"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 08 Januari 2018

Karena Berbakti Pada Orang Tua

Aku mengenal orang ini sudah sejak lama,
Allah bukakan untuknya pintu dunia,
Allah bukakan juga hatinya,
Allah jadikan banyak kebaikan melalui tangannya.
Aku pernah bertanya kepadanya, “Apa rahasianya?” dia menjawab, “Aku tak pernah sekalipun mengatakan ‘tidak’ pada orang tuaku”.

Dr. Muhammad Al-Habdan, anggota Rabithah Ulama’ Al-Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin). (Twitter : @dr_alhabdan) - Twit Ulama 

Minggu, 07 Januari 2018

Metode Sedekah

Dampak Sedekah, diriwayatkan dari Ibnu Zanjawih bahwa Ali bin Husain memanggul gandum di punggungnya dalam kegelapan malam untuk dibagikan kepada orang-orang miskin dan beliau berkata, “Sedekah secara sembunyi-sembunyi itu akan menghapuskan murka Rabb”.

Syaikh Dr. Syafi al-'Ajimi, Imam Masjid al-Ghazali, kuwait. Murid Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin. (Twitter : @shafi_ajmi) - Twit Ulama 

Sabtu, 06 Januari 2018

Terus Memperbaiki Keta'atan Diri

Diantara tanda-tanda orang munafik, senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, dan ia benci nasihat atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangannya - Fudhail bin Iyadh.

Dear Muslimah salihah, kita manusia tak lepas dari kekurangan dan kesalahan, dan saat kita melakukan sebuah kesalahan atau kekurangan mungkin kita tidak mengetahui atau menyadarinya, karena itulah kita memerlukan orang lain yang melihat dan menasihati kita.
Wajar pula ada rasa terusik saat apa yang kita lakukan lalu dinasihati, tapi terimalah semua karena Allah, bila benar segera perbaiki, bila tidak benar ya dimaklumi saja, orang menasihati kita terima selama niatannya baik.
Terus memperbaiki ketaatan diri, sampai kita kembali dalam keadaan Allah ridhai. (Hijab Alila).

Yang Paling Penyayang

Rabb kita Yang Maha Tinggi berfirman yang artinya, “Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.” (QS. Yunus : 11).  Allah lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya dari pada seorang ibu sayang pada anak-anaknya.

Fahad Al-Kundari, Imam masjid besar negara Kuwait, dan insya Allah recital Al-Qur’an beliau telah masyhur. (Twitter : @fahadalkandri) - Twit Ulama 

Jumat, 05 Januari 2018

Kesedihan

“Ketika dia berkata kepada saudaranya, jangan kamu sedih” (QS. at-Taubah : 40). Rasulullah ﷺ berkata, “Jangan sedih” dan tidak berkata, “Jangan khawatir”. Karena kesedihan Abu Bakar رَضِيَ اللََّهُ عَنْه memikirkan nasib Rasulullah ﷺ menutup kekhawatirannya atas dirinya sendiri (As-Suhaili, Ar-Raudhul Anaf 2/315)

Dr. Abdul Muhsin Al-Muthiri, Doktor dalam bidang tafsir, Fakultas Syari’ah Universitas Kuwait. (Twitter : @q8azm) - Twit Ulama 

Kamis, 04 Januari 2018

Keharaman Yang Agung

Syirik ialah keharaman yang paling agung “Sungguh syirik itu kezhaliman yang amat besar” (QS. Luqman : 13). Tahukah engkau apa itu syirik? Yaitu at-Taswiyyah, menyamakan Allah dengan selain-Nya, maka siapa saja yang menyamakan sesuatu dengan Allah, ia telah berbuat syirik.

Dr. Khalid Al-Mushlih, dosen fiqh pada Universitas Al-Qashim, sekaligus menantu Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. (Twitter : @Dr_almosleh) - Twit Ulama  

Rabu, 03 Januari 2018

Yang Membinasakan Manusia

Kebinasaan manusia itu ada di antara fitnah syubhat dan syahwat. Fitnah syahwat dapat membawa manusia kepada perbuatan-perbuatan keji, sedangkan fitnah syubhat dapat membuat seseorang keluar dari agamanya.

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama 

Selasa, 02 Januari 2018

Kisah 3 Makhluk Allah Ta'ala

Allah ta'ala mengabadikan kisah 3 makhluk ciptaannya dalam 7 surat; al-Baqarah (2), al-A'raaf (7), al-Hijr (15), al-Israa' (17), al-Kahfi (18), Thaa-Haa (20) dan Shaad (38). Malaikat yang patuh tanpa syarat pada perintah Allah ta'ala, Iblis dengan kesombongannya dan manusia yang Allah ta'ala muliakan.
Tatkala Iblis membangkang dan tidak mau melaksanakan perintah Allah ta'ala untuk bersujud kepada nabi Adam bersama-sama malaikat.
"(Ingatlah) Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat : "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah". (71). Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya roh-(ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan sujud kepadanya. (72) Lalu seluruh malaikat-malaikat itu sujud semuanya, (73). kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang yang kafir" (74)
(QS. Shaad (38) : 71-74). 
Simak juga al- Baqarah (2) : 34; al-A'raaf (7) : 11; al-Hijr (15) : 28-31; al-Israa' (17) : 61; al-Kahfi (18) : 50 dan Thaa-Haa (20) : 116.

Sombong, itulah yang menjadi sebab dan yang menghalangi Iblis buat turut bersujud melaksanakan perintah Allah ta'ala itu. Ditampakkan bahwa kesombongan adalah pembuka pintu paling lebar buat keluar dari Islam dan ta'at.
Ketika Allah ta'ala tanya ke-engganannya sujud pada nabi Adam, Iblis menjawab dengan kalimat penuh kecongkakan dan kesombongan.
"Allah berfirman : "Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?" (75). Iblis berkata : "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanagh"." (76).
(QS. Shaad (38) : 75-76). 
Simak juga al-A'raaf (7) : 12 dan al-Hijr (15) : 32-33

Kesombongan selalu mengantarkan kepada salah berpikir. Iblis tidak mau melaksanakan perintah Allah ta'ala meniarap sujud kepada manusia sebagai bentuk penghormatan.
Akhirnya Allah ta'ala pun mengusir Iblis dari syurga.
"Allah berfirman : "Kaka keluarlah kamu dari syurga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir", (77). Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan". (78).
(QS. Shaad (38) : 77-78).
Simak juga al-A'raaf (7) : 13; al-Hijr (15) : 34-35 dan al-Israa' (17) : 62-65.

Pengusiran membuat kedengkian Iblis memuncak menjadi dendam. Bahkan dia tidak hendak mengubah perangai buruknya menjadi lebih baik, bahkan hendak meneruskan dosanya dengan melepas dendam yang menggunung dalam dirinya.
Sekali lagi, Iblis keluarkan karakternya; ngeyel, pembangkang dan tak suka dengan orang yang berbuat kebaikan. Sejak peristiwa tersebut, Iblis dan syaithan dianggap sebagai sumber dan lambang pendurhakaan kepada Allah ta'ala.
"Iblis berkata : "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan". (79). Allah berfirman : "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, (80) Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)". (81). Iblis menjawab : "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, (82). kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis diantara mereka". (83).
(QS. Shaad (38) : 79-83). 
Simak juga al-A'raaf (7) : 14-17 dan al-Hijr (15) : 36-42.

Allah ta'ala kabulkan permohonan Iblis tersebut. Tentu akan timbul pertanyaan dalam benak orang lemah jiwanya yang masih goyang imannya. Mengapa Tuhan kabulkan permintaan si Iblis, padahal Tuhan Maha Pengasih, Penyayang dan Pelindung bagi hamba-Nya.
Allah kabulkan permohonan si Iblis karena Tuhan Maha Kuat, Maha Perkasa yang kekuatannya tidak berbatas. Sedangkan kekuatan Iblis dan Syaithan itu berbatas, sebagai mana Allah firmankan : "Sesungguhnya tipudaya syaithan itu adalah lemah". (QS. an-Nisaa' (4) : 76).
Iblis mengakui bahwa dia tak sanggup melepaskan diri dari murka Allah ta'ala. Dia bersumpah akan mempergunakan segala tipudayanya untuk menyesatkan manusia lewat pikiran; melalui pembuluh nadi manusia; mengacaukan perasaan, sentimen dan emosi; menyusupi hawa nafsu mendorong syahwat perut dan faraj untuk memuaskan hawa nafsu yang jahat.
Iblis pun meletakkan pengecualian karena dia merasa tidak berani mendekati hamba-hamba yang telah Allah ta'ala sucikan, padahal Allah ta'ala bebaskan Iblis dengan segenap pasukan kavaleri dan infantri (lihat QS. al-Israa' (17) : 64) untuk melakukan tipudaya.
Adapun tentang siapa orang yang disucikan, yang Iblis tidak berani mendekatinya Allah ta'ala lukiskan dalam QS. al-Israa' (17) : 199-201.
Dan Allah ta'ala menghinakan Iblis dan pengikutnya serta mengekalkan mereka dalam Jahannam.
"Allah berfirman : "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan" (84). Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan orang-orang yang mengikuti kamu diantara mereka semuanya". (85)
(QS. Shaad (38) : 84-85).
Simak juga al-A'raaf (7) : 18 dan al-Hijr (15) : 43-44

Allah ta'ala mengingatkan bahwa akibat dari perbuatan Iblis dan pengikutnya yang merusak, kelak balasannya adalah api neraka.
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979.
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXIII, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Yayasan Pustaka Islam Surabaya 1980, halaman 297-310. 

Ucapan Talbiah

Dahulu Zainal Abidin apabila bertalbiah, muka beliau memucat, beliau pun gemetar dan tidak dapat melanjutkan talbiahnya. Ketika ditanya kenapa demikian, beliau menjawab, “Aku khawatir balasan talbiahku adalah, “Laa labbaika wa laa sa’daika” (kamu tak dipanggil dan kamu tak diterima)

Dr. Aziz bin Farhan al-‘Unizi, ulama Uni Emirat Arab, Mudir salah satu markas dakwah di Dubai. (Twitter : @azizfrhaan) - Twit Ulama 

Senin, 01 Januari 2018

Persediaan dari Allah Bagi Kaum Mu’minin di Sorga (16)

Shuhaib r.a. berkata : Rasulullah bersabda : Jika ahli sorga telah masuk ke sorga, maka Allah berfirman : Apakah kamu suka saya tambahkan? Jawab mereka : Tidakkah telah kau putihkan wajah kami, tidakkah telah Kau masukkan kami ke dalam sorga, tidakkah telah kau selamatkan kami dari neraka. Maka Allah membuka tirai hijab-Nya, hingga terlihat kepada mereka. Maka tidak ada suatu yang lebih mereka sukai daripada melihat ke wajah Tuhan itu. (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 667.

Larangan Bila Tanpa Keperluan

Dahulu di zaman fitnah, para salafussalih melarang untuk menyebarkan setiap mafsadat dan fitnah pula menyebar-nyebarkannya tanpa keperluan.
Betapa perlunya kita dengan hal itu untuk menolak mafsadat dan keburukan.

Dr. Ahmad bin Hamd Jailani, Murid Syaikh Ibnu Baz, da’i Badan Penanggulangan Teroris Saudi, pernah ke Indonesia Januari 2013. (Twitter : @ahmedjelin) - Twit Ulama