"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Kamis, 07 Februari 2013

BAKTI TA’AT KEPADA KEDUA ORANGTUA DAN MENGHUBUNGI SANAK KERABAT (14)

Zainab isteri Abdullah bin Mas’ud berkata : Bersebda Rasulullah s.a.w : Bersedekahlah hai kaum wanita walau dari perhiasanmu. Maka saya kembali kepada suamiku berkata : Engkau seorang yang tidak punya, dan Rasulullah menyuruh kami bersedekah, coba tanyakan kepadanya kalau boleh, saya bersedekah kepadamu, kalau tidak saya berikan pada lain orang. Berkata Abdullah : Tanyakan sendiri. Maka pergilah Zainab, mendadak bertemu dengan seorang wanita di muka pintu Rasulullah yang hajatnya bersamaan dengan saya. Maka Bilal keluar dan kami berkata : Beritahukan kepada Rasulullah bahwa ada dua orang perempuan bertanya : Bolehkah bersedekah pada suami dan anak-anak yatim yang dipelihananya, tetapi jangan diberi tahu siapa kami. Siapakah kedua perempuan itu? Jawab Bilal : Seorang perempuan Anshar, dan Zainab. Tanya Nabi : Zainab yang manakah? Zainab isteri Abdullah bin Mas’ud. Maka sabda Nabi : Bagi keduanya dua pahala, pahala sedekah dan pahala membantu keluarga (kerabat). (HR. Buchary dan Muslim)
-------------------------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 302-304.

URUSAN JENAZAH (21)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata ; Adalah Rasulullah s.a.w. apabila beliau menyembahyangkan jenazah, beliau mendo’a : (yang artinya): “Ya Allah ampunilah orang-orang yang hidup di antara kami, dan yang mati di antara kami, yang menyaksikan dan yang gaib, dan yang kecil dan yang besar di antara kami, laki-laki dan perempuan. Ya Allah, orang-orang yang Engkau hidupkan di antara kami, hidupkanlah dia dalam agama Islam, dan orang-orang yang Engkau matikan di antara kami, matikanlah dia dalam iman. Ya Allah janganlah Engkau jauhkan pahalanya dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kami sesat sesudahnya”. Diriwayatkan oleh Muslim dan Imam yang Empat (Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i).

Dan dari padanya r.a., bahwa Nabi s.a.w., bersabda : “Apa. bila kalian menyembahyangkan mayat, do’akanlah dengan ikhlash”. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan disahkan oleh Ibnu Hibban.
-------------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Janaiz,  halaman 203-204.

SIKAP HEROIK HAMZAH, ABU DUJANA DAN ALI

Ketika itu juga Hamzah bin Abd’l-Muttalib berteriak, membawa teriakan perang Uhud :
“Mati, mati!” Lalu ia terjun ke tengah-tengah tentara Quraisy itu. Ketika itu Talha bin Abi Talha, yang membawa bendera tentara Makkah berteriak pula : “Siapa yang akan duel?”
Lalu Ali bin Abi Talib tampil menghadapinya. Dua orang dari dua barisan itu bertemu. Cepat-cepat Ali memberikan satu pukulan, yang membuat kepala lawannya itu belah dua. Nabi merasa lega dengan itu. Ketika itu juga kaum Muslimin bertakbir dan melancarkan serangannya. Dengan pedang Nabi di tangan dan mengikatkan pita maut di kepala, Abu Dujana pun terjun ke depan. Dibunuhnya setiap orang yang dijumpainya. Barisan orang-orang musyrik jadi kacau-balau. Kemudian ia melihat seseorang sedang mencencang-cencang sesosok tubuh manusia dengan keras sekali. Diangkatnya pedangnya dan diayunkannya kepada orang itu. Tetapi ternyata orang itu adalah Hindun binti ‘Utha. Ia mundur. Terlalu mulia rasanya pedang Rasul akan dipukulkan kepada seorang wanita.
Dengan secara keras sekali pihak Quraisy pun menyerbu pula ki tengah-tengah pertempuran itu. Darahnya sudah mendidih ingin menuntut balas atas pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka mereka yang sudah tewas setahun yang lalu di Badr. Dua kekuatan yang tidak seimbang itu, baik jumlah orang maupun perlengkapan, sekarang berhadap-hadap. Kekuatan dengan jumlah yang besar ini motifnya adalah balas-dendam yang sejak perang Badr tidak pernah reda. Sedang jumlah yang lebih kecil motifnya adalah : pertama mempertahankan akidah, mempertahankain iman dan agama Allah; kedua mempertahankan tanah air dan segala kepentingannya. Mereka yang menuntut bela itu terdiri dari orang-orang yang lebih kuat dan jumlah pasukan yang lebih besar. Di belakang mereka itu kaum wanita turut pula mengobarkan semangat. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa budak-budak itu menjanjikan akan memberikan hadiah yang besar apabila mereka dapat membalaskan dendam atas kematian seorang hapa, saudara, suami atau orang-orang yang dicintai lainnya, yang telah terbunuh di Badr, Hamzah bin Abd’l-Muttalib adalah seorang pahlawan Arab terbesar dan paling berani. Ketika terjadi perang Badr dialah yang telah menewaskan ayah dan saudara Hindun, begitu juga tidak sedikit orang-orang yang dicintainya yang telah ditewaskan. Seperti juga dalam perang Badr, dalam perang Uhud ini pun Hamzah adalah singa dan pedang Tuhan yang tajam. Ditewaskannya Arta bin Abd Syurahbil, Siba bin ‘Abd’l-’Uzza al-Ghubsyani, dan setiap musuh yang dijumpainya nyawa mereka tidak luput dan renggutan pedangnya.
--------------------------------------------------------------------------
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 296-297.

Rabu, 06 Februari 2013

BAKTI TA’AT KEPADA KEDUA ORANGTUA DAN MENGHUBUNGI SANAK KERABAT (13)

Asma’binti Abubakar Assiddiq r.a berkata : Ibuku yang masih kafir musyrik datang kepadaku di masa Rasulullah s.a.w . Maka saya bertanya kepada Rasulullah : Ibuku datang kepadaku dengan mengharapkan hubungan baik, bolehkah saya menghubungi dia? Jawab Nabi s.a.w. : Hubungilah ibumu! (HR. Buchary dan Muslim).

Dalam lain riwayat : Ibu Asma datang kepadanya dengan membawa hadiyah berupa kismis, samin dan anting-anting, tetapi Asma’ belum berani menerima ibunya ke dalam rumah atau menerima hadiyahnya sebelum bertanya kepada Rasulullah, dan setelah diberi tahu barulah dimasukkan kerumahnya. Dan dalam riwayat ini, kalimat RAGHIBAH berarti : Enggan tidak suka pada Islam.
-------------------------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 302.

URUSAN JENAZAH (20)

Dari ‘Auf bin Malik r.a., ia berkata : “Rasulullah telah menyembahyangkan jenazah dan saya hafal do’anya (yang artinya): “Ya Allah ampunilah dan kasihanilah dia, terimalah dan ma’afkanlah ia, dan muliakanlah kedatangannya, dan lapangkanlah tempatnya, dan bersihkanlah ia dengan air, dan salju dan embun dan sucikanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagamana disucikannya baju yang putih dari kotoran, dan tukarlah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, dan gantilah keluarganya dengan keluarga yang lebih baik dari keluarganya, dan masukkanlah ia ke syorga, dan jagalah ia dari fitnah kubur dan siksa neraka”. Diriwayatkan oleh Muslim.
----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Janaiz,  halaman 203.

IBLIS WAMURAH MENYUKAI PORNOAKSI

Iblis Wamurah termasuk iblis yang terbilang jitu melangsungkan aksinya. Terbukti, belakangan ini banyak jenis kemaksiatan yang awalnya dipengaruhi tipu daya iblis Wamurah.
Iblis Wamurah dalam menjalankan tugasnya berusaha menjerumuskan agar para penyanyi berpenampilan seronok atau pornoaksi sehingga dapat mengundang luapan nafsu dan maksiat.
Selain itu, iblis Wamurah menjerumuskan para penyanyi agar mendendangkan lagu yang penuh maksiat, menyeru berbuat kemungkaran, serta lagu-lagu yang bersyair kebebasan tanpa etika. Dengan demikian oranq akan mudah dibawa untuk dijerumuskan ke dalam dunia mungkar dan maksiat.

PERGAULAN BEBAS
Nyanyian dari para penyanyinya itu termasuk salah satu alat iblis yang paling berkesan untuk menjerumuskan orang ke dalam jurang kesesatan yang penuh dengan dosa. Banyak orang yang melakukan kemaksiatan karena terpengaruh dengan lagu-lagu maksiat, atau disebabkan mengikuti tingkah laku artis yang gemar berbuat kemungkaran, pergaulan bebas, dan akhlak yang buruk.
Oleh karena itu, untuk mencegah bujuk rayu dan godaan yang menyesatkan yang ditiupkan oleh Iblis Wamurah, manusia hendaknya menanamkan akidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Sebab, dengan berpegang teguh pada kedua faktor tersebut, insya Allah akan selamat dari godaan iblis yang jahat ini.
Allah berfirman dalam Alquran, : “Dan Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang amat buruk.” (OS. Al-Isra’ 17/32).
Menurut Imam Ibnu Katsir pengertian “Janganlah kalian mendekati dan melakukan perbuatan zina,” termasuk dalam perbuatan seperti berduaan, jalan bareng, memegang, saling memandang, dan sebagainya.
Perbuatan-perbuatan itu selain menghadirkan fitnah di di dunia, juga akan mengakibatkan dosa yang besar di akhirat.

MENDEKATI ZINA
Larangan dan dosa mendekati zina disebutkan oleh Allah SWT dalam 3 tingkatan. Pertama, melalui pelarangannya yaitu suatu perbuatan yang melakukannya haram maka semua perbuatan yang mendekatinya atau bisa menyebabkan menjadi haram pula. Kedua, Allah SWT mempertegas hukumnya dengan menyebutkan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan busuk dan keji di dunia. Ketiga, Allah SWT menyebutkan bahaya mendekati zina merupakan jalan yang amat buruk yang melemparkan pelakunya ke neraka.
Iblis Wamurah akan terus berusaha mencari celah agar manusia bisa menoleransi perbuatan mendekati perzinaan itu. Mungkin bisa juga adanya penolakan RUU Pornoaksi dan Pornografi merupakan buah dari pengaruh iblis Wamurah kepada manusia.
Sebagai umat Islam kita dituntut untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan ketetapan kepada hati manusia untuk tetap kuat dalam melawan pengaruh iblis.Amin.
-----------------------------------------------------------------------------------
Tabloid Kisah Hikmah, 04-yun, Edisi 53 1-15 Mei 2009, halaman 26

SEORANG TOKOH ISTIMEWA

Abdullah bin Hudzafah adalah salah seorang panglima Islam dalam penaklukan negeri Syam. Dia ditugaskan untuk menyerang kekuasaan Heraklius di Palestina yang berbenteng kuat terletak di pantai Laut Tengah. Akan tetapi, takdir Allah sudah menentukan kegagalannya pada sebuah pertempuran sehingga dia tertawan musuh.
Tertawannya Hudzafah dan beberapa pasukannya merupakan suatu kesempatan bagi Heraklius untuk menyiksa dan balas dendam kepada kaum Muslimin. Kemudian Heraklius memerintahkan untuk menghadirkan Ibnu Hudzafah ke hadapannya dan dia ingin membujuknya masuk ke dalam agamanya dan menjauhkan Ibnu Hudzafah dari keislamannya.
Heraklius memulai bujukannya terhadap Ibnu Hudzafah dengan senjata iming-iming materi. Heraklius berkata : “Masuklah kamu ke dalam agama Nasrani, engkau akan aku bebaskan mengambil hartaku sesukamu. Akan tetapi Ibnu Hudzafah menolak bujukan ini. Heraklius berkata lagi : “Masuklah kamu ke dalam agama Nasrani, kamu akan aku kawinkan dengan putriku.” Ibnu Hudzafah tetap menolak tawaran ini. Heraklius meninggikan tawarannya : “Masuklah kamu ke dalam agama Nasrani, aku akan membagi kekuasaanku denganmu.” Akan tetapi, Ibnu Hudzafah tetap menolak tawaran yang ke tiga ini. Kemudian Heraklius menawarkan tawarannya yang keempat : ”Masuklah kamu ke dalam agama Nasrani, aku akan memberikan kepadamu setengah dari kekuasaan dan setengah dari harta kekayaanku.” Lalu, Ibnu Hudzafah menjawabnya dengan tegas : ” Walaupun engkau memberikan kepadaku semua yang engkau miliki dan semua yang dimiliki oleh orang Arab, aku tidak beranjak dari agama Muhammad sedikit pun.”
Setelah gagal dengan senjata bujukan dan rayuan, Heraklius menggunakan senjata ancaman penyiksaan, dan penindasan. Heraklius berkata : “Kalau kamu tetap tidak mau, aku akan membunuhmu.” Heraklius tidak mengetahui bahwa orang yang berhasil lolos dari bujukan materi tidak akan bisa dikalahkan dengan senjata ancaman dan penyiksaan dan bahwa orang yang telah mengorbankan nyawanya sebagai tebusan untuk agamanya. Setelah itu Ibn Hudzafah menjawab : “Kamu bisa melakukan semaunya.” Kemudian Ibnu Hudzafah dimasukkan ke dalam penjara dengan tidak diberi makan dan minum selama tiga hari. Setelah itu diberikan kepadanya khamar dan daging babi, akan tetapi Ibnu Hudzafah tidak mencicipinya. Hal ini berlanjut sampai beberapa hari sehingga dia hampir mati kelaparan. Melihat keadaan seperti itu, Heraklius mengeluarkannya dari penjara dan berkata : “Mengapa kamu tidak mau memakan daging babi dan meminum khamar sedangkan kamu dalam keadaan lapar dan darurat?” Dia menjawab : “Memang benar bahwa keadaan darurat membuat makanan ini halal bagiku dan tidaklah haram bagi seorang Muslim untuk memakannya. Akan tetapi, aku lebih memilih tidak memakannya agar aku tidak mencaci Islam dan tidak merasa senang dengan kekalahan keislamanku.”
Kemudian Heraklius memerintahkan anak buahnya untuk menyalib dan mengikatnya di sebuah kayu sedangkan para pemanah memanahnya ke arah yang berdekatan dengan badannya. Akan tetapi Ibnu Hudzafah tetap tidak gentar sedikit pun, sedangkan Henaklius tetap membujuknya untuk masuk ke dalam agama Nasrani. Karena gagal dengan cara seperti itu, Heraklius menyalakan api besar di bawah sebuah periuk raksasa berisi air. Ketika air sudah mendidih, didatangkanlah seorang tawanan Muslim, lalu dilemparkan ke dalamnya sehingga dagingnya meleleh dan menjadi kerangka tulang. Setelah itu didatangkanlah tawanan kedua, lalu dimasukkan ke dalam periuk itu seperti tawanan yang pertama, sedangkan Ibnu Hudzafah menyaksikan semua peristiwa itu!
Kemudian Heraklius memerintahkan untuk melemparkan Ibnu Hudzafah ke dalam air yang mendidih tersebut. Ketika telah siap untuk dilemparkan, dia menangis lalu para pembantu melaporkan hal itu kepada Heraklius : “Ibnu Hudzafah telah menangis.” Dengan demikian, Heraklius mengira bahwa tangisan tersebut menunjukkan bahwa dia takut mati dan sudah mundur dari ketegarannya sehingga akan menerima tawaran yang pertama. Heraklius segera memerintahkan untuk menghadapkan Ibnu Hudzafah sekali lagi dan membujuknya untuk masuk Nasrani. Akan tetapi, Ibnu Hudzafah tetap menolak. Ia bertanya : “Kalau begitu, mengapa kamu menangis?” Pertanyaan ini dijawab oleh Ibnu Hudzafah dengan jawahan yang aneh dan sangat mengagumkan Heraklius yang menunjukkan kegagalalan dan kekalahannya di hadapan Ibnu Hudzafah. Dia menjawab : “Aku menangis karena aku hanya mempunyai satu nyawa yang akan aku korbankan di jalan Allah, sedangkan aku mengangankan mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambutku untuk menebus agamaku dan semuanya mati di jalan Allah!”
Dari jawaban Hudzafah tersebut, Heraklius semakin yakin bahwa dia telah kalah. Dia kalah sekalipun mempunyai harta kemegahan, dan kekuasaan di hadapan seorang Muslim yang sedang terasing dan tidak mempunyai apa-apa. Setelah itu Heraklius menawarkan kepadanya tawaran terakhir yang menunjukkan kekalahannya untuk memelihara rona wajahnya “Wahai Ibnu Hudzafah, apakah kamu mau mencium kepalaku dengan imbalan aku akan membiarkan dan membebaskanmu?” Dia menjawab : “Aku mau, dengan syarat kamu harus membebaskan semua tawanan kaum Muslimin yang ada di penjara. Semuanya berjumlah lebih dari 300 tawanan!” Kemudian Ibnu Hudzafah mencium kepala Heraklius.
Setelah itu, Ibnu Hudzafah dan semua temannya kembali pulang menemui Umar bin Khattab di kota Madinah, pusat kekhalifahan umat Islam. Lalu dia menceritakan semua yang telah terjadi. Akan tetapi, sebagian sahabat Rasul merasa keberatan dan mencela sikap Ibnu Hudzafah karena mencium kepala Heraklius. Mereka tidak pernah melihat harga mahal yang telah diraih oleh Ibnu Hudzafah, yaitu banyaknya tawanan Islam yang bisa dibebaskan. Sedangkan Khalifah Umar menyetujui sikap Abu Hudzafah dan berkata : “Adalah layak bagi setiap Muslim, untuk mencium kepala Ibnu Hudzafah dan aku akan memulainya.” Kemudian, Umar mencium kepala Ibnu Hudzafah lalu diikuti oleh semua sahabat Rasul.
----------------------------------------------
MEMPERTAJAM KEPEKAAN SPIRITUAL, Majdi Muhammad Asy-Syahawy, Bina Wawasan Press, Jakarta 2001, halaman 270-273.

Selasa, 05 Februari 2013

BAKTI TA’AT KEPADA KEDUA ORANGTUA DAN MENGHUBUNGI SANAK KERABAT (12)

Maimunah binti Alharits r.a. memerdekakan budak sahayanya, dan tidak minta idzin kepada Rasulullah s.a.w . Maka ketika tepat giliran Nabi bermalam kepadanya, ia berkata : Tahukah kau ya Rasulullah bahwa saya telah memerdekakan budak sahayaku. Nabi bertanya : Apakah sudah kau lakukan? Jawab Maimunah : Ya. Maka sabda Nabi : Andaikan kau berikan kepada keluarga bibimu, niscaya lebih besar pahala untukmu. (HR. Buchary dan Muslim).
-------------------------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 301-302.

URUSAN JENAZAH (19)

Dari Thalhah bin Abdullah bin ‘Auf r.a., ia berkata ; “Saya pernah menyembahyangkan jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas, dan Ia membaca fatihah, dan ia berkata. “Hendaklah mereka mengetahui bahwa itu adalah sunnat’. Diriwayatkan oleh Bukhary.
----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Janaiz,  halaman 203.

NABI MENYUSUN BARISAN

Pagi-pagi sekali kaum Muslimin berangkat menuju Uhud. Lalu mereka memotong jalan sedemikian rupa sehingga pihak musuh itu berada, di belakang mereka. Selanjutnya Muhammad mengatur barisan para sahabat. Lima puluh orang barisan pemanah ditempalkan di lereng-lereng gunung, dan kepada mereka diperintahkan :
“Lindungi kami dari belakang, sebab kita kuatir mereka akan mendatangi kami dari belakang. Dan bertahanlah kamu di tempat itu, jangan ditinggalkan. Kalau kamu melihat kami dapat menghancurkan mereka sehingga kami memasuki pertahanan mereka, kamu jangan meninggalkan tempat kamu. Dan jika kamu lihat kami yang diserang jangan pula kami dibantu, juga jangan kami dipertahankan Tetapi tugasmu ialah menghujani kuda mereka dengan panah, sebab dengan serangan panah kuda itu takkan dapat maju.”
Selain pasukan pemanah, yang lain tidak diperbolehkan menyerang siapa pun, sebelum ia memberi perintah menyerang.
Ada pun pihak Quraisy mereka pun juga sudah menyusun barisan. Barisan kanan dipimpin oleh Khalid bin’l-Walid sedang sayap kiri dipimpin oleh ‘Ikrima bin Abi Jahl. Bendera diserahkan kepada Abd’I ‘Uzza Talha bin Abi Talha. Wanita-wanita Quraisy sambil memukul tambur dan genderang berjalan di tengah-tengah barisan itu. Kadang mereka di depan barisan, kadang di belakangnya. Mereka dipimpin oleh Hindun binti ‘Utba, istri Abu Sufyan, seraya berteriak-teriak :
Hayo, Banu Abd’d-Dar
Hayo, hayo pengawal barisan belakang
Hantamlah dengan segala yang tajam.
Kamu maju kami peluk
Dan kami hamparkan kasur yang empuk
Atau kamu mundur kita berpisah
Berpisah tanpa cinta.


Kedua belah pihak sudah siap bertempur. Masing-masing sudah mengerahkan pasukannya. Yang selalu teringat oleh Quraisy ialah peristiwa Badr dan korban-korbannya. Yang selalu teringat oleh kaum Muslimin ialah Tuhan serta pertolongan-Nya. Muhammad berpidato dengan memberi semangat dalam menghadapi pertempuran itu. Ia menjanjikan pasukannya akan mendapat kemenangan apabila mereka tabah. Sebilah pedang dipegangnya sambil ia berkata : ” Siapa yang akan memegang pedang ini guna disesuaikan dengan tugasnya?”
Beberapa orang tampil. Tapi pedang itu tidak pula diberikan kepada mereka. Kemudian, Abu Dujana Simak bin Kharasya dari Banu Sa’ida tampil seraya berkata : ”Apa tugasnya, Rasulullah?’’
“Tugasnya ialah menghantamkan pedang kepada musuh sampai ia bengkok”. jawabnya.

ABU DUJANA DAN PITA MERAH
Abu Dujana seorang laki-laki yang sangat berani. Ia mengenakan pita (kain) merah. Apabila pita merah itu sudah diikatkan orang pun mengetahui, bahwa ia sudah siap bertempur dan waktu itu pun ia sudah mengeluarkan pita mautnya itu.
Pedang diambilnya, pita dikeluarkan lalu diikatkannya di kepala. Kemudian ia berlagak di tengah-tengah dua harisan itu seperti biasanya apabila ia sudah siap menghadapi pertempuran.
“Cara berjalan begini sangat dibenci Allah, kecuali dalam bidang ini,” kata Muhammad setelah dilihatnya orang itu berlagak.
Orang pertama yang mencetuskan perang di antara dua pihak itu adalah Abu ‘Amir ‘Abd ‘Amr bin Shaifi al-Ausi (dari Aus). Orang ini sengaja pindah dari Medinah ke Mekah hendak membakar semangat Ouraisy supaya memerangi Muhammad. Ia belum pernah ikut dalam perang Badr. Sekarang ia menerjunkan diri dalam perang Uhud dengan membawa lima belas orang dari golongan Aus. Ada juga budak-budak dari penduduk Mekah yang juga dibawanya. Menurut dugaannya, apabila nanti ia memanggil-manggil orang-orang Islam dari golongan Aus yang ikut berjuang di pihak Muhammad, niscaya mereka akan memenuhi panggilannya, akan berpihak kepadanya dan membantu Quraisy.
“Saudara-saudara dari Aus! Saya adalah Abu ‘Amir!” teriaknya memanggil-manggil.
Tetapi Muslimin dari kalangan Aus itu membalas : “Tuhan takkan memberikan kesenangan kepadamu, durhaka!”
Perang pun lalu pecah. Budak-budak Quraisy serta ‘Ikrima bin Abi Jahl yang berada di sayap kiri, berusaha hendak menyerang Muslimin dari samping, tapi pihak Muslimin menghujani mereka dengan batu sehingga Abu ‘Amir dan pengikut-pengikutnya lari tunggang-langgang.
--------------------------------------------------------------------------
SEJARAH HIDUP MUHAMMAD, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Kesebelas, Januari 1990, halaman 294-296.

Senin, 04 Februari 2013

BAKTI TA’AT KEPADA KEDUA ORANGTUA DAN MENGHUBUNGI SANAK KERABAT (11)

‘Aisjah r.a berkata : Bersabda Rasulullah s.a.w. Rahim itu bergantung pada ‘arsyullah, dan bersabda : Siapa yang menghubungi aku, Allah akan menghubunginya, dan siapa yang memutuskan hubungan dengan aku, Allah akan memutuskan hubungan padanya. (HR. Buchary dan Muslim).
-------------------------------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN I, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1978, halaman 301.