Mekkah, mereka melapor kepada para tokoh Quraisy, lalu mereka melaksanakan saran para pendeta Yahudi Madinah. Apa yang mereka ajukan kepada Rasulullah mendapatkan jawaban yang tepat. Sedangkan pertanyaan mereka yang ketiga dijawab oleh Allah dengan Surat Al-Isra’ ayat 85.
Jawaban yang diberikan oleh Rasulullah justru merupakan senjata makan tuan bagi para pendeta Yahudi Madinah. Sebab di antara tokoh-tokoh Quraisy ini terbuka hatinya untuk menerima Islam, Sehingga para pendeta Yahudi justru menjadi lebih besar permusuhan dan kedengkiannya kepada Nabi saw. Karena masuknya beberapa tokoh Quraisy ini ke dalam Islam berarti memperkuat barisan para pemeluk Islam yang masih sedikit itu. Demikianlah siasat bangsa Yahudi menghancurkan awal pertumbuhan Islam di Mekkah.
Peperangan-peperangan besar semasa hayat Rasulullah saw, seperti : Perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab dan perang Tabuq seluruhnya tidak lepas dari buah kelicikan bangsa Yahudi. Mereka mendorong dan membujuk golongan-golongan bangsa Arab yang musyrik maupun yang kafir agar bersatu padu menghancurkan dakwah Nabi saw. dan Islam. Tatkala Rasulullah dan para sahabat dari perang Badar pulang membawa kemenangan, maka seluruh kaum Muslimin Madinah menjadi gembira. Pada waktu sampai di kota Madinah diberitakanlah kepada rakyat nama tokoh-tokoh Quraisy yang mati terbunuh dalam perang Badar. Pada saat bangsa Yahudi Madinah mendengar berita ini, seorang tokoh Yahudi bernama Ka’ab bin Asyraf berusaha melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berisi kebimbangan-kebimbangan terhadap kemenangan kaum Muslimin dan terbunuhnya tokoh-tokoh Quraisy. Setelah Ka’ab bin Asyraf memperoleh penegasan kematian para tokoh Quraisy pada perang Badar tersebut, lalu ia pergi ke Mekkah untuk membangkitkan semangat mereka kembali memerangi Rasulullah. Ia membacakan puisi, menangisi kekalahan mereka dan para korban perang itu di desa Al-Qalib. Usaha Ka’ab tidak hanya sampai di situ saja, tetapi setibanya ia kembali di kota Madinah mulai Ia membuat puisi-puisi yang menyerang kehormatan wanita-wanita Islam Madinah. Tindakan Ka’ab yang keji ini menimbulkan marah ummat Islam Madinah, sehingga akhirnya Ia dibunuh oleh salah seorang sahabat Nabi.
Kemenangan Rasulullah terhadap bangsa Quraisy dalam perang Badar menimbulkan kedengkian pada bangsa Yahudi Madinah, sehingga mereka berusaha untuk melakukan tipu daya dan menimbulkan rasa antipati pada golongan-golongan Arab di sekitar Madinah terhadap Nabi saw. Karena kasak-kusuk bangsa Yahudi ini, maka Rasulullah mendatangi bangsa Yahudi Bani Qainuqa, lalu mengumpulkannya di salah satu pasar di kota Madinah. Di tempat ini Nabi berpidato kepada mereka : “Wahai bangsa Yahudi ! Hati-hatilah kamu terhadap siksa Allah Seperti yang menimpa bangsa Quraisy. Islamlah kamu. Karena kamu sendiri telah mengetahui aku adalah seorang Nabi utusan Allah. Kamu memperoleh keterangan ini dari kitab suci kamu dan janji Tuhan kepada kamu”. Namun dengan congkak dan penuh tipu muslihat bangsa Yahudi memberikan jawaban : “Wahai Muhammad, engkau melihat kami seperti bangsamu. Janganlah engkau merasa besar kepala berhasil menghadapi kaum yang tidak mengetahui pengetahuan perang sehingga engkau berkesempatan menang. Tetapi demi Tuhan, kami akan memerangimu supaya kamu tahu, bahwa kamilah sebenarnya manusia”. Kecongkakan bangsa Yahudi ini kemudian memperoleh jawaban Allah yang tercantum dalam surat Ali lmran ayat 12 dan 13. Allah berfirman :
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir : “Kamu pasti dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya’ (12) 
Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian Itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (13)

Kemudian kita perhatikan peranan bangsa Yahudi dalam perang Ahzab. Rombongan bangsa Yahudi Madinah di bawah pimpinan Hayyi bin Akhta’ dari suku Bani Nadzir mengajak bangsa Quraisy membentuk pasukan persekutuan memerangi Rasulullah di Madinah. Rombongan Yahudi ini berkata pada para tokoh Quraisy : “Kami akan bahu-membahu dengan kalian untuk membasmi Muhammad sampai akar-akarnya dan menghancurkan misi keagamaannya”. Golongan Quraisy kemudian bertanya kepada rombongan Yahudi ini mengenai Muhammad, agamanya dan agama bangsa Quraisy. Kata mereka “Wahai bangsa Yahudi, anda adalah ahli kitab yang pertama. Kalian tahu persoalan apa yang membuat kami berselisih dengan Muhammad. Karena itu bagaimana pendapat kalian ? Manakah yang lebih baik, agama kami atau agama Muhammad ? Dengan pertanyaan ini rombongan Yahudi tersebut merasa memperoleh kesempatan emas untuk melampiaskan balas dendamnya dan kebenciannya kepada Islam. Mereka menjawab kepada bangsa Quraisy : “Agama kalian jelas lebih baik dari agama Muhammad. Kalian lebih mulia daripadanya”. Pernyataan bangsa Yahudi yang hanya timbul dari dendam dan kebencian kepada Islam ini diutarakan oleh Allah di dalam firman-Nya pada surat An-Nissa ayat 51 dan 52 , yang artinya :
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan Thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekkah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman” (51)
“Mereka itulah orang-orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. (52)

Akibat dorongan bangsa Yahudi ini, maka kaum Quraisy bersedia turut dalam perang Ahzab. Selain bangsa Yahudi mempengaruhi bangsa Quraisy mereka pun kemudian dengan aktif mengorganisasikan suku-suku Arab di sekeliling Madinah yang masih menyembah berhala untuk ikut serta dalam pasukan sekutu. Suku-suku bangsa Arab di sekeliling Madinah ini ialah : Ghotfan, Bani Murrah, Bani Asyja’ dan lain-lain.
Data-data sejarah tersebut di atas merupakan fakta yang mencerminkan secara konkrit betapa besar permusuhan Yahudi terhadap Islam, sejak awal munculnya Islam di kota Mekkah sampai di kota Madinah. Karena itu kita tidak boleh lengah terhadap setiap gerak-gerik bangsa Yahudi yang ada dimanapun di dunia ini. Karena mereka akan selalu berusaha menghancurkan Islam dengan seribu satu cara, baik berupa intrik, semboyan-semboyan pintu ilmiah, organisasi, paham-paham, perdagangan sampai kepada peperangan.
Agar kaum Muslimin tetap waspada dan mengerti seluk-beluk tipu daya bangsa Yahudi terhadap Islam, maka adalah bermanfaat sekali membaca literature sejarah dan buku-buku tentang Yahudi dan Islam. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai karakter Yahudi dan aneka ragam tipu dayanya terhadap Islam, maka kita dapat melawan kejahatan mereka.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 193 - 199

Minggu, 25 Maret 2012

BANGSA YANG MAU BEKERJA SAMA DENGAN MUSUH-MUSUH AGAMA DEMI MENGHANCURKAN ISLAM

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 80, yang artinya :
”Kamu melihat sebagian besar dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan.”

Bangsa Yahudi, di dalam upaya menghancurkan Islam dan Rasulullah saw. bahu-membahu dengan kalangan bangsa Arab yang masih musyrik dan kafir. Mereka mengadakan fakta perjanjian untuk memerangi Nabi dan membangkitkan semangat golongan Musyrikin bangsa Arab untuk terus melakukan perang melawan beliau.
Bangsa Yahudi pada dasarnya tahu bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah sama esensinya dengan yang dibawa para Nabi Bani Israil. Mereka tahu bahwa Rasulullah beriman kepada Allah, Tuhan yang juga mereka sembah, Rasulullah pun beriman kepada kitab suci mereka, bahkan menjadi saksi akan kebenaran para Nabi mereka. Para Nabi Bani Israil pun telah memberikan kesaksiannya dan kabar gembira akan munculnya Nabi akhir zaman yang dijanjikan.
Bangsa Yahudi pun juga tahu bahwa golongan Musyrik bangsa Arab tidak menyembah Allah, tidak beriman kepada kitab suci mereka dan tidak pula beriman kepada rasul-rasul mereka. Karena itu mereka tidak bahu membahu memusuhi musuh Allah dan Rasul-Nya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebagai contoh, seorang tokoh pendeta Yahudi, bernama Ka’ab bin Asyraf pergi ke Mekkah dan menghasut kaum Musyrikin sehingga berhasillah membujuk mereka untuk memerangi Rasulullah pada perang Ahzab. Perang yang terjadi bulan Syawal tahun 5 Hijriyah ini dan golongan musuh Islam terdiri dari kaum Musyrikin Mekkah, bangsa Yahudi Khaibar, suku-suku bangsa Arab yang masih menyembah berhala (Ghotfan, Murrah dan Asyja’).
Perang Ahzab diceritakan dalam Al-Qur’an pada surat Al Ahzab ayat 10. Bangsa Yahudi yang melakukan persekongkolan dengan musuh-musuh Islam, bahkan musuh bagi agama mereka sendiri adalah karena dorongan kedengkian dan kebencian kepada Islam. Akibat dari sikap mereka yang penuh kebencian pada kebenaran mereka rela untuk memberikan angin kepada musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, asalkan dapat menghancurkan kebenaran yang tidak diinginkannya. *)
----------------------------------------------
*) Praktek-praktek kejahatan Zionisme yang terselubung menggunakan berbagai cara dan metode dengan merangkul berbagai idiologi-idiologi baik marxisme, kapitalisme, Nasionalisme. Dengan demikian seluruh sarana dan potensi yang ada dimanfaatkan untuk menghancurkan kekuatan Islam, red.

76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 189 - 191

Sabtu, 17 Maret 2012

BANGSA YANG ULAMANYA TIDAK PEDULI KEMUNKARAN DI TENGAH MASYARAKATNYA

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 79, yang artinya :
”Mereka tidak mau saling mencegah kemunkaran yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”

Bangsa Yahudi sudah sangat egoistis dan apriori satu dengan lainnya. Tidak seorang pun di antara mereka mau perduli dengan kemunkaran yang dilakukan oleh temannya biarpun sangat keji dan berbahaya. Mencegah kemunkaran adalah upaya untuk menegakkan nilai-nilai agama dan membentengi masyarakat dari perbuatan yang menghancurkan. Bilamana kemunkaran tidak lagi dicegah dengan gigih, maka timbullah keberanian orang berbuat dosa terang-terangan. Dalam keadaan semacam ini rakyat awam akan beramai-ramai turut serta melakukan perbuatan-perbuatan buruk, sehingga kemunkaran menjadi lumrah. Jika kemunkaran sudah menjadi lumrah, maka selanjutnya agama musnah dan tidak akan ada keberanian pada orang-orang yang baik untuk menyampaikan kebenaran.
Bagaimana proses kemunkaran itu merajalela di tengah bangsa Yahudi, hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Mas’ud, katanya : “Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya pertama kali rongrongan yang menimpa Bani Israil adalah semula ada seorang yang bertemu dengan sesamanya lalu mengingatkan : “Wahai saudara, takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah perbuatan anda ini karena tidak halal anda lakukan.” Kemudian besoknya bertemu lagi dan temannya itu masih berbuat seperti kemarin, lalu ia tidak mau mengingatkannya lagi agar ia tidak (menjadikan hasil kerjanya yang haram) sebagai makannya, minumannya dan kebiasaannya. Tatkala mereka (para pendeta) membiarkan kemunkaran tersebut, maka Allah menutup hati mereka yang satu dengan yang lainnya.” Kemudian Nabi membacakan ayat-ayat ini (78- 81). Kemudian beliau bersabda “Jangan sekali-kali ! Demi Allah teruskanlah amar maruf dan nahi munkar, kemudian cegahlah tangan orang yang berbuat dhalim dan kembalikanlah dia kepada kebenaran dan belalah kebenaran itu dengan pengorbanan. Atau (kalau kamu berdiam diri saja) niscaya Allah menutup hati kamu, yang satu dengan yang lainnya. Kemudian Allah melaknat kamu seperti Allah telah melaknat mereka”.
Perilaku ulama Yahudi yang membiarkan kemunkaran berkembang sedikit demi sedikit, sehingga merajalela di tengah masyarakat mereka dicela dan dikecam oleh Allah. Karena sikap berdiam diri mereka terhadap kemunkaran yang dilakukan oleh warga masyarakat mereka sama dengan setuju dengan perbuatan-perbuatan dosa. Ayat ini memperingatkan kita tentang betapa buruknya perangai ulama Yahudi, sehingga mereka menjadi bangsa yang bobrok dan terkutuk.
----------------------------------------------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 189 - 191

Minggu, 04 Maret 2012

BANGSA YANG DILAKNAT OLEH NABI-NABINYA

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 78, yang artinya :
”Orang-orang kafir dan Bani Israil telah dilaknati melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”

Bangsa Yahudi di samping membunuh beberapa orang Nabi mereka sendiri, mereka juga telah menjadikan beberapa orang Nabi dan orang-orang yang shaleh sebagai tempat untuk dimintai berkat, kekuatan ghaib dan disembah sebagai Tuhan. Ringkasnya, mereka telah membuat tuhan lain di samping Allah.
Perbuatan sesat yang mereka lakukan ini mereka ajarkan pula kepada kalangan awam, bahkan kepada bangsa-bangsa lain. Kesesatan mereka yang telah begitu hebat menyebabkan mereka mengabaikan ajaran-ajaran Zabur dan Injil maupun Taurat.
Akibat dari pelanggaran itulah, maka Nabi Dawud mengutuk mereka, karena larangan bekerja pada hari Sabat telah mereka langgar. Begitu juga Nabi Isa as. telah melaknat mereka, karena terus menerus menolak ajaran agama dan berkecimpung dosa.
Dalam sejarah ummat manusia, di Barat maupun di Timur, hanyalah bangsa Yahudi yang banyak dikutuk dan dilaknat oleh berbagai bangsa di dunia. Ayat ini memberikan gambaran yang jelas kepada kita bahwa Nabi-Nabi pun merasa jengkel membimbing bangsa Yahudi, karena keras kepala mereka menolak kebenaran. Oleh karena itu adalah sangat patut kalau ummat manusia pada umumnya bersama-sama mengutuk bangsa Yahudi dimanapun kita berada.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 188 - 189

Sabtu, 03 Maret 2012

BANGSA YANG BERANI MEMBUNUH NABI-NABINYA

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 71, yang artinya :
”Dan mereka mengira bahwa tidak akan terjadi suatu bencana pun (terhadap mereka dengan membunuh Nabi-Nabi itu), maka (karena itu) mereka menjadi buta dan pekak, kemudian Allah menerima taubat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka itu buta dan tuli (lagi). Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”

Sebagian besar bangsa Yahudi menutup mata dan telinganya dari menerima nasehat kebenaran. Mereka buta terhadap ayat-ayat Allah yang tercantum dalam kitab-kitab suci mereka. Bangsa Yahudi menutup telinga sehingga tidak mau mendengar nasehat yang dibawa oleh para rasul mereka. Semakin sering para rasul itu memperingatkan kedurhakaan, kedhaliman dan kesesatan yang mereka lakukan selalu saja mereka abaikan.
Sikap mental mereka yang begitu bobrok membuat mereka berani membunuh para Nabi yang membawa petunjuk dan bimbingan hidup kepada mereka. Mereka telah membunuh Nabi Zakaria dan Nabi Yahya. Bahkan mereka berusaha membunuh Nabi Isa, tetapi gagal.
Akibat kebobrokan moral mereka, kemudian Allah menurunkan adzab kepada mereka, sehingga mereka dijadikan bangsa yang hina dan selama berabad-abad silih berganti dijajah oleh berbagai bangsa. Mereka pernah dijajah bangsa Parsi, kemudian bangsa Romawi, sehingga mereka hidup dalam perbudakan.
Kedurhakaan bangsa Yahudi sehingga berani membunuh Nabi-Nabi mereka sendiri menjadi petunjuk puncak kebobrokan moral mereka. Karena itu tidaklah heran jika terhadap manusia biasa bangsa Yahudi bertindak sangat biadab, penuh kebuasan dan kelaliman yang tak terkirakan. Adanya kebiadaban yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina selama kurang lebih 70 tahun akhir-akhir ini dapat kita jadikan sebagai bukti kebobrokan moral mereka. Karena itu wajib kita bersikap waspada terhadap setiap gerak-gerik bangsa Yahudi dan bersiap diri untuk menghadapi kebiadaban mereka. Tanpa kita memiliki persiapan moril maupun kekuatan menghancurkan kebiadaban bangsa Yahudi, maka kaum Muslimin akan dijadikan budak mereka.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 186 - 187

Rabu, 29 Februari 2012

BANGSA YANG SUKA MENDUSTAKAN KEBENARAN YANG TIDAK DISENANGI

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 70, yang artinya :
"Sesungguhnya Kami telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, lalu sebagian dari rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh.”

Bangsa Yahudi mengadakan perjanjian dengan Allah yang isinya :
a. wajib mengesakan Allah;
b. mengikuti segala ketentuan hukuman Allah;
c. berakhlaq mulia

Semua janji ini mereka ingkari atau mereka langgar begitu saja. Setiap rasul datang kepada mereka untuk memperingatkan kedurhakaan mereka kepada janji-janji tersebut serta merta mereka tolak dan mereka dustakan.
Bangsa Yahudi sudah menjadi manusia yang paling bobrok dan selalu mengutamakan dorongan nafsu rendah, sehingga mereka menjadi manusia yang paling sesat. Di dalam hati mereka tidak lagi tersisa tempat untuk menampung nasehat-nasehat dan bimbingan para rasul. Bahkan mereka menunjukkan sikap kekafiran, kebencian dan mendustakan setiap kebenaran yang dibawa oleh para rasul dan tokoh-tokoh kebajikan.
Yang amat celaka pada karakter bangsa Yahudi ialah kedurhakaan mereka yang begitu bobrok, namun mereka tetap beranggapan tidak akan mendapat hukuman dari Allah, sebab mereka berkeyakinan putra dan kekasih Allah sebagaimana mereka ini. Sekiranya mendapat hukuman, toh hanya sebentar saja.
Apa yang menjadi latar belakang bangsa Yahudi selalu membenci kebenaran yang tidak disukainya ialah adanya keyakinan mereka tidak akan disiksa oleh Allah walaupun melanggar kebenaran. Barangsiapa yang membaca Kitab Talmud akan mengetahui betapa bobroknya moral bangsa Yahudi yang tergambar di dalam ayat-ayat Talmud. Di antara ayat Talmud menerangkan bahwa jika Allah mendapati kesulitan, maka dipanggillah para pendeta Yahudi untuk menyelesaikannya. Berdasarkan keyakinan sesat semacam inilah, maka bangsa Yahudi menganggap bahwa kebenaran yang dibawa para rasul itu tidak ada artinya, jika mereka tidak menyetujuinya. Dengan kata lain bangsa Yahudi jauh lebih tahu daripada Allah itu sendiri.
------------------------------------------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 184 - 186

BANGSA YANG GEMAR MEMBANGKITKAN PEPERANGAN

Allah berfirman QS. A1-Maidah : 64, yang artinya :
“Orang-orang Yahudi berkata, Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan perkataan mereka itu. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Qur‘an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran pada sebagian besar mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan".
Antara bangsa Yahudi dan ummat Nasrani Senantiasa timbul rasa permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Salah satu contoh dari permusuhan ini dengan hebat dapat kita saksikan di Rusia dan di Jerman. Sedangkan di Inggris, Perancis dan negri-negri Eropa lainnya sedikit berkurang.
Bangsa Yahudi mempunyai pengaruh yang dominan dalam berbagai bidang usaha keuangan, sosial dan politik di negri-negri Barat, yang mayoritas rakyatnya beragama Kristen. Bangsa Yahudi ditempat-tempat ini tak pernah diterima secara bersahabat oleh bangsa-bangsa tersebut, tetapi dipandang dengan penuh kebencian dan permusuhan.
Di Perancis dan negara-negara lain telah banyak ditulis buku-buku yang berisikan semangat permusuhan terhadap bangsa Yahudi, sedangkan bangsa Jerman dan negara-negara tetangganya setelah perang Dunia II berusaha memencilkan mereka, sehingga bangsa ini dalam pandangan mereka adalah bangsa yang terkeji di dunia. Demikianlah pula perasaan permusuhan antara sesama kaum Nasrani terus menerus berkabar yang berkali-kali muncul antara negara-negara adidaya. Mereka sesamanya selalu bersiap-siap untuk berperang guna saling menghancurkan. Peperangan yang sekarang sedang berjalan antara sesama negara-negara Kristen dapat menjadi bukti terkuat kebenaran pernyataan ayat ini.
Di dalam sejarah sudah begitu terkenal riwayat bangsa Yahudi yang merayu kaum musyrikin bangsa Arab untuk memerangi Islam dan Nabinya. Mereka tidak henti-hentinya menghasut bangsa Romawi untuk memerangi pusat Islam di kota Madinah. Sebagian dari tokoh-tokoh Yahudi memberikan perlindungan dan bantuan kepada musuh-musuh Islam. Sikap permusuhan dan kegemaran membangkitkan peperangan terhadap ummat Islam didorong oleh kedengkian dan rasialisme serta hilangnya pengaruh para pendeta dan tengah masyarakat. Sebab sebelum munculnya kenabian Muhammad saw., wilayah Hijaz khususnya dan Jazirah Arab pada umumnya berada di bawah Hegemoni bangsa Yahudi yang meliputi bidang ilmu pengetahuan, keagamaan, ekonomi dan politik.
Permusuhan kaum Yahudi terhadap kaum Muslimin semata-mata bersifat politik kebangsaan bukan karena perjuangan agama ataupun semangat keagamaan. Sebagai bukti kebenaran pernyataan ini adalah karena kaum Yahudi di belakang hari membantu kaum Muslimin dalam melakukan perluasan dakwah ke negeri Syam dan Spanyol, tatkala mereka menghilangkan penindasan dan kedhaliman yang selama ini dilakukan oleh bangsa Romawi dan Goth terhadap mereka.
Begitu pula permusuhan kaum Nasrani terhadap kaum Muslimin semata-mata bersifat politik. Padahal dahulu kala antara kaum Nasrani dengan penjajah Romawi di negeri-negeri yang bertetangga dengan Hijaz, seperti Syria dan Mesir, adalah sangat bermusuhan. Negara-negara Nasrani adalah sebenarnya paling bersimpati kepada kaum Muslimin setelah mereka yakin atas keadilan kaum Muslimin dan berhasil melenyapkan kedhaliman yang selama itu mereka alami di bawah kekuasaan bangsa Romawi padahal masih seagama dengan mereka. Memang menjadi kebiasaan umum seseorang bersikap permusuhan atau mencintai orang lain tergantung kepada kerugian ataupun keuntungan yang diperolehnya.
Permusuhan terhadap Nabi dan kaum Muslimin, penyebaran fitnah dan perang sama sekali tidaklah mereka maksudkan demi perbaikan mental dan kesejahteraan masyarakat, tetapi semata-mata untuk menimbulkan kerusakan di atas bumi, melakukan tipu daya terhadap kaum Muslimin, mencegah tumbuhnya persatuan ummat manusia, menghalangi terhapusnya buta huruf sehingga bisa menjadi bangsa yang berilmu. Atau dan penyembahan berhala kepada tauhid. Sebab mereka sangat dengki terhadap kaum Muslimin dan ingin mempertahankan hegemoni mereka terhadap ummat manusia.
---------------------------------------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 181 - 184

Senin, 27 Februari 2012

BANGSA YANG MENGATAKAN ALLAH ITU BAKHIL

Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah : 64, yang terjemahannya :
Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan perkataan mereka itu. Bahkan kedua tangan-Nya terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al-Qur’ an yang diturunkan kepadamu dan Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran pada sebagian besar mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ibnu Ishaq dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas, katanya, ”Seorang Yahudi bernama Mubasy bin Qais berkata kepada Nabi saw. : “Tuhanmu itu sungguh kikir, tidak mau mengeluarkan pembelanjaan”. Lalu Allah menurunkan ayat-Nya ini (ayat 64), Abu Syeh meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan bertalian dengan kasus Fankash seorang tokoh Yahudi suku Qainuqa. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah sama seperti ini. Dan diriwayatkan dari Mujahid bahwa kaum Yahudi berkata : ”Allah menyempitkan kita wahai Bani Israil, sehingga tangan-Nya dimasukkan ke tempat penyembelihan-Nya.” Kata-kata mereka ini bermakna, bahwa Allah menyempitkan rezki mereka (mereka hidup serba kekurangan). Diriwayatkan dari Ibnu Abbas juga, beliau berkata : ”Perkataan mereka (tangan Allah terbelenggu) bukanlah mereka maksudkan bahwa tangan Allah itu terikat, tetapi maksudnya “Allah itu bakhil”, menahan segala rezki yang dimiliki-Nya. Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Maha Suci dan sifat-sifat yang dikatakan oleh orang-orang dhalim itu.
Yang berkata : “Tangan Allah terbelenggu”, hanyalah sebagian orang Yahudi saja. Tetapi seluruh bangsa Yahudi terkait di dalamnya. Sebab anggota suatu masyarakat satu dengan yang lainnya punya kewajiban bertanggung jawab kepada seluruh masyarakatnya. Sebab suatu masyarakat adalah bagaikan satu tubuh. Dalam semua zaman manusia sering menimpakan perbuatan orang-orang tertentu dari suatu ummat kepada seluruh ummat itu sendiri. Dan telah menjadi suatu kebiasaan Al-Qur’an melibatkan generasi belakangannya terhadap perkataan dan perbuatan generasi sebelumnya yang sudah lewat beberapa abad.
Munculnya anggapan di kalangan bangsa Yahudi, bahwa Allah itu tangan-Nya terbelenggu atau Allah itu bakhil, karena kemelaratan yang diderita sebagian besar mereka. Mereka bertanya, mengapa Allah menjadikan sebagian besar manusia ini hidup dalam kemelaratan ? Mengapa manusia ini semua tidak dijadikan oleh Allah hidup berkecukupan padahal Allah itu Maha Pemurah dan Maha Luas karunia-Nya ?
Terjadinya kemelaratan yang merajalela di tengah bangsa Yahudi adalah karena tingkah laku mereka sendiri. Golongan kaya dan kalangan bangsa Yahudi tidak mau mengulurkan tangan untuk mengeluarkan infaq dan memberikan bantuan materiel bagi kepentingan masyarakatnya. Mereka adalah golongan manusia yang paling bakhil. Tidak ada seseorang Yahudi bersedia memberikan sesuatu kepada orang lain secara sukarela, atau tanpa imbalan keuntungan bagi dirinya. Bahkan Allah telah melaknat mereka karena sikap kebakhilannya dan anggapannya yang penuh kebohongan bahwa Allah itu bakhil.
Keluasan rahmat Allah dan melimpahnya pemberian-Nya kepada hamba-Nya bukanlah turun begitu saja. Tetapi Allah telah menetapkan aturan permainan, bagaimana cara manusia dapat meraih kemurahan dan luasnya rahmat-Nya. Maka manusia yang ingin memperoleh hidup serta berkecukupan sehingga tidak ada lagi kemelaratan di tengah masyarakat, maka manusia wajib menempuh cara-cara yang telah ditetapkan oleh Allah itu.
Bangsa Yahudi, sebagai golongan manusia yang serba bakhil, setelah melakukan kedurhakaan begitu rupa kepada Allah, dengan angan-angan kosongnya mengharapkan segenap masyarakat Yahudi dapat hidup kaya, tanpa mau mematuhi ketentuan-ketentuan Ilahi. Jalan pikiran bangsa Yahudi semacam ini, kemudian berbalik menyatakan, bahwa kemelaratan yang diderita oleh ummat manusia adalah karena Allah itu bersifat bakhil. Sungguh patut bangsa Yahudi mendapat laknat Allah karena dalih penuh dengan kebohongan ini.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 178 - 181

Kamis, 23 Februari 2012

BANGSA YANG SENANG MENGEJEK DAN MEMPERMAINKAN AGAMA ISLAM

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 58, yang artinya :
“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.”
Diriwayatkan, bahwa bilamana tiba waktu shalat, maka salah seorang mu’adzin menyerukan adzan. Seruan adzan ini oleh Ahli Kitab umumnya, Yahudi khususnya dijadikan sasaran ejekan. Ejekan yang mereka lakukan ini menunjukkan kebodohan mereka didalam memahami esensi dari agama Allah. Karena kalimat-kalimat adzan merupakan pujian kepada Allah, Dzat yang berhak menerima pujian.
Hakikat seruan adzan adalah ajakan untuk bekerja dengan sungguh-sungguh meraih kebahagiaan yang dijanjikan oleh Allah kepada hamba-Nya, di dunia ini maupun di akherat. Karena adzan adalah panggilan mengajak kepada shalat. Sedangkan shalat adalah inti penyerahan diri kepada Allah secara totalitas, sehingga manusia dapat memperoleh kejernihan akal, hati rasa secara utuh. Karena itulah orang yang mengerjakan shalat dipandang menempuh jalan menuju kepada upaya mencapai kebahagiaan secara totallas.
Tetapi ternyata Ahli Kitab dan bangsa Yahudi khususnya, karena kebodohannya, terus menerus mengejek dan menghinakan Islam. Pada dasarnya apa yang mereka lakukan semata-mata karena kedurhakaan mereka terhadap pesan-pesan Nabi mereka sendiri yang karena penyelewengan mereka dari iman yang benar.
Pengakuan golongan Ahli Kitab dan bangsa Yahudi bahwa mereka mengikuti agama para Nabi Sebelumnya, sebenarnya hanyalah semata-mata sebagai tradisi dan sikap yang rasialis. Sebab bangsa Yahudi beranggapan bahwa agama mereka hanyalah merupakan bagian dari kebangsaan mereka. Dalam sejarah diriwayatkan, bahwa kefasikan dan penyelewengan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi ini menyebabkan mereka mencela segala bentuk kebaikan di luar golongan Yahudi. Tetapi sebaliknya kebodohan apapun yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Yahudi tetap mereka akui kebenaran dan kebaikannya.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa pada suatu hari beberapa orang Yahudi datang kepada Rasulullah. Nama-nama mereka itu ialah antara lain : Abu Yasir bin Akhtab dan Rofi’ bin Abi Rofi’. Mereka bertanya , “Siapakah Nabi dan Rasul yang Nabi imani ?“ Jawab Nabi , “Aku beriman kepada Allah, kepada kitab yang diturunkan kepada kami, kitab yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub, anak cucunya, Musa, Isa dan Nabi-Nabi yang lain. Kami tidak membedakan mereka itu satu dengan lamnnya. Kami hanya berserah diri kepada Allah semata”. Tatkala Nabi menyebut nama Isa, rombongan Yahudi ini menjawab , “Kami tidak beriman kepada orang ini.’
Riwayat Ibnu Jarir ini memberikan gambaran kepada kita bagaimana bangsa Yahudi mengejek dan mempermainkan Rasulullah saw. Ketidaksenangan mereka kepada Nabi Isa ditonjolkannya pula sebagai dalih untuk menghina dan mengejek Rasulullah saw. Jadi ejekan yang dilontarkan bangsa Yahudi kepada Islam tidak hanya soal adzan, tetapi juga dalam hal keimanan ummat Islam kepada Nabi Isa.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 176 - 178

Selasa, 21 Februari 2012

BANGSA YANG LEBIH TAKUT KEPADA SESAMA MANUSIA DARIPADA KEPADA ALLAH

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 44, yang artinya :
“Sungguh Kami telah menurunkan Kitab Taurat, berisikan petunjuk dan cahaya, yang dengan Kitab itu para Nabi yang berserah diri (kepada Allah) menetapkan hukum bagi orang-orang Yahudi, (juga) pada Ahli agama dan para pendeta, karena mereka disuruh memelihara kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu kamu jangan takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada-Ku dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga murah. Barangsiapa tidak menghukum menurut yang Allah telah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”
Para pendeta Yahudi di masa Nabi Muhammad sebagian besar terlibat di dalam pemalsuan ayat-ayat Taurat dan mendustakan ajakan Rasulullah saw. kepada Islam. Mereka ini dengan sadar mengetahui, bahwa para Nabi Bani Israil telah mengabarkan kepada mereka akan datangnya seorang Nabi akhir zaman dan menjadi Rasul penutup.
Tetapi sayang sekali ayat-ayat Taurat yang menjelaskan kabar kedatangan Nabi Muhammad saw. mereka sembunyikan. Walaupun orang yang pertama-tama memalsukan ayat-ayat Taurat bukan para pendeta Yahudi yang hidup di zaman Nabi saw, tetapi mereka ini terus mengikuti kesesatan yang dilakukan nenek moyang mereka. Ini berarti mereka sendiri sama halnya turut berbuat pemalsuan tersebut.
Perbuatan pemalsuan ini mendapat teguran dari Allah di dalam Al-Qur’an, yaitu mereka diperingatkan agar meninggalkan upaya pemalsuan yang selama ini telah mereka kerjakan dan kembali mengikuti perintah Taurat yang sebenarnya.
Ternyata para pendeta Yahudi tidak mau mengikuti isi Taurat yang semestinya. Karena mereka takut kehilangan pengaruh di tengah masyarakatnya, kehilangan kedudukan dan kehilangan fasilitas keduniaan lainnya. Begitu pula kalangan awam bangsa Yahudi tidak mau mendengarkan seruan Taurat yang sebenarnya, karena takut ancaman para pemimpin mereka.
Dalam ayat ini Allah berseru kepada bangsa Yahudi, khususnya para pendeta mereka, yaitu “Janganlah kamu takut kepada manusia, tapi takutlah kepada Allah”. Para pendeta yang mendapat kecaman dari Al-Qur’an, karena perbuatannya menyembunyikan kebenaran dan memalsukan ayat-ayat Taurat, ternyata tidak dapat mengingkari. Karena itu mereka diperingatkan agar berani menerima kebenaran, dan jangan takut menanggung resiko yang akan menimpa mereka.
Tetapi ternyata apa yang dipilih bangsa Yahudi ? Mereka tetap enggan menerima seruan kebenaran karena takut kehilangan pengaruhnya di kalangan manusia, sehingga mereka dengan penuh kedurhakaan menentang ajaran-ajaran Allah. Tantangan mereka kepada ajaran-ajaran Allah adanya sikap mereka yang memalsukan ayat-ayat Taurat yang menerangkan hal ihwal Nabi Muhammad, menyembunyikan ayat-ayat mengenai hukum-hukum tertentu, tetap menenima suap dan menyuruh anak buahnya memusuhi Nabi saw.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 173 - 175

Senin, 20 Februari 2012

BANGSA YANG GEMAR MELAKUKAN USAHA-USAHA KOTOR

Allah berfirman QS. Al-Maidah : 42, yang artinya :
“Mereka senang mendengarkan kebohongan (juga) senang sekali memakan yang haram. Jika mereka datang kepadamu (meminta keputusan), maka putuskanlah perkara sesama mereka atau tinggalkanlah mereka. Jika engkau tinggalkan mereka, maka sama sekali mereka tidak akan merugikanmu sedikit pun. Tetapi jika kamu memutuskan perkara, putuskanlah perkara sesama mereka itu dengan adil. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang adil.”
Para pendeta dan tokoh-tokoh Yahudi pada masa Al-Qur’an turun terkenal sebagai pendusta dan pemakan barang haram. Mereka biasa menerima suap atau melakukan korupsi. Bahkan mereka dengan imbalan sedikit uang bersedia melakukan pemalsuan ayat-ayat Taurat. Sebagai bukti mereka mau membuat hukum baru yang membatalkan ayat Taurat mengenai hukuman rajam bagi orang-orang yang berzina.
Dengan adanya moral yang sudah bobrok yang menimpa pendeta dan pemimpin-pemimpin Yahudi, lalu mereka pun berusaha untuk menyeret Nabi saw agar menyetujui penyelewengan-penyelewengan mereka dari ketentuan-ketentuan kitab Taurat. Salah satu upaya mereka adalah meminta kepada Nabi agar dapat memberikan hukuman lain bagi pelaku zina. Dengan adanya hukuman lain ini mereka berjanji untuk mengakui kebenaran Nabi s.a.w.
Usaha kotor yang dilakukan tokoh-tokoh Yahudi terhadap hukum kitab Taurat ini adalah dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa mereka selama ini tidak mengakui Nabi s.a.w. adalah sesuatu yang sejalan dengan perintah Taurat. Akan tetapi Allah menyuruh kepada Nabi-Nya agar menolak rayuan licik bangsa Yahudi yang meminta hukuman lain pengganti rajam terhadap orang yang berbuat zina. Sebab kitab Taurat dengan tegas menetapkan hukuman rajam ini. Jika mereka tidak bersedia menjalankan ketentuan Taurat ini, maka Nabi diperintahkan untuk menolak permintaan mereka agar menghakimi perbuatan mereka itu.
Moral yang sudah bobrok pada bangsa Yahudi tidak segan-segan mendorong mereka untuk mendustakan hukum Taurat itu sendiri. Bahkan larangan Taurat untuk memakan riba pun mereka abaikan. Lebih dari itu mereka kemudian menghalalkan riba, dengan dalih riba dan keuntungan dagang sama saja. Jika bangsa Yahudi telah berani memalsukan ayat-ayat Taurat dan menyeret Nabi saw. ke dalam usaha-usaha kotor mereka untuk memutarbalikkan kebenaran Taurat, maka seharusnya kita selalu wajib bersikap curiga kepada setiap gerak-gerik orang Yahudi kapan saja dan dimana saja.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 171 - 173

Jumat, 17 Februari 2012

BANGSA YANG SUKA MENYURUH RAKYAT BERKONFRONTASI DENGAN ORANG-ORANG YANG BENAR

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 41)
Mereka berkata “Jika diberikan kepada kamu (Taurat Yang sudah diubah) ini, maka ambillah. Tetapi jika tidak diberikan kepada kamu (Taurat yang sudah diubah),  janganlah kamu ambil.”
Riwayat sebab turunnya ayat ini telah diceritakan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud Ibnu Jarir dan Ibnu Mundzir dan Al-Barra’ bin Azib, katanya, Nabi melewati seorang Yahudi yang mukanya dicoreng-moreng dengan arang seraya didera. Lalu Nabi memanggil mereka, kemudian bertanya, “Beginikah yang kalian temukan hukuman bagi pezina di dalam kitab suci kalian ?“ Jawab mereka, “Ya.” Lalu Nabi memanggil salah seorang ulama mereka kemudian bertanya kepadanya, ”Aku bersumpah dengan nama Allah yang mengirimkan Taurat kepada Musa. Beginikah sebenarnya hukuman bagi pezina yang kalian temukan di dalam kitab suci kalian?“ Jawabnya “Demi Allah tidak. Sekiranya tuan tidak bersumpah kepadaku (dengan nama Allah) niscaya saya tidak akan menceritakannya, Hukuman bagi pezina yang kami temukan di dalam kitab suci kami adalah hukuman rajam. Akan tetapi berzina ini meluas di kalangan tokoh-tokoh kami, maka hukuman itu kami tinggalkan. Tetapi kalau yang melanggar orang-orang lemah (rendah), maka kami laksanakan hukuman ini dengan semestinya.” Lalu kami (orang-orang Yahudi) berkata, ”Marilah kemari. Marilah kita mengadakan suatu kesepakatan, yakni kita akan menegakkan hukum kepada orang yang berpangkat maupun yang rendah. Lalu kami tetapkan, bahwa hukuman muka dicoreng-moreng dengan arang seraya didera dijadikan ganti bagi hukuman rajam!’ Lalu Nabi saw bersabda , “Demi Allah, akulah orang pertama yang akan menghidupkan urusanmu karena engkau telah mematikannya selama ini.” Beliau lalu menyuruh menjalankan hukuman tersebut, maka dijalankanlah rajam. Kemudian Allah menurunkan ayat-Nya (ayat 41) ini.
Sejarah kasus ini membuktikan bahwa para tokoh bangsa Yahudi di Madinah dalam usahanya memusuhi Nabi saw., mereka mengerahkan anak buah atau rakyat awam untuk melawan petunjuk dan bimbingan Rasulullah saw. Terhadap cara yang kotor dilakukan oleh tokoh-tokoh Yahudi kepada Nabi saw. ini, Allah memperingatkan agar beliau tidak bersedih hati. Karena pada dasarnya seseorang akan mendapat hidayah atau tidak adalah menjadi hak Allah semata-mata. Oleh karena itu hendaknya Nabi menjalankan apa yang menjadi kewajiban kepada Allah dan jangan mempedulikan konfrontasi yang dilakukan oleh masyarakat Yahudi di bawah pimpinan tokoh-tokoh mereka.
Seseorang merasa bersedih hati adalah sifat naluriah. Nabipun sebagai manusia biasa merasa sedih, kalau dalam menyampaikan kebenaran mendapat perlawanan dan orang-orang yang seharusnya mengikutinya. Karena para tokoh Yahudi telah tahu sebelumnya tentang kedatangan Nabi Muhammad sebagaimana diberitakan dalam Taurat mereka.
Nabi yang merasa bersedih hati karena sikap konfrontasi Yahudi ini mendapat teguran dari Allah. Karena merasa kesedihan yang berkelanjutan akan dapat menimbulkun keputusasaan. Sebab itu hendaklah Rasulullah menyadari siasat para tokoh Yahudi yang mengerahkan anak buahnya untuk berkonfrontasi terhadap beliau. Cara yang jitu untuk menghadapi mereka ialah mengungkapkan kebohongan dan tipu muslihat para pemimpin Yahudi itu sendiri di tengah rakyat mereka dan dengan berdasarkan kitab suci mereka sendiri. Siasat ini dengan berhasil dilakukan oleh Rasulullah sebagaimana riwayat Ahmad dan bahkan dari Umar, katanya, “....... Tatkala seorang pendeta bernama Ibnu Suraiya membaca ayat Taurat tentang hukuman bagi orang yang berzina, ia menutupkan jari-jarinya di atas ayat itu. Kemudian menyuruhnya mengangkat jari-jarinya itu. Ternyata tertulis di situ ayat rajam. Kemudian para tokoh Yahudi itu berkata kepada Nabi, “Wahai Muhammad, ternyata yang tertulis di sini adalah ayat rajam. Namun kami sudah bersepakat sejak dahulu untuk menyembunyikannya dan rakyat kami,”
Dengan siasat tantangan terbuka semacam ini Rasulullah berhasil mengambilkan konfrontasi di kalangan awam Yahudi kepada para pemimpin mereka sendiri. Bagi kita seharusnya selalu menggunakan siasat seperti ini dalam upaya melawan kembali siasat musuh-musuh Islam yang mengerahkan anak buahnya memusuhi Islam.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 169 - 171

Rabu, 15 Februari 2012

BANGSA YANG PALING CEPAT BERSIKAP MENOLAK KEBENARAN DAN MENYUKAI KEBOHONGAN

Allah berfirman :
”Hai Rasul, janganlah orang yang cepat-cepat (bersikap) kufur menyedihkan kamu, yaitu dari golongan orang-orang yang berkata dengan mulut manisnya, “Kami beriman”, namun hati mereka tidak beriman, dan dari golongan orang-orang Yahudi. Mereka senang sekali mendengarkan kebohongan (juga) senang mendengarkan perkataan kaum lain yang tidak pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata (Taurat) dari tempat-tempat asalnya. Mereka berkata, “Jika diberikan kepada kamu (Taurat yang sudah diubah) ini, maka ambillah. Tetapi jika tidak diberikan kepada kamu (Taurat yang sudah diubah), janganlah kamu ambil”. Barangsiapa yang Allah kehendaki kesesatannya, maka tiadalah engkau mampu menolak sedikit pun (keputusan) dari Allah kepadanya. Mereka adalah orang-orang yang tidak Allah kehendaki menjadi bersih hatinya. Di dunia mereka mendapat kehinaan, dan di akherat mereka mendapatkan adzab yang berat.” 
(QS. Al-Maidah : 41)

Ayat ini maksudnya, bahwa ada 2 golongan yang cepat memberikan reaksi menolak kebenaran. Golongan pertama ialah kaum munafiq dan golongan kedua ialah bangsa Yahudi. Bangsa Yahudi sebenarnya sudah seringkali mendengar pembicaraan tentang Nabi dan Rasul yang dinantikan kedatangannya. Namun ketika ternyata Nabi yang diharapkan dan dinantikan kedatangannya selama ini bukan dari bangsa Yahudi sendiri, maka mereka dengan serta merta mendustakannya. Penolakan yang mereka lakukan di antaranya dengan jalan melakukan perubahan-perubahan pada teks-teks Taurat, sehingga kata-kata aslinya kabur dan hilanglah pengertian yang sebenarnya. Dengan cara ini maka masyarakat menjadi ragu-ragu atas kebenaran pernyataan Nabi saw.
Bangsa Yahudi, di samping melakukan pemalsuan ayat-ayat Taurat, juga menjadi mata-mata musuh di tengah masyarakat Islam. Mereka menyampaikan berita pada pemimpin-pemimpin musuh Islam mengenai hal ihwal ummat Islam yang mereka ketahui. Tujuan penyampaian berita kepada musuh ini agar mereka dapat menerima kebohongan yang mereka propagandakan. Cara mereka membuat kebohongan ialah memberikan tambahan komentar-komentar terhadap peristiwa-peristiwa tertentu yang terjadi pada masyarakat Islam atau dengan memutarbalikkan fakta. Karena biasanya kabar-kabar bohong dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat, kalau yang memberitahukannya itu orang-orang yang menyaksikannya sendiri atau terlibat di dalamnya. Karena itu bangsa Yahudi mengatur siasat berpura-pura terlibat di dalam masyarakat Islam. Yang melakukan keterlibatan ini adalah tokoh-tokoh yang mahir menciptakan kebohongan-kebohongan. Kemudian tokoh-tokoh ini menyebarkannya kepada sesama orang Yahudi, sehingga masyarakat Yahudi lebih senang mendengarkan cerita-cerita bohong ini daripada mendengar dakwah Rasulullah saw.
Para tokoh bangsa Yahudi memberi nasehat kepada kalangan awam, bagaimana cara mereka harus menghadapi ajakan Rasulullah kepada Islam. Sebelum orang-orang Yahudi awam datang untuk mendengar dakwah Rasulullah, mereka telah dibekali dengan ayat-ayat Taurat yang sudah dipalsukan. Para tokoh Yahudi berpesan, kalau ajaran-ajaran Nabi Muhammad sejalan dengan ayat-ayat Taurat yang diberikan oleh pemimpin-pemimpin Yahudi ini, maka mereka disuruh mengikutinya. Tetapi kalau tidak sejalan, maka mereka dilarang mengikutinya.
Contoh kasus yang dihadapkan oleh orang-orang Yahudi kepada Rasulullah ialah seorang laki-laki dan perempuan Yahudi berzina. Para pemimpin Yahudi bermaksud meminta keputusan hukum kepada Nabi tentang perbuatan tersebut. Di dalam Taurat telah disebutkan bahwa orang yang berzina dijatuhi hukuman rajam. Tetapi mereka bermaksud untuk tidak menjalankan hukuman ini, karena merasa kasihan. Oleh sebab itu mereka mengharapkan Nabi akan menetapkan hukum yang mereka kehendaki.
Para pemimpin Yahudi berpesan kepada orang-orang Yahudi yang disuruh datang kepada Nabi saw. dengan kata-kata , “Jika Muhammad memberikan keringanan kepadamu berupa hukuman dera sebagai pengganti hukuman rajam, maka terimalah. Tetapi kalau tetap menjatuhkan hukuman rajam, maka tolaklah.”
Tatkala mereka sampai kepada Nabi dan menceritakan persoalannya, lalu Nabi bertanya kepada mereka, “Bagaimana Taurat menetapkan hukuman terhadap perbuatan ini?“ Mereka kemudian membacakan Taurat tetapi dengan tidak membaca yang sebenarnya. Tatkala Nabi menerangkan bahwa Taurat pun menetapkan hukuman rajam, mereka dengan serta merta menolak.
Sikap bangsa Yahudi yang selalu bersikeras menolak kebenaran yang datang dan non-Yahudi tidak hanya di dalam urusan agama tetapi berlaku di dalam semua aspek kehidupan. Hal ini terbukti dan sikap mereka memalsukan isi Taurat dan sejak persoalan akidah ketuhanan sampai dengan ketentuan hukuman atas perbuatan zina yang tersebut pada ayat ini.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 165 - 168

Sabtu, 11 Februari 2012

BANGSA YANG DIBEBANI HUKUM YANG BERAT KARENA MENTAL MEREKA BOBROK

Allah berfirman (QS. Al-Maidah : 32)
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) kepada Bani Israil, bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seseorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”

Bangsa Yahudi banyak sekali menerima kiriman Rasul-Rasul Allah dengan membawa perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk untuk membimbing mereka menjadi manusia yang baik. Telah diperintahkan kepada mereka untuk memelihara keselamatan manusia dan melindungi jiwa setiap orang. Bahkan kepada mereka diberikan ancaman hukuman yang keras bila berani melakukan pembunuhan kepada siapapun. Tetapi karena akhlaq bangsa Yahudi telah begitu bobrok, maka mereka sulit dididik akhlaqnya dan dibersihkan mentalnya. Mereka tetap berani melakukan pembunuhan, bahkan membunuh para Nabi sekalipun.
Penyebab bangsa Yahudi masih tetap melakukan pembunuhan adalah karena timbulnya perasaan dengki pada diri mereka. Kedengkian senantiasa menjadi sumber perselisihan dan pertentangan di tengah masyarakat. Seorang pendengki sangat tidak senang melihat orang lain memperoleh kebahagiaan dalam bentuk apapun. Karena itu seorang pendengki tidak berkeberatan berbuat jahat kepada korbannya, sekalipun mengakibatkan kematiannya.
Suatu bangsa yang para warganya saling dengki satu dengan lainnya, niscaya tidaklah akan sempat memproyeksikan semangat anak-anak bangsanya mencapai kemajuan di tengah-tengah bangsa lain, tidak dapat melakukan kerjasama yang baik untuk kemaslahatan dan kemajuan dalam pergaulan hidup, sehingga mereka akan menjadi budak bangsa lain. Padahal dahulu mereka pernah menjadi majikan. Mereka pun akan menjadi bangsa yang hina padahal dahulu menjadi bangsa yang mulia dan hidup makmur serta sejahtera.
Salah satu hukuman berat yang dikenakan kepada bangsa Yahudi untuk mengobati mental mereka yang bobrok ialah larangan bekerja pada hari Sabat. Selama satu hari mereka harus beribadah terus menerus, tidak boleh mencari rezki dan tinggal di dalam rumah. Begitu pula lama masa berpuasa. Mereka diwajibkan berpuasa dari sejak terbit fajar sampai bintang tampak di malam hari, Hukum-hukum yang berat semacam ini adalah untuk membersihkan mental mereka agar dapat menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan durhaka dan melampaui batas, Namun ternyata mereka tetap juga menjadi manusia durhaka.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 163 - 165

Selasa, 07 Februari 2012

BANGSA YANG PALING PENGECUT

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 22)
”Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari padanya. Jika mereka keluar dari padanya, pasti kami akan memasukinya.”

Bangsa Yahudi masa Nabi Musa diperintahkan untuk bermigrasi ke negeri Palestina. Penduduk Palestina pada saat itu adalah orang-orang perkasa dan bersikap totaliter. Palestina pada saat itu dihuni oleh suku Inaq.
Dalam riwayat-riwayat yang tersebar dikalangan bangsa Yahudi diceritakan bahwa penduduk Palestina adalah bagaikan raksasa. Kata mereka , “Mata-mata yang dikirimkan oleh Musa pada penduduk tanah suci di belakang daerah Yordan ada 12 orang, guna memata-matai dan menyebarkan situasi negeri dan penduduk sebelum kaumnya masuk ke sana. Para mata-mata ini kemudian terlihat oleh salah seorang penduduk yang perkasa, lalu menangkap mereka semua dan dimasukkannya ke dalam bajunya.
Pada riwayat lain disebutkan, “Salah seorang mereka ini ketika itu memetik buah. Sewaktu itu ia menangkap salah seorang dari mata-mata tersebut lalu ia masukkan orang tersebut bersama buahnya ke dalam lengan bajunya.
Riwayat ini muncul sebagai cermin dari mental pengecut bangsa Yahudi di dalam menghadapi resiko perjuangan. Untuk memperoleh dalih yang membenarkan sikap pengecut mereka, maka musuhnya digambarkan secara berlebihan sebagai manusia raksasa.
Dalam buku ke empat dari Kitab Taurat disebutkan sebuah penuturan tentang bangsa Palestina sebagai berikut, “Para mata-mata itu memata-matai negeri Kan’an sebagaimana diperintahkan kepada mereka. Ketika mereka kembali, mereka memotong sebatang pohon arak yang menggantung padanya seuntai kurma. Batang pohon ini dipikul oleh dua orang di antara mereka. Di samping itu mereka pun membawa sedikit buah delima dan tin. Mereka berkata kepada Musa yang sedang berada di tengah-tengah tokoh-tokoh Bani Israel “Kami telah sampai di negeri yang tuan kirim kami ke sana. Sungguh di tempat itu banyak sekali susu dan madunya dan ini adalah buahnya. Tetapi bangsa yang mendiami tempat itu gagah-gagah. Kotanya dikelilingi benteng yang hebat sekali. Di sana kami melihat pula Bani ‘Inaq. Dan seterusnya ia berkata , “Kami lihat pula di sana orang-orang raksasa, yakni orang Bani ‘Inaq yang tinggi besar lagi seram. Sehingga kami ini terasa kecil bagai belalang, baik di mata kami sendiri maupun di mata mereka.”
Dalam Taurat pun disebutkan reaksi bangsa Yahudi terhadap perintah Nabi Musa untuk memasuki negeri Palestina. Di sana disebutkan, “Bani Israel mengingat perintah Musa untuk masuk ke Tanah suci itu. Tetapi mereka menangis dan mengharapkan lebih baik mati di negeri Mesir atau di daratan lain”. Mereka berkata , “Untuk apa Tuhan menyuruh datang ke negeri ini, sehingga kami terperangkap di bawah pedang, kemudian istri dan anak-anak kami menjadi barang rampasan. Bukankah lebih baik kita kembali saja ke Mesir ?“
Negeri yang dijanjikan oleh Musa kepada bangsa Yahudi adalah negeri yang subur makmur. Untuk bisa memasuki negeri tersebut Nabi Musa menyuruh mereka agar bersiaga penuh dan siap berperang melawan penduduk negeri tersebut. Tetapi karena mereka dahulunya adalah bangsa yang hidup dalam perbudakan bangsa Mesir dan selalu teraniaya, maka akhirnya mereka menjadi bangsa yang berjiwa lemah, pengecut dan tak pernah berani mengambil resiko. Untuk menutupi sikap pengecutnya mereka mencari dalih, bahwa penduduk negeri Palestina gagah dan perkasa. Karena itu mereka memilih lebih baik kembali ke Mesir. Mereka berkata kepada Musa , “Kami tidak akan mau masuk ke dalam negeri itu selama penduduknya yang gagah perkasa masih ada di sana.”
Ucapan mereka semacam ini adalah penolakan terhadap perintah Nabi Musa dan bukti betapa semangat mereka untuk menjadi manusia merdeka telah menjadi hancur, sehingga lebih baik mereka hidup dalam perbuatan dan kemelaratan daripada menanggung resiko. Bangsa Yahudi yang telah mengalami kebobrokan mental dan sikap pengecut sampai titik serendah ini menyebabkan mereka selalu tampil berlebih-lebihan jika mendapatkan sedikit ruang kebebasan. Karena itu di saat mereka dibebaskan oleh Nabi Musa dari cengkeraman bangsa Mesir mereka tidak mampu hidup secara mulia dan kesatria, bahkan sampai dengan abad kita ini bangsa Yahudi di Israel menjadi bukti dan kebenaran ayat ini.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 160 - 163

Senin, 06 Februari 2012

BANGSA YANG MENGAKU MENJADI ANAK TUHAN DAN KEKASIHNYA

Allah berfirman : (QS. Al-Maidah : 18)
”Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya” Katakanlah, ”Ttetapi mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa saja yang didikehendaki-Nya. Dan kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya. Dan kepada Allahlah tempat kembali.”

Dalam Injil Matius Nabi Isa as. pernah bersabda kepada murid-rnuridnya : “Berbahagialah orang-orang yang berbuat baik, karena mereka ini adalah anak-anak Tuhan”.
Sabda Nabi Isa ini sebenarnya adalah merupakan ungkapan kiasan, yaitu kata “anak-anak Tuhan” dipakai sebagai pengertian “kekasih Tuhan”. Karena mereka yang berbuat kebaikan mendapatkan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Namun bangsa Yahudi khususnya, dan Ahli Kitab pada umumnya menggunakan sabda Nabi Isa ini sebagai dalih, bahwa mereka Sebagai anak-anak Tuhan.
Pengakuan bangsa Yahudi dan Nusrani yang diri mereka sebagai anak-anak Tuhan dan kekasih-Nya, oleh Allah diminta untuk membuktikan kebenarannya. Oleh karena itu di dalam ayat ini Allah mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu mendapat siksa dan hukuman karena dosa kamu di dunia ini ?“
Sejarah bangsa Yahudi membuktikan, bahwa Haekal Sulaiman (Istana Nabi Sulaiman) yang menjadi pujaan bangsa Yahudi dapat dihancurkan oleh bangsa Romawi dan mereka kemudian menjadi bangsa yang dijajah oleh bangsa asing ini. Kerajaan Yahudi yang begitu jaya, mengapa menjadi hancur binasa karena serbuan bangsa Romawi ? Bangsa Yahudi yang mengaku menjadi anak-anak Tuhan diminta oleh Allah untuk membuktikan sampai dimana kebencian mereka itu. Sebab seorang bapak yang baik tentu tidak akan menyiksa dan menghukum anaknya sehingga mengalami kehuncuran dan nasib malang. Adanya bukti sejarah mengenai kehancuran kerajaan bangsa Yaliudi dan porak-porandanya Haekal Sulaiman membuktikan kebohongan pengakuan mereka.
Ayat ini menegaskan bangsa Yahudi sama dengan manusia lain. Kepada mereka berlaku secara mutlak segala sunnatullah. Sebagaimana manusia pada umumnya, kalau berbuat dosa mendapat hukuman dari Allah, maka bangsa Yahudi pun begitu juga. Allah, Sang Maha Pencipta, secara mutlak berkuasa mengatur segalanya sejalan dengan ilmu-Nya, hikmah-Nya, keadilan-Nya dan rahmat-Nya. Semua manusia adalah hamba-Nya dan tak ada seorang pun yang menjadi anak laki-laki atau perempuan-Nya
Bangsa Yahudi dengan menyalahgunakan kelebihan karunia pada mereka di atas bangsa-bangsa lain, membentuk anggapan palsu sebagai bangsa pilihan Tuhan. Karena itu mereka menganggap bangsa lain tidak berhak menuntut persamaan derajat dengan mereka, sekalipun iman dan amal perbuatan mereka jauh lebih baik. Bangsa Yahudi merasa tidak patut beriman kepada Muhammad yang keturunan Arab itu. Sebab bangsa Arab tidak semulia bangsa Israel. Mereka beranggapan bangsa yang mulia tidak patut menjadi pengikut bangsa yang lebih rendah.
Nabi saw. memerangi tipu daya bangsa Yahudi dengan gigih. Namun bangsa Yahudi selalu saja menolak setiap kebenaran yang ditampilkan Rasulullah saw. Misalnya Nabi mengajarkan bahwa hanya dengan iman dan amal shaleh seseorang dapat menjadi hamba yang dicintai Allah. Tetapi bangsa Yahudi tetap bersikeras bahwa hanya merekalah yang bisa menjadi kekasih Tuhan, sekalipun mereka berbuat dosa sebesar apapun. Bahkan mereka tidak merasakan perlu adanya syari’at baru yang memperbaiki agama mereka yang sudah begitu bobrok. Sebab bagi mereka keyahudian itulah satu-satunya jaminan memperoleh jalan kebenaran. Maka tidaklah heran kalau kita menyaksikan bangsa Yahudi berani melakukan kejahatan apapun di dunia ini terhadap manusia lain di luar bangsa Yahudi.
--------
76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989, halaman 157 - 160