"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 05 Juni 2017

Ancaman Bagi Pemimpin

 إن الذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير مااكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وأثما مبينا

“Dan orang-orang yang mengganggu serta menyakiti laki-laki dan perempuan yang beriman dengan perkataan atau perbuatan yang tidak tepat dengan suatu kesalahan Yang dilakukannya, maka sesungguhnya mereka telah memikul kesalahan menuduh secara dusta dan berbuat dosa yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab : 58).

Ayat tersebut merupakan ancaman bagi pimpinan yang membunuh keinginan dan kreatifitas para pegawai mereka.

Dr. Hayat Said Baakhdhar, dosen Universitas Ummul Quro, Mekkah. Ketua Akademi Bahasa Arab untuk orang non-Arab. (Twitter : @baakhdar) - Twit Ulama 

Minggu, 04 Juni 2017

Keutamaan dengan Ziarah

Ziarah kubur itu terdapat 3 macam :
  1. Yang disyariatkan yaitu ziarah kubur dengan maksud mengingat kematian, hari perhitungan, titian shirathal mustaqiim, balasan bagi penghuni surga dan neraka. Orang berziarah akan mendapatkan manfaat, demikian juga yang diziarahi akan mendapatkan manfaat dari doa penziarah.
  2. Untuk mencari berkah, yakni berziarah untuk mencari berkah dari orang-orang yang sudah dikubur dan mencari bekas-bekas mereka. Ini adalah bid’ah yang bisa mengantarkan kepada syirik dan menjadikan orang-orang mati tersebut sesembahan selain Allah.
  3. Untuk meminta doa dari mayit, maka ini termasuk kesyirikan sebagaimana banyak disebutkan dalam nash-nash.
Fadhilatus Syaikh Dr. Rabi' bin Hadi Al-Madkhali. (Twitter : @rabee_almadkhli) - Twit Ulama 

Sabtu, 03 Juni 2017

Haram Mengadakan Pembelaan (Syafa’at) dalam Suatu Hukum Had

‘Aisyah r.a. berkata : Bahwasanya bangsa Quraisy merasa bingung mengenai urusan wanita dari suku Makhzum yang telah mencuri, hingga mereka berusaha : Siapakah yang berani bicara memintakan ma’af kepada Rasulullah Lalu diberitahu : Tidak ada kecuali Usamah bin Zaid kesayangan Nabi . Maka maju Usamah membicarakan hal itu kepada Rasulullah . Maka Rasulullah bersabda kepada Usamah : Beranikah kau memberikan syafa’at atau pembelaan dalam suatu hukum had yang telah ditetapkan oleh Allah; kemudian Nabi berdiri berkhutbah : Sesungguhnya yang membinasakan ummat yang sebelum kamu dahulu itu, kalau seorang bangsawan mencuri dibiarkan, dan jika orang rendahan yang mencuri dijalankan hukum had. Demi Allah andaikan Fatimah putri Muhammad mencuri, tentu saya potong tangannya. (HR. Buchary dan Muslim).

Dalam lain riwayat : Maka berubahlah wajah Rasulullah ﷺ dan bersabda pada Usamah : Beranikah kau membela dalam suatu hukum had Allah. Usamah berkata : Ya Rasulullah mintakan ampun untukku. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan mendatangkan wanita itu dan dipotong tangannya.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 568-569.

Bagian Dari Kelezatan

Nikmat dan kelezatan itu ada berbagai macam, di antaranya nikmat yang khusus dirasakan oleh jasad, dan yang khusus dirasakan oleh ruh/jiwa dan nikmat yang dirasakan ruh inilah yang lebih besar. Di antara nikmat tersebut adalah nikmat mengunjungi kota Madinah.
Kita bisa melihat orang dengan kebangsaan dan bahasa yang berbeda-beda, dan Islam mempersatukan mereka di Masjid Nabawi. Banyak di antara mereka yang datang dari berbagai pelosok, semoga Allah memberi petunjuk kepadaku dan mereka dan memberi kekuatan kepada kita semua sampai kita menjumpaiNya.
Di masjid Nabawi kita bisa menjumpai seorang yang kira-kira usianya 80-an tahun, dengan kelemahan fisiknya, beliau masih semangat mengajarkan manusia tentang As-Sunnah, kemudian menjelaskan kitab-kitab yang membahas As-Sunnah di Masjid Nabawi, dialah Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.

Dr. Abdullah Al-Syurikah, Imam dan Khatib Masjid Ad-Duwailah, Kuwait. (Twitter : @dr_alshoreka) - Twit Ulama

Jumat, 02 Juni 2017

Akal, Mengetahui Akibat dan Mencegah Hawa Nafsu serta Menundukkannya

Di dalam buku “Ihya’ Ulumiddin” karya Imam al-Ghazali pada halaman 314 - 315 menuturkan bahwa gharizah (tabi’at) itu berpenghabisan sampai kepada mengetahui akibat dari segala hal dan mencegah hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan yang dekat dan menundukkannya. Apabila telah berhasil kekuatan ini, maka orang yang mempunyai kekuatan tersebut, dinamakan berakal, dimana majunya dan mundurnya adalah menurut yang dikehendaki pertimbangan mengenai akibat-akibatnya, tidak menurut hukum hawa nafsu yang dekat itu.
Ini juga adalah dari sifat-sifat khas manusia yang membedakan dia dari hewan yang lain.
-------------------------------------------
Ihya’ Ulumiddin Jilid 1, Imam al-Ghazali, Penerbit C.V. Faizan Jakarta, cetakan kesembilan 1986.

Menyebarkan Ilmu

Berkata Ibnul Jauzi رحمه الله;
من أحب أن لا ينقطع عمله بعد موته فلينشر العلم

"Barangsiapa yang senang agar amalannya tidak terputus walaupun setelah kematiannya maka hendaklah ia menyebarkan ilmu". [At Tadzkirah fil Wa'dz 55]
----------
Ma'had 'Umar bin Khattab Yogyakarta

Ketika Rasa Cinta Datang

Siapa yang mencintai sesuatu dia ‘kan banyak menyebut-nyebutnya.
 
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ وَ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ أَنْ تَمْلَأَ قَلْبِيْ حُبًّا لَكَ

Ya Allah bantulah kami untuk senantiasa berdzikir menyebut-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah untuk-Mu dan penuhilah hati kami dengan kecintaan-Mu.

Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al-‘Arifi, dosen di King Saud University (KSU), Riyadh, anggota Rabithah (Ikatan) Ulama Syari’ah. (Twitter : @MohamadAlarefe) - Twit Ulama   

Kamis, 01 Juni 2017

Berat Dosa (Haram) Budak Sahaya Lari dari Majikannya

Jarir r.a. berkata : Rasulullah bersabda : Tiap hamba sahaya yang lari dari majikannya berarti telah terlepas dari perjanjian (perlindungan). (HR. Muslim).

Jarir r.a. berkata : Bersabda Nabi : Jika lari orang hamba sahaya, maka tidak diterima sholatnya. (HR. Muslim).

Dalam lain riwayat : Maka telah kafir.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 567.

Pe-nasab-an yang Tak Berdasar

Di dalam al-Qur'an Surat Ash-Shaaffat (37) : 158 ; Allah سبحانه وتعالى menjelaskan bahwa

وَجَعَلُوا۟ بَيْنَهُۥ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۚ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ
Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dan jin (malaikat). Dan sungguh jin (malaikat) mengetahui bahwa sesungguhnya mereka (orang-orang musyrik) akan dihadirkan (ke neraka), (158).

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa ayat ini (QS. 37 : 158) turun sebagai bantahan kepada tiga suku Quraisy, yaitu Sulaim, Khuza'ah dan Juhainah yang menganggap bahwa Allah dan Iblis itu bersaudara. (HR. Juwaibir).
Dalam riwayat lain yang bersumber dari Mujahid dikemukakan bahwa pembesar-pembesar Quraisy berkata : "Malaikat itu puteri-puteri Allah". Bertanyalah Abu Bakr ash-Shiddiq : "Kalau begitu siapakah ibu-ibunya?" Mereka menjawab : "Puteri-puteri pembesar jin". Berkenaan dengan peristiwa itu turunlah akhir ayat ini (QS. 37 : 158) yang menegaskan bahwa jin-jin itu akan dihadapkan di pengadilan Allah. (HR. al-Baihaqi).

Tafsir Ayat
QS. 37 : 158. "Dan mereka mengadakan hubungan nasab antara Allah dan jin (malaikat). ...". Menurut suatu riwayat dari Mujahid, diantara kaum musyrikin itu mengatakan malaikat itu anak Allah. Lalu Abu Bakr ash-Shiddiq berkata : "Kalau begitu siapa ibunya?" Mereka menjawab : "Puteri-puteri pembesar jin". Seperti yang dituturkan dalam asbabun nuzul tersebut diatas. ".... Dan sungguh jin (malaikat) mengetahui bahwa sesungguhnya mereka (orang-orang musyrik) akan dihadirkan (ke neraka),". Artinya ialah bahwa jin sendiri sudah lebih dahulu tahu, lebih dahulu mengerti bahwa mereka adalah sejenis makhluk Allah yang di hari qiyamat kelak mereka pun akan dihadirkan dihadapan Allah, akan dihisab dihitung juga amal baik dan amal jahatnya, dan akan mendapat ganjaran yang setimpal. Tidak ada jin yang mengakui bahwa mereka bermenantu Allah, bercucu malaikat.
---------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' XXIII, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit Yayasan Pustaka Islam Surabaya 1980, halaman 198.
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 421 - 422.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 895.

Golongan Yang Selamat

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah رحمه الله berkata, “Manusia yang paling berhak menjadi golongan yang selamat adalah Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah. Mereka tidaklah mempunyai figur yang diikuti habis-habisan selain Rasulullah ﷺ.”

Dr. Muhammad al-Hamuud an-Najdi, Doktor dalam bidang akidah, Imam dan Khotib di Masjid Shobaah An-Naashir. (Twitter : @alnajdi1) - Twit Ulama   

Piknik Dulu

Note Trip, 6 Ramadhan 1438 H. Kalimat-kalimat nyinyir "Peramal masa depan", "Penganut ideologi tertutup (self fullfilling propechy)", "Memang pernah piknik ke sana (sebuah kalimat penolakan akan akhirat)" atau apapun kalimat itu, jauh-jauh hari 15 tahun yang lalu sudah didengung dengungkan di akar rumput. Sepertinya bertujuan agar akar rumput terbiasa dengan kalimat tersebut. Tetapi itu salah, di sepanjang perjalanan dari warung makan ke warung makan. Jumlah yang tidak suka membicarakan itu atau lebih suka mengalihkan pembicaran saat tiba pada kalimat nyinyir terus bertambah.
Aku jadi teringat penjelasan ustadz Salim A.Fillah dalam tulisannya sebagai berikut :
Termaktub sebuah riwayat dalam Kitab Al Adzkiyaa' karya Al Imam Abul Faraj Ibnul Jauzy (508-597), Mufti Agung Madzhab Hanbali di masa Daulah 'Abbasiyah, bahwa Iblis pernah datang menemui Nabiyyullah 'Isa عليه السلام.
Berkatalah sang terlaknat, “Hai 'Isa! Bukankah engkau yakin, bahwa segala yang tak ditakdirkan oleh Allah, tidak akan menimpamu?” “Ya,” jawab Al Masih عليه السلام. “Kalau begitu, coba engkau terjun dari atas gunung ini. Kalau Allah menakdirkan selamat, ya pasti engkau akan selamat.” Dengan tenang, putra Maryam عليه السلام menjawab, “Hai makhluq terrajam! Sesungguhnya Allah berhak menguji para hamba-Nya. Tapi seorang hamba tidak punya hak sama sekali untuk menguji Allah!” Yakni menguji; apakah Dia menakdirkan begitu atau begini.
Segala puji bagi Allah yang merahasiakan ketetapan-Nya dari kita; agar kita mencitakan yang terbaik, mengharapkan yang terbaik, meniatkan yang terbaik, merencanakan yang terbaik, mengamalkan dengan sebaik-baiknya, dan bertawakkal sebaik-baiknya.
Maka makna bahwa Dia di sisi prasangka hamba-Nya adalah, "Barangsiapa merasa dirinya berdosa dan yakin bahwa Allah Maha Pengampun, niscaya Allah mengampuninya. Barangsiapa merasa bahwa dirinya hina dan yakin bahwa Allah Maha Mulia, niscaya Allah meluhurkannya. Barangsiapa merasa bahwa dirinya bodoh dan yakin bahwa Allah Maha Tahu, niscaya Allah memberinya ilmu. Barangsiapa merasa bahwa dirinya lemah dan yakin bahwa Allah Maha Kuat, niscaya Allah menguatkannya. Barangsiapa merasa dirinya faqir dan yakin bahwa Allah Maha Kaya, niscaya Allah mencukupinya."

Sungguh dalam diamku, dalam perjalanan mendengarkan celotehan akar rumput ataupun mereka yang berpenampilan akar rumput yang berkeliaran di warung makan tidak semua celotehan dimakan oleh pendengarnya, mereka lebih tahu posisi mereka di dunia ini, mereka tak perlu piknik dulu ke akhirat untuk sendiko dawuh nasehat ulama yang berpegang teguh pada al-Qur'an dan as-Sunnah, dan mereka akar rumput tahu persis kemana mereka akan pulang. Sungguh akar rumpun negeri tercinta Republik Indonesia ini, lebih Pancasilais, dari mereka yang mengaku-ngaku Pancasilais sejati.