"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 05 Februari 2016

Do’a-do’a (10)

Anas ra. berkata : Biasa Rasulullah s.a.w. membaca : Allahumma inni a’udzu bika minal’aj-zi wal kasali waljubni walharami wal bukhli wa a’udzu bika min adzabil qobri wa a’udzu bika min fitnatil mahya wal mamati, wa dlol’iddaini wa gholabatirrijal. (Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan malas, dari penakut dan tua, dan bakhil kikir, dan berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan berlindung kepada-Mu dari godaan hidup dan ujian mati, dan keberatan hutang dari ejekan orang-orang). (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 368-369.

Louveria Atkascha

Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (ファイナルファンタジータクティクス 獅子戦争 Fainaru Fantajī Takutikusu Shishi Sensō). Wife of King Ondorio III of Ivalice and true born sister to Duke Larg.  Louveria Atkascha (ルーヴェリア・アトカーシャ - Rūveria Atokāsha) became queen at tweenty years of age dan dia melahirkan 3 pangeran, 2 putranya berusia pendek, meninggal tak lama setelah dilahirkan, tinggallah Prince Orinus sebagai harapan penerus tahta. The king's ill health has left him distant from affairs of government, making the queen the defacto ruler of Ivalice.

—Chronicle Personae section, Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (c) 1997, 2007 Square Enix Co., Ltd.

Kamis, 04 Februari 2016

Kasih yang Tulus

Al-Wuddu adalah kasih sayang yang tulus dan lembut. Sebagai bagian dari cinta, al-wuddu lebih tepat disebut kasih sayang yang lembut. Menurut al-Jauhary, wadidu ar-rajula awadduhu wuddan, waddan mawaddatan artinya aku mencintainya.
Al-Widdu al-wadidi artinya al-maulud (orang yang dikasihi), jama'-nya awuddan, seperti kata qidhun aqduhun, dzi'bun adz'ubun. Sedangkan al-wadud artinya orang yang mencintai. Rajulun wudada merupakan penyangatan sifat.
Menurut pendapat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, al-wudud termasuk sifat Allah, yang berasal dari kata al-mawaddah. Ada perbedaan pendapat mengenai hal ini :
Pertama; Wadud berarti orang yang mencintai, seperti dharub yang berarti orang yang memukul, qatul yang berarti orang yang membunuh, na'um yang berarti orang yang tidur. Hal ini diperkuat dengan keberadaan fa'ul dalam sifat-sifat Allah, yang berarti melakukan, seperti ghafur yang berarti ghafir (yang mengampuni), syakur (yang bersyukur), shabur (yang sabar).
Kedua; wadudu yang berarti orang yang dicintai atau dikasihi. Begitulah menurut penafsiran al-Bukhary di dalam shahih-nya.

Pendapat pertama lebih tepat menggambarkan sifat Allah; al-wadud, karena kata ini menyertai kata al-ghafur seperti firman-Nya,
وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. al-Buruuj (85) : 14).

Juga menyertai kata ar-rahim seperti dalam firman-Nya.
إِنَّ رَبِّى رَحِيمٌ وَدُودٌ  ......
"... Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih". (QS. Huud (11) : 90).

Didalam kata ini terkandung rahasia yang lembut, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai hamba-Nya yang meminta ampun kepada-Nya, lalu Dia mengampuni dan juga mencintainya, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ   .......
".... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri". (QS. al-Baqarah (2) : 222).
Orang yang bertaubat merupakan kekasih Allah. Sementara itu, kasih sayang adalah cinta yang suci dan lembut.
---------------
Bibliography :
Al Qur'aan dan Terjemahannya, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Depag, Pelita II/ 1978/ 1979.

Raudhah al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqin; Ibnu Qayyim al-Jauziyyah; Penerbit Darul Falah Jakarta Timur, cetakan kesebelas : Jumadil Tsani 1423H (2002 M), halaman 28-29.

Memalsukan Taurat

Di dalam al-Qur'an surat al-Baqarah (2) : 79, Allah ta'ala mengancam dengan firman-Nya :

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هٰذَا مِنْ عِندِ اللَّـهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan, "Ini dari Tuhan", karena mereka hendak memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka itu, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan. (79)

Asbabun Nuzul
Dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa ayat ini (QS. 2 : 79) turun tentang ahli kitab yang memalsukan Taurat. (HR. an-Nasa'i).
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما dikemukakan bahwa turunnya ayat ini (QS. 2 : 79) tentang padri-padri bangsa yahudi yang mendapatkan sifat-sifat Nabi ﷺ tertulis dalam kitab Taurat yang berbunyi : Matanya seperti yang selalu memakai cela, tingginya sedang, rambutnya keriting, mukanya elok. Akan tetapi mereka hapus (kalimat tersebut dari Taurat), karena dengki dan benci serta menggantinya dengan kalimat : Badannya tinggi, matanya biru, rambutnya lurus. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Tafsir Ayat
QS. 2 : 79Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakan, "Ini dari Tuhan", karena mereka hendak memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. ...". Kitab Taurat mereka sendiri sudah ada, tetapi mereka tambah dengan penafsiran sendiri, membuat hukum ushul dan furu' pokok dan ranting. Setelah pekerjaan membuat kitab itu selesai mereka berkata bahwa ini adalah dari Tuhan. Disamakan dengan wahyu Ilahi yang tidak boleh diganggu-ganggu lagi. Mereka mencari keuntungan untuk diri, berbesar hati maulah membayar dengan uang berbilang atau dengan pangkat, kedudukan, kebesaran duniawi. Berapapun jumlah atau tinggi pangkat kedudukan, semuanya adalah harga yang sedikit, tidak ada harganya.  "... Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka itu,...", karena yang ditulis itu adalah palsu, karena mereka akan bertanggung jawab dihadapan Allah karena berbohong dan menipu manusia. "..., dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan". Memang orang yahudi mempunyai lagi disamping Taurat kitab agama yang bernama Talmud.
---------------
Bibliography :
Tafsir Al-Azhar Juzu' 1, Prof Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Hamka), diterbitkan oleh Yayasan Nurul Islam, cetakan ke-empat 1981, halaman 306 - 308. 
Asbabun Nuzul, KH Qomaruddin, Penerbit CV. Diponegoro Bandung, Cetakan ke-5, 1985, halaman 26 - 27.
Al Qur'an Terjemahan Indonesia, Tim DISBINTALAD (Drs. H.A. Nazri Adlany, Drs. H. Hanafie Tamam dan Drs. H.A. Faruq Nasution); Penerbit P.T. Sari Agung Jakarta, cetakan ke tujuh 1994, halaman 21.

Rabu, 03 Februari 2016

Qiyâs Ala Iblis

Pendahuluan

Almanhaj. Akal sehat adalah diantara sekian nikmat terbesar yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepada umat manusia. Dengannya kita bisa membedakan antara yang baik dari yang buruk, berguna dari yang berbahaya.
 
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan Allâh telah mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibumu, sedang kalian tidak mengetahui apa-apa, dan Allâh menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur. [an-Nahl/16:78]

Akan tetapi, sangat disayangkan, kenikmatan besar ini oleh sebagian orang tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Bahkan sebaliknya, mereka menggunakan akal pikirannya untuk mencampur adukkan kebaikan dengan keburukan serta mencampur adukkan suatu yang berguna dengan yang berbahaya. Mereka dengan sengaja dan penuh sadar menyamakan antara yang hina dengan yang mulia dan kebenaran dengan kebatilan. Dengan sikap mereka ini, akal sehat mereka menjadi mati dan tidak berguna, sehingga pembeda antara mereka dengan hewan ternak, yaitu akal sehat seakan telah sirna. Tidak heran bila mereka celaka di dunia dan sengsara di akhirat.
 
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Sungguh telah Kami campakkan ke dalam neraka kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka memiliki hati akan tetapi mereka tidak berfikir dengannya, mereka memiliki mata, akan tetapi mereka tidak melihat denganya, dan mereka memiliki pendengaran, sedangkan mereka tidak mendengarkan dengannya. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. [al- A’râf/7:179]

Melalui tulisan ini, saya mengajak Anda untuk mengenali beberapa bukti nyata dari penyalahgunaan akal, sehingga menghasilkan kesimpulan yang sesat nan menyesatkan. Besar harapan saya, anda dapat mengambil pelajaran dari kesalahan mereka.

Qiyâs Ala Iblis Biang Kehancuran
Ibnul Qayyim rahimahullah menegaskan, ”Para Ulama’ telah menegaskan bahwa makhuk pertama yang berdalil dengan qiyâs ialah Iblis. Tidaklah matahari dan bulan disembah melainkan karena praktek qiyâs yang tidak pada tempatnya. qiyâs semacam inilah yang diakui oleh para penghuni neraka setelah mereka masuk ke dalamnya sebagai kesalahan. Mereka berkata :
تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ﴿٩٧﴾ إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Sungguh kami dahulu bernar-benar dalam kesesatan yang nyata, karena kami telah menyamakan kalian dengan Rabb Penguasa semesta alam. [As-Syu’arâ’/26:97-98]

Dan Allâh Azza wa Jalla juga mencela pelakunya dengan berfirman :
 
ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
… Lalu orang-orang kafir menyamakan Rabb mereka dengan selain-Nya. [al-An’âm/6:1].

Maksudnya mereka menganalogikan Rabb dengan yang lain, menyamakan-Nya dengan yang lain dalam hal peribadahan. ………“Tidaklah terjadi kerusakan dan kebinasaan di muka bumi, melainkan akibat dari penggunaan qiyâs (analogi) yang salah. Bahkan dosa pertama yang dilakukan kepada Allâh tak lain dan tak bukan kecuali hasil dari qiyâs yang salah. Penerapan qiyâs semacam ini dari iblis telah menyebabkan penderitaan bagi nabi Adam dan anak keturunannya. Pendek kata, biang dari seluruh kehancuran di dunia dan akhirat adalah penerapan qiyâs yang salah.” [I’ilâmul Muwaqqi’în, 2/29]

Berikut beberapa contoh nyata dari qiyâs ala iblis yang telah mendatangkan kesengsaraan bagi umat manusia, baik di dunia atau di akhirat:

Qiyâs Ala Iblis Pertama : KEMULIAN DIPANDANG DARI ASAL KETURUNAN
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
 
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Allâh berfirman, "Apa yang membuatmu enggan untuk sujud (kepada Adam) ketika Aku perintahkan engkau ?" Iblis menjawab, "Aku lebih baik darinya, Engkau menciptakan aku dari api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.” [al A’arâf/7:12]

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan qiyâs yang dilakukan iblis ini dengan mengatakan, "Ucapan Iblis terkutuk “aku lebih baik darinya” adalah alasan yang lebih buruk dibanding kesalahannya ….. Iblis terkutuk memandang asal usul penciptaan dan melalaikan penghargaan besar yang diterima oleh Adam. Allâh Azza wa Jalla menciptakan Adam langsung dengan tangan-Nya dan meniupkan ruh ke jasadnya. Iblis telah salah dalam menerapkan qiyâs , karena ia menggunakan qiyâs guna menentang dalil.” [Tafsir Ibnu Katsîr, 2/248]

Syaikh Muhammad bin Amin as-Syinqithi rahimahullah berkata, “Iblis menganalogikan dirinya dan asal usul ciptaannya, yaitu api, serta ia juga menganalogikan Adam Alaihissallam dengan asal ucul ciptaannya, yaitu tanah. Dari analogi (qiyas) ini, Iblis menarik kesimpulan bahwa dirinya lebih mulia dibanding Adam Alaihissallam , sehingga tidak layak bila ia yang lebih mulia diperintah untuk sujud kepada Adam Alaihissallam . Iblis bersandarkan kepada qiyâs padahal ia dapat dalil tegas yang memerintahkannya untuk sujud kepada Adam Alaihissallam . Menurut ulama’ ahli ushul fiqih, qiyâs semacam ini disebut dengan qiyâs fasid i’itibâr (tidak pada tempatnya). [Adhwa'ul Bayân, 1/33]

Demikianlah pola pikir Iblis, kemuliaan dan harga diri selalu dikaitkan dengan asal usul keturunan atau nasab. Padahal kemulian yang sejati hanyalah terletak pada kedekatan hamba kepada pemilik segala kemuliaan yaitu Allâh. Allah Azza wa Jalla berfirman ;
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang paling mulia dari kalian ialah orang yang paling bertaqwa dari kalian.[al-Hujurat/49:13]

Bila demikian, relakah anda untuk meneruskan pola pikir Iblis terkutuk ini, yaitu dengan beranggapan bahwa kemulian bersumber dari suku, bangsa dan nasab ? Masihkah Anda beranggapan bahwa “darah biru” lebih tinggi kedudukannya dan lebih terhormat daripada yang “berdarah merah”? Simaklah petuah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini :
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Barang siapa yang amalannya tidak menyegerakannya (masuk surga) niscaya nasab keturunannya tidak dapat menyegerakannya. [Riwayat Muslim, no. 2699]

Imam Nawawi rahimahullah ketika menerangkan hadits ini, beliau rahimahullah mengatakan, "Orang yang amalannya hanya sedikit, ia tidak dapat mencapai kedudukan orang-orang yang banyak beramal. Oleh karena itu, tidak sepantasnya ia hanya mengandalkan kemuliaan nasab, dan nama harum orang tua, sedangkan ia tetap bermalas-malasan untuk beramal. [Syarh Shahih Muslim, Imam nawawi, 17/22]

Qiyâs  Ala Iblis Kedua : KEBEBASAN MEMBERI PEMBELAAN
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
 
قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ ﴿٩٦﴾ تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴿٩٧﴾إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ
Mereka berkata -sambil bertengkar di dalam neraka-, "Sungguh demi Allâh, kami dahulu semasa hidup di dunia dalam kesesatan yang nyata, karena kami menyamakan kamu dengan Rabb semesta alam.” [as- Syu’arâ’/26:96-98]

Dasar pemikiran orang-orang musyrikin dalam menyamakan Allâh dengan selain-Nya ialah dalam hal syafa’at atau pembelaan. Mereka beranggapan bahwa sesembahan mereka memiliki keleluasaan dalam memberikan pembelaan kepada mereka di hadapan Allâh Azza wa Jalla.
هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
Mereka adalah para pembela kami kelak di sisi Allâh. [Yûnus/10:18]

Mereka mengira bahwa para pemberi syafa'at (pembelaan) dapat memberikan pembelaan sesuka hatinya di hadapan Allâh, sebagaimana yang biasa mereka lakukan di hadapan para penguasa dunia. Tidak diragukan, bahwa analisa mereka ini salah total. Akibat dari analisa salah ini tentu akan menghasilkan qiyâs atau analogi yang salah pula. Karena para pemberi syafa'at di hadapan Allâh Azza wa Jalla hanya berani dan kuasa memberikan syafaat bila mendapatkan izin dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ
Tiada pemberi syafa'at kecuali setelah mendapat izin dari-Nya. [Yûnus/10:3]

Sebagaimana para pemberi syafa'at di sisi Allâh Subhanahu wa Ta’ala hanya berani dan bisa memberi syafa'at kepada orang yang Allâh Azza wa Jalla ridhai saja.
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ
Tidaklah mereka memberi syafa'at kecuali kepada orang yang Allâh ridhai. [al-Anbiyâ/21:28]

Karenanya kelak di hari Kiamat, orang-orang musyrik akan menyesali qiyâs sesat mereka ini.

Qiyâs  Ala Iblis Ketiga : MENYAMAKAN SIFAT ALLAH DENGAN SIFAT MAKHLUK
Sahabat Abdullâh bin Mas’ud Radhiyallahu anhuma mengisahkan, bahwa Ada tiga orang; dua orang berasal dari Quraisy dan seorang dari Tsaqif, atau sebaliknya dua orang Tsaqif dan seorang Quraisy. Pemahaman mereka dangkal, sedangkan lemak perut mereka tebal (gendut). Salah seorang dari mereka berkata, "Menurut pendapat kalian, apakah Allâh Azza wa Jalla mendengar ucapan kita ?" Orang kedua menjawab, "Allâh Azza wa Jalla mendengar bila kita bersuara keras dan tidak mendengar bila kita berkata lirih." Orang ketiga mengatakan, "Jikalau Allâh mendengar kita bila kita bersuara keras, maka Ia juga mendengar bila kita bersuara lirih." Mengganggapi kejadian ini, Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya :
 
وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَٰكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ
Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulit kamu terhadap dirimu sendiri. Akan tetapi kamu menduga Allâh tidak mengetahui banyak hal dari apa yang kamu kerjakan. [Fusshilat/41:22] [Riwayat Bukhâri, no. 4539 dan Muslim, no. 2775]

Ibnu Hajar as-Asqalâni rahimahullah menjelaskan, “Ibnu Batthal rahimahullah mengatakan, 'Dalam hadits ini terdapat pengakuan terhadap qiyâs yang benar dan pengingkaran terhadap qiyâs yang salah. Karena orang yang berkata “Allâh mendengar bila kita bersuara keras dan tidak mendengar bila kita berkata lirih” telah salah dalam menerapkan qiyâs. Ia menyerupakan pendengaran Allâh dengan pendengaran makhluk yang hanya bisa mendengar suara keras dan tidak bisa mendengar suara lirih. Sedangkan yang berkata, “Jikalau Allâh mendengar kita bila bersuara keras, maka Ia juga mendengar bila kita bersuara lirih”, qiyâsnya benar, karena ia tidak menyerupakan Allâh Azza wa Jalla dengan makhluk-Nya dan ia mensucikan Allâh dari menyerupai mereka. Hanya saja ia tetap dianggap dangkal pemahamannya, karena orang yang benar dalam menerapkan qiyâs ini tidak beriman dengan kandungan ucapannya, akan tetapi ia masih ragu, karenanya ia berkata, “Jikalau..”. [Fathul Bâri, Ibnu Hajar, 13/496].

Inilah dasar pemikiran setiap orang yang mengingkari seluruh atau sebagian dari nama dan sifat Allâh. Mereka mengira bahwa penetapan nama-nama dan sifat- sifat tersebut untuk Allah Azza wa Jalla berarti menyerupakan Allâh dengan makhluk-Nya. Padahal tidak demikian, nama dan sifat Allâh sesuai dengan keagungan Diri-Nya, karena sifat segala sesuatu sesuai dengan diri (dzat) sesuatu tersebut. Karenanya para Ulama’ menegaskan bahwa pembahasan tentang sifat adalah cabang atau bagian dari pembahasan tentang dzat. Bila Dzat Allâh tidak menyerupai dzat makhluk-Nya, maka demikian pula dengan sifat-sifat dan nama-nama-Nya.

Penutup
Demikianlah saudara, tiga contoh qiyâs atau analogi Iblis yang terbukti telah menyengsarakannya dan juga para pengikutnya. Sudah sepantasnya bagi Anda untuk bersikap ekstra hati-hati dalam menggunakan qiyâs dalam berdalil. Yakinkanlah terlebih dahulu bahwa Anda telah layak untuk berdalil dengan qiyâs, dan selanjutnya cermatilah qiyâs Anda. Sudahkan qiyâs yang Anda terapkan benar-benar memenuhi persyaratannya dan sesuai pada tempatnya? Jangan sampai qiyâs Anda serupa dengan qiyâs Iblis, sehingga anda terjerumus dalam sengsara. Semoga penjelasan singkat ini membangkitkan kewaspadaan pada diri anda, sehingga tidak gegabah dalam berdalilkan dengan qiyâs, wallahu Ta’ala a’alam.

Ustadz DR Muhammad Arifin Badri, MA

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XIV/1431H/2010. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Do’a-do’a (9)

Ali ra. berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku : Bacalah : Allahummah dini wasaddidni atau Allahumma inni as-alukal-huda wasaddad. (Ya Allah berilah kepadaku petunjuk dan kebenaran). (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 368.

Ondoria Atkascha III

Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (ファイナルファンタジータクティクス 獅子戦争 Fainaru Fantajī Takutikusu Shishi Sensō). 18th monarch in the Atkascha line. King Ondoria Atkascha III (オムドリア・アトカーシャ - Omudoria Atokāsha) dinobatkan menjadi raja setelah kematian Denamda IV, dikarenakan sakitnya, dan setelah beberapa hari dari Fifty Year'a War, usianya 35 tahun. In stark contrast to his predecessor, who has led his own troops into battle. Ondoria III is frail, weak-willed, and generally ill-suited to his position. He lies his sick bed as the court hurriedly prepares for Prince Orinus to ascend the trone.

—Chronicle Personae section, Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (c) 1997, 2007 Square Enix Co., Ltd.

Selasa, 02 Februari 2016

Itulah Kemuliaan

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Bidayah wannihayah 13/147 menyebutkan sebuah kisah;
Dengarkanlah...
Al Asyraf Musa bin Adil berkata; "Suatu hari aku berada di sebuah tempat di negeri kholat. Tiba-tiba masuklah pelayan dan berkata di pintu, ada seorang wanita meminta izin. Ia pun kuizinkan masuk. Ternyata, ia wanita yang amat cantik jelita, tak pernah aku melihat wanita yang lebih cantik darinya. Ternyata ia adalah anak raja yang dahulu pernah berkuasa di kholat, ia mengatakan bahwa pasukanku telah menguasai desanya. Sementara ia amat membutuhkan rumah rumah kontrakan, karena ia makan dari dari hasil memahat untuk para wanita, maka aku menyuruh orangku untuk mengembalikan harta miliknya dan menyediakan rumah untuk tempat tinggalnya. Ketika ia masuk, aku berdiri untuk menghormatinya, dan mempersilahkannya duduk dan memintanya agar menutup wajahnya. 
Ia bersama wanita tua, setelah selesai urusannya, aku berkata, "Silahkan berdiri dengan menyebut nama Allah".
Wanita tua itu berkata, "Tuan, ia ingin melayanimu malam ini".
Aku berkata, "Aku berlindung kepada Allah, tak layak seperti itu".
Aku bergumam pada diriku bagaimana bila ini terjadi pada anak wanitaku, lalu wanita tua itu berdiri dan berkata, "Semoga Allah menutupimu sebagaimana engkau menutupi kami".
Aku berkata, "Apabila ada keperluan lagi sampaikan saja kepadaku, aku akan memenuhinya untukmu".
Ia pun mendo'akanku dengan kebaikan dan pergi.
Aku bergumam pada diriku, "Yang halal bisa mencegahmu dari yang haram, nikahi saja dia".
Aku berkata, "Tidak demi Allah, dimanakah rasa malu, kemuliaan dan kehormatan ??"

Subhanallah..
Kisah yang mengagumkan, wanita yang amat jelita itu telah menyerahkan dirinya, tapi ia segera ingat, bagaimana bila itu terjadi pada anak wanitanya. Ia pun tak ingin mengambil kesempatan untuk menikahinya, karena khawatir merusak kemuliaannya, merusak keikhlasannya, atau mengharapkan balasan dari pemberiannya. Ia tak ingin menikahinya karena menggunakan kesempatan.
 
Itulah kemuliaan jiwa...

Abu Yahya Badru Salam

Senin, 01 Februari 2016

Argath Thadalfus

Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (ファイナルファンタジータクティクス 獅子戦争 Fainaru Fantajī Takutikusu Shishi Sensō). Argath Thadalfus (アルガス・サダルファス  Arugasu Sadarufasu) lahir di Letondes, Limberry. Usianya 17 tahun. Ia adalah prajurit magang penjaga kediaman Marquis Elmdore. His family was brought to ruin during the Fifty Year's War. Dan ambisi Argath adalah mengembalikan kebesaran nama ksatria Thadalfus. He envies Ramza who, despite being of higher birth than Argath, does not appreciate his own fortune.

—Chronicle Personae section, Final Fantasy Tactics - The War of The Lions (c) 1997, 2007 Square Enix Co., Ltd.

Strategi Iblis Agar Manusia Terus Maksiat

Putus asa dan merasa sempit adalah senjata iblis yang diarahkan kepada seorang hamba sehingga dia terus menerus dalam kemaksiatan dan merasa berat untuk bertaubat.

Dr. Muhammad Abdullah Al-Wuhaibi (@mohammadalwh), Professor Akidah dan Perbandingan Madzhab di King Saud University.

Copas dari twitulama

Do’a-do’a (8)

Abu Hurairah r.a. berkata : Biasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membaca : Allahumma ashlih li dini alladzi huwa ishmatu amri wa ashlih li dun-ya ya allati fiha ma’asyi wa ashlih li akhiroti allati fiha ma’adi wajalil hayataziyadatan li fi kulli khoirin waj’alil mauta rohatan li min kulli syarr. (Ya Allah perbaikilah agamaku yang merupakan pokok kepentinganku, dan perbaikilah duniaku yang didalamnya kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang kepadanya. kembaliku, dan jadikanlah hidup ini untuk tambahnya kebaikan bagiku, dan jadikanlah mati itu sebagai istirahatku dari segala kejahatan ). (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 367-368.