"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 07 April 2017

Jalan yang Benar

Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 256, Allah سبحانه وتعالى menasehati orang beriman untuk mengingkari thaghut dan  beriman kepada Allah, dalam firman-Nya :

لَآ إِكْرَاهَ فِى الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِالطّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِاللَّـهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), (karena) sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (setan atau apa saja yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada buhulan tali yang kokoh yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (256).

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa sebelum Islam datang, ada seorang wanita yang selalu kematian anaknya. Ia berjanji kepada dirinya, apabila ia mempunyai anak dan hidup akan dijadikan yahudi. Ketika Islam datang dan kaum uahudi bani Nadlir diusir dari Madinah (karena penghianatannya), ternyata anak tersebut dan beberapa anak lainnya yang sudah termasuk keluarga Anshar, terdapat bersama-sama kaum yahudi. Berkatalah kaum Anshar : "Jangan kita biarkan anak-anak kita bersama mereka". Maka turunlah ayat tersebut diatas (QS. 2 : 256) senagai teguran bahwa tidak ada paksaan dalam Islam. (HR. Abu Dawud, Nasa'i dan Ibnu Hibban).
Dalam riwayat lain yang bersumber dari Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut diatas (QS. 2 : 256) berkenaan dengan Hushain dari golongan Anshar, suku Bani Salim bin 'Auf yang mempunyai dua orang anak yang beragama nasrani, sedang dia sendiri seorang Muslim. Ia bertanya kepada Nabi ﷺ : "Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan tetap ingin beragama nasrani?". Allah menjelaskan jawabannya dengan ayat tersebut diatas bahwa tidak ada paksaan dalam Islam. (HR. Ibnu Jarir).

Tafsir Ayat
"Tidak ada paksaan dalam agama (Islam), ...". Kalau anak itu sudah terang menjadi Yahudi, tidaklah boleh dia dipaksa memeluk Islam. Seperti hadits yang di riwayatkan Ibnu 'Abbas رضي الله عنهما tersebut diatas. "..., (karena) sungguh telah jelas jalan yang benar dari jalan yang salah. ...". Orang boleh mempergunakan akalnya buat menimbang dan memilih kebenaran itu, dan orang pun mempunyai fikiran waras untuk menjauhi kesesatan. ".... Maka barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (setan atau apa saja yang disembah selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang kepada buhulan tali yang kokoh yang tidak akan putus. ...". Agama Islam memberi orang kesempatan buat mempergunakan pikirannya yang murni guna mencari kebenaran. Asal orang sudi membebaskan diri daripada hanya turut-turutan dan pengaruh dari hawa nafsunya, niscaya dia akan bertemu dengan kebenaran itu. Apabila inti kebenaran sudah didapat, niscaya iman kepada Tuhan Allah mesti timbul, dan segala pengaruh dari yang lain, dari sekalian pelanggaran batas mesti hilang. Tetapi suasana yang seperti ini tidak bisa dengan paksa, mesti timbul dari keinsafan sendiri. ".... Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Didengarnya permohonan hamba-Nya minta petunjuk. Diketahui-Nya bahwa hamba-Nya  berusaha mencari kebenaran. Maka Allah bukakan pintu hidayah bagi hamba-Nya.
---------------
Bibliography :
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 84 - 85.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 77.
Tafsir Al-Azhar Juzu' 3, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), Penerbit PT. Pustaka Panjimas Jakarta, cetakan April 2001, halaman 21 - 25.

Kamis, 06 April 2017

Haram Mengatakan pada Seorang Muslim : “Hai Kafir”

Ibn Umar r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Jika seorang memaki pada kawannya : “Hai Kafir”, maka sungguh telah terkena salah satu : Kalau yang dikatakan itu memang demikian, kalau tidak maka kembali kepada diri yang mengatakan sendiri. (HR. Buchary dan Muslim).

Abu Dzarr r.a. telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : Siapa yang memanggil seorang dengan kalimat : "Hai kafir" atau "Musuh Allah", padahal yang dikatakan itu tidak demikian, maka akan kembali pada dirinya sendiri. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 543.

Ketika Mencintai Orang

Sebagian orang membenarkan orang-orang barat dan mendustakan Rasulullah ﷺ, mereka juga senang sekali quote orang-orang barat dan membenci hadits Rasulullah ﷺ.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah berkata, “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dia cintai”

Syaikh Prof. Dr Sa’ud bin Ibrahim al-Syuraim, Imam dan Khatib Masjidil Haram, Dosen Universitas Ummul Qura Mekkah. (Twitter : @saudalshureem) - Twit Ulama

Mohon Pertolongan Apabila Didustakan

Di surat al-Mu’minuun (23) ayat 26;
“Robbin shurnii bimaa kadz-dzabuun”

Artinya :
Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.

Keterangan :
Do’a ini semula dibaca oleh Nabi Nuh a.s. Karena selama beliau mengajak atau berdakwah kepada kaumnya selalu didustakan. Adapun pertolongan yang dipermohonkan oleh Nabi Nuh a.s. kepada Allah ialah membinasakan kaumnya sehabis-habisnya. Lihatlah do’a selanjutnya dari nabi Nuh a.s ; “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS. Nuh (71) : 26).
------------------------
Al-Quraan dan Terjemahannya, Departeman Agama RI, Pelita II/1978/1979, halaman 529.

Rabu, 05 April 2017

Taubat Berkelanjutan

Taubat bukan hanya untuk orang yang bermaksiat saja! Bahkan seorang mukmin harus terus menerus bertaubat.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, taubatlah kepada Allah dengan taubat yang nashuha” (QS. at-Tahrim: 8). Taubat nashuha : taubat yang sempurna dan sebenar-benarnya.

Dr. Muhammad al-Hamuud an-Najdi, Doktor dalam bidang akidah, Imam dan Khotib di Masjid Shobaah An-Naashir. (Twitter : @alnajdi1) - Twit Ulama

Selasa, 04 April 2017

Kesesatan Syiah

Orang Syiah Rafidhah, mengkafirkan Abu Bakar, Umar dan Utsman namun mereka ridha dan menjadikan pahlawan bagi Abu Lulu’ah yang seorang Majusi! Mereka mencela orang pilihan Rasulullah ﷺ dan mereka mengagungkan orang pilihan Khomeini!

Dr. Muhammad ad-Dahum, Doktor dalam bidang Fikih, Imam dan Khatib di Masjid di Kuwait.(Twitter : @AlDahoom77) - Twit Ulama

Larangan Berkata : "Kami Dihujani, karena Bintang Ini"

Zaid bin Khalid r.a. berkata : Ketika Rasulullah ﷺ sholat Subuh di Hudaibiyah yang malamnya telah turun hujan, maka tatkala selesai sholat Nabi menghadap pada orang-orang sambil bertanya : Tahukah kamu apakah firman Tuhanmu? Jawab Sahabat : Allah dan Rasulullah yang lebih mengetahui. Maka bersabda Nabi : Allah berfirman : Pagi-pagi hamba-Ku ada yang percaya dan ada yang kafir. Adapun yang berkata hujan karena rahmat dan kurnia Allah maka ia percaya kepada Aku dan kafir pada bintang, Adapun yang berkata : Hujan ini karena pengaruh bintang ini dan itu, maka itu kafir pada-Ku dan percaya pada bintang. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 542.

Senin, 03 April 2017

Tanda Kemunafikan

Tanda-tanda kemunafikan:
  1. Tak pernah sadar dengan hari akhirat,
  2. Tak bisa memahami hakikat kebenaran,
  3. Menuduh orang yang taat dengan kurang akal,
  4. Mendahulukan ridha manusia dibanding ridha Allah,
  5. Bersamaan dengan sifat-sifat itu, dia sangka bahwa dirinya adalah manusia yang paling mengerti dan memahami.

Dr. Sa’ad Asy-Syitsriy, Doktor dalam bidang Ushul Fiqh, pernah menjadi anggota Hai’ah Kibaril Ulama (Lembaga Ulama Senior di Saudi Arabia), kini menjabat dosen di King Saud University (KSU), Riyadh. (Twitter : @Dr_Alshathry) - Twit Ulama 

Minggu, 02 April 2017

Jangan Sombong!

Siapa yang sombong di hadapan Allah dengan sesuatu, Allah akan balas dia dengan apa yang disombongkannya.
Firaun, sombong dengan sungai yang mengalir di bawah negerinya, “Dan sungai ini, mengalir di bawah kakiku” (QS. az-Zukhruf : 51).
Maka Allah pun membuat dia tenggelam dalam air, “Lalu mereka ditelan laut yang menenggelamkan mereka” (QS. Thaha : 78)

Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi, ulama yang juga menjabat sebagai Peneliti Ilmiah di Departemen Masalah Islam di Riyadh, Arab Saudi. (Twitter : @abdulaziztarefe) - Twit Ulama 

Makruh Memaki Ayam

Zaid bin Kholid Aljuhany r.a. berkata : Rasulullah ﷺ bersabda : Jangan kamu memaki ayam jantan karena ia membangunkan untuk sholat. (HR. Abu Dawud).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 541.

Sabtu, 01 April 2017

Nikmatnya Bersyukur

Syukur dibangun diatas lima hal :
  1. Ketundukan kepada sang pemberi nikmat
  2. Cinta kepadanya
  3. Mengenali nikmatnya
  4. Memberikan pujian dengan nikmat tersebut
  5. Tidak menggunakan nikmat dalam hal yang dibenci oleh sang pemberi
(Ibnul Qayyim rahimahullah)

Dr. Abdul ‘Aziz alu Abdul Latif, dosen Jurusan Aqidah Universitas Al-Imam, anggota lembaga editorial dan pusat penelitian dan studi Majalah al-Bayan. (Twitter : @dralabdullatif) - Twit Ulama