"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 06 Juni 2011

JIKA TUHAN MENJATUHKAN UANG DAN BATU

sebuah catatan : Amri Nurdin

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang yang ada dibawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan temannya.
Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yg sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.
Tuhan kadang-kadang menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Seringkali Tuhan memberi rezeki, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepada-Nya. Karena itu memang lebih tepat jika Tuhan menjatuhkan "batu" kepada kita.

PELESTARIAN VERSUS PEMENUHAN KEBUTUHAN

Pelestarian arsitektur berkaitan erat dengan upaya penyelamatan bangunan kuno bersejarah, atau merupakan dampak dari kekhawatiran bakal musnahnya warisan leluhur dalam bentuk fisik bangunan, atau pencarian tetenger dengan bentuk arsitektur yang khas sebagai bagian dari upaya menciptakan kegiatan dan meningkatnya kepariwisataan untuk menambah penghasilan daerah.  Hal lain, mungkin merupakan pemecahan arif dari investor yang menjadi mitra pemda setempat untuk tetap melestarikan keunggulan arsitektural dari bangunan lama dimana lahannya akan direkayasa atau dikembangkan menjadi fungsi baru.
Target bisnis seringkali hanya menyisakan sebagian kecil dari bangunan lama, untuk ”Tamba Pengen”. Perubahan dan pemanfaatan lahan kota semestinya disertai pertimbangan-pertimbangan historis dan arkeologis disamping pertimbangan arsitektural dan planologis.
Dana Pemugaran biasanya kecil, bertahap. Studi Kesejarahan arsitektur bangunan jarang dilakukan. Sangat langkanya kebiasaan nenek moyang kita untuk merekam data arsitektur dan lingkungan sekitarnya dalam bentuk lukisan, pendataan banyak dilakukan oleh orang-orang Belanda dan sebagian besar data tersimpan di Leiden. Pekerjaan perencanaan pemugaran bangunan yang dimasukkan pekerjaan non standar bernilai kecil, dan lain-lain. Menjadikan kegiatan pemugaran bangunan kuno dan bersejarah sering dilakukan secara sepotong-sepotong dan tambal sulam. Karena pengecatan dan pelaburan secara berulang-ulang menjadikan detail ornamen pada dinding tembok berubah bentuk dan ukurannya.
Dana bantuan perawatan bangunan, tidak besar jumlahnya, tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan oleh pemilik bangunan. Akibatnya beberapa rumah tradisional Kudus lengkap dengan gebyok berukir dijual oleh pemiliknya. Dari pada mendapat bantuan dana perawatan tetapi tembok uang dan lagi rumah tinggalnya menjadi seperti museum yang banyak dikunjungi orang, secara tidak sadar mengganggu kegiatan sehari-hari, lebih baik warisan arsitektur tradisional yang bernilai tinggi tersebut dijual dengan harga mahal. Hasil penjualannya bisa dibelikan lagi rumah tinggal modern yang lebih besar, lebih kuat dan lebih sesuai dengan keinginan.
Kemudahan hubungan desa-kota, keberadaan bangunan disepanjang jalur antar kota, tersedianya dana untuk merenovasi, pertimbangan kepraktisan perawatan bangunan, keinginan untuk mengikuti perkembangan (baca: modernisasi) dan pengalaman sesuai dengan perubahan tingkat sosialnya, kesadaran untuk menghuni di rumah sehat disertai tidak ada atau lambatnya perubahan budaya menghuni, kurangnya penyuluhan tentang arsitektur menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan arsitektur rumah tinggal tradisional di pedesaan.

Pelestarian dan Penerapan Arsitektur Pantura Jawa Tengah, Totok Roesmanto, Semiloka Pendayagunaan Warisan Arsitektur dalam Kontek Pembangunan Kota, Semarang 18 November 1992.

Kamis, 02 Juni 2011

SANTRI DAN ABANGAN : ORTHODOX DAN SYNCRETIST

Tulisan H. Rosihan Anwar dalam buku “DEMI DA’WAH”, terbitan PT. Al-Ma’arif Bandung cetakan pertama, 1976, halaman 4 – 7

Dalam percakapan sehari-hari perkataan “santri” mempunyai dua makna: (1) seorang yang jadi murid pada sebuah pondok pesantren, menuntut ilmu Agama dan pemimpin pondok itu yakni seorang Kiyai; (2) seorang yang saleh, ta’at beragama; dalam kehidupannya menunaikan Arkanul Islam seperti sembahyang lima kali sehari, membayar zakat, berpuasa, dan jika mampu naik Haji.
Sebaliknya, seorang “abangan” meskipun ia penganut agama Islam, tidak begitu saleh dan alim, tidak begitu sungguh-sungguh memperlakukan Agama, tidak merasa perlu bersembahyang Jum’at, berpuasa, dan lain-lain.
Oleh karena itu dikatakan, apabila si-santri digolongkan kepada “Islam-yakin” sebaliknya si-abangan termasuk “Islam-statitik”. Ada juga dipakai sebutan lain buat membeda-bedakan mereka yakni kaum putihan dan kaum abangan.
Di masyarakat pedesaan seperti ditunjukkan oleh hasil penelitian Prof. Jay di desa “Modjokuto” tidak selalu diberi pengertian yang sama seperti di atas tadi kepada istilah santri. (“Modjukuto” ialah nama samaran; sesungguhnya yang dimaksud ialah Pare di Jawa Timur, tempat team penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) menghimpun data di tahun 1953-1954, dan dalam team itu termasuk antara lain Prof. Jay, Geertz). Juga di sana santri tidak dibedakan dari abangan, akan tetapi dari tani. Santri ialah orang yang karena kelebihan pendidikan yakni pendidikan secara tradisionil, merasa dirinya atau umumnya diakui demikian, berada di atas tani pekerja biasa. Selain daripada itu rakyat di desa umumnya tidak suka berbicara tentang penggolongan santri dan abangan. Akan tetapi kalau sesudah dengan susah payah ditanyakan kepadanya, dan akhirnya dia mau juga bicara, maka keluarlah pengakuan, bahwa si Anu itu ialah “wong muslimin” (orang yang salat di depan umum) atau “wong Islam” atau dikatakan “wong Arab” “wong santri” “wong Islam tulen” sedangkan sebaliknya si Polan ialah “asli-Jawi” atau “wong Islam Jawa” atau “wong penduduk”.
Adapun Prof. Geertz melukiskan perbedaan antara santri dengan abangan itu dengan melihat kepada dua bidang yakni:
(1) bidang doktrin, ajaran agama;
(2) bidang organisasi sosial.
Demikianlah seorang abangan bersikap rada acuh tak acuh terhadap doktrin, ajaran agama, berlainan halnya dengan seorang santri. Seorang abangan tertarik perhatiannya dan usahanya terutama oleh soal-soal “ritual”, upacara, seperti kapan harus mengadakan slametan, makanan apa yang disajikan pada slametan itu, dan sebagainya. Sedangkan pada santri soal-soal “ritual” itu ialah sembahyang lima waktu, dan perhatiannya tertarik oleh penafiran moral dan sosial dari pada ajaran atau doktrin Islam.
Seorang abangan lebih bersikap toleran atau tasamuh terhadap aqidah keagamaan, sedangkan seorang santri terutama yang berdiam di kota - bersikap apologetik atau mu‘tadzir; pembelaan terhadap Islam sebagai suatu kode etik yang lebih superior bagi manusia modern, sebagai suatu doktrin sosial yang cocok bagi masyarakat modern dan menjadi sumber subur bagi nilai-nilai kebudayaan modern sangat penting kedudukannya dalam alam pikiran santri.
Perbedaan dalam bidang organisasi sosial tampak dalam titik berat yang diberikan oleh abangan, yang menganggap rumah tangga - suami, isteri dan anak-anaknya - sebagai kesatuan sosial yang azasi, sedangkan bagi santri yang penting ialah ummat. Islam dilihatnya sebagai suatu kumpulan lingkaran sosial yang konsentris, masyarakat yang kian meluas: Mojokuto, Jawa, Indonesia, seantero Dunia Islam, yang tersebar dan tempat berpijak masing-masing santri.
Maka untuk mengulangi dapatlah dikatakan, bahwa terdapat dua ciri pokok pada pola keagamaan santri yakni:
(1) mementingkan ajaran (dokfrin) serta apologi;
(2) mementingkan organisasi sosial, ummat, dan sebagainya.

Dengan demikian ia berbeda dari abangan.
Para sarjana ilmu sosial menggunakan cara peristilahan atau sebutan lain untuk membeda-bedakan santri dan abangan yakni istilah “orthodox” dan istilah “syncretist”.
Orthodox berasal dari perkataan Yunani klasik “orthodoxos” (orthos = benar; doxa = pendapat, opini) dalam hal ini dipakai dalam makna “sehat dalam aqidah, kepercayaan; sehat dalam opini keagamaan dan doktrin”. Maka apabila dikatakan, bahwa santri adalah “orthodox”, maka hal itu tidak boleh diartikan, dia kolot, kuno, akan tetapi bahwa dengan berpegang kepada Qur’an dan Hadits pendapatnya dalam soal-soal keagamaan adalah sehat.
Seorang “syncretist” ialah orang yang mencoba mencampuradukkan aqidah atau doktrin-doktrin yang tidak cocok satu sama lain ke dalam satu sistim. Prinsip-prinsip yang sebetulnya bertentangan dan tidak dapat saling dipertemukan digodoknya menjadi ibarat makanan gado-gado. Orang seperti Haji Datuk Batuah di Sumatera Barat, yang terkenal sebagai “Haji Merah”, yang di tahun 1920-an mengatakan, bahwa ajaran Komunisme dapat diterima oleh ajaran Islam, oleh karena baik Islam, maupun Komunisme mempunyai musuh yang sama yakni kapitalisme dan imperialisme, sebenarnya adalah seorang “syncretist”. Begitu juga orang yang memadukan kepercayaan kepada dewa-dewa Hinduisme ke dalam kepercayaan Islam akan Tuhan Yang Maha Esa ialah seorang “syncretist”. Seorang abangan tidak bebas dari pengaruh syncretisme itu, dan hal ini menyebabkan dia dianggap “belum tulen Islam” oleh si-santri.
Apakah sebabnya timbul gejala abangan di masyaiakat Islam di Jawa? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita mengadakan tinjauan selayang pandang terhadap sejarah Jawa.

Masjid AT-TAQWA

Masjid At-Taqwa SBI Semarang
Masjid At-Taqwa Kompleks Perumahan Srondol Bumi Indah

KEBERKAHAN

Keberkahan ibarat cahaya, dan ketidak-berkahan adalah bayangan yang mengikuti diri kala kita mendekati cahaya. Semua terserah kita, langkah demi langkah menuju cahaya telah diterangkan dalam Al-Qur'an dan Hadist.
Keputusan ada ditangan kita, penuh keyakinan yang utuh dalam tiap langkahnya atau tidak. Berhasrat kuat berada tepat dibawah cahaya, dengan buru-buru mengecilkan sisa-sisa bayangan ketidak-berkahan atau tidak. Karena penilaian dan pertolongan-Nya ada pada kesungguhan itu sendiri.

Jadikan Sabar dan Sholat Sebagai Penolong

يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ اسْتَعِينُوا۟ بِالصَّبْرِ وَالصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ اللَّـهَ مَعَ الصّٰبِرِينَ

Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu *), sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 2 : 153).

*) Adapula yang mengartikan : “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat”.

Tafsir Ayat
Ayat ini berisi maksud yang besar. Suatu cita-cita yang tinggi, menegakkan kalimat Allah, memancarkan tonggak tauhid dalam alam. Meniadakan penghambaan diri kepada yang selain Allah. Apabila langkah telah dimulai, halangannya pasti banyak, jalannya pasti sukar. Bertambah mulia dan tinggi yang dituju, bertambah sukarlah dihadapi. Oleh sebab itu dia meminta semangat baja, hati yang teguh dan pengorbanan-pengorbanan yang tidak kenal lelah. Betapa pun mulianya cita-cita, kalau hati tidak teguh dan tidak ada ketahanan, tidaklah maksud akan tercapai.
Sampai seratus satu kali kalimat sabar tersebut dalam al-Qur'an. Hanya dengan sabar orang dapat mencapai apa yang dimaksud. Hanya dengan sabar orang bisa mencapai derajat iman dalam perjuangan. Hanya dengan sabar kebenaran dapat ditegakkan.
Sebab itu sabarlah, perbentengi diri yang amat teguh. Sabar memang berat dan sabar memanglah tidak terasa apa faedahnya jika bahaya dan kesulitan belum datang.
Apabila datang suatu mara bahaya atau suatu musibah dengan tiba-tiba, dengan tidak disangka-sangka, memang timbullah perjuangan dalam batin. Perjuangan yang amat hebat. Tarik menarik diantara kegelisahan dengan ketenanganb. Maka orang yang telah menyatakan beriman wajiblah sabar, sabar menderita, sabar menunggu hasilnya apa yang dicita-citakannya.
Jangan gelisah tetapi hendaklah tetap hati. Hati kecil kita yang di dalam tidaklah suka akan kegelisahan, maka hati kecil yang di dalam itulah yang harus ditenangkan. Dan hati kecil yang telah dikepung oleh kegelisahan dan kekacauan itu harus dibebaskan dari kepungan itu. Lepaskan dia menghadap Allah ta'ala.
Allahu Akbar ! Allah Maha Besar !
Mengapa aku mesti gelisah? Padahal buruk dan baik adalah giliran masa yang pasti atas diriku, bukankah dahulu diri ini pernah disenangkan-Nya?
Allahu Akbar ! Allah Maha Besar !
Segala urusan dunia adalah kecil belaka. Kesulitan yang aku hadapi pun soal kecil bagi Tuhan, aku pun akan memandangnya kecil saja. Aku memandangnya soal besar, sebab aku tidak insaf bahwa jiwaku kecil. Aku gelisah lantaran kesulitan.
Ada sesuatu selain Allah yang mengikat hatiku; harta-benda, kemegahan dunia, pangkat, kedudukan dan mungkinjuga yang lain. Sehingga aku lupa tujuan hidupku yang sebenarnya, keridho-an Allah ta'ala.
Maka apabila ketenangan telah diperteguhkan dengan sholat, kemenangan pastilah datang. Sabar dan sholat; keduanya mesti berjalan beriringan.
Apabila resep ini telah dipakai dengan setia dan yakin, kita akan merasakan bahwa kian lama hijab kian terbuka. Berangsur-angsur jiwa terlepas dari belenggu kesulitan, sebab Allah ta'ala telah berdaulat dalam hati kita.
Terasa di ujung ayat : "sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Apakah yang mesti ditakutkan dalam hidup ini, kalau Allah telah menjamin bahwa Dia ada beserta engkau, orang yang istiqomah membentengi diri dalam sabar dan sholat.
------------------------
Bibliography :
Al Quraan dan terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an Depag Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, Pelita II/ 1978/ 1979.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 2, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan September 1987, halaman 21 - 23.
Tulisan Arab Al-Qur'an.

YAHUDI DALAM AL-QUR’AN

Bangsa Yahudi merupakan satu-satunya Bangsa yang eksistensinya butuh korban bangsa lainnya. Sepak terjangnya menjadi ancaman bagi bangsa-bangsa dan berbagai peradabannya. Sehingga NAZI berucap, “tidak ada perdamaian di dunia selagi bangsa Yahudi masih ada”.
Begitu burukkah sosok Yahudi ini? Begitu berbahayakah mereka sehingga kita dituntut untuk ekstra hati-hati menghadapi segala sepak terjangnya?
Al-Quran berbicara khusus mengenai Bani Israil dalam 7 Juz, dengan begitu besarnya porsi yang diberikan Al-Qur’an kepada bangsa Yahudi ini, kita dapat tahu betapa besarnya perhatian Allah terhadap bangsa Yahudi ini, sekaligus mengingatkan kepada Nabi Muhammad S.A.W. dan ummatnya akan sepak terjang Bangsa Yahudi ini baik di masa nabi-nabi sebelumnya ataupun yang dihadapi Rasulullah sendiri. Dan bagi kita relevansinya juga hingga saat ini bahkan hingga masa yang akan datang, karena tidak ada gerakan kebatilan di dunia kecuali dibelakangnya tentulah hasil skenario Zionisme Yahudi.
Saya telah membaca buku ”76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an” karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi dan ingin membagikan informasi ini bertahap sebagai pelajaran bagi kita dari sejarah yang tertulis dalam Al-Qur’an.
----------------------
(76 Karakter Yahudi dalam Al-Qur’an karya Syaikh Mustafa Al-Maraghi, penyusun Drs. M. Thalib, Penerbit CV. Pustaka Mantiq Solo, cetakan pertama April 1989)

Minggu, 29 Mei 2011

Masjid Al Mubarok

Masjid Al-Mubarok Borobudur Magelang
Masjid AL MUBAROK Dusun Tingal Kulon Wanurejo Borobudur Kabupaten Magelang

Katakanlah “Unzhurna”

 يٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقُولُوا۟ رٰعِنَا وَقُولُوا۟ انظُرْنَا وَاسْمَعُوا۟ ۗ وَلِلْكٰفِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa ‘ina”, tetapi katakanlah “Unzhurna”, dan “dengarlah”. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih. (QS. 2 : 104).

Tafsir Ayat
Sepintas lalu arti Ra'ina ialah gembalakanlah kami, atau bimbinglah kami - dari kata ri'ayah dan yang digembalakan itu ialah ra'iyyah (dalam bahasa Indonesia menjadi rakyat). Tetapi dia bisa pula berarti lain, yaitu ru'iy-na yang berarti tukang gembala kami. Satu kali jadi fi'il-amar, tetapi satu kali bisa pula menjadi ism-fa'il. Mohon supaya kami digembalakan, bisa ditukar artinya menjadi engkau ini adalah tukang gembala kepunyaan kami. Bisa pula diambil dari kata ra'unah, yaitu orang yang tidak baik perangainya. Maka orang yang berniat jahat bisa saja dengan sengaja membawa arti kata itu kepada yang bukan dimaksudkan. Oleh sebab itu, pilih kata yang artinya tidak dapat diputar-putar kepada maksud buruk, "Unzhurna", artinya pandanglah kami, tiliklah kami. Dengan kata "Unzhurna" tidak ada sudut buruk buat orang masuk. Begitulah hendaknya sopan santun orang yang beriman terhadap Rasul-Nya, yang juga menjadi ayah dan guru bagi seluruh Mukmin.

Latar Belakang Turunnya Ayat
Dalam suatu riwayat dikemukakan, bahwa dua orang yahudi bernama Malik bin Shaif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi mereka mengucapkan: “Ra’ina sam’aka was ma’ ghaira musmai’in”. Kaum Muslimin mengira bahwa kata-kata itu adalah ucapan ahli kitab untuk menghormati Nabi-nabinya. Mereka pun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi saw. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (QS 2 : 104) sebagai larangan untuk meniru-niru perbuatan kaum yahudiDiriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kata “Ra’ina” dalam : bahasa yahudi berarti caci maki yang jelek. Sehubungan dengan itu ada peristiwa sebagai berikut : Ketika kaum yahudi mendengar shahabat-shahabat Nabi memakai perkataan itu (“Ra’ina), mereka sengaja mengumumkan agar perkataan itu biasa dipergunakan dan ditujukan kepada Nabi . Apabila para shahabat Nabi menggunakan kata-kata itu, mereka mentertawakannya. Maka turunlah ayat ini (QS 2 : 104). Ketika salah seorang shahabat, yaitu : bin Mu’adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada kaum yahudi : “Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini akan kupenggal batang lehernya. Diriwayatkan oleh Abu Na’im di dalam kitab ad-Dala’il dari as-Suddi as-Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abi Shaleh yang bersumber dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
-----------------
Bibliography :
Al Quraan dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an Depag Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an, Pelita II/ 1978/ 1979.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 1, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam, cetakan ke-empat 1981, halaman 345-346.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 34 – 35.
Tulisan Arab Al-Qur'an.

Senin, 29 November 2010

Djarnawi Hadikusumo

Djarnawi Hadikusumo dilahirkan pada hari Ahad, tanggal 4 Juli 1920 di Kampung Kauman, Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Djarnawi. Setelah dewasa, di belakang namanya ditambah dengan nama ayahandanya, Hadikusumo. Djarnawi adalah putera dari Ki Bagus Hadikusumo dan Siti Fatimah/Fatmah. Dari garis keturunan ayahnya, Djarnawi berasal dari keturunan keluarga RH. Lurah Hasyim, yaitu seorang abdi dalem santri yang menjabat sebagai lurah bidang keagamaan di keraton Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Sementara dari garis ibunya, dia termasuk keturunan RH. Suhud yang juga seorang abdi dalem santri keraton Yogyakarta. Dengan latar belakang seperti itu, berarti Djarnawi berasal dari lingkungan keluarga yang berkultur abdi dalem dan santri. Hanya saja, pada perkembangannya kemudian dia lebih tumbuh menjadi seorang santri dan ulama yang disegani daripada seorang abdi dalem.
Djarnawi lahir dari keluarga yang berkecukupan. Hanya saja, salah seorang kerabat ayahnya, yang bernama Ibu Sodik, meminta Djarnawi untuk diasuh olehnya. Kebetulan Ibu Sodik ini belum dikaruniai keturunan hingga usia senjanya. Djarnawi diasuh oleh Ibu Sodik selama satu tahun sebelum akhirnya dikembalikan ke orangtuanya mengingat karena Ibu Sodik semakin lanjut usianya dan sering jatuh sakit. Tak berapa lama setelah kembali hidup bersama kedua orangtuanya, ibunya, Siti Fatimah, wafat. Untuk mengasuh anak-anaknya yang masih kecil, Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Ibu Moersilah. Di bawah asuhan Ibu Moersilah itulah Djarnawi menapak masa remaja dan dewasanya.
Pendidikan formal yang mula-mula ditempuhnya adalah Sekolah Bustanul Athfal Muhammadiyah di Kauman. Selanjutnya, secara berturut-turut dia meneruskan ke jenjang berikutnya, yaitu ke Standaardschool Muhammadiyah dan Kweekschool Muhammadiyah. Pada tahun 1935 Kweekschool Muhammadiyah diubah menjadi Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah. Di Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah itulah tempat terakhir pendidikan formal Djarnawi Hadikusumo.
Dari uraian di atas tampak bahwa latar belakang pendidikan Djarnawi semuanya berada di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Demikian pula guru-guru yang pernah membimbingnya sebagian besar adalah tokoh dan ulama Muhammadiyah, seperti K.H. Mas Mansur, K.H. Faried Ma`ruf, K.H. Abdul Kahar Mudzakir, Siradj Dahlan dan H. Rasyidi. Selain itu, ketika bertugas di Sumatera, dia juga sempat berguru kepada Buya Hamka dan Buya Zainal Arifin Abbas.

A. Aktivitas Djarnawi di dalam Muhammadiyah

Gerakan Muhammadiyah bagi Djarnawi bukanlah sesuatu yang asing lagi. Sejak masih usia kanak-kanak, dia sudah begitu akrab dengan lingkungan dan kultur Muhammadiyah. Apalagi keluarganya merupakan keluarga aktivis gerakan Muhammadiyah. Selain itu, semua pendidikan formalnya dia tempuh di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Dengan demikian, hubungan Djarnawi dengan gerakan Muhammadiyah sangatlah dekat yang kemudian dapat diketahui dari bebarapa aktivitasnya setelah dewasa.
Aktivitas Djarnawi di dalam gerakan Muhammadiyah mulai dijalankan sejak dia lulus dari Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah Yogyakarta sebagai tempat penggodokan kader-kader guru dan juru dakwah Muhammadiyah. Pada saat itu, tepatnya tahun 1937, setelah lulus dari Madrasah Mu`allimin Muhammadiyah dia diberi tugas oleh HB. Muhammadiyah (Pimpinan Pusat Muhammadiyah) untuk menjadi guru agama Islam dan juru dakwah pada sekolah Muhammadiyah di daerah Perkebunan Merbau, Medan,  Sumatera Utara. Setelah itu, pada tahun 1938 sampai tahun 1942 dia dipercaya menjadi kepala sekolah Muhammadiyah di Medan. Selanjutnya, sejak tahun 1944 sampai 1949 dia dipercaya untuk menjadi kepala sekolah di sekolah Muhammadiyah Tebingtinggi, hingga September 1949, sebelum akhirnya Djarnawi kembali ke Yogyakarta.
Selain aktif di lembaga pendidikan Muhammadiyah, sejak masih di Merbau, Djarnawi aktif sebagai pengurus grup (ranting) Muhammadiyah Merbau. Ketika pindah ke Tebingtinggi, dia aktif di Muhammadiyah Cabang Tebingtinggi. Aktivitas Djarnawi di organisasi Muhammadiyah meningkat setelah dia pulang ke Yogyakarta pada tahun 1949. Saat itu dia mulai tercatat sebagai salah seorang anggota Majlis Tablig Pengurus Pusat Muhammadiyah hingga tahun 1962.
Selanjutnya, pada tahun 1962 Muhammadiyah menyelenggarakan Muktamar ke-35 di Jakarta. Dalam Muktamar tersebut dia terpilih sebagai sekretaris II Pengururs Pusat Muhammadiyah. Sesudah itu, pada Muktamar Muhammadiyah yang ke-36 di Bandung tahun 1967 dia terpilih sebagai ketua III Pengurus Pusat Muhammadiyah. Untuk periode-periode berikutnya, dia diangkat menjadi sekretaris PP. Muhammadiyah berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-40 di Surabaya tahun 1978. Kemudian sebagai wakil Ketua PP Muhammadiyah berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta tahun 1985, dan sebagai anggota PP. Muhammadiyah yang mengetuai bidang Tajdid dan Tablig yang mengkoordinasi Majlis Tarjih, Tablig, Pustaka serta Lembaga Dakwah Khusus berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta tahun 1990.

Aktifitas di TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

Aktivitas lainnya di dalam organisasi Muhammadiyah juga tampak di Perguruan Seni Beladiri Indonesia TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH. Keaktifannya ini bahkan sudah tercatat sejak masa-masa awal berdirinya TAPAK SUCI. Dulunya masih bernama Lembaga Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah (Lembaga Tapak Suci). Di lembaga ini nama Djarnawi tercatat sebagai salah seorang tokoh utama ketika didirikan pada tanggal 31 Juli 1963.  Beliau adalah salah seorang tokoh utama yang paling banyak memberi pengayoman dan dukungan, disamping beliau juga telah menunjukkan kepiawaiannya dalam berorganisasi dan secara aktif mengedepankan gerakan TAPAK SUCI sebagai Gerakan Muhammadiyah, tidak saja pada saat berdirinya TAPAK SUCI, namun juga pada masa-masa perkembangan TAPAK SUCI. Beliau pula tokoh yang merumuskan do`a dan ikrar perguruan Tapak Suci. Pada kepengurusan periode pertama, Djarnawi didudukkan sebagai Pelindung. Selanjutnya, sejak tahun 1966 sampai 1991 beliau dipilih sebagai Ketua Umum lembaga perguruan pencak silat milik Muhammadiyah itu.
Dipercayanya Djarnawi untuk menduduki posisi Ketua Umum itu karena dia dipandang sebagai seorang tokoh yang mumpuni, baik di bidang keagamaan, kepemimpinan maupun bidang beladiri.  Untuk bidang yang pertama dan kedua telah dia buktikan melalui aktivitasnya sebagai pengurus Muhammadiyah. Sementara untuk bidang yang terakhir, dia adalah mata rantai yang tidak bisa diputuskan dalam sejarah besar Tapak Suci. Kepandaian Djarnawi dalam hal ilmu beladiri pencak silat tersebut dipelajarinya semasa mudanya di Kampung Kauman, yang kala itu Tapak Suci belum berdiri. Selain itu, ketika bermukim di Sumatera dia sempat berguru ilmu silat kepada Sutan Chaniago dan Sutan Makmun, dua orang pendekar yang memiliki nama besar di Wilayah Sumatera utara.
Sosok Djarnawi sesungguhnya adalah sosok seorang aktivis gerakan Muhammadiyah, baik dilihat dari latar belakang keluarga, pendidikan dan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu, dalam berkiprah di Muhammadiyah pun tidak tanggung-tanggung. Dia tidak hanya menfokuskan kiprahnya pada aktivitas secara praktis saja, tapi juga berusaha menyumbangkan ide-ide dan pemikirannya untuk membesarkan Muhammadiyah. Kiprah Djarnawi melalui pemikiran-pemikirannya tersebut mulai muncul sejak dia duduk di dalam Kepengurusan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1962. Pada saat itu, dia bersama-sama dengan H. AR. Fachruddin dan HM. Mawardi diberi tugas untuk menggodok bahan-bahan rumusan Kepribadian Muhammadiyah yang telah disampaikan oleh tokoh-tokoh senior Muhammadiyah seperti K.H. Fakih Usman, K.H. Faried Ma`ruf, K.H. Wardan Diponingrat, Hamka, M. Djindar Tamimy dan M. Shaleh Ibrahim. Melalui kerja keras, akhirnya rumusan Kepribadian Muhammadiyah dapat diselesaikannya.
Sumbangan pemikiran Djarnawi lainnya bagi dinamika Muhammadiyah juga tampak pada era 1980-an. Saat itu Muhammadiyah sedang dihadapkan pada persoalan asas tunggal Pancasila yang kontroversial. Setelah melalui pembahasan, pemikiran dan perhitungan yang cukup seksama, akhirnya pada Muktamar yang ke-41 di Surakarta pada tahun 1985 Muhammadiyah menerima kedudukan Pancasila sebagai asas tunggal ormas/orpol. Djarnawi termasuk salah seorang anggota tim perumus, Djarnawi berpandangan bahwa Muhammadiyah bersedia menerima Pancasila sebagai asas tunggal karena sila Ketuhanan Yang Maha Esa diartikan sebagai keimanan kepada Allah SWT. Penafsiran arti sila pertama dari Pancasila tersebut menurutnya adalah untuk menghindari agar Muktamar tidak lagi menolak asas Pancasila, maka Muhammadiyah akan sulit terlepas dari perpecahan dan pembubaran yang tentu sangat merugikan Muhammadiyah sendiri.
Apa yang dikemukakan Djarnawi di atas mengingatkan semua orang pada sikap ayahnya ketika terjadi ketegangan berkaitan dengan rumusan dasar negara Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan. Penerimaan Muhammadiyah terhadap asas Pancasila akhirnya melegakan semua pihak. Oleh karena itu Muhammadiyah dianggap telah lulus dari salah satu ujian berat yang pernah dihadapinya dalam perjalanan sejarahnya. Muktamar yang berjalan penuh dengan ketegangan itupun kemudian ditutup dengan rasa haru dan gembira pada tanggal 11 Desember dengan diiringi lagu Mars Milad Muhammadiyah yang diciptakan Djarnawi pada sekitar tahun 1976.

B. Aktivitas Djarnawi di Bidang Politik
Selain dikenal sebagai seorang tokoh Muhammadiyah, Djarnawi juga dikenal sebagai seorang politikus. Hanya saja, tidak seperti aktivitasnya di Muhammadiyah yang sudah digelutinya sejak usia dini, di bidang politik dia mulai aktif setelah menginjak usia dewasa. Aktivitas Djarnawi berkaitan dengan bidang politik diawali sekitar tahun 1945. Pada saat itu sampai sekitar tahun 1949 dia bergabung di dalam Batalyon Istimewa TNI (sekarang Kopasus) Brigade XII Daerah Sumatera Utara. Hanya saja, pada saat dia pulang kembali ke Yogyakarta, karir tersebut terputus.
Aktivitas Djarnawi di bidang politik mulai terlihat lagi setelah memasuki pertengahan dekade 1960-an. Antara tahun 1966 sampai 1971 dia tercatat sebagai anggota MPRS/DPRGR. Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, pada bulan Februari 1968 berdiri Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Orang yang kemudian dipercaya untuk menjadi Ketua Umumnya adalah Djarnawi Hadikusuma. Jabatan tersebut diembannya hingga bulan November 1968. Selanjutnya, pada tanggal 4-7 November 1968 Parmusi menggelar kongres. Di dalam kongres tersebut Mr. Moh. Roem terpilih sebagai Ketua Umumnya. Hanya saja, karena dia adalah eks tokoh Masyumi, sehingga kemunculannya tidak direstui oleh pihak pemerintahan. Sebagai alternatifnya, maka Djarnawi kembali diangkat sebagai Ketua Umum Parmusi untuk kedua kalinya.
Jabatan sebagai Ketua Umum Parmusi yang kedua itu dipegangnya hingga tahun 1970. Pada tahun itu di dalam tubuh Parmusi mulai terjadi perpecahan yang kemudian memunculkan kudeta atau pembajakan atas kepemimpinan Djarnawi oleh H.J. Naro beserta para pendukungnya. Peristiwa tersebut terjadi tanggal 17 Oktober 1970. Dengan adanya kejadian itu, maka di dalam tubuh Parmusi muncul dualisme kepemimpinan, yaitu kepemimpinan Djarnawi dan H.J. Naro. Dualisme kepemimpinan dia dalam tubuh Parmusi itu akhirnya berakhir setelah pemerintah sebagai pembina kehidupan parpol turut campur dengan mengangkat H.S. Mintaredja sebagai ketua Umum Parmusi pada tanggal 20 November 1970. Dengan begitu, berakhirlah masa kepemimpinan Djarnawi di dalam Parmusi.
Setelah tidak lagi menjadi Ketua Umum Parmusi, pada awalnya ada upaya untuk memposisikan Djarnawi sebagai anggota Majelis Pertimbangan Partai Parmusi. Hanya saja, upaya itu digagalkan oleh pihak yang ingin menyingkirkan Djarnawi dari Parmusi. Pembunuhan karir politik Djarnawi tersebut dilakukan karena sikapnya dianggap bertentangan dengan pihak pemerintah. Begitulah, sejak saat itu sampai akhir hayatnya, Djarnawi kembali ke basis awal gerakannya, yaitu Muhammadiyah. Apalagi pada saat itu Muhammadiyah telah memutuskan untuk kembali kepada jati dirinya sebagai gerakan sosial keagamaan.

C. Karya-karyanya

Selain dikenal sebagai seorang aktivis dan praktisi, ternyata Djarnawi juga seorang pemikir atau penulis yang produktif. Itulah kelebihan Djarnawi dibandingkan dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya yang seangkatan dengannya. Menurut salah seorang putranya, yaitu Ir. Gunawan Budiyanto, MP. bahwa sampai masa akhir hayatnya setidaknya Djarnawi sudah menulis sekitar 20 buah karya tulis selain beberapa tulisan lepasnya di berbagai media cetak, seperti Suara Muhammadiyah, Suara `Aisyiyah, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos dan The Indonesia Times.
Apabila dirinci, tulisan-tulisan karya Djarnawi dapat diklasifikasikan menjadi lima bidang, yaitu bidang keislaman, sastera, kristologi, sejarah dan pendidikan. Dari kelima bidang itu, tulisan yang paling banyak adalah di bidang keislaman sekitas tujuh buah, yaitu : Risalah Islamiyah (1973), Kitab Tauhid (1987), Ilmu Akhlak (1990), Kitab Fekih (t.t.), Ahlus Sunnah Wal Jama`ah (t.t.), Bid`ah Khurafat (t.t.), Menyingkap Rahasia Maut (t.t.), dan Jalan Mendekatkan Diri Kepada Tuhan (t.t.).
Adapun di bidang sastera karya tulis Djarnawi semuanya berjenis novel. Di bidang ini ada enam karya yang dihasilkannya, yaitu Korban Perasaan (1947), Penginapan di jalan Sunyi (1947), Orang dari Marotai (1949), Pertentangan (1952), Angin Pantai Selatan (1954) dan Di Bawah Tiang Gantungan. Untuk karyanya yang terakhir itu adalah terjemahan dari Guillotine, novel tentang pergolakan pada saat Revolusi Perancis. Hanya saja hasil terjemahan tersebut belum sempat diterbitkan.
Sementara di bidang sejarah (Islam) dia menulis sebanyak tiga buah, yaitu Aliran-Aliran Pembaruan Islam: Dari Jamaluddin Al-Afghani sampai K.H. Ahmad Dahlan (t.t.), Matahari-Matahari Muhammadiyah (t.t.) dan Derita Seorang Pemimpin : Riwayat Hidup, Perdjoangan dan Buah Pikiran Ki Bagus Hadikusuma (1979). Di bidang Kristologi dia menulis dua buah buku, yaitu Sekitar Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (t.t.) dan Buku Kristologi (1982). Di bidang pendidikan dia hanya menulis sebuah buku yang diberinya judul Pendidikan dan Kemajuan (1949). Selain itu Djarnawi menciptakan lagu yang berjudul Sang Surya, yang kemudian menjadi mars Muhammadiyah.

D. Penutup
Djarnawi Hadikusuma wafat pada usia 73 tahun, tepatnya pada tanggal 26 Oktober 1993. Beliau meninggalkan seorang isteri, yaitu Sri Rahayu dan tujuh orang putera. Sebenarnya putera Djarnawi ada sepuluh, tetapi yang tiga orang meninggal ketika masih kecil. Adapun tujuh anak tersebut adalah Siswanto D. Kusumo, Hartono, Pitoyo Kusumo, Darmawan Susanto, Sri Purwaningsih, Ahmad Poernomo, dan Gunawan Budiyanto (PNS).
-----------------------------------
Sumber : Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Kamis, 21 Oktober 2010

RADEN AYU NAWANGSIH DENGAN RADEN BAGUS RINANGKU

Sunan Muria adalah seorang penyiar Agama Islam yang terkenal mempunyai banyak murid yang bertujuan ngangsu kawruh (mencari ilmu). Konon kecuali ilmu Agama Islam, juga banyak ilmu-ilmu lain yang dimiliki oleh Sunan Muria, seperti ilmu kanuragan (kesaktian) dan berbagai macam ilmu ketrampilan.
Salah seorang muridnya yang termasuk paling cerdas dan cakap ketika itu ada yang bernama Raden Bagus Rinangku, putera salah seorang Pangeran dari Pandanaran.
Karena Raden Bagus Rinangku kecuali terkenal sebagai murid yang cerdas dan cakap juga sebagai seorang pemuda yang tampan rupanya, maka salah seorang putrinya Sunan Muria terpikat kepadanya. Nama putri Sunan Muria itu adalah Raden Ayu Nawangsih.
Kedua insan muda-mudi itu telah saling berjanji akan mengarungi hidup bersama, meskipun apa saja yang terjadi. Kesepakatan kedua insan itu ternyata diketahui oleh Sunan Muria, ayah Raden Ayu Nawangsih. Tentu saja Kangjeng Sunan marah karena puterinya itu akan dijodohkan dengan salah seorang muridnya bernama Cebolek (paraban dari kata cebol pendek atau kerdil, dan elek = jelek). menurut cerita, Kyai Cebolek itu berasal dari Kajen, Pati. Tetapi Raden Ayu Nawangsih tidak mau bila dijodohkan dengan Cebolek.
Untuk menjauhkan antara Raden Ayu Nawangsih dengan Raden Bagus Rinangku, Kangjeng Sunan mempunyai akal, yaitu Bagus Rinangku diberi tugas yang berat-berat. Tugas pertama adalah agar dia dapat membasmi perusuh yang selalu mengacau penduduk sekitar Muria. Perusuh itu sering merampok dan merampas harta milik penduduk sehingga telah banyak korban harta dan jiwa penduduk. Tentu saja kalau Bagus Rinangku meleset, bisa jadi dia menjadi korban dari kawanan penjahat yang terkenal sadis itu, dan matilah dia. Tetapi Raden Bagus Rinangku berhasil membasmi kawanan penjahat. Dan bahkan salah seorang anggota dari kawanan perampok itu sadar dan menjadi orang alim. Nama orang tersebut ialah Kyai Mashudi.
Dengan demikin niat Kangjeng Sunan agar puterinya jauh dan berpisah dengan Bagus Rinangku ini gagal.
Tugas kedua pun datang. Bagus Rinangku ditugaskan untuk menjaga burung (tunggu manuk) yang makan padi yang sedang menguning di sawah pedhukuhan Masin. (Sekarang dukuh Masin itu termasuk desa Kandangmas Kecamatan Dawe, Kudus).
Pada suatu hari Sunan Muria mengecek ke dhukuh Masin, apakah benar-benar Bagus Rinangku telah melaksanakan tugasnya atau tidak. Ternyata Bagus Rinangku melalaikan kewajibannya dengan membiarkan burung-burung itu diberi keleluasaan untuk makan padi di tengah sawah. Sunan Muria amat marah. Lagi pula di situ kedapatan Bagus Rinangku sedang asyik maksuk berkasih-kasihan dengan Raden Ayu Nawangsih, puterinya Kangjeng Sunan.
Setelah Bagus Rinangku ditanyai Sunan Muria, mengapa burung-burung itu dibiarkan bersuka cita makan padi di sawah, padahal Bagus Rinangku ditugaskan tunggu manuk (menjaga atau menunggui burung).
“Hamba telah melaksanakan tugas Kangjeng Sunan dengan baik. Bukanlah hamba ditugaskan menunggui burung ? Dan burung-burung itu telah dengan suka rianya hamba tunggui,” demikian kilah Bagus Rinangku.
Padahal maksudnya tentulah menjaga burung agar jangan sampai makan padi di sawah. Tetapi Bagus Rinangku berkilah, menjaga burung yang sedang makan padi, dengan cara ditunggui dibiarkan makan padi.
Raden Bagus Rinangku telah mengakui kesalahannya dan telah memohon maaf kepada Kangjeng Sunan, dengan janji sanggup mengembalikan padi yang telah terlanjur dimakan burung-burung itu pulih kembali. Setelah sesaat Raden Bagus Rinangku berdoa dan membaca mantera, dengan ijin Tuhan, padi di sawah yang telah rusak binasa dimakan burung-burung itu menjadi pulih kembali seperti sediakala.
Melihat keajaiban dan kesaktian Raden Bagus Rinangku itu, Kangjeng Sunan Muria bahkan semakin marah. Apa sebabnya ? Menurut yang empunya cerita, melihat kesaktian Bagus Rinangku itu Kangjeng Sunan Muria merasa disaingi kesaktiannya Maka demonstrasi kesaktian oleh Bagus Rinangku itu dianggap oleh Sunan Muria sebagai penghinaan terhadap Kangjeng Sunan sendiri.
Kangjeng Sunan pun menarik panahnya, dan dengan hati kesal panah itu diarahkan kepada Bagus Rinangku dengan maksud untuk menakut-nakuti saja. Tetapi sial, anak panah itu melesat dan mengenai perut Bagus Rinangku, tembus sampai punggungnya. Maka jatuh robohlah Bagus Rinangku, dan menghembuskan nafas yang penghabisan.
Melihat kejadian itu, Raden Ayu Nawangsih meraung-raung dan menubruk mènjatuhi jenazah Bagus Rinangku yang tertelungkup di tanah. Anak panah yang mencuat dari punggung Bagus Rinangku itu menembus pula perut Raden Ayu Nawangsih. Dan saat itu pula matilah Raden Ayu, di hadapan ayahnya, Kangjeng Sunan Muria.
Jenazah kedua insan yang mati bagaikan dalam kisah “Romeo dan Yuliet” itu dimakamkan di atas sebuah bukit kecil, yaitu tempat dimana Bagus Rinangku dengan Raden Ayu berasyik maksuk.
Kematian kedua orang muda-mudi amat menggemparkan penduduk sekitar Masin. Orang-orang yang ikut mengantarkan jenazahnya sama tertegun berdiri terpaku setelah jenazah selesai dikubur. Keharuan mencekam mereka yang berduka cita yang mendengarkan nasehatnya Kangjeng Sunan dalam upacara penguburan jenazah. Sehingga setelah upacara selesai pun mereka masih meratapi kematian kedua insan itu di bukit tersebut. Melihat hal yang demikian itu Kangjeng Sunan berkata, “Ah, bagaikan pohon jati saja engkau semua, berdiri terpaku tak bergerak di bukit.” Ketika itu pula manusia-manusia yang berdiri terpaku di atas bukit tiba-tiba menjadi pohon-pohon jati semua. Pohon-pohon jati itu hingga sekarang masih banyak yang hidup di atas bukit tersebut. Dan semua pohon-pohon jati itu dikeramatkan oleh penduduk yang percaya akan kesaktian pohon-pohon tersebut.

BEBERAPA CATATAN
1. Dalam kisah di atas melibatkan nama Cebolek yang sekarang dimakamkan di Kajen, Tayu, Pati. Tentu saja hal ini tidak masuk akal, karena Kyai Cebolek atau HajiAhmad Mutamakkin itu hidup pada pertengahan abad ke-18, yaitu pada masa pemerintahannya Susuhunan Paku Buwono II (1727 - 1749 Masehi). Padahal Sunan Muria hidup pada abad ke 15 Masehi.
2. Menurut hasil wawancara penulis dengan penduduk Masin, peristiwa tragis yang menimpa dua sejoli itu berlatar belakang skandal sex. Raden Bagus Rinangku yang berpacaran dengan Raden Ayu Nawangsih memang tidak disetujui oleh Kangjeng Sunan Muria. Maka Bagus Rinangku yang muridnya Kangjeng Sunan itu diperintahkan agar menjaga burung di tempat yang jauh dari padhepokan Muria, yakni di dhukuh Masin. Perintah untuk menjaga burung itu adalah kinayaki atau sanepa, karena cerita yang sebenarnya bukan demikian. Yang benar ialah bahwa burung (manuk baha Jawa) itu adalah kelamin lelaki. Jadi Raden Bagus Rinangku diperintahkan agar bisa memelihara alat kelaminnya dalam arti jangan sampai dipergunakan untuk berbuat zina. Tetapi Bagus Rinangku bahkan melanggar perintah gurunya, berbuat mesum di sebuah bukit di Masin dengan puteri Sunan Muria sendiri, Raden Ayu Nawangsih. Disuruh menjaga burung (jangan berzina), tetapi pagar makan tanaman, malah membiarkan (ngumbar) nafsu syahwat untuk berbuat mesum. Maka terjadilah peristiwa stragis itu.
3. Dalam cerita rakyat di atas disebutkan bahwa Kangjeng Sunan Muria merasa terhina dan iri karena kesaktiannya disaingi oleh Bagus Rinangku, muridnya sendiri. Hal tersebut menambah kemarahan Kangjeng Sunan. Kisah di atas amat aneh, karena seorang Sunan merasa tersaingi oleh ilmu muridnya sendiri. Bila benar demikian, maka apa perlunya seorang Sunan mengajarkan ilmu kepada muridnya ? Rupa-rupanya cerita semacam itu adalah untuk menjatuhkan nama baik Sunan Muria. Dan menuduh bahwa Sunan Muria berhati dengki atau hasud melihat muridnya sendiri maju sehingga sampai hati membunuh muridnya karena pasal merasa tersaingi ilmunya. Bila Sunan Muria mempunyai hati dengki dan merasa tersaingi ilmunya, tentulah telah sejak mula beliau tidak usah membuka pesantren atau perguruan yang mengajarkan berbagai macam ilmu kepada masyarakat. Tetapi nyatanya beliau telah membuka perguruan tersebut. Dengan demikian maka kisah yang menceritakan Kangjeng Sunan merasa tersaingi ilmunya oleh muridnya itu mempunyai tendensi tertentu. Wallahu a’lam bish-showab.
-------------------------------------------
SUNAN MURIA Antara Fakta dan Legenda, Umar Hasyim, Penerbit “Menara Kudus” Kudus, 1983, halaman 78-81