"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2015

Semakin Mendo'akan Pemimpin

"Ada seorang Imam dikalangan Ulama, beliau diuji di zamannya dengan Zalimnya pemerintah kepada rakyat dan kepada Islam. Pemerintah tersebut mewajibkan untuk mengatakan bahwa ALQUR'AN ADALAH MAKHLUK.
Namun Imam ini enggan mengatakannya. Sehingga ia dicambuk hingga dagingnya rontok, kemudian disiram air dingin di lukanya hingga pingsan.
Namun ia tetap mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah. Ia pun mendoakan dan sabar Agar Allah memberi hidayah kepada pemimpin zalim itu tanpa mengajak rakyat memberontak supaya tidak muncul fitnah lebih besar.
Namun Allah PUNYA CARA lain. Allah mengganti dengan pemimpin yang lebih baik dan mendukung perkataan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah.
Sehingga tersebarlah Sunnah dan hikmah.
Salah satu perkataan Masyhur beliau : "Jika saya memiliki Doa yang Mustajab maka yang pertama kali saya doakan adalah PEMERINTAH kaum Muslimin".
Beliau pun wafat dalam keadaan membela Kitabullah dan menjaga Ratusan ribu darah kaum Muslimin.
Tidak ada pemberontakan meski kalau bisa terjadi maka akan pecah dan banyak yang terbunuh.
Setelah wafatnya beliau disebutkan bahwa yang menshalatinya mencapai ratusan ribu orang, Shalat zhuhur dan ashar hampir tidak berjamaah karena penuhnya kota tersebut dari pelayat yang kebingungan dalam sedih. Dan 80.000 orang yahudi dan Nasrani masuk Islam karena hikmahnya Ulama ini.
Beliau adalah IMAM Ahlusunnah Ahmad Bin Hanbal. Seorang Imam yang dengan hidupnya dan wafatnya menjelaskan bahwa ; "Mencegah darah berjatuhan lebih banyak lebih baik daripada memberontak yang mengakibatkan Ratusan ribu korban lebih besar."

Selasa, 17 Februari 2015

Datuk Indomo

Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah atau lebih dikenal dengan Hamka, lahir di desa Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908. Belakangan beliau diberi sebutan Buya, yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, berarti ayahku, atau seseorang yang dihormat. (Filsafat Pendidikan Islam, H. Ramayulis dan Samsul Nizar, 349).
Di dalam buku "Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI"-nya Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka) di halaman 237 - 238, ketika beliau menafsirkan QS. Al-Hujuraat : 11, menceritakan bahwa ketika beliau lahir diberi nama Abdulmalik oleh ayahnya, karena banyaknya nama anak Abdulmalik di kampung beliau, akhirnya semua diimbuhi dengan gelar tambahan. Prof. Dr. Hamka sewaktu kecil sekitar 6 tahun mendapat imbuhan gelar "Si Malik Periuk", karena diam-diam beliau suka membuka periuk yang berisi ikan pengat kesukaan ayahanda untuk dimakannya bersama nasi ketika andung dan ibunya tidak dirumah.
Ketika berumur 15 tahun, atas kesepakatan ninik-mamak beliau diberi gelar Datuk Indomo. Namun sebelum ada ketetapan memakai gelar Datuk itu masih dicalonkan buat beliau gelar Faqih Sari Endah atau Sutan Majo Endah. Tetapi Datuk Indomo itulah yang kemudian ditetapan oleh ninik-mamak persukuan beliau. Dan setelah berhaji pada tahun 1927 (pada usia 19 tahun) ditambahlah dengan sebutan Haji Datuk Indomo.
-----------------
Kepustakaan :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXVI, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Islam Surabaya, cetakan ketiga 1984.
Filsafat Pendidikan Islam : Tela'ah Sistem Pendidikan dan Pemikiran Para Tokohnya, H. Ramayulis dan Samsul Nizar, Penerbit Kalam Mulia Yogyakarta, 2009.

Kamis, 04 Desember 2014

Waspadai Karakter Zainab bint’l-Harith!

Setelah melalui proses yang panjang satu persatu pihak Yahudi di Madinah sekarang tunduk kepada kekuasaan kaum Muslimin. Kedudukan mereka di negeri-negeri Arab sudah berantakan dan mereka pun terpaksa meninggalkan daerah itu. Tadinya mereka di tempat itu sebagai golongan yang dipertuan, sampai selesai mereka itu dikeluarkan.
Dan sebagai akibat kejatuhan mereka itu hati, mereka dipenuhi kebencian dan dendam yang kotor sekali. Zainab bint’l-Harith isteri Sallam bin Misykam pernah menyampaikan hadiah daging domba kepada Rasulullah —setelah ia merasa aman dan setelah ada perjanjian perdamaian dengan pihak Khaibar. Ketika beliau dan para sahabat sedang duduk hendak memakan daging itu, Rasulullah mengambil bagian kakinya dan hendak mulai dikunyah, tapi tidak sampai ditelannya. Dalam pada itu salah satu sahabat, Bisyr bin’l-Bara’ telah mengambil daging itu sekerat. Dan Bisyr telah menelannya sekaligus. Sedang Rasul memuntahkannya kembali seraya katanya : “Ada tanda-tanda tulang itu beracun.”
Kemudian Zainab dipanggil, dan di tanyai; “Untuk apa kau lakukan ini?”
“Untuk membunuhmu”, jawabnya penuh keberanian dan kelancangan.
Lalu katanya : “Tuan telah mengadakan tindakan terhadap ayahku, pamanku dan suamiku serta golonganku, seperti sudah tuan ketahui.
“Kalau dia seorang raja, aku lega; kalau dia seorang Nabi tentu dia akan diberi tahu, dan racun itu tidak akan berpengaruh baginya!”, lanjutnya.
Akibat makan daging itu Bisyr akhirnya meninggal dunia.
Dalam hal ini beberapa ahli sejarah masih berbeda pendapat. Ada yang menyatakan, bahwa Nabi telah memaafkan Zainab, dan sangat menghargai sekali alasannya mengingat malapetaka yang telah menimpa golongannya itu. Ada juga yang mengatakan bahwa dia pun dibunuh sebagai kisas, sebagai ganti kematian Bisyr yang diracun itu.
Nabi lalu berbekam pada bagian atas punggungnya, dekat leher. Sejak itu beliau sering mengeluh sakit akibat racun itu hingga wafatnya. “Aku selalu merasakan pengaruh makanan yang kumakan di Khaibar.”
Dan perbuatan Zainab itu telah menimbulkan kesan yang mendalam di dalam hati kaum Muslimin. Peristiwa-peristiwa yang timbul sesudah Khaibar ini membuat mereka tidak percaya lagi kepada orang-orang Yahudi. Bahkan mereka mewaspadai akan segala akibat tipu muslihat yang akan dilakukan secara perseorangan sampai kapanpun.
----------------------------
Hayat Muhammad (Sejarah Hidup Muhammad), Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D, Penerbit : P.T. Pustaka Litera Antar Nusa Jakarta-Bogor, Cetakan Kesebelas, Januari 1990.
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Bandung, Cetakan keduapuluh 2006.

Rabu, 26 November 2014

Orban dan Karyanya

Kutipan kalimat dari buku "Muhammad Al-Fatih 1453"-nya Felix Y. Siauw, halaman 95; "..., di suatu hari pada musim panas 1452, seorang ahli senjata berkebangsaan Hungaria datang menghadap Sultan Mehmed II (putra MUrad II, terlahir pada 29 Maret 1432, tapi menurut sumber berbahasa Arab lain, beliau terlahir 26 Rajab 833 H atau bertepatan dengan 20 April 1430 M) untuk menawarkan keahliannya membuat meriam. Sebelumnya Orban sang pembuat senjata telah mencoba menawarkan rancangan senjatanya kepada kaisar Constantine Palaiologos, namun keadaan Byzantium yang sedang menghadapi resesi ekonomi parah tidak memungkinkan untuk berinvestasi dalam persenjataan militer, apalagi mereka merasa aman berada dalam lingkungan temboknya (selama 1.123 tahun menahan 23 serangan, hanya sekali tembok bagian lautnya pernah tembus oleh pasukan salib tahun 1204). Untuk mencegah teknologi Orban dikuasai kaum Muslim, kaisar Byzantium mencoba menahannya dalam kota dan berjanji mencukupi "biaya bulanan" sebagai kompensasi. Namun kenyataan berkehendak lain, kompensasi yang dijanjikan tidak kunjung didapatkan. Sebagai seniman senjata, tidak ada yang lebih membahagiakannya selain menjadikan impian dan rancangan senjatanya menjadi kenyataan."
Sejarah mencatat bahwa kedua kaki Orban berdiri dihadapan Sultan Mehmed II untuk mencoba peruntungannya.
Kita perhatikan kutipan kalimat berikutnya dari buku "Muhammad Al-Fatih 1453"-nya Felix Y. Siauw, halaman 95-96; "Setelah mendengar maksud kedatangannya, Sultan Mehmed II segera bertanya kepadanya; "Mampukah engkau membuat meriam yang dapat melontarkan batu besi besar (seraya menggunakan kedua lengannya untuk menggambarkan besar batu yang dibayangkannya) untuk memorak-porandakan tembok?!". Sungguh jawaban yang didengar Sultan dari sang ahli senjata menyenangkan hati beliau, "Kalau engkau menginginkannya, aku dapat membuat meriam dari tembaga dengan kemampuan melontarkan bola besi sebagaimana yang engkau maksud. Aku telah meneliti tembok kota dengan sangat rinci. Dengan meriam yang aku buat, aku tidak hanya dapat meluluh-lantahkan tembok kota (Konstantinopel), bahkan tembok Babilon pun akan hancur karenanya!".
Sultan Mehmed II pun segera memerintahkan bawahannya untuk memperlakukan Orban dengan baik dan membayar keahliannya empat kali lipat dari permintaan Orban. Sultan Mehmed II juga memobilisasi tentaranya untuk mengumpulkan bahan-bahan baku yang diperlukan Orban seperti tembaga, timah, saltpeter, belerang dan arang.
Pembuktian keahlian Orban diawali di Rumeli Hisari (Bogazkesen ("Pemotong Tenggorokan") sebuah benteng raksasa penjaga selat Bosphorus yang selesai tepat pada 31 Agustus 1452 yang pengerjaannya selama 4 bulan diatas lahan 31.250 m2 dengan 3 menara utama dan 14 menara penjaga, tinggi masing-masing menara antara 22 - 28 meter dengan ketebalan dinding antara 5 - 7 meter), 5 meriam awal diselesaikannya dengan panjang 4,2 meter. Meriam-meriam ini pula yang menghancurkan kapal Antonio Rizzo pada Nopember 1452.
Pembuktian keahlian Orban berikutnya adalah pembuatan Meriam Raksasa sepanjang 8,2 meter dengan diameter 0,7 meter dengan ketebalan bibir meriam 0,2 meter logam padat, pelurunya terbuat dari batu berbentuk bola dengan berat 700 kg. Teknologi ini diuji coba pada Januari 1453 yang menghasilkan dentuman yang menggelegar dari jarak 16 km, peluru terlempar sejauh 1,6 km dan membuat lubang 2 meter di tanah.
Orban pun melanjutkan pembuktian keahliannya di Edirne, walaupun tak satupun meriam setelahnya lebih besar dari "Meriam Monster Raksasa". tetapi ukurannya lebih besar dari meriam standar, dengan variasi ukuran rata-raya 4,2 meter.
Sebuah rahasia keimanan yang sempurna, Sultan Mehmed II benar-benar meniru Rasulullah Muhammad s.a.w. yang selalu mengusahakan sebab yang pantas untuk mencapai akibat yang pantas dengan menyandarkan keyakinannya pada bisyarah Rasul-Nya. Selama pembuatan meriam raksasa sepanjang 8,2 meter dan diameter 0,7 meter para wazir dan ulama berdzikir dengan kalimat "La haula wa la quwwata illa billah!". Saat lautan bara cair mendidih kepala proyek berkata : "Lemparkan koin emas dan perak kedalam campuran logam ini sebagai sedekah dan do'a, dengan keimanan yang benar". Selama pengerjaan para pekerja terus menyebut nama "Allah ! Allah!"
Sultan Mehmed II pun tetap menanamkan keimanan hanya kepada Allah sebagai sumber kemenangan dan kemuliaan dengan mengukir moncong meriam dengan kalimat ; "Tolonglah Ya Allah Sang Sultan Muhammad Khan bin Murad"
----------------------------
Dirangkum dari buku : Muhammad Al-Fatih 1453; Felix Y. Siauw; Penerbit : Al-Fatih Press, Jakarta Utara; Cetakan ke-7, Juni 2014, halaman 95 - 102.

Jumat, 24 Oktober 2014

Abdullah bin Saba'

Sudah menjadi sifat orang Yahudi menjadi penyebar isu, pembuat onar dan pelaku makar. Dan bila belum mampu melakukan balas dendam terhadap musuh-musuhnya, mereka akan berlagak sebagai teman atau bahkan sahabat secara lahir. Namun di dalam, mereka merajut benang konspirasi secara diam-diam. Seorang Yahudi dari San'a di Yaman bernama Abdullah bin Saba' pada masa pemerintahan amirul mukminin Usman bin 'Affan masuk Islam. Kemudian ia mengunjungi sejumlah kota-kota dalam kawasan Islam dengan propaganda membangkitkan kemarahan di kalangan masyarakat kepada pemerintahan amirul mukminin Usman bin 'Affan tidaklah hak, bahwa Ali bin Abi Talib-lah sang pewaris kekhalifahan.
Abdullah bin Saba' mulai menyebarkan kaki tangannya, mengirim surat ke berbagai kota dan menggalang opini publik secara diam-diam dan meng-klaim telah menguasai Madinah. Lalu ia memperluas penyebaran gerakan propagandanya di Basrah, banyak orang awam yang terpengaruh oleh seruannya itu, tetapi oleh Abdullah bin Amir ia (Abdullah bin Saba') diusir dari kota. Lalu ia pergi ke Kufah menyerukan hal yang sama, tetapi dikota ini pun ia diusir. Pergilah ia ke Syam, tetapi oleh Mu'awiyah iapun diusir juga.
Abdullah bin Saba' pun pergi ke Mesir dan menjadikannya sebagai pusat gerakannya. Dari kota ini ia mulai menyebarkan propagandanya dan mengirimkan utusan kepada pengikutnya di Basrah dan Kufah, bahwa Ali bin Abi Talib-lanh sang pewaris kekhalifahan dari Rasulullah. Kelompok ini belakangan disebut kelompok Sabi'ah atau Sabiyah (penentang amirul mukminin Usman bin 'Affan) dan kelak berkembang menjadi kaum khawarij (penentang amirul mukminin Usman bin 'Affan dan amirul mukminin Ali bin Abi Talib). Propaganda Abdullah bin Saba' mendapat sambutan dari pemimpin-pemimpin pasukan yang bermarkas di Mesir, karena pada saat itu masih berlangsung peperangan di seluruh kawasan Afrika, Aljazair dan Romawi. Dan para pemimpin pasukan itu mulai bergerak melawan gubernur Mesir, Abdullah bin Abi Sarh dan menargetkan penggulingan amirul mukminin Usman bin 'Affan. Mereka mulai menyusun rencana dengan pasukan gabungan (dari Kufah, Basrah dan Mesir) sekitar 1000 orang masuk Madinah sebagai rombongan Haji.
Gerakan ini tercium oleh amirul mukminin Usman bin 'Affan. Dan amirul mukminin Usman bin 'Affan tidak tinggal diam, diutusnya Ali bin Abi Talibmenghadang rombongan tersebut di Juhfah. Akhirnya mereka kembali ke negeri masing-masing.
Namun beberapa waktu kemudian mereka kembali lagi ke Madinah dengan rombongan yang tidak sedikit. Rupanya mereka mendapat hembusan fitnah jika mereka akan dibunuh atas dasar surat berstempel amirul mukminin Usman bin 'Affan yang ditulis oleh Marwan bin al-Hakam pegawai amirul mukminin Usman bin 'Affan. Mereka mengepung Madinah dan menuntut penyerahan Marwan bin al-Hakam dan amirul mukminin Usman bin 'Affan turun jabatan. Namun semua itu ditolak amirul mukminin Usman bin 'Affan.
Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Setelah tiga minggu rumah amirul mukminin Usman bin 'Affan dikepung, beliaupun dibunuh oleh kaum khawarij.
------------------------
Pustaka :
Usman bin 'Affan, Muhammad Husain Haekal, Penerbit PT Pustaka Litera AntarNusa, cetakan kedelapan, Juni 2010.
Ali bin Abi Talib, Ali Audah, Penerbit PT Pustaka Litera AntarNusa, cetakan ketujuh, Juni 2010.
‘Aisyah r.a., Sulaiman an-Nadawi, Penerbit QisthiPress, cetakan ketiga Juni 2012.

Minggu, 17 Agustus 2014

BANU NADHIR

Tantangan Kaum Yahudi
DIWAKTU Rasulullah s.a.w. melakukan hijrah, di dapati di Medinah selain dari Muslimin Anshar, juga beberapa golongn kaum Yahudi, seperti Banu Quraidzah, Banu Nadhir dan lain-lain.
Antara Rasulullah dan golongan-golongan Yahudi diadakan perjanjian hidup berdampingan secara damai (co-existensi) dengan tidak mengurangi pelaksanaan da’wah Islamiyah bil-hikmah wal mau’idzatil hasanah dan mujadalah billati hiya ahsan.
Tetapi pada satu ketika Banu Nadhir berkhianat, mengadakan komplotan untuk membunuh Rasulullah. Percobaan mereka untuk membunuh Rasulullah gagal. Setelah ternyata penghianatan mereka kepada perjanjian co-existensi itu, maka mereka diusir dari Medinah.
Sesudah terusir itu Banu Nadhir ini terus berusaha untuk menuntut balas. Mereka menghasut dan memobilisir kabilah-kabilah Arab Musyrikin sebanyak mungkin untuk menghancurkan Muhammad dan ummatnya di Medinah. Untuk ini Banu Nadhir mempergunakan segala tipu daya dan cara.
Lebih dahulu mereka mengirim utusan kepada musuh ummat Islam yang utama yaitu Quraisy Makkah. Mereka diajak Banu Quraisy bersama-sama menyerang ummat Islam sampai habis keakar-akarnya. Mulanya Banu Quraisy merasa curiga terhadap Banu Nadhir yang begitu bersemangat mengajak mereka bersama-sama memerangi Muhammad s.a.w. Sebab walaupun bagaimana, mereka mengetahui bahwa pada pokoknya antara agama Yahudi dengan Islam itu banyak persamaannya. Kedua-duanya menyeru kepada Tauhid dan makarimul-akhlaq. Mengapa Banu Nadhir ini sampai mengajak mereka yang musyrik, untuk bersekutu memerangi Muhammad.
Untuk menghilangkan keragu-raguan mereka, pemimpin Banu Quraisy mengajukan pertanyaan secara kategoris kepada perutusan Banu Nadhir :
“Wahai tuan-tuan kaum Yahudi! Kamu adalah ahli kitab. Kamu mengetahui apa yang menjadi pertentangan antara kami dengan Muhammad; sekarang kami ingin bertanya secara kategoris dan minta dijawab secara kategoris pula : “Antara agama kami dan agama Muhammad, mana yang lebih baik?”.”
Tanpa tedeng aling-aling, utusan Yahudi itu menjawab : “Tentu saja, agamamu yang lebih baik. Kamulah yang lebih benar dari dia !”
Dengan begitu Musyrikin Quraisy mau bersekutu dengan Banu Nadhir. Satu persekutuan antara dua kelompok suku yang berbeda aqiedahnya.

Mengorbankan Prinsip = Pengkhianatan
Jadi untuk merangkul Musyrikin Quraisy, kauni Yahudi yang masih menamakan dirinya ahli kitab itu, tidak segan-segan mengurbankan prinsip, mengkhianati dasar-dasar keyakinan agama mereka sendiri.
Ini bisa juga orang namakan : tipu-daya.
Tapi ini bukan “Nu’aimisme”. Ini bukan “Khud’ah” terhadap musuh.
Yang terang, ini adalah penkhianatan terhadap agama dan pendirian.
Rasulullah s.a.w. berkata kepada Nu’aim bin Mas’ud : “Perang itu tipu-daya”.
Ada perbedaan yang mendalam antara Nu’aimisme atau Ammarisme dengan Nadhirisme.
Kalau orang tidak awas, bisa keliru menilai. Yang lebih banyak mendapat pasaran ialah “Nadhirisme”, ialah tidak banyak risiko, tak perlu gentar. Selain daripada perlu sedikit kesenian untuk mengkamuflirNadhirisme” dengan sebutan “Nu’aimisme”.
-----------------------
Disajikan kembali dari buku “dibawah naungan risalah” tulisan M. Natsir, Sinar Hudaya – Documenta 1971, halaman 41 - 43.

Rabu, 25 Juni 2014

ABU LAHAB

Fitnahan-Fitnahan Keji
DIA seorang pemimpin suku Quraisy jang besar pengaruhnya, disamping Abu Thalib. Mukanya merah padam; lantaran itu digelari “Abu Lahab” (Raja Api).
Dia lebih fanatik berpegang kepada agama nenek moyangnya daripada siapapun juga. Lebih daripada orang lain, dan dia mengerti, bahwa aqiedah Tauhid yang dibawakan oleh Rasulullah s.a.w. sebenarnya lebih berbahaya bagi kelanjutan kepercayaan syirik yang mereka anut itu, dan daripada ajaran-ajaran yang dibawakan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi dan Nasrani, yang mereka tolerir selama ini dibeberapa tempat ditanah Arab seperti di Medinah, Yaman dan lain-lain. Oleh karena itu dengan segenap kekuatannya Abu Lahab menentang Risalah Muhammad s.a.w. dan semula secara gigih. Konfrontasi yang pertama kali dengan Rasulullah s.a.w. terjadi dalam satu jamuan makan untuk para anggauta keluarganya yang diselenggarakan oleh Rasulullah s.a.w. Abu . Lahab memulai
kampanyenya dengan melemparkan satu “label” atau cap “Shabi” yakni “Penyeleweng”. Maksudnya penyeleweng dari agama nenek moyang Quraisy dan “pemecah belah kekuatan kaum Quraisy”. Diharapkannya bahwa label yang murah itu akan lekas populer dikalangan kaum Quraisy, dan dapat menghimpunkan rakyat Quraisy dan kabilah-kabilah lainnya untuk menghancurkan Muhammad s.a.w. dan pengikut-pengikutnya.
Tetapi Rasulullah dengan bijaksana dapat mengelakkan “label” yang tajam itu, dan disongsongnya dengan istilah yang sesuai dengan hakekat tugasnya “Raid” (perintis jalan) bagi kaumnya yang sedang “musafir”.
Dalam pertemuan kedua, keluarga Rasulullah s.a.w. sudah bersibak dua, pro dan kontra. Abu Lahab Cs. disatu fihak, dan Abu Thalib beserta Ali bin Abi Thalib di lain fihak.
Salah Taksir
Tadinya Abu Lahab mengharapkan bahwa dia akan dapat melawan dan membungkamkan da’wah Rasulullah dengan melancarkan ide “keutuhan Quraisy dan Arab” umumnya, sebagai daya penarik yang populer bagi semua kekuatan untuk meng-isoleer dan menghancurkan da’wah Muhammad s.a.w. Diharapkan dengan itu Muhammad s.a.w. akan tertegun dan kuncup, ibarat bunga kena hujan lebat pagi hari.
Tetapi taksirannya meleset. Tugas Rasulullah adalah menegakkan kebenaran. Dan beliau menegakkan Unity Through Truth (Persatuan berdasarkan kebenaran), bukan unity for the sake of unity, unity at all cost, unity at the cost of truth and human well being.
Kalau truth (kebenaran) itu buat pertama kali disampaikan ketengah-tengah suatu kaum yang sudah penuh dengan kebatilan yang berkarat semenjak berabad-abad seperti halnya dengan masyarakat Quraisy, lalu terjadi “perpecahan”, lantaran ada pro dan kontra, maka itu adalah undang-undang alam (Sunnatullah) jang tak bisa dielakkan oleh siapapun. Siapa enggan memecah telor jangan idamkan memakan dadar. (Telor rebuspun perlu dipecah dulu, maka bisa dimakan).
Sudah tentu Abu Lahab tidak akan tinggal diam sesudah konfrontasi yang pertama ini. Dia seorang yang gigih dan ulet dalam perjuangannya pula.
Dia bersama isterinya akan bekerja lebih keras lagi, dikalangan rakyat Mekkah, dengan segala macam “labels” dan cap-capan terhadap Rasulullah.
Rasulullahpun memahami hal ini. Persoalan ini sudah menjadi pembicaraan orang ramai. De teerling is geworpen. Rasulullah tidak menunggu lama-lama.
Bimbingan Ilahy datang berupa ayat : “Berterus teranglah dengan apa yang diperintahkan
kepadamu; dan berpalinglah dari kaum Musyrikin itu !” (Al Hajr : 94).
Beliau naik kepuncak bukit Shafa, ditengah-tengah kota Mekkah. Dari sana dengan berdiri tegak, diserukannya panggilan kepada seluruh penduduk Mekkah dan bermacam-macam suku itu : “Dengarkan, dengarkan, wahai orang banyak !”. Dipanggilnya suku Bani Zudrah, Bani Abdul Manaf, Bani Abdul Muttalib, Bani Asad, Bani Mahzum, Bani Taim dan lain-lain. Lalu disampaikannya Risalahnya, dengan terang dan jelas, dengan kata-kata yang menarik, tetapi tegas tanpa tedeng aling-aling. Orang-orang diserunya kepada Tauhid, yang diametral bertentangan dengan agama orang-orang berkuasa dikota Mekkah dan sekitarnya.
Akibat dari seruan beliau yang pertama kali didepan umum ini, ialah beliau mendapat tambahan musuh, dan juga tambahan kawan, diantara para pendengarnya. Ini adalah Sunnatullah.

Intimidasi, Paksaan Dan Siksaan
Maka Abu Lahab yang mengerti bahwa Muhammad tidak bisa terkalahkan olehnya bila dilawan dengan bertukar argumentasi (hujjah melawan hujjah) dan fitnahan-fitnahan, lalu mengambil tak-tik lain. Dia perpindah kepada keunggulannya yaitu dalam kekuatan fisik.
Semenjak itulah ummat Muhammad mulai mendapat cobaan-cobaan, berupa paksaan kekerasan dan siksaan-siksaan fisik yang berat. Ada diantara mereka yang syahid, baik laki-laki maupun wanita lantaran mempertahankan dan menegakkan tauhid. Kalau dalam tiga tahun pertama sebelumnya, yaitu diwaktu ummat Muhammad yang berjumlah ± 40 orang itu menganut agama mereka secara sembunyi, dibiarkan dan tidak diganggu benar, maka sekarang Abu Lahab cs bekerja keras untuk melancarkan serangan-serangan mereka dengan tidak memberikan ruang hidup lagi (physical extermination).
Akan tetapi justru dalam suasana yang demikianlah, dalam penindasan-penindasan yang tak kenal perikemanusiaan itu pulalah timbulnya laki-laki yang jantan, seperti Bilal, Shuhaib, Amir bin Fuhairah, Abu Fukaihah dan lain-lain dari kalangan rakyat jelata menjadi pembawa panji Kalimah Tauhid kemedan jihad, dan kemenangan nantinya …………. Rupanya : “Lantaran dibakar dan ditempa juga, makanya baja melebihi besi!”.

Bujukan Halus
Abu Lahab cs belum kehabisan akal. Didekatinya Abu Thalib, untuk membujuk Muhammad s.a.w. supaya menghentikan da’wahnya, dan dibayangkan kepadanya, bahwa kalau dia mau, dia akan diberi apa saja yang disukainya: harta benda, kedudukan dan lain-lain.
Dijawab oleh Rasulullah s.a.w. : “Aku pantang meninggalkan perjuangan ini. Sekalipun mereka letakkan matahari ditangan kananku, dan bulan ditangan kiriku, tidaklah aku akan meninggalkannya. Aku teruskan sampai Allah. s.w.t. mengurniakan kemenangan, atau aku hancur dalam perjuangan !”
Abu Lahab cs tidak berhenti disitu saja. Dikirimnya pula utusan untuk mengemukakan satu konsepsi. Suatu campur aduk antara tauhid dan syirik, demi keutuhan dan kejayaan Quraisy dan bangsa Arab.
Rasulullah tolak dengan kontan.

Tujuan Menghalalkan Cara
Jadi Abu Lahab adalah ‘aduw (musuh) ummat Islam. Satu lawan yang degil, ulet dan banyak akalnya. Baginya : “het doel heiligt de middelen” (tujuan menghalalkan segala cara). Debat, “labels”, fitnah, paksaan, siksaan, pembunuhan, rangkulan, semua dilaksanakannya.
Muhammad s.a.w. menghadapinya tanpa ragu-ragu dengan keuletan, disemua bidang; dibidang fisik dan mental dengan keberanian mengambil risiko tanpa kompromi, dan dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Esa.
Tak tahulah, bagaimana gerangan orang menghadapi Abu Lahab, sekiranya dia ada pula dizaman ini. Tetapi Rasulullah beserta ummat Muhammad menghadapinya seperti itu. Dan cara begitulah yang telah membawa kejayaan Ummat Tauhid.
Bukan ummat yang dengan bendera “hikmah”, seenaknya saja talbisul haqqa bil bathil, dan dengan panji-panji “mendekati gagang” seenaknya saja melakukan “tazalluf” (mengesek-esek) dan “tamalluq” (mendekat-dekatkan diri), bertanam tebu dibibir, menjilat-jilat.
Begitulah ummat yang sudah diserang penyakit “jubn”, sehingga : “…………… mereka takut kepada manusia seperti takutnya kepada Allah atau lebih sangat takutnya ……………….” (An-Nisa : 77).
“Orang yang beriman itu berperang dijalan Allah; dan orang-orang yang kufur itu berperang dijalan sesuatu yang melewati batas. Lantaran itu perangilah pengikut-pengikut syaithan, karena tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (An-Nisa : 76).
-----------------------
Disajikan kembali dari buku “dibawah naungan risalah” tulisan M. Natsir, Sinar Hudaya – Documenta 1971, halaman 44 - 50.

Minggu, 09 Juni 2013

K.H Fakhruddin

K.H. Fakhruddin
PAHLAWAN INDONESIA. KH Fakhruddin atau sering dipanggil Muhammad Jazuli, (lahir di Yogyakarta 1890 - Yogyakarta, 28 Februari 1929) adalah seorang pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia dan juga tokoh Muhammadiyah. Ia tidak pernah mendapat pendidikan di sekolah-sekolah umum. Pelajaran agama mula-mula diterima ayahnya, H. Hasyim, kemudian dari beberapa ulama terkenal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Fakhruddin dianggap sebagai seorang tokoh yang serba bisa. Karena itu, silih berganti tugas penting diserahkan kepadanya, antara lain mengurus bagian dakwah, bagian taman pustaka, dan bagian pengajaran. Tahun 1921 ia diutus ke Mekah selama 8 tahun untuk meneliti nasib para jemaah haji yang berasal dari Indonesia karena mereka seringkali mendapat perlakuan kurang baik dari pejabat-pejabat Mekah. Sekembalinya, memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji. Selain itu, ia pernah pula diutus ke Kairo sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam.
Kesibukannya mengurus Muhammadiyah dan usahanya, membuatnya kurang memperhatikan kesehatannya. Menjelang kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit. Pada tanggal 28 Februari 1929, ia akhirnya meninggal dunia di Yogyakarta dan dikebumikan di Pakuncen, Yogyakarta.

Sabtu, 08 Juni 2013

H. Muhammad Sudjak

Republika, [Jum'at, 17 Juni 2005]. Berdirinya organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah tidak terlepas dari sumbangsih empat kuartet bersaudara. Mereka amat dihormati oleh warga Muhammadiyah, dari sejak dulu hingga kini. Empat bersaudara tersebut antara lain H Muhammad Sudjak, KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusuma, dan KH Zaini.
Mereka merupakan generasi pertama gerakan Muhammadiyah yang langsung di bawah bimbingan KH Ahmad Dahlan, Bapak Muhammadiyah. Dan dari empat orang bersaudara itu, yang paling tua adalah H Muh Sudjak. Seperti dikutip dari situs resmi organisasi Muhammadiyah, H Muhammad Sudjak terlahir di Kampung Kauman, Yogyakarta pada tahun 1885/1303 H. Dia berasal dari keluarga abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Ayahnya adalah H. Hasyim yang menjabat sebagai seorang abdi dalem keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII.
Sudjak semasa masih kecil dipanggil dengan nama Daniel. Nama tersebut diberikan karena dia lahir bertepatan dengan tahun Dal. Tapi, setelah menginjak usia dewasa, khususnya setelah naik haji namanya diganti menjadi Muhammad Sudjak. Nama Sudjak berarti berani naik haji. Sudjak lebih banyak mendapat pendidikan keagamaan dari orang tuanya, baik di lingkungan keluarga maupun di Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Latar belakang pendidikannya secara formal kurang dapat ditelusuri. Sementara itu, menurut beberapa informasi yang ada, Sudjak dikenal sebagai seorang yang otodidak.
Dia juga sempat belajar di pondok pesantren. Hanya saja, di pondok pesantren mana tidak ada yang mengetahui. Ada kemungkinan dia belajar di pondok pesantren Wonokromo seperti adiknya, KH Fakhruddin. Saat memasuki usia remaja, di Kauman terjadi usaha pembaharuan bidang pendidikan yang dipelopori oleh KH Ahmad Dahlan. Sebagai remaja yang yang besar di lingkungan Kauman, Sudjak masuk di dalamnya. Dia menjadi salah seorang pendukung, murid, sekaligus santri KH Ahmad Dahlan.
Pada waktu bersamaan, Sudjak juga dimagangkan di lingkungan Keraton Yogyakarta untuk menjadi abdi dalem. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena dia merasa kurang cocok untuk menjadi seorang abdi dalem. Keluar dari magang di lingkungan keraton, Sudjak mulai mencurahkan perhatian di Muhammadiyah yang baru berdiri. Saat Muhammadiyah berdiri tahun 1912, Sudjak adalah salah seorang anggota angkatan mudanya. Dia adalah murid serta kader langsung KH Ahmad Dahlan bersama-sama dengan adik dan teman-temannya, seperti H Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H Zaini, H Mokhtar, HA Badawi, RH Hadjid, dan lain-lain.
Meski demikian, dia belum duduk di dewan kepengurusan. Hal itu dikarenakan usianya masih relatif muda. Sudjak mulai terlibat dalam kepengurusan Muhammadiyah sejak memasuki dekade 1920-an, tepatnya pada tahun 1921. Pada saat itu Hoofdbestuur (HB) dalam kepengurusannya. Salah satunya adalah Bagian Penolong Kesengsaraan Umum (PKU) yang bertugas meringankan beban penderitaan umat melalui aksi-aksi sosialnya.
Dari sekian banyak kader muda KH. Ahmad Dahlan yang mempunyai pola pikir dan perjuangan pragmatis dan bergerak di bidang sosial adalah Sudjak. Sikap seperti itu merupakan hasil pendidikan yang diberikan KH Ahmad Dahlan di mana dia senantiasa menekankan pentingnya aksi (praktek amaliah) dari pada hanya sekedar beretorika. Dan Sudjak dipandang sebagai tokoh yang pantas memimpin Bagian PKU Muhammadiyah.
Sebagai pemimpin Bagian PKU Muhammadiyah, Sudjak yakin lembaga tersebut akan mampu membuktikan bahwa bangsa Indonesia, khususnya Muhammadiyah dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin, rumah anak yatim dan sebagai aksi sosialnya. Rencananya untuk mendirikan beberapa amal sosial itu kemudian dipresentasikan saat dilantik menjadi ketua Bagian PKU Muhammadiyah. Rencana Sudjak terdengar sangat berlebihan untuk ukuran saat itu sehingga di depan khalayak dia malah ditertawakan. Meski demikian dia tetap yakin akan tekadnya.
Dia berpegang pada realitas bahwa telah banyak orang non-Muslim (Kolonial Belanda) yang dapat mendirikan rumah sakit, rumah miskin dan rumah yatim hanya karena dorongan rasa kemanusiaan tanpa didasari rasa tanggungjawab kepada Allah SWT. Jika umat non-Muslim saja mampu melakukan aksi-aksi sosial, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan agama seperti yang tertera dalam QS Al-Maun, tidak dapat melakukannya.
Lebih jauh dia berprinsip bahwa jika Allah telah menetapkan ketentuannya di dalam Alquran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaum-Nya. Pada perkembangannya kemudian, ternyata apa yang digagas Sudjak menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti Muhammadiyah mampu mendirikan rumah sakit di Yogyakarta serta mendirikan rumah miskin dan panti anak yatim di mana-mana sebagai amal usaha-amal usaha andalan di bidang sosial.
Itulah sumbangan terbesar yang diberikan Sudjak dalam merintis dan mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bagian PKU. Sudjak pun dipandang sebagai inspirator dan perintis utama aksi sosial dalam gerakan Muhammadiyah setelah KH Ahmad Dahlan sendiri. Di lingkungan Muhammadiyah, meski belum pernah menjabat sebagai ketua Muhammadiyah dan jabatan tertingginya hanya sampai pada jabatan wakil ketua, tapi nama Sudjak cukup populer. Hal ini karena dia dipandang sebagai salah seorang murid dan kader langsung dari KH. Ahmad Dahlan.
Bahkan pada sekitar tahun 1937 ketika terjadi gejolak di kalangan muda Muhammadiyah yang menghendaki adanya regenerasi dia adalah salah satu di antara trio angkatan tua bersama-sama dengan M. Mukhtar dan H. Hisyam yang sangat populer. Dalam kongres Muhammadiyah yang ke-26 di Yogyakarta pada tahun 1937, Sudjak tetap diberi kepercayaan untuk memimpin Bagian (Majlis) PKU yang memang bidangnya. Setelah itu, Sudjak tidak lagi duduk di dalam kepengurusan besar Muhammadiyah secara fungsional. Namun, hingga masa akhir hayatnya pada tahun 1962, dia dipercaya menjadi anggota penasehat PP Muhammadiyah.
Kiprah Sudjak tak hanya di lingkup Muhammadiyah saja, tercatat dia juga aktif dalam memperjuangkan perbaikan kualitas perjalanan haji bagi jamaah asal Indonesia. Pada periode pasca kemerdekaan bersama teman-temannya yang punya komitmen pada persoalan jamaah haji, dia membentuk satu wadah yang kemudian dinamakan Persatuan Djamaah Haji Indonesia (PDHI). Meski dalam perjuangannya dia sampai diperkarakan di pengadilan, tapi langkahnya tidak pernah surut. Sampai hari-hari menjelang wafatnya pun dia masih terus aktif di urusan perjalanan Haji. Berkat jasa-jasanya itulah sehingga Sudjak dikenal sebagai tokoh pelopor perbaikan perjalanan haji Indonesia.
H Sudjak meninggal dunia pada tanggal 5 Agustus 1962 setelah sekitar setengah abad ikut membesarkan Muhammadiyah. Di kalangan para tokoh Muhammadiyah, dia dikenal sebagai salah seorang yang banyak mewarisi sikap gurunya, KH. Ahmad Dahlan, dalam rangka mengembangkan organisasi. Jika KH Ahmad Dahlan adalah peletak dasar berbagai aktivitas amal usaha sosial Muhammadiyah, maka H.Sudjak adalah perumus dan sekaligus penafsirnya dalam realitas gerakan. Itulah sumbangan besar H. Sudjak dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah, khususnya di bidang amal usaha sosial.

Jumat, 07 Juni 2013

K.H. Ahmad Dahlan

K.H. Ahmad Dahlan
MUHAMMADIYAH.OR.ID. Andai saja pada tahun 1868 tidak lahir seorang bayi bernama Muhammad Darwisy (ada literatur yang menulis nama Darwisy saja), Kampung Kauman di sebelah barat Alun-alun Utara Yogyakarta itu boleh dibilang tak memiliki keistimewaan lain, selain sebagai sebuah pemukiman di sekitar Masjid Besar Yogyakarta. Sejarah kemudian mencatat lain, dan Kauman pada akhirnya menjadi sebuah nama besar sebagai kampung kelahiran seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia, Kiai Haji Ahmad Dahlan : Sang Penggagas lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912.
Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta). Muhammad Darwisy merupakan anak keempat dari tujuh saudara yang lima diantaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Tak ada yang menampik silsilah Muhammad Darwisy sebagai keturunan keduabelas dari Maulana Malik Ibrahim, seorang wali besar dan terkemuka diantara Wali Songo, serta dikenal pula sebagai pelopor pertama penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan, 1991). Demikian mata-rantai silsilah itu: Muhammad Darwisy adalah putra K.H. Abu Bakar bin K.H. Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Jatinom) bin Maulana Muhammad Fadlullah (Prapen) bin Maulana ‘Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).
Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil, dan sekaligus menjadi tempatnya menimba pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun (1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa Arab di Makkah selama lima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taimiyah. Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwa dan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian hari menampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot). Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi (keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis ini harus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits.
Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Haji Ahmad Dahlan (suatu kebiasaan dari orang-orang Indonesia yang pulang haji, selalu mendapat nama baru sebagai pengganti nama kecilnya). Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi Khatib Amin di lingkungan Kesultanan Yogyakarta. Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yang dilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.
Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, saudara sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri ‘Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991). Di samping itu, K.H. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai ‘Aisyah (adik Ajengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai Yasin, Pakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).
Ahmad Dahlan adalah seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya. Ada sebuah nasehat yang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri : “Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akan mengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinya dengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, coba engkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkau menghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkau hadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya (diterjemahkan oleh Djarnawi Hadikusumo).

MUHAMMADIYAH.OR.ID. Dari pesan itu tersirat sebuah semangat dan keyakinan yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harus mencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh, menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar dan membimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengan demikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyai kesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepada seluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.
Kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummat Islam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itu tidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yang diatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.
Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, Dahlan gigih membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun dan memajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan ummat Islam di Indonesia.
Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat dan memperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calon guru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk meng­ajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.
Dengan mendidik para calon pamongpraja tersebut diharapkan akan dengan segera memperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Demikian juga dengan mendidik para calon guru yang diharapkan akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, karena mereka akan mempunyai murid yang banyak. Oleh karena itu, Dahlan juga mendirikan sekolah guru yang kemudian dikenal dengan Madrasah Mu’allimin (Kweekschool Muhammadiyah) dan Madrasah Mu’allimat (Kweekschool Putri Muhammadiyah). Dahlan mengajarkan agama Islam dan tidak lupa menyebarkan cita-cita pembaharuannya.
Di samping aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muham­madiyah, ia juga tidak lupa akan tugasnya sebagai pribadi yang mempunyai tanggung jawab pada keluarganya. Di samping itu, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi entrepreneurship yang cukup menggejala di masyarakat.

MUHAMMADIYAH.OR.ID. Sebagai seorang yang aktif dalam kegiatan bermasyarakat dan mempunyai gagasan-gagasan cemerlang, Dahlan juga dengan mudah diterima dan dihormati di tengah kalangan masyarakat, sehingga ia juga dengan cepat mendapatkan tempat di organisasi Jam’iyatul Khair, Budi Utomo, Syarikat Islam, dan Comite Pembela Kanjeng Nabi Muhammad Saw.
Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaharuan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaharuan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. Ia ingin mengajak ummat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri pada tanggal 18 Nopember 1912. Sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.
Gagasan pendirian Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan ini juga mendapatkan resistensi, baik dari keluarga maupun dari masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnahan, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya. Ia dituduh hendak mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam. Ada yang menuduhnya kiai palsu, karena sudah meniru-niru bangsa Belanda yang Kristen dan macam-macam tuduhan lain. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun rintangan-rintangan tersebut dihadapinya dengan sabar. Keteguhan hatinya untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaharuan Islam di tanah air bisa mengatasi semua rintangan tersebut.
Pada tanggal 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda untuk mendapatkan badan hukum. Permohonan itu baru dikabulkan pada tahun 1914, dengan Surat Ketetapan Pemerintah No. 81 tanggal 22 Agustus 1914. Izin itu hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta dan organisasi ini hanya boleh bergerak di daerah Yogyakarta. Dari Pemerintah Hindia Belanda timbul kekhawatiran akan perkembangan organisasi ini. Itulah sebabnya kegiatannya dibatasi.
Walaupun Muhammadiyah dibatasi, tetapi di daerah lain seperti Srandakan, Wonosari, Imogiri dan lain-lain tempat telah berdiri Cabang Muham­madiyah. Hal ini jelas bertentangan dengan dengan keinginan pemerintah Hindia Belanda. Untuk meng­atasinya, maka K.H. Ahmad Dahlan menyiasa­tinya dengan menganjurkan agar Cabang Muhammadiyah di luar Yogyakarta memakai nama lain, misalnya Nurul Islam di Pekalongan, Al-Munir di Makassar, dan di Garut dengan nama Ahmadiyah. Sedangkan di Solo berdiri perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh Fathonah (SATF) yang mendapat pimpinan dari Cabang Muhammadiyah.
MUHAMMADIYAH.OR.ID. Di dalam kota Yogyakarta sendiri, Ahmad Dahlan menganjurkan adanya jama’ah dan perkumpulan untuk mengadakan pengajian dan menjalankan kepentingan Islam. Perkumpulan-perkumpulan dan Jamaah-jamaah ini mendapat bimbingan dari Muhammadiyah, yang di antaranya ialah Ikhwanul Muslimin, Taqwimuddin, Cahaya Muda, Hambudi-Suci, Khayatul Qulub, Priya Utama, Dewan Islam, Thaharatul Qulub, Thaharatul-Aba, Ta’awanu alal birri, Ta’ruf bima kanu wal-Fajri, Wal-Ashri, Jamiyatul Muslimin, Syahratul Mubtadi (Kutojo dan Safwan, 1991: 33).
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota, di samping juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata mendapatkan sambutan yang besar dari masyarakat di berbagai kota di Indonesia. Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan dukungan terhadap Muhammadiyah. Muhammadiyah makin lama makin berkembang hampir di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Dalam bulan Oktober 1922, Ahmad Dahlan memimpin delegasi Muhammadiyah dalam kongres Al-Islam di Cirebon. Kongres ini diselenggarakan oleh Sarikat Islam (SI) guna mencari aksi baru untuk konsolidasi persatuan ummat Islam. Dalam kongres tersebut, Muhammadiyah dan Al-Irsyad (perkum­pulan golongan Arab yang berhaluan maju di bawah pimpinan Syeikh Ahmad Syurkati) terlibat perdebatan yang tajam dengan kaum Islam ortodoks dari Surabaya dan Kudus. Muhammadiyah dipersa­lahkan menyerang aliran yang telah mapan (tradisionalis-konservatif) dan dianggap memba­ngun mazhab baru di luar mazhab empat yang telah ada dan mapan.
Muhammadiyah juga dituduh hendak mengada­kan tafsir Qur’an baru, yang menurut kaum ortodoks-tradisional merupakan perbuatan terlarang. Menanggapi serangan tersebut, Ahmad Dahlan menjawabnya dengan argumentasi: “Muhammadiyah berusaha bercita-cita mengangkat agama Islam dari keadaan terbekelakang. Banyak penganut Islam yang menjunjung tinggi tafsir para ulama dari pada Qur’an dan Hadits. Umat Islam harus kembali kepada Qur’an dan Hadits. Harus mempelajari langsung dari sumbernya, dan tidak hanya melalui kitab-kitab tafsir”.

MUHAMMADIYAH.OR.ID. Sebagai seorang demokrat dalam melaksanakan aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, Dahlan memfasilitasi para anggota Muhammadiyah untuk proses evaluasi kerja dan pemilihan pemimpin dalam Muhammadiyah. Selama hidupnya dalam aktivitas gerakan dakwah Muhammadiyah, telah diselenggarakan duabelas kali pertemuan anggota (sekali dalam setahun), yang saat itu dipakai istilah Algemeene Vergadering (persidangan umum).
Atas jasa-jasa K.H. Ahmad Dahlan dalam mem-bangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pemba­haruan Islam dan pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu ialah sebagai berikut :
  1. K.H. Ahmad Dahlan telah memelopori kebangkitan ummat Islam untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat.
  2. Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, telah banyak memberikan ajaran Islam yang murni kepada bangsanya. Ajaran yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan ummat, dengan dasar iman dan Islam.
  3. Dengan organisasinya, Muhammadiyah telah mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam.
  4. Dengan organisasinya, Muhammadiyah bagian wanita (Aisyiyah) telah mempelopori kebangkitan wanita Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria.

Senin, 04 Maret 2013

Konglomerat Muslim yang Membuat Mu'adzim Malu

Jika kita bercita-cita jadi konglomerat, maka bisa menjadikan Sulaiman Ar-Rajhi ini sebagai model. Beberapa hal penting yang kami ketahui tentang beliau adalah :
  1. Majalah Forbes menyebutkan kakayaannya 7,7 milyar Dollar dan orang terkaya nomer 120 di dunia, tetapi beliau tetap tampil dengan sederhana, berpakaian jubah putih bersih yang jauh dari kesan glamour dan berlebihan.
  2. Beliau memulai usaha dari nol, kehidupan masa kecilnya sangat susah hingga pernah bekerja jadi kuli panggul dan menjual kayu bakar di masa kanak-kanaknya. Tetapi dengan ketekunan, hemat dan kerja keras serta tawakkalnya kepada Allah hingga akhirnya beliau dan saudaranya memiliki “Kerajaan Bisnis Raksasa” di KSA dan salah satunya adalah Bank Ar-Rajhi; Bank syariah terbesar di Dunia yang ATM nya tersebar menjamur dan cabangnya terdapat nyaris di semua distrik KSA.
  3. Sangat-sangat dermawan, memiliki Yayasan Amal “raksasa” yang menyalurkan donasinya ke berbagai Negara –sebelum dilarang pasca 11 September 2002- sulit menghitung waqaf beliau dan jumlah masjid yang telah dibangunnya, serta donasinya untuk berbagai amal dakwah dan penyebaran ilmu.
  4. Tidak meletakkan kekayaan di hatinya, Bahkan di masa tuanya kini beliau telah membagi sekitar 6,7 trilyun hartanya kepada ahli waris dan kerabatnya serta fakir miskin hingga diibaratkan hanya memilih “pakaian yang melekat di badan” dan asset bisnis yang dikelola para professional yang hasilnya untuk amal sosial dakwah Islam. Lahir tanpa membawa apa-apa dan siap tidak tergantung pada harta sebelum meninggal.
  5. Dari tetangga dan orang yang tinggal di lingkungannya disampaikan bahwa konglomerat kelas kakap ini selalu termasuk orang-orang yang datang paling awal ke masjid untuk sholat 5 waktu berjamaah, sehingga jika muadzin masjid telat sedikit maka sang konglomeratlah yang adzan. Bandingkan dengan konglomerat lainnya !!
  6. Diantara masjid yang dibangunnya adalah Masjid Ar-Rajhi di distrik Rabwah, masjid ini terbesar ketiga setelah Masjidil Haram Mekah dan Madinah. Bisa menampung 18 ribu jamaah sholat, terdapat berbagai sarana pelayanan masyarakat seperti pusat pemandian dan pengurusan jenazah terbesar di Riyadh, Auditorium untuk seminar dan ceramah agama, perpustakaan berisi 40 ribu jenis buku (bukan judul ya..), tempat tinggal bagi para penuntut ilmu yang datang dari luar kota untuk mengikuti berbagai kajian Islam, menyediakan air zamzam sebagai minuman jamaah dengan kuota 400 galon perminggu, dsb. Dan saat sholat jum’at di lantai dasar dikhususkan untuk sholat jum’at orang asing dimana khutbah langsung diterjemahkan ke berbagai bahasa ; termasuk bahasa isyarat untuk jamaah yang tuna rungu dan tentu saja bahasa Indonesia.

Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau, menerima amalnya, mengampuni kesalahan dan dosanya dan kita semua.

Selasa, 25 Desember 2012

IMAM AHMAD BIN HANBAL

KELAHIRANNYA
Imam Hanbal dilahirkan di Baghdad, pada tahun 162 H. Ayahnya meninggal, beliau masih kecil. Berasal dari Marwin negeri Khurasan (Parsi). Karenanya beliau besar dalam haribaan bundanya sebagai anak yatim.
Namanya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, keturunan Nizar. Jadi seketurunan dengan Rasulullah s.a.w.

PENDIDIKANNYA
Mula-mulanya Imam Hanbal belajar Hadits di Baghdad, kemudian merantau ke beberapa negeri.
Berkata Abubakar Almarwazi : Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepadaku: Dulu waktu saya masih kecil, saya belajar mengaji di surau-surau, kemudian saya sering pergi ke Kantor-kantor. Waktu itu saya baru berumur 14 tahun.
Sejak itu Imam Ahmad pergi ke Kufah, Basrah Makkah, Madinah, Yaman dan Sirya.
Imam Hanbal tidak ada jemunya menambah ilmu pengetahuan sampai hari tua. Kemana pergi, Imam Hanbal selalu membawa tinta.
Ada orang bertanya padanya : “Kenapa Guru masih membawa-bawa tinta saja, padahal tuan sudah mencapai kedudukan yang begitu tinggi, sebagai seorang Imam besar ?“
- “Dengan tinta sampai saya mati”.
Dengan perkataan lain beliau berkata : “Saya akan terus belajar sampai ke liang-kubur?’ sesuai dengan Nabi : ”Tuntunlah ilmu mulai dari ayunan sampai keliang-kuburan.”

Demikianlah uletnya Imam Hanbal dalam menambah pengetahuan, tidak kenal jemu, tidak terpengaruh oleh pencarian dan tidak mau berumah-tangga sampai berrusia 40 tahun. Beliau pandai dalam segala ilmu pengetahuan lama dan pendapat baru.

BANYAK HAPAL TENTANG HADITS
Abu Zur’ah pernah menceritakan bahwa, Imam Ahmad bin Hanbal telah hapal Hadits sebanyak 1.000.000 buah.
Ada orang bertanya kepadanya : “Darimana kau tahu itu ?“
Abu Zur’ah : “Saya sering membicarakan tentang Hadits bersama beliau dan banyak pula yang saya kutip meliputi beberapa bab dari beliau”.
Ada lagi orang bertanya kepada Abu Zur’ah : “Siapa yang paling banyak hapalan tentang Hadits?”
- “Ahmad bin Hanbal, jika sekarang Hadits-haditsya itu dibukukan, mungkin sampai 12 muatan unta.

BERKELANA UNTUK MENGAMBIL SATU HADITS
Ada berita, bahwa di suatu negeri nun-jauh di sana, ada seorang ahli Hadits dan suka sekali mengajarkan kepada siapa saja yang mau.
Mendengar berita itu, Imam Ahmad sangat gembira Beliau bermaksud hendak pergi ke tempat orang tersebut. Setelah sampai, didapatnya orang itu sedang menberi makan seekor anjing. Imam Ahmad memberi salam kepadanya. Orang itu menjawab, tetapi tamunya (Imam Ahmad) tidak diacuhkannya, ia terus saja memberi makan anjing itu. Tentu saja Imam Ahmad merasa jengkel. Karena beliau datang dari jauh, tetapi tidak diacuhkan.
Setelah selesai memberi makan anjing, orang itu baru menemui Imam Ahmad, seraya katanya : “Ma’af, rnungkin engkau merasa jengkel, berhubung saya terus mengurus anjing”.
- “Benar”. Jawab Imam Ahmad dengan pendek terus terang.
+ “Begini, saya dengar dari Abu Zannad, dari ‘Araj dan Abi Hurairah, bahwa Nabi bersabda :
(Barangsiapa memutuskan harapan orang yang sedang mengharapkan orang yang sedang mengharapkan bantuan kelak di hari Qiamat Allah akan memutuskan harapannya dan orang itu tidak akan masuk Syurga).
“Dan di negeri kami ini tidak ada anjing, sambung orang tua, baru sekarang ada anjing yang datang kemari. Maaf saya tidak buru-buru menemui Tuan, karena saya takut mengecewakan harapan anjing itu.
- “Terima kasih. Cukuplah sudah satu Hadits itu saya bawa pulang”.
Kemudian beliau minta izin pulang.

PENGHARGAAN ORANG TERHADAP IMAM HANBAL
a. Dari para Guru-gurunya :
Kata Ahmad bin Syeban :
Saya belum pernah melihat Guru kami menghormati seseorang, lebih daripada kepada Ahmad bin Hanbal. Beliau biasa mempersilakannya duduk di sisinya. Sekali Ahmad bin Hanbal pernah sakit. Guru kami itu sengaja memerlukan datang menegoknya.

b. Dari teman-teman sejawatnya :
Imam Muhammad bin Idris Assyafi’i pernah berkata :
Waktu saya meninggalkan Bagdad, di antara teman-teman tidak ada yang lebih taqwa, lebih suci, lebih nengerti dan lebih alim daripada Imam Ahmad bin Hanbal”.
Ali bin Mudainy berkata : “Tuhan telah meninggikan derajat Agama kita ini, karena jasanya dua orang besar, tidak ada yang ketiganya lagi, yaitu : Abubar Asshiddiq menindas pemberontakan kaum Riddah yang menyeleweng dari Agama, dan kedua Ahmad Hanbal waktu menghadapi ujian berat”.
Dalam mempertahankan pendapat bahwa Qur’an itu Qadim dan bukan baru.

c. Dari para murid-murid :
Abu Daud Assajsataniy :
“Saya pernah belajar kepada ± dua ratus orang guru, tetapi belum pernah saya bertemu dengan seorang Guru seperti Imam Ahmad bin Hanbal, beliau kalau berbicara hanya yang mengenai ilmu pengetahuan saya”
Abdulwahhab Alwarraq :
“Saya belum pernah melihat seorang Guru seperti Imam Ahmad bin Hanbal. Teman-temannya yang lain bertanya kepadanya : Apa kelebihannya dari Guru-guru yang lain? Beliau pernah ditanya enam puluh ribu masalah banyaknya : semuanya di jawabnya dengan :  Menurut riwayat Anu, dari si Anu”.

ZUHUDNYA
Imam Hanbal seorang yang tidak mau terpengaruh oleh keduniaan. Kata Sulaiman bin Asyats : Saya belum pernah mendengar Imam Ahmad bin Hanbal membicarakan tentang keduniaan/ kekayaan. Jika lapar beliau ambil sepotong roti, lalu dicelupkan ke dalam air, lalu di makannya dengan garam.
Kadang-kadang orang rumah memasakkan sayur dicampur adas dan gajih. Biasanya lauk pauknya it hanya cuka saja.
Kata Shalih anak Imam Ahmad :
Ayahku pernah berkata ; “Di kala harga barang-barang membubung, ibumu itu biasa menjual kain tenun buatannya sendiri dengan harga 2 Dirham. Dan hasil penjualannya itulah untuk belanja kita zaherí-hari”.
Kata ‘Ali Almadiniy : “Sekali aku pamitan kepada Imam Ahmad. Aku minta nasehat kepadanyá. Katanyà: “Hendaklah engkau membawa bekal Taqwa dan hendaklah yang menjadi citamu yaitu .keakheratan”. Kata anak Imam Ahmad yang bernama ‘Abdullah :  “Pa, saya minta wasiat”. Katanya: “Nak, berbuatlah yang baik, engkau akan tetap baik selama berniat.

TIDAK INGIN KEDUDUKAN
Ibrahim Almuzniy :
Imam Syafi’i pernah menceritakan : Waktu saya menghadap kepada Baginda Harun Arrasyid, sesudah pembicaraan panjang lebar, saya pernah menyarankan kepadanya, bahwa saya memerlukan tenaga seorang hakim. Baginda menyuruh supaya saya mencari orang yang patut memangku jabatan itu dari teman-teman saya sendiri.
Setelah aku pulang datanglah Imam Ahmad. Kataku adanya : “Saya baru habis berunding dengan Amirul mu’minin tentang jabatan hakim untuk negeri Yaman, saya disuruh mencarinya, kebetulan engkau datang, nah marilah kita pergi kepada Baginda, beliau menetapkan jabatan itu kepadamu”
“Saya datang kepadamu”, jawab Imam Ahmad, “bukan untuk urusan jabatan hakim, tetapi saya ingin menerima pelajaran daripadamu”.
Mendengar penolakan Imam Ahmad itu, Imam Syafi’i sangat merasa malu.

MERENDAHKAN DIRI
Shalih :
Sekali-sekali ayahku suka pergi dari rumah dengan membawa kapak untuk mengerjakan sesuatu. Sekali-sekali beliau pergi ke kedai sayuran, beliau membeli apa-apa, lalu dibawanya sendiri.
Ada orang mengucapkan terima-kasih kepada Imam Ahmad dengan ucapan : “Semoga Allah membalas kepadamu, atas jasamu terhadap Agama Islam”. “Tidak, bukan begitu, tetapi : Semoga Allah menjayakan Agama Islam yang telah berjasa kepadaku Lalu sambungnya pula: “Siapa gerangan aku ini”.

BELAS-KASIHAN KEPADA FAKIR MISKIN
Abubakar Marwazi :
Imam Hanbal adalah séorãng yang sangat cinta terhadap fakir miskin. Belum pernah saya melihat orang yang begitu memperhatikan kepada fakir-miskin selain Imam Ahmad.
Sekali waktu beliau membicarakan hal-ihwal seorang miskin yang sedang sakit. Beliau menyuruh aku pergi menengoknya dan menanyakan apa keinginannya, supaya dilaksanakan. “Dan bawalah, berikan kepadanya”. Katanya sambil menyodorkan sebotol minyak wangi.

TAKUT KEPADA ALLAH
Almarwaziy :
Saya dengar Imam Ahmad berkata : “Aku takut kepada Allah itulah yang mencegah saya makan minum yang enak-enak. Karenanya saya tidak ada nafsu sama-sekali”.
Suatu hari saya berkunjung ke rumah Imam Ahmad, seraya saya mengucapkan salam selamat pagi dan apa kabar, jawabnya : “Biasa saja seperti orang yang selalu dituntut oleh Tuhan dengan kewajiban Fardhu, yang selalu dituntut oleh Nabi untuk mengerjakan sunnahnya, yang selalu dituntut oleh Malaikat Raqib/Atid amal perbuatan baik, sebagaimana dikehendaki oleh hatinya sendiri, sebagaimana dikehendaki oleh Syeitan supaya berbuat keji, sebagaimana dituntut oleh Malakalmaut untuk dicabut nyawanya dan sebagaimana dituntut oleh anak isterinya minta belanja”.

IBADAHNYA
‘Abdullah anak Imam Ahmad, pernah menceritakan :
“Ayahku biasa sholat dalam sehari semalam 300 raka’at. Waktu beliau sakit, rupanya tidak mampu mengerjakan sebanyak itu, hanya 150 raka’at saja. Waktu itu beliau sudah mencapai usia 80 tahun. Setiap harinya beliau membaca sepertujuh Qur’an. Jadi khatam dalam seminggu sekali. Sesudah sholat ‘Isya’, beliau terus tidur sebentar, kemudian bangun lagi untuk sholat dan berdo’a sampai pagi”.

KEBERSIHANNYA
Abdulmalik Maimuniy :
“Saya belum pernah melihat orang yang paling bersih, yang selalu dipelihara kumisnya, rambutnya dan bajunya yang putih bersih seperti Imam Ahmad bin Hanbal.

RAMAH TAMAH
Abubakar Marwaziy :
Imam Ahmad adalah orang yang ramah-tamah, casi-sayang terhadap fakir-miskin; agak jauh dengan orang-orang yang mewah. Sopan dan santun, di mana tempat yang kosong di situlah beliau duduk. Selalu manis mukanya. Tidak pernah memberengut atau berkata kasar. Beliau suka karena Allah dan benci karena Allah. Cinta kepada sesama sebagaimana cinta kepada diri sendiri. Apa yang tidak disukai untuk dirinya, demikian juga beliau tidak suka untuk orang lain. Jika ada orang berbuat yang tidak disukainya, beljau marah karena Allah semata-mata, terutama jika mengenai pelanggaran terhadap hukum-hukum Agama, beliau amat marah, merah-padam mukanya, seakan-akan bukan beliau lagi rupanya. Dalam hal itu beliau tidak perduli dan tidak takut kepada siapapun juga.

PENGHIDUPANNYA
Imam Ahmad bin Hanbal hanya menerima pusaka dari ayahnya, sebidang tanah berikut rumah tempat tinggalnya dan sebuah baju bersulam, baju mana beliau sewakan, untuk perbelanjaan sehari-hari. Tanah sekeliling rumahnya itu ditanaminya sendiri dan tiap-tiap tàhun dikeluarkan zakatnya.
Demikianlah keterangan dari Imam Ahmad sendiri. Dalam perjalanan ke Yaman akan belajar, di tengah jalan beliau kehabisan bekal, teman-temannya akan memberi bantuan kepadanya, tetapi beliau lebih suka menjual tenaganya, bekerja sebagai pembantu dalam kafilah, sampai tiba di Shan’a.
Kata Abdurrazzaq : Dua tahun lamanya, Imam Ahmad tinggal di Shan’a. Suatu waktu aku pernah memberi bantuan kepadanya, kataku : “Ini ambillah, dan belanjakanlah untuk keperluan sehari-hari, sebab tanah saya tidak dapat ditanami dan tidak ada menghasilkan apa-apa”.
‘Tidak, saya masih bisa mencari”. Demikian beliau menolak bantuan itu.

KEMURAHANNYA
Kata Abu Sa’id kepada ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal :
Saya pernah datang kepada bapakmu, dengan maksud barangkali saja beliau ada memberi apa-apa kepadaku. Beliau berjanji akan memberi apa-apa setengahnya. Suatu hari aku datang lagi. Lama aku duduk di rumahnya. Baru beliau keluar dengan membawa empat potong roti. Sambil memberikan roti itu kepadaku, beliau berkata :
“Hanya inilah yang ada padaku, ambillah !“
“Empat potong roti ini, lebih berharga buat saya daripada empat ribu Dirham dari orang lain”, sahutku.
Yahya bin Hilal :
“Sekali aku datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal, aku diberinya uang 4 Dirham, seraya katanya :
“Hanya inilah yang ada padaku”
Harun Mustamli :
“Pernah saya berjumpa dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Saya berkata kepadanya : “Saya tidak punya, apa-apa”
Beliau memberi uang pada saya 5 Dirham, katanya :
‘Hanya sebeginilah uang saya itu”

MEMBALAS BUDI
Ada orang memberi air Zamzam kepada Imam Hanbal, oleh beliau dikirimnya tepung gandum dan gula. Abubakar Marwazy pernah disuruh membeli sesuatu seharga 5 Dirham, untuk hadiah kepada seseorang yang pernah memberi apa-apa kepada anaknya, Sa’id Ada orang mengirim anggur dan buah kepada beliau seharga tiga dirham, lalu disuruhnya anaknya membeli gula 10 Dirham dan kurma 7 Dirham, disuruhnya antarkan kepada orang tadi.

UJIAN BERAT
Dalam Pemerintahan Khalifah Ma’mun, kaum Mu’tazilah dapat mempengaruhi Pemerintahan. Mereka memegang peranan penting. Khalifah Al-Ma’mun telah sefaham dengan mereka, bahwa Kitab Qur’an itu adalah ciptaan (makhluq). Faham ini harus menjadi faham rakyat. Tetapi Imam Hanbal dan kawan-kawan menentangnya. Mereka yang menentang disiksa dan dicambuk. Maimun bin Ashbagh telah menceritakan peristiwa tersebut :
Rakyat gempar. Ada apa ini? Imam Ahmad bin Hanbal akan dihadapkan di muka Baginda, untuk diuji. Segera aku datang ke istana. Aku masuk melalui pengawal. Setelah sampai di balairung, ku lihat pedang-pedang sudah dihunuskah, tombak-tombak sudah dihunjamkan; anak-anak panah sudah dipasang, cambuk-cambuk sudah disediakan; semua alat penyiksa, senjata pembunuh lengkap sudah siap sedia.
Aku dikenakan orang memakai baju luar hitam dan ikat pinggang berikut pedangnya. Aku duduk tidak jauh dari tempat pemeriksaan di mana pemeriksaan dapat kudengar dengan jelas.
Datanglah Baginda Amirul Mu’minin. Beliau duduk di atas kursi singgasananya. Tidak lama kemudian Imam Ahmadpun dihadapkan. Maka mulailah Baginda memeriksa :
“Demi keturunanku sebagai anak cucu Rasulullah s.a.w. engkau hai Abu ‘Abdillah, apakah mau jika aku cambuk, atau maukah mengakui sebagaimana pendapatku ?“
Imam Hanbal tetap dalam pendiriannya, tidak mau mengakui. Maka Baginda menoleh kepada algojo, seraya perintahnya :
“Ayo bawalah dia, cambuk. biar mampus !”
Lalu Imam Ahmad dibawanya ke tempat penyiksaan. Dicambuknya satu kali, diterima oleh Imam Ahmad dengan ucapan (Bismillah).
Pada pukulan kedua kali, beliau mengucap: (La haula wala quwwata illa billah).
Pada pukulan ketiga kalinya, beliau menyatakan :
(Memang betul, Qur’an firman Tuhan, bukan barang makhluq)
Pada pukulan keempat kalinya, beliau mengucap :
(Qul lan yushibana illa ma kataballahu lana).
Katakanlah tidak bisa akan menimpa kita, kecuali jika memang sudah ditakdirkan Allah).
Demikianlah Imam Ahmad didera terus-memerus sampai dua puluh tujuh kali. Dalam pada itu tali celananya putus. Celanapun merosot ke bawah. Imam Ahmad menengadah ke langit, bibirnya berkumat-kamit entah apa yang dibacanya. Aneh ...... itu celananya lantas naik lagi sampai pinggang dan menjadi erat dengan sendirinya.
Tujuh hari sesudah peristiwa itu, aku datang mengunjungi Imam Ahmad dalam tempat tahanannya Saya tanyakan kepadanya :
“Apa yang kau baca waktu didera itu sehingga celanamu menutup lagi dengan sendirinya ?““Ku baca” (Allahumma, inni asluka bismikalladzi malaat bihil ‘Arsy )
Ya Tuhan, aku mohon déngan nama-Mu, nama-Mu yang meliputi seluruh jagat ‘Arsy. Engkau tahu kalau memang aku ini benar, aku mohon supaya ditutup kembali auratku ini”.

SETIA KAWAN
Kata Abu Ja’far al Anbaniy :
Ketika saya mendapat kabar bahwa Imam Ahmad akan dihadapkan di muka Baginda Alma’mun, segera saya menyeberangi sungai Efrat (Furat). Aku jumpai beliau dalam tempat tahanannya ; setelah aku memberi salam, beliau menegor, katanya :
“Saya kira Saudara cape bukan ?“
“Tidak sahutku. Lalu aku beramanat kepadanya, kataku :
“Saudara, Engkau sekarang sèbagai pemimpin ummat, rakyat dibelakangmu akan mengikuti jejak langkahmu. Jika engkau mengakui bahwa Qur’an itu ciptaan, rakyatpun akan berkata demikian juga, tetapi jika engkau tetap dalam pendirianmu, tidak mau mengakui, rakyatpun akan patuh mengikuti katamu itu. Sekalipun engkau tidak mati dibunuh, namun suatu waktu engkau akan mati juga. Karenanya hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah, agar tetap dalam pendirianmu, jangan mau mengakui samasekali”.
Demi mendengar amanat dan Imam Abu Ja’far itu, berlinang air mata Imam Ahmad, dan katanya :
“Masya Allah — Segala-galanya menurut bagaimana kehendak Allah jua”.
“Maukah kau berjanji setia kepadaku?”“Aku berjanji demikian”
“Masya Allah, Masya Allah”
Kata Ahmad bin Khassan
Waktu aku bersama Imam Ahmad bin Hanbal dihadapkan di muka Baginda Alma’mum, kami berdua disambut oleh seseorang pegawai istana, dengan cucuran air mata. Orang itu menyatakan duka citanya sambil menyapu air matanya, katanya :
“Tuan, pilu rasa hatiku melihat peristiwa yang menimpa diri tuan berdua”
Dalam pada itu Amirul Mu’minin telah menghunus pedangnya. Kulit penadah darahpun sudah dihamparkan. Lalu katanya :
“Demi keturunanku, sebagai anak cucu Rasulullah s.a.w. tidak akan kumasukkan pedang ini ke dalam sarungnya, jika kamu berdua tetap tidak mau mengakui, bahwa Qur’an itu barang ciptaan”
Imam Ahmad lantas berlutut, sambil menengadah ke langit dan berdo’a.
Haripun malamlah. Tiba-tiba suasana menjadi gempar, hiruk-pikuk suara tañgis di dalam Istana. Apa yang terjadi?
Sesosok tubuh manusia datang berlari-lani mengabarkan kepada kami, katanya :
“Benar Tuan, benar ucapan tuan tadi, bahwa Qur’an benar-benar firman Allah, bukan barang ciptaan. Tuan-tuan dengar? Amirul Mu’minin sudah meninggal, barusan tadi ini”.

PEMBEBASAN
Kata Ibn ‘Iyadh :
Hampir dua tahun setengah Imam Hanbal meringkuk dalam penjara, didera dan disiksa sampai pingsan, ditusuk-tusuk dengan ujung pedang, dilemparkan dan diinjak-injak.
Demikianlah penanggungan Imam Hanbal yang dideritanya sampai zaman Khalifah Mu’tashim. Kemudian digantikan olel Khalifah Watsiq. Bahkan pada masa Khalifah Watsiq, lebih berat lagi penderitaan Imam Hanbal. Karenanya beliau melarikan diri, bersembunyi-sembunyi, sampai Khalifah Watsiq meninggal.
Setelah pemerintahan dipegang oleh Khalifah Mutawakkil, beliau dibebaskan, dihormat dan dijunjung tinggi. Oleh Khalifah dimaklumkan bahwa semua rakyat harus kembali kepada Sunnah Nabi sebagaimana semula, dan bahwa Qur’an tetap firman Allah, bukan ciptaan. Imam Ahmad bin Hanbal dibebaskan.
Terhadap kaum Mu’tazilah akan diambil tindakan keras yang setimpal. Waktu Imam Ahmad berkunjüng ke Istana, Khalifah Mutawakkil berkata kepada bundanya : “Bunda, orang inilah yang telah menyemarakkan Negara kita”.
Oleh Khalifah, Imam Hanbal dikenakan baju kebesaran nan indah cemerlang. Berlinang airmata Imam Hanbal. Bukan senang, bukan gembira, menerima hadiah anugerah seindah itu, tetapi bertambahlah susah dan gelisah hatinya, sebagaimana beliau nyatakan :
“Terhindar dari malapetaka sengsara, kini aku terjerumus dalam kemewahan hidup yang menggelisahkan hatiku”.
Setelah pulang, pakaian kebesaran itu ditinggalkan dan dicampakkánnya.

W A F A T
Sembilan hari sudah Imam Hanbal gering, berbaring di atas tempat tidurnya. Sakitnya semakin hari, semakin keras. Banyak rakyat datang menengok, berduyun-duyun sehingga di rumah di jalan-jalan penuh sesak, orang berjejal, sehingga rumahnya perlu dijaga oleh Polisi Keamanan.
Pada hari Jum’ah, bulan Rabi’ulawal, tahun 241 H. arwah beliau membubung ke langit, pulang ke hadhirat Tuhan.

PERKEMBANGAN MADZHAB HANBALI
Sebagaimana tumbuhnya, maka Madzhab Hanbali ini, mulai berkembang di Baghdad; dan sana mengembang ke tanah Siriya, terus ke Irak, Mesir dan Hejaz. Madzhab jut tidak begitu banyak penganutnyà.
----------------------------------------------------------------
Empat Besar Sahabat-sahabat Rasulullah dan Imam Madzhab, M. Said, Penerbit PT. Alma’arif Bandung, cetakan ke-IV, halaman 112-128

Jumat, 21 Desember 2012

IMAM MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

KELAHIRANNYA
Namanya Muhammad Abu Abdillah, bin Idris, bin ‘Abbas, bin ‘Utsman, bin Syafi’i. Satu keturunan dengan Nabi Muhammad s.a.w. dari moyangnya ‘Abdimanaf. Nama ibunya Fatimah dari turunan’ Ali bin Abi Thalib.
Suatu malam Fatimah mimpi aneh sekali, ada bintang kejora keluar dari kandungannya. Bintang itu terus membubung ke angkasa, lalu pecah. Pecahan-pecahannya jatuh di tiap-tiap negeri besar. Berpancaran sinarnya ke seluruh mayapada. Setelah bangun Fatimah terkejut; keesokan harinya mimpinya itu diceritakan kepada ahli mimpi.
Diterangkannya bahwa ia akan melahirkan seorang putera yang akan menerangi seluruh jagat dengan ilmu Keagamaannya.
Pada bulan Rajab tahun 150 H. lahirlah anak itu di Khuzzah daerah Palestina. Anak itu diberi nama Muhammad. Beberapa hari kemudian diterima khahar bahwa Imam Hanafi telah meninggal dunia dan di makamkan di Rashafah, sebelah timur Negeri Baghdad. Menurut perhitungan para ahli sejarah, bertepatannya dengan hari wafatnya seorang Imam besar, maka anak yang baru lahir itu pasti akan menggantikan kedudukannya.

RAMALAN NABI
“Jangan suka mencela suku bangsa Quraisy, karena sarjananya akan mengembangkan ilmu pengetahuannya ke seluruh muka bumi ini. Ya Allah, Engkau sudah menguji angkatan yang pertama dengan penderitaan, maka anugerahilah angkatan mendatang dengan rahmat kebahagiaan” (Ibn. Mas’ud).

“Setiap seratus tahun sekali, Allah akan membangkitkan seorang pemimpin besar dari keturunanku, sebagai Mujaddid (Pembaharu) yang akan memperbaharui keadaan ummat dalam hal Keagamaannya. Pada pertama orang itu adalah ‘Umar bin Abdil ‘Aziz, dan pada abad kedua ialah Muhammad bin Idris Assyafi’i”
(Ahmad bin Hanbal)

PENDIDIKANNYA
Setelah Muhammad Assyafi’i berusia 2 tahun, dibawa pulang oleh ibunya ke tanah airnya di Makkah, kembali ke rumah ayahnya dekat Masjidil Haram. Dalam asuhan ibunya Muhammad hidup secara sederhana, sebagai seorang anak yatim, yang ditinggal oleh bapaknya mati sebelum lahir.
Dalam usia 9 tahun sudah hafal Qur’an seluruhnya di luar kepala. Sudah itu ia tinggalkan suraunya tempat ia mengaji belajar membaca Qur’an. Lalu belajar di Masjidil Haram, yang pada waktu itu merupakan satu-satunya perguruan tinggi di kota Makkah. Ia turut belajar bersama-sama mahasiswa-mahasiswa dan orang-orang dewasa yang sudah berjanggut, dan mahaguru-mahaguru dalam vak Hadits, Qur’an, Fiqih, Bahasa/Kesusastraan dan lain-lain. Sekalipun hidupnya dalam serba kekurangan, namun ia tidak putus asa dalam belajar. Dicatatnya pelajarannya itu di atas tulang-belulang, di atas pelepah-pelepah daun korma, dicarinya kertas-kertas yang sudah dibuangkan orang dari Kantor-kantor, untuk digunakan pada sebelahnya. Berkatalah ia dengan sya’ir :
Pengetahuan,
Ibarat binatang buruan.
Harus diikat,
dengan dicatat.
lekas ikat erat-erat.
Satu kebodohan;
Berburu rusa di hutan
Setelah dapat dilepaskan.


Di dalam kamarnya, di dalam lemarinya sudah penuh sesak dengan kertas-kertas dan tulang belulang catatan pelajarannya, sehingga tidak bisa leluasa lagi buat duduk dan berbaring. Karenanya ia bermaksud hendak menghapalkan semua pelajarannya. Mana yang sudah hapal, kertas dan tulang-tulang itu dibuangnya, sampai kosong dan bersih kamarnya. Di sini ia bersya’ir demikian :
Semua pelajaran sudah kuhapal di luar kepala.
Kemana saja aku pergi boleh kubawa.
Kini tempatnya bukan dalam lemari lagi,
tapi sudah kusimpan di dalam hati.
Jika aku sedang di rumah,
diapun ada di rumah.
Jika aku pergi ke pasar,
diapun turut ke pasar.


Demikian encernya otak Imam Syafi’i, pikirannya terang dan tajam, lekas menangkap pelajaran, gampang mengerti, semua pelajaran yang sudah dihapalkan tidak bisa lupa.
Tetapi pengetahuan itu, kata Imam Syafi’i, bukanlah untuk dihapal, tapi harus diambil manfa’atnya dengan diamalkan”
Waktu malamnya dibagi tiga : Sepertiga untuk belajar, sepertiga untuk beribadah sepertiga lagi untuk istirahat/tidur.

BERKELANA
Tidaklah cukup kawan, belajar di Dalam negeri.
Pergilah belajar di luar negeri.
Di sana banyak teman-teman baru,
ganti teman sejawat lama.
Jangan takut sengsara, jangan takut menderita.
Kenikmatan hidup dapat dirasakan sesudah menderita
(Imam Syafi’i)

Sekalipun Imam Syafi’i dalam usia 15 tahun tetapi ia sudah menjadi ‘Ulama besar tentang ilmu Hadits, Qur’an, Fiqh dan Kesusastraan bahasa Arab, namun beliau belum merasa puas, karena hasratnya memdalam dan menambah ilmu pengetahuan sangat besar. Setelah hapal kitab Almuwattha’, semakin rindu hatiya, ingin berjumpa dengan pengarangnya, ingin meneruskan pelajarannya kepada Imam besar itu (Imam Malik).
Maksudnya itu dinyatakannya kepada Gubernur Makkah. Mendengar hasrat yang bernyala-nyala dan cita-cita yang besar itu, Gubernur Makkah amatlah gembira dan menyetujuinya. Ditulisnya 2 pucuk surat yang dialamatkan kepada :
1. Gubernur Madinah,
2. Imam besar Malik bin Anas;
Yang maksudnya menitipkan Imam Syafi’i. Kedua surat itu diterimakan kepada Imam Syafi’i, untuk disampaikan kepada yang bersangkutan.
Setelah sampai di Madinah, kedua surat diterimakannya kepada Gubernur Madinah. Dan setelah dibacanya, lalu keduanya pergi bersama-sama ke rumah Imam Malik. Setelah pintu dikettik, keluarlah seorang sahaya hitam menanyakan maksud kedatangannya. Maka kata Gubernur : Katakanlah kepada tuanmu, bahwa Gubernur datang kemari.
Lama sahaya hitam itu tidak muncul-muncul. Setelah keluar lagi katanya :
“Kata Majikan, kalau tuan hendak menanyakan sesuatu masalah, supaya dituliskan saja di atas kertas nanti tuan akañ menerima jawabannya. Tetapi kalau tuan ada maksud lain, supaya datang lagi nanti di hari ceramah”.
“Katakanlah kepada Majikanmu, bahwa aku ada membawa surat dari Gubernur Makkah yang baru kuterimakan sendiri kepada beliau”.
Tidak lama kemudian setelah sahaya itu keluar lagi dengan membawa kursi, keluarlah Imam Malik. Maka oleh Gubernur disampaikannya surat dari Gubernur Makkah. Setelah dibacanya, seraya katanya :
“Subhanallah, masakan orang hendak menuntut ilmu Rasulullah s.a.w. dengan pakai perantaraan macam-macam”.
Melihat Imam Malik gusar nampaknya setelah membaca surat itu, berkatalah Imam Syafi’i :
“Semoga Allah melimpahkan ketenangan hati kepada tuan” lalu diceriterakannya asal usulnya dan makud kedatangannya.
Sangat iba hati Imam Malik mendengar cerita Imam Syafi’i itu. Lalu ditatapnya, difirasatinya dan ……… dikaguminya.
- “Siapa namamu nak ?“
+ “Muhammad”
- “Ya Muhammad, hendaklah banyak berbakti kepada Tuhan. Jauhilah semua ma’siat. Saya kagum melihatmu. Janganlah kau sia-siakan harapanku itu dengan berbuat ma’siat. Kulihat engkau ada harapan menjadi orang besar”.
+  “Mudah-mudahan dan terimakasih”.
- “Besok datanglah, boleh kau baca kitab Almuwattha”.
+  ’“Sebenarnya saya sudah hapal isi kitab itu, tuan Guru”.
-   Jika demikian, coba bacalah !”

Maka mulailah Imam Syafi’i membaca kitab itu. Oleh karena sudah terlalu lama membaca, berhentilah ia, karena takut Imam Malik jemu mendengarnya. Tetapi Imam Malik menyuruh meneruskannya katanya :
”Teruskanlah nak, teruskan. Bacalah terus. Saya senang mendengar bacaanmu”.

Delapan bulan lamanya Syafi’i tinggal di rumah Imam Malik berguru kepadanya, dan selalu mendampingi Imam Malik dalam pengajiannya di Mesjid.
Tiap-tiap sehabis Imam Malik memberi ceramah kepada umum, disuruhnya Imam Syafi’i meimla’kan (mendikte) kepada hadirin. Dengan jalan demikian maka bertambah lancar dan bertambah mendalam pengertiannya tentang kitab Almuwattha’. Dan mulailah dikenal namanya oleh pengunjung-pengunjung yang datang dari  jauh, seperti dari Mesir, Irak dan sebagainya

KE IRAQ
Dalam pergaulan sehari-hari dengan para pengunjung dan para santri, Imam Syafi’i dapat berkenalan dengan nama-nama ‘Ulama besar ‘Iraq. Seperti Imam Abu Yusuf, Imam Muhammad bin Hasan dan lain-lain. Maka timbullah hasratnya ingin menemui dan belajar kepada mereka. Maksudnya itu dinyatakannya kepada Gurunya Imam Malik. Oleh beliau dibekalinya 45 Dinar dan diantarkannya sampai ke Baqi’ Sesampainya di ‘Iraq, lebih dahulu di kunjunginya makam neneknya, ‘Ali bin Abi Thalib. Dari situ terus pergi ke Mesjid besar untuk sholat. Di sana ia bertemu dengan Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan.
Oleh Imam Muhammad bin Hasan ditanyanya tentang asal usulnya, dari mana datang, siapa nama orang tuanya. Ditanya pula kalau-kalau sudah bertemu dengan Imam Malik di Madinah.
+ “Saya datang dari Madinah, dari Imam Mailk”.
-  “Sudahkah kau baca Almuwattha’?”
+ “Sudah di luar kepala”.

Mendengar itu, Imam Muhammad sangat kagum. Seterusnya Imam Muhammad bertanya tentang Thaharah, Zakat, Perdagangan dan lain-lain. Semua itu dijawabnya oleh Imam Syafi’i dengan baik. Maka bertambah kagum lagi Imam Muhammad Lalu Imam Syafi’i dibawanya ke rumahnya. Selama di Kufah (‘Iraq) Ia tinggal di rumah Imam Muhammad bin Hasän, menyalin berapa kitab-kitabnya.
Kemudian beliau minta izin hendak keliling ke negeri. Persi dan sekitarnya. Oleh Imam Muhammad dikalinya 3000 Dirham.

KE PARSI
Mula-mula beliau menuju ke utara ‘Iraq, sampai perbatasan Negeri Rum sebelah Selatan yang disebut Anatoli. Dari sana terus ke Hirah di sana beliau tinggal agak lama. Dan Hirah menuju ke Palestina. Dua tahun lamanya Imam Syafi’i berkelana di negeri Persi ini. Selama dalam pengembaraan ini; Imam Syafi’i dapat menambah ilmu pengetahuannya dari para ‘Alim ‘Ulama yang dijumpainya, banyak mendapat pengalaman dan pelajaran dari hal kehidupan, adat-istiadat dan bahasa bangsa-bangsa dan banyak berjumpa dengan kenalan-kenalan para santri waktu Madinah. Dari mereka beliau banyak mendapat bantuan dan bekal dalam berkelilling.

KEMBALI KE MADINAH
Setelah tinggal beberapa lamanya di Palestina, kembalilah beliau ke Madinah. Waktu itu hari sudah ‘Ashar, Imam Mailk sedang memberi pengajian di Mesjid Nabawi. Kedatangannya itu disambut oleh Imam Malik dengan mesra se kali. Beliau turun dari kursinya, menghampiri Imam Syafi’i dan dipeluknya erat-erat karena rindunya. Lalu Imam Syafi’i dipersilakan meneruskan pengajian.
Empat tahun lamanya Imam Syafi’i tinggal di Madinah menambah dan memperdalam pengetahuannya pada Imam Malik, sampai beliau meninggal.

KE YAMAN
Suatu hari datanglah Gubernur Yaman berkunjung ke Madinah. Dalam perkenalannya dengan Imam Syafi’i, Gubernur itu sangat mengaguminya. Imam Syafi’i diangkat sebagai penulisnya. Setelah berada di Shan’a (ibu kota Yaman) Imam Syafi’i ditugaskan di Kantornya.

BERUMAH TANGGA
Di Yaman Imam Syafi’i menikah dengan Hamidah binti Nafi’, cucu ‘Utsman bin ‘Affan. Betapa cinta dan kasihnya terhadap isterinya, ternyata dari anaknya yang diberi nama dengan nama kakeknya, yaitu Abu ‘Utsman Muhammad. Anaknya yang perempuan diberi nama Fatimah dan Zainab. Pergaulannya di dalam rumahtangga dapat dijadikan contoh yang tinggi; sebagaimana tersebut dalam Sebuah sya’irnya :
Abadikanlah citaku ini,
dalam lubuk hati,
Peliharalah dia dengan saling bertenggang.
Diam, jangan menantang jika aku marah.
Cinta dan derita.
Keduanya tidak mungkin berpadu dalam hati salahsatu harus mengalah.


Di samping tugasnya sehari-hari, selaku hakim yang adil bersama Imam Yahya, beliau tidak ketinggalan menambah pengetahuan sambil mengajar.

F I T N A H
Demikianlah semakin hari, semakin maju dengan pesatnya dalam tugasnya sehari-hari dan dalam studi menambah pengetahuan; dàlam ilmu keagamaan, pengetahuan umum, Falsafah, Kedokteran, Astronomi dan lain-lain. Semua itulah yang menjadi sebab irihati dan kedengkian teman-temannya yang merasa mendapat saingan dari Imam Syafi’i.
Mereka berusaha memfitnah dan menuduhnya yang bukan-bukan, dilaporkannya kepada Khalifah Harun Arrasyid di Baghdad, bahwa beliaulah yang menjadi gembong dan ketua Partai Alawi. Maka diperintahkan oleh Khalifah seorang Panglima ke Yaman untuk menyelidiki keadaan sebenarnya. Dalam laporannya secara tertulis, di katakan bahwa Imam Syafi’i benar sedang giat berusaha melawan pemerintah dengan lidahnya sebagai senjatanya yang ampuh, yang tidak bisa dilawan dengan senjata kelewang dan pedang. Disarankannya jika Baginda masih ingin tetap supaya negeri Hijaz di bawah pemerintahnya, supaya kaum Alawiyin ditangkap dan dibawa’ ke Baghdad untuk diperiksa.
Oleh Baginda diperintahkan kepada Gubernur Yaman supaya menangkap dan membawa mereka ke Bagdad bersama Imam Syafi’i dengan tangan terbelenggu.
Di dalam pemeriksaan, Imam Syafi’i dibebaskan dari segala tuduhan dan hasungan fitnah, berkat ketangkasannya berbicara dan keteguhan tekadnya yang suci. Bahkan dalam pemeriksaan itu Imam Syafi’i dapat mempengaruhi Khalifah, sehingga beliau di. berinya hadiah 1000 dinar.
Hadiah mana oleh beliau diserak-serakkannya/ dibagi-bagikannya kepada pegawai-pegawai istana. Oleh karena sekarang beliau sudah merasa aman, tidak dicurigai lagi oleh Pemerintah. Maka beliau bermaksud hendak tinggal menetap di Bagdad, untuk bergaul dengan para ‘Alim ‘Ulama besar seperti Imam Waki’, Imam Abi Usamah dan lain-lain. Di samping itu beliau mengarang kitab-kitab. Dan pada waktu itulah beliau dapat menyelesaikan kitabnya yang bernama “Azza’faran” dalam 40 jilid, berisi fatwa-fatwa dan pendapat-pendapatnya yang terkena1 dengan sebutan “Qaul Qadim” (pendapat lama).

PULANG KE MAKKAH
Pada tahun 181 beliau pulang ke tanah airnya. Kedatangannya kembali ke Kota Makkah, disambut dengan gembira sekali oleh rakyat. Sebagaimana beliau pergi tidak membawa bekal apa-apa, demikianlah pulangnya kembali habis oleh-olehnya uang dinar dan peraknya diserak-serakkannya kepada rakyat. Sejak itu beliau tinggal di Kota Makkah, sampai 17 tahun lamanya. Selama itu beliau mengajar di Mesjid Haram dan mengembangkan Madzhabnya kepada Jema’ah-jema’ah Pengunjung-pengunjung Haji
.
KE BAGHDAD LAGI
Setelah Khalifah Harun Arrasyid meninggal, maka digantikan oleh puteranya Ma’mun. Oleh karena Khalifah Ma’mun tidak memusuhi kaum Alawiyin (keturunan ‘Ali bin Abi Thalib), bahkan menghormati mereka, maka timbullah hasratnya ingin kembali ke Baghdad. Tetapi tidak lama beliau tinggal di sana, hanya sebulan saja.

KE MESIR
Entah mengapa, aku tidak tahu.
Hatiku selalu rindu
Ingin merantau
Ke Kairo
Ke Kairo saja,
Kelain tempat?
Tidak, aku tidak ada hasrat.
Sunyi sepi, kering kerdil.
Aku tidak mengerti,
apa kehendak Rabbul ‘Izzati?
B’gia, mukti?
Apa untuk mati?

Dari Baghdad beliau terus pergi ke Mesir. Kedatangannya disambut dengan meriah sekali oleh rakyat, terutama oleh Imam ‘Abdullah bin Hakam teman belajar waktu di Madinah pada Imam Malik, yang kini sudah menjadi ‘Ulama besar di Mesir.
Sebagai tanda pernyataan penghormatan dan gembira atas kedatangan beliau, maka atas nama rakyat dan para dermawan, telah disampaikan oleh Imam Abdullah bin Hakam 4000 dinar kepada beliau.

MEMBERI KULIAH
Sejak itu mulailah beliau menjalankan tugasnya sebagai Maha Guru memberi kuliyah di Mesjid ‘Amr bin ‘Ash. Dalam cara memberi kuliyah, kepada murid-muridnya diberi kebebasan berfikir dalam menerima pelajaran dan mengemukakan pendapat. Kata beliau :
“Bilamana saya memberi keterangan-keterangan atau dalil-dalil yang tidak sesuai atau tidak, masuk akalmu, janganlah kamu terima begitu saja, sebab pikiran harus tunduk kepada kebenaran (haq)”. Kuliyahnya itu bukan saja diikuti oleh para mahasiswa, Alim ‘Ulama, tetapi juga terbuka untuk umum, laki-laki dan wanita, sehingga benar-benar merupakan Perguruan Tinggi.
Di antara buah gemblengan Kuliyah Imam Syafi’i ini, banyak menghasilkan ‘Ulama-’ulama besar, seperti : Imam Rabi’, Imam Jizi, Imam Harmalah, Imam Buaithi, Imam Muhammad.
Dan di antara kaum wanita seperti Saudara perempuannya Imam Muzni, itu srikandi yang namanya disejajarkan dengan ‘Ulama-’ulama besar pria.

KESEDERHANAAN
Walaupun rizkinya mengalir terus, tetapi beliau tidak mau hidup mewah. Pakaiannya sederhana saja dari katun buatan Baghdad.
Selama di Mesir setiap bulan beliau mendapat sumbangan dari Tuan Puteri Nafisah dan kadang-ladang Permaisuri Harun Arrasyid, Zubaidah berupa uang dan pakaian. Tetapi semua itu dibagi-bagikannya kepada rakyat, sebagaimana biasanya dalam tiap-tiap menerima hadiah.
Lega rasa hatiku,
bila sudak ada rizki untuk hari ini.
Jangan kau fikirkan untuk besok.
Untuk besok ada lagi rizki lain.
Terimalah apa kehendak Allah ja’uhilah apa yang tidak dikehendaki.

TAKUT KEPADA ALLAH
Karena takutnya kepada Allah, beliau tidak pernah berbuat dosa, atau mengerjakan kemungkaran. Suatu hari ada orang membaca firman Allah yang artinya :
“Pada hari itu (Qiamah) tidak ada yang bisa bicara, tidak ada yang diberi kesempatan untuk mengemukakan alasan”.
Mendengar itu, berdiri bulu romanya, gemetar seluruh tubuhnya, mukanya pucat dan jatuh pingsan.
Setelah sadar kembali beliau berkata :
“Aku berlindung kepada-Mu Ya Tuhan, dari kedudukan manusia-manusia pendusta dan alpa. Ya Allah. Kepada-Mu aku berdo’a :
Tunduklah semua hati manusia arif bijaksana, yang rindu dan mengharapkan keridlaan-Mu. Ya Allah, berilah aku kemurahan-Mu yang melimpah-limpah. Ampunilah segala kekurangan dan kealpaaku”.

KEDERMAWANANNYA
Suatu waktu Imam Syafi’i pergi ke Yaman. Dari sana pulang ke Makkah dengan membawa uang 10.000 dirham. Setibanya, beliau mendirikan perkhemahan di luar Kota. Banyak rakyat datang mengunjungi beliau. Uang yang 10.000 dirham itu habis dibagi-bagikan kepada mereka.

TERHADAP KAUM KELUARGANYA
Sungguhpun beliau sudah mencapai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, namun beliau tetap peramah dan hormat terhadap kaum keluarganya, tidak sombong dan takabur.
“Adalah orang yang aniaya, kata beliau, bila sudah mendapat kedudukan tinggi, lupa kepada kaum keluarganya, tidak mau kenal, tidak mau tahu lagi kepada kaum keluarganya, tidak mau kenal, tidak mau tahu lagi kepada mereka, tidak mau melihat sebelah mata kepada rakyat bawahan dan berlaku sombong terhadap atasan”.

IMAM SYAFI’I DENGAN IMAM AHMAD BIN HANBAL
Suatu hari Imam Syafi’i bertemu di rumah Imam Hanbali dan bermalam. Imam Hanbali punya anak perempuan, dan ia telah mendengar nama Imam Syafi’i dan bapanya. Karena bapanya sangat mengagumi Imam Syafi’i itu.
Anak itu ingin melihat orangnya, kebetulan sekarang beliau datang bertamu. Nah ini, katanya yang saya nanti-nantikan. Mudah-mudahan saya dapat menyaksikan tingkah-lakunya yang luhur dan mendengar káta-katanya yang bermutu.
Haripun malamlah. Sebagaimana biasa Imam Ahmad bin Hanbal bangun beribadah, sholat Tahajud, berdo’a dan berzikir, tetapi Imam Syafi’i terus berbaring saja sampai pagi. Begitulah yang dilihat oleh anak perempuan itu.
Pagi harinya anak itu bertanya kepada bapanya : Pa, saya tidak mengerti. Apa yang bapa kagumi pada Imam Syafi’i itu? Apa kerjanya semalam suntuk tadi, hanya tidur saja, sudah sholat tidak berzikir, tidak wirid ?“
Dalam pada itu, datanglah Imam Syafi’i menghampiri.
- “Senangkah kau tadi malam ?“ Tegur Imam Ahmad.
+ “Begitulah. Belum pernah saya merasa senang dari berbahagia seperti semalam”.
- “Bagaimana itu? Coba ceritakan !“
+ “Ya, semalam suntuk tadi, saya telah dapat menyusun 100 masalah, sambil berbaring. Semuanya untuk kepentingan umum”.

Setelah Imam Syafi’i pamitan, berkatalah Imam Ahmad bin Hanbal kepada anaknya : “Begitulah nak, apa yang dikerjakan oleh Imam Syafi’i semalam suntuk tadi sambil berbaring, lebih berguna daripada yang kukerjakan semalam”.

INTI PATI
Orang yang bekerja dengan ilmunya, guna kepentingan umum, lebih berguna daripada orang yang hanya beribadah untuk pribadi (‘ibadat-’ibadat sunnat) saja.

W A F A T
Lima tahun lebih, Imam Syafi’i tinggal di Mesir mengajar dan mengarang. Pada akhir usianya beliau menderita penyakjt bawasir, yang semakin berat. Waktu hampir ajalnya, beliau berpesan kepada keluarganya, bila mati, supaya menghadap kepada Gubernur, agar beliau suka memandikan jenazahnya. Wasiat mana telah dilaksanakan, setelah arwahnya kembali kehadlirat Tuhan.
- “Adakah Pa Imam meninggalkan hutang ?“ Tanya Gubernur kepada kaum keluarganya Imam Syafi’i.
+ “Ada”
- ‘Ini terimalah, untuk menutup semua hutangnya dan inilah artinya permintaan beliau meminta saya memandikan jenazahnya”.

DARI HAL QIAS
1. Kata Imam Ahmad bin Hanbal : “Saya pernah bertanya kepada Imam Syafi’i tentang Qias, jawabnya : “Hanya dalam keadaan darurat”.
2. Kata Imam Syafi’i : “Saya tidak akan meninggalkan Sunnah Rasul s.a.w. untuk menetapkan hukum Qias. Sebab tidak mungkin ada huküm Qias disamping Sunnah Rasul s.a.w.”

Imam Syafi’i dalam menetapkan hukum Qias hanya dalam urusan keduniaan / Mu’amajah saja yang hukumnya tidak terdapat nashnya dalam Qur’an dan Hadits Nabi atau dalam Ijma’ Shahabat.

DASAR-DASAR MADZHAB IMAM SYAFI’I
  1. Qur’an.
  2. Sunnah Rasul s.a.w.
  3. Ijma’ para Shahabat.
  4. Qias.
  5. Istid-lal = mengambil dalil-dalil/ keterangan-keterangan berdasarkan hukum-hukum Agama lain/ Kitab-kitab Suci.

PERKEMBANGAN MADZHAB IMAM SYAFI’I
Mula-mula Madzhab Imam Syafi’i itu berkembang di Mesir. Kemudian di ‘Iraq, Baghdad, Khurasan, Daghistan, Toran, Sirya, Andalusia, Yaman, Hijaz, Iran, India dan Indonesia.
----------------------------------------------------------------
Empat Besar Sahabat-sahabat Rasulullah dan Imam Madzhab, M. Said, Penerbit PT. Alma’arif Bandung, cetakan ke-IV, halaman 94-111