"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Tamasya Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tamasya Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Desember 2018

Tahan Amarahmu

Allah Ta’ala memuji mereka yang memiliki sifat ini dalam firman-Nya,
 
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِين
 
“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran : 134).

Rasulullah ﷺ bersabda,
 
« مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ »

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” [HR Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), Ibnu Majah (no. 4186) dan Ahmad (3/440), dinyatakan hasan oleh imam at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani.].

Jumat, 14 Desember 2018

Tidur Pagi Bukan Kebiasaan Para Salaf

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Abu Wa’il Syafiq bin Salamah al Asadi, ia berkata : Suatu hari, usai kami shalat Shubuh, kami pergi menemui 'Abdullah bin Mas'ud. Kami mengucapkan salam di sisi pintu. Kami diizinkan masuk. Namun kami putuskan untuk menunggu sejenak (di luar).
Seorang budak berkata: "Tidakkah kalian masuk saja?"
Kami masuk, dan ia (Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه) sedang duduk bertasbih.
Dia bertanya: "Apa yang menghalangi kalian masuk, padahal sudah dipersilahkan?"
“Tidak apa-apa. Hanya saja kami mengira masih ada anggota keluarga yang masih tidur (sehingga kami tidak langsung masuk ke dalam)," jawab kami.
Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata: "Kalian mengira keluarga Ibnu Ummu Abd (maksudnya ia sendiri) adalah orang-orang yang lalai?"
Ia meneruskan untuk bertasbih, sampai tatkala mengira matahari telah terbit, ia memanggil budaknya dengan bertanya: "Lihatlah, apakah sudah terbit?"
Budak itu melihatnya, tetapi belum terbit. Maka ia (Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه) meneruskan tasbihnya. Sampai ketika mengira matahari telah terbit, maka ia memerintahkan budak perempuannya: "Wahai, budak. Tolong lihat, apakah sudah terbit?"
Ia (budak itu) melihat, dan ternyata matahari sudah terbit. Maka Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا وَلَمْ يُهْلِكْنَا بِذُنُوبِنَا

“Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan hari kami ini, tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami". [Shahih Muslim (1/564)]

Syaikh ‘Abdur Razzaq Al Badr berkata,”Dialog dalam atsar di atas mencerminkan gambaran secara jelas tentang kehidupan yang penuh dengan vitalitas dan tekad tinggi untuk mengoptimalkan waktu pagi hari di kalangan para salafush shalih rahimahullah , terutama para sahabat lantaran kedalaman ilmu din, sehingga mereka memberikan segala sesuatu pada tempatnya masing-masing.”[Fiqhul Ad'iyah wal Adzkar (3/45)]

Ketika Abu Wa’il dan kawan-kawannya datang kepada Ibnu Mas’ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, saat itu adalah waktu-waktu yang penuh berkah lagi berharga. Yaitu waktu untuk tekun dan melakukan dzikir kepada Allah, dan meningkatkan semangat menambah kebaikan. Hanya saja, tidak sedikit orang yang kurang memperhatikan. Waktu yang sangat berharga itu menjadi sia-sia, dilewatkan dengan tidur, bermalas-malasan dan patah semangat, atau disibukkan dengan perkara-perkara yang kurang bermanfaat. Apalagi jika mengawalinya dengan kegiatan yang diharamkan. Wal iyadzu billah!

Pagi hari laksana masa muda yang penuh dengan vitalitas, dan sore hari ibarat masa tua yang hanya menyisakan tubuh tanpa daya. Barangsiapa yang terbiasa dengan sesuatu kebiasaan pada masa mudanya, niscaya ia terbiasa mengerjakannya pada masa tuanya. Demikianlah, aktifitas seseorang pada pagi harinya akan mempengaruhi semangat kerja sepanjang harinya. Jika ia memulai dengan tekun, maka akan menyelesaikan harinya dengan penuh ketekunan. Jika mengawalinya dengan kemalasan, maka itulah yang akan dominan. Barangsiapa mampu mengendalikan hari, yaitu awalnya, niscaya seluruh harinya akan selamat dengan izin Allah. Dia akan ditolong untuk dapat mengerjakan kebaikan dan keberkahan. Ini seperti pepatah “harimu bagaikan ontamu, apabila yang pertama dapat engkau taklukkan, niscaya onta-onta di belakangnya akan mengikutimu”. Makna pepatah ini sejalan dengan pernyataan Ibnu Mas'ud رَضِيَ اللََّهُ عَنْه : "Segala puji bagi Allah yang telah membebaskan hari kami ini, tidak membinasakan kami dengan dosa-dosa kami".

Kajian lengkapnya di : almanhaj 

Sabtu, 01 Desember 2018

Salaf dan Sifat Zuhud

Yusuf bin Asbath pernah mendengar Sufyan Ats-Tsauri رحمه الله berkata: “Aku tidak pernah melihat kezuhudan yang lebih sulit daripada kezuhudan terhadap kekuasaan. Kita banyak menemui orang-orang yang zuhud dalam masalah makanan, minuman, harta dan pakaian. Namun ketika diberikan kekuasaan kepadanya maka iapun akan mempertahankan dan berani bermusuhan demi membelanya.”
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang lelaki yang memiliki seribu dinar apakah termasuk zuhud? Beliau menjawab: “Bisa saja, asalkan ia tidak terlalu gembira bila bertambah dan tidak terlalu bersedih jika berkurang.”
Demikianlah beberapa petikan mutiara salaf yang insya Allah berguna bagi kita dalam menuju proses penyucian jiwa. Semoga Allah senantiasa memberi kita kekuatan dalam meniti jejak generasi salaf dalam setiap aspek kehidupan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Kamis, 01 November 2018

Salaf dan Sifat Santun

Pada suatu malam yang gelap Umar bin Abdul Aziz memasuki masjid. Ia melewati seorang lelaki yang tengah tidur nyenyak. Lelaki itu terbangun dan berkata: “Apakah engkau gila!” Umar menjawab: “Tidak” Namun para pengawal berusaha meringkus lelaki itu. Namun Umar bin Abdul Aziz mencegah mereka seraya berkata: “Dia hanya bertanya: Apakah engkau gila! dan saya jawab: Tidak.”
Seorang lelaki melapor kepada Wahab bin Munabbih: “Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau!” Ia menjawab: “Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain engkau!”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Senin, 01 Oktober 2018

Salaf dan Tawadhu'

Pernah disebut-sebut tentang tawadhu’ di hadapan Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله, namun beliau diam saja. Ketika orang-orang mendesaknya berbicara ia berkata kepada mereka: “saya lihat kalian banyak bercerita tentang tawadhu’!” Mereka berkata: “Apa itu tawadhu’ wahai Abu Sa’id?” Beliau menjawab: “Yaitu setiap kali ia keluar rumah dan bertemu seorang muslim ia selalu menyangka bahwa orang itu lebih baik daripada dirinya.”
Ibnul Mubarak pernah ditanya tentang sebuah masalah di hadapan Sufyan bin Uyainah رحمه الله, ia berkata: “Kami dilarang berbicara di hadapan orang-orang yang lebih senior dari kami.”
Al-Fudhail bin Iyadh رحمه الله pernah ditanya: “Apa itu tawadhu’?” Ia menjawab: “Yaitu engkau tunduk kepada kebenaran!”
Mutharrif bin Abdillah berkata: “Tidak ada seorangpun yang memujiku kecuali diriku merasa semakin kecil.”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Sabtu, 29 September 2018

Amal yang Manfaat

قال الإمام ابن القيّم رحمه الله تعالى
  
العمل بغير إخلاص ولا اقتداء، كالمسافر يملأ جرابه رملاً يثقله ولا ينفعه

الفوائد(٥٢) 📚

Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله تعالى berkata; "Amal tanpa keikhlasan (karena Allah) dan contoh (ittiba') kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, seperti musafir yang memenuhi tempat airnya dengan PASIR yang hanya akan memberatkannya dan tidak bermanfaat untuknya."

(Al-Fawaid : 52)

Sabtu, 08 September 2018

Beramal Karena Dunia

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Huud : 15-16]

Ayat ini menunjukkan tercelanya orang yang beramal karena berharap dunia. Namun orang yang berharap dunia dari amalnya ada beberapa macam :
Pertama : Orang yang beramal shalih berupa sedekah, puasa, sholat dan sebagainya dengan niat agar rezekinya dilancarkan dan ditambah hartanya. Ia tak mengaharapkan pahala dari Allah dan keridloanNya. Maka yang seperti ini hanya akan diberikan di dunia saja jika Allah berkehendak. Adapun di akherat ia tidak mendapat pahala, yang akan ia dapatkan adalah siksa api Neraka.
Abul Abbas al-Qurthubi berkata, “Jika pendorong untuk beramalnya adalah dunia maka tidak menjadi ibadah, tetapi ia adalah maksiat. Bahkan bisa menjadi kufur yaitu syirik besar atau riya yaitu syirik kecil. Ini bila pendorongnya hanya dunia semata, bila tidak mendapat dunia tentu ia tidak akan beramal.” (al-Mufhim 12/50)

Kedua : Orang yang beramal shalih mengharapkan pahala dari Allah dan keridloan-Nya, tetapi iapun mengharapkan dunia dari amalannya.
Maka yang seperti dilihat mana yang lebih dominan. Jika yang lebih dominan adalah niat akheratnya, maka ia mendapat pahala. Jika yang lebih dominan adalah harapan dunia, maka ia mendapatkan dosa, dan amalnya tidak diterima. Dan jika sama sama kuat maka saling berguguran dan tidak mendapat pahala dan tidak juga dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Utsaimin dalam majmu fatawa beliau (1/99).

Badru Salam, حفظه الله تعالى - BBG al-Ilmu

Sabtu, 01 September 2018

Tangis Generasi Salaf

Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Ketika membaca firman Allah:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]

‘Aisyah Radhiyallahu 'anha menangis tersedu-sedu hingga basahlah pakaiannya.

Demikian pula Ibnu Umar رضي الله عنهما, ketika membaca ayat.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).” [Al-Hadid : 16]

Beliau menangis hingga tiada kuasa menahan tangisnya.

Ketika beliau membaca surat Al-Muthaffifin setelah sampai pada ayat
لِيَوْمٍ عَظِيمٍ يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” [Al-Muthaffifiin : 5-6]

Beliau menangis dan bertambah keras tangis beliau sehingga tidak mampu meneruskan bacaannya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dia Merindui Saudaranya

Empat belas abad yang lalu dia pernah merindu, dialah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…
Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi :
“Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (QS. Al Baqarah (2) : 281).

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau”. Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam para syuhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”
Ditengah perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis.
Para sahabat yang mendampinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.” (HR. Ahmad).

Alangkah tulus ungkapan itu..
Namun tersisa beragam tanya :
Kitakah yang dirindukan itu…?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnah (ajaran) nya sebagai bukti cinta…?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…?

Sahabat, mari kita amalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Agar kita semua termasuk kedalam golongan orang yang dirindukan oleh baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam..
Aamiin. (DPUDT Semarang).  

Jumat, 17 Agustus 2018

Khilafah Merangkai

Apa yang membuat kita marah tatkala mendengar salah satu pulau kita ingin direbut oleh Malaysia, sementara kita biasa saja tatkala melihat fakta tanah Palestina direbut oleh Israel hingga 90%-nya?
Apa yang membuat kita marah tatkala batik dan tarian tradisional kita diakui oleh negara jiran, tapi kita tidak semarah itu tatkala menyaksikan jiwa-jiwa teregang di Suriah karena kedzaliman penguasanya?
Apa yang membuat kita berkomentar; "Itu kan urusan negeri lain, urusin aja negerimu sendiri!", "itu bukan urusan kita kok!"
Itulah nasionalisme, Itulah sekarang.
Dahulu, Arab menggunakan nasionalisme serta ikatan kesukuan untuk memisahkan diri mereka dari Khilafah Islam yang mereka klaim negaranya orang Turki.
Disaat yang sama, nasionalisme ditanamkan pada Turki sehingga mereka berpikir hanya untuk kaumnya sendiri.
Padahal ikatan kekauman, kesukuan, kebangsaan, telah Allah gantikan dengan ikatan ukhuwah Islam. Ikatan yang tak memandang suku, bangsa, kaum, namun hanya mempertimbangkan satu Tuhan, maka mereka saudara.
Ikatan Islam itu yang dulu pernah menyatukan Aus dan Khazraj yang bermusuhan 150 tahun lebih lamanya, ikatan itu yang menyatukan seluruh Jazirah Arab, juga menyatukan daerah-daerah yang dibebaskan panglima-panglima terbaik, menjadi satu kesatuan, Khilafah Islam.
Maka ikatan ini yang dulu menyatukan Andalusia, Syria, Maghrib, Syam, Jazirah, Anatolia, India, Balkan juga Nusantara, menjadi satu kesatuan padu yang tidak terpisahkan.
Sudah umum diketahui, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, dahulu ikatan ukhuwah Islam menyatukan seluruh kaum Muslim, sekarang kita dipecah-pecah nasionalisme.
Cinta negeri bukan sesuatu yang dilarang, kita mencintai Indonesia, sebagaimana Rasul mencintai Makkah, namun cinta kepada Allah ta'ala, itu yang mengikat seluruh kaum Muslim dimanapun adanya.
Itulah, Ukhuwah Islam yang Menyatukan.

Kamis, 16 Agustus 2018

Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه Umat Terbaik

Almanhaj. Allâh Subhanahu wa Ta’ala memberikan keutamaan yang lebih bagi sebagian Nabi dan Rasul diatas yang lainnya. Para Nabi dan rasul yang termasuk ulul ‘azmi lebih utama disisi Allâh Azza wa Jalla dari para rasul yang lainnya, begitu pula para Sâbikûnal Awwalûn (para pendahulu kita) yang berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar lebih utama disisi Allâh Azza wa Jalla bila dibandingkan dengan selain mereka. Mereka semua adalah para wali Allâh Azza wa Jalla dan tempat mereka di syurga, dan Allâh Azza wa Jalla telah mengangkat derajat sebagian mereka diatas sebagian yang lain.
Induk semua keutamaan adalah ilmu, agama, keberanian dan kedermawanan. Siapapun yang lebih baik atau lebih utama daripada yang lain, maka pasti dia lebih banyak ilmunya, baik dari kalangan nabi dan shahabat ataupun dari kalangan yang lain. Dan memang, pokok dari segala keutamaan adalah ilmu. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Katakanlah, "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" [az-Zumar/39:9]

Banyak sekali hadist-hadist dan dalil dalil lainnya yang membuat kita harus mengakui bahwa Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan shahabat yang paling dicintai oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Radhiyallahu anhu , disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lebih baik daripada Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Ustmân bin ‘Affan رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Ali bin Abu Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan para shahabat lainnya. Semua orang yang memahami tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga keadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pasti mengetahui fakta tentang Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ini. Semakin banyak ilmunya tentang sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia akan semakin mengerti keutamaan Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Yang masih ragu akan keutamaan beliau hanyalah orang yang tidak bisa membedakan antara hadist shahih dan hadits lemah. Orang seperti ini, terkadang terjebak dalam salah satu dari dua keadaan ekstrem, antara mempercayai semua yang disebut hadits oleh orang atau menolak semuanya.

Diantara hadist-hadist yang shahih tentang hal ini adalah hadist yang dikeluarkan oleh al-Bukhâri dan Muslim, dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau berkata :
كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Ketika zaman Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (masih hidup) kami sering mengatakan fulan lebih baik daripada fulan. Kami mengatakan Abu Bakar lebih baik, kemudian Umar bin al-Khattab, kemudian Utsman bin ‘Affan[1]

Dalam riwayat lain Imam al-Bukhari :
كُنَّا زَمَنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لا نَعْدِلُ بِأَبِي بَكْرٍ أَحَدًا ، ثُمَّ عُمَرَ، ثُمَّ عُثْمَانَ

Pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (masih hidup), kami tidak menyamakan seorang pun dengan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. [2]

Imam Tirmizi dan yang lainnya meriwayatkan sebuah hadits secara marfû’ dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma sedang berjalan menuju Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
هَذَانِ سَيِّدَا كُهُوْلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ مِنَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ إِلاَّ النَّبِيِّيْنَ وَالْمُرْسَلِيْنَ لاَ تُخْبِرْهُمَا يَا عَلِيُّ

Dua orang ini merupakan dua tokoh tua[3] penduduk surga dari orang-orang yang terdahulu sampai yang terakhir. Wahai Ali! Janganlah kamu beritahukan hal ini kepada mereka.[4]

Di dalam kitab Shahih: bahwasanya tatkala jenazah Umar diletakkan, Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه datang menyela shaf para shahabat kemudian berkata :
إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ فَإِنِّي كَثِيرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Aku berharap Allâh mempersatukanmu dengan dua shahabatmu (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu anhu ), Sesungguhnya aku sering mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar.[5]

Hadist ini menerangkan betapa mereka berdua sering menemani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disaat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk, keluar, atau pun pergi. Oleh karena itu, Imam Malik t berkata kepada Harun ar-Rasyîd yang bertanya, “Beritahukanlah padaku kedudukan Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه disisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Imam Mâlik berkata, “Wahai amirul Mukminin, kedudukan mereka berdua tatkala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup sama seperti kedudukan mereka tatkala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (Mendengar ini) ar-Rasyid pun berkata, “Kamu telah menyembuhkanku, Wahai Malik! Kamu telah menyembuhkanku, Wahai Malik!”

Dalam sebuah riwayat yang mutawatir dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, dijelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata :
خَيْرُ هَذِهِ الأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ
Orang terbaik ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar kemudian Umar

Riwayat dibawakan melalui jalur periwayatan yang sangat banyak, bahkan ada yang mengatakan jalur periwayatannya mencapai delapan puluh jalur.
Imam al-Bukhâri juga meriwayatkan dalam kitab Shahîh beliau t dari jalur para hamdaniyiin (orang yang berasal dari qabilah Hamdan) yang merupakan orang-orang terdekat Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Kedekatan ini tergambar dalam perkataan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, “Seandainya aku penjaga pintu surga, niscaya aku akan katakan kepada orang-orang Hamdan, masuklah kedalam surga”
Imam al-Bukhâri membawakan riwayat lewat jalur Sufyân at-Tsauri rahimahullah yang berasal dari qabilah Hamdan, dari Mundzir yang juga berasal dari qabilah Hamdan, dari Muhammad bin al-Hanafiyah, dia berkata: saya berkata kepada bapakku :
أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ عُمَرُ
Siapakah manusia yang paling utama setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Dia menjawab, “Abu Bakar.” Aku bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Bapakku menjawab,”Kemudian umar”[6]

Ucapan ini, beliau sampaikan kepada anaknya, saat mereka berdua, dan ini tidak mungkin diucapkan dalam rangka taqiyah. Perawi menyampaikan atsar tersebut langsung dari bapaknya dan diucapkan di atas mimbar serta diriwayatkan bahwasanya dia mendengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan tentu Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tidak akan memastikan hal tersebut (keutamaan Abu Bakar ) kecuali berdasarkan ilmu, sesuai dengan kedudukan Beliau Radhiyallahu anhu. Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan salah seorang sahabat yang paling tahu tentang Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, serta paling mengerti kedudukan mereka berdua dalam Islam. Bahkan diriwayatkan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berharap amalan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tatkala meninggal dunia seperti amalan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Semoga Allâh Azza wa Jalla meridhai mereka semua. Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه juga memberi nama kedua anaknya dengan dengan nama Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.

Ali Radhiyallahu anhu juga pernah mengatakan :
لاَ أُوْتِـيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُـنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِي
Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang lebih megutamakanku daripada Abu Bakar dan Umar melainkan akan saya cambuk dia sebagaimana hukuman pendusta[7]

Perkataan beliau ini tidak disampaikan bukan karena tawaddu’, sebab tidak boleh seorang yang tawaddu’ menjatuhkan hukuman kepada orang mengutamakannya dengan cara benar dan tidak boleh pula memberi gelar pendusta kepada orang tersebut.
Dalam hadist mutawatir lainnya dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma bahwa beliau Radhiyallahu anhuma lebih mengutamakan Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه  daripada Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
Ibnu Batthah rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya, beliau berkata, ”Saya mendengar Laits bin Abi Salîm berkata, ‘Saya mendapati orang-orang Syi’ah generasi awal tidak lebih mengutamakan seorangpun melebihi Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.
Berkata Syuraik bin Abi Namir, seseorang berkata kepada Laist bin Abi Salîm, “Siapa yang lebih utama Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه atau Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه?” Dia berkata, “Abu Bakar.”
Si penanya tersebut berkata lagi, “Apakah kamu mengatakan seperti ini padahal kamu berasal kalangan Syi’ah?” Dia berkata, “Ya, orang Syi’ah adalah orang yang mengatakan seperti ini. Sungguh telah naik ke mimbar ini (mimbar masjidnya di Kufah) kemudian ia berkata, “Ketahuilah! Sesungguhnya sebaik-baik ummat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Apakah kita akan menolak perkataannya? Apakah kita akan mendustakannya? Demi Allâh! Dia bukanlah pendusta. al-Qhâdi Abdul Jabbar menyebutkan riwayat ini dan beliau menyandarkannya kepada kitab Abil Qâsim al-Balkhi.[8]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata setelah menyebutkan ayat :
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Janganlah engkau bersedih! Sesungguhnya Allâh bersama kita [at-Taubah/9:40]

(saat membantah sebagian syubhat yang dilontarkan oleh orang yang membenci dan mencela Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa ayat di atas mengisyaratkan celaan kepada Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang takut). Beliau rahimahullah mengatakan, “Tidak ada pada ayat tersebut isyarat yang menunjukkan bahwa Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Utsman رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, atau selain mereka yang lebih utama daripada Abu Bakar Radhiyallahu anhu, karena mereka semua sedang tidak bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kondisi genting ini. Seandainya mereka pada saat itu sedang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , keadaan mereka belum tentu lebih baik daripada keadaan Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Yang sudah diketahui dari berbagai keadaan Beliau Radhiyallahu anhu dan keadaan mereka disaat-saat mencekam, Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه selalu lebih baik keyakinan dan kesabarannya. Tatkala ada berbagai faktor yang bisa menimbulkan keraguan (yang menyebabkan banyak orang meragukan kebenaran syari’at Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) Abu Bakar as-shiddîq z tampil sebagai pribadi yang paling yakin dan tenang. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disakiti oleh sebab keraguan tersebut, beliau Abu Bakar Radhiyallahu anhu merupakan orang yang paling taat demi keridhaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan yang paling jauh dari segala hal yang bisa menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Keadaan ini sudah diketahui oleh semua orang yang mempelajari keadaan para shahabat disaat Nabi masih hidup dan juga setelah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat.[9]

Setiap Pujian Dalam Al-Qur'an, Maka Abu Bakar Masuk Di Dalamnya
Secara umum, setiap kata Mukmin, Muttaqin dan Muhsinin yang ada dalam al-Qur’an serta pujian untuk mereka, maka Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan orang pertama yang masuk dalam ayat tersebut, bahkan Beliau Radhiyallahu anhu menjadi yang terbaik diantara orang-orang yang masuk dalam ayat tersebut, sebagai mana yang masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat menjelaskan generasi terbaik. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, dan setelahnya[10]

Diantara contoh pujian yang terdapat dalam al-Qur’an adalah :
Pertama :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. [az-Zumar/39:33]

Yang masyhur dikalangan ahli tafsir bahwa yang dimaksud dengan orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang membenarkannya (mengimaninya) adalah Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. Pendapat ini disebutkan oleh sejumlah Ulama, disebutkan juga oleh at-Thabari rahimahullah dengan sanadnya yang bersambung sampai ke Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.[11] Sebagian diantara mereka menyebutkan sebuah kisah dari Abu Bakar Abdul Aziz bin Ja’far pembantu Abu Bakar al-Khallal: bahwasanya seseorang bertanya tentang ayat ini, maka Abu Bakar bin Ja’far menjelaskan kepada orang tersebut atau kepada sebagian orang yang hadir bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Abu Bakar. Orang yang bertanya tersebut berkata lagi, “Bukankah berkenaan dengan Ali?” Maka Abu Bakar bin Ja’far berkata, “Bacalah ayat setelahnya :

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ ۙ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ ﴿٣٣﴾ لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ ﴿٣٤﴾ لِيُكَفِّرَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ الَّذِي عَمِلُوا وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik, agar Allâh akan menutupi (mengampuni) bagi mereka perbuatan yang paling buruk yang mereka kerjakan dan membalas mereka dengan upah yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [az-Zumar/39:33-35]

Maka si penanyapun terdiam[12] .

Lafazh ayat tersebut mutlak atau umum tidak dikhususkan pada Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه atau Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, siapapun yang masuk dalam keumuman ayat tersebut masuk dalam hukum ayat tersebut. Dan tidak diragukan lagi, Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, Utsman رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dan Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه merupakan orang-orang yang paling berhak masuk dalam ayat tersebut. Namun ayat tersebut tidak khusus hanya untuk mereka. Pujian dalam ayat tersebut mencakup semua shahabat, karena mereka semua datang dengan kejujuran dan keimanan. Mereka adalah penduduk bumi yang paling berhak untuk masuk dalam ayat tersebut.

Kedua : Firman Allâh Azza wa Jalla:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar [at-Taubah/9:119]

Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah shiddiq , berdasarkan dalil yang sangat banyak. Jika demikian kenyataannya, maka tentu Beliau Radhiyallahu anhu masuk dalam kandungan ayat ini, bahkan Beliau Radhiyallahu anhu lebih utama daripada shahabat lainnya untuk dimasukkan dalam kandungan ayat di atas.

Ayat ini diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla berkenaan dengan Ka’ab bin Mâlik رَضِيَ اللََّهُ عَنْه ketika tidak ikut serta dalam perang Tâbûk. Namun saat ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang penyebab absennya dia dari peperangan tersebut, dia menjawab pertanyaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan jujur dan menyatakan bahwa dia tidak memiliki udzur syar’i untuk tidak ikut berperang. Lalu dia bertaubat dan Allâh menerima taubatnya berkat kejujurannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.[13]

BEBERAPA HAL MULIA TERKUMPUL PADA ABU BAKAR DALAM SATU HARI
Disebutkan dalam hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
قَالَ: فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا؟ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَا،
فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ، إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapakah diantara kalian yang puasa pada hari ini?” Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Saya.”
Nabi bertanya, “Siapakah diantara kalian yang mengiringi atau mengantarkan (pemakaman) jenazah pada hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.”
Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang memberikan makan kepada orang miskin hari ini?” Abu Bakar menjawb, “Saya.”
Nabi bertanya lagi, “Adakah diantara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” Abu Bakar berkata, “Saya.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah kebaikan-kebaikan ini berkumpul pada seseorang kecuali dia akan masuk syurga”[14]

Adakah riwayat semisal ini yang berkenaan dengan shahabat yang lain?! Ini menunjukkan keutamaan Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه. sungguh ironis, shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebaik ini masih dicela oleh orang-orang yang mengaku cinta Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti ajaran Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , padahal Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه dengan tegas menyatakan bahwa Beliau رَضِيَ اللََّهُ عَنْه termasuk penduduk surga.

ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU ORANG PERTAMA MASUK SURGA DARI UMAT INI
Abu Daud meriwayatkan dalam sunannya, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه :

أَمَا إِنَّكَ يَا أبَا بَكْرٍ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي

Adapun kamu, sesungguhnya kamu wahai Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk surga dari umat ini[15]

Ahlussunah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa semua shahabat yang ikut serta dalam perang Badar masuk surga, begitu juga Ummahatul Mukminin, seperti Aisyah x dan yang lainnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhum. Mereka semua adalah tokoh-tokoh penduduk surga setelah para nabi.[16]

ABU BAKAR DIPANGGIL DARI SEMUA PINTU SURGA
Dalam Shahîhain disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللهِ هذَا خَيْرٌ؛ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلاَةِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ، وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ
فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، يَا رَسُولَ اللهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ، فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تلْكَ الأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ: نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menginfakkan sesuatu yang berpasangan dijalan Allâh, maka dia akan dipanggil dari beberapa pintu surga. (Penjaga mengatakan), “Wahai hamba Allâh, ini lebih baik.”
Barangsiapa yang selalu melaksanakan shalat, maka akan dipanggil dari pintu shalat.
Barangsiapa termasuk orang-orang pernah berjihad, maka akan dipanggil dari pintu jihad.
Barangsiapa gemar bersedekah, maka akan dipanggil dari pintu sedekah.
Barangsiapa tekun berpuasa, maka dipanggil dari pintu puasa dan pintu Rayyân.
Maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu berkata, “Wahai Rasûlullâh! Seseorang tidak perlu dipanggil dari semua pintu , adakah orang yang dipanggil dari semua pintu? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya, dan aku berharap kamu termasuk dari mereka wahai Abu Bakar”[18]

Subhânallâh, alangkah besar nikmat yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada pribadi Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه.

Sungguh orang seperti ini sangat tidak pantas mendapatkan cela, apalagi celaannya hanya berdasarkan cerita-cerita bohong atau tidak jelas asal usulnya.

(Diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Abû Bakrin ash-Shiddîq Afdhalus Shahâbah wa Ahaqquhum bil Khilâfah)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Riwayat al-Bukhâri
[2]. Riwayat al-Bukhâri
[3]. Ini diungkapkan dengan menggunakan istilah saat mereka berada di dunia, karena di surga tidak ada yang tua
[4]. HR at-Tirmizdi ( 4/310)
[5]. Riwayat al-Bukhâri dan Muslim
[6]. Riwayat al-Bukhâri
[7]. Lihat, Manâkib al-‘Asyrah ( 1/401), Fadâil as-Shahâbah ( 1/83)
[8]. Abu Manshûr menyebutkan adanya ijmâ’ umat tentang orang terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Umar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Utsmân رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه, kemudian sepuluh orang shahabat yang diberi kabar masuk surga, kemudian para shahabat yang ikut dalam perang Badr, kemudian yang ikut perang Uhud, kemudian yang ikut Bai’ah Ridwân, kemudian para shahabat lainnya (Lihat Târîkh khulafâ’ karya Imam Suyûthi, hlm. 44)
[9]. Lihat Minhâj as-Sunnah, (3/161, 162, 165, 246) dan (2/182) dan Majmû’ Fatâwâ ( 4/421-426) dan ( 1/224 )
[10]. HSR al-Bukhâri
[11]. Beliau berkata, “Aku diberitahu oleh Ahmad bin Manshûr, dia berkata, ‘Kami dikabari Ahmad bin Mis’ad al-Marwazi, kami dikabari oleh Umar bin Ibrâhîm bin Khâlid, dari Abdul Malik bin Umair, dari Usaid bin Shafwân, dari Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه tentang firman Allâh : وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ (yang datang dengan membawa kebenaran ), Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata, ‘Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “ dan وَصَدَّقَ بِهِ (dan yang membenarkannya), Ali رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata, “Maksudnya adalah Abu Bakr.”-Dari tafsir Ibnu Jarîr rahimahullah
[12]. Aku berkata: penanya beranggapan ali besar didalam islam, dan tidak menemukan masa jahiliyah
[13]. Lihat Minhaj as-Sunnah, ( 1/214 ) (4/276, 51-53, 72 )
[14]. HSR Muslim
[15]. Abu Daud ( 4/295 )
[16]. Minhâj as-Sunnah ( 4/45 )
[17]. Karena dipanggil dari satu pintu saja sudah cukup untuk menggapai tujuan yaitu masuk surga
[18]. HSR al-Bukhâri dan Muslim dari Abi Hurairah رَضِيَ اللََّهُ عَنْه

Rabu, 15 Agustus 2018

Hukum Shalat Di Belakang Ahlul Bid'ah

Ahlus Sunnah menganggap shalat berjama’ah di belakang imam baik yang shalih maupun yang fasik dari kaum Muslimin adalah sah. Dan menshalatkan siapa saja yang meninggal di antara mereka.[Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki]
Dalam Shahiihul Bukhari [Shahiihul Bukhari (no. 1660, 1662, 1663)] disebutkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma pernah shalat dengan bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Padahal al-Hajjaj adalah orang yang fasik dan bengis [Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi seorang amir yang zhalim, dia menjadi amir di Irak selama 20 tahun, dan dialah yang membunuh ‘Abdullah bin Zubair bin ‘Awam di Makkah. Hajjaj mati tahun 95 H. Lihat Taqriibut Tahdziib (I/190, no. 1144) dan Tahdziibut Tahdziib (II/184-186), oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani]. ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma adalah seorang Sahabat yang sangat hati-hati dalam menjaga dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan al-Hajjaj bin Yusuf adalah orang yang terkenal paling fasik. Demikian juga yang pernah dilakukan Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu yang bermakmum kepada al-Hajjaj bin Yusuf. Begitu juga yang pernah dilakukan oleh beberapa Sahabat Radhiyallahu anhum, yaitu shalat di belakang al-Walid bin Abi Mu’aith. [Lihat Shahiih Muslim (no. 1707)]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda :

يُصَلُّوْنَ لَكُمْ، فَإِنْ أَصَابُوْا فَلَكُمْ وَلَهُمْ، وَإِنْ أَخْطَأُوْا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ
“Mereka shalat mengimami kalian. Apabila mereka benar, kalian dan mereka mendapatkan pahala. Apabila mereka keliru, kalian mendapat pahala sedangkan mereka mendapat dosa”. [HR. Al-Bukhari (no. 694) dan Ahmad (II/355, 537), dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Imam Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullah pernah ditanya tentang boleh atau tidaknya shalat di belakang ahlul bid’ah, beliau menjawab: “Shalatlah di belakangnya dan ia yang menanggung dosa bid’ahnya.” Imam al-Bukhari memberikan bab tentang perkataan Hasan al-Bashri dalam Shahiihnya (bab Imamatul Maftuun wal Mubtadi’ dalam Kitaabul Aadzaan).
Ketahuilah bahwasanya seseorang boleh shalat bermakmum kepada orang yang tidak dia ketahui bahwa ia memiliki kebid’ahan atau kefasikan berdasarkan kesepakatan para ulama.
Ahli bid’ah maupun pelaku maksiyat, pada asalnya shalatnya adalah sah. Apabila seseorang shalat bermakmum kepadanya, shalatnya tidak menjadi batal. Namun ada ulama yang menganggapnya makruh. Karena amar ma’ruf nahi munkar itu wajib hukumnya. Di antaranya bahwa orang yang menampakkan kebid’ahan dan kefasikannya, jangan sampai ia menjadi imam rutin (rawatib) bagi kaum Muslimin.
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Bahwa shalat di belakang orang yang fasik dan pemimpin yang zhalim, sah shalatnya. Sahabat-sahabat kami telah berkata: ‘Shalat di belakang orang fasik itu sah tidak haram akan tetapi makruh, demikian juga dimakruhkan shalat di belakang ahli bid’ah yang bid’ahnya tidak sampai kepada tingkat kufur (bid’ahnya tidak menjadikan ia keluar dari Islam). Tetapi bila bid’ahnya adalah bid’ah yang menyebabkan ia keluar dari Islam, maka shalat di belakangnya tidak sah, sebagaimana shalat di belakang orang kafir.’ Dan Imam asy-Syafi’i rahimahullah menyebutkan dalam al-Mukhtashar bahwa makruh hukumnya shalat di belakang orang fasiq dan ahlu bid’ah, kalau dikerjakan juga, maka shalatnya tetap sah, dan inilah pendapat jumhur ulama.” [Diringkas dari al-Majmuu’ Syarhul Muhadzdzab (IV/253) oleh Imam Nawawi, cet. Daarul Fikr]
Menshalatkan seorang Muslim yang meninggal dunia hukumnya fardhu kifayah, tetapi apabila seorang Muslim tersebut adalah ahlul bid’ah dan pelaku maksiyat, maka para ulama berbeda pendapat tentang hal ini. Menurut pendapat jumhur ulama, dia boleh dishalatkan. Dalam hal ini dikecualikan para pemberontak, perampok, munafiq, dan orang yang mati bunuh diri. Sebagai pelajaran bagi yang lainnya, adapun orang munafiq, tidak boleh dishalatkan dengan dasar firman Allah al-Hakiim :

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِّنْهُم مَّاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
“Dan janganlah sekali-kali kamu menshalati (jenazah) seseorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik”. [QS. At-Taubah : 84]. 
[Lihat pembahasan ini dalam Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 529-537) takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki, Mauqif Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah min Ahlil Ahwaa’ wal Bida’ (hal. 343-371), al-Imaamah fish Shalaah fii Dhau-il Kitaab was Sunnah (hal. 42-48) oleh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]

Sumber : almanhaj.or.id   

Rabu, 01 Agustus 2018

Salaf dan Taubat

Setiap Bani Adam pasti bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang segera bertaubat kepada Allah. Demikianlah yang disebutkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits shahih. Generasi salaf adalah orang yang terdepan dalam masalah ini!
‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata: “Beruntunglah bagi orang yang buku catatan amalnya banyak diisi dengan istighfar.”
Al-Hasan Al-Bashri pernah berpesan: “Perbanyaklah istighfar di rumah kalian, di depan hidangan kalian, di jalan, di pasar dan dalam majelis-majelis kalian dan dimana saja kalian berada! Karena kalian tidak tahu kapan turunnya ampunan!”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Kamis, 19 Juli 2018

Kehebatan Usul Umar bin Khattab

Umar bin Khattab adalah salah sahabat Rasulullah yang pendapatnya didengar Allah ta'ala dan bersesuaian dengan firman Allah ta'ala di dalam tiga perkara, yaitu :
Pertama. Ketika ia mengusulkan, "Wahai Rasulullah, tidaklah sebaiknya tuan jadikan maqom (tempat sholat) Ibrahim ini menjadi tempat sholat". Maka turunlah surat al-Baqarah (2) ayat 125 :

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا۟ مِن مَّقَامِ إِبْرٰهِۦمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَآ إِلَىٰٓ إِبْرٰهِۦمَ وَإِسْمٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآئِفِينَ وَالْعٰكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan jadikanlah sebagai maqam Ibrahim tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".
Baca juga; Baitullah adalah Tempat Berkumpul dan Pemicu Tegaknya Tauhid.    

Kedua. Ketika ia mengusulkan, "Telah berkunjung kepada isteri-isteri tuan orang baik dan orang jahat. Bagaimana sekiranya tuan memerintahkan agar supaya dipasang hijab (penghalang)". Maka turunlah ayat hijab dalam surat al-Ahzaab (33) ayat 53 :

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَدْخُلُوا۟ بُيُوتَ النَّبِىِّ إِلَّآ أَن يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَىٰ طَعَامٍ غَيْرَ نٰظِرِينَ إِنَىٰهُ وَلٰكِنْ إِذَا دُعِيتُمْ فَادْخُلُوا۟ فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانتَشِرُوا۟ وَلَا مُسْتَـْٔنِسِينَ لِحَدِيثٍ ۚ إِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِىَّ فَيَسْتَحْىِۦ مِنكُمْ ۖ وَاللَّـهُ لَا يَسْتَحْىِۦ مِنَ الْحَقِّ ۚ وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ ۚ ذٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ ۚ وَمَا كَانَ لَكُمْ أَن تُؤْذُوا۟ رَسُولَ اللَّـهِ وَلَآ أَن تَنكِحُوٓا۟ أَزْوٰجَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦٓ أَبَدًا ۚ إِنَّ ذٰلِكُمْ كَانَ عِندَ اللَّـهِ عَظِيمًا
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali dia mengijinkan kamu untuk makan tanpa menunggu masak makanan, tetapi apabila kamu diundang, maka masuklah, dan apabila kamu selesai makan, maka keluarlah dengan tidak memperpajang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi, tetapi dia malu kepada kamu (menyuruh keluar), sedang Allah tidak malu (menjelaskan) kebenaran. Dan apabila kamu meminta sesuatu kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang dinding. Demikian itu lebih membersihkan hati kamu dan hati mereka. Dan kamu tidak boleh menyakiti Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya sesudahnya selama-lamanya. Sesungguhnya yang demikian itu besar (dosanya) di sisi Allah.
Baca juga; Adab dan Sopan Santun dalam Rumah Tangga Nabi s.a.w.. 

Ketiga. Ketika Rasulullah s.a.w. diboikot oleh isteri-isterinya karena cemburu, maka Umar berkata kepada mereka (isteri-isteri Nabi) : "Mudah-mudahan Tuhannya akan menceraikan kamu, dan menggantikan kamu dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu". Maka turunlah surat at-Tahrim (66) ayat 5 :

عَسَىٰ رَبُّهُۥٓ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُۥٓ أَزْوٰجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمٰتٍ مُّؤْمِنٰتٍ قٰنِتٰتٍ تٰٓئِبٰتٍ عٰبِدٰتٍ سٰٓئِحٰتٍ ثَيِّبٰتٍ وَأَبْكَارًا
Jika dia menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, (yaitu) yang muslimat, yang mukminat, yang ta'at, yang taubat, yang beribadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.
Baca juga;   .
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 44 - 45.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994.

Kamis, 12 Juli 2018

Mengadu Kesedihan

Semua orang pasti pernah merasakan sesuatu yang tidak diinginkan. Semua orang juga pasti mempunyai masalah dan problem kehidupan. Di saat tertentu orang hidup bahagia dan senang, di saat yang lain pula boleh jadi sedih dan pilu. Sesungguhnya semua masalah itu cukup, semua perkara yang dihadapi seorang muslim hanya dicurhatkan kepada Allah. Seorang muslim hanya akan menampakkan kelemahannya di hadapan Allah, tidak kepada makhluk yang sama-sama lemah.
Jika seseorang menampakkan dan mengadukan kesedihan serta kesulitan kepada manusia, maka hal itu tidak meringankan kesedihan tersebut. Namun apabila seseorang mengadukan kesedihan itu kepada Allah, itulah yang akan bermanfaat baginya.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat ~ Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku” [QS Al Baqarah (2) : 186].

Ini semua bukan berarti kita tidak boleh sama sekali meminta pendapat kepada orang lain. Akan tetapi, mana yang di dahulukan. Datang mengadu kepada Allah dulu atau berkeluh kesah ke teman ? Ingatlah bahwa Allah tidak menjadikan langit selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar.
Tetapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, berkah di setiap cobaan. Dia juga memberikan jawaban di setiap do'a dan kemudahan dari setiap kesulitan serta jalan dari setiap masalah.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
 “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.  (5).

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
 Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. (6).
[QS. Al Insyirah : 5-6]

Hijab Alila

Kamis, 05 Juli 2018

Mohon Ampun

Di surat Nuh (71) ayat 28;

رَّبِّ اغْفِرْ لِى وَلِوٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنٰتِ وَلَا تَزِدِ الظّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا
“Robbighfir lii waliwaalidayya wa liman dakhala baitiya mu’minaa wa lilmu’miniina wal mu’minaati walaa tazididz-dzoolimiina ilaa tabaroo.”

Artinya :
Ya Tuhanku, Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain kebinasaan.

Keterangan :
Menurut keterangan ahli tafsir, nabi Nuh a.s. di kala hendak meminta dibinasakan kaumnya lantaran ingkar, memohon dengan do’a ini untuk keselamatan pengikut-pengikutnya. (al-Khazin – al-Baghawy 7 : 130-131).
------------------------
Al-Quraan dan Terjemahannya, Departeman Agama RI, Pelita II/1978/1979, halaman 981.
Pedoman Dzikir dan Do’a, Prof Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Penerbit PT. Bulan Bintang Jakarta, cetakan kesepuluh 1987, halaman 371.

Minggu, 01 Juli 2018

Salaf dan Keikhlasan

Generasi salaf adalah generasi yang sangat menjaga aktifitas hati. Seorang lelaki pernah bertanya kepada Tamim Ad-Daari tentang shalat malam beliau. Dengan marah ia berkata: “Demi Allah satu rakaat yang kukerjakan di tengah malam secara tersembunyi, lebih kusukai daripada shalat semalam suntuk kemudian pagi harinya kuceritakan kepada orang-orang!”
Ar-Rabi’ bin Khaitsam berkata: “Seluruh perbuatan yang tidak diniatkan mencari ridha Allah, maka perbuatan itu akan rusak!”
Mereka tahu bahwa hanya dengan keikhlasan, manusia akan mengikuti, mendengarkan dan mencintai mereka. Imam Mujahid pernah berkata: “Apabila seorang hamba menghadapkan hatinya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati manusia kepadanya.”
Memang diakui, menjaga amalan hati sangat berat karena diri seakan-akan tidak mendapat bagian apapun darinya. Sahal bin Abdullah berkata: “Tidak ada satu perkara yang lebih berat atas jiwa daripada niat ikhlas, karena ia (seakan-akan –red.) tidak mendapat bagian apapun darinya.”
Sehingga Abu Sulaiman Ad-darani berkata: “Beruntunglah bagi orang yang mengayunkan kaki selangkah, dia tidak mengharapkan kecuali mengharap ridha Allah!”
Mereka juga sangat menjauhkan diri dari sifat-sifat yang dapat merusak keikhlasan, seperti gila popularitas, gila kedudukan, suka dipuji dan diangkat-angkat.
Ayyub As-Sikhtiyaani berkata: “Seorang hamba tidak dikatakan berlaku jujur jika ia masih suka popularitas.”
Yahya bin Muadz berkata: “Tidak akan beruntung orang yang memiliki sifat gila kedudukan.”
Abu Utsman Sa’id bin Al-Haddad berkata: “Tidak ada perkara yang memalingkan seseorang dari Allah melebihi gila pujian dan gila sanjungan.”
Oleh karena itulah ulama salaf sangat mewasiatkan keikhlasan niat kepada murid-muridnya. Ar-Rabi’ bin Shabih menuturkan: “Suatu ketika, kami hadir dalam majelis Al-Hasan Al-Bashri, kala itu beliau tengah memberi wejangan. Tiba-tiba salah seorang hadirin menangis tersedu-sedu. Al-Hasan berkata kepadanya: “Demi Allah, pada Hari Kiamat Allah akan menanyakan apa tujuan anda menangis pada saat ini!”

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

Baca selengkapnya di almanhaj.or.id  

Kamis, 28 Juni 2018

Menangislah Bila Perlu

Menangislah bila harus menangis, biar air mata kita mengalir menyesali segala dosa daripada hanya ketawa tanpa mengira masa. Biarlah airmata kita mengalir ketika bertaubat daripada tak sempat karena terlambat. Biar airmata kita mengalir karena rindukan surga daripada terpesona dengan dunia yang hanya sementara. “Maka mereka yang sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS. At Taubah : 82).

“Ada dua buah mata yang tidak akan tersentuh api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah dan mata yang berjaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam [jihad] di jalan Allah". (HR. at-Thabrani).

(Hijab Alila)

Sabtu, 23 Juni 2018

Selebriti Langit

Sungguh beruntung orang yang tidak terkenal dikalangan penghuni bumi akan tetapi ia masyhur di kalangan penghuni langit (malaikat).
Tersohor di penduduk bumi :
  • Rentan menimbulkan riya'.
  • menjadikan seseorang berusaha berbuat sesuai selera masyarakat dan perlu media demi menjaga ketenarannya.
  • Kalau sampai bersalah maka aib pun ikut-ikutan tersohor. 

Adapun tersohor diantara para penghuni langit maka :
  • Akan selalu didoakan oleh mereka.
  • Tidak perlu media untuk menyiarkan amalan sholeh, karena otomatis tercatat meskipun amalan dikerjakan di tengah malam gelap gulita di tengah terlelapnya penghuni bumi. 
  • kalau melakukan kesalahan maka tidak disebarkan bahkan dimohonkan ampunan oleh mereka kepada Allah ta'ala. 

(Lihat QS. 40 : 7 - 9)

Firanda Andirja; 4 Mei 2015, 13 : 46 WIB.

Sabtu, 16 Juni 2018

Jangan Diam !!!

Dikecewakan itu sangat tidak mengenakkan, apalagi bila yang berbuat orang yang kita sayangi. Dan bagi yang dikecewakan, manusiawi bila ia ingin membalas, tapi seringkali kita lupa, membalas itu tidak akan menyelesaikan apapun.
Saat istri berbuat salah, sang suami sakit hati, lalu mendiamkan. Pikirnya suami "supaya engkau rasa, bagaimana sakit hati", Innalillahi. Niatan sudah salah, caranya pun juga salah, walaupun istri salah, tugas suami adalah menasihati, menunjukkan kebaikan, BUKAN DIAM. Manusiawi memang keinginan membalas bila tersakiti, tapi itu bukan tanda cinta, bukan tanda menyayangi. Apalagi seorang suami, tugasnya memang membimbing, mendidik, karena Allah memberikan amanah pemimpin keluarga kepadanya. Dan juga, saat menikah dan mengambil wanita dari ayahnya, sejatinya suami itu menggantikan ayah, menanggung semua dari wanita itu. Maka kesalahan sang istri adalah kesalahan suami, maka kawal dirinya, bimbing dirinya, JANGAN DIAM.
Walau lelaki memang tak selalu sempurna, kadang marah berlebih. Namun bila tersadar, bahwa itu tak perlu, segerakan meminta ma'af. "Membalas lebih sakit" itu tidak ada gunanya, memberi ma'af jauh lebih dekat kepada cinta. Kehormatan takkan berkurang dengan memperbanyak ma'af, justru nilai dirimu jadi rendah apabila engkau tinggi hati. Disakiti itu tidak enak, sengsara. Namun apabila membalas, sama saja.
Lisan lembut itu yang masuk ke hati orang yang kita sayangi, bukan ancaman, bentakan, adu keras kepala atau adu kuat gengsi. Sebagaimana engkau halalkan dia dengan nama Allah, sebutlah nama Allah ketika menasihatinya.

Ustadz Felix Siauw; 8 Mei 2015, 21:00 WIB.