"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Jumat, 04 Juli 2014

MENYAMBANGI ORANG SAKIT (3)

Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Pada hari Qiyamat Allah akan memanggil dan berkata : Hai anak Adam, Aku sakit dan kau tidak menjenguk kepada-Ku. Jawabnya : Tuhanku bagaimana saya menjenguk kepada Engkau padahal Engkau Rabbul’alamin. Firman Tuhan : Apakah kau tidak tahu bahwa Fulan hamba-Ku sakit, maka kau tidak menjenguk padanya. Apakah kau tidak mengetahui sekiranya kau menjenguk niscaya kau akan mendapati Aku di sana. Hai anak Adam, Aku minta makan, maka tidak kau beri makan. Jawabnya : Tuhanku bagaimana saya akan memberi makan. kepada Engkau padahal Engkaulah Tuhan Robbul’alamin. Firman Tuhan : Tidakkah kau mengetahui hambaku Fulan minta makan kepadamu, maka tidak kau beri makan. Apakah kau tidak tahu sekiranya kau memberi makan padanya, tentu kau dapatkan itu padaku. Hai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, maka tidak kau beri minum. Jawabnya : Tuhanku bagaimana saya akan memberi minum kepada-Mu padahal Engkau Rabbul’alamin. Firman Allah : Fulan hambaku minta minum kepadamu, maka tidak kau beri minum, apakah kau tidak mengetahui bahwa sekiranya kau beri minum, niscaya kau mendapatkan itu padaku. (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 59-60.

Kamis, 03 Juli 2014

Siasat Rasulullah Menghadapi Pergolakan

Rasulullah dapat menangkap ancaman yang tersembunyi dalam surat Musailimah itu, maka ia mengutus Nahar ar-Rahhal, orang yang sudah mendalami ajaran agama untuk mengacaukan Musailimah dan untuk mengajar kaum Muslimin yang tinggal di Yamamah memperdalam pengetahuan Islam. Akan kita lihat nanti bagaimana Nahar menggabungkun diri kepada Musailimah dan memberikan pengakuannya bahwa orang itu sekutu Muhammad dalam risalahnya. Oleh karena itu, pengaruh Musailimah akan makin besar dan ajakannya makin tersebar luas. Di samping itu, kemenangan Aswad di Yaman gemanya mendapat sambutan di Yamamah dan sambutan demikian ini memperkuat posisi Musailimah dan menyudutkan kaum Muslimin. Tetapi politik Rasulullah tidak ditujukan untuk menumpas pengacauan itu sebelum tampak serius, dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan kemenangan dalam melawan Rumawi di utara, dan kemenangan itu dampaknya akan besar sekali dalam menumpas bibit-bibit fitnah di seluruh kawasan Arab itu.
Siasat Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam tertuju untuk melindungi semua perbatasan wilayah Arab di utara dari serbuan Heraklius dan pasukannya. Heraklius yang telah mengalahkan imperium Persia, dan yang telah berhasil mengembalikan Salib Besar (The True Cross) ke Baitulmukadas (Yerusalem), serbuan dan kebengisannya sangat ditakutkan. Pasukan Muslimin di Mu’tah sudah pernah bangkit tetapi tidak mampu melawan kekuatan Rumawi, meskipun tidak sampai kalah, Perang Tabuk memang berhasil baik, tetapi tidak berarti tanah Arab sudah aman dari ancaman pasukan Rumawi. Kalau pasukan Muslimin sudah dapat mengalahkan kekuatan Rumawi dalam pertempuran yang begitu sengit dan kuat itu, soalnya karena keteguhan kabilah-kabilah Arab yang tersebar di berbagai tempat. Tetapi setelah tugas mereka selesai mau tak mau pimpinan dikembalikan. Hal demikian terjadi karena kaum Muslimin sudah merasuk ke segenap penjuru Semenanjung itu dari utara sampai ke selatan, dan mereka menjadi suatu kekuatan yang harus diperhitungkan. Baik Musailimah di Yamamah, Laqit di Oman ataupun Tulaihah di kalangan Banu Asad tidak berani terang-terangan melancarkan permusuhan.

Menunggu Kesempatan
Tetapi Laqit dan Tulaihah, seperti juga Musailimah, sedang menunggu kesempatan dalam menyatakan pembangkangannya untuk menghantam Muslimin. Mereka bertiga —di tempat mereka masing-masing— menyebarkan propaganda tanpa ramai-ramai dan tanpa menyerang Nabi yang dari Kuraisy itu dan tanpa pula merendahkan kenabiannya. Tetapi propaganda mereka mengatakan bahwa Muhammad itu seorang Nabi yang diutus untuk golongannya dan mereka pun juga nabi seperti dia dan diutus untuk golongan mereka pula masing-masing. Mereka menginginkan agar golongan mereka itu mendapat bimbingan (hidayah), seperti dia juga yang menginginkan golongannya mendapat petunjuk. Dengan cara-cara yang tidak seberani Aswad al-Ansi tapi tidak pula kurang cerdiknya, mereka telah menyiapkan udara panas dan suasana yang menggelisahkan di sekitar kaum Muslimin yang berada di tengah-tengah mereka, dengan mengobarkan api fitnah dalam sekam.
Begitu berita kematian Nabi tersiar di negeri-negeri Arab, bibit fitnah itu sudah mulai merebak ke segenap penjuru. Fitnah itu bergerak dalam bermacam-macam bentuk dan gayanya sesuai dengan factor-taktor yang menggerakkannya. Hal ini nanti akan kita jelaskan lebih lanjut. Tetapi sekarang kita ingin melihat orang-orang yang mengaku-ngaku nabi itu dalam hal-hal yang erat sekali hubungannya dengan rencana hendak menghancurkan Islam ketika Nahi wafat.
Yang pertama dalam hal ini, ketika Rasulullah wafat, bibit fitnah itu segera menyebar ke segenap Semenanjung, bahkan hampir sebagian besarnya akan ikut bergolak. Kita sudah melihat bagaimana kekuasaan Aswad yang makin kuat dan menyebar dari ujung paling selatan di Hadramaut sampai ke daerah Mekah dan Ta’if. Kemudian kita lihat juga bagaimana Musailimah dan Tulaihah mengincar kehancuran kaum Muslimin. Daerah-daerah yang kini mengadakan perlawanan terhadap agama yang dibawa Muhammad dan kekuasaannya itu ialah negeri-negeri di kawasan Semenanjung itu, yang kebudayaannya paling tinggi dan terkaya, dan yang paling banyak berhubungan dengan Persia.
Tidak heran bila pembangkangan serupa itu meminta perhatian Khalifah pertama itu, dan akan memikirkannya matang-matang dalam mengatur siasat untuk mengembalikannya ke dalam pangkuan Islam serta untuk memulihkan keamanan dan keselamatan umum.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 70 - 72.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (20)

Dari Anas r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Barangsiapa yang menahan marahnya maka Allah akan menahan siksanya”. Dikeluarkan oleh Thabrany dalam Ausath; dan hadits ini punya syahid dan hadits Ibnu Umar dan riwayat Ibnu AbidDun-ya.
--------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 551.

AL-ISLAM DIEN SEMPURNA, YANG DIABAIKAN

Islam adalah dienul wahyi. Ia diwahyukan atau diturunkan oleh Dzat yang Haq yang merupakan sumber dari segala kebenaran, yaitu Allah SWT. Karena bersumber dari Dzat yang maha mutlaq, Islam merupakan dien yang pasti benar, asli, terlepas dari campur tangan manusia! Keaslian Islam sebagai dienul wahyi ini terdapat pada nama “Islam” itu sendiri dan ajarannya. Penamaan “Islam” ini tidak ada hubungannya dengan nama pembawanya, negara/tempat pertama tumbuhnya, dan bangsa/suku bangsa yang tinggal didaerah tempat pertama tumbuhnya. Nama tersebut semata pemberian Allah sebagai ajaran yang diikuti oleh orang-orang yang berserah diri hanya kepada-Nya (muslim). Disamping namanya, keaslian Islam yang bersumber dari wahyu ini, terdapat pada ajarannya. Ajaran Islam selalu terpelihara keaslian dan kemurniannya karena dijaga sendiri oleh Allah. Islam, yakni penyerahan diri dan ketunduk-patuhan kepada Allah, merupakan dien semua Nabi dan Rasul Allah sebagaimana diterangkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an (Ibrahim (3:67), Sulaiman (27:44), Ya’kub (2:133), Musa (10:84), Isa (3:52) sebagaimana pula disabdakan oleh Rasuluhlah SAW, “Sesungguhnya kami, para Nabi, dien kami adalah satu.” (R. Bukhori & Muslim). Nabi dan Rasul sebelum Muhammad SAW diutus untuk bangsa dan kaum tertentu pada waktu tertentu, hingga saat datang nabi yang mengikutinya. Sedangkan Rasulullah SAW diutus untuk seluruh manusia (Q.S. 34:28) sebagai rahmat untuk semesta alam (Q.S. 21:107) hingga akhir zaman. Karena risalah Muhammad ini diperuntukkan bagi semua manusia dan berlaku sampai hari Kiamat, tentu ia lengkap dan sempurna sehingga mampu menjawab segala tantangan zarnan yang semakin rumit dan kompleks. Dan sebagai syari’at yang  paripurna, ia memang diturunkan sebagai penyempurna risalah sebelumnya (Q.S. 5:48). Untuk itulah, Allah telah menyempurnakan Islam itu dan kemudian menjadikannya sebagai dien (sistem hidup) yang Ia ridloi (Q.S. Al-Maidah, 5:3).
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dien-mu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridloi Islam sebagai dien bagimu.”
Kesempurnaan Islam sebagai dien (sistem hidup) meliputi pengaturannya yang total terhadap segala aspek hidup dan kehidupan manusia secara seimbang dan terpadu, baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, maupun sesama makhluk. Karena itu Islam tidak perlu ditambah-tambah atau dicampuradukkan dengn dien lainnya. Seorang muslim harus sudah merasa cukup dan ridlo bila hidupnya hanya diatur dengan Islam. Ia tidak perlu merasa kurang dan rendah diri berhadapan dengan segala dien yang ada di dunia ini Sebab Islam merupakan dien yang tinggi dan mulia dan tidak ada yang menyamainya. “Al-islamu ya’luu Wa laa yu’laa ‘alaih”. Islam adalah satu-satunya dien yang diakui di sisi Allah (Q.S. 3:19) dan segala dien selain Islam adalah tertolak (Q.S. 3:85).
Demikianlah, begitu totalnya kesempurnaan Islam sehingga gaungnya pun menggetarkan hati manusia yang mendengarnya.
Namun begitu, kualitas kaum muslimin pada umumnya dengan berbagai konsekuensi terhadap dien-nya masih perlu dipertanyakan. Menggapa Dienul Islam yang agung, suci, dan mulia itu secara hakiki tak kunjung tegak untuk mengendalikan serta mewarnai dunia. Hal ini membuktikan bahwa secara esensial umat Islam belum bebas dari segala belenggu. Dan, yang lebih memprihatinkan adalah tidak/ kurang bersemangatnya umat Islam untuk memutuskan belenggu yang menjerat mereka itu. Umat Islam masih membiarkan dirinya terjajah. Ia, umat Islam memang masih mengabaikan dien mereka. Allah telah mengaruniai umat Islam dengan banyak potensi yang dapat menjadikannya sebagai umat yang kuat. Namun, karena pengabaian terhadap diennya itu, mereka belum mampu mendayagunakan berbagai potensi tersebut. Apakah itu potensi/ sumber daya alam, potensi /sumber daya manusia, maupun potensi aqidah Islamiyyah.
Allah menciptakan begitu banyak kekayaan alam di dunia Islam atau di negara-negara mayoritas berpenduduk muslim. Tumbuh- tumbuhan dan hewan yang ada di hutan: tanah yang subur untuk persawahan dan perladangan: beragam ikan, mutiara. dan lain-lain yang ada di lautan; bijih besi, uranium, emas, perak, batu bara dan minyak yang dikandung perut bumi; serta berjuta kekayaan alam lainnya. Namun sayang mereka belum dapat mendayagunakan potensi alam tersebut secara optimal. Bahkan mereka masih menggantungkan diri terhadap bangsa-bangsa besar yang kufar.
Potensi lainnya adalah potensi/ sumber daya manusia. Dewasa ini, kaum muslimin dunia berjumlah sekitar 1,2 milyar dari kira-kira 5 milyar manusia. Jumlah yang begitu banyak ini seharusnya benar-benar menjadi sebab kuatnya umat Islam. Pada kenyataannya, jumlah yang besar itu belum mewujudkan “khairu ummah” (umat terbaik) karena belum totalnya komitmen terhadap dien mereka. Bahkan, mereka tidak suka lagi dengan jumlah mereka yang banyak sebagaimana Rasulullah membanggakannya.
Aqidah Islamiyyah juga merupakan potensi luar biasa yang ditakuti musuh-musuh Islam. Dengan kekuatan aqidahnya inilah umat Islam mampu menghadapi problema kehidupan dengan berbagai suka dan dukanya. Dan pilihan prinsipnya sama baik, hidup mulia atau mati syahid. Namun demikian, umat Islam masih dihantui perjalanan hidupnya dengan dien selain Islam.
Jadi, semua potensi atau sumber daya luar biasa itu seolah mandul dan tidak menunjukkan kedayagunaannya untuk menguatkan Islam. Penyebabnya adalah belum terpenuhinya faktor-faktor pendaya guna berbagai potensi di atas. Sejumlah pendaya guna yang harus dimiliki umat Islam adalah “al-ilm” (ilmu), “al-maal” (dana), “al-quwwah” (kekuatan), dan “al-adl” (keadilan). Tanpa ilmu (ilmu kauni), potensi kekayaan alam tidak dapat diolah secara optimal oleh manusia-manusianya betapa pun mereka beraqidah kuat. Selanjutnya, walaupun banyak muslim yang pandai, jika tidak tersedia dana yang cukup, tidak bisa juga dicapai pemanfaatan sumber daya alam secara optimal. Adanya ilmu dan dana tanpa disertai kekuatan dalam segala hal, umat Islam akan kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan musuh. Sebaliknya, kekuatan yang tidak diiringi neraca keadilan hanya akan digunakan untuk saling menghancurkan sesama muslim. Permusuhan dan kebencian diantara sesame muslim hanya akan menyebabkan kelemahan dan memberikan peluang bagi musuh-musuh
Islam untuk terus menguasai dan mengendalikan dunia Islam. Ilmu, dana, kekuatan, dan keadilan belum berfungsi sebagai mana mestinya bagi perjuangan Islam bila umat Islam pemiliknya belum paham terhadap dienul Islam.
Kepahaman terhadap Islam ini hanya dapat terwujud dengan “tarbiyatul Islamiyyah istimroriyyah” (mempelajari Islam secara intensif/ mendalam dan kontinu/ berkesinambungan). Merupakan pengabaian terhadap dien ini apabila umat Islam tidak mau mempelajarinya, atau mempelajari hanya secara ala kadarnya. Sungguh fatal akibat membiarkan diri dalam kebodohan terhadap dienul Islam ini. Pola pikir, selera, tindakannya tidak Islami. Tidak merasa terlibat dalam perjuangan Islam. Merasa tidak punya pekerjaan atau kewajiban terhadap Islam dan umat Islam. Tidak mau tahu bagaimana suatu persoalan dipecahkan menurut Islam. Tidak mengindahkan peringatan-peringatan Allah. Membuat keputusan berdasarkan prasangka, terlepas dari kebenaran Islam. Memandang Islam hanya sebagai bagian dari struktur kehidupan dan bukan mengatur seluruh aspek kehidupan. Menyangka baik setiap perbuatannya. Merasa sudah beriman sebelum bersungguh-sungguh dan lulus dalam setiap ujian keimanan. Dibuai. khayalan, hidup di dunia bahagia, mati masuk surga, tanpa adanya usaha. Merasa tidak bersalah atas timbunan dosa sehingga merasa aman dari siksa Allah dan tidak segera berusaha untuk mendapatkan ampunan dan rahmat-Nya. Maha benar Allah dengan firman-Nya bahwa yang sesungguhnya takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah dengan pemahaman terhadap dienul Islam) (Q.S. 35 : 28). Wallahu a’lam bishshawab.
-----------------------------------------
Buletin Da'wah 'IZZAH No. 41/II 19 Rajab 1412 H / 24 Januari 1991 M.

MENYAMBANGI ORANG SAKIT (2)

Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Hak kewajiban seorang muslim terhadap sesama muslim ada lima : Menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, mendatangi undangan dan menyambut do’a terhadap orang yang bersin (wahing). (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 59.

Rabu, 02 Juli 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (19)

Dari Hudzaifah r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tidak akan masuk sorga orang yang suka mengadu-adu”. Muttafaq ‘alaih.
----------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 550.

MENYAMBANGI ORANG SAKIT (1)

Al-Barra’ bin Azib r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. menyuruh menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menyambut do’a pada orang bersin (wahing), menepati sumpah, menolong orang yang teraniaya, mendatangi undangan, dan menyebarkan salam. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 58-59.

Selasa, 01 Juli 2014

Musailimah bin Habib di Yamamah

Tentang Musailimah bin Habib yang mengutus dua orang membawa surat kepada Muhammad di Medinah, sudah kita singgung. Isi surat itu : “Dari Musailimah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah. Salam sejahtera. Kemudian daripada itu, saya sudah bersekutu dengan kau dalam soal ini. Bumi ini buat kami separuh dan buat Kuraisy separuh. Tetapi Kuraisy golongan yang tidak suka berlaku adil.”
Nabi bertanya kepada kedua utusan ini setelah mendengarkan isi surat tersebut : “Bagaimana pendapatmu?” Kedua orang itu berkata. Pendapat kami seperti yang sudah dikemukannya. Nabi menatap marah kepada kedua orang itu seraya katanya : Demi Allah, kalau tidak karena utusan itu boleh dibunuh niscaya kupenggal lehermu. Kemudian Nabi membalas surat Musailimah : “Bismillahir-rahmanir-rahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailimah pembohong. Kemudian dripada itu, bahwa bumi ini milik Allah, diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya yang bertakwa.”
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 70.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (18)

Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Janganlah kalian mencaci-maki yang telah meninggal dunia, karena mereka telah sampai pada apa yang telah mereka kerjakan”. Dikeluarkan oleh Bukhary.
----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 550.

Antara Dosa Dan Petaka

Firman Allah :
“Apakah Allah akan berbuat menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman, sedang Allah Maha Penerima Kasih lagi Maha Mengetahui?” (QS An-Nisa’ : 147).
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya kepada manusia sedikit pun, tetapi manusia sendirilah yang menganiaya terhadap diri mereka sendiri.” (QS Yunus : 44).
“Tidaklah sekali-kali Tuhanmu membinasakan suatu negeri secara aniaya, padahal penduduknya itu orang baik-baik.” (QS Yunus : 117).
“Sungguh akan Kami rasakan kepada mereka itu sebagian adzab yang kecil (di dunia) sebelum mereka menderita adzab yang lebih besar (di akhirat); mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS As Sajdah : 21).

EBIET G. ADE pernah menyenandungkan sebuah lagunya mengenai hubungan antara bencana yang terjadi dengan ulah manusia yang bangga dengan dosa-dosa.
Saat akhir-akhir ini kita sering mendengar bahkan menyaksikan bencana dan malapetaka yang melanda dunia, khususnya negara kita yang senantiasa kita senandungkan sebagai negara yang kaya raya tenteram raharja.
Pada bulan April 1982 yang telah lalu Gunung Galunggung melakukan kegiatannya dengan memuntahkan lahar, lava dan lapilinya yang banyak menimbulkan kurban bagi masyarakat sekitarnya dan meresahkan bangsa Indonesia pada umumnya. Di saat Galunggung sedang melakukan aksinya tersebut tiba-tiba Gunung Soputan di Sulawesi Utara mengikuti jejaknya dengan gaya yang tersendiri pula. Apakah hal itu karena si Galunggung ingin bersenandung menyaingi lagu-lagu porno yang sedang merajalela, ataukah karena si Soputan ingin ikut berdansa seperti yang terjadi di nightclub-nightclub dan bar-bar? Entahlah! Yang jelas kejadian-kejadian seperti itu cukup membikin orang gelisah. Bahkan bukan hanya orang yang musnah, perumahan dan sawah ladangnya saja yang bingung, tetapi vulkanolog-volkanolog dan teknolog-teknolog juga cukup dibikin pusing untuk memecahkan masalahnya. karena ternyata upaya mereka sering meleset.
Nah, dengan demikian tampaklah dengan sejelas-jelasnya betapa kerdilnya manusia ini berhadapan dengan kekuasaan Allah Yang Maha Agung lagi Perkasa.
Di samping Soputan dan Galunggung yang masih genit itu — pinjam istilah Majalah Muhibbah — datang pula bencana kekeringan yang sangat meresahkan. Tanaman padi dan tetumbuhan yang tadinya diharapkan akan dapat dipetik hasilnya tiba-tiba saja menjadi kering kerontang bak kata Al Quran : “Kemudian tanaman itu mongering, lalu kamu lihat ia menguning, lantas hancur berantakan.” (Al-Hadid : 20).

Istidraj?
Dalam suatu kesempatan Uqbah bin Amir pernah berdialog dengan Rasulullah s.a.w. Dalam pada itu beliau menyampaikan sebuah hadits kepada Uqbah, kata beliau : “Apabila engkau lihat Allah Azza wa Jalla memberikan kepada manusia akan apa-apa yang disenanginya dari hal duniawi yang semuanya itu diperoleh dengan bermaksiyat (melanggar) kepada Allah, maka yang demikian itu adalah istidraj (ulu-ulu - Jw.). Kemudian Rasulullah s.a.w. membaca ayat (Al-An’am : 44) yang artinya : “Maka apabila mereka telah lupa kepada apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami bukakan kepada mereka pintu-pintu (kesenangan) bagi segala sesuatu, hingga apabila mereka bergembira ria dengan apa yang diberikan kepada mereka, sekonyong-konyong Kami datangkan siksa atas mereka, maka tiba-tiba mereka berputus asa.” (HR. Ahmad).
Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah musibah dan bencana-bencana yang kita hadapi sekarang ini sebagai realisasi dari penegasan Rasulullah s.a.w., plus ayat Al-Quran yang disitirnya itu? Coba saja kita renungkan, di tengah-tengah kita bergembira-ria, berpesta pora dengan berbagai gaya, di tengah kita mendengar senandung lagu-lagu yang memuja dan memuji tanah air menyanjung dan mengagungkan ibu pertiwi (nama dewa bumi menuru kepercayaan Hindu? — Subhanallah!), tiba-tiba saja Galunggung ikut bersenandung — pinjam istilah si Bimbo —, Soputan muntah-muntah, Merapi juga sering batuk-batuk, kekeringan datang mengamuk... dan diramalkan banjir akan melanda...?
Apakah selama ini kita berada dalam posisi istidraj? Nastaghfirullahal ‘Adhim.

Hubungan Antara Dosa dan Bencana
Sungguh indah ungkapan Al-Quran seperti yang telah kami sebutkan di awal tulisan ini; dan firman-Nya pula yang artinya : “Dan tiadalah sekali-kali Tuhanmu merusakkan (membinasakan) sesuatu negeri sedang penduduknya itu orang-orang yang suka berbuat kebajikan.” (QS Hud : 117).
Dari ayat-ayat di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa karena kelakuan manusianya sendirilah justru yang mengundang datangnya bencana dan malapetaka. Yaitu kegemaran mereka bertingkah di atas panggung kehidupan dengan sejuta kemaksiyatan. Lebih tegas lagi Al-Quran mengatakan yang artinya : “Dan bencana apa pun yang menimpa kamu, adalah disebabkan oleh perbuatan tangan-tangan kamu, padahal Allah telah ampunkan sebagian besar dari dosa-dosa kamu.” (QS Asy-Syuuraa : 30).
KHM Syukri Ghazali, Ketua Majlis Ulama Indonesia, Dr. K.H.E.Z. Muttaqien. Ketua MUI Jabar dan Rektor Unisba, dan Buya AR. Sutan Mansur (87 tahun), Penasihat P.P. Muhammadiyah, menyampaikan sinyalemen bahwa bencana alam yang kini sedang melanda adalah disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa dan kedhaliman manusia serta keberanian mereka kepada Allah s.w.t.
Coba saja kita perhatikan betapa keadaan yang sudah begitu parah, korupsi, manipulasi, penindasan, penyalah-gunaan jabatan, suap-menyuap. upetisme, setoranisme, tidak meratanya keadilan, pilih kasihnya pengadilan menetapkan hukum sehingga si pencuri kelas kakap berpesta pora dan pencuri kelas teri dipenjara, orang jujur dicurigai, si tirani disanjung dipuji.
Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : “Sesungguhnya yang merusak binasakan orang-orang sebelum kamu dahulu ialah apabila ada orang berkedudukan yang mencuri (korupsi) mereka biarkan saja, tetapi yang mencuri itu orang yang lemah (rakyat jelata), mereka kenakan hukuman atas orang itu.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i).
Dan kata Al Quran : “Dan jika Kami (Allah) hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan) Kami, kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Isra’ : 16).
Di samping itu kita lihat betapa merajalelanya kemaksiatan, kerusakan moral, kebrengsekan orang tua dan kenakalan remaja. Perzinaan, homoseksual, lesbianisme, minum-minuman keras, perjudian, menampak-nampakkan aurat tanpa rasa malu, wanita berlagak menyerupai pria dan prianya menyerupai wanita, dan sebagainya.
Nah, keadaan-keadaan seperti itu sangat dikhawatirkan sebagai panitia pengundang datangnya bencana dan petaka.
Marilah kita perhatikan hadits-hadits Rasulullah s.a.w. Ash Shadiqul Mashduq di bawah ini.
“Dari Ali r.a. katanya : Telah bersabda Rasulullah s.a.w., : “Apabila umatku melakukan lima belas perkara ini pasti mereka akan ditimpa bala bencana.” Para shahabat bertanya : Apa sajakah itu wahai Rasulullah? Jawab beliau, “Yaitu apabila harta rampasan (penghasilan negara) hanya beredar pada penguasa dan orang-orang besar saja amanat menjadi rampasan (dirampas atau dikorupsi di tengah jalan); zakat sudah dihutang; si suami sudah tunduk patuh kepada segala kehendak isterinya; mendurhakai ibunya; bersikap baik kepada teman-temannya dan mendurhakai ayahnya; hiruk pikuk suara di masjid-masjid yang menjadi pemimpin suatu kaum yaitu orang yang paling rendah budi pekertinya; dihormatinya seseorang karena takut kejahatannya (konditenya, black-listnya. dan sebagainya); ”minum-minuman keras sudah dibiasakan; memakai sutera (bagi laki-laki) juga dianggap hal yang biasa saja! biduanita-biduanita dan bunyi-bunyian (musik) sudah menjadi yang akhir (manusia sekarang) sudah melaknat dan mencaci-maki orang-orang dahulu (yakni orang yang berpegang teguh pada agama dengan cacian kolot, ketinggalan zaman, tidak modern dan sebagainya). Maka disaat yang demikian itu, nantikanlah kedatangan angin yang sangat panas. Ataupun  gempa bumi dan tanah longsor, atau penyakit yang bisa mengubah wajah manusia.” (HR Tirmidzi).
Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi hadits yang mirip dengan hadits di atas dan Abi Hurairah yang di dalamnya disebutkan : “Dan orang belajar bukan untuk agama lagi.”
Juga disebutkan dalam Majma’uz Zawaid dan hadits ‘Auf yang seperti di atas dan di dalamnya disebutkan : “Dan domba-domba (manusia yang bermoral seperti domba) sudah naik di atas mimbar-mimbar; dan Al-Quran dijadikan sebagai seruling (nyanyian-nyanyian )…..”
“Dari Ibnu Umar r.a. katanya : Pernah Rasulullah s.a.w. menghadap ke arah kami lalu beliau bersabda, “Wahai sekalian orang Muhajirin! Jagalah dirimu dari lima perkara, karena jika kamu melakukannya niscaya kamu ditimpa bala bencana, dan aku berlindung kepada Allah agar kamu tidak mendapatinya, yaitu : (1). Tidaklah timbul suatu perbuatan jahat pada suatu kaum sehingga mereka menyebarluaskannya melainkan akan merajalela wabah tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang yang dahulu dari mereka. (2). Tidaklah mereka berlaku curang di dalam menakar dan menimbang melainkan mereka akan ditimpa bahaya kekeringan. kelaparan dan kedhaliman penguasa. (3). Tidaklah mereka enggan mengeluarkan zakat harta mereka melainkan akan ditahan air hujan dari langit atas mereka, dan andaikata tidak karena kasihan pada binatang-binatang niscaya tidak akan diturunkan hujan sama sekali. (4). Tidaklah mereka merusakkan janji Allah dan janji Rasul-Nya melainkan Allah akan jadikan musuh mereka berkuasa atas mereka, lantas penguasa-penguasa itu merampas sebagian apa-apa yang ada di tangan mereka. (5). Apabila pemimpin-pemimpin mereka tidak lagi menghukum dengan Kitabullah dan tidak pula memilih (mengutamakan) apa-apa yang diturunkan Allah melainkan Allah jadikan pertentangan di antara mereka.” (HR. Ibnu Majah, Al Bazzar dan Baihaqi; dan diriwayatkan juga oleh Hakim yang sepertinya dari hadits Ba ‘idah, kata Hakim : Shahih menurut syarat Muslim).
Dan diriwayatkan oleh Malik dengan mauquf dari Ibnu Abbas dan dirafa’kan oleh Thabrani dan lainnya kepada Nabi s.a.w. : “Tidak merajalela korupsi pada suatu kaum melainkan Allah campakkan ke dalam hati mereka penyakit phobia (perasaan takut); tidak merajalela perzinaan pada suatu kaum melainkan akan menimbulkan banyak kematian; tidaklah suatu kaum berlaku curang di dalam menakar dan menimbang melainkan akan diputuskan rizqi untuk mereka. Tidaklah suatu kaum memberlakukan hukum dengan tidak benar melainkan akan menimbulkan pertumpahan darah; dan tidaklah suatu kaum suka merusakkan janji melainkan mereka akan dikuasai oleh musuh.”
Dari Ibnu Abbas r.a. dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda, “Apabila telah merajalela perzinaan dan riba pada sesuatu negeri maka berarti penduduknya telah menyediakan diri mereka untuk menerima adzab Allah.” (HR Hakim).
Dan sabda beliau pula : “Akan ada suatu kaum dari ummat ini yang tenggelam dalam pesta makan-minum, hiburan dan permainan, lantas pada pagi harinya wajah mereka telah diubah seperti kera dan babi. Dan sungguh mereka akan ditimpa gempa dan penyakit-penyakit sehingga pagi-pagi orang-orang pada ngomong : Telah terjadi gempa tadi malam di Bani Anu, telah terjadi gempa tadi malam di Bani Anu. di kampung anu. Dan sungguh akan dikirimkan atas mereka batu-batu dari langit seperti yang telah pernah ditimpakan atas kaum Luth, atas kabilah anu dan kampung anu. Dan akan dikirim atas mereka angin yang membawa kerusakan yang telah membinasakan kaum ‘Ad, atas kabilah-kabilah dan kampung yang ada. Semua itu adalah karena mereka sudah biasa meminum minuman keras, mengenakan sutera, gemar akan biduanita-biduanita, suka makan riba, dan memutuskan tali kekeluargaan.” (HR Ahmad, Baihaqi, dan dishahkan oleh Hakim).
Dan masih banyak lagi hadits yang semakna dengan hadits-hadits di atas.

Introspeksi (Mawas Diri)
Setelah membaca ayat-ayat dan hadits-hadits di atas, setelah memperhatikan perbuatan-perbuatan kebanyakan manusia yang membanggakan dosa-dosa dengan menggaya dan menggada; kemudian melihat ulah alam dengan berbagai bencana dan petakanya, maka : “Belumkah datang waktunva bagi orang-orang yang mengaku beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepada mereka, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadid : 16).
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS At-Tahrim : 8).

Camkanlah dan renungkan!
-----------------------------------------
Tulisan : As ‘ad Yasin, Majalah Al-Muslimun No. 154 Rabi'ul Awal/Rabi'ul Akhir 1403 H, Januari 1983 M Tahun ke29, Penerbit : Firma Al-Muslimun Bangil Jawa Timur, halaman 30-36 dan 92.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (9)

Abu Hurairah r.a. berkata : Nabi s.a.w. mencium (Alhasan bin Ali) tiba-tiba Al-Aqra bin Habis berkata : Saya telah mempunyai sepuluh anak belum pernah saya mencium seorangpun dari mereka. Maka sabda Nabi s.a.w. : Siapa yang tidak sayang, tidaklah ia disayangi, siapa yang tidak kasih tidaklah ia dikasihi oleh Allah. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 57.