"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 10 November 2017

Zalim dan Dizhalimi

Imam Syafi’i رحمه الله mengatakan, “Ada satu ayat dalam al-Qur'an yang menjadi panah yang menusuk orang-orang zhalim dan pengobat hati orang-orang yang dizhalimi”.
“Apa itu?” kata orang-orang.
Yaitu firman Allah : “Dan Rabbmu -Allah- tidak akan lupa" (QS. Maryam : 64)”

Syaikh Fahd Washil al-Muthairi, Imam Masjid al-Kabir, Kuwait. (Twitter : @FahadAlMoteary) - Twit Ulama 

Kamis, 09 November 2017

Mohon Nikmat dan Amal yang Diridhoi

Di surat an-Naml (27) ayat 19;

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصّٰلِحِينَ
“Robbi auzi’nii an asykura ni’matakal latii an’amta ‘alaiyya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhaahu wa adkhilnii birohmatika fii ‘ibaadikash-shoolihiin”.

Artinya :
Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu  yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.

Keterangan :
Dikisahkan ketika nabi Sulaiman a.s. diberikan tiga pilihan; harta, pangkat dan ilmu, maka beliau memilih ilmu. Dengan ilmu beliau bisa memahami pembicaraan binatang, burung, semut dan lain-lain. Dengan ilmu pula nabi Sulaiman a.s. mendapatkan kerajaan dan kekayaan. Oleh sebab nikmat yang banyak itu nabi Sulaiman a.s. berdo’a seperti tersebut supaya tetap bersyukur.
Dan menurut keterangan ahli tafsir, inilah do’a yang diucapkan nabi Sulaiman a.s. sesudah memperoleh kerajaan yang besar dari Allah ta’ala. (al-Baghawy 5 : 150).
------------------------
Al-Quraan dan Terjemahannya, Departeman Agama RI, Pelita II/1978/1979, halaman 595.
Pedoman Dzikir dan Do’a, Prof Dr. T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Penerbit PT. Bulan Bintang Jakarta, cetakan kesepuluh 1987, halaman 367.

Dikatakan Ulama Sejati

Seorang ulama yang sejati bukanlah seorang yang lancang, dia tidak menyandarkan setiap yang dia katakan adalah perkataan Allah maupun Rasul-Nya kecuali memang benar-benar ada nashnya.
Adapun yang berupa hasil ijtihadnya, dia menyandarkan pada dirinya sendiri diiringi dengan istighfar (apabila ada kesalahan pada ijtihadnya –pent)
 
Dr. Muhammad Hisyaam Thaahiri, mendapatkan gelar Doktor dari Fakultas Akidah Universitas Islam Madinah, Imam dan Khotib di Kementrian Wakaf Kerajaan Arab Saudi. (Twitter : @dr_abusalah) - Twit Ulama 

Rabu, 08 November 2017

Manfaat Cendawan

Sa’id bin Zaid r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah bersabda : Cendawan itu sebagian dari alman dan airnya obat mata. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 649.

Sahabatku Yang Kucintai!

Shalat Dhuha seimbang dengan 360 sedekah, dan sekarang (ketika matahari mulai terik –pent) adalah waktu yang afdhal untuk mengerjakannya, maka bersegeralah shalat sebanyak yang mudah bagi Anda, semoga Allah memudahkan Anda tuk melakukannya dan jangan lupa mendoakan saudara-saudara Anda di Suriah.

Dr. Muhammad at-Turki, Dosen Ilmu Hadits Universitas Ibnu Saud. (Twitter : @malturki) - Twit Ulama 

Selasa, 07 November 2017

Musibah Yang Besar

Musibah yang terbesar, adalah musibah yang menimpa agama. Musibah itu semakin besar lagi, apabila orang yang tertimpa tidak menyadarinya! Ya Allah, jangan Engkau jadikan musibah kami dalam agama kami.

Dr. Riyadh al-Musaimiry, Pengajar di Universitas Ibnu Su'ud KSA. (Twitter : @@Dr_almosimiry) - Twit Ulama 

Nikmat Dengan Disyukuri

Ali bin Abi Thalib رَضِيَ اللََّهُ عَنْه berkata, “Nikmat itu harus diiringi dengan syukur, dan rasa syukur kan membuat bertambahnya nikmat. Syukur dan bertambahnya nikmat kan selalu berjalan beriringan. Bertambahnya nikmat dari Allah tak kan terputus sampai rasa syukur seorang hamba terputus"

Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Muhaisini, Imam Masjid al Rajhi, Mekkah. (Twitter : @almohisni) - Twit Ulama 

Senin, 06 November 2017

Kisah Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ismail عليه السلام

Ibn Abbas r.a. berkata : Ibrahim عليه السلام membawa Ibu Isma’il dan putranya (Isma’il) yang masih menetek, ke Mekkah dan ditempatkan di dekat Ka’bah di bawah suatu pohon yang besar di atas zamzam di sebelah atas dari Masjidil-haram, yang mana ketika di Mekkah belum ada manusia atau air. Hanya ditinggali kantongan tempat kurma dan setempat air untuk minum, kemudian berjalan terus, maka dikejar oleh ibu Isma’il sambil ditanya : Hai Ibrahim, kemanakah kau akan pergi dan kau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia ini, pertanyaan ini diulangi beberapa kali oleh Ibu Isma’il, tetapi Ibrahim tidak menjawab atau menoleh kepadanya, hingga ditanya : Apakah Allah yang menyuruh kamu demikian? Jawab Ibrahim : Ya. Berkata Ibu lsma’il : Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami, kemudian ia kembali melihat anaknya, dan Ibrahim berjalan terus hingga sampai ke belokan Tsaniyah di tempat yang tidak terlihat oleh Ibu Isma’il, maka ia menghadap ke arah Ka’bah lalu berdo’a sambil mengangkat kedua tangannya : Robbi inni askantu min dzurriyati biwadin ghoiri dzi zar’in ‘inda baitikal muharram, robbana liyuqimushsholata faj’al af’idatan minannasi tahwi-ilaihim warzuqhura minastsamarati la’allahum yasykurun. (Ya Allah saya telah menempatkan anak cucuku di lembah yang kering di dekat rumahmu yang mulia, ya Tuhan semoga mereka tetap mendirikan sholat, maka jadikan hati orang-orang cenderung ke sana, dan berikan mereka buah-buahan supaya mereka bersyukur). Ibu Isma’il selalu meneteki Isma’il dan minum dari air yang ada hingga habislah air yang di dalam tempat, dan mulai terasa haus, dan haus juga anaknya. Dan ketika ia melihat putranya berbalik-balik tidak tahan melihat putranya demikian rupa, maka ia pergi naik ke atas shofa dan berdiri di atasnya sambil melihat ke arah jalanan kalau-kalau melihat seorang, tetapi tidak melihat seorangpun. Kemudian turun dari shofa hingga apabila telah sampai ke lembah agak keras jalannya walau bagaikan yang memaksa diri hingga naik ke atas Marwah dan berdiri di atasnya untuk melihat kalau-kalau ada orang, tetapi tidak melihat seorangpun. Kemudian turun dari Marwah hingga apabila telah sampai ke lembah agak keras jalannya walau bagaikan yang memaksa diri, hingga naik di atasnya Shofa dan berdiri di atasnya melihat kalau-kalau ada orang, tetapi tidak melihat seorangpun, demikianlah berulang-ulang ia berlaku demikian hingga tujuh kali. Ibn Abbas berkata : Bersabda Nabi : Sebab itulah berjalan (ibadah Sa’i di waktu berhajji) di antara Shofa dan Marwah tujuh kali. Dan ketika naik di Marwah untuk ketujuh kalinya, tiba-tiba mendengar suara maka ia tegur dirinya : Diam, kemudian diperhatikan terdengar pula suara itu, maka disambut : Suaramu telah terdengar kalau-kalau engkau ada membawa air, maka tolonglah kami. Mendadak Malaikat menggorek di dekat kakinya dengan telapak kakinya ke tanah hingga keluarlah sumber air, maka Ibu Isma’il berusaha membatasi air dan menyeduk daripadanya untuk mengisi timbanya, dan air terus menyumber dengan derasnya. Ibn Abbas berkata : Bersabda Nabi : Semoga Allah tetap merahmati ibu Isma’il, andaikan ia membiarkan zamzam dan tidak dibatasinya tentu zamzam akan merupakan sumber yang sangat besar bantuannya. Maka minumlah ibu Isma’il dan dapat meneteki anaknya. Dan Malaikat itupun berkata : Kamu jangan kuatir sia-sia dan kecewa, karena di sini ada Baittullah yang akan dibangun oleh puteramu ini bersama ayahnya dan Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Ka’bah ketika itu masih merupakan tanah yang agak tinggi. dimana tiap air bah melanda di daerah itu, jalan di kanan kirinya. Kemudian tiba di situ suatu rombongan dari suku Jurhum yang datang dari arah Kada’ dan berhenti di kota bawah Makkah. Kemudian mereka melihat ada burung, mereka berkata : Ini burung menunjukkan ada air, padahal sepanjang pengetahuan kami di sini tidak ada air, maka mengirim satu dua utusan penyelidik yang akhirnya bertemu dengan ibu Isma’il yang di dekat sumber air itu, maka kembali dua utusan itu memberitahu kepada rombongan, maka pergilah semuanya ke tempat di dekat ibu Isma’il sambil berkata : Bolehkah kami turun di sini. Jawab ibu Isma’il : Boleh, tetapi kamu tidak berhak menguasai air. Jawab mereka : Baiklah. Ibn Abbas berkata : Bersabda Nabi : Ibu Isma’il mendapat yang demikian lebih senang sebab suka bergaul, maka turunlah semua rombongan itu hingga akhirnya banyak yang pindah ke daerah itu, hingga merupakan beberapa keluarga dan mulai besarlah putranya dan belajar bahasa Arab dari mereka, bahkan sangat mengagumkan mereka ketika bertambah besar, dan setelah dewasa mereka kawinkan seorang gadis mereka. Dan wafatlah ibu Isma’il. Kemudian sesudah Isma’il kawin, datanglah Ibrahim untuk melihat anaknya yang telah ditinggalkan begitu lama, dan bertepatan Isma’il sedang pergi memburu hingga tidak bertemu dengan Isma’iI, maka bertanya kepada isterinya? Jawab isterinya : Pergi memburu (mencari) rizqi untuk kami. Kemudian ditanya tentang keadaan penghidupan mereka. Jawab isteri Isma’il : Kami dalam kesukaran, dan mengeluh tentang keadaan sehari-harinya. Maka Ibrahim berkata : Bila datang suamimu sampaikan salam saya kepadanya, dan katakan kepadanya supaya merubah cagak pintu rumahnya. Dan setelah pergi Ibrahim, datanglah Isma’il yang seolah-olah merasa ada apa-apa di rumah. Maka bertanya kepada isterinya : Apakah ada orang datang? Jawabnya : Ada orang tua begitu-begitu sifatnya, menanyakan kami tentang kau, dan saya katakan pergi memburu, dan tanya tentang penghidupan kami : Saya jawab : Bahwa kami dalam kesukaran. Isma’il bertanya : Apakah ada pesan-pesan daripadanya? Jawabnya : Ya kirim salam padamu dan menyuruh kau merubah cagak pintu rumah. Berkata Isma’il : Sebenarnya orang tua itu adalah ayahku, dan ia menyuruh saya menceraikan kau,maka kini kau pulanglah ke rumahmu dan dicerainya. Kemudian Isma’il kawin dengan wanita lain, dan setelah tinggal beberapa lama datang kembali Ibrahim, dan tidak menemukan Isma’il, maka masuk kepada isterinya, dan bertanya : Jawabnya : Ia keluar mencari rizqi untuk kami. Kemudian ditanya : Bagaimana penghidupan mereka. Jawabnya : Alhamdulillah kami serba cukup. Lalu ditanya : Apakah makanan mereka? Jawabnya : Daging. Apakah minuman mereka? Jawabnya : Air. Maka Ibrahim berdo’a : Allahumma barik lahum fillahmi walma’i. Bersabda Nabi : Ketika itu di Mekkah belum ada tanaman dan andaikan ada tentu dido’akan pula oleh Nabi Ibrahim. Maka kedua makanan itu tidak pernah sunyi rumah di Mekkah daripadanya. Dalam lain riwayat : Ketika Ibrahim bertanya : Jawabnya : Isma’il sedang pergi memburu, kemudian dipersilahkan masuk makan dan minum, maka ditanya apakah makanan dan minumannya? Daging dan air, maka berdo’a Ibrahim : Allahumma barik lahum fi to’amihim wa syarabihim. Nabi Muhammad bersabda : Itulah berkat do’a Ibrahim. Maka bila datang suamimu, sampaikan salam saya dan suruhlah menetapkan cagak pintunya. Kemudian datang Isma’il bertanya : Apakah ada tamu? Jawabnya : Ya. Seorang tua yang bagus sopan, bertanya tentang kau, dan saya beritahu dan tanya tentang penghidupan kami saya katakana : Bahwa kami Alhamdulillah, dalam keadaan selamat dan kecukupan, ditanya oleh Isma’il : Apa ada pesan-pesan? Jawabnya : Ya kirim salam dan menyuruh menetapkan cagak pintu rumahnya. Berkata Isma’il : Itu ayahku dan kau cagak pintu dan ia menyuruh saya tetap dengan kau. Kemudian setelah beberapa lama datang kembali Nabi Ibrahim, ketika Nabi Isma’il sedang membuat anak panah di bawah pohon yang besar di dekat zamzam dan ketika melihat Ibrahim datang ia segera bangun memeluk orang tua sebagaimana kebiasaan anak dan ayah jika lama tidak bertemu. Ibrahim berkata : Hai Isma’il Allah menyuruh saya dengan suatu perintah Isma’il berkata : Laksanakanlah perintah Tuhanmu. Berkata Ibrahim : Kau suka membantu pada saya? Jawab Isma’il : Saya bersedia membantu kepadamu. Berkata Ibrahim: Allah menyuruh saya membangun di situ (sambil menunjuk ke tanah yang agak tinggi) sebuah rumah. Dan ketika itulah mulai pembangunan Ka’bah dengan menegakkan cagak tiangnya, kemudian Isma’il tukang mengangkat batu dan Ibrahim yang membangun hingga tinggi bangunannya, baru Isma’il membawa satu batu untuk berdirinya Ibrahim maka berdirilah Ibrahim di atas batu itu, dan Isma’il terus memberikan batu pada Ibrahim untuk meneruskan bangunannya, sambil berdo’a keduanya : Robbana taqabbal minna innaka antas samiul aliem. Dalam lain riwayat : Ibrahim keluar membawa anaknya (Isma’il) dan ibunya, dengan membawa ember tempat air, dan ibu Isma’il selalu minum dari ember itu hingga dapat meneteki anaknya, hingga sampai di Mekkah, dan disana diletakkan di bawah pohon yang besar, dan kembalilah Ibrahim, maka diikuti oleh ibu Isma’il hingga sampai Ka’bah maka dipanggil oleh ibu Isma’il: Ya Ibrahim kepada siapa kau tinggalkan kami di lembah ini? Jawab Ibrahim : Kepada Allah. Berkata ibu Isma’il : Saya rela dengan pemeliharaan Allah, maka terus minum dari ember itu hingga habis dan ketika telah habis ia berkata : Lebih baik saya pergi mencari kalau-kalau ada air atau ada orang membawa air. Maka pergilah naik ke atas Shofa dan melihat ke kanan ke kiri, kemudian dari Shofa berjalan cepat menuju ke Marwah, dan berbuat demikian berulang-ulang kemudian Ia berkata : Coba-coba saya akan melihat bagaimana keadaan anakku, maka dilihatnya tetap bagaikan anak yang akan mati karena haus. Maka tidak sampai hati melihat keadaan anaknya itu ia pergi pula naik di atas Shofa melihat-lihat kalau ada orang yang dapat diminta bantuan air, kemudian turun menuju ke Marwah dan ketika telah genap sa’i itu tujuh kali tiba-tibi ada suara maka disambut oleh ibu Isma’il: Kalau kau ada kebaikan, maka berilah kami air. Tiba-tiba Jibril menggorek dengan tumitnya ke tanah, maka memancar air. Maka terkejutlah ibu Isma’il hingga ia mengurung (membatasi) airnya. (HR. Buchary).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 640-649.

Cara Mengokohkan Ikatan

Dengan ketaatan akan didapatkan keridhaan Allah. Dengannya pula akan didapatkan kebaikan dan ketinggian derajat. Maka kokohkanlah ikatanmu dengan Allah.

Dr. Shalih As-Sulthan, Dosen Fakultas Syariah Universitas Al-Qashim, Saudi Arabia. (Twitter : @_salehalsultan) - Twit Ulama 

Minggu, 05 November 2017

Kegembiraan Di Waktu Fajar

Sebuah kaum yang mencintai Rabb mereka, Rabb pun mencintai mereka. Mereka rindu dengan Rabb mereka, Rabb mereka pun rindu dengan mereka.
Shalat subuh, adalah permulaan hari yang terbaik bagi kita.
Shalatlah, dan rasakan nikmat surga dunia.

Dr. Hasan al-Husaini seraong Da’i dari Bahrain, anggota majelis ulama negara-teluk teluk.(Twitter : @7usaini) - Twit Ulama 

Sabtu, 04 November 2017

Insan Terkemuka di Hari Qiyamat

Abu Hurairah r.a. berkata : Kami bersama Rasulullah dalam suatu undangan, maka dihidangkan kepadanya daging paha kambing yang memang kesukaan Nabi dan ketika ia menggigitnya berkata : Sayalah yang terkemuka dari semua orang pada hari qiyamat. Tahukah kamu mengapakah itu? Allah mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan terakhir dalam suatu lapangan, hingga dapat terlihat semua dan terdengar semua dan matahari telah dekat pada mereka, hingga manusia telah risau yang tidak terderita rasanya. Maka orang-orang mulai berkata : Tidakkah kamu fikirkan penderitaan kami ini, tidakkah diusahakan siapakah yang memberikan syafa’atnya kepada Tuhan. Maka berkata sebagian : Ayah kami Adam. Maka pergilah mereka kepada Adam : Hai Adam engkau ayah manusia, Allah telah menjadikan kau dengan tangan-Nya, dan meniupkan kepadamu dari ruh dan menyuruh Malaikat bersujud dan menempatkan kau dalam sorga. Tidakkah kau suka memberikan syafa’at kepada Tuhan untuk kami, tidakkah kau lihat bagaimana penderitaan kami ini? Jawab Adam : Tuhanku kini telah murka yang belum pernah murka semacam ini dan Ia telah melarang saya dari pohon, mendadak saya langgar, diriku, diriku, diriku (nafsi, nafsi, nafsi), lebih baik kamu pergi ke lain aku, pergilah kepada Nuh. Maka pergilah rombongan itu kepada Nabi Nuh dan berkata : Hai Nuh engkau pertama utusan Allah ke bumi dan Allah menamakan kau hamba Syakur (sangat bersyukur) tidakkah kau perhatikan keadaan kami ini, tidak sukakah kau membenikan syafa’atmu kepada kami ini? Ja’wab Nuh : Tuhan telah murka yang belum pernah murka seperti ini, dan do’a yang diberikan Allah untukku telah saya pergunakan membinasakan kaumku, Nafsi, nafsi, pergilah pergilah kepada Ibrahim. Maka mereka pergi kepada Ibrahim, dan berkata : Hai Ibrahim engkau Nabiyullah, Kholilullah dan ahli bumi, berikan pembelaan syafa’atmu untuk kami menghadap kepada Tuhan, tidakkah kau lihat keadaan kami ini? Jawab Ibrahim : Tuhanku kini telah murka, yang belum pernah murka seperti ini, dan saya telah tiga kali berdusta. Nafsi, nafsi, nafsi pergilah kamu kepada Musa. Maka pergilah kepada Musa : Hai Musa, engkau utusan Allah, Allah telah mengutamakan kau dengan risalah dan bicara-Nya, tolonglah berikan syafa’atmu untuk kami kepada Tuhan, tidakkah kau perhatikan keadaan kami ini? Jawab Musa : Tuhanku telah murka yang belum pernah murka seperti ini, dan saya telah membunuh jiwa yang tidak diperintahkan kepada saya, nafsi,. nafsi, nafsi. Pergilah kamu kepada Isa. Maka pergilah kepada Isa : Hai Isa, engkau Rasulullah dan kalimatullah yang telah diturunkan kepada Maryam dan kau telah dapat berbicara sejak dibuaian, berilah syafa’at pertolonganmu kepada Tuhan untuk kami. Jawab Isa : Tuhanku, kini telah murka yang belum pernah murka semacam ini, nafsi, nafsi, nafsi. Pergilah kamu kepada Muhammad, maka mereka datang kepadaku berkata : Hai Muhammad engkau utusan Allah dan penutup dan para Nabi, dan telah diampunkan dosamu yang lalu dan yang akan datang, berikan pertolongan syafa’atmu untuk menghadap kepada Tuhan bagi kami, tidakkah kau perhatikan keadaan kami ini. Maka saya pergi ke bawah Arsy lalu bersujud, dan Allah mengilhamkan kepada saya berbagai pujian yang belum pernah saya membaca atau mengucapkannya. Kemudian diperintahkan kepadaku : Ya Muhammad angkatlah kepalamu dan mintalah akan diterima, dan berilah syafa’atmu, maka saya bangun berkata : Ummati, ummati ya robbi (Ummatku, hai Tuhan, Ummatku hai Tuhan). Maka diperintahkannya : Ya Muhammad, masukkan dari ummatmu yang tiada dihisab ke sorga dari sebelah kanan, dan dan lain-lain pintu bersama lain-lain orang (ummat). Kemudian Nabi bersabda : Demi Allah, yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya antara dua ambang pintu sorga itu bagaikan jarak antara Makkah dan Hajar atau Makkah dan Bushro. (HR. Buchary dan Muslim).

Pertolongan syafa’at kepada Tuhan berarti : Pertolongan menghadap kepada Tuhan untuk memintakan pembebasan bagi ummat manusia yang sedang menderita itu.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 636-640.