"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Bibel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bibel. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2014

UJUNG PEMBELAJARAN

Setelah kita sekian lama menjelajah dan mengarungi lautan Kitab Perjanjian Lama dan Baru yang dipercayai sebagai kitab wahyu Ilahy, sekarang marilah kita lepaskan pikiran kita dari pengaruh kewahyuhan sesuatu kitab, dan marilah kita mentas dari lautan pemikiran tentang kewahyuan. Marilah kita mendarat ke daratan bebas, agar dapat lebih obyektif mengenai apa yang sebenarnya dinamakan wahyu Allah. Marilah kita hadapi Tuhan dengan sifat ketuhanan-Nya. Marilah kita menghadap Tuhan kita dengan mata dan hati terbuka.
Adalah suatu kewajaran dan keharusan bahwa Tuhan memiliki sifat-sifat yang menunjukkan keilahan-Nya dan dengan sifat-sifat itulah Tuhan adalah Tuhan Yang Esa, Yang Maha Kuasa dan Berkehendak serta Menentukan. Sifat-sifat itu sama qadiemnya dengan Dzat Tuhan sendiri, serta sifat-sifat itu merupakan sifat Kesempurnaan. Tuhan Maha Sempurna, karena itu Dia terhindar dari sifat-sifat yang tidak sempurna. Selain memiliki sifat Dzat (pribadi) yang sempurna itu. Tuhan juga bersifat dengan sifat-sifat yang melimpah kepada makhluk, yaitu antara lain sifat Rahman dan Rahim, memberi pahala dan hukuman; memberi petunjuk, perintah dan larangan yang merupakan Undang-undang Ilahi.
Tuhan bersifat Kalam atau Bersabda dan Yang Senantiasa Bersabda. Dengan sabda-Nya itulah Tuhan menyatakan kehendak-Nya yang senantiasa berlaku; maka tiada satupun terjadi di luar kehendak-Nya, meskipun hanya gugurnya daun kering dari tangkainya. Dengan Kehendak, Kekuasaan dan Kalam Allah ini telah terjadi alam dunia beserta segala isi dan gerak-geriknya dalam ketertiban pemeliharaan-Nya, yang orang namakan undang-undang alam yang setelah digali menghasilkan bermacam ilmu pengetahuan bagi manusia.
Kemudian dapat kita ketahui bahwa dengan Kalam Allah itu pula, Dia memberikan petunjuk, perintah dan larangan kepada, manusia untuk menjadi undang-undang dan tuntunan hidupnya. arena Dia adalah Tuhan serta Raja, tentulah Dia menentukan dalam Sabda-Nya ganjaran apa yang akan dikaruniakan-Nya kepada hamba yang mentaati petunjuk dan perintah serta larangan-Nya; serta menentukan hukuman bagi hamba yang mengingkarinya dan melanggar undang-undang-Nya. Kalam Allah dinamakan juga Wahyu. Dengan keterangan tersebut di atas, wahyu Allah dapat kita bagi menjadi tiga :
Pertama : Wahyu ‘Am atau wahyu Umum. Dengan wahyu ini Allah menjadikan seluruh makhluk, maka dinamakan wahyu khalqi. Wahyu taqdiri ialah wahyu yang menentukan segala gerak dan nasib makhluk-makhluk itu, menentukan segala apa yang terjadi, Wahyu ‘Am yang bersifat khalqi dan taqdiri ini berlangsung terus, karena itu Allah bersifat Mutakallim atau “senantiasa bersabda”: — (Dalam hal ini orang sering bersalahpaham dengan berpendapat : karena wahyu masih turun terus maka masih dapat sekarang ini orang menjadi Nabi).
Kedua : Wahyu Hidayah atau disebut juga “Ilham”. Wahyu ini berisi petunjuk dan dikaruniakan Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, yaitu karunia pengertian dan kesadaran mana yang baik dan buruk serta mana yang hak dan batil. Maka sangat utama kita sering mendo’a memohon hidayah Allah. — (Dalam hal inipun orang sering keliru paham lalu merasa mendapat wahyu dan menjadi Nabi, atau bersemadi ke tempat yang terpencil untuk mendapat wahyu.
Ketiga : Wahyu Syar’i atau Wahyu Agama. Wahyu Syar‘i ini hanya dikaruniakan kepada Nabi dan Rasul, lain tidak. Sangat berbeda dengan Wahyu ‘Am dan Wahyu Hidayah. Kalau Wahyu ‘Am hanya merupakan perintah terjadinya makhluk ini dan itu serta terjadinya peristiwa ini dan itu, dan kalau Wahyu Hidayah juga hanya merupakan pemberian kesadaran dan pengertian; maka Wahyu Syar’i merupakan : perkataan (firman) Allah yang telah tersusun lengkap berupa kalimat-kalimat yang difirmankan Allah. Isinya memuat agama yaitu : Iman dan Keesaan Allah, perintah dan larangan serta pahala dan siksa, serta tuntunan jelas bagi kehidupan manusia di dunia.
Wahyu Syar’i ini khusus kepada Nabi dan Rasul; agar Nabi dan Rasul itu memperdengarkan firman-firinan Allah itu ke telinga dan hati manusia. Firman-firman Allah inilah yang dinamakan Kitab Allah atau Kitab Suci. Dinamakan Kitab Suci karena dia Firman Allah Yang Mahasuci, Suci dari segala kekurangan, kekhilafan dan kesalahan, dan bersih dari tercampur oleh kata-kata susunan manusia. Orang Kristen menamakan wahyu ini “wahyu mekanis” karena sipenerima (Nabi dan Rasul) hanya menjadi corong. Memang wahyu Syar’i adalah firman Allah maka wajib bersifat mekanis, Rasul sekadar mengulang kembali firman itu tanpa merobah atau menambah dan mengurangi.
Kitab Allah memiliki ciri khusus, yang dengan memperhatikan adanya ciri-ciri itu kita dapat menentukan apakah sesuatu Kitab Suci adalah benar-benar wahyu Allah.
Ciri-ciri itu sebagai berikut :
  1. Tiada terdapat perselisihan antara ayat dengan ayat lainnya.
  2. Dengan jelas dan tegas menerangkan Keesaan Allah, tidak sama dan tidak disamai atau hampir disamai oleh lain-Nya. Dengan muthlak Allah itu Esa tidak samar atau ragu tidak seakan-akan dijumbuhkan dengan lain-Nya.
  3. Menerangkan dengan jelas dan tegas keadaan Syurga di akhirat sebagai pahala : serta keadaan Neraka di akhirat sebagai hukuman bagi manusia kafir dan ingkar.
  4. Memberikan tuntunan hidup bermasyarakat bagi manusia dalam segala segi kehidupannya.

Adapun pengertian tentang Keesaan Tuhan adalah sebagai berikut :
  • Esa dalam Dzat-Nya, artinya : Allah itu Satu tidak ada yang menyamai dan tidak tersusun dari beberapa unsur atau oknum menjadi satu.
  • Esa dalam Sifat-Nya, yaitu memiliki Sifat-sifat yang sempurna yang tidak disamai oleh apapun.
  • Esa dalam Af’al-Nya, yakni Allah berbuat atas kehendak dan kekuasaan-Nya sendiri dan tak ada suatupun yang menyamai atau menghalangi perbuatan Allah

Sekian semoga Allah memberi hidayah kepada segala hamba-Nya. Amien.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 72-74.

Sabtu, 19 April 2014

Perselisihan yang terdapat dalam keempat Injil (4)

TENTANG DISALIBNYA YESUS
Menurut kisah dalam Injil, Yesus telah disalibkan dan wafat lalu dikuburkan, kemudian bangkit lagi pada hari ketiga dan naik ke langit lalu duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Sebagaimana dalam hal-hal lain maka dalam kisah pensaliban Yesus inipun terdapat perbedaan dan perselisihan, baik dalam jalannya kisah maupun dalam nama tempat dan pelaku-pelakunya. Kisah ini terbagi dalam 4 bagian :

a. Penangkapan Yesus
Injil Matius mengisahkan penangkapan Yesus yang ringkasnya sebagai di bawah ini :
  1. Yesus bersama murid-murid datang ke sebuah taman bernama Getsemani. Dibawanya Peterus, Yakub dan Yahya bin Zabdi berasing, dan murid-murid lainnya disuruh tinggal menunggu.
  2. Yesus memisahkan diri dari ketiga muridnya itu lalu berdo’a, lalu kembali dan mendapati ketiga muridnya itu tertidur.
  3. Peterus dijagakannya dan disuruhnya berdo’a. Lalu ia memisahkan diri lagi dan berdo’a. Ketika kembali didapatinya ketiga muridnya tertidur pula.
  4. Dibiarkannya mereka tidur, lalu ia pergi berdo’a lagi. Setelah kembali lalu dibangunkannya mereka untuk diajak pergi.
  5. Pada ketika itu datanglah Yudas membawa Lasykar untuk menangkap Yesus. Yudas murid yang berkhianat itu telah memberi isyarat kepada lasykar bahwa siapa yang nanti diciumnya, itulah Yesus yang harus ditangkap.
  6. Yudas mencium Yesus yang lalu ditangkap oleh lasykar itu.
  7. Seorang murid Yesus menghunus pedangnya lalu memarang mengerat telinga hamba Imam besar yang ikut datang bersama lasykar.
  8. Yesus melerai dan menyuruh dia menyarungkan pedangnya.
  9. Setelah Yesus ditangkap itu, sekalian murid lari meninggalkan dia.

Injil Markus meriwayatkan penangkapan Yesus itu kurang lebih sama seperti Matius. Hanya Markus menambahkan bahwa ketika Yesus dibawa pergi oleh lasykar, adalah seorang muda mengikutinya. Pakaiannya hanya selembar kain putih yang halus. Ketika lasykar itu menangkapnya, dilepaskannya kainnya itu lalu lari telanjang bulat. Mungkin dia ini Markus sendiri.
Adapun Injil Lukas jauh berbeda kisahnya tentang penangkapan itu. Perbedaan itu sebagai berikut :
  1. Kalau Matius dan Markus menerangkan bahwa Yesus pergi ke bukit Zaitun lalu ke taman Getsemani di mana ia di tangkap, maka Lukas meriwayatkan ditangkapnya Yesus di bukit Zaitun dengan tidak menyebutkan Getsemani.
  2. Lukas tidak menyebutkan bahwa Yesus membawa berasing Peterus, Yakub dan Yahya.
  3. Yesus melihat malaikat dari langit mengkuatkan dia.
  4. Yesus ketakutan amat sangat dan karena kesungguhan mendo’a, peluhnya menjadi seperti darah menitik ke bumi
  5. Yesus mendo’a hanya sekali, lalu kembali kepada murid-muridnya yang tertidur. Tengah membangunkan mereka datanglah Yudas membawa lasykar, lalu mencium dia.
  6. Telinga hamba Imam Besar yang terkerat karena pedang, dijamah Yesus hingga pulih kembali.

Injil Yahya lain pula kisahnya, yaitu : (untuk lebih jelas mempelajari riwayat ini dipersilahkan pembaca menelaah buku Sekitar Kristologi)
  1. Yesus tertangkap dalam taman tetapi tidak diterangkan namanya.
  2. Yudas tidak mencium Yesus. Laskar mengetahui yang mana Yesus karena bertanya yang dijawab oleh Yesus dengan mengatakan dirinya.
  3. Kalau ketiga Injil lainnya tidak menerangkan nama murid yang memarang telinga hamba Imam dan tidak pula nama hamba itu, maka Yahya menerangkan bahwa murid itu ialah Peterus dan nama hamba itu Malchus (Yahya 18 : 1 – 12).

Keterangan :
Ada suatu hal yang sangat penting yang dalam keempat Injil itu tidak ada perselisihan dan bahkan setuju dan sepakat, yaitu kenyataan bahwa lasykar yang akan menangkap Yesus itu, mereka belum kenal kepada Yesus hingga Yudas terpaksa harus memberi isyarat ciuman dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Adapun dalam Injil Yahya, lasykar itu tidak kenal yang mana Yesus hingga merasa perlu Yesus mengakui dirinya sampai dua kali apa lagi penangkapan itu terjadi dalam malam gelap-gulita yang hanya di terangi oleh tanglung.

b. Sesudah penangkapan
Peterus dahulunya sebelum bertemu dengan Yesus bernama Simon, dia bersama saudaranya Andreas adalah permulaan orang yang menjadi murid. Ia seorang yang kuat, tabah dan berani; karena itulah Yesus memanggil dia Kifas, atau Peterus, yang berarti “batukarang.” Dia bersedia mati guna melindungi Yesus, dan itu dibuktikannya dengan menghunus pedang serta memarang telinga hamba Imam Besar dihadapan lasykar yang hendak menangkap Yesus.

Dalam Injil Lukas 22 : 34 dikisahkan sebelum Yesus ditangkap ia mengatakan kepada Peterus : “Hai Peterus, ayam tidak akan berkokok hari ini sehingga engkau bersangkal tigakali, bahwa tiada engkau kenal Aku.”
Setelah Yesus ditangkap lalu dibawa menghadap Imam Besar Kayafas untuk diperiksa. Sekalian muridnya telah lari kecuali Peterus yang gagah berani itu. Diikutinya Yesus dibawa masuk ke rumah Imam Besar. Dicampurkannya dirinya ke tengah lasykar yang sedang berdiang di halaman. Seorang dayang menatapnya lalu berkata : “Orang ini juga beserta dngan Dia”. — Peterus menyangkal:
“Hai perempuan, aku tidak kenal Dia.” (Satu kali Peterus menyang kal mengenal Yesus).
Datang lagi seorang mengatakan : “Engkau pun seorang dari pada mereka itu.” Jawab Peterus : “Hai orang, aku tidak.” (Peterus tidak menyangkal mengerial Yesus, tetapi menyangkal menjadi kawan Yesus).
Satu jam sesudah itu seorang lagi mengatakan : “Dengan sesungguhnyaaorang ini juga beserta dengan Dia, karena orang ini pun orang Galilea.” Dijawab Peterus: ,,Hai orang, tiada aku mengerti apa engkau katakan.” — (Peterus tidak menyangkal mengenal Yesus) — Ayam pun berkokok.
Dalam ThjiI Yahya 18 : 17, 25 – 26, Peterus menyangkal tiga kali, tetapi bukan menyangkal mengenal Yesus. Dua kali ia menyangkal menjadi murid orang itu, dan sekali menyangkal bahwa ia pernah di dalam taman .bersama dia (yang tertangkap itu) — Lalu ayam berkokok.
Dalam Injil Markus pasal 16. Peterus menyangkal tiga kali dan ayam berkokok dua kali. Seorang dayang Imam Besar berkata padanya : “Engkau juga bersama-sama dengan Yesus, orang Nasaret itu.” Jawab Peterus : ‘Aku tiada tahu, dan tiada aku mengerti apa katamu ini” — (Tidak menyangkali Yesus) — Ayam berkokok pertama kali. Sekali lagi dayang itu berkata : “Ia inipun seorang daripada mereka itu.” Peterus menyangkal — (bahwa ia bukan dari pada rombongan Yesus, jadi tidak menyangkali Yesus) — Sejurus lagi beberapa orang berkata : “Sesungguhnya engkau seorang dari pada mereka itu, karena engkau juga orang Galilea”. Peterus lalu bersumpah dan katanya : “Tiada kukenal orang yang kamu katakan itu.” — (Tiada jelas siapa yang dimaksud oleh Peterus, orang yang tak dikenalnya itu) — Ayam lalu berkokok kedua kalinya — Kemudian Peterus teringat kata Yesus kepadanya : “Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau sudah menyangkai Aku tiga kali.”
Adapun Injil Matius 24 : 26 memberitakan Yesus berkata kepada Peterus : “..... pada malam ini juga, sebelum ayam berkokok kelak engkau sudah menyangkal Aku tiga kali.” Tetapi Peterus ketika dikatai orang : “Engkau juga bersama-sama dengan Yesus ……..” dia menjawab : “Tiada aku mengerti apa yang engkau katakan.” (tidak menyangkali Yesus) — Orang berkata lagi : “Orang inipun ada bersama-sama dengan Yesus . . . . .” Peterus bersumpah menyangkal : “Tiada aku kenal orang itu” — (Jika Peterus berkata : “Tiada aku kenal dia; maka “dia” itu adalah Yesus dalam perkataan dayang itu. Tetapi karena Peterus menyatakan “orang itu,” maka ialah orang yang ditangkap malam itu, yang kalau menurut Injil tak lain daripada Yesus). — Lalu ada orang lagi berkata pada Peters : “Sesungguhnya engkau ini juga seorang daripada mereka itu Peterus bersumpah : “Tiada aku kenal orang itu.” Ayam pun berkokok.

c. Persaliban Yesus
Menurut adat kebiasaan, setiap orang yang akan dihukum salib harus memanggul sendiri salibnya sampai ke tempat pensaliban. Yesus demikian juga. Dengan susah-payah memanggul salibnya di iringkan lasykar. Orang yang mengarak amat banyaknya. Mereka mengejek dan menyakiti Yesus dalam perjalanan yang jauh itu, Berulangkali dia jatuh bangun di bawah hardik lasykar yang tak kenal kasihan itu, hingga akhirnya tak kuasa lagi memanggul salibnya yng besar dan berat itu, perjalanan terhenti. Lasykar menangkap seorang yang baru pulang dan bedang lalu dipaksanya memanggul salib Yesus. Orang itu bernama Simon dari Kireni. Demikianlah Simon Kireni memanggul salib Yesus sampai di tempat pensaliban yang bernama Golgota (tempat tengkorak). Lalu Yesus pun disalib.
Riwayat di atas tersebut dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Tetapi ketiganya tidak menyebutkan bahwa setelah sampai di Golgota, lasykar melepaskan Simon Kireni dan salib itu.
Tetapi Injil Yahya tidak menyebut-nyebut tentang Simon Kireni itu. Mungkin karena tidak mengetahui atau tidak mempercayai atau tidak menganggap perlu untuk menyebutnya, atau tidak suka menyebutnya.

d. Yesus bangkit dari kubur
Pada pokoknya keempat Injil meriwayatkan bahwa setelah Yesus mati di kayu salib, iapun diturunkan dan mayatnya dikubur oleh seorang yang bernama Yusuf dari Arimatea atas izin Pilatus wakil Kerajaan Roma di tanah Yahudi. Pada hari ketiga Yesus hidup lagi dan bangkit dari kubur, menemui dan memberi pesan kepada kesebelas muridnya kemudian naik ke Syurga duduk sebelah kanan Sang Bapa. Tetapi dalam keempat Injil itu terdapat per selisihan satu deagan lainnya dalam beberapa perkara, yaitu :
  1. Menurut Injil Matius. Pilatus menempatkan orang menjaga kubur Yesus. Terjadi gempa bumi karena malaikat turun dari Syurga lalu menggolekkan batu penutup gua kuburan Yesus. Penjaga gemetar ketakutan. Malaikat itu lalu memberitahu kepada Maryam Magdalena dan Maryam yang lain yang datang untuk melihat kuburan Yesus, bahwa Yesus telah keluar dari kubur. Kedua perempuan itu kembali dari bertemu dengan Yesus, yang memberi perintah kepada keduanya untuk memberitahu murid-muridnya bahwa ia telah bangkit dari kubur. Yesus berpesan agar muridnya itu menemui dia di Galilea. Lasykar penjaga memberitahu segala yang terjadi itu kepada Kepala-kepala Imam bangsa Yahudi. Mereka itu lalu memberi suap yang perak kepada lasykar itu agar menyiarkan berita bahwa mayat Yesus telah dicuri oleh murid-muridnya. Maka percayalah orang orang Yahudi bahwa mayat Yesus hilang dicuri murid-muridnya.
  2. Dalam Injil Markus tidak diberitakan bahwa kuburan Yesus dijaga oleh lasykar atau orang Pilatus. Yang menjenguk kuburan Yesus tidak hanya Maryam Magdalena dan Maryam ibu Yakub, tetapi tiga orang dengan Salome. Mereka dapati kuburan telah terbuka dan mereka masuk kedalamnya, dilihatnya seorang muda berjubah putih. Orang muda itu berkata bahwa Yesus telah bangkit, dan berpesan agar disampaikan kepada murid-muridnya untuk menemui Yesus di Galilea. Karena takutnya peristiwa itu tidak di sampaikan kepada siapapun. Akhirnya Yesus memperlihatkan diri kepada Maryam Magdalena, maka pergilah perempuan itu memberitahukan hal itu kepada sekalian murid-muridnya Yesus.
  3. Injil Lukas lain pula kisahnya. Tentang kuburan Yesus di jaga lasykar tidak diceritakan. Banyak perempuan yang menjenguk kuburan Yesus, mereka itu ialah sekalian yang datang bersama Yesus dan Galilea. Nama yang disebut Lukas hanya : Maryam Magdalena, Maryam ibu Yakub dan Yohana. Mereka dapati batu penutup telah tergolek dan kuburan telah kosong. Maka tiba-tiba ada dua orang berdiri di sisinya berpakaian yang bersinar-sinar, memberitahu bahwa Yesus sudah baugkit. Perempuan-perempuan itu kembali dan memberitakan kabar itu kepada murid-murid dan orang-orang lain. Mereka tak percaya. Peterus pergi ke kuburan dan menjenguk ke dalam, kubur telah kosong yang ada hanya kain kafan.
  4. Adapun Injil Yahya juga tidak mengatakan bahwa kuburan Yesus dijaga. Perempuan yang datang ke kubur hanya seorang yaitu Maryam Magdalena. Dilihatnya batu penutup telah tergolek, Ia tidak masuk melainkan kembali berlari menemui Peterus dan seorang murid lain yang dikasihi Yesus (mungkin Yahya bin Zabdi). Keduanya berlari ke kuburan, didapati telah kosong, lalu pulang ke rumahnya. Tetapi Maryam Magdalena masih tinggal di luar kuburan dengan menangis. Ketika menjenguk ke dalam dilihatnya dua malaikat yang menanyakan mengapa dia menangis. Setelah menjawab, Maryam berpaling lalu nampak olehnya Yesus berdiri tetapi tak dikenalnya. Setelah Yesus memaggil namanya barulah kenal perempuan itu kepadanya, lalu menyembah dengan katanya : “Rabbuni” (Guruku). Kata Yesus : “Janganlah engkau menyentuh Aku, karena belum aku naik kepada Bapa, tetapi pergilah engkau kepada segala saudaraku, dan katakanlah pada mereka itu : Aku naik kepada Bapaku dan Bapamu dan kepada Tuhanku dan Tuhanmu”.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 63-69.

Kamis, 17 April 2014

Perselisihan yang terdapat dalam keempat Injil (3)

TENTANG YESUS SEHAKEKAT DENGAN ALLAH
Kepercayaan agama Masehi mengatakan bahwa Yesus sehakekat dengan Allah, karena itu Allah juga, antara lain tersebut dalam :
“Aku dan Bapa itu satu adanya”. (Lukas 10 : 30).
“Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”. (Yahya 14 : 9).
“Percayalah akan Daku bahwa Aku ini di dalam Bapa dan Bapapun di dalam Aku”. (Yahya 14 : 11).
Meskipun dalam keempat Injil tidak terdapat kata “sehakekat”, namun dari tersebut di atas telah disimpulkan bahwa Yesus itu sehakekat dengan Allah. Kesimpulan itu mempunyai sejarahnya sendiri, sebagai berikut :
Terpengaruh oleh ajaran Yunani tentang emanasi (pemancaran), maka Origenes (185 – 254) mengajarkan bahwa “Logos” atau “Kalam” atau “Anak Allah” itu meskipun dipandang dari sudut manusia, dapat dikatakan Allah; tetapi dipandang dan sudut Allah maka Kalam itu hanya pemancaran atau makhluk pertama dari Allah, jadi tidak abadi dan tidak sehakekat dengan Allah. Adapun Paulus Samosata mengajarkan bahwa Yesus itu karena kekuatan rohaninya maka diangkat Allah menjadi Anak.Nya. Kemudian Anus pada tahun 320 mengajarkan bahwa Yesus itu bukan Allah sejati, hanya mendapat anugerah sebagian sifat-sifat Ke-Allah-an sehingga menjadi seperti Allah. Gereja menjadi goncang lalu mengadakan persidangan di Nicea tahun 325. Persidangan ini bernama Konsidi Nicea dan menetapkan bahwa Anak Allah sehakekat dengan Bapa, dengan kata-kata Yunani “homousios” (sehakekat). Pengarut Anus bermaksud menggantikannya dengan “homois” (menyerupai), sedang para pengajar lainnya ada yang mau merobahnya menjadi “homoiusios” (hakekatnya menyerupai hakekat Bapa). Karena itu persoalan belum selesai, maka diadakan Konsili Konstantinopel tahun 381 di mana dipertegas bahwa : Anak sehakekat dengan Bapa. Yesus itu adalah Anak Allah dan sehakekat dengan Allah dan Yesus juga Allah benar-benar. (Dr. G.E. van Niftrik dan B.J. Boland : “Dogmatik Masakin” hal: 157).
Gereja dengan begitu telah menetapkan tafsiran mengenai ayat-ayat Injil, tentang Yesus sebagai Allah, Anak Allah dan Kalam Allah. Maka dengan adanya tafsiran semacam itu, terjadilah perselisihan ayat-ayat tersebut di atas dengan ayat lain meskipun sama-sama dalam Injil Yahya, misalnya dengan yang di bawah ini :
“Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri, melainkan Aku menjalankan hukum sebagaimana yang Aku dengar, dan hukumku itu adil adanya : karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan Aku”. (Yahya 5 : 30) — Di sini Yesus mengakui dia hanya pesuruh Allah.
“Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka itu mengenal Engkau, Allah yang Esa dan benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu”. (Yahya 17 : 3) — Inilah do’a Yesus kepada Allah yang telah menjadikan dia pesuruh-Nya.
“Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu : Barang siapa yang mendengar perkataanku serta percaya akan yang menyuruhkan Aku, ia itu beroleh hidup yang kekal, dan tiada masuk dalam hukuman, melainkan ia sudah berpindah dari pada mati kepada hidup”. (Yahya 5 : 24) — Lagi Yesus mengaku bahwa ia hanya disuruh Allah.
“Maka jawab Yesus kepadanya : “Hukum yang terutama inilah : Dengarlah olehmu, hai Israil, adapun Allah Tuhan kita, ialah Tuhan yang Esa.”
Maka hendaklah engkau mengasihi Allah Tuhanmu dengan sebulat-bulat hatimu, dan dengan segenap jiwamu, dan dengan sepenuh akal-budimu, dan segala kuatmu.
Dan yang kedua inilah : Hendaknya engkau mengasihi sesama manusia seperti dirimu sendiri. Maka tiadalah hukum lain, yang lebih besar dari pada kedua hukum ini.
Lain kata ahli Taurat itu kepada-Nya : “Ya Guru, amat benarlah segala kata Guru, bahwa Allah itu Esa adanya, dan tiada lain, melainkan Allah”. (Markus 12 : 29 - 32). — Dengan mengatakan “bahwa Allah Tuhan yang Esa”, maka terbukti bahwa Yesus tidak mengaku Anak Allah atau Allah, melainkan hamba Tuhan yang Esa. Perkataan Yesus itu adalah jawabannya kepada seorang ahli Taurat yang bertanya kepadanya tentang hukum mana yang terutama sekali.
“Maka tiba-tiba datanglah seorang kepadanya, serta barkata : Ya, Guru yang baik, kebajikan apakah patut saya perbuat, supaya beroleh hidup yang kekal?”.
“Dan ia menjawab kepadanya : Mengapa engkau katakan aku baik? Tak ada yang baik kecuali satu, yaitu Allah”. (Matius 19 : 16 – 17) — Di sini Yesus mengajarkan bahwa hanya satu saja yang baik yaitu Allah yang Esa, tiada lain.

Keterangan yang amat penting :
Ayat Injil Matius 19 : 16 – 17 di atas itu bukan dikutip dari Kitab Injil yang berbahasa Indonesia tetapi terjemahan dari Bibel berbahasa Belanda penerbitan Het Nederlandsch Bijbel genootschap tahun 1935 yang berbunyi :
“En Zie, er kwam een tot hem en zeide tot hem : Goede Meester, wat zal ik goeds doen?
En hij zeide tot hem : Wat noemt gij mij goed? Niemand is goed dan een namelijk God”
.
Bunyi dari Injil bahasa Belanda tersebut sesuai artinya dengan Bybel yang berbahasa Inggeris, penerbitan The British and Foreign Byble Society, demikian :
“And, behold, one came and said unto him. Good Master, what good thing shall I do, that I may have eternal life?
And, he said unto him, Why callest thou me good? there is none good but one, that is God”
.
Tetapi dalam terjemahan bahasa Indonesia yaitu pada Al-Kitab penerbitan Lembaga Al-Kitab Indonesia Jakarta tahun 1960, ayat tersebut diterjemahkan lain atau dirobah hingga maksudnya menjadi lain pula, yaitu begini :
Ya Guru, kebajikan apakah patut hamba perbuat, supaya beroleh hidup yang kekal?
Maka kata Yesus kepadanya : “Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaku dari hal kebajikan? Ada Satu Yang Baik”.
Pembaca dapat melihat dengan jelas bahwa terjemahan dalam bahasa Inggeris dan Belanda ada sesuai, di mana Yesus tidak suka dikatakan guru yang baik karena yang baik hanyalah satu yaitu Allah yang Esa, dan Yesus bukan Allah. Tetapi dalam bahasa Indonesia, maksud itu sudah hilang sama-sekali. Barangkali inilah salah satu dari sekian banyak ayat-ayat Injil yang terjemahannya memerlukan penelitian lagi.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 61-63.

Selasa, 15 April 2014

Perselisihan yang terdapat dalam keempat Injil (2)

TENTANG YESUS ANAK ALLAH
a. Injil Lukas 1 : 32 dan 35
Malaikat Jibril disuruh Allah memberitakan kepada anak-dara Maryam bahwa ia akan hamil dan memperoleh anak ; anak itu kelak akan menjadi besar dan akan dikatakan “Anak Allah Yang Maha Tinggi”.

b. Injil Yahya 10 : 29 – 30
“Maka bapaku yang menyerahkan dia kepadaku, adalah lebih besar dari pada sekalian : maka seorangpun tiada dapat merampas dia dari dalam tangan Bapaku”.
“Aku dan Bapa itu satu adanya”.
Ayat itu menerangkan bahwa Yesus itu Anak Allah dan sehakekat dengan Bapanya itu.

c. Injil Yahya 1 : 18
Yesus adalah Anak Allah Yang Tunggal :
“Maka Allah belum pernah dilihat oleh seorang juapun : tetapi Anak yang tunggal, yang di atas pangku Bapa. Ialah yang sudah menyatakan Dia”.
Ayat ini nyata berselisih dengan Yahya 10 : 30 di atas. Jika Allah dan Yesus itu satu atau sehakekat, tentu sama-sama belum pernah dilihat orang dan tidak mungkin Yesus sendiri sebagai Allah yang menyatakan Dirinya.

d. Injil Yahya 1 : 12
“Tetapi seberapa banyak orang yang menerima Dia, kepada mereka itu diberinya hak akan menjadi anak-anak Allah, yaitu kepada segala orang yang percaya akan Namanya ;”

e. Injil Yahya 11 : 52
“Dan bukan sahaja menggantikan bangsa itu, melainkan supaya segala anak Allah yang tercerai berai itupun dihimpunkannya menjadi satu”.
Kedua ayat tersebut di atas menyatakan bahwa segala orang yang beriman juga diangkat menjadi anak Allah, tidak Yesus seorang saja. Maka berselisih dengan Yahya 1 : 18 yang menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang tunggal.

f. Pengertian tentang Yesus anak Allah
Dalam kitab Injil yang empat, jika menyebutkan Yesus sebagai anak Allah, maka kata-kata “anak” itu dicetak dengan pangkal kata huruf besar: “Anak Allah”; tetapi bila kata itu dipakai untuk manusia lainnya maka dipakai huruf kecil : “anak Allah”. Rupanya dengan maksud agar pengertian keduanya diperbedakan. Barangkali memang berbeda, dan bagaimana perbedaannya itu adalah suatu perkara yang amat penting. Sudah tentu perbedaan huruf besar dan huruf kecil itu datang terkemudian, yang mana mengandung arti pentafsiran. Injil-Injil tertua kesemua hurufnya tertulis dengan huruf besar seluruhnya.
Penterjemah-penterjemah Injil bermaksud memperbedakah antara Yesus dengan manusia lainnya dalam keadaannya sama-sama menjadi anak Allah. Keanakan-Allah dari Yesus ialah bahwa Yesus itu ialah Kalam Allah yang menjadi manusia, sedang Kalam itu adalah sama qadim dengan Allah dan bersama-sama dengan Allah, serta Kalam itu juga Allah, karena itu Yesus sebagai Anak Allah juga Yesus itu Allah. Ketenangan ini jelas teryata dalam permulaan Injil Yahya — Adapun keanakan-Allah dari manusia biasa, adalah sekedar merupakan “anugerah”. Setiap manusia yang percaya kepada Yesus sebagai Kalam, Anak dan Allah, maka manusia itu mendapat anugerah menjadi “Anak Allah”. Demikianlah kepercayaan Masehi.
Kepercayaan itu berdasarkan pandangan dari Yahya, tentang kemuliaan Yesus seperti tensebut dalam pasal 1 : 14 sebagai berikut :
“Maka Kalam itu telah menjadi manusia serta tinggal di antara kita (dan kami sudah memandang kemuliaannya seperti kemuliaan Anak yang tunggal yang dari pada Bapa), penuh dengan anugerah dan kebenaran”.
Jelas bahwa Yesus digelari sebagai Anak Allah yang tunggal oleh Yahya penulis Injil, sedangkan sebenarnya anak-anak Allah ada banyak dan tersiar di bumi ini, ialah mereka yang beriman dan menerima Yesus sebagai Kalam Allah, sebagai tersebut dalam ayat 1 : 52 dan 11 : 52. Jika orang berpendapat bahwa Yesus benar-benar Anak Allah yang satu-satunya, tentu pendapat semacam itu menyebabkan adanya perselisihan ayat-ayat Injil Yahya itu. Tetapi jika orang berpendapat bahwa gelar Anak Allah yang tunggal itu diberikan Yahya untuk menggambarkan kemuliaan Yesus saja, yaitu seolah-olah anak Allah hanya Yesus seorang: maka tidak adalah perselisihan ayat-ayat Injil Yahya itu. Tegasnya semua orang yang beriman termasuk Yesus adalah anak-anak Allah. Yesus yang dijadikan peminpin segala orang beriman itu, sangat mulia dan dikasihi Allah seolah-olah Anak Tunggal-Nya. Pendapat ini lebih dapat diterima karena lebih masuk akal dan sesuai dengan ayat-ayat lainnya antara lain dengan :
“Maka Ia akan menjadi besar, dan Ia akan dikatakan Anak Allah Yang Maha Tinggi;” (Lukas 1 : 32). — Dari ayat ini ternyata bahwa Yesus dikatakan Anak Allah setelah dewasa (3 th.), bukan sejak sebelum lahir atau sejak lahir.
Dalam umur 30 tahun Yesus dibaptiskan oleh Nabi Yahya, lalu turunlah Ruhul-Kudus kepada Yesus dan barulah Allah bersabda bahwa Yesus adalah Anak Allah yang dikasihi bukan yang tunggal :
“Lalu Ruhul-Kudus turun ke atasnya berlembaga seperti seekor burung merpati, maka suatu suara dari langit mengatakan Engkau inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadamu juga Aku berkenan”. (Lukas 4 : 22).
Injil Yahya pasal 1 : 19 – 34 meriwayatkan Nabi Yahya membaptiskan Yesus. Nabi Yahya belum kenal kepada Yesus, dan barulah kenal setelah melihat burung merpati itu. Pada ayat 34 ia berkata : “Sesungguhnya aku sudah nampak, lalu menyaksikan bahwa Ia inilah Anak Allah”.
Jelas lagi bahwa Yesus dikatakan Anak Allah setelah dibaptiskan pada umur 30 tahun.
“Maka ketika Ia naik ke luar dari air itu, dilihatnya langit terbelah, serta Roh Allah turun ke atasnya, seperti seekor burung merpati”.
“Lalu kedengaranlah suatu suara dari langit, mengatakan :
“Engkau inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadamu juga aku berkenan”. (Markus 1 : 10 – 11).
“Setelah Yesus dibaptiskan, naiklah Ia dari dalam air itu segera, maka terbukalah langit, lalu dilihatnya Roh Allah turun seperti seekor burung merpati datang ke atasnya. Maka suatu suara dari langit mengatakan : “Inilah Anakku yang Kukasihi, kepadanyapun Aku berkenan”. (Matius 3 : 16 – 17).
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 58-61.

Minggu, 13 April 2014

Perselisihan yang terdapat dalam keempat Injil (1)

TENTANG SILSILAH YESUS
  • Dalam Matius : 1 : 1 – 16 disebutkan bahwa Yesus itu keturunan Nabi Daud yang ke 27, keluar dari Nabi Sulaiman putra Nabi Daud; dan Yesus sendiri adalah anak Yusuf, dan Yusuf anak Yakub, Yakub anak Matan, dan Matan anak Eliazar, seterusnya sampai kepada Nabi Sulaiman putra Nabi Daud.
  • Tapi dalam Injil Lukas 3 : 23 – 24 Yesus juga keturunan Nabi Daud tetapi keluar dari puteranya yang bernama Natan, bukan Sulaiman. Disebutkan bahwa Yesus anak Yusuf, Yusuf anak Heli, Heli anak Malat, Malat anak Lewi dan seterusnya melalui nama-nama yang berlainan sekali dengan yang tersebut dalam Injil Matius, dan ternyata bahwa Yesus keturunan Nabi Daud yang ke 42 berselisih 15 generasi dari Injil Matius, satu perbedaan yang menyolok!

Yesus tidak berbapa?
Dalam Matius 1 : 18 dan Lukas 1 : 27 dinyatakan bahwa Yesus dilahirkan tidak dari seorang bapa manusia, tetapi lahir dari seorang gadis Maryam yang dituruni oleh Ruhul-Kudus atau Kalam Allah. Dengan demikian Yesus sebagai manusia tidak mempunyai bapa. Adapun Yusuf adalah tunangan Maryam itu. Jika demikian maka tidak selayaknya meletakkan nama Yesus sebagai anak Yusuf seperti yang tersebut di atas. Adalah lebih tepat kalau nama Yesus diletakkan sebagai anak Maryam. Tetapi dalam keempat Injil tidak diberitakan anak siapa Maryam itu. Jika silsilah keturunan harus dibangsakan kepada bapa, maka Injil Markus dan Yahya lebih tepat karena tidak memuat silsilah Yesus itu, jika memang benar Yesus dilahirkan oleh anak dara Maryam dengan tidak mempunyai bapa.

Yesus mempunyai bapa?
Tentang lahirnya Yesus dari seorang anak dara Maryam yang dituruni oleh Kalam Allah sebagaimana yang diajarkan oleh agama Masehi, adalah telah sejak lama dibantah oleh beberapa golongan yang berpendapat bahwa Yesus itu anak dari Yusuf, dan bahwa keterangan dari Injil itu adalah bersumber pada Kitab Yesaya yang telah dirobah; dan kepercayaan bahwa Yesus lahir dari anak dara itu adalah disesuaikan dengan dewa-dewa againa Hellenisme seperti Apolo di tanah Gerika, Mithra di Persia, Adonis di Syria, Osiris di Mesir, Herakles dan lain-lain sebagainya. Kesemua dewa-dewa itu menurut dongengan kuno adalah manusia dilahirkan oleh anak dara yang suci tanpa bersentuhan dengan lelaki, dan dianggap sebagai anak Tuhan.
Mereka tidak membenarkan apa yang ditulis oleh Matius dalam Injilnya, dan menerangkan bahwa sumber pengambilan Injil Matius yaitu Kitab Nabi Yesaya pasal 7 ayat 14 tidak menyebutkan bahwa yang melahirkan Yesus seorang anak dara tetapi seorang wanita muda tetapi kemudian kata-kata “wanita muda” dalam bahasa aslinya Iberani itu telah dirobah atau diganti dengan kata yang dapat diterjemahkan dengan anak dara. Di bawah inilah bunyi ayat Yesaya yang diambil oleh Matius itu :
“Maka sebab itu diberikan Tuhan sendiri suatu tanda alamat kepadamu kelak. Bahwasanya anak-dara itu akan mengandung dan beranakkan laki-laki seorang dan dinamainya akan dia Immanuel”. (Yesaya pasal 7 ayat 14).
Maka dalam mengisahkan lahirnya Yesus, Matius mengutip ayat tersebut di atas :
18. “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian halnya : Tatkala Maryan, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maryam itu hamil dari pada Ruhul Kudus”.
22. “Maka sekaliannya itu berlaku, supaya sampailah barang yang difirmankan oleh Tuhan dengan lidah Nabi, bunyinya :
23. “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan benanakkan seorang anak laki-laki, dan disebut orang namanya “Immanuel”, yang diterjemahkan artinya “Allah beserta kita”.
25. “Maka tiadalah Yusuf bersetubuh dengan Maryam sehingga Maryam melahirkan seorang anak laki-laki, lalu diberinya nama Yesus”. (Ayat 24 menerangkan bahwa Yusuf mengawini Maryam dalam keadaan hamil dari pada Ruhul Kudus).
Arnold Toynbee dalam bukunya “A Study of History” jilid VI hal 268 menulis : “Ceritera-ceritera ini (tentang dewa-dewa yang lahir dari anak dara) telah mendapat persamaannya dalam dongengan agama Nasrani tentang kelahinan Yesus; serta ayat yang dituruti oleh Matius menunjukkan adanya pengaruh langsung dari agama Hellenisme. Pengaruh ini sudah tentu tidak melalui sesuatu kitab; tetapi dengan jalan bahwa kepercayaan (tentang dewa-dewa itu) yang telah tersiar meluas pada segala bangsa dan agama itu telah diambil dan dipergunakan untuk membangun i’tikad agama Nasrani. Bagaimanapun juga, antara ayat-ayat dalam Injil Matius dan dongengan tentang kelahiran Plato merupakan persamaan yang nyata. Sebelum perkawinan Maryam dengan Yusuf dilaksanakan, Maryam telah mengandung. Yusuf bermaksud meninggalkan dia tetapi Malaikat Allah mendatanginya dalam mimpi serta memberitahukan kepadanya apa yang telah terjadi (Maryam hamil karena Ruhul Kudus) dan tentang hari depan anak itu. Karena mentaati wahyu ini, Yusuf laksanakan apa yang diperintahkan Tuhan, yaitu mengambil Maryam menjadi isterinya dan tidak mengumpulinya sebelum kandungan yang pertama ini lahir — perintah ini sama dengan perintah Tuhan kepada ayah Plato (E. Meyer: Ursprung und Anfange des Christentum jilid I hal. 56 – 7)”.
Yaitu :
Plato lahir dari ibunya yang bernama Amphictione. Ia ini hamil karena dewa Apollo; sedang Ariston suaminya, dilarang mengumpuli isterinya sebelum anak itu lahir.
Kemudian Arnold Toynbee mengutip dari karangan Fr. Pfister : “Herakles und Christus” dalam “Archiv fur Religionswissenschaft”, tentang persamaan yang lebih nyata antara kelahiran Herakies dan Yesus. Amphitryon menahan diri tidak mengumpuli isterinya yang bernama Alcmena yang baru saja dinikahinya, sebab ia telah hamil karena Tuhan, Sebelum anak Tuhan itu lahir, kedua laki isteri itu berpindah tempat dari Mycenae ke Thebes, seperti juga Yusuf dan Maryam sebelum lahirnya Yesus, berpindah dari Nazaret ke Betlehem.
Seterusnya ia mengutip dari buku karangan E. Meyer tersebut di atas, bahwa bangsa Yahudi tidak mengharapkan datangnya Al-Masih lahir dari seorang anak dara. Al-Masih itu adalah manusia biasa, bukan Tuhan dan bahkan tidak memiliki sifat ketuhanan, demikian pula dia itu bukan Yesus. Menurut P.J. Migne dalam kitabnya “Patrologia Graeca”, seorang kritikus Yahudi Tryph berkata : “Ayat dari Kitab Suci (kitab Nabi Yesaya pasal 7 ayat 14) tidak berbunyi : Bahwasanya anak-dara itu akan mengandung dan beranakkan laki-laki seorang, tetapi : Bahwasanya perempuan muda itu akan mengandung dan beranakkan lelaki seorang”.
Kritikus Yahudi ini selanjutnya berkata ayat Yesaya itu tidak meramalkan Yesus, tetapi Hizkiah. Orang Nasrani harus merasa malu karena telah menjiplak dongengan Hellenisme, dan seharusnya mengakui bahwa Yesus adalah manusia biasa dan ibu bapanyapun manusia pula. Kritik Trypho ini dijawab oleh seorang failasuf Nasrani Justin Martyr demikian : “Jika kami orang Nasrani menyatakan bahwa Yesus dilahirkan oleh anak-dara, maka dalam agamamu Hellenisine juga ada ceritera semacam itu mengenai Perseus’. (Perseus menurut dongengan Hellenisme adalah anak dari seorang anak-dara bernama Danae yang menjadi hamil karena Dewa Zeus-pen).
Demikianlah Arnold Toynbee.
Jika andaikata benarlah kata Trypho bahwa Yesus itu anak manusia, maka lain tidak Yusuflah bapanya itu, bukan orang lain. Anehnya, setelah Matius menerangkan bahwa Yesus lahir dari anak-dara Maryam, ia masih juga meletakkan Yesus sebagai anak Yusuf dalam silsilahnya; bahkan Lukas juga berbuat demikian. Orang-orang Yahudi pun mengetahui bahwa Yesus itu anak Yusuf, seperti diriwayatkan dalam Injil Matius, Injil Lukas dan Injil Yahya :
“Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Dan bukankah ibunya bernama Maryam? Dan saudara-saudaranya Yakub, dan Yusuf dan Simon dan Yudas ?” (Matius 13 : 55).
“Maka sekalian orang itupun menyungguhkan Dia, serta heran akan perkataannya yang elok keluar dari pada mulutnya, sambil katanya: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”” (Lukas 4 : 22).
“Maka kata mareka itu : Bukankah mereka ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapanya kami kenal? Bagaimanakah orang ini dapat berkata : aku ini turun dari surga?” (Yahya 6 : 42).
Bahkan Pilipus, sahabat dan murid Yesus yang keempat, berkata bahwa Yesus itu anak Yusuf :
“Kemudian berjumpa Pilipus itu dengan Natanael, lalu berkata kepadanya : “Kami sudah jumpa Dia, yang dari halnya disuratkan oleh Musa dalam Taurat, dan oleh segala Nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf, orang Nazaret (Yahya 1 : 45).
Adapun Rasul Paulus yang dianggap paling mulia dan suci, ada pernah mengatakan bahwa Yesus anak Allah itu keadaan tubuhnya dari keturunan Daud, tetapi keadaan Rohnyalah yang ditetapkan menjadi Anak Allah dan menjadi Tuhan. Dan perkataannya itu dapat diambil kesimpulan bahwa Yesus lahir sebagai manusia biasa dari ibu-bapa manusia, kemudian rohnya diangkat menjadi anak Allah.
Demikian inilah kata Paulus :
“Dari hal Anaknya (yang menurut keadaan daging sudah jadi dan pada benih Daud, tetapi menurut keadaari roh pencuci sudah ditetapkan menjadi Anak Allah dengan kuasa, karena sebab kebangkitannya dari antara orang mati)”. (Surat Rum 1 : 3 – 4).
Akhirnya, jika orang harus percaya bahwa Yesus itu anak Yusuf, maka orang harus percaya juga kelahiran Yesus adalah hasil dari perkawinan Yusuf dengan Maryam. Artinya Yusuf mengambil Maryam sebagai isterinya sebelum ia hamil; sesuai dengan kemuliaan dan kesalehan Yesus dan ibu-bapanya.
Menurut kepercayaan agama Islam yang bersumber kepada Al-Quran, Yesus adalah seorang Nabi dan Rasul Allah seperti Nabi dan Rasul lain-lainnya. Yesus disebutkan Isa ibnu Maryam atau Isa anak Maryam. Isa lahir dari anak dara tetapi bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan, tetapi manusia biasa seperti manusia lainnya. Tuhan jadikan dia dengan tak berbapa untuk membuktikan kekuasaan-Nya yang mutlak dan tak terbatas oleh adat kebiasaan dan pengetahuan manusia. Kalau Tuhan telah jadikan Adam dari tanah dan Hawa dari tulang rusuknya, dan bumi dari matahari dan matahari dari aether dan seluruh alam dari kekosongan; maka tentu Tuhan berkuasa pula menjadikan manusia Isa tanpa bapa.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 54-58.

Jumat, 11 April 2014

PERJANJIAN BARU (2)

Kewahyuan Kitab Injil
Bahasa yang digunakan oleh Yesus untuk bergaul dan mengajarkan ajarannya ialah bahasa Aram, yaitu bahasa yang berlaku pada masa itu. Demikian pula murid-muridnya mempergunakan bahasa itu. Akan tetapi injil-injil tertua yang diketemukan itu memakai bahasa Gerika.
Garis pokok dari pada isi injil-injil tersebut ialah riwayat hidupnya Yesus dan sebagian dari perkataannya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Gerika. Setiap pengarang injil meriwayatkan kisah Yesus itu menurut ingatan dan sumber-sumber yang diperolehnya. Hal ini nyata sekali umpamanya dalam permulaan injil Lukas yang ditulis untuk sahabatnya yang bernama Teopilus :
  1. “Sedangkan banyak orang sudah mencoba mengarang hikayat dari hal segala perkara yang menjadikan yakin di antara kita”.
  2. “Sebagaimana yang diserahkan kepada kita oleh orang, yang dari mulanya melihat dengan matanya sendiri dan menjadi pengajar Injil itu,”
  3. “maka tampaknya baik kepadakupun, yang telah menyelidiki segala perkara itu dengan betul-betul dari asalnya, menyuratkan bagimu dengan peraturannya, hai Teopilus yang mulia,”
  4. “supaya engkau dapat mengetahui kesungguhan segala sesuatu yang diajarkan kepadamu”.

Injil Lukas dikarang dalam tahun 95, yaitu 62 tahun sesudah Yesus meninggalkan dunia. Maka 62 tahun ini hanya merupakan satu generasi, satu masa yang amat singkat dalam penilaian sejarah. Amat mudah bagi orang untuk menyelidiki dan mencari berita tentang peristiwa-peristiwa 62 tahun yang lalu, seperti yang telah dilakukan Lukas untuk menulis injilnya tentang kehidupan Yesus. Demikian pula penulis Injil Matius, Injil Markus, Injil Yahya, dan injil-injil lainnya; mereka telah mencari, mengumpulkan berita-berita tentang Yesus kemudian ditulisnya menjadi kitab injil. Lagi pula besar kemungkinan bahwa penulis injil yang kemudian mengambil pedoman kepada injil yang terbit lebih dahulu atau setidaknya menyesuaikan dengannya. Maka adalah suatu yang wajar bahwa dalam injil-injil itu banyak persamaan atas jalannya kisah, meskipun di sana sini tidak kurang pula perlainan dan perselisihannya. Tentang adanya banyak perlainan dan perselisihan dalam kisah dan perkataan Yesus itu adalah wajar pula kalau diingat bahwa semasa hayat Yesus belum ada orang yang mencatat ajarannya, hingga setelah Yesus tidak ada, orang mengetahui ajarannya itu melalui keterangan murid-muridnya atau orang yang pernah mendengarkan dia.
Dr. C.J. Heering dalam buku “Geloof en Openbaring” halaman 200 menulis :
De leerlingen en hun tijdgenoten hoorden het Evangelie uit Yesus’ mond en aanschouwden het tegelijk in Zijn persoon. Het volgende geslacht hoorde bet Evangelie uit de mondelinge overlevering. Het daarop volgende geslacht las het in de inmiddels venschenen evangelien en brieven”.
(“Murid-murid dan orang yang hidup sezamannya mendengar Injil itu dari mulut Yesus serta memandangnya bersatu dalam diri-Nya. Keturunan mereka mendengar Injil itu melalui pemberitaan secara lisan. Keturunan berikutnya lagi membacanya dalam kitab-kitab injil dari surat kiriman yang sementara itu telah beredar”).
Kalau Injil Markus ditulis pada tahun 65 dan Injil Matius tahun 70, maka paling sedikit ada masa 32 tahun di mana belum ada kitab injil dan segala pemberitaannya dilakukan secara lisan. Dan setelah ada kitab injilpun, masih banyak juga pemberitaan injil dari lisan ke lisan karena kebanyakan orang tidak memiliki kitab-kitab injil dan surat-surat kiriman itu, kecuali beberapa onang yang berhasil menyalinnya dengan tulisan-tangan. Namun demikian hal yang telah pasti ialah telah adanya Kitab Injil sejak tahun 65.
Menurut kepercayaan agama Masehi, Kitab Injil yang empat itu adalah wahyu Allah, sebagaimana halnya Kitab perjanjian Lama. Segala perlainan dan perselisihan isi antara Injil-injil itu tidak mengurangi nilai kewahyuannya. Kitab-kitab Injil itu adalah wahyu Allah karena mereka percaya :
  • Kitab itu memuat firman-firman Yesus yang dia itu Allah
  • meriwayatkan perjalanan hidup dan penderitaan Yesus, yang dia itu benar-benar Firman Allah (Kalam Allah menjadi dagingnya).
  • para penulis itu telah menulis injilnya dengan digerakkan oleh ilham Allah.

Adapun susunan katanya adalah dari penulis itu sendiri sebagai manusia yang terpengaruh oleh masa dan lingkungannya, oleh akal dan pertimbangannya. Karena itu tidak bercela meskipun dalam injil-injilnya terdapat kesalahan-kesalahan atau perlainan-perlainan tentang fakta sejarah. Menurut agama Masehi, yang dikatakan wahyu ialah sari pengertian yang dianugenahkan Allah kepada manusia, yang kemudian manusia ini paham lalu memperkembangkannya dengan pemikiran dan susunan katanya sendiri. Begitu sederhana pengertian tentang wahyu Allah ini pada agama Masehi, seperti William L. Crowford dalam “The Holy Bible in Brief” susunan James Reebes halaman 309, telah memberikan petunjuk kepada orang agar dapat memahami Bibel, antara lain, tentang pengertian wahyu :
“………….. And revelation is simply this : God showing His will, and man recognizing this and doing something about it”.
(“ …………. Dan yang dinamakan wahyu itu hanyalah begini : Tuhan menyatakan kehendak-Nya dan manusia memahaminya lalu berbuat sesuatu tentangnya”).

Demikianlah kewahyuan Injil menurut ajaran agama Masehi Protestan, berlainan dengan faham kolot sejak abad kedua bahwa para penulis injil itu sekedar menuliskan apa yang didiktekan oleh Ruhul Kudus (Tuhan Roh Suci).
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 51-54.

Rabu, 09 April 2014

PERJANJIAN BARU (1)

Sejarah
Al-Kitab atau Bybel mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sesudah agama Masehi dimasukkan ke negeri kita oleh bangsa Belanda. Terjemahan bahasa Indonesia itu mungkin sekali berasal dari bahasa Belanda. Kitab Bybel yang berbahasa Belanda baik menurut “Statenvertaling tahun 1617” ataupun menurut terjemahan “Nederlands Bybel Genootschap tahun 1938”, adalah berasal dari bahasa Gerika.
Sebagaimana halnya Perjanjian Lama, maka keempat injil dan lain-lainnya yang termuat dalam Kitab Perjanjian Baru itupun ditulis oleh banyak orang yang masing-masing hidup dalam lingkungan berlainan dan masa tidak bersamaan pula. Demikian pula halnya dengan injil-injil dan surat-surat kiriman yang diapokrifkan. Kesemuanya itu merupakan kitab-kitab terpisah belum terkumpul, jumlahnya lebih dari 35 kitab yang masing-masing mempunyai pemegang dan pengikut tersebar di seluruh daerah di mana ada pemeluk agama Masehi.

a. Pengesyahan dan pembatalan pertama
Injil-injil yang banyak itu ternyata berlainan isinya bahkan banyak berbeda dan bertentangan sehingga menimbulkan perselisihan di antara pemeluk agama Masehi tentang ajaran, kepercayaan dan kewahyuan kitab-kitab itu. Dengan demikian itu dirasa perlu akan adanya ketetapan kitab mana yang dapat diakui menjadi pedoman yang syah, yang disebut “Canon”. Kata “Canon” artinya “alat pengukur”, atau “alat pelurus”. Dalam hal yang berkenaan dengan kitab injil, yang dimaksud dengan “Canon” ialah “kumpulan kitab yang telah disyahkan sebagai wahyu Allah”, berbeda dengan kitab lainnya yang bukan wahyu.
Usaha membentuk canon ini melampaui proses yang amat lama setelah terjadi perdebatan dan perbantahan yang amat sengit, dan baru dapat dikatakan selesai pada akhir abad keempat. Namun demikian masih banyak juga injil dan surat kirirnan yang tidak disyahkan tetap beredar, dibaca dan diikuti orang. Canon yang telah dibentuk itu ialah Kitab Perjanjian Baru berisi 27 kitab-kitab itulah yang diakui kesuciannya dan kewahyuannya, artinya ditulis oleh orang-orang suci dari wahyu Allah.
Seperti yang telah diterangkan di atas, pembentukan Canon oleh sidang gereja yang pertama pada akhir abad kedua baru mengesyahkan 21 kitab. Kitab-kitab itu ialah :
1. Injil Matius
2. Injil Markus
3. Injil Lukas
4. Injil Yahya
5. Kisah Rasul-Rasul
6. sampai 18. Surat-surat Kiriman Paulus
19. Surat Kiriman kepada orang Iberani yang menurut pendapat sebagian orang juga ditulis oleh Paulus
20. Surat Kiriman Petrus pertama
21. Surat Kiriman Yahya pertama

Keenam kitab yang tidak disyahkan ialah :
1. Surat Kiriman Yakub
2. Surat Kiriman Petrus kedua
3. Surat Kiriman Yahya kedua
4. Surat Kiriman Yahya ketiga
5. Surat Kiriman Yahuda
6. Kitab Wahyu

Seorang pengarang Masehi dalam ENSIE, J.N. Sevenster, menerangkan bahwa 21 kitab yang disyahkan itu termasuk Kitab Wahyu dan Surat Kiriman kepada orang Iberani itulah yang tidak disyahkan. Kitab Wahyu telah disyahkan di Gereja Barat tetapi ditolak di Gereja Timur. Persidangan Gereja Timur melengkapkan canonnya menjadi 27 kitab baru pada tahun 367 dan Persidangan Gereja Barat pada tahun 393 di Hippo dan tahun 397 di Kartago. Demikianlah keterangan J.N. Sevenster dalam ENSIE hal : 324.
Adapun Surat Kiriman kepada orang Iberani kebanyakan orang Masehi menyatakan telah ditulis oleh orang yang tidak dikenal, tetapi disyahkan juga menjadi Canon. Ini merupakan suatu keganjilan karena mereka mengakui kewahyuan surat kiriman ini padahal siapa penulisnya tidak diketahui.

b. Pengesyahan selanjutnya
Perjanjian Baru yang berisi 21 kitab tersebut di atas setelah disyahkan sebagai Canon segera dipakai menjadi pedoman hingga menjelang tahun 340. Pada tahun itu Gereja mulai meneliti Surat Kiriman Petrus kedua dan ketiga. Sudah itu pada tahun 367 diadakan lagi persidangan gereja di Laudicea dan pada tahun 393 di Hippo kemudian yang terakhir di Kartago pada tahun 397. Sejak itulah baik Gereja Timur maupun Barat melengkapkan canonnya menjadi 27 kitab setelah perdebatan sengit dan berlarut-larut.
Perdebatan yang paling sengit terjadi ketika membicarakan Surat Kiriman kepada orang Iberani dan Kitab Wahyu.

c. Kitab yang dibatalkan
Dengan diresmikannya Perjanjian Baru yang berisi 27 kitab itu sebagai Canon, maka kitab-kitab injil dan surat-surat kiriman lainnya dengan sendirinya telah dibatalkan dan dianggap apokrif, yakni tidak boleh dibaca orang, harus disembunyikan. Sering terjadi seorang uskup mengutuk dan membatalkan sesuatu injil secara khusus seperti injil Petrus yang dikutuk oleh uskup Antiyoki antara tahun 190 – 230. Pembatalan atas injil-injil secara khusus ini telah dilakukan dengan keputusan persidangan gereja atau dengan dekrit para uskup.
Bermacam-macam alasan telah dikemukakan untuk membatalkan injil-injil itu, antara lain karena :
a. diragukan kewahyuannya.
b. isinya dianggap hanya dongengan yang tidak bersumber dari wahyu.
c. ajarannya berselisih atau bertentangan dengan i’tiqad ketuhanan Yesus dan lain kepercayaan yang telah disyahkan.

Injil-injil yang telah dibatalkan itu amat banyak, tidak kurang dari 35 kitab. Antara lain yang tersebut dibawah ini :
  1. Injil orang Mesir
  2. Injil Nikodimus
  3. Injil Iberani
  4. Injil Petrus
  5. Injil Toma
  6. Injil Apelles
  7. Injil Andrias
  8. Injil Barnaba
  9. Injil Bartolomeus
  10. Injil Basilid
  11. Injil Cerinthus
  12. Injil Yakub
  13. Injil Thaddeus
  14. Injil Marcion
  15. Injil Yahuda Iskariyot
  16. Kisah Perbuatan Yahya
  17. Kisah Perbuatan Petrus
  18. Kisah Perbuatan Paulus
  19. Kisah Perbuatan Tomas
  20. Kitab Yakub, dan lain-lainnya.

Menilik nama-nama injil tersebut di atas, ternyata bahwa hampir semua murid Yesus menuljs injil yang karena alasan tersebut telah dibatalkan oleh gereja. Dengan demikian isi dari injil-injil itu tidak diketahui oleh umum, kecuali Injil Barnaba yang terjemahannya dalam bahasa Inggeris dan Arab telah beredar dan banyak diketahui orang. Dalam Injil Barnaha ini dikatakan bahwa Yesus tidak pernah disalib, yang disalib dan mati hanyalah Yahuda Iskariyot. Yesus bukan Tuhan dan bukan Anak Allah, melainkan seorang manusia wajar yang diangkat Allah Yang Esa menjadi Rasul-Nya seperti halnya Rasul-rasul Allah sebelum dia. Dan Barnaba sendiri adalah murid Yesus yang terdekat, yang telah diperintahkannya untuk menulis Injilnya itu.

d. Riwayat Penemuan Kitab Perjanjian Baru
Kalau kita membaca Kitab Perjanjian Baru terjemahan bahasa Indonesia, terlintaslah pertanyaan dalam hati kita, bagaimana ujudnya ketika mula ditulis orang dan bagaimana pula riwayatnya hingga diterjemahkan dalam bermacam bahasa.
Mengenai persoalan itu, J.N. Sevenster dalam “Eerste Nederlandse Systematisch Ingerichte Encyclopaedie (ENSIE)” menulis yang maksudnya sebagai berikut :
Kitab Perjanjian Baru terjemahan bahasa Belanda adalah hasil terjemahan dari bahasa Gerika asli yang bersumber pada :
a. tulisan tangan
b. terjemahan kuno
c. catatan yang dimiliki oleh ketua-ketua gereja zaman dahulu.

Adapun injil-injil asli tulisan-tangan yang pertama, yang ditulis oleh penulisnya, telah hilang tak dapat ditemukan lagi. Yang masih dapat dimiliki ialah tulisan-tangan salinan-salinan dari injil-injil kuno dan kemudian, terdiri dari keseluruhannya atau bagian-bagiannya, jumlahnya lebih kurang 2.650 tulisan-tangan yang bermacam-macam dan berlainan nilainya. Sampai abad kesembilan orang menulis injil-injil itu dengan huruf besar seluruhnya, sesudah itu dimulai orang menulisnya dengan huruf kecil. Yang tertulis dengan huruf besar dinamai “majuskels” dan yang dengan huruf kecil disebut “minuskels”. Injil majuskels yang tertua ditulis orang pada abad keempat seperti injil “Vaticanus” dan Injil “Sinaiticus” dan Injil “Alexandrinus” serta “Codex Ephraemi Syrie Rescriptus” ditulis pada abad kelima.
Injil Sinaiticus ditemukan di pegunungan Sinai dalam sebuah biara pada tahun 1884 oleh seorang Jerman bernama Tischendorf, lalu dibawanya ke kota Petersburg di Rusia dan akhirnya menjadi milik Tsar Alexander II. Pada tahun 1933 dijual kepada Pemeritah Inggeris dengan harga 100.000 pontsterling. Sampai sekarang Injil Sinaiticus itu masih tersimpan pada British Museum di London bersama dengan Injil Alexandrinus yang sudah berada di sana sejak tahun 1751.
Injil tersebut pertama dinamakan Sinaiticus karena ditemukan di pegunungan Sinai, dan yang kedua disebut Alexandrinus sebab dijumpai dalam perpustakaan Patriarch Alexandrie (Iskandariyah). Injil Vaticanus bernama demikian karena ditemukan dan tersimpan di Vatican, sedang Injil Codex Ephraemi Syrie Rescriptus dinamakan demikian sebab dikerjakan oleh seorang Syria bernama Ephraem pada abad ke 12. Untuk menentukan umur, persamaan dan nilai naskah-naskah tulisan-tangan tersebut sangat sukar dan memerlukan penyelidikan yang sangat mendalam, maka di mana tidak terdapat persesuaian antara naskah-naskah itu, sungguh amat sukar atau tidak mungkin menentukan keasliannya dengan cermat.
Demikianlah ringkasnya keterangan dalam ENSIE tersebut.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 47-51.

Senin, 07 April 2014

KITAB PERJANJIAN BARU (8)

Kitab Wahyu
Kitab ini merupakan kitab terakhir dalam perjanjian Baru. Menurut kepercayaan orang Masehi, kitab ini adalah wahyu Allah kepada Yahya bin Zabdi murid Yesus. Wahyu itu ditulisnya sewaktu dia dibuang oleh pemerintah ke pulau Patmos yang terletak di dekat pantai Asia Kecil, yang menjadi tempat pembuangan. Oleh Yahya, kitab itu dikirimnya kepada jum’at-jum’at di Asia Kecil. Antara lain isi dari wahyu itu ialah :
  • Allah menyatakan Dirinya kepada Yahya. Kristus berdiri di tengah tujuh kaki dian serta memegang tujuh bintang dalam tangan kanannya. Ketujuh kaki dian itu artinya tujuh jum’at di Asia Kecil, dan tujuh bintang adalah tujuh Malaikat yang melindungi tujuh jum’at itu. Tuhan berfirman kepada jum’atnya tentang wahyu yang diterimanya.
  • Yahya melaksanakan perintah Allah yaitu menyurati kepada ketujuh jum’at di Asia Kecil di mana ia menyampaikan wahyu yang diterimanya itu.
  • Yahya telah diangkat Allah ke langit serta melihat Arsy, yaitu singgasana kerajaan Allah Yang Maha Kuasa. Di sekeliling Arsy itu kelihatan 24 ketua yang berpakaian putih bermahkota emas duduk di atas takhtanya masing-masing. Mereka itu ialah wakil jum’at Allah. Di hadapan Arsy itu berpasang tujuh buah pelita, yaitu ketujuh Ruh Allah. Di sekeliling Arsy itu pula terdapat Zat hidup yang penuh dengan mata di hadapan dan di beakangnya. Masing-masing bersayap enam, penuh dengan mata di sekeliling dan di dalam. Zat hidup yang pertama berupa singa, yang kedua seperti anak lembu, yang ketiga seperti muka manusia, dan yang keempat seperti burung nasar sedang terbang.
  • Dilihatnya Allah yang duduk di atas Arsy itu memegang sebuah kitab dalam tangan kanannya. Kitab itu bertulis di luar dan di dalamnya, tertutup dengan tujuh meterai. Seorang malaikat yang gagah berseru menanyakan siapa yang berkuasa mengoyakkan meterai dan membuka kitab itu. Baik di syurga, di bumi atau di bawah bumi, tak seorangpun cakap mengoyakkan meterai kitab itu, sehingga Yahya menangislah. Seorang di antara ketua yang 24 orang itu berkata kepadanya melarang dia menangis, karena seorang keturunan bangsa Yahudi, akar Daud, telah beroleh kemenangan membuka kitab dan ketujuh meterai itu. Maka di tengah-tengah para ketua dan Zat hidup itu tiba-tiba kelihatan seekor Anak Domba (Yesus Kristus) yang rupanya seperti telah tersembelih, bertanduk tujuh, bermata tujuh yaitu ketujuh Roh Allah yang sudah disuruhkan ke seluruh bumi ini. Anak Domba itu mengambil kitab itu dari tangan kanan Allah, terus sujudlah para ketua dan Zat hidup dengan memegang kecapai dan bokor emas berisi kemenyan, serta menyanyilah mereka, memuji dan mendo’a, disertai segala malaikat-malaikat hingga jumlahnya beribu-ribu laksa.
  • Anak Domba membuka ketujuh meterai satu demi satu. Ketika terbuka meterai pertama, keluarlah seorang mengendarai kuda putih. Orang itu berpanah dan mendapat karunia mahkota. Inilah tanda kemenangan Injil —Ketika terbuka meterai kedua, keluarlah kuda merah dikendarai orang yang mendapat karunia pedang besar— Demi meterai ketiga dibuka, keluarlah kuda hitam ditunggang oleh seorang yang memegang neraca. Dan terdengar suara bahwa sepucuk gandum sedinar harganya dan jelai sedinar tiga cupak. Minyak dan air anggur jangan dirusakkan —Terbuka meterai keempat, keluar kuda kelabu dikendarai orang bernama Maut, alam maut mengikutinya, serta kepada keduanya dikuasakan seperempat bumi untuk membunuhnya dengan pedang, dengan kelaparan dan maut, serta dengan binatang-binatang buas di bumi– Meterai  kelima dibuka, kelihatanlah segala jiwa yang telah terbunuh karena firman Allah. Mereka berseru menuntut balas tenhadap pembunuh-pembunuh di bumi. Allah berfirman agar mereka sabar menanti, lalu mengaruniakan kepada masing-masing sehelai jubah putih —Demi terbuka meterai keenam, terjadilah gempa besar, matahari menjadi hitam dan bulan seperti darah. Langit tergulung dan gunung-gunung serta pulau terlepas keluar dari tempatnya. Semua penduduk bumi kacau balau mencari perlindungan di gua dan di celah batu gunung. Terjadilah malapetaka yang amat hebat. Sementara itu Yahya melihat orang-orang yang mati syahid mendapat kelepasan di hadapan Arsy untuk memuji Yesus Kristus. Anak Domba itu, selama-lamanya– Akhirnya  Anak Domba itu membuka meterai ketujuh, tampillah tujuh orang malaikat membawa sangkakala yang membawa bencana malapetaka. Sangkakala pertama ditiup : hujan batu dan api di atas bumi dan terbakar hangus sepertiganya. Malaikat kedua meniup sangkakalanya, api sebesar gunung tercampak ke laut. Laut sepertiga menjadi darah, serta matilah sepertiga makhluk di dalamnya dan karam pula sepertiga kapal-kapal yang sedang berlayar. Ditiup sangkakala ketiga, gugurlah bintang yang bernama Afsantin, besar dan rnenyala, menimpa sepertiga segala sungai dan mata air, hingga menjadi pahit rasanya membawa kematian banyak manusia. Ketika berbunyi sangkakala keempat : matahari, bulan dan segala bintang tersiksa dan tertutup sepertiganya, maka gelaplah sepertiga siang dan malampun. Malaikat kelima meniup sangkakalanya: keluarlah seekor belalang dari tengah asap yang menyerbu dari lobang yang tak ternilai dalamnya. Maka dikaruniakan kepadanya kuasa seperti kala di bumi. Jangan ia merusakkan tumbuh-tumbuhan, melainkan boleh menyiksa manusia yang tidak bermeterai Allah di dahinya. Siksa itu hanya boleh lima bulan lamanya dan rasanya seperti disengat kala. Belalang itu rupanya seperti kuda perang, bermahkota seperti emas bermuka seperti manusia, berambut seperti rambut perempuan dan giginya seperti gigi singa, bersayap dan berbaju besi, ekornya seperti ekor kalajengking dan bersengat yang bila disengatkan mendapat penyakit lima bulan lamanya. Sangkakala keenam ditiup malaikat : terdengarlah suara keluar dari keempat tanduk persembahan emas, di hadirat Allah, memerintahkan agar keempat malaikat yang terikat dekat sungai Furat dilepaskan untuk membunuh sepertiga dari segala manusia. Banyaknya lasykar berkuda yang keluar dua laksa-laksa. Mereka berbaju besi merah sebagai api, dan biru tua dan warna belerang. Kepala kuda mereka seperti kepala singa, dan mulutnya keluar api dan asap belerang, membunuhi sepertiga dari segala manusia, sedang ekornya berupa ular dan berkepala, menyiksa manusia-manusia. Seterunya Yahya memakan sebuah kitab kecil yang diambilnya dari tangan seorang malaikat rasanya manis di mulut tetapi pahit di perut. Sesudah berbagai peristiwa hebat lainnya terjadi, maka malaikat ketujuh- meniup sangkakala : Terdengarlah suara besar dari syurga. “Kerajaan dunia ini menjadi kerajaan Tuhan kita, dan kerajaan Kristusnya maka ia akan memerintah kelak selama-lamanya”. Seorang wanita bermahkota dua belas bintang, bulan berada di bawah tapak kakinya. Wanita itu bersalut dengan matahari, ia mengandung dan kesakitan hendak beranak. Seekor naga besar keluar, merah menyala, berkepala tujuh dan bermahkotapun tujuh, bertanduk sepuluh. Ekornya panjang menyeret sepertiga dari bintang di langit. Naga itu menghadapi wanita yang hendak beranak itu dan siap hendak menelan anak yang akan dilahirkan. Apabila lahir, wanita ibunya itu menyambarnya dibawa kepada Allah dan wanita itupun lari ke padang belantara. Naga dikalahkan oleh malaikat Mikail dalam peperangan yang dahsyat lalu tercampak dari Syurga. Setibanya di bumi naga mengejar perempuan itu tetapi perempuan itu mendapat karunia sayap lalu terbang. Seterusnya terjadi perjuangan hebat antara Yesus dan Iblis. Iblis dapat dikalahkan. Kemudian tiba Hari Pengadilan di mana Tuhan Yesus menghakimi segala orang hidup dan mati. Kemudian sempurnalah Kerajaan Yesus Kristus yang kekal dan bahagia, di mana tidak ada malam dan dosa.

Demikianlah sebagian isi dari apa yang dikatakan wahyu Allah kepada Yahya, atau mimpi Yahya, yang menurut tafsiran orang Masehi adalah merupakan perumpamaan atau kiasan tentang Sejarah kedatangan dan kemenangan Kerajaan Allah, Yesus Kristus. Dimulai dengan kemenangan Injil, lalu datangnya masa gelap penuh dengan bencana dan malapetaka hingga Gereja-Gereja tersiksa, kemudian setelah segala godaan dan bencana dapat dialahkan dekat sebelum akhir zaman, datanglah kemenangan Kerajaan Allah yang diperintahi oleh Yesus Kristus Anak Domba itu dengan abadi dan bahagia.
Tetapi ahli falak atau astronomi yang mutlak berpegang pada ilmunya saja niscaya lebih tertarik kepada jumlah 24 dari ketua jum’at dalam mimpi Yahya tersebut, dan kepada jumlah serba tujuh, kepada matahari yang tertutup sepertiganya, sesudah bunyi sangkakala keempat kepada belalang yang bersengat seperti kalajengking (Scorpion), naga yang ekornya menyeret sepertiga segala bintang yang hendak menelan anak yang baru lahir; dan lain-lain hal dalam wahyu itu yang dapat disesuaikan dengan perjalanan bintang-bintang dan pergantian musim, musim panas, rontok, dingin dan musim semi di mana matahari mulai bersinar. Jumlah 24 dapat disesuaikan dengan jumlah jam dalam sehari semalam, jumlah tujuh sesuai dengan jumlah tujuh hari dalam seminggu, matahari tertutup merupakan gerhana dan sebagainya. Andaikata ada tafsiran semacam ini tentu datangnya dari orang yang menyangka bahwa ajaran ini mirip atau berasal dari agama menyembah Tuhan Matahari.
Pembahasan dalam risalah ini bukan mengenai tafsiran, melainkan siapakah sebenarnya penulis dari kitab wahyu ini, yang amat sukar ditentukan dengan pasti, apakah Yahya bin Zabdi, atau Yahya Presbyter atau Yahya lainnya. Alasan yang lebih kuat telah memperkuat pendapat bahwa Kitab Wahyu itu telah ditulis oleh Yahya Presbyter, ketua jum’at di Asia Kecil. Alasan ini antara lain :
  • Yahya bin Zabdi telah meninggal sebelum tahun 70 sedang Kitab Wahyu Yahya (menurut a.l. “Zoek-Licht Encyclopaedie : Apocalypse”) ditulis sekitar tahun 96.
  • Kitab Wahyu ditulis di pulau Patmos di pesisir Asia Kecil dan Yahya Presbyter adalah pada tahun-tahun akhir ahad pertama menjadi Presbyter (ketua jum’at) di Asia Kecil. Tambahan lagi tidak ada riwayat bahwa Yahya bin Zabdi pernah bekerja di Asia Kecil, terakhir hanya tersebut sampai di Samaria.
  • Dalam Encyclopaedie Brittanica terbitan 1961 disebutkan : “John the Presbyter in Asia Minor lived in the end of the first century. It is a fair hypothesis that this presbyter wrote the Apocalypse and also the second and third Epistles, while the fourth Gospel may have come from another author”. (“Yahya Ketua Jum’at di Asia Kecil itu hidup dalam akhir abad pertama, adalah suatu pendapat yang wajar bahwa ketua jum’at itu telah menulis Kitab Wahyu dan Surat Kiriman Yahya kedua dan ketiga, sedang Injil Yahya mungkin ditulis oleh pengarang lain”). Pengarang lain yang dimungkinkan menulis Injil Yahya itu sudah pasti bukan Yahya bin Zabdi karena ia telah meninggal sebelum tahun 70 seperti yang juga telah dikuatkan dalam Encyclopaedia tersebut. Mungkin penulis injil itu seorang mahasiswa perguruan Iskandariyah yang mengakukan diri sebagai Yahya murid Yesus, demikianlah pendapat Prof. Stadlein (Prof. Dr. A. Shalaby : Agama Masehi hal : 104).
  • Yahya Presbyter adalah seorang ketua jum’at di Asia Kecil. Dan dalam Kitab Wahyu diterangkan bahwa Yahya melihat Arsy Allah dikelilingi oleh 24 orang ketua jum’at bukan 24 rasul. Dan ini dapat disimpulkan bahwa penulisnya seorang ketua jum’at pula yaitu Yahya Presbyter. Hal ini bertambah jelas pada Surat Kiriman Yahya kedua dan ketiga yang dimulai dengan kata-kata : “Dari pada aku, seorang ketua . . .. . dan seterusnya”.
  • Asia Kecil di mana Yahya Presbyter bekerja adalah pusat perkembangan ajaran mistik, dan isi Wahyu kepada Yahya juga bersifat mistik. Tidak mungkin rasanya Yesus mengajarkan mistik semacam ini kepada muridnya Yahya bin Zabdi.
Ketika Kitab Perjanjian Baru diresmikan oleh sidang gereja pada akhir abad kedua, waktu itu baru berisi 21 kitab yang disyahkan, belum berjumlah 27 kitab seperti sekarang ini. Masih ada 6 kitab yang disangsikan kewahyuannya antara lain Kitab Wahyu Yahya tersebut di atas serta Surat kiriman Yahya kedua dan ketiga. Penolakan itu karena kesangsian akan kewahyuannya, sebab mustahil Allah memberi wahyu kepada seseorang yang bukan nabi, atau mungkin karena santernya petunjuk bahwa memang bukan Yahya murid Yesus yang menulisnya tetapi Yahya Presbyter itu.
Barulah pada sidang gereja di Hippo tahun 393 dan di Kartago tahun 397, dengan bersusah payah dan perdebatan sengit, akhirnya Kitab Wahyu berhasil disyahkan sebagai Wahyu Allah dan dimasukkan ke dalam Kitab Perjanjian Baru.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 42-47.

Sabtu, 05 April 2014

KITAB PERJANJIAN BARU (7)

Injil Yahya
Injil Yahya ini tidak termasuk Injil Sinoptis, karena memang sejarah dan isinya berlainan sekali. Dalam injil ini ketuhanan Yesus kelihatan ditonjolkan. Yesus dikatakan Kalam Allah, Anak Allah. Yesus dalam seluruh usaha dan keadaannya adalah benar-benar pernyataan Allah di dunia ini. Pendeknya Yesus adalah Allah. Di dalam injilnya ia menyebut dirinya sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (Yahya 13 : 23 dan 21 : 20) dan akhirnya ia katakan bahwa murid yang dikasihi Yesus itu adalah dia sendiri, Yahya, penulis Injil Yahya (21 : 24). Penulis Injil ini mengaku bahwa dialah murid yang dikasihi Yesus. Oleh karena itulah pada kepercayaan orang Masehi, Yahya penulis itu ialah Yahya bin Zabdi, adik Yakub bin Zabdi, seorang daripada murid Yesus yang 12; yang kebenarannya masih amat disangsikan oleh para ahli sejarah injil. Menurut sejarah agama Masehi, selama mengikuti Yesus hingga disalib, Yahya ini masih muda belia, masih kanak-kanak. Setelah Yesus diangkat ke langit, Petrus mengambil pimpinan jum’at. Ia membawa Yahya berkeliling mengabarkan injil, bersama-sama ditahan dan dipenjara.
Ketika Raja Yahudi Herodes Agrippa I wafat pada tahun 44 dan digantikan oleh anaknya yaitu Herodes Agrippa II raja Yahudi yang terakhir, Yakub dan adiknya Yahya tersebut di atas dibunuh atas perintah Herodes Agrippa II; atau mungkin Yakub dibunuh pada zaman Agrippa I dan Yahya pada zaman Agrippa II. Pada tahun 66 terjadi pemberontakan bangsa Yahudi terhadap pemerintah Roma dan Herodes Agrippa II memihak pemerintah Roma dan membantunya mengepung Yerusalem. Pada tahun 70 Yerusalem jatuh dan dibinasakan, dan Herodes tinggal di Roma sesudah itu. Menilik peristiwa itu dapat diketahui dengan pasti bahwa Yahya bin Zabdi terbunuh sebelum tahun 66, atau sebelum tahun 70. Karena Injil Yahya ditulis dalam tahun 100, maka tidaklah mungkin bahwa penulisnya itu Yahya bin Zabdi, murid Yesus. Keterangan ini telah dikuatkan oleh Papias, uskup di Hierapolis. Ia katakan bahwa Yakub dan Yahya bin Zabdi benar telah meninggal sebelum tahun 70; dan bahwa ia kenal dua orang yang bernama Yahya. Seorang di antaranya ialah Yahya Pengetua Gereja (Yahya Presbyter) yang mungkin telah menulis Injil Yahya itu, atau setidaknya menulis Kitab Wahyu Yahya; surat kiriman Yahya yang ke dua dan ketiga, sedang Injil Yahya ditulis oleh seorang Yahya lain yang sudah pasti bukan Yahya bin Zabdi karena ia telah meninggal sebelum tahun 70.
Adapun kebanyakan orang Masehi menganggap atau percaya bahwa penulis Injil Yahya itu adalah Yahya bin Zabdi murid Yesus. Kepercayaan itu berdasarkan riwayat dari seorang Bapa Gereja bernama Irenius. Irenius mengatakan bahwa ketika hari mudanya berkenalan baik dengan Polikarpus Uskup di Smyrna. Uskup ini menerangkan kepadanya pernah ia mendengarkan khotbah Yahya di Epesus, Yahya itu meninggal pada tahun 100 dan pada hari-hari tuanya itulah ia menulis injilnya, Ia menulis injilnya itu untuk melawan ajaran Cerinthus yang mengajarkan bahwa Yesus itu bukan anak Allah. Maka Yahya menegaskan dalam injilnya bahwa benar-benar Yesus itu Anak Allah, Kalam Allah dan Tuhan Allah.
Tetapi keterangan ahli sejarah injil yang lebih dapat diperaya menegaskan bahwa Yahya tersebut itu bukan Yahya bin Zabdi murid Yesus, tetapi Yahya lain, mungkin sekali Yahya Pengetua Gereja (Presbyter) di Asia Kecil yang hidup sampai akhir abad pertama (tahun 100). Yahya bin Zabdi telah meninggal sebelum tahun 70. Banyak alasan yang kuat untuk meyakinkan itu, antara lain :
  1. Yahya Presbyter adalah seorang pengetua sidang jum’at di Asia Kecil yang hidup sampai akhir abad pertama. Sedang Cerinthus juga tinggal di Epesus, suatu kota di pantai Asia Kecil. Maka Yahya Presbyter inilah yang lebih mungkin menulis Injil Yahya untuk melawan ajaran Cerinthus. Tidak ada riwayat yang menceritakan bahwa Yahya bin Zabdi berkhotbah di Epesus, maka khotbah Yahya Presbyter itulah yang didengar oleh Polikarpus di waktu mudanya, yang tentang ini telah diceriterakannya kepada Ireneus.
  2. Ireneus adalah seorang Uskup di kota Lyon di negeri Perancis tahun 178. Asalnya dari Asia Kecil. Polikarpus menjadi Uskup di Smyrna, meninggal kira-kira tahun 156 dan hampir berumur 100 tahun. Ketika Ireneus sering bertemu dengan Polikarpus, usia Ireneus baru paling tinggi 15 tahun, dan baru menuliskan ceritera Polikarpus itu di Lyon antara 35 – 50  tahun kemudian di mana ia juga mengakui belum pernah menulis apa-apa sebelum itu. Ditulisnya bahwa Polikarpus rapat bergaul dengan Yahya serta orang-orang lain yang telah pernah melihat Yesus dan ditegaskannya bahwa itu Yahya ialah penulis injil yaitu Yahya bin Zabdi. Maka kelihatanlah bahwa Ireneus telah keliru menganggap Yahya Presbyter sebagai Yahya bin Zabdi.
  3. Injil Yahya sengaja ditulis untuk melawan ajaran Cerinthus di Epesus, Epesus adalah suatu kota di pesisir Asia Kecil dan Yahya Presbyter juga seorang Presbyter dari Asia Kecil yang hidup Sezaman dengan Cerinthus. Lagi pula tidak ada riwayat mengatakan Yahya bin Zabdi pernah menjelajah sampai Asia Kecil. Dalam Kisah Rasul-Rasul, nama Yahya murid Yesus itu tersebut paling akhir hanya sampai ke Samaria yang letaknya di sebelah utara Yudea di tanah Palestina. Sesudah itu tak terdengar lagi namanya. Ini memperkuat benarnya anggapan bahwa ia memang benar terbunuh tidak lama sesudah itu.
  4. Di samping kitab-kitab dan Encyelopaedie yang meragukan Yahya bin Zabdi sebagai penulis injil, kitab “Sejarah Kerajaan Allah” terjemahan dari “De Weg van Gods Koninkrijk”, karangan Ir. J.H. Bavinck, halaman 458 menerangkan bahwa Yakub dan Yahya bin Zabdi telah dibunuh dengan pedang atas perintah Herodes Agrippa II; meskipun dalam Kitab Rasul-Rasul hanya Yakub saja yang di sebut telah dibunuh. Sesuai dengan keterangan dalam Encyclopaedie Brittanica yang bersandar pada Papias Uskup di Hierapolis yang menerangkan bahwa Yakub dan Yahya bin Zabdi telah meninggal sebelum tahun 70. Kota Hierapolis terletak di Pirgia. Asia Kecil juga
  5. Terbunuhnya kedua anak Zabdi yaitu Yakub dan Yahya sebagai syahid memang telah tersurat dalam injil, yaitu Matius 20 : 20 – 23 dan Markus 10 : 35 – 45. Di situ diriwayatkan tentang permohonan kedua anak Zabdi itu kepada Yesus agar keduanya diperkenankan kelak di syurga duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. Kedudukan dalam Arsy di syurga ini hanya tertentu bagi mereka yang terbunuh syahid karena membela Yesus. Yesus bertanya kepada mereka apakah mereka sedia meminum cawan minuman yang akan diminum oleh Yesus kelak. Ini suatu kiasan yang artinya pertanyaan apakah kedua anak Zabdi itu sedia mati berdarah seperti akan matinya Yesus sendiri, keduanya menjawab bersedia —Maka sudah selayaknya bagi setiap orang yang berpegang kepada Injil untuk mempercayai bahwa ayat Injil itu telah digenapi dengan syahid Yakub dan Yahya.— Dalam Markus lebih dikuatkan, ialah bahwa kedua mereka itu selain akan meminum cawan Yesus juga akan dibaptiskan sebagaimana Yesus akan dibaptiskan kelak.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 40-42.

Kamis, 03 April 2014

KITAB PERJANJIAN BARU (6)

Injil Lukas dan Kitab Rasul-Rasul
Lukas ini bukan murid Yesus yang 12 dan bukan pula termasuk yang 70, bahkan dia belum pernah melihat Yesus. Dia Seorang tabib yang memiliki keahlian mengarang. Selain menulis injil, dia juga menulis Kitab Rasul-Rasul. Kedua kitabnya itu bersumber kepada gurunya yaitu Paulus.
Perjalanan Paulus menyiarkan Injil yang pertama terjadi pada tahun 46 dan 47, ketika dibawa oleh Barnaba bersama kemanakannya Markus. Setelah Paulus berselisih dengan Barnaba, maka tahun 49 hingga 52 dia bersama dua orang muridnya yaitu Timotius dan Silas melanjutkan kegiatannya mengabarkan injil. Dalam perjalanan bertemu dengan seorang tabib kafir bangsa Gerika, yang terus menjadi muridnya yang paling setia. Tabib itu ialah Lukas tersebut di atas, yang beriman sesudah 17 tahun setelah disalibkan Yesus. Dari Teroas mereka berempat meneruskan perjalanannya ke daratan Eropa, mulai di kota Pilippi. Paulus dan Silas di tangkap orang dan dipenjarakan, tetapi dapat lepas karena gempa bumi yang meruntuhkan rumah-rumah dan penjara. Lukas dan Timotius tidak ditangkap mungkin karena mereka bukan orang Yahudi tetapi bangsa Gerika.
Dari sana mereka terus ke Tesalonika, tetapi Lukas tidak serta dan menetap di Pilippi. Perjumpaan kedua antara Lukas dan Paulus terjadi di Pilippi antara tahun 53 – 57  ketika Paulus mengadakan perjalanan ketiga. Dan sana meneruskan penjalanan ke Korintus dan menetap tiga bulan, lalu kembali ke Pilippi bertemu lagi dengan Lukas. Keduanya bersama-sama menuju Teroas dan berdiam seminggu lamanya. Keduanya berpisah lagi. Lukas serta Tirnotius dan lain-lainnya naik kapal menuju Asos, sedang Paulus mengambil jalan darat. Sampai di Asos ia naik perahu ke Miletus dan akhirnya sampai di Yerusalim serta bertemu pula dengan Lukas yang telah lebih dahulu sampai ke sana. Di Yerusalim itu Paulus ditangkap dan dipenjarakan di Yerusalim dan Kaisiria sekitar tahun 59 M. Penangkapan itu dilakukan oleh lasykar Roma, setelah terjadi huru hara di mana Paulus dikeroyok dan dipukuli orang banyak. Jika ia tidak ditangkap tentulah ia sudah mati dibunuh khalayak yang ganas itu. Kemudian dipenjarakan dituduh membuat onar.
Setelah diperiksa beberapa kali dihadapan pengadilan, akhirnya dibebaskan oleh Raja Agrippa. Tetapi Pestus, wakil Pemerintah di Yudea tidak berani melepaskannya karena takut kepada kemarahan orang-orang Yahudi. Akhirnya Paulus sebagai orang terbelenggu dilayarkan ke Roma. Lukas yang tidak ditangkap ikut berlayar. Kapal karam dan penumpangnya selamat semua berenang ke pulau Malta. Orang-orang tahanan itu termasuk Paulus kemudian dibawa ke Roma. Mereka yang terdiri perampok dan pernbunuh dipenjarakan sedang Paulus ditahan dalam sebuah rumah serta diperkenankan menerima tamu. Kesempatan ini dipergunakannya untuk mengajarkan injil memberitakan keilahan Yesus Kristus, anak tunggal Tuhan Bapa, yang telah mati disalib untuk menebus dosa manusia dan sebagainya.
Pada tahun 62 dia dibebaskan dan segera menyingkir dari Roma. Markus tinggal di Roma Dia tidak termasuk rombongan Paulus Lukas agaknya tidak ikut menyingkir, tetap di Roma mengabarkan injil. Perjalanan Paulus yang terakhir membawa dia kembali ke Roma pada tahun 64. Markus telah pergi ke Afrika tetapi Lukas masih berada di sana. Pada waktu itu kerajaan Rum diperintah oleh Kaisar Nero yang kejam, yang tengah membakari seluruh kota karena ingin melihat bagaimana rupa kota terbakar.
Kemudian Paulus tertangkap lagi lalu dihukum bunuh oleh Kaisar Nero, sebelum ia sempat bertemu dengan Lukas.
Menurut apa yang tersebut di atas, jelas kepada kita bahwa Lukas tidak lama bergaul dengan Paulus dan tidak terus-menerus bersama dengan dia. Keduanya bertemu pertama kali kira-kira tahun 50 di Troas. Dari Troas mereka menuju Pilipi. Lukas menetap dan Paulus meneruskan perjalanan ke Tesalonika. Dari sini ternyata bahwa pergaulan keduanya tidak lama. Kemudian bertemu lagi selama seminggu. Sesudah itu barulah dalam pertengahan perjalanan Paulus yang ketiga bertemu dengan Lukas lagi itupun tiada lama, ini kira-kira pada tahun 55. Keduanya bertemu lagi sementara waktu sebelum Paulus tertangkap seorang diri di Yerusalem pada tahun 58. Bersama lagi dalam kapal hingga sampai ke Roma pada tahun 60. Keduanya bersama-sama hingga tahun 62. Sesudah itu keduanya tidak bertemu lagi sehingga Paulus meninggal dibunuh pada tahun 61.
Lukas menulis injilnya pada tahun 95, yaitu 31 tahun sesudah wafatnya Paulus dan 33 sesudah perceraiannya pada tahun 62. Dalam masa 33 tahun itu tentulah Lukas telah menerima bahan-bahan untuk menulisnya dari orang lain. Banyaknya persamaan Injil Lukas dengan Injil Matius dan Markus menunjukkan, bahwa dalam menulis Injilnya Lukas tidak mengambil sumber dari keterangan Paulus, tetapi bahkan kemungkinan besar ia bersumber Injil Markus. Sebagaimana diketahui, Markus ini lama mengabari injil di kota Roma, dan memang injilnya ini ditulis atas permintaan orang Roma itu.
Sebelum menulis injil, Lukas telah terlebih dahulu menulis Kisah Rasul-Rasul yang pada hakekatnya tidak lebih dari riwayat perjalanan Paulus semata-mata. Sumber dari Kisah Rasul itu ialah pengalamannya ketika berjalan bersama-sama dengan gurunya dalam masa tidak lama dan terputus itu, dan ia kisahkan perjalanan gurunya ketika ia tidak bersama dengan dia, tentu dari keterangan gurunya itu sendiri. Dalam menceriterakan riwayat hidup Paulus, Kitab Kisah Rasul-Rasul terhenti dan berakhir pada tahun 62 ketika Paulus sebagai orang tahanan diizinkan tinggal di sebuah rumah dan bebas mengajarkan injil kepada Orang-orang Yahudi yang menjadi tamunya. Rupanya Lukas telah meninggalkan dia dan tidak mengetahui bagaimana seterusnya nasib gurunya itu. Memang dalam perjalanannya terakhir sesudah tahun 62 itu, Paulus rasa masygul serta gundah gelana, merasa kesepian karena banyak pengikutnya meninggalkan dia. Tidak seorangpun pengikutnya membela dia. Bahkan ketika dalam penjara ia panggil murid-muridnya agar datang menghibur hatinya, tak seorangpun yang datang. Timotius yang telah dianggapnya sebagai anak kesayangannyapun tidak datang. Akhirnya Paulus meninggal dihukum bunuh sebatangkara. Apakah kesalahannya hingga ditinggalkan oleh pengikutnya? Apakah kesalahan itu terletak pada tindakannya atau ajarannya, atau memang murid-muridnya tidak setia?
Barangkali apa yang tersebut dalam bagian terakhir Kisah Rasul-Rasul akan berfaedah juga untuk menjawab pertanyaan itu. Di situ Lukas meriwayatkan bagaimana Paulus mengajar orang-orang Yahudi yang datang ke rumahnya tentang hal Yesus dengan berdasarkan keterangannya pada Kitab Taurat dan Kitab Nabi-nabi. Mereka ada yang percaya dan ada yang tidak, serta sama berbantah-bantahan sama sendirinya. Paulus mengajarkan bahwa Yesus Kristus ialah Al-Masih yang dijanjikan dalam Taurat dan bahwa dia itu Tuhan dan Allah Sendiri; sedang menurut kepercayaan agama Yahudi, Al-Masih yang dijanjikan untuk menjadi penolong dan juruselamat itu bukan Tuhan dan bukan Anak Allah melainkan manusia utusan Allah seperti halnya Musa dan Nabi-nabi lain.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 37-39.

Selasa, 01 April 2014

KITAB PERJANJIAN BARU (5)

Injil Markus
Setelah Yesus ditangkap oleh tentara dan dibawa pergi, seorang pemuda yang hanya berselimutkan kain mengikuti mereka. Mereka menangkap pemuda itu, tetapi ia berhasil meloloskan diri dengan menanggalkan selimutnya lalu lari bertelanjang bulat.
Pemuda itu Yahya bergelar Markus, yang 32 tahun kemudian menjadi penulis Injil.
Ia tidak termasuk murid Yesus yang 12, hanya termasuk sahabat 70; mungkin karena dianggap masih pemuda-tanggung, atau memang jumlah murid Yesus tidak boleh lebih dari duabelas. Keharusan duabelas ini nyata, karena setelah Yudas Iskariyot berkhianat. maka kedudukannya harus diganti oleh orang lain. Maka setelah Ysus diangkat ke langit, murid-murid yang tinggal sebelas itu berdoa kepada Allah lalu mengadakan undian siapa yang harus menggantikan Yudas, Yusuf atau Matias. Matias telah kena undian untuk menggenapi jumlah 12. Kalau memang jumlah 12 itu suatu keharusan, adalah sangat menarik perhatian, antara lain karena sesuai dengan jumlah bulan dalam setahun Bumi mengelilingi Matahari.
Rasul Barnaba adalah pamannya Rasul yang ikhlas dan giat ini membawa dia bersama Paulus mengabarkan Injil. Di sinilah Markus menerima keterangan mengenai pribadi, riwayat dan pengajaran Yesus dari pamannya itu. Setelah Barnaba berpisah dengan Paulus karena perselisihan hebat dalam perkara i’tikad, Markus mengikuti pamannya itu bertabligh ke Kiperus (Cypres). Ketika pengetahuan dan pengalamannya telah semakin masak, ia pergi ke Mesir dan menetap di sana, tetapi sering juga bertabligh ke Roma. Di kota itulah ia bekerjasama dengan Peterus, rasul dan murid Yesus yang tertua dan terkuat. Pertalian antara keduanya sangat erat, hingga Peterus mencintai dia sebagai anaknya. Dari padanya Markus lebih bayak menerima keterangan tentang Yesus dan ajarannya, oleh sebab itu tidak salah jika dikatakan bahwa Markus ini lebih banyak mengetahui tentang Yesus, pertama karena selagi mudanya pernah melayani Yesus, dan kedua karena keterangan yang diterimanya dari kedua gurunya yaitu Barnaba dan Peterus.
Atas permintaan orang Roma ia telah menulis injil. Kitab itu selesai pada tahun 65. Tetapi ada juga keterangan yang kuat bahwa meninggalnya dibunuh orang itu terjadi pada tahun 62, yang mana berarti bahwa tahun 62 itulah ia menulis injilnya. Hampir keseluruhan materi dan isi Injil Markus ini sama dengan Injil Matius Susunan katanya berbeda dan ada sementara yang sama, dan Markus lebih banyak menekankan tanda-tanda keajaiban dan kebesaran Yesus sebagai Raja, serta hanya sedikit sekali mengutip ayat Perjanjian Lama, mungkin karena ia menulis injilnya itu atas permintaan orang Rum yang masih sedikit sekali pengetahuannya tentang Perjanjian Lama.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 36-37.

Minggu, 30 Maret 2014

KITAB PERJANJIAN BARU (4)

Injil Matius
Matius adalah seorang murid Yesus yang dipercayai telah menulis Injil Matius itu. Sebelum menjadi murid Yesus adalah dahulunya bernama Levi, seorang pengawal pemungut pajak. Jabatan ini sangat dibenci dan dihinakan oleh orang Yahudi karena dianggap menindas rakyat dan pembantu pemerintah penjajahan Romawi.
Setelah Yesus diangkat ke langit ia menyiarkan agamanya di Afrika Utara. Dia dibunuh orang pada 70 M setelah selesai menulis injilnya. Kebanyakan ahli Masehi berpendapat bahwa ia menulis itu bahasa Suryani atau Arab, ada juga yang menyangka dalam bahasa Aram. Menurut pendapat ahli-ahli Masehi, maksud Injil Matius hanya satu, ialah yang menjelaskan, bahwa benar-benar Yesus itu Messias yang telah sekian lama dijanjikan Allah dalam Perjanjian Lama, untuk melepaskan bangsa Israil dari penderitaan. Sedikitnya 47 kali ia mengutip ayat-ayat dalam Perjanjian Lama untuk membuktikan bahwa kedatangan Yesus tidak lain hanya penggenapan nubuat-nubuat (pemberitaan) dalam Perjanjian Lama.
Perjalanan Matius dalam menyiarkan agamanya sangat sedikit sekali diketahui orang, dan injilnya yang asli tidak pernah diketemukan. Adapun yang diketemukan ialah sebuah kitab injil dalam bahasa Yunani dengan nama Injil Matius, tetapi tidak diketahui orang pula siapa yang telah menterjemahkan ke dalam bahasa Yunani itu, sebagaimana tidak pula diketahui dengan pasti pada tahun berapa ia menulis injilnya. Pendapat para ahli yang terkuat, antara lain E. Meyer, bahwa Injil Matius ditulis pada tahun 70 M, jadi 5 tahun sesudah Injil Markus. Begitupun sebagaimana yang diterangkan di atas, ada juga yang berpendapat bahwa Matius tidak pernah menulis Injil. Benar tidaknya pendapat itu sukar diselidiki, tetapi kita sekarang dihadapkan kenyataan adanya Injil Matius. Pendapat bahwa Matius tidak menulis Injil riwayat Yesus sebagai yang ada dalam Injil Matius sekarang ini, adalah didasarkan atas keterangan Papias tersebut di atas.
------------------------
Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, H. Djarnawi Hadikusuma, PT. Percetakan Persatuan Yogyakarta, halaman 35-36.