"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sabar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Desember 2011

HASIL SIFAT SABAR

”Yaitu, orang-orang yang ketika ditimpa kesusahan (musibah), mereka itu berkata : sesungguhnya kami ini adalah mikil Allah dan kepada-Nya pula kami akan kembali. Merekalah orang-orang yang mendapat karunia, kehormatan dan rahmat dari Tuhan dan merekalah orang-orang yang memperoleh hidayah.” (QS Al-Baqarah: 157)
Uraian akhir ayat diatas menjelaskan tiga macam sukses atau hasil yang akan diperoleh orang-orang yang sabar. Yang tiga macam itu ialah:

(1) Shalawat. Artinya = karunia.

Menurut Sayid Rasyid Ridha, yang dimaksud dengan shalawat itu ialah bermacam-macam kemuliaan, kehormatan, ketinggian, baik pada sisi Tuhan maupun pada sisi manusia. Ibnu-Abbas mengatakan, bahwa dalam pengertian shalawat itu termasuk juga ampunan Ilahi. (Tafsir Al-Manar: j. II hal. 41).

(2) Rahmat. Artinya = kasih sayang Tuhan.
Mengenai Rahmat itu, disebutkan dalam Al-Quran :
”Rahmat-Ku (Tuhan) meliputi semua hal”. (Al-A’raf : 156).

Rahmat Tuhan itu meliputi segala bidang kehidupan, bertemu dalam setiap keadaan dan situasi. Dalam kehidupan, baik kehidupan sebagai pribadi maupun sebagai ummat atau bangsa, kerapkali manusia mendapat rahmat. Kadang-kadang seseorang umpamanya sudah putus asa terhadap sesuatu hal.
Segala usaha telah dijalankan. Menurut perhitungan yang normal, usaha itu tidak akan berhasil lagi. Tapi, pada saat-saat yang terakhir Tuhan memberikan rahmat-Nya sehingga akhirnya berhasil juga apa yang dimaksud itu. Malah lebih daripada yang diharapkan. Inilah salah satu contoh mengenai kasih sayang Tuhan yang diberikan-Nya kepada kehidupan manusia-pribadi.
Dalam kehidupan sebagai bangsa, kerapkali pula ditemui saat-saat dimana Rahmat Tuhan itu datang tanpa disangka-sangka. Siapakah yang menyangka, setelah berjuang berpuluh-puluh tahun, tiba-tiba di atas kuburan kekalahan Jepang, maka bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaan negaranya, dengan proklamasi 17 Agustus 1945? Bukankah itu satu Rahmat Tuhan yang datangnya dengan tiba-tiba?
(3) Hidayah. Artinya = petunjuk, pimpinan.
Hidayah itu ada lima macam, yaitu :
  • Hidayah-fithri. Yakni, tabiat yang dianugerahkan kepada manusia sejak permulaan kejadiannya. Ahli-ahli ilmu jiwa atau pendidikan menamakannya: instinct. Hidayah yang demikian bukan hanya diberikan kepada manusia saja, tapi terhadap semua makhluk Tuhan.
  • Hidayah-indra. Yaitu, alat peraba, alat pendengar, alat pencium, alat pelihat dan lain-lain sebagainya.
  • Hidayah-akal. Yakni,satu alat yang dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Hidayah ini hanya diberikan kepada manusia saja, tidak kepada hewan.
  • Hidayah-agama (ad-dien). Yaitu, petunjuk tentang, peraturan-peraturan dan pegangan hidup manusia, yang menyangkut kehidupan pribadi maupun kehidupan masyarakat.
  • Hidayah-taufiq. Yakni kesesuaian yang diberikan oleh Tuhan, sesuai dan sejalan dengan apa yang diharapkan oleh manusia. Hidayah-taufiq itu hanyalah hak tunggal Tuhan sendiri, semacam hak prerogatif.
Dalam rumusan yang singkat, hidayah itu dapat dikatakan mengandung bermacam-macam unsur yang meliputi kebenaran, keadilan, kebahagiaan, kenikmatan dan lain-lain sebagainya.
Apabila karunia, kasih sayang dan petunjuk sudah diberikan Tuhan kepada manusia, maka itulah puncak kebahagiaan dan sukses. Sukses itu dapat dicapai dengan mengetrapkan sifat sabar.
---------------
SABAR DAN SYUKUR, M. Yunan Nasution, Penerbit Ramadhani, halaman 16 - 18

Jumat, 09 Desember 2011

BENTUK SABAR

Dilihat dari keadaan dan bentuknya, maka sabar itu ada dua macam, yaitu :
  1. sabar yang bersifat jasmaniah (fisik). Yaitu, kesabaran badan memikul beban yang berat-berat, seperti sabar mendapat cobaan, sabar ditimpa kemiskinan, sabar menderita sakit dan lain-lain sebagainya.
  2. sabar yang bersifat rohaniah, kejiwaan. Ini terbagi pula kepada beberapa macam, masing-masing dengan sebutan dan istilahnya sendiri-sendiri.
Diantaranya :
  • sabar menahan hawa nafsu perut dan seksual. Ini disebutkan ‘iffah.
  • teguh hati menahan musibah atau bencana yang menimpa. Tidak gelisah, tidak mengeluh, tidak menyesal, tidak mengupat-upat dan lain-lain. Dalam hal ini biasa dipergunakan istilah sabar.
  • menahan diri dari kehidupan mewah di waktu kaya.
  • sabar dalam perjuangan, pertempuran atau peperangan. Ini dinamakan saja’ah. Lawannya ialah jubun, pangecut.
  • menahan diri dari kemarahan. Ini disebut hilm.
  • menahan diri dan lapang dada menghadapi lawan. Ini dinamakan tasamuh, toleransi.
  • menahan diri dan memelihara rahasia, baik rahasia sendiri maupun rahasia orang lain, rahasia negara dan lain-lain. Sifat ini disebutkan kitman.
  • menahan diri dari kemewahan hidup dunia. Ini dinamakan zuhud.
  • menahan diri dari kehidupan yang berlebih-lebihan dan hidup sekedar yang perlu saja, mencukupkan dengan apa yang ada. Hal itu. disebutkan qana’ah.
Semua yang diuraikan di atas ini termasuk dalam lingkungan pohon yang besar, yang dinamakan sabar.
---------------
SABAR DAN SYUKUR, M. Yunan Nasution, Penerbit Ramadhani, halaman 15 - 16

Minggu, 04 Desember 2011

TINGKAT DAN DERAJAT ORANG-ORANG YANG SABAR

Dilihat dari sudut kekuatan dan kelemahan menghadapi sesuatu keadaan atau situasi, tingkat kasabaran manusia terbagi tiga macam.
Pertama, yang dapat menguasai dan menaklukkan hawa nafsunya terus-menerus. Mereka tetap mempunyai pendirian yang kuat (istiqamah), senantiasa menuruti jalan lurus, teguh hati mematuhi ketentuan-ketentuan Agama.
Mereka itulah yang dinamakan kaum Siddiqun atau Muqarrabun, yaitu orang-orang yang lurus-jujur dan selalu menghampirkan diri kepada Tuhan.
Mereka senantiasa melaksanakan kehidupan yang digariskan Tuhan:
“Kembalilah kepada Tuhan engkau dalam keadaan ridho dan diridhoi.” (Fajar : 28).
Kedua, yang dikuasai oleh hawa nafsunya, yang selalu menyerah-berlutut kepada keinginannya dalam setiap hal dan di segala zaman. Hawa nafsunya dikendalikan oleh syaitan, dia tidak mampu melawannya. Hidupnya selalu dibuaikan oleh kemewahan dunia. Mereka itulah yang dinamakan kaum Ghafilun, kaum yang lalai, lengah. Mereka yang dilukiskan oleh Tuhan di dalam Al-Quran dengan kalimat :
“Mereka mempunyai hati, tapi tidak mau mengerti, mempunyai mata, tapi tidak melihat; mempunyai telinga, tapi tidak mau mendengar. Mereka tak obahnya seperti hewan, malah lebih sesat dari itu lagi. Mereka itu adalah orang-orang yang lalai (ghafilun).” (At-A’raf : 179).

Ketiga, orang yang terus-menerus berjuang (berjihad) melawan hawa nafsunya. Dalam perjuangan itu silih berganti dia mengalami up and down, bangkit dan jatuh. Sewaktu-waktu menang, kadang-kadang kalah. Tapi ia tidak kehilangan kemauan dan spirit (semangat), tidak putus asa. Mereka itu dinamakan kaum Mujahidun, kaum yang berjihad, berjuang. Terhadap mereka Tuhan memberikan jaminan di dalam Al-Quran :
“Dan orang-orang yang berjihad (berjuang) pada (agama) KAMI, sesungguhnya KAMI pimpin mereka kejalan yang KAMI ridhoi.” (Al-’Ankabut: 69)
---------------
SABAR DAN SYUKUR, M. Yunan Nasution, Penerbit Ramadhani, halaman 13 - 15

Selasa, 22 November 2011

BIDANG PENGETERAPAN KESABARAN

Sabar itu haruslah diterapkan dalam segala bidang-kehidupan. Tidak hanya dalam menghadapi malapetaka (musibah) saja. Itu banyalah merupakan salah satu diantara bidang-bidang itu.
Sebagai contoh pada bidang-bidang mana harus diterapkan sikap sabar itu, dijelaskan di dalam Al-Quran:
“Dan orang-orang yang berlaku sabar dalam malapetaka, kemelaratan dan di waktu perang.” (Al-Baqarah : 177)

Pada ayat tersebut di atas diterangkan tiga bidang/ peristiwa. Pertama, ketika ditimpa malapetaka (musibah) yang sifatnya insidentil dan tiba-tiba, seumpama kematian, kecelakaan dan lain-lain. Kedua, dalam kemelaratan, kemiskinan, kesusahan hidup dan lain-lain. Ketiga, tatkala menghadapi perjuangan, seumpama perang dan lain-lain. Pada ayat-ayat yang lain masih banyak lagi suasana dan tempat-tempat yang disebutkan.
Jika dilihat dari sudut pandangan ahli-ahli falsafat Islam, mereka membagi bidang pengetrapan sikap sabar itu kepada lima macam, yaitu :
(1) Sabar dalam beribadat.
Sabar mengerjakan ibadat (as-satru fil ‘ibadah ialah deugan telun mengendalikan diri melaksanakan syarat-syarat dan tata-tertib ibadab itu.
Menurut Imam Gazali, dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan tiga hal, yaitu:
  • sebelum melakukan ibadah. Harus dibubui niat yang suci ikhlas, semata-mata beribadah karena taat kepada Allah;
  • sedang melakukan ibadah. Janganlah lalai memenuhi syarat-syarat, jangan malas mengerjakan tata-tertibnya. Seumpama mengerjakan shalat, janganlah melakukan sholat ”cotok ayam”, yaitu seperti ayam yang sedang mencotok padi, main cepat-cepat dan kilat saja. Yang dikerjakan hanya yang wajib-wajibnya saja, sedang yang sunnat-sunnat ditinggalkan. Pada hal tidak ada yang akan diburu atau yang mendesak.
  • sesudah selesai beribadah. Jangan bersikap riya, menceriterakan ke kiri dan ke kanan tenntang ibadah atau amal yang dikerjakan, dengan maksud supaya mendapat sanjungan dan pujian manusia.

(2) Sabar ditimpa malapetaka.
Sabar ditimpa malapetaka atau musibah (as-shabru ‘indal mushibah) ialah teguh hati ketika mendapat cobaan, baik yang bertentuk kemiskinan. maupun berupa kematian, kejatuhan; kecelakaan. diserang penyakit dan lain-lain sebagainya. Kalau malapetaka itu tidak dthadapi dengan kesabaran; maka akan terasa tekanannya terhadap jasmaniah maupun rohaniah. Badan semakin lemah dan lem, hati semakin kecil. Timbullah kegelisahan, kecemasan. panik dan akhirnya putus-asa. Malah kadang-kadang ada pula yang nekad dan gelap mata mengambil putusan yang tragis, seumpama membunuh diri.

(3) Sabar terhadap kehidupan dunia.
Sabar terhadap kehidupan dunia (asshabru ‘aniddunya) ialah sabar terhadap tipudaya dunia, jangan sampai terpaut hati kepada kenikmatan hidup di dunia ini. Dunia ini adalah jembatan untuk kehidupan yang abadi, kehidupan akhirat. Banyak orang yang terpesona terhadap kemewahan hidup dunia. Dilampiaskannya hawa nafsunya, hidup berlebih-lebihan, rakus, tamak dan lain-lain sehingga tidak memperdulikan mana yang halal dan mana yang haram, malah kadang-kadang merusak dan merugikan kepada orang lain.
Kehidupan di dunia ini janganlah dijadikan tujuan, tapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kebidupan yang kekal.
Memang, tabiat manusia condong kepada kenikmatan hidup lahirlah, kehidupan yang nyata dilihat oleh mata dan dinikmati oleh indera-indera yang lain. Tak obahnya seperti orang yang meminum air laut, semakin diminum semakin haus.
Untuk ini diperlukan kesabaran menghadapinya.

(4) Sabar terhadap maksiat.
Sabar terhadap maksiat ini (as-shabru ‘anil-maksiat) ialah mengendalikan diri supaya jangan melakukan perbuatan maksiat. Tarikan untuk mengerjakan maksiat itu sangat kuat sekali mempengaruhi manusia, sebab senantiasa digoda dan didorong oleh Iblis. Ibils itu bertindak laksana kipas yang terus menerus mengipas-ngipas api yang kecil, sehingga akhirnya menjadi besar merembet dan menjilat-jilat ke tempat lain. Kalau api sudah semakin besar, maka sukar lagi memadamkannya.
Sabar terhadap maksiat itu bukanlah mengenai diri sendiri saja, tapi juga mengenai diri orang yang lain. Yaitu, berusaha supaya orang lain juga jangan sampai terperosok ke jurang kemaksiatan, dengan melakukan : amar makruf, nahi munkar. Yakni, menyuruh manusia melakukan kebaikan dan mencegahnya dari perbuatan yang salah dan buruk.

(5) Sabar dalam per juangan.
Sabar dalam perjuangan (as-shabru fil jihad) ialah dengan menyadari sepenuhnya, bahwa setiap perjuangan mengalami masa up and down, masa-naik dan masa-jatuh, masa-menang dan masa-kalah.
Kalau perjuangan belum berhasil, atau sudah nyata mengalami kekalahan, hendaklah berlaku sabar menerima kenyataan itu. Sabar dengan arti tidak putus harapan, tidak patah semangat. Harus berusaha menyusun kekuatan kembali, melakukan self-koreksi dan introspeksi (mawas diri) tentang sebab-sebab kekalahan dan menarik pelajaran daripadanya.
Jika perjuangun berhasil atau menang, harus pula sabar mengandalikan emosi-emosi buruk yang biasanya timbul sebagai akibat kemenangan itu, seperti sombong, congkak, berlaku kejam, membalas dendam dan lain-lain. Sabar disini harus diiiputi oleh perasaan syukut.
Apabila sesuatu perjuangan dikendalikan oleh sifat kesabaran, maka dengan sendirinya akan timbul ketelitian, kewaspadaan, usaha-usaha yang bersipat konsolidi dan lain-lain.
Orang yang tidak sabar dalam perjuangan kerapkali mundur di tengah jalan atau setelah sampai di medan juang, kalah sebelum mengangkat senjata dalam medan tempur.
---------------
SABAR DAN SYUKUR, M. Yunan Nasution, Penerbit Ramadhani, halaman 10 - 13

Selasa, 08 November 2011

BERHATI-HATI TERHADAP KENDALA-KENDALA KESABARAN

Bagi seluruh manusia khususnya orang beriman dan terutama para mujahid dakwah, apabila ingat tetap teguh dalam kesabaran, harus selalu waspada terhadap gejolak nafsu yang menghalangi perjalanan. Di antara kendala itu ialah :
A. Tergesa-gesa.
Nafsu dan watak manusia cenderung kepada sifat tergesa. Seolah-olah tergesa-gesa atau terburu-buru merupakan bagian dari perwujudan manusia.
Firman Allah :
”Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS Al Anbiyaa : 37)

Bila seorang merasa terlalu lama untuk memperoleh apa yang diinginkannya maka hilanglah kesabarannya dan terasa sempit dadanya. Dia lupa bahwa sunnatullah terhadap makhluknya pasti dan tidak berubah. Segala sesuatu telah ditentukan ajalnya, tidak dipercepat tidak juga diperlambat. Tiap buah ada saat matangnya untuk dipelik. Terburu-buru dipetik tidak akan mempercepat matangnya dengan baik. Semua makhluk tunduk kepada sunnatullah, masing-masing berjalan sesuai perhitungan dan ukurannya. Dalam masalah ini Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari Rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka” (QS Al Ahqaaf : 35).

Jelas di sini bahwa azab terhadap kaum kafir sudah ditentukan waktunya. Kaum musyrik karena kebodohan dan kesesatannya menantang dengan angkuh agar disegerakan azab Allah. Allah SWT memberi jawaban atas tantangan mereka Firman Allah :
”Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya”. (QS Al Ankabuut : 53)

B. Marah-marah
Seorang mujahid dakwah dapat saja marah bila mad’u (obyek dakwah) berpaling daripadanya dan menjauhi dakwahnya. Dia kesal, berbuat yang tidak sepantasnya, putus asa kemudian menjauhi mereka. Mujahid dakwah seharusnya bersikap sabar terhadap mad’u dan tidak bosan untuk mengulang-ulangi kembali manuver dakwahnya, dengan harapan semoga hati mereka terbuka. Apabila hanya seorang saja yang tersentuh hatinya oleh nur hidayah maka itu sudah merupakan hasil yang besar dan lebih baik dari perolehan rezeki materi yang diberikan sinar matahani untuk dirinya. Karena itu Allah berfirman kepada Rasulullah SAW :
”Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdo‘a sedang ia dalam keadaan marah (terhadap kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang shaleh”. (QS Al Qalam : 48 – 50).

Yanq dimaksud dalam ayat ini ialah Nabi Yunus AS. Dalam surat Al Anbiyaa disebut “Dzannun” (yang ditelan oleh annun). Annun artinya ikan besar (paus). Nabi Yunus A.S diutus kepada penduduk negeri yang dikenal dengan NINAWA di IRAQ. Dia menyeru mereka pada tauhid, tetapi mereka langsung menolaknya mentah-mentah. Tidak ada seorangpun di antara mereka yang menyambut dan menerima dakwah Nabi Yunus. Nabi Yunus terlalu cepat kehilangan kesabarannya. Dengan marah dia pergi meninggalkan kaumnya sebelum diizinkan Allah. Dia mengira bumi Allah luas dan Allah tidak akan membatasi jangkauan dakwahnya. Dia berupaya mendatangi kaum yang lain dengan harapan kelak ada orang mukmin dan sholeh yang mau menerima dakwahnya Dia menuju pantai, melihat kapal yang sarat penumpang lalu menyelinap naik. Di tengah laut kapal yang penuh muatan hampir tenggelam. Harus ada penumpang yang dibuang ke laut untuk menyelamatkan kapal dari bahaya karam. Mereka semua diundi dan undian jatuh kepada Yunus. Yunus dibuang ke laut, ditelan ikan besar (paus). Yunus tinggal dalam perut paus beberapa hari lamanya dan yang mengetahui nasibnya hanyalah Allah SWT. Dalam kegelapan berlapis tiga, kegelapan kedalaman laut, kegelapan perut ikan dan kegelapan malam hari Yunus berdo’a kepada Allah :
“Tidak ada illah selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS Al Anbiyaa : 87)

Allah SWT mengabulkan do’a Yunus. Ia dimuntahkan oleh paus ke pantai dalam keadaan sakit dan ia menyalahkan dirinya sendiri. Allah menumbuhkan tanaman Yaqthin yaitu pohon rambat berdaun lebar-lebar (semacam labu) untuk melindungi tubuhnya dari terik matahari yang menyengat dengan keras. Kemudian Yunus diutus kembali kepada penduduk negeri itu yang berjumlah seratus ribu jiwa lebih dan serta merta beriman kepada Allah. Dan Allah menganugerahkan kemakmuran dan kesenangan bagi mereka. Kisah ini menjadi peringatan bagi Rasulullah SAW agar bersabar terhadap sunnatullah.

C. Rasa sedih dan susah yang mendalam
Yang paling menyedihkan dan menyakitkan hati para mujahid dakwah yang mukhlis ialah penolakan dan pembangkangan kaumnya terhadap dakwahnya. Belum lagi tipu daya muslihat, fitnah, tindakan permusuhan mereka terhadap mereka. Dalam hal ini Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW :
”Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaran itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” (QS An Nahl : 127).

Begitu mendalamnya kesedihan, kesusahan dan sakit hati Rasulullah SAW sehingga Al-Qur’an mengingatkan beliau dengan nada tegas dan keras.
”Maka boleh jadi kamu hendak meninggalkan sebahagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan sempit dadamu karenanya. Karena khawatir bahwa mereka akan mengatakan : “Mengapa tidak diturunkan kepadanya perbendaharaan (kekayaan) atau datang bersama-sama dengan dia seorang malaikat?” Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan, dan Allah pemelihara segala sesuatu”. (QS Huud : 12).

”Boleh jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” (QS Asy Syu’araa: 3).

Firman Allah:
”Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an)” (QS Al Kahfi : 6).

”Janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat ."(QS Faathir : 8).

"Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah orang-orang yang dimuka bumi seluruhnya beriman. Apakah kamu hendak memaksa manusia supaya menjadi orang-orang yang beriman semuanya”. (QS Yunus : 99).

Iman dan kufur, hidayah dan kesesatan merupakan suatu kenyataan yang berlaku di seluruh alam semesta dan termasuk takdir-Nya. Sunnatullah atau ketetapan hukum dan peraturan tidak dapat dihilangkan sama sekali bahkan dapat mengalahkan manusia.

D. Putus Asa
Putus asa merupakan kendala paling besar terhadap kesabaran. Dengan datangnya putus asa hilanglah kesabaran. Karena yang mendorong seseorang mengatasi kesulitan dan kelelahan bercocok tanam, mengairi dan memeliharanya ialah harapan memetik buahnya. Kalau hatinya dihinggapi keputus-asaan, maka hilanglah kesabarannya untuk melanjutkan pekerjaannya di lahan tanamannya Demikian juga halnya pekerja di bidangnya masing-masing dan para mujahid dakwah dengan risalah di dakwahnya. Firman Allah :
”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang breiman. Jika kamu (pada perang Uhud) menderita luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun (pada perang Badar) menderita luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran), dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu di jadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim”. (QS Ali Imran : 139-140).
”Dan janganlah kamu lemah dan minta damai padahal kamulah yang di atas dan Allah (pun) beserta kamu dan Dia sekali-kali tidak akan mengurangi (pahala) amal-amalmu.” (QS Muhammad : 35).
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 103 - 107

Sabtu, 05 November 2011

BERIMAN KEPADA TAQDIR DAN SUNNATULLAH

Salah satu faktor penunjang kesabaran ialah beriman bahwa taqdir Allah pasti berlaku. Apa yang menimpa diri seorang bukanlah suatu kesalahan atau kekeliruan atau terjadi secara kebetulan. Dan semua yang sudah ditentukan taqdir-Nya tidak mungkin salah atau meleset.
Berserah dan pasrah kepada taqdir Allah dalam situasi dan kondisi seperti itu merupakan suatu hal yang disyariatkan dan terpuji. Sebab itu merupakan suratan Qodar, tidak ada pilihan atau alternatif lain bagi manusia. Bencana alam, kemarau panjang, perubahan cuaca dan lain-lain merupakan contoh qodar. Jika demikian akan memiliki pengarut yang meringankan kesedihan batinnya atas kehilangan dan kerugian yang dideritanya.
Allah SWT berfirman :
‘Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS Al Hadiid : 22 – 23).

Taqdir Allah merupakan suatu kepastian baik manusia itu rela menerimanya ataupun marah-marah menggerutu, baik dengan sabar ataupun dengan gelisah.
Orang yang berakal harus sabar dan rela agar tidak kehilangan pahala. Kalau tidak sabar dengan rela maka sabar terpaksa yang dilakukannya tidak ada nilainya baik dari segi dien ataupun dan segi moral
Sabda Rasulullah SAW. :
“Sesungguhnya sabar itu pada saat pukulan yang pertama.” (Riwayat Imam Bukhori).

Seorang ‘arif berkata :
”Orang yang berakal melakukan pada hari pertama tertimpa musibah apa-apa yang dilakukan orang jahil sesudah beberapa hari”
Mengeluh, menggerutu, gelisah, terkejut dan susah tidak dapat mengembalikan apa yang telah hilang, juga tidak dapat menghidupkan kembali apa yang sudah mati dan tidak dapat merubah kepastian hukum Allah baik terhadap manusia maupun alam semesta.
Firman Allah :
”Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya sunnatullah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnatullah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu.” (QS Faathir : 43).

Al-Qur’an memberi isyarat kepada Rasulullah SAW ketika beliau diganggu oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka mendustakan Rasulullah dengan ucapan-ucapan yang menyakitkan hati.
Firman Allah :
”Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan kamu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sesungguhnya telah didustakan (pula). Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-rasul itu. Dan jika berpalingnya mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mu‘jizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk. Sebab itu janganlah kamu sekali-sekali termasuk orang-orang yang jahil “(QS Al An’aam : 33 – 35)

Ayat ini merupakan peringatan bagi Rasulullah SAW. Jika tidak dapat berlaku sabar maka silahkan membuat lubang di tanah atau tangga ke langit untuk melarikan diri.
Allah berfirman kepada orang-orang yang berputus asa dari pertolongan Allah dan patah harapan dari rahmat Allah dan bersikap sempit dada :
” Barang siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-sekali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akherat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya’’ (QS Al Hajj : 15)

Sebagian orang mengatakan bahwa sabar merupakan usaha orang yang sudah tidak punya daya upaya. Apabila kunci masalah ada di tangan orang lain maka kita harus bersabar Apabila kunci masalah dikembalikan kepada kita, berangsur sedikit demi sedikit, meskipun kita sangat memerlukannya segera, maka tidak ada pilihan lain kecuali kita harus bersabar. Kalau tidak yang sedikit itupun akan hilang.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR
, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 101 - 103

Jumat, 04 November 2011

Meneladani Orang-orang yang Sabar dan Memiliki Kebulatan Tekat

Yang dapat menopang kesabaran diantaranya merenungi dengan seksama perjalanan hidup orang-orang yang sabar dalam menghadapi penindasan dan penganiayaan, khususnya mereka para mujahid da’wah, para nabi dan rasul pembawa risalah Allah dan orang-orang pilihan kesayangan Allah.
Kehidupan dan perjuangan mereka menjadi suri teladan dan pelajaran bagi umat sesudah mereka. Ayat-ayat yang turun di Mekkah banyak meriwayatkan penjuangan para nabi. Bahkan diulang-ulang dalam beberapa surat sebagai pelipur dan penghibur bagi Muhammad SAW dan kaum beriman. Juga sebagai penguat batin dalam menghadapi musuh-musuh da’wah yang kuat perlawanannya dan banyak jumlahnya.
Firman Allah SWT. :
”Dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS Huud : 120).

”Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu” (Al An’aam : 34)

”Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” (QS Ibrahim : 12).

Para Rasul yang menyeru kepada tauhid dan jalan Allah, Selalu diancam kaumnya dengan pembuangan dan pengusiran atau kembali kepada pengabdian berhala dan mengikuti kesesatan mereka.
Nabi Syu’aib menasehati kaumnya dengan ucapan dan dialog yang mengesankan dan mengharukan dan mengakhiri ucapannya dengan :
”Jika ada segolongan dari kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita, dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.” (QS Al A’raaf: 87).

Tetapi apa jawaban kaumnya?
”Pemuka-pemuka dari kaum Syu‘aib yang menyombongkan diri berkata : “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu‘aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dan kota kami, atau kamu kembali pada agama kami, Berkata Syu‘aib ”Dan apakah (kamu akan mengusir kami). kendatipun kami tidak menyukainya?” (Al A’raaf : 88).

Kaum Nabi Luth-pun melakukan perbuatan yang sama. Mereka berseru :
”Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan : ”Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang mendakwakan dirinya bersih” (An Naml : 56).

Apabila pada suatu saat Rasulullah SAW bersedih dan bersempit dada karena perbuatan dan tipu daya orang-orang kafir, maka dengan mengingat kesabaran Rasul-rasul hilanglah kesedihan beliau dan kembali kuat tekadnya.
Firman Allah kepada beliau :
”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutllah petunjuk mereka” (Al An’aam : 90)

Sahabat Al Khobbab Ibnul Arts datang kepada Rasulullah SAW. Mengeluh tentang gangguan dan fitnah-fitnah orang-orang kafir terhadap Islam dan dirinya serta saudara-saudaranya yang tertindas dan berkata :
”Ya Rasulullah, tidakkah Rasulullah mohon pertolongan Allah untuk kita dan untuk kemenangan kita?”. Rasulullah SAW menjawab “Orang-orang sebelum kamu ada yang dikubur hidup-hidup, ada yang dibelah dua tubuhnya dari ujung kepala dengan gergaji, ada yang digaruk (disisir) tubuhnya dengan sisir besi yang tajam hingga terpisah daging dan tulang, tetapi semua itu tidak mampu mengeluarkan mereka dari diennya. Demi Allah, Allah menghendaki hal itu sehingga seorang pergi dari Shon’a ke Handramaut tanpa ada yang ditakuti kecuali Allah atau serigala yang mengancam iringan dombanya. Tetapi kalian terburu-buru” 
(Riwayat Imam Bukhori dan lain-lain).
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 98 - 100

Selasa, 01 November 2011

MOHON PERTOLONGAN ALLAH

Sesuatu yang dapat membantu orang yang sedang diuji kesabarannya dengan mohon pertolongan Allah SWT, berlindung kepada-Nya, berkeyakinan Allah SWT beserta dia, berkeyakinan bahwa dia dalam perlindungan, pembelaan dan pemeliharaan Allah SWT maka dia tidak akan teraniaya.
Firman Allah SWT :
”Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfaal : 46)
”Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabb-mu maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami” (Ath-Thuur : 48).

Barang siapa dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah maka dia akan mampu memikul segala beban penderitaan dan sabar menghadapi semua hal yang tidak menyenangkan.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 98

Sabtu, 29 Oktober 2011

Keyakinan akan Terbebas dari Musibah

Yang membantu terlaksananya kesabaran, suatu keyakinan kemenangan dari Allah dekat. Keyakinan terbebas dari himpitan musibah. Keyakinan datangnya kesenangan sesudah kesusahan dan kemudahan sesudah kesulitan.
Keyakinan datangnya kemenangan dari Allah bagi orang-orang beriman sebagai ganti ujian dan cobaan yang dialaminya. Keyakinan seperti itu akan menghilangkan kegelisahan batin, menghapus rasa putus asa memerangi jiwa dengan sinar harapan kemenangan dan percaya akan hari esok yang lebih cerah. Optimisme atau harapan adalah penggerak yang kuat dan pendorong gerak maju ke depan. Adapun rasa putus asa (pesimisme) merupakan penyakit berbahaya bahkan dapat mematikan. Yang menopang kesabaran Yaqub ialah harapannya kepada Allah dan harapan akan masa depan yang menggembirakan dan keyakinan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran dan amal kebaikannya.
Ketika anak Ya’qub yang kedua (Bunyamin) ditahan di Mesir dia berkata :
”Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku”. (QS Yusuf : 83).

Dan kepada anak-anaknya Ya’qub berkata :
”Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu putus asa dari rahmat Allah!” (QS Yusuf : 87).

Berulang-ulang disebutkan dalam Al-Qur’an rangkaian sabar dengan janji Allah pasti benar dan tidak dapat diingkari akan datangnya kemenangan dari Allah. Yang mengingkari janji pada umumnya orang yang lemah atau pembohong. Dan Allah Maha Suci dari sifat-sifat itu.
Firman Allah SWT :
”Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya. Allah tidak akan memungkiri janji-Nya”. (QS Az-Zumar : 20).
”Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-sekali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (Ar-Ruum : 60).

”Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar dan memohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabb-mu pada waktu petang dan pagi.” (Al Mu’min : 55).

Janji Allah. yang benar meliputi beberapa hal :
A. Janji kemudahan sesudah kesulitan, keselamatan sesudah bencana, kebebasan sesudah keterhimpitan dan kesenangan sesudah kesusahan.
Firman Allah SWT :
”Allah kelak akan memberi kelapangan sesudah kesempitan.” (Ath-Thalaaq : 7).

Dalam ayat lain Allah menjanjikan kemudahan bukan sesudah bahkan bersamaan dengan kesulitan.

‘Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. (Alam Nasyrah : 5 – 6).

Dengan maksud menggugah perhatian dua hal :
Pertama. Dekatnya saat datangnya kemudahan menyusul kesulitan seolah-olah datangnya bersamaan atau bersambungan. Dalam hal ini para ulama terdahulu berpendapat :
”Apabila kesulitan memasuki suatu lubang pasti diikuti oleh kemudahan”.

Kedua. Kenyataan bahwa sesungguhnya kesulitan dan kemudahan yang datang bersamaan waktunya dapat dirasakan secara nyata atau samar-samar. Dan itulah yang dinamakan “Al-Luthfu” (taufik, perlindungan, kasih sayang, lemah-lembut). Tiap-tiap takdir Allah terdapat “Al-Luthfu” dan tiap musibah atau bencana ada kenikmatan, Ibnu Atho’allah Al-Iskandari berkata:
”Barang siapa mengira bahwa “Al-Luthfu dari Allah terpisah dari takdir-Nya, itu merupakan pandangan yang sempit, sebab Allah SWT berfirman :
”Sesungguhnya Rabb-ku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Bijaksana”. (QS Yusuf :100).

B. Allah SWT menjanjikan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang sabar dan bertaqwa. Meskipun jalan yang mereka tempuh penuh duri dan kaki mereka tertusuk dan berdarah. Yang penting ialah kesudahannya dikemudian hari
Karena itu Musa menasehati kaumnya ketika diancam Fir’aun dengan siksaan penganiayaan dan pembantaian :
”Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS Al-A’raaf : 128).

Setelah menguraikan kisah Nabi Nuh dengan kaumnya dan anaknya dan apa yang terjadi setelah itu, Allah SWT berfirman ditujukan kepada Rasulullah SAW :
”Itu adalah diantara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum itu. Maka bersabarlah sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS Huud : 49).

Siang dan malam datang silih berganti. Situasi dan kondisi peperangan berubah-ubah. Tetapi hasil akhir untuk kemenangan orang-orang beriman.
Gemuruh gelagar dan dahsyatnya halilintar yang menyambar merupakan pertanda baik bagi turunnya hujan dan datangnya rahmat Allah.
Suasana paling gelappun datangnya tengah malam mendahului terbitnya fajar.
Al Qur’an berbicara tentang sunnah Ilahi atas usul rasul-rasul-Nya.
”Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah menyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa” (QS Yusuf : 110).
Sebagian orang ketika melihat orang-orang yang zalim dan durhaka, bergelimang dalam kemewahan hidup dan kesehatan tubuh mungkin mengira bahwa Allah SWT lupa mengazab mereka. Mustahil Allah lupa untuk mengadzab.
Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya Allah menangguhkan (tindakan) terhadap orang-orang yang zalim. Sehingga bila kelak ditindak tidak akan terlewat (saatnya)”.
Lalu beliau membaca ayat :
“Dan begitulah adzab Rabb-mu apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras”. (QS Huud : 102).

C. Janji Allah mengganti semua yang telah berlalu sebab Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal sholeh dan berbuat  ihsan. Dan pahala yang dijanjikan itu meliputi dunia dan akhirat secara keseluruhan
Allah menjanjikan mereka yang berhijrah di jalan Allah dengan mengganti tanah pemukiman mereka dan keluarga atau masyarakat yang mereka tinggalkan.
Firman Allah SWT :
”Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang baik kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Allah saja mereka bertawakkal.”  (An-Nahl : 41 – 41).

Hal ini membuktikan sabar terhadap masalah yang pahit (dalam kehidupan) dapat menghasilkan buah-buah yang manis di dunia dan di akhirat.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 94 - 98

Selasa, 25 Oktober 2011

KEYAKINAN PAHALA YANG BAIK DISISI ALLAH

Yang menjadi pendorong bagi suatu daya dan usaha dan mengokohkan hasrat serta menambah gairah dan bersikap lebih hati-hati adalah keyakinan seseorang bahwa dia akan memperoleh imbalan dan gajaran yang diridloi-Nya.
Itulah alasan mengapa negara atau organisasi memberi tanda penghargaan atau insentif kepada mereka yang melakukan amal kebaikan atau menghasilkan suatu kreasi atau penemuan yang bermanfaat
Tidak ada dalam Al Qur’an janji pahala dan ganjaran yang lebih besar dari sabar.
Firman Allah SWT :
“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang sholeh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal, (yaitu) yang sabar dan bertawakkal kepada Rabb-Nya.” (Al-Ankabut : 58 – 59).
“Apa yang di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dan apa yang telah mereka kerjakan”. (An-Nahl : 96).
”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Az-Zumar : 10).

Umar Ibnu Khathab r.a. berkata :
“Tidaklah aku tertimpa musibah kecuali aku memperoleh empat kenikmatan dari Allah. Bahwa musibah itu tidak menimpa dienku Tidak lebih besar dari apa yang pernah aku alami. Aku tidak pernah melepaskan kerelaanku untuk menerimanya. Dan aku selalu mengharap pahala dari Allah berkenaan dengan musibah itu”
Keyakinan akan adanya pahala yang besar di sisi Allah terhadap musibah yang menimpanya dapat meringankan kepahitan pada lubuk hati seseorang. Makin kuat keyakinannya makin ringan rasa sakit akibat musibah yang menimpanya Akhirnya beralih dari mengecam menjadi dapat menikmati musibah.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 92 - 93

Senin, 24 Oktober 2011

MANUSIA MENYADARI AKAN DIRINYA SENDIRI

Yang dimaksud disini hendaknya manusia menyadari bahwa dia adalah mahluk Allah pada permulaan dan pada akhirnya. Allah SWT yang telah menciptakannya dari tiada. Kemudian diberinya roh, rasa dan gerak. Dianugerahkan kepadanya pendengaran, penglihatan dan hati. Dilimpahkan baginya karunia nikmat lahir dan batin, kesehatan dan kekuatan tubuh, harta dan benda dan anak keturunan
Firman Allah
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dan Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan” (An-Nahl : 53).

Dan jika ditarik kembali sebagian yang dimiliki manusia maka sudah seharusnya dia tidak marah kepada pemberinya dan pemiliknya. AlQur’an mengajarkan bagi orang-orang yang sabar (yang dijanjikan kabar gembira, shalawat dan hidayah dari Allah). Jika mereka terkena musibah agar mengatakan :
“Inna lillahi wainna ilaihi rojiuun”. (Al-Baqarah :156).
Sesungguhnya kita dari Allah dan kepada-Nya-lah kita kembali.

Ibnul Qoyyim berkata “Ucapan itu merupakan yang mujarab bagi yang ditimpa kemalangan dan bermanfaat baginya pada saat terkena dan untuk selanjutnya. Bila seseorang mengetahui dengan tepat dia akan terhibur dari penderitaannya." Karena ucapan itu mengandung dua unsur.
Pertama : Tiap orang, keluarganya dan hartanya, statusnya bersifat ”tidak ada”. Tidak ada sebelum diperolehnya dan tidak ada sesudah lepas dari tangannya. Kalau dia dapat menghilangkan kedua negasi tersebut barulah itu miliknya. Tapi sesudah ada ditangannyapun dia tidak mampu memelihara/ menjaga dari kerusakan dan dia tidak dapat menjamin kepemilikannya untuk selamanya.
Kedua : Pada akhirnya dia harus kembali kepada Allah dan meninggalkan segala urusan dunia. Dia akan menghadap Rabb-nya seorang diri seperti waktu dilahirkan. Kembali tanpa keluarga, harta dan kawan, yang dia bawa hanyalah amalan kebaikan atau kejahatannya. Bila ia memikirkan awal terciptanya dan akhir perjalanannya hidupnya ia akan terhibur. Di dalam Asshohihain dan sumber lain tercatat kisah ummu Sulaim bersama suaminya Abu Thalhah; anak mereka yang sedang sakit meninggal sedang Abu Thalhah tidak ada dirumah. Ummu Sulaim memandikannya, mengkafaninya dan memberinya wewangian dan menutupnya dengan kain. Ketika Abu Thalhah pulang pada malam hari dia menanyakan kesehatan si anak. Ummu Sulaim menjawab : “Dia tenang dan sedang istirahat” (yang dimaksud ummu Sulaim ialah istirahat wafat dan Abu Thalhah mengira istirahat tidur). Malam itu Ummu Sulaim merayu suaminya sehingga mereka mengadakan hubungan suami istri. Keesokan harinya ketika Abu Thalhah akan kemesjid untuk sholat subuh, Ummu Sulaim menitipkan barang kemudian diminta kembali apakah boleh ditolak?”
Abu Thalhah menjawab “Tidak, tidak benar bila ditolak. Harus dikembalikan kepada yang menitipkan”.
Ummu Sulaim berkata Allah telah menitipkan Fulan (disebut nama anak mereka) kemudian diambilnya kembali.’
Abu Thalhah mengucapkan kalimat istirjaa’ : " inna lillahi wainna ilaihi rojiuun " Kemudian dia pergi ke mesjid sholat bersama Rasulullah Saw dan menceritakan peristiwanya kepada beliau.
Mendengar itu Rasulullah itu bersabda :
”Semoga Allah memberi berkah, keturunan pengganti kepada kalian berdua atas kejadian (senggama) malam tadi.”
Dan berkah anugerah Allah hasil senggama malam itu lahir anak mereka yang diberi nama Abdullah. Dan kemudian Abdullah mempunyai sembilan orang anak semuanya hafal Al-Qur’an.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 91 - 92

Sabtu, 22 Oktober 2011

MEMAHAMI ARTI KEHIDUPAN DUNIA DENGAN SEBENARNYA

Yang termudah untuk membentuk kesabaran, khususnya dalam menghadapi petaka dan bencana ialah dengan memahami hakekat kehidupan dunia. Kehidupan dunia bukanlah surga kebahagiaan atau tempat tinggal abadi, tetap medan pelaksanaan tugas dan menempuh ujian dan cobaan. Manusia diciptakan untuk diuji agar lulus memasuki kehidupan abadi di akhirat, menempati surga dan terbebas dari neraka. Apabila seseorang benar-benar menyadari akan hal tersebut dia tidak akan terkejut bila tertimpa musibah. Sebaliknya apabila seseorang membayangkan kehidupan dunia sebagai jalan yang mulus, datar dan dikelilingi bunga-bunga dan wangi semerbak, maka bila ditimpa sedikit kesulitan saja dia terperangah, terperanjat, gelisah, kehilangan akal dan tak tahu harus kemana berpegangan.
Al-Our an menjelaskan bahwa kehidupan dunia penuh kesulitan dan kepayahan.
Firman Allah :
”Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam susah payah”. (Al-Balad : 4).

Al-Qur’an juga menjelaskan tentang keadaan alam dan nasib manusia yang selalu berubah-ubah dan tidak pernah selamanya stabil Hari ini mungkin kebahagiaan beserta kita, tapi siapa mengira esok hari bencana, derita dan duka nestapa menimpa kita.
Firman Allah
”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejadian dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (Ali Imraan : 140).

Allah SWT menciptakan kehidupan dunia ini bercampur antara kesenangan dan kesusahan, antara kenikmatan dan penderitaan, antara hal-hal yang disenangi dan yang dibenci. Tidak akan ditemui suka tanpa duka, atau kesehatan tubuh tanpa penyakit atau istirahat penuh tanpa lelah, atau pertemuan tanpa perpisahan atau keamanan tanpa ketakutan. Karena jika demikian bertentangan dengan kaidah dan hukum alam (sunnatullah) dan peranan manusia didalamnya. Itulah yang disadari dan diyakini para ‘arif, sastrawan dan penyair sejak zaman dahulu. Mereka banyak berbicara dan menulis syair serta puisi. Ali ibnu Abi Tholib r.a. diminta melukiskan kehidupan dunia, dia berkata: “Apa yang harus saya gambarkan tentang tempat pemukiman yang dimulai dengan tangisan, ditengahnya penuh kelelahan dan akhirnya pemusnahan”. Abdullah ibnu mas’ud r.a. berkata : ”Tiap kesenangan pasti disertai kesusahan dan tiada rumah tangga dipenuhi kebahagiaan kecuali dipenuhi pula kesedihan.”
Ibnu Si’iriin berkata : Tiada ketawa selalu kecuali sesudahnya (datang) tangisan.
---------
AL-QURAN MENYURUH KITA SABAR, Dr. Yusuf Qordhowi, Penerbit Gema Insani Press Jakarta,Cetakan kedua Nopember 1989, halaman 89 - 91