"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Minggu, 26 Agustus 2018

Akan Selamat Dari Kerusakan

Dengan tauhid, ibadah, ketaatan, amar ma’ruf, nahi munkar dan meninggalkan maksiat, kita akan ditolong –dengan izin Allah- dan tidak akan memberi mudharat kepada kita, tipu daya orang yang rusak dan para penjahat.

Dr. Ahmad Al-Kous, Khatib di Masjid Al-‘Ajeery, Cordoba. Konsultan Bidang Kerumahtanggaan di Kantor Urusan Agama Kuwait, kolumnis di Harian Al-Wathan Kuwait. (Twitter : @Ahmad_Alkous) - Twit Ulama  

Sabtu, 25 Agustus 2018

Menghadapi Kegelapan

Kegelapan ada 3 macam:
1) Kegelapan Kebodohan,
2) Kegelapan Kekufuran,
3) Kegelapan Maksiat.

Semuanya bisa dihadapi dengan:
1) Cahaya Ilmu,
2) Cahaya Iman,
3) Cahaya Istiqomah

[Syaikh Ibnu ‘Utsaimin رحمه الله, Tafsir Surat Al-Baqoroh]

Syaikh Muhammad al-’Utaibi, Imam dan Pengajar di kementrian wakaf Kuwait, sedang menempuh S3 di Universitas Islam Madinah. (Twitter : @mhommad118) - Twit Ulama  

Jumat, 24 Agustus 2018

Karena Bergantung Kepada-Nya

Siapa yang menggantungkan diri pada Allah semata, Allah akan selamatkan dia dari keburukan musuh-musuhnya.

“Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.” (QS. Al-Mukmin : 44-45)

Dr. Sa’ad Asy-Syitsriy, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh. (Twitter : @Dr_Alshathry) - Twit Ulama    

Kamis, 23 Agustus 2018

Yang Lebih Utama

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله ditanya mengenai seorang musafir yang berpuasa di bulan Ramadhan namun safarnya tidak membuat si musafir itu merasa lapar, haus atau kelelahan. Mana yang lebih afdhal baginya, berpuasa atau berbuka?
Jawaban Ibnu Taimiyyah رحمه الله : Walaupun safarnya tidak membebani puasanya, baginya berbuka puasa lebih afdhal menurut ijma’, namun bila ia ingin berpuasa, maka itu pun boleh menurut banyak ulama.

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama   

Rabu, 22 Agustus 2018

Kebaikan Itu..

Kebaikan itu :
1. Jangan sedikit pun diremehkan;
2. Segera dilakukan;
3. Jangan harap akan terulang;
4. Beri tahu orang lain untuk melakukannya.

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al-Imam. (Twitter : @Dr_Alsadhan) - Twit Ulama     

Selasa, 21 Agustus 2018

Yang Kemudian Lenyap

Perkataan yang menakjubkan, “Segala sesuatu yang ada ini akan melahirkan yang kecil kemudian semakin membesar, kecuali musibah, musibah akan melahirkan sesuatu yang dirasa besar, kemudian mengecil dan akhirnya lenyap.”

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan, salah seorang murid Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Doktor dalam ilmu Ushuluddin Universitas Al-Imam. (Twitter : @Dr_Alsadhan) - Twit Ulama  

Senin, 20 Agustus 2018

Waktu Yang Sesaat

Kehidupanmu di dunia adalah waktu sesaat engkau hidup. Apa yang sudah lewat, maka ia sudah terluput, apa yang kan datang, ia masih belum diketahui. Maka isilah kehidupanmu saat ini dengan berbagai bentuk syukur kepada Allah, inilah kunci kebahagiaan.

Asy-Syaikh Khalid bin Utsman As-Sabt, doktor dalam bidang ‘Ulumul Qur’an, dosen di Universitas Damam Jurusan Pendidikan Fakultas Studi Islam, Saudi Arabia. (Twitter : @khaled_alsabt) - Twit Ulama  

Minggu, 19 Agustus 2018

Tempat Bergantung Yang Tepat

Siapa yang menggantungkan pendapatnya pada pendapat manusia, dia akan berubah-ubah sesuai perubahan pikiran manusia yang tidak tetap. Siapa yang menggantungkan hatinya kepada Allah, niscaya akan konsisten, karena perkataan-Nya adalah kebenaran, baik kemarin, sekarang maupun esok.

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi, Ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. (Twitter : @abdulaziztarefe) - Twit Ulama   

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dia Merindui Saudaranya

Empat belas abad yang lalu dia pernah merindu, dialah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
Tepat sembilan hari menjelang wafatnya turunlah firman Allah yang berbunyi :
“Dan peliharalah diri kalian dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak didzalimi.” (QS. Al Baqarah (2) : 281).

Semenjak itu raut kesedihan mulai tampak di wajah beliau yang suci. “Aku ingin mengunjungi syuhada Uhud ujar beliau”. Beliaupun pergi menuju makam syuhada Uhud, sesampainya disana beliau mendekati makam para syuhada dan berkata, “Assalamu’alaikum wahai syuhada Uhud, kalian telah mendahului kami. Insya Allah kamipun akan menyusul kalian.”
Ditengah perjalanan pulang, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menangis.
Para sahabat yang mendampinginya bertanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
Mereka berkata, “Bukankah kami adalah saudara-saudaramu wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Bukan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah mereka yang datang sesudahku, mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku.” (HR. Ahmad).

Alangkah tulus ungkapan itu..
Namun tersisa beragam tanya :
Kitakah yang dirindukan itu…?
Bila iya, Sudahkah kita merindukannya…?
Sudahkah kita beriman sehingga pantas dirindu…?
Sudahkan kita mengamalkan sunnah (ajaran) nya sebagai bukti cinta…?
Pantaskah diri yang lalai ini dirindukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…?

Sahabat, mari kita amalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Agar kita semua termasuk kedalam golongan orang yang dirindukan oleh baginda Nabi shallallahu alaihi wasallam..
Aamiin. (DPUDT Semarang).  

Makanan Hati

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah رحمه الله berkata, “Sesungguhnya syariat ini adalah makanan bagi hati, maka ketika hati ini dipenuhi dengan bid’ah tidak lagi tersisa tempat untuk sunnah dan jadilah hati rusak seperti orang yang selalu diberi makan dengan makanan yang buruk.
[Iqtidha Shrathal Mustaqiim : 1/104]

Syaikh Salim Al-Thawil, salah seorang murid Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. (Twitter : @saltaweel) - Twit Ulama 

Jumat, 17 Agustus 2018

Doa Yang Dipanjatkan Khalifah

Salah satu doa yang diucapkan Umar bin Khattab رَضِيَ اللََّهُ عَنْه adalah:

اللهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا، وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلاَ تَجْعَل لأَِحَدٍ فِيْهِ  شَيْئًا

“Ya Allah jadikanlah seluruh amalan-amalanku yang shalih, dan jadikanlah amalan-amalanku itu ikhlas hanya mengharap wajah-Mu semata, dan janganlah Engkau jadikan amalan-amalanku itu untuk mengharapkan keridhaan seorang pun.”

(Ibnu Taimiyyah رحمه الله; Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim 2/373)

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama