"Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji". (QS. al-Buruj (85) : 8)

Senin, 30 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (17)

Dari Abuddarda r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya Allah membenci kepada yang berbuat keji dan perkataan yang kotor”. Dikeluarkan dan disahkan oleh Tirmidzy.

Dan dalam riwayat itu pula dan Ibnu Masud r.a. marfu : “Bukan mukmin orang yang selalu menuduh, melaknat, mengerjakan kekejian dan perkataan yang kotor”. Dihasankan dan disahkan oleh Hakim, dan Darukutny menguatkan mauqufnya.
-------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 550.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (8)

Abu Dzarr r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. berkata ke pada saya : Janganlah meremehkan suatu kebaikan, walau sekadar menghadapi teman dengan muka yang manis. (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 57.

SETIABUDI TOUR & TRAVEL

Setiabudi Tour & Travel adalah Biro Perjalanan Wisata yang didirikan oleh anggota Karang Taruna di Kelurahan Sumurboto Kecamatan Banyumanik Kota Semarang, sebagai wadah pemberdayaan ekonomi dan pengembangan diri pemuda serta ikut mengembangkan industri pariwisata di Kota Semarang dan Jawa Tengah khususnya serta Indonesia pada umumnya.

Kami melayani : One Day Tour, Paket Wisata, Study Tour, Field Trip, Outbound and Rafting, Perjalanan Luar Kota dan Rent Car

Kami memiliki Spesial Program untuk 45 Peserta per Bis :
  1. Paket Majasemar (Magelang Kyai Langgeng – Jogja Malioboro)
  2. Paket Bajasemar (Baron – Kukup – Krakal – Jogja Malioboro)
  3. Paket Parjosemar (Parangtritis - Jogja Malioboro)
  4. Paket Bolosemar (Boyolali Tlatar – Solo)
  5. Paket Tanglosemar (Tawangmangu – Solo)
  6. Paket Purbasemar (Purbalingga Owabong – Sokaraja)
  7. Paket Balongsemar (Wisata Bahari Lamongan)
  8. Paket Pategsemar (Pekalongan – Tegal Guci)
  9. Paket Tour D’Bali (Wisata Bali, 5 Hari)
  10. Paket Tour D’Bandung (Trans Studio – Pasar Baru – Cibaduyut, 3 Hari)
  11. Paket Tour D’Malang (Selecta – Jatim Park 1 – Batu Saturday Night, 3 Hari)
  12. Paket Wisata Religi (Ziarah Jatim – Madura, 2 Hari)

Armada Bus yang bekerjasama dengan kami : Senja Furnindo – Jepara, Trans Jaya – Semarang, Subur Jaya – Rembang, Zentrum – Purwodadi dan Barito – Wonosobo.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi kami di : 024-7463281 / 081325434969 / 085640190565 atau E-mail : setiabudi.tnt@gmail.com

Motto kami, Setiabudi Tour & Travel : “Bersama Kami, Setiap Orang Bisa Liburan

Minggu, 29 Juni 2014

Panglima, Menteri dan Istri Aswad

Sementara itu Aswad al-Ansi yang sedang dalam puncak kemenangannya itu menyusun segala kekuatan dengan mengangkat pemimpin-pemimpin pasukan dan penguasa-penguasa daerah di wilayahnya masing-masing. Dengan demikian kedaulatan dan kedudukannya terasa sudah lebih kuat. Dari pesisir Yaman sampai ke Aden tunduk kepadanya, begitu juga daerah-daerah pegunungan dan lembah-lembah di San’a sampai ke Ta’if. Untuk angkatan bersenjatanya ia mengangkat Qais bin Abd Yagus sebagai panglima dan sebagai menterinya ia mengangkat Fairuz dan Dazweh. Keduanya orang Persia. Dia sendiri kemudian kawin dengan Azad, bekas istri Syahr bin Bazan. Perempuan ini sepupu Fairuz. Dengan demikian orang Arab dan orang Persia berada di bawah panjinya.
Merasa dirinya sudah begitu besar dan kuat, terbayang olehnya bahva seluruh bumi sudah tunduk kepadanya. Dia hanya tinggal memerintah dan akan ditaati. Tetapi unsur-unsur yang semula memberikan kemenangan kepadanya itu sekarang mengadakan persekongkolan hendak menjatuhkannya. Soalnya setelah merasa dirinya kuat, ia menganggap enteng orang-orang semacam Qais, Fairuz dan Dazweh, dan melihat pada kedua orang yang terakhir itu dan semua orang Persia sebagai orang-orang yang merencanakan makar kepadanya.
Istrinya yang juga orang Persia mengetahui hal itu dari dia. Darah golongannya pun mulai bergejolak. Rasa dengki sudah mulai menari-nari terhadap dukun buruk muka yang telah membunuh suaminya yang masih muda sesama orang Persia dan yang memang dicintainya sepenuh hati itu. Dengan naluri keperempuanannya ia dapat menyembunyikan perasaan hatinya kepada sang suami dan menurutkan segala kehendaknya sebagai betina yang setia, sehingga laki-laki itu pun makin lekat padanya dan makin mengharapkan kesetiaannya yang lebih besar ini. Tetapi Aswad merasa, bahwa orang-orang di sekitarnya itu, kedua menteri dan panglima perangnya, dengan segala kemurahan hati yang mereka perlihatkan, tidak benar-benar setia kepadanya, karena angkatan bersenjata adalah yang harus diwaspadai dan patut dikhawatirkan.
Ia pernah memanggil Qais bin Abd Yagus dan diberitahukan bahwa setannya telah membisikkan kepadanya dengan mengatakan : “Engkau menaruh kepercayaan dan bermurah hati kepada Qais. Kelak bila ia sudah begitu akrab dengan kau dan mempunyai kedudukan yang kuat seperti kau, dia akan menjadi lawanmu, merampas kerajaanmu dengan melakukan pengkhianatan.” Tetapi Qais menjawab : “Demi Zul-Khimar, itu bohong, baginda sungguh agung dan mulia di mataku sehingga takkan pernah hal serupa itu terlintas dalam pikiranku.” Aswad menatap Qais dari kepala sampai ke ujung kakinya, lalu katanya : “Sungguh biadab kau! Kau anggap raja berbohong! Raja berkata benar dan sekarang aku tahu bahwa kau harus menyesal atas segala yang pernah kaulakukan.”

Berkomplot Hendak Menghancurkan Aswad
Qais keluar dari tempat itu dengan membawa perasaan serba ragu terhadap segala yang ada dalam hatinya. Ketika bertemu dengan Fairuz dan Dazweh ia menceritakan pertemuannya dengan Aswad dan meminta pendapat mereka. “Kita harus berhati-hati,” jawah mereka. Sementara mereka dalam keadaan serupa itu, tiba-tiba Aswad memanggil mereka dan mengancam, karena mereka juga berkomplot dengan kawan-kawannya terhadap dirinya. Mereka keluar dari tempat Aswad dan menemui Qais. Mereka kini curiga dan sedang dalam bahaya besar.
Berita tentang segala yang terjadi dalam istana Aswad itu akhirnya sampai juga kepada kaum Muslimin yang ada di Yaman atau di tempat-tempat berdekatan dan mereka menyinggung juga surat Nabi kepada mereka. Kepada Qais dan kawan-kawannya itu mereka mengutus orang memberitahukan bahwa mengenai Aswad mereka sepaham. Dengan diam-diam kaum Muslimin yang berada di Najran dan di tempat-tempat lain sudah tahu mengenai berita-berita itu. Mereka menulis surat kepada teman-temannya yang dekat dengan Aswad bahwa mereka siap di bawah perintah untuk membunuh orang itu. Tetapi teman-teman itu meminta mereka jangan tergesa-gesa dan supaya menunggu di tempat masing-masing, dan jangan melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kecurigaan Aswad dan orang-orangnya terhadap mereka.

Istrinya Terlibat dalam Komplotan dan Terbunuhnya Aswad
Itulah pendapat orang-orang yang dekat dengan Aswad, sebab menurut pendapat mereka melakukan pembunuhan gelap akan lebih menjamin keberhasilannya daripada menghadapinya dengan perang. Azad, istrinya, juga sudah melibatkan diri dalam komplotan itu meski ia pura-pura memperlihatkan cintanya yang lebih besar kepada Aswad. Dia sudah menyediakan diri mengadakan hubungan dengan Fairuz, Dazweh dan Qais dan bersama-sama dengan mereka mengatur siasat untuk melakukan pembunuhan itu. Dia yang menunjukkan kepada mereka kamar tidur suaminya serta diperlihatkannya juga bahwa di sekitar istana tempat ia tinggal bersama suaminya itu diadakan penjagaan di segenap penjuru, kecuali di bagian belakang kamar itu. Bila malam sudah tiba mereka supaya membuat lubang dan masuk dari lubang itu ke dalam kamarnya. Di situ musuh mereka itu dibunuh. Dengan demikian mereka dan perempuan itu dapat melepaskan diri.

Terbunuhnya Aswad
Rencana itu mereka laksanakan. Di waktu subuh mereka saling memanggil dengan sandi yang sudah sama-sama mereka sepakati, dan mereka berseru secara Islam sambil ramai-ramai mengatakan : Kami bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah, dan bahwa si Abhalah —yaitu nama Aswad al-Ansi— pembohong. Kepala orang itu dilemparkan, dan para pengawal istana segera mengepung mereka. Orang ramai bersorak di kota dan dalam subuh buta itu orang keluar beramai-ramai. Sebentar keadaan jadi kacau tapi kemudian tenang kembali setelah Qais, Fairuz dan Dazweh menguasai keadaan, Baik dalam keadaan tenang atau dalam keadaan kacau sebelumnya besar sekali pengaruhnya buat Azad.
Terbunuhnya Aswad itu sebelum Rasulullah wafat atau sesudahnya? Dalam hal ini pendapat orang tidak sama. Sebelumnya sudah kita sebutkan sumber yang dari Ya’qubi. Tetapi Tabari dan Ibn Asir menyebutkan bahwa Aswad mati sebelum Rasulullah berpulang ke rahmatullah, dan bahwa pada malam kejadian itu Nabi Sallullahu ‘alaihi wasallam sudah menerima wahyu tatkala berkata : “Al-Ansi terbunuh, dibunuh oleh seorang laki-laki yang mendapat berkah dari keluarga orang-orang yang penuh berkah.” Ditanya siapa yang membunuh, ia menjawab : “Dibunuh oleh Fairuz.”
Sumber lain menyebutkan bahwa berita kematian Aswad itu baru sampai ke Medinah setelah Rasulullah wafat, dan bahwa itulah berita baik pertama yang sampai kepada Abu Bakr ketika ia di Medinah.
Selanjutnya sumber itu menyebutkan, bahwa Fairuz berkata : “Setelah Aswad kami bunuh keadaan kita kembali seperti semula, di tangan Mu’az, bin Jabal, dan dia yang mengimami shalat kami. Tinggal harapan bagi kami : orang yang kami benci sudah tak ada, kecuali pasukan berkuda teman-teman Aswad. Kemudian setelah datang berita kematian Nabi, di mana-mana timbul kegelisahan.”
Bagaimana timbul kegelisahan dan kenapa gelisah? Penjelasan mengenai hal ini di luar bidang bagian ini, dan rasanya sudah cukup apa yang disebutkan di atas. Peristiwa-peristiwa itu akan tampak nanti bila kita sampai pada perjuangan Aba Bakr menghadapi Perang Riddah atau kaum pembangkang yang murtad.
Kita menguraikan cerita tentang Aswad dan perlawanannya terhadap kaum Muslimin di Yaman ini dengan agak panjang lebar karena adanya sumber-sumber yang masih simpang siur bahwa dia mengadakan pembangkangan itu pada masa Rasulullah. Sedang yang mengenai Yaman pada masa Abu Bakr, cerita Aswad dan pemberontakannya sampai terbunuhnya itu kita lewatkan, dan kita akan memasuki apa yang terjadi sesudah itu, yang akan kita uraikan pada waktunya nanti.

Seluruh Daerah Selatan Dibakar Api Pemberontakan
Pergolakan Yaman ini termasuk gejala pembangkangan yang paling dahsyat terhadap agama baru di tanah Arab ketika Nabi wafat. Tetapi Yamamah dan kabilah-kabilah yang ada di seberang Teluk Persia pada masa itu juga sudah terancam api pemberontakan. Kaum Muslimin memang harus penuh waspada, kadang perlu berpura-pura dan kadang harus tegas, untuk menjaga kekuasaan dan kewibawaan mereka. Yang demikian ini tidak mengherankan mengingat keadaan mereka yang di kota dan di pedalaman jauh dari tempat turunnya wahyu di Mekah dan Medinah. Hubungan mereka dengan Persia disertai hubungan dagang dan mereka mengakui keunggulan Persia dalam kebudayaan. Jadi tidak mengherankan jika dalam hal ini Persia turut melempar batu sembunyi tangan dalam menggerakkan pemberontakan terhadap agama baru dan penguasa baru itu.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 66 - 70.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (16)

Dari Abu Shirmah r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Barangsiapa yang memadlaratkan (merugikan, menyakiti, menyusahkan) orang Islam, pasti akan dimadlaratkan oleh Allah; dan barangsiapa yang menyukarkan orang Islam, pasti di sukarkan orang itu oleh Allah”. Dikeluarkan oleh Abu Daud dan Tzrmidzy dan dihasankannya.
-----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 549.

Kerudung Dalam Agama ISLAM

Pendahuluan
KALAU tidak salah mungkin untuk pertama kalinya suara Emilia Hassan yang kemudian menjadi Emilia Contessa direkam dalam piringan hitam ketika dia menyanyikan lagu “Gadis Kerudung Putih”. Dia memuji-muji gadis yang mengenakan kerudung. Sebenarnya bukan cuma Emilia saja yang telah memuji-muji gadis yang berkerudung itu, mungkin penyanyi-penyanyi lainnya juga telah menyanjung-nyanjungnya.
Kerudung adalah lambang kesucian, lambang ketaatan bagi seseorang wanita yang memakainya. Hal ini saya sebutkan, bukan karena terpengaruh oleh suara emas Emilia, tapi memang demikianlah keyakinan saya.
Beberapa tahun, sampai kira-kira tahun 1960-an, masih banyak perempuan-perempuan bangsa kita yang merasa bangga dengan mengenakan kerudung itu. Di jalan-jalan dan terutama sekali di tempat-tempat pertemuan, atau pengajian, bahkan di pasar-pasar, kaum wanita masih mengenakannya. Mereka merasa malu jika keluar rumah, baik untuk berbelanja di pasar maupun untuk berjualan di sana, kalau tidak memakai kerudung. Sudah barang tentu kerudung yang mereka pergunakan atau kenakan itu bukan kerudung yang mahal-mahal harganya, melainkan yang sederhana dan murah. Seharusnya keadaan demikian itu tidak boleh luntur dari kaum wanita kita, karena hal itu sudah cukup baik, jadi harus dipertahankan.

Sejarah kerudung
Banyak yang sinis terhadap Islam — istimewa pada zaman PKI dahulu — yang menganggap bahwa kerudung itu adalah pakaian adat perempuan Arab. Karena agama Islam bukan milik Arab, maka kita seharusnya tidak perlu untuk ikut-ikutan adat mereka. Memang, kerudung pantas untuk pakian mereka, karena dipadang pasir berdebu, sehingga kerudung bisa mereka gunakan sebagai pelindung rambut mereka agar tidak kotor. Apalagi soal pakaian adalah soal keduniaan, yang dibolehkan oleh Islam kita menentukan atau memilih sendiri.
Begitulah kira-kira ucapan mereka.
Tetapi yang benar tidak demikian. Soal kerudung adalah soal ibadah, yang kita diperintah oleh Allah dan Rasul-Nya untuk mengenakannya.
Bahwa kerudung bukan pakaian adat wanita Arab, terbukti dari cerita Siti ‘Aisyah berikut ini : Telah berkata Shafiyah binti Syaibah : Pada waktu kami bersama-sama ‘Aisyah mereka sebut-sebut perempuan-perempuan Quraisy dan kelebihan mereka. Maka ‘Aisyah berkata : “Sesungguhnya perempuan-perempuan Quraisy itu mempunyai beberapa kelebihan, tetapi sesungguhnya demi Allah, aku tidak melihat yang lebih mulia daripada perempuan-perempuan Anshar. Karena mereka sangat membenarkan kitab Allah dan sangat kuat iman mereka kepada wahyu yang diturunkan, maka ketika diturunkan surat An-Nur 31 “wal yadlribna bikhumuri hinna ‘ala juyubihinna... “, laki-laki mereka pulang lalu membacakan kepada mereka apa yang diturunkan Allah itu, lalu tiap-tiap seorang dari mereka mengambil kain yang berlukis, lalu mereka jadikan kerudung, karena membenarkan dan percaya kepada apa yang diturunkan Allah di kitab-Nya.” (R. Abu Dawud).
Dari cerita atau riwayat tersebut, jelaslah bahwa jika kerudung itu pakaian perempuan Arab, tentu Siti ‘Aisyah tidak akan mengagumi wanita-wanita Anshar, dan lebih dari itu, perintah berkudung itu tidak akan dikeluarkan oleh Allah dan Rasul-Nya s.a.w.

Hukum Berkerudung
Berkerudung bagi kaum wanita Islam diperintah oleh Allah. Dengan demikian hukumnya wajib. Perintah berkudung itu tercantum dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 31, sebagai berikut :
“Dan hendaklah mereka menutup kerudung kepala mereka sampai ke dada-dada mereka.”
Dan dalam surat Al-Ahzab ayat 59, juga disebutkan sebagai berikut : “Hai Nabi, suruhlah isteri-isterimu dan anak-anak perempuanmu serta perempuan-perempuan mukminin, supaya mereka menutup tubuhnya dengan kain selubungnya ketika mereka keluar rumah.”
Demikianlah perintah Allah dalam Quran. Sedang Nabi Muhammad saw. dalam sebuah haditsnya telah menentukan batas-batas yang harus ditutup oleh perempuan Islam.
Beliau s.a.w. bersabda dalam hadits berikut ini : “Telah berkata ‘Aisyah : Sesungguhnya Asma binti Abi Bakar menjumpai Nabi s.a.w. dengan mengenakan pakaian yang jarang, maka beliau berpaling dari padanya sambil berkata : Hai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu apabila telah baligh, tidak pantas dilihat kecuali ini dan ini, sambil mengisyaratkan pada muka dan dua tangannya.” (HR. Abu Dawud).
Dalam hadits lain, Rasulullah s.a.w. sekali lagi menegaskan bahwa seluruh tubuh wanita itu adalah aurat, yang harus ditutup dari pandangan orang yang tidak berhak melihatnya, kecuali bagian muka dan tangannya seperti yang diterangkan dalam hadits di atas. Rasulullah bersabda : “Wanita itu adalah aurat”. (H.S.R. Turmudzi).
Demikian tegasnya hadits itu, Sehingga tidak perlu dibahas atau diberi keterangan panjang lebar, karena sudah cukup jelas.

Sikap kita
Kalau kita baca buku “Penyerbuan ke dunia Islam”, kita akan tahu bahwa salah satu alat yang akan dipergunakan oleh musuh-musuh Islam untuk menghancurkan Islam dari kaum Muslimin adalah wanita! Mereka hendak menghasut wanita-wanita Islam.
Sebagai wanita kita jadi bangga, tapi juga cemas. Bangga karena kaum wanita yang dikenal sebagai kaum yang lemah ini, ternyata masuk dalam perhitungan lawan lebih daripada kaum pria. Jelas hal ini adalah karena kemampuan kita. Tetapi kita juga merasa cemas karena menanti apa yang bakal terjadi atas diri kita dengan ulah mereka itu. Kalau kita mampu memagari dan mengebalkan diri kita, berarti kita yang akan dibuat sebagai senjata paling ampuh bagi mereka, sudah tidak berfungsi lagi. Kita dapat menyelamatkan diri kita dan kaum Muslimin umumnya.
Tetapi kalau kita malahan menyediakan diri untuk menerima hasutan mereka, berarti bahwa kitalah yang akan diadu untuk kemenangan mereka dalam menghadapi Islam dan ummatnya.
Mereka tahu bahwa kaum kita lemah tapi cukup ampuh. Jika kita telah dapat mereka pengaruhi, artinya segala-galanya akan beres dengan sendirinya.
Bung Karno sendiri pernah mensitir sebuah kata-kata hikmat (tapi dikatakan sebagai hadits oleh beliau) dalam buku beliau “Sarinah” bahwa “Wanita adalah tiang negara”. Memang benar dia dengan apa yang dikutipnya itu. Sebab bagaimanapun kuatnya benteng suatu negara — yaitu kaum lelakinya — tapi kalau tiangnya rapuh, maka negara itu akan hancur.
Hasutan-hasutan apakah yang akan mereka lakukan terhadap Wanita-wanita Islam itu? Antara lain adalah tentang perkawinan (khususnya : poligami), persamaan hak (emansipasi), hijab (tabir yang membatasi wanita dan pria), pakaian wanita Islam (termasuk kerudungnya).
Mengenai pakaian, mereka serang kaum Muslimat dengan bermacam-macam mode yang berakibat dengan robohnya sebagian besar kaum kita. Tadinya hampir seluruh badan wanita tertutup rapat, kemudian sedikit demi sedikit terbuka. Mula-mula rambutnya, yaitu kita berkerudung, tapi karena tipisnya sampai rambut kelihatan dari luar. Dan kita masih berkerudung juga, tapi sebagian rambut kita sengaja kita pamerkan dengan menjepitkan kerudung di tengah atau di puncak kepala, sehingga rambut kepala bagian depan terbuka. Malahan ada yang sengaja melepas jepitnya supaya jatuh dan tersangkut di kuduk, dengan demikian tidak percuma kita berhias menyisir rambut berjam-jam lamanya dengan di-shampoo atau di-hairspray. Dan terakhir bebaslah rambut itu dari hijab; bebas dipertontonkan berupa sisiran terurai, dipilin (diklabang), dipotong pendek, dipotong ala laki-laki, disasak dan sebagainya, dan sebagainya.
Kadang-kadang untuk menghadiri pengajian, masih banyak di antara kita yang mau memakai kerudung yang berbentuk segitiga, sekalipun rambut mereka telah dipotong.
Itulah salah satu contoh tentang kerudung, yang menunjukkan bahwa hasutan mereka telah masuk ke kaum kita. Mereka tidak akan biarkan kita hidup tanpa pengaruh mereka. Mereka tidak akan rela kalau kita tetap teguh memegang agama kita istimewa dalam soal pakaian. Kabarnya konon di negara-negara Timur Tengah kaum wanitanya telah banyak melepaskan pakaian yang selama ini mereka kenakan. Kini perempuan-perempuan Arab itu dengan bangga memakai rok Eropa. Dan masih jelas dalam ingatan kita bagaimana orang-orang Barat ini menghasut dan memperolok-olokkan wanita-wanita Iran karena mereka membungkus tubuh mereka dengan pakaian menurut ajaran Islam yang mereka anut itu. Maha benar Allah yang telah berfirman dalam surat Al-Baqarah 120 : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani sekali-kali tidak akan merasa senang kepadamu, sebelum engkau turut menjadi penganut agama.”
Contoh lain adalah ketika Walikota Jeddah datang ke Indonesia, isterinya mengatakan kepada wartawan yang maksudnya bahwa Islam tidak mengatur soal pakaian wanita, karena soal itu adalah soal keduniaan. Jika dia memang benar-benar mengatakan yang demikian, dan itu diucapkannya dengan penuh kesadaran, jelaslah bahwa dia tidak mengenal ajaran atau hukum Islam mengenai pakaian perempuan itu, padahal dia tinggal di pintu masuk Mekkah. Hal ini sangat memalukan. Tapi kalau dia berkata demikian karena kelemahan imannya (dia sendiri mengenakan rok ala Eropa), maka itu urusan dia dengan Allah. Tapi ucapan yang sangat berani itu sebenarnya ucapan yang sesat dan menyesatkan, yang akan dipegangi oleh mereka yang berhajat pada fatwa semacam itu! Padahal Allah telah berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 36 sebagai berikut : “Tidak patut bagi lelaki mukmin dan tidak pula bagi perempuan-perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Penutup
Sebagai penutup sekali lagi saya tegaskan bahwa :
  1. Seluruh tubuh wanita adalah aurat, dengan demikian maka harus ditutup kecuali muka dan tangan karena hanya itulah yang dibenarkan oleh syara’. Jadi menutup atau berpakaian secara yang diajarkan oleh Islam hukumnya wajib. Yang tidak mengindahkannya, dianggap mendurhakai Allah dan Rasul-nya dan dinyatakan sebagai sesat.
  2. Kerudung adalah termasuk dalam pakaian wanita Islam yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kita memakainya. Berkerudung pun hukumnya wajib.
  3. Bahwa orang Yahudi dan Nasrani menghendaki dan tidak rela kalau kita kaum Muslimin tidak mengikuti agama mereka, sudah jelas, ditegaskan dalam Al-Baqarah 120. Sudah tentu mereka tidak akan berani memurtadkan kita, tapi rupanya mereka cukup puas jika kita tetap memeluk Islam hanya yang mereka maukan kita tidak menjalankan ajaran Islam. Apalagi kalau kita mau mengikuti cara-cara mereka seperti yang pernah disinyalir oleh Nabi Muhammad s.a.w. dalam Sebuah haditsnya. Bahwa berkerudung itu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya harus kita yakini benar. Dan kita harus tegas mengatakan seperti firman-Nya yang diajarkan-Nya kepada kita : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar.” (Al Baqarah : 120). Dan ayat tersebut diakhiri dengan kata-kata : “Demi jika sekiranya engkau turuti kemauan mereka, sesudah engkau memiliki pengetahuan, tentu Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagi engkau.” Ya Allah, berilah kami keberanian untuk mengikuti petunjuk-Mu dan petunjuk Nabi-Mu. Amin.
-----------------------------------------
Tulisan Hanna A.H., Majalah Al-Muslimun No. 154 Rabi'ul Awal/Rabi'ul Akhir 1403 H, Januari 1983 M Tahun ke29, Penerbit : Firma Al-Muslimun Bangil Jawa Timur, halaman 25-29.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (7)

‘Aisyah r.a. berkata : Zaid bin Haritsah datang ke kota Madinah sedang Rasulullah berada di rumahku, kemudian Zaid mengetuk pintu, maka Nabipun segera bangun menyambutnya dengan menyeret kainnya, kemudian mendekap dan memeluknya. (HR. Attirmidzy).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 57.

Sabtu, 28 Juni 2014

Lambang Persamaan Derajat Manusia

TIME TUNNEL. Ketika aku membaca sebuah hadits dari Abu Hurairah r.a. berkata : Rasulullah  ï·º berkata kepada Bilal : "Hai Bilal ceritakanlah kepadaku, amal perbuatan apakah yang telah kau lakukan yang terbaik di dalam Islam, karena saya telah mendengar suara sandalmu didepanku di surga? Jawab Bilal : Tiada suatu amal yang saya harapkan di dalam Islam, selain jika saya selesai berwudlu, baik di waktu malam atau siang, maka saya pergunakan sholat sekuat saya."   (HR. Buchary dan Muslim). Rasanya ingin aku berkelana di masa itu dan mengenal beliau secara pribadi, Bilal bin Rabah.
Dulu ketika aku kecil, seringkali mendengar kisah soal kecintaannya pada Allah ta'ala; "Ahad ...! Ahad ...! Ahad ...!", itulah ucapan yang keluar tatkala dadanya dihimpit batu panas.
Bila Umar bin Khattab disebutkan nama Abu Bakr, maka ia akan berkata : "Abu Bakr adalah pemimpin kita yang telah memerdekakan pemimpin kita" (yang dimaksud Umar bin Khattab adalah Bilal bin Rabah). Sebuah gelar dari Umar bin Khattab, "Pemimpin Kita" untuk pribadi besar sekaliber Bilal bin Rabah tentunya layak disandangnya. Lelaki berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis.
--------------------------
Inspirasi :
Tarjamah Riadhus Shalihin jilid II
; Salim Bahreisj; Penerbit PT Alma'arif Bandung; cetakan kelima 1979; halaman 199
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro Cetakan keduapuluh 2006.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (15)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Dua orang yang saling caci-mencaci itu, dosanya bagi yang memulainya, selama yang dianiaya itu tidak melawan”. Dikeluarkan oleh Muslim.
--------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 549.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (6)

Ibnu Umar r.a. berceritera yang akhirnya ia berkata : Maka kami mendekat kepada Nabi s.a.w. dan mencium tangannya. (HR. Abu Dawud).

Riwayatnya :
Ketika kami dalam suatu peperangan melarikan diri, kemudian setelah kami berunding, apakah yang harus kami kerjakan, sedang kami telah lari dari perang dan pula telah mendapat murka Allah, maka kami mengambil putusan akan kembali ke kota Madinah, serta menghadap langsung kepada Nabi s.a.w. apabila masih ada jalan untuk bertobat, kami akan menetap (di Madinah) kalau tidak ada jalan untuk bertobat, maka kita pergi saja. (meninggalkan kota Madinah). Maka masuklah kami ke kota Madinah pada malam hari, dan subuh sebelum fajar kami sudah duduk di masjid menantikan Rasulullah s.a.w. ketika Rasulullah keluar segeralah kami berdiri menyambut sambil berkata : Kamilah yang melarikan diri dalam peperangan. Maka Nabi s.a.w. menghadap kepada kami sambil berkata : Bahkan kamulah yang tetap berjuang dan menyerang musuh. Dan ketika kami mendengar jawaban yang demikian dan Nabi s.a.w. segera kami mendekat kepada Nabi s.a.w. mencium tangan Nabi s.a.w. (HR. Abu Dawud).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 56-57.

Jumat, 27 Juni 2014

Sikap Rasulullah Menghadapi Ulah Aswad

Tatkala berita-berita itu sampai kepada Muhammad di Medinah, ia tengah mengadakan persiapan hendak menghadapi pihak Rumawi dan akan mengadakan pembalasan terhadap Mu’tah sambil mengadakan konsolidasi menghadapi bahaya yang sedang mengepung Semenanjung Arab itu dari segenap penjuru. Untuk itu disiapkannya pasukan Usamah. Pasukan ini akan dikerahkan ke Yaman untuk membungkam Aswad dan pemberontakannya itu dan mengembalikan kewibawaan kaum Muslimin di sana, ataukah akan meminta bantuan kaum Muslimin yang masih ada di Yaman saja? Kalau memang mampu, itulah pilihan yang lebih baik. Atau kemenangan pasukan Muslimin terhadap pasukan Rumawi —sebagai pihak yang baru saja mengalahkan Persia— harus dapat mengembalikan Semenanjung itu seperti keadaannya semula. Kalau tidak, Muhammad akan mengirimkan pasukannya untuk membungkam Aswad dan yang semacam Aswad itu. Pilihan terakhir ini agaknya yang lebih meyakinkan Muhammad.
Ia lalu mengutus Wabr bin Yuhannas membawa sepucuk surat kepada pemuka-pemuka Muslimin di Yaman dengan perintah agar mereka dapat mengembalikan kewibawaan agama dan siap menghadapi perang serta berusaha menumpas Aswad dengan jalan membunuhnya atau menyerbunya, dengan meminta bantuan siapa saja yang dipandang mempunyai keberanian dan rasa agama. Cukup dengan keputusan itu yang diambil Muhammad mengenai Yaman. Perhatian selebihnya ia curahkan untuk menyusun pasukan Usamah dan mengalahkan kekuatan Rumawi.
Tak lama kemudian setelah itu Rasulullah jatuh sakit, dan ini mengakibatkan tertundanya keberangkatan pasukan Usamah.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 66.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (14)

Dari Qutbah bin Malik r.a., ia berkata ; Adalah Rasulullah s.a.w. bersabda : “ALLAHUMMA JANNIBNI MUNKAROTI WAL ‘A’MALI WAL ‘AHWA’I WAL ‘ADWA’.” (Ya Allah, jauhkanlah saya dari akhlak-akhlak yang munkar, perbuatan-perbuatan yang munkar, kesenangan-kesenangan yang munkar, penyakit-penyakit yang munkar).” Dikeluarkan oleh Tirmidzy dan disahkan oleh Hakim, dan ini adalah lafadhnya.
-----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 548.

TSANIA ITSNAIN

Sejarah mencatat, ia dikenal dan dihormati sebagai tokoh tua yang disegani dari kalangan Al-Muhajirin. Memiliki panggilan Tsania-itsnain yakni tokoh kedua pada peristiwa persembunyian di dalam gua Tsur, menurut panggilan yang diberikan Allah, Abbul ‘Arsyil ‘Azhiem, di dalam Al-Quran surat At-Taubah : 40
Dia pun terkenal dengan sebutan Ash-Shiddiq. Karena sikap keimanannya yang mantap pada saat mendengar dan menanggapi peristiwa spektakuler, ‘Isra dan Mi’raj Dimana, peristiwa itu telah membuat sekian banyak orang bertanya-tanya tentang kebenarannya. Suatu ujian bagi keimanan, memang.
Bagi Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., peristiwa itu bukanlah merupakan hal yang mustahil. Tetapi, merupakan sesuatu yang pasti. Dia mengenal betul siapa itu Muhammad, Rasulullah s.a.w.
Kemantapan iman yang merupakan wujud dari pemahaman dan penjiwaan syahadatain, dibuktikan khalifah pertama ini dengan perkataannya : “Jika Rasulullah s.a.w. mengatakan begitu, maka benarlah apa yang dikatakannya itu. Saya percayai apa yang beliau katakan, baik akal saya menjangkaunya atau tidak. Baik saya mengerti hikmahnya atau tidak.
Inilah yang dituntut terhadap seorang yang telah memproklamirkan dirinya sebagai hamba Allah yang beriman. Yaitu sikap harus menerima dengan sepenuh hati segala perkara yang datang dari Allah dan Rasul-Nya. Kalau sudah jelas Allah mengatakan (memerintahkan) sesuatu, maka janganlah kita menjadikan akal sebagai hakim untuk menerimanya atau tidak. Tetapi, kita harus menerimanya karena keimanan kita. “Dan tidak sepatutnya bagi mukminin maupun mukminat apabila telah diputuskan sesuatu urusan oleh Allah dan Rasul-Nya. ada bagi mereka (hak) memilih dalam urusan mereka. Karena itu barangsipa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesatlah ia dalam kesesatan yang nyata.” (QS. 33 : 36).
Tidak hanya peristiwa ‘Isra dan Mi’raj saja yang harus diterima tanpa reverse, tanpa hak membantah sedikitpun. Tetapi seluruh isi wahyu Allah dan hadits Rasul-Nya yang shahih dan mutawatir harus pula diterima dengan sepenuh hati tanpa hak menentang dan mempersoalkan sedikitpun. Sikap “sami’na wa at’na” harus menjadi prinsip. Sikap iltizam (disiplin) dan memberikan wala’ (kesetiaan) kepada Allah dan Rasul-Nya secara penuh dan total inilah yang ingin ditunjukkan oleh sahabat Rasulullah s.a.w. itu.
Sikap ta’atnya yang tulus ikhlas itu telah banyak terbukti, walaupun setelah wafatnya Rasulullah s.a.w. Abu Bakar Shiddiq r.a. tetap berpegang teguh kepada pesan Rasulullah s.a.w. untuk menjadikan Usamah bin Zaid sebagai panglima Pasukan muslimin menuju perbatasan Syiria, walaupun usia Usamah r.a. pada saat itu masih sangat belia. Ia tidak ingin bergeser dari pesan itu sekalipun banyak pihak yang menentangnya. Ia yakin apa yang disampaikan oleh Rasulullah s.a.w. selalu benar dan ada hikmahnya. Kesetiaan dan keta’atan yang patut dicontoh.
Dalam kasus Tsania- Itsnain mengatakan :
“Sekalipun aku diterkam sekelompok anjing dan serigala. Aku tidak akan merubah keputusan yang telah ditetapkan Rasulullah s.a.w.”
Pemberangkatan pasukan tempur yang besar pimpinan Usamah r.a. itu akan bermakna menempatkan ibukota Madinah dalam suasana kosong kekuatan sama sekali. Ditambah lagi, suasana masih dalam keadaaan berkabung dengan wafatnya Rasulullah s.a.w. Tetapi, keyakinannya kepada pertolongan Allah s.w.t. dan keberadaan kerasulan Muhammad s.a.w. tidak membuat gentar Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Pendiriannya terungkap dalam kalimat ini : “Demi Allah, yang nyawa Abu Bakar ada di tangan-Nya. Sekalipun kuduga hewan-hewan buas akan menerkamku, aku akan tetap melaksanakan pemberangkatan Usamah seperti yang diperintahkan Rasulullah s.a.w. Sekalipun tidak ada lagi yang tinggal di dalam negeri ini, kecuali daku. Aku akan tetap melaksanakannya!”.
Hasil dari keyakinan, kesetiaan dan keta’atannya itu, pasukan besar pimpinan Usamah bin Zaid r.a. kembali dengan kemenangan gemilang dan tiada satupun anggota pasukan itu yang mengalami cidera.
Wallahu a’lam bishshawab.
--------------------------------------------
Buletin Da'wah 'IZZAH No. 43/II 3 Sya'ban 1412 H/7 Februari 1992 M

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (5)

Shofwan bin Assal r.a. berkata : Seorang Yahudi berkata kepada temannya : Mari kita pergi kepada Nabi itu. Maka pergilah keduanya kepada Rasulullah s.a.w. dan menanyakan tentang sembilan ayat. Dan setelah dijawab oleh Nabi s.a.w. Mereka lalu mencium tangan dan kaki Nabi sambil berkata keduanya : Kami bersaksi bahwa Engkau benar-benar Nabi. (HR. Attirmidzy).

Sebenarnya kesemuanya sepuluh ayat, dan yang bersamaan dengan ajaran Islam sembilan, sedang yang kesepuluh khusus bagi kaum Yahudi. Yang sembilan itu yalah : Jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan jangan mencuri, jangan berzina, jangan membunuh jiwa yang tidak bersalah (dengan tidak hak). Jangan melaporkan orang yang tidak bersalah kepada raja untuk dibunuh, jangan menenung (berbuat sihir), jangan makan riba (rinten), jangan menuduh wanita yang sopan dengan zina, jangan lari dari peperangan. Dan yang khusus untuk kaum Yahudi : Jangan melanggar (mengail) di hari Sabtu. Pertanyaan ini sengaja untuk menguji kebenaran Nabi Muhammad s.a.w.
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 55-56.

Kamis, 26 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (13)

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah s.a.w.bersabda : “Tahukah kalian, apakah ghibah itu’” Mereka (shahabat-shahabat) berkata : “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Ghibah itu ialah engkau menyebut-nyebut saudaramu dengan perkara yang ia tidak suka”. Seorang berkata : “Bagaimana kalau pada saudaraku itu memang sebagaimana yang saya katakana?” Beliau bersabda pula : “Kalau padanya memang ada sebagaimana yang engkau katakan, sungguh engkau telah mengumpat dia; dan kalau padanya tidak seperti yang engkau katakan, sungguh engkau telah berdosa”. Dikeluarkan oleh Muslim.

Dari padanya r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Janganlah kalian saling hasud, dan janganlah saling tipu dengan tambah-menambah (harga waktu membeli), dan janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi, dan janganlah seorang di antara kalian menjual di atas jualan sebahagiannya (memotong jalan pada orang yang sedang tawar-menawar), dan hendaklah kalian jadi hamba Allah yang bersaudara; orang Islam itu adalah saudaranya orang Islam lagi, ia tidak akan menganiayanya, tidak akan mengecewakannya, dan tidak akan menghinakannya; Taqwa itu inilah di sini (beliau menunjuk pada dadanya tiga kali) “cukup orang berbuat jahat dengan menghinakan saudaranya sesama Islam; Tiap orang Islam itu haram: darahnya, hartanya dan kehormatannya”. Dikeluarkan oleh Muslim.
---------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 547-548.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (4)

Anas r.a. berkata : Seorang bertanya : Ya Rasulullah, seorang jika bertemu dengan kawan, apakah menundukkan diri? Jawabnya : Tidak. Apakah mendekap dan memeluk? Jawab Nabi : Tidak. Apakah menyambut tangan dan menjabatnya? Jawab Nabi : Ya. (HR. Attirmidzy).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 55.

Rabu, 25 Juni 2014

Beberapa Faktor Penyebab Pergolakan

Yang mengherankan, ketika Aswad menghadapi Syahr bin Bazan di San’a hanya dengan tujuh ratus orang pasukan berkuda. Ada yang bergabung kepadanya dari Mazhij dan ada pula yang dari Najran. Dengan jumlah pasukan yang begitu kecil, dukun sihir itu mendapat kemenangan melawan penduduk kawasan tersebut dan berkembang cepat sekali seperti jilatan api, tak ada kekuatan yang dapat melawannya. Kalau kita hendak menafsirkan peristiwa itu, barangkali kita dapat mengatakan, bahwa negeri-negeri itu memang sedang berada di bawah kekuasaan Persia. Setelah itu kemudian di bawah kaum Muslimin yang datang dari Hijaz. Kita pun tahu permusuhan yang sudah ada sejak lama berakar antara Yaman dengan Hijaz. Setelah Aswad tampil menuntut Yaman untuk orang Yaman, tak ada orang yang mengadakan perlawanan. Pihak Persia tak dapat membela Syahr dan ayahnya, dan orang Hijaz pun tak ada di negeri itu yang akan membantu kaum Muslimin dari ulah dan tipu muslihat Aswad.
Tetapi dapat juga ditafsirkan dari segi lain, yakni negeri ini memang sudah menjadi ajang berbagai macam agama : Yahudi, Nasrani dan Majusi. Agama-agama ini berdekatan pula dengan berhala-berhala dan peribadatan masyarakat Arab. Di samping itu Islam yang baru saja singgah di Yaman, ajaran-ajarannya belum dapat dikatakan sudah kuat merasuk ke dalam hati warga penduduk negeri itu. Setelah nabi palsu itu muncul di tengah-tengah mereka dengan membangkitkan rasa kegolongan. mengajak mereka dengan berdalih ia telah mengusir kekuasaan asing dari negerinya itu, segera sekali mereka menyambut ajakan itu. Tak ada jalan bagi kaum Muslimin selain melarikan diri, dan bagi orang-orang Persia yang masih ada di tempat itu tak ada jalan lain daripada tunduk atau mati.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 65.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (12)

Dari Abu Dzar r.a., dari Nabi s.a.w. tentang perkara yang beliau riwayatkan dari Tuhannya. Tuhan berfirman : “Hai hambaku, sungguh aku haramkan aniaya itu atas diriku sendiri, dan aku jadikan aniaya itu perkara yang haram di antara kamu”. Dikeluarkan oleh Muslim.
-----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 547.

ABU LAHAB

Fitnahan-Fitnahan Keji
DIA seorang pemimpin suku Quraisy jang besar pengaruhnya, disamping Abu Thalib. Mukanya merah padam; lantaran itu digelari “Abu Lahab” (Raja Api).
Dia lebih fanatik berpegang kepada agama nenek moyangnya daripada siapapun juga. Lebih daripada orang lain, dan dia mengerti, bahwa aqiedah Tauhid yang dibawakan oleh Rasulullah s.a.w. sebenarnya lebih berbahaya bagi kelanjutan kepercayaan syirik yang mereka anut itu, dan daripada ajaran-ajaran yang dibawakan oleh pemuka-pemuka agama Yahudi dan Nasrani, yang mereka tolerir selama ini dibeberapa tempat ditanah Arab seperti di Medinah, Yaman dan lain-lain. Oleh karena itu dengan segenap kekuatannya Abu Lahab menentang Risalah Muhammad s.a.w. dan semula secara gigih. Konfrontasi yang pertama kali dengan Rasulullah s.a.w. terjadi dalam satu jamuan makan untuk para anggauta keluarganya yang diselenggarakan oleh Rasulullah s.a.w. Abu . Lahab memulai
kampanyenya dengan melemparkan satu “label” atau cap “Shabi” yakni “Penyeleweng”. Maksudnya penyeleweng dari agama nenek moyang Quraisy dan “pemecah belah kekuatan kaum Quraisy”. Diharapkannya bahwa label yang murah itu akan lekas populer dikalangan kaum Quraisy, dan dapat menghimpunkan rakyat Quraisy dan kabilah-kabilah lainnya untuk menghancurkan Muhammad s.a.w. dan pengikut-pengikutnya.
Tetapi Rasulullah dengan bijaksana dapat mengelakkan “label” yang tajam itu, dan disongsongnya dengan istilah yang sesuai dengan hakekat tugasnya “Raid” (perintis jalan) bagi kaumnya yang sedang “musafir”.
Dalam pertemuan kedua, keluarga Rasulullah s.a.w. sudah bersibak dua, pro dan kontra. Abu Lahab Cs. disatu fihak, dan Abu Thalib beserta Ali bin Abi Thalib di lain fihak.
Salah Taksir
Tadinya Abu Lahab mengharapkan bahwa dia akan dapat melawan dan membungkamkan da’wah Rasulullah dengan melancarkan ide “keutuhan Quraisy dan Arab” umumnya, sebagai daya penarik yang populer bagi semua kekuatan untuk meng-isoleer dan menghancurkan da’wah Muhammad s.a.w. Diharapkan dengan itu Muhammad s.a.w. akan tertegun dan kuncup, ibarat bunga kena hujan lebat pagi hari.
Tetapi taksirannya meleset. Tugas Rasulullah adalah menegakkan kebenaran. Dan beliau menegakkan Unity Through Truth (Persatuan berdasarkan kebenaran), bukan unity for the sake of unity, unity at all cost, unity at the cost of truth and human well being.
Kalau truth (kebenaran) itu buat pertama kali disampaikan ketengah-tengah suatu kaum yang sudah penuh dengan kebatilan yang berkarat semenjak berabad-abad seperti halnya dengan masyarakat Quraisy, lalu terjadi “perpecahan”, lantaran ada pro dan kontra, maka itu adalah undang-undang alam (Sunnatullah) jang tak bisa dielakkan oleh siapapun. Siapa enggan memecah telor jangan idamkan memakan dadar. (Telor rebuspun perlu dipecah dulu, maka bisa dimakan).
Sudah tentu Abu Lahab tidak akan tinggal diam sesudah konfrontasi yang pertama ini. Dia seorang yang gigih dan ulet dalam perjuangannya pula.
Dia bersama isterinya akan bekerja lebih keras lagi, dikalangan rakyat Mekkah, dengan segala macam “labels” dan cap-capan terhadap Rasulullah.
Rasulullahpun memahami hal ini. Persoalan ini sudah menjadi pembicaraan orang ramai. De teerling is geworpen. Rasulullah tidak menunggu lama-lama.
Bimbingan Ilahy datang berupa ayat : “Berterus teranglah dengan apa yang diperintahkan
kepadamu; dan berpalinglah dari kaum Musyrikin itu !” (Al Hajr : 94).
Beliau naik kepuncak bukit Shafa, ditengah-tengah kota Mekkah. Dari sana dengan berdiri tegak, diserukannya panggilan kepada seluruh penduduk Mekkah dan bermacam-macam suku itu : “Dengarkan, dengarkan, wahai orang banyak !”. Dipanggilnya suku Bani Zudrah, Bani Abdul Manaf, Bani Abdul Muttalib, Bani Asad, Bani Mahzum, Bani Taim dan lain-lain. Lalu disampaikannya Risalahnya, dengan terang dan jelas, dengan kata-kata yang menarik, tetapi tegas tanpa tedeng aling-aling. Orang-orang diserunya kepada Tauhid, yang diametral bertentangan dengan agama orang-orang berkuasa dikota Mekkah dan sekitarnya.
Akibat dari seruan beliau yang pertama kali didepan umum ini, ialah beliau mendapat tambahan musuh, dan juga tambahan kawan, diantara para pendengarnya. Ini adalah Sunnatullah.

Intimidasi, Paksaan Dan Siksaan
Maka Abu Lahab yang mengerti bahwa Muhammad tidak bisa terkalahkan olehnya bila dilawan dengan bertukar argumentasi (hujjah melawan hujjah) dan fitnahan-fitnahan, lalu mengambil tak-tik lain. Dia perpindah kepada keunggulannya yaitu dalam kekuatan fisik.
Semenjak itulah ummat Muhammad mulai mendapat cobaan-cobaan, berupa paksaan kekerasan dan siksaan-siksaan fisik yang berat. Ada diantara mereka yang syahid, baik laki-laki maupun wanita lantaran mempertahankan dan menegakkan tauhid. Kalau dalam tiga tahun pertama sebelumnya, yaitu diwaktu ummat Muhammad yang berjumlah ± 40 orang itu menganut agama mereka secara sembunyi, dibiarkan dan tidak diganggu benar, maka sekarang Abu Lahab cs bekerja keras untuk melancarkan serangan-serangan mereka dengan tidak memberikan ruang hidup lagi (physical extermination).
Akan tetapi justru dalam suasana yang demikianlah, dalam penindasan-penindasan yang tak kenal perikemanusiaan itu pulalah timbulnya laki-laki yang jantan, seperti Bilal, Shuhaib, Amir bin Fuhairah, Abu Fukaihah dan lain-lain dari kalangan rakyat jelata menjadi pembawa panji Kalimah Tauhid kemedan jihad, dan kemenangan nantinya …………. Rupanya : “Lantaran dibakar dan ditempa juga, makanya baja melebihi besi!”.

Bujukan Halus
Abu Lahab cs belum kehabisan akal. Didekatinya Abu Thalib, untuk membujuk Muhammad s.a.w. supaya menghentikan da’wahnya, dan dibayangkan kepadanya, bahwa kalau dia mau, dia akan diberi apa saja yang disukainya: harta benda, kedudukan dan lain-lain.
Dijawab oleh Rasulullah s.a.w. : “Aku pantang meninggalkan perjuangan ini. Sekalipun mereka letakkan matahari ditangan kananku, dan bulan ditangan kiriku, tidaklah aku akan meninggalkannya. Aku teruskan sampai Allah. s.w.t. mengurniakan kemenangan, atau aku hancur dalam perjuangan !”
Abu Lahab cs tidak berhenti disitu saja. Dikirimnya pula utusan untuk mengemukakan satu konsepsi. Suatu campur aduk antara tauhid dan syirik, demi keutuhan dan kejayaan Quraisy dan bangsa Arab.
Rasulullah tolak dengan kontan.

Tujuan Menghalalkan Cara
Jadi Abu Lahab adalah ‘aduw (musuh) ummat Islam. Satu lawan yang degil, ulet dan banyak akalnya. Baginya : “het doel heiligt de middelen” (tujuan menghalalkan segala cara). Debat, “labels”, fitnah, paksaan, siksaan, pembunuhan, rangkulan, semua dilaksanakannya.
Muhammad s.a.w. menghadapinya tanpa ragu-ragu dengan keuletan, disemua bidang; dibidang fisik dan mental dengan keberanian mengambil risiko tanpa kompromi, dan dengan berserah diri sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Esa.
Tak tahulah, bagaimana gerangan orang menghadapi Abu Lahab, sekiranya dia ada pula dizaman ini. Tetapi Rasulullah beserta ummat Muhammad menghadapinya seperti itu. Dan cara begitulah yang telah membawa kejayaan Ummat Tauhid.
Bukan ummat yang dengan bendera “hikmah”, seenaknya saja talbisul haqqa bil bathil, dan dengan panji-panji “mendekati gagang” seenaknya saja melakukan “tazalluf” (mengesek-esek) dan “tamalluq” (mendekat-dekatkan diri), bertanam tebu dibibir, menjilat-jilat.
Begitulah ummat yang sudah diserang penyakit “jubn”, sehingga : “…………… mereka takut kepada manusia seperti takutnya kepada Allah atau lebih sangat takutnya ……………….” (An-Nisa : 77).
“Orang yang beriman itu berperang dijalan Allah; dan orang-orang yang kufur itu berperang dijalan sesuatu yang melewati batas. Lantaran itu perangilah pengikut-pengikut syaithan, karena tipu daya syaithan itu adalah lemah.” (An-Nisa : 76).
-----------------------
Disajikan kembali dari buku “dibawah naungan risalah” tulisan M. Natsir, Sinar Hudaya – Documenta 1971, halaman 44 - 50.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (3)

Al-Barra’ r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Tiada dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan diampunkan dosa keduanya sebelum berpisah. (HR. Abu Dawud).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 55.

Selasa, 24 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (11)

Dari Khaulah Al-Anshariyyah r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesunguhnya orang-orang suka mengambil harta Allah dengan tidak berhak, maka bagi mereka di hari kiamat ialah neraka”. Dikeluarkan oleh Bukhary.
---------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 546-547.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (2)

Anas r.a. berkata : Ketika orang-orang dari negeri Yaman datang, maka Rasulullah s.a.w. bersabda : Kini telah datang penduduk kota Yaman, dan merekalah yang pertama-tama mengadakan peraturan berjabat tangan. (HR. Abu Dawud).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 54.

Senin, 23 Juni 2014

Yaman Sebelum Pergolakan Ansi

Besar dugaan bahwa pergolakan Ansi itu terjadi pada akhir masa Rasulullah. Benar tidaknya dugaan ini, yang jelas terjadinya itu pada masa Abu Bakr. Cerita pemberontakan seperti yang dituturkan paru sejarawan itu termasuk aneh, yang cukup meminta perhatian kita, dan sekaligus dapat mengungkapkan segi-segi psikologisnya. Hal ini mendorong orang untuk memikirkannya lebih dalam.
Dari beberapa utusan Rasulullah yang dikirim kepada para raja, ada seorang di antaranya yang diutus kepuda Kisra Persia, mengajaknya masuk Islam. Setelah surat Nabi itu diterjemahkan. Kisra sangat berang, dan memerintahkan kepada Bazan (Badhan), penguasa Persia di Yaman supaya kepala orang yang di Hijaz itu dikirimkan kepadanya. Ketika itu Rumawi sudah dapat mengalahkan Kisra dan keadaannya pun memang sudah lemah.
Setelah Bazan menerima surat atasannya itu, dikirimkannya surat itu kepada Muhammad, dan Muhammad juga membalas dengan memberitahukan bahwa Syiruya (Khavad II) sekarang sudah menggantikan Kisra bapaknya, dan sekaligus dimintanya ia menganut Islam dan tetap sebagai penguasanya di Yaman. Berita kekacauan di Persia dan Syiruya yang naik takhta serta kemenangan Rumawi atas Persia itu sudah pula sampai kepada Bazan. Oleh karena itu dengan cepat ia menerima seruan Muhammad, dan orang Persia itu sekarang bertindak sebagai wakil Nabi atas bangsa Yaman, setelah sebelumnya sebagai wakil Persia.
Sesudah Bazan meninggal kekuasaannya oleh Rasulullah diberikan kepada beberapa orang, di antaranya Syahr Bazan diberi tugas tanggung jawab atas kota Sana dan sekitarnya. Ada pula orang-orang Yaman sendiri dan yang lain sahabat-sahabat Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dari Medinah. Sementara para penguasa itu sedang mengatur daerahnya masing-masing, tiba-tiba datang surat dari Aswad al-Ansi mengancam agar mereka menyerahkan semua kekuasaan itu ke tangannya, sebab dialah yang lebih berhak. Dari sinilah kemudian timbul gejala fitnah dan kekacauan yang pertama.
Aswad ini seorang dukun yang tinggal di Yaman bagian selatan, seorang tukang sihir yang dapat membuat bermacam-macam muslihat, dan mempengaruhi penduduk dengan kata-katanya. Ia mendakwakan diri nabi dan juga menamakan dirinya “Rahman,” sama halnya dengan Musailimah yang menamakan dirinya “Rahman Yamamah.” Ia mengaku memelihara setan yang dapat mengalahkan segala macam, dan juga dapat mengalahkan segala rencana musuh. Ia tinggal dalam sebuah gua Khabban di Mazhij. Orang-orang awam dalam jumlah besar banyak yang datang kepadanya karena tertarik pada kata-katanya, dan terpesona oleh apa yang katanya adalah perkataan setannya.
Aswad mengepalai kelompok itu setelah ia membuat kerusuhan. Ia pergi ke Najran dan menyingkirkan Khalid bin Said dan Amr bin Hazm wakil Muslimin di daerah itu. Penduduk Najran yang merasa terpesona oleh kemenangan Aswad segera bergabung. Mereka sama-sama pergi ke San’a dan ia berhadapan dengan Syahr bin Bazan yang kemudian dibunuhnya dan pasukannya dikalahkan. Kaum Muslimin yang tinggal di kota itu lari, dipimpin oleh Mu’az bin Jabal, menyusul Khalid bin Sa’id dan Amr bin Hazm ke Medinah. Dengan kemenangannya itu Aswad menjadi raja Yaman. Sekarang orang-orang dari pedalaman dan dari kota, dan sahara Hadramaut, Ta’if, Bahrain dan Ahsa sampai ke Aden tunduk di bawah perintahnya.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 63 - 65.

Rumah dan Sanggar Tari

Bapak Mei Dwi Suprayitno mempunyai rumah sudut. Dalam waktu dekat beliau akan merenovasi rumah dengan menambah 2 kamar tidur. Satu kamar buat anak, dan satunya lagi merupakan kamar tidur utama sekaligus ruang kerja. Ruang ini akan digunakan istri untuk mendalami dan menciptakan kreasi seni tari.

Wijoyo Hendromartono selaku Arsitek melihat denah yang dikirimkan bapak Dwi sepertinya sudah pernah melakukan renovasi atau menambahkan ruang yang sekarang berfungsi sebagai dapur, kamar pembantu, dan lantai atasnya. Sebetulnya, ruang tambahan yang telah dibangun itu melewati batas GSB rumah bapak Dwi. Untuk mengantisipasi “urusan” di kemudian hari, fungsi ruang yang telah ada sebelumnya (ruang pembantu, kamar mandi, dan dapur) dipindahkan ke tempat yang lebih “aman”. Bangunan atau ruang yang telah dibuat sebelumnya bisa dianggap semipermanen (seperti carport atau garasi).

Selain itu, keinginan bapak memerlukan ruang tidur sekaligus ruang kerja untuk menari tidak mengganggu nantinya? Bapak ingin tidur, tetapi istri masih bekerja dengan segala bunyi-bunyiannya. Oleh sebab itu, diusulkan ruang kerja istri tetap berdekatan dengan ruang tidur, namun secara fisik terpisah. Jadi ruang kerja itu sekaligus menjadi sanggar tari.

Lantai bawah :
1. Carport
2. Teras Depan
3. Ruang Tamu / Ruang Keluarga
4. Ruang Makan
5. Dapur
6. Ruang Tidur 1
7. Kamar Mandi
8. Ruang Tidur Utama
9. Sanggar Tari / Ruang Kerja
10. Teras Belakang

Lantai atas :
11. Koridor Mezzanine
12. Ruang Tidur 2
13. Kamar Mandi
14. Ruang Tidur 3
15. Ruang Tidur Pembantu
16. Kamar Mandi
17. Ruang cuci dan jemur
--------------------------
Tabloid Rumah Edisi 17, I/03 September - 16 September 2003, halaman 37.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (10)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Apabila seseorang di antara kalian berkelahi, maka jauhilah (jangan memukul) muka”. Muttafaq ‘alaih.

Dari padanya r.a., bahwasanya seorang laki-laki berkata : “Ya Rasulullah, wasiatilah saya”. Beliau bersabda: “Jangan marah”, orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, dan Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jangan marah”. Dikeluarkan oleh Bukhary.
-------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 546.

SUNNAT BERJABAT TANGAN, BERMUKA MANIS DAN MENCIUM TANGAN ORANG SALIH DAN ANAK, DAN MENDEKAP ORANG BARU DATANG DARI BEPERGIAN DAN MAKRUH MERENDAHKAN DIRI (1)

Abu Khatthab (Qatadah) berkata : Saya bertanya kepada Anas : Apakah jabatan tangan itu terjadi pada sahabat Rasulullah s.a.w.? Jawabnya : Ya. (HR. Buchary).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 54.

Minggu, 22 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (9)

Dari ‘Aisyah r.a., ia berkata ; Rasulullah sa.w. bersabda : “Ya Allah, orang yang menguasai urusan ummatku, lalu ia menyusahkan umatku, maka susahkanlah orang itu”. Muttafaq’alaih.
---------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 546.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (6)

Abu Sa’id Alkhudry r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. bersabda : Jika menguap salah seorang kamu hendaknya meletakkan tangan di mulutnya, karena syaithan akan masuk. (HR. Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 53.

Sabtu, 21 Juni 2014

Nabi-nabi Palsu Bermunculan

Banyak di antara mereka yang tertipu oleh orang yang pertama mendakwakan diri sebagai nabi dan mendapat wahyu, seperti wahyu yang diterima oleh Muhammad. Belum lama setelah masuk Islam mereka merasa sudah salah langkah. Bahkan ada yang merasa demikian sementara Nabi sendiri masih hidup, masih berada di tengah-tengah mereka. Di kalangan Banu Asad banyak orang yang menyambut Tulaihah yang mendakwakan diri nabi dan mendapat dukungan ketika ia meramalkan adanya tempat mata air tatkala golongannya sedang dalam perjalanan hampir mati kehausan. Kalangan Banu Hanifah banyak juga yang menyambut Musailamah ketika ia mengutus dua orang pengikutnya kepada Muhammad, memberitahukan bahwa Musailimah Juga nabi seperti dia, dan bahwa separuh bumi ini buat dia dan separuh buat Kuraisy, tetapi Kuraisy golongan yang tidak suka berlaku adil. Juga penduduk Yaman mengenal nama Aswad al-Ansi yang bergelar “Zul-Khimar” —“orang yang berkudung”, tatkala orang ini menguasai Yaman dan mengusir wakil Nabi. Tetapi mereka oleh Rasulullah tidak begitu dihiraukan, dengan keyakinan bahwa kebenaran yang ada dalam agama Allah ini sangat kuat untuk menangkis kebohongan mereka, dan dengan keimanan yang sudah kuat onang-orang yang beriman itu akan mampu membasmi mereka.

Aswad yang Mendakwakan Diri Nabi
Mereka yang mendakwakan diri nabi itu menyadari posisi mereka terhadap Rasulullah. Di antara mereka tak ada yang memberontak seperti yang dilakukan oleh Aswad al-Ansi. Konon ia mendakwakan diri nabi lalu tampil dan terbunuh ketika Nabi masih ada. Tetapi sebagian sejarawan ada yang menyebutkan bahwa ia mengambil cara seperti kedua rekannya itu, menunggu sampai Rasulullah wafat, kemudian baru mereka memberontak melawan Islam. Dalam buku Tarikh-nya al-Yaqubi menuturkan : “Aswad bin Inza al-Ansi sudah mendakwakan dirinya nabi sejak masa Rasulullah. Setelah Abu Bakr dilantik ia muncul dan mendapat pengikut beberapa orang. Ia dibunuh oleh Qais bin Maksyuh al-Muradi dan Fairuz ad-Dailami yang memasuki rumahnya dan mendapatkannya sedang mabuk lalu dibunuh.”
Mengutip salah satu sumber at-Tabari mengatakan: “Perang pembangkangan pertama setelah Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam wafat ialah perang yang dilancarkan oleh Ansi. dan perang Ansi itu terjadi di Yaman.”
Pada akhir hayat Nabi Semenanjung itu memang belum tenteram. Belum semua keadaan sudah stabil di bawah satu panji dan dalam satu agama. Di bawah tanah masih tersimpan bibit-bibit fitnah dan pembangkangan. Tanda-tanda pergolakan di bagian timur laut dan di selatan seluruhnya masih menyala dan tidak akan dapat dipadamkan tanpa adanya kekuatan rohani yang kemudian dilimpahkan Allah kepada Rasul-Nya dan ternyata membawa kemenangan. Bahkan kemenangan ini pun belum dapat membungkam Musailimah dan Aswad al-Ansi dari usaha-usaha mendakwakan diri nabi di kalangan masyarakatnya itu. Maksud mereka supaya di kalangan Banu Hanifah dan di Yaman serta kelompok-kelompok Arab yang lain ada juga nabinya, seperti di kalangan Kuraisy. Kalau tidak karena kearifan Rasulullah serta pandangannya yang jauh dan tepat serta karunia Allah kepadanya dan kepada Islam, niscaya api fitnah itu akan terus berkobar dan apinya akan membakar habis orang-orang itu semua, sementara ia masih hidup.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 62 - 63.

8 Cara Untuk Mengetahui Nokia Asli atau Palsu

TERANG DI HATI. Saya ingin berbagi sedikit wawasan tentang cara mengetahui kualitas handphone Nokia asli atau palsu. Pada umumnya masyarakat di seluruh dunia mayoritas sudah mengenal sebuah telepon genggam atau sering disebut dengan nama handphone (HP). Kebanyakan orang hanya bisa menggunakan dan mengoperasikannya saja tapi tidak bisa mengetahui apakah handphone yang mereka gunakan berkualitas bagus atau tidak. dari sekian banyak handphone yang telah tersebar di beberapa penjuru dunia ini telah banyak handphone yang berkualitas buruk dan berkualitas bagus. Jadi untuk perhatian bagi kita semua hati-hatilah dalam memilih atau membeli sebuah handphone. kalau kita tidak mengetahui apakah handphone ini kualitasnya bagus atau tidak maka kita menggunakannya tidak akan lama. Mudah-mudahan kita semua bisa memilih atau membeli handphone yang kualitasnya bagus atau asli. Demi kenyamanan kita dalam mengoperasikan sebuah handphone hendaknya kita menggunakan handphone yang kualitasnya asli atau bagus. Untuk mengetahui sebuah handphone Nokia asli atau bukan dan lain sebagainya saya punya trik tersendiri, Anda juga bisa menggunakan trik seperti saya agar anda semua tidak tertipu dengan Nokia palsu. Untuk mengetahuinya silahkan baca triknya di bawah ini :
  1. Gunakan kode seperti ini *#2820# Kalau Nokia asli pasti akan keluar alamat addressnya atau permintaan aktifkan bluetooth, kalau handphone tersebut adalah buatan china maka tidak akan ada respone sama sekali.
  2. Lihat pada tampilan menu profil kalau ada menu bluetooth maka handphone tersebut pasti buatan China.
  3. Buka folder foto, kalau nama awal fotonya memakai nama IMG maka handphone tersebut adalah buatan China.
  4. Cek pada konektor baterainya, kalau konektor handphone Nokia asli antara VBAT-BSI-GND ada arusnya semua atau terkoneksi semua. Sedangkan handphone buatan China cuma VBAT dan GND saja yang ada arusnya.
  5. Gunakan kode *#0000# nanti akan tampil serial, tanggal pembuatan, (C), RH atau RM, language. kalau buatan china tidak bakalan keluar tampilan seperti ini.
  6. Cek konektor SIM, kalau konektornya 2 (dua) maka pasti bukan Nokia asli. sepengetahuan saya Nokia asli itu cuma memiliki 1 SIM aktif.
  7. Jika handphone menggunakan touchscreen, bongkar pasang touchsreennya, jika Nokia asli tidak ada permintaan untuk kalibirasi pena, Kalau handphone buatan China maka pasti touchscreennya agak error dan mintak di kalibirasi ulang.
  8. Terakhir buka handphonenya dan lihat CPU-nya kalau pakai MTK maka handphone tersebut pasti bukan Nokia asli.

Semua cara diatas bisa kamu praktekkan semua, trik ini tidak terlalu sulit untuk dilakukan, semoga trik ini bisa membantu Anda dan jangan sampai Anda memilih atau membeli handphone yang kualitasnya buruk. Lebih baik hati-hati daripada Anda penyesalan di kemudian hari. Demikianlah artikel saya kali ini jika Anda berhasil maka handphone yang kamu gunakan saat ini adalah Nokia yang berkualitas bagus.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (8)

Dari Ma’qil bin Yasar r.a., ia berkata ; Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : “Orang yang diperintah oleh Allah memimpin / menjaga rakyat, lalu ia mati, di waktu itu ia mati sedang menipu rakyatnya, tiada lain kecuali Allah mengharamkan sorga bagi orang itu”. Muttafaq ‘alaih.
--------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 545-546.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (5)

Abu Musa r.a. berkata : Adanya orang-orang Yahudi suka bersin di muka Nabi s.a.w. karena ingin dido’akan dengan YARHAMUKALLAH, tetapi Rasulullah hanya berkata : YAHDIKUMULLAH WA YUSHLIHU BAA LAKUM. (HR. Abu Dawud dan Attirmidzy).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 53.

Jumat, 20 Juni 2014

Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak

Sewaktu Sunan Kalijaga masih hidup, masjid Kadilangu masih berupa Surau kecil. Setelah Sunan Kalijaga wafat dan digantikan oleh puteranya yang bernama Sunan Hadi (putera ketiga). Surau tersebut disempurnakan bangunannya hingga berupa masjid seperti terlihat sekarang ini. Disebutkan di sebuah prasasti yang terdapat di atas pintu masjid sebelah dalam yang berbunyi : "Meniko titi mongso ngadekipun masjid ngadilangu hing dino Ahad Wage tanggal 16 sasi dzul-hijjah tahun tarikh jawi 1456, (ini waktunya berdiri Masjid Kadilangu pada hari Ahad Wage tanggal 16 bulan Dzul-hijjah tahun tarikh Jawa 1456). Tulisan tersebut aslinya bertulisan huruf Arab. Atau Masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak berdiri sejak 1534 M  Menurut informasinya Masjid Kadilangu ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan di beberapa bagian, sehingga banyak bagian bangunannya yang sudah tidak asli, terutama bagian luarnya. (Sunan Kalijaga)
Selain tergolong masjid tua, masjid ini memiliki keunikan yang lain yakni mustaka yang atapnya mirip dengan berbagai masjid lama seperti Masjid Agung Demak, Masjid Agung Kauman Semarang serta banyak lagi, atap limasan itu bersusun dua. Di kubah terpasang pengeras suara yang difungsikan untuk mengumandangkan azan agar terdengar hingga ke pelosok daerah.
Saat masuk ke serambi masjid terdapat dua buah beduk yang berfungsi sebagai penanda masuk waktu shalat. Dari dua beduk itu salah satunya yang berada di sebelah kiri masjid merupakan peninggalan Sunan Kalijaga. Bedug bersejarah itu hingga saat ini masih kuat dan terlihat kokoh. Setelah melihat serambi, di ruangan utama masjid terdapat saka guru atau tiang masjid yang berjumlah empat buah semuanya masih asli dan terbuat dari kayu jati. Begitu pula pintu dan jendela masjid masih utuh dari kayu jati belum diganti. (Suara Merdeka)
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Jauharotun Nafis diketahui bahwa arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak diketahui kemelencengannya sebesar 8,42 derajat.
Tetapi respon tamir terhadap kemelencengan arah kiblat masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak kurang, karena menurut pandangan tamir masjid Sunan Kalijaga Kadilangu Demak bahwa ijtihad Sunan Kalijaga dalam menetapkan arah kiblat tidaklah sembarangan, yakni menggunakan laku spiritual yang pasti tepat dan harus diikuti tanpa ada keraguan. Wallahu a’lam bishshowwab.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (7)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Janganlah kalian berprasangka, karena sangkaan itu percakapan yang paling dusta”. Muttafaq ‘alaih.
------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 545.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (4)

Abu Hurairah r.a. berkata : Adanya Rasulullah s.a.w. jika bersin meletakkan tangan atau bajunya atas mulutnya, dan merendahkan suaranya. (HR. Abu Dawud dan Attirmidzy).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 53.

Kamis, 19 Juni 2014

Logika Kaum Murtad dan Mereka yang Menolak Menunaikan Zakat

Mereka yang enggan menunaikan kewajiban zakat berkata di antara sesama mereka : Kalau kaum Muhajirin dan Ansar sudah berselisih mengenai kedaulatan, dan Rasulullah wafat tidak meninggalkan wasiat siapa yang akan menggantikannya, maka sudah seharusnya kita mempertahankan kemerdekaan kita sendiri justru demi menjaga Islam agama kita. Dan seperti kalangan Muhajirin dan Ansar, kita pun berhak menentukan pilihan siapa yang akan bertindak menggantikan Rasulullah di antara kita. Adapun bahwa kita harus tunduk kepada Abu Bakr atau kepada yang lain, bukanlah itu yang dikehendaki agama, juga Qur’an tidak mengajarkan demikian. Kita wajib taut kepada orang yang kita serahi urusun kita sendiri.
Barangkali mereka yang berpikiran serupa itu masih dapat dimaafkan mengingat Rasulullah sendiri memang mengakui adanya sebagian kekuasaan otonomi pada beberapa daerah Arab dan kabilah itu. Mereka berpikir untuk mengambil kemerdekaan itu sepenuhnya setelah Nabi wafat. Badhan, gubernur Persia di Yaman tetap memegang kekuasaan setelah ia menyatakan dirinya masuk Islam dan meninggalkan agama Majusi. Para amir yang lain, seperti di Bahrain, Hudramaut dan yang lain, dibiarkan dalam kekuasaan masing-masing setelah mereka beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Zakat yang dipungut dari sebagian penduduk daerah itu dibagikan kepada orang-orang miskin di daerah itu juga. Keharusan membayar jizyah yang ditemukan oleh Islam hanya berlaku terhadap Ahli Kitab.
Masyarakat Arab Muslimin seperti penduduk Medinah, kenapa mereka membayar zakat kepada penguasa Medinah! Kenapa mereka tidak mempertahankan hubungannya dengan Medinah dalam arti hubungan kesatuan agama yang tak ada hubungannya dengan kekuasaan politik! Soalnya Medinah sudah lebih dulu mengenal Islam sehingga mereka lebih tahu tentang segala kewajiban dan ajaran-ajaran Islam. Mereka tinggal mengutus orang ke daerah-daerah dan kepada kubilah-kabilah lain untuk mengajarkan agama, seperti dulu dilakukan oleh Rasulullah, sehingga hubungan mereka satu sama lain lebih menyerupai perserikatan antar-umat Islam. Satu sama lain tidak saling dirugikan dan tidak mencari jalan untuk melanggar kemerdekaan pihak lain.
Pikiran ini yang berkecamuk pada sebagian kabilah yang berdekatan dengan Medinah, Mekah dan Ta’if. Sedang penduduk Yaman dan selatan Semenanjung di seberangnya, begitu juga kavasan-kawasan lain yang jauh dari pusat kedudukan Islam, mereka banyak yang menerima Islam sebagai penghormatan saja atas kekuasaan Muhammad yang dalam waktu pendek tersebar luas hingga mencapai perbatasan imperium Rumawi dan Persia. Penyebarannya yang begitu cepat memang sangat mengagumkan. sehingga setiap kabilah itu berturut-turut mengirimkan utusan ke Medinah menyatakan kepada Nabi bahwa mereka dan kabilah-kabilah lain yang tergabung ke dalamnya masuk Islam. Tetapi dengan tersebarnya berita bahwa Nabi wafat, tidak heran jika iman mereka jadi goyah dan mereka berbalik murtad dari agama yang baru saja mereka terima. Juga tidak heran jika mereka kemudian membangkang terhadap agama ini lalu terbawa oleh orang-orang yang mengobarkan fitnah dan api permusuhan atas nama fanatisma dan kecongkakan Arahnya.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 61 - 62.

Bagaimana Terjadinya Hujan?

Awan terdiri dari titik-titik air kecil dan ringan, hingga melayang di udara. Titik air itu selalu bergerak. Kalau titik-titik air itu bertemu, mereka menggabung dan menjadi lebih besar. Titik-titik air itu pun bertambah berat, dan tak dapat melayang lagi di udara. Lalu jatuh ke bumi berupa hujan. Waktu naik, udara itu menjadi dingin. Semakin tinggi udara itu naik, akan semakin dingin. Semakin dingin udara itu, semakin banyak uap air yang mengembun. Titik-titik air makin lama makin besar, dan akhirnya jatuh menjadi hujan. Itulah sebabnya, di daerah pegunungan banyak turun hujan.
Awan dan hujan terjadi, karena ada udara naik, yang kemudian menjadi dingin. Kadang-kadang udara itu terpaksa naik melewati tempat yang tinggi.
-------------------
Cuaca, Pustaka Dasar, Penerbit PT. Gramedia Jakarta, 1978, halaman 14 - 15.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (6)

Dari Ibnu Mas’ud r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Mencaci-maki orang Islam itu fasik, dan membunuhnya itu kufur”. Muttafaq ‘alaih.
-------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 545.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (3)

Abu Musa r.a. berkata : Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : Jika bersin salah seorang kamu maka ia membaca : ALHAMDULILLAH, maka sambutlah ia dengan YARHAMUKALLAH dan jika tidak membaca ALHAMDULILLAH jangan kamu sambut. (HR. Muslim).

Anas r.a. berkata : Dua orang bersin di muka Rasulullah s.a.w. maka Rasulullah s.a.w. mendo’akan yang satu, dan tidak mendo’akan yang kedua. Maka orang yang tidak disambut do’a itu berkata kepada Nabi s.a.w. Fulan tadi bersin maka Kau sambut dengan do’a, dan saya bersin tidak kau do’akan. Berkata Nabi s.a.w. : Dia membaca ALHAMDULILLAH, maka saya sambut dengan do’a. Dan engkau tidak membaca ALHAMDULILLAH. (HR. Buchary dan Muslim).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 52-53.

Rabu, 18 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (5)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata ; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Tanda-tandanya orang munafik itu ada tiga : Apabila ia berkata berdusta, dan apabila ia berjanji tidak dipenuhi, dan apabila diamanati berkhianat.” Muttafaq ’alaih. Dan dari keduanya dari hadits Abdullah bin ‘Amr : “Dan. apabila berbantah, tidak pernah mengaku salah (menekan pada lawan)”.
------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 545.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (2)

Abu Hurairah r.a. berkata : Bersabda Nabi s.a.w. : Jika bersin salah seorang kamu hendaknya membaca : ALHAMDULILLAH. Dan harus disambut oleh yang mendengar : YARHAMUKALLAH. Kemudian jika telah dido’akan oleh kawannya dengan YARHAMUKALLAH harus ia berkata : YAHDIKUMULLAHU WA YUSHLIHU BAALAKUM. (Semoga Allah memberi hidayat kepada kamu dan menenangkan hati fikiranmu). (HR. Buchary).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 52.

Selasa, 17 Juni 2014

Tauhid, energi yang tak pernah habis

TIME TUNNEL. Ketika tiba-tiba terbuka mataku, aku merasa tengah berada dalam sebuah rombongan yang tengah berbaris rapi, rupanya aku berada dalam rombongan pasukan yang tengah persiapan menuju perang Uhud. Ketika Rasulullah tengah memberikan wejangan kepada kami, tiba-tiba kami sontak dikejutkan dengan serombongan pasukan berkuda cilik yang mendekati kami. Dengan menghiba-hiba mereka memohon agar diikut-sertakan dalam barisan Mujahidin.
Rafi’ bin Khudaij tampil dihadapan Rasulullah dengan membawa tombaknya serta mempermainkannya dengan gerakan yang mengagumkan, lalu berkata : “Sebagaimana anda lihat ya Rasulullah, aku adalah seorang pelempar tombak yang mahir, maka mohon aku diijinkan untuk ikut….!”
Rasulullah mengucapkan selamat terhadap pasukan muda Mujahidin yang baru saja memperlihatkan kemampuannya dengan senyuman manis dan ramah, lalu mengijinkannya turut serta.
Melihat kejadian tersebut teman-temannya yang lain pun bangkit semangat.
Samurah bin Jundub tampil dengan penuh sopan memperlihatkan otot lengannya yang kuat kekar, sementara sebagian keluarganya yang sudah ada dalam barisan mengatakan : “Samurah mampu merobohkan badan orang yang tinggi sekalipun….!
Rasulullah mendekati Samurah dan melontarkan senyumannya tanda menerimanya masuk dalam pasukan muda Mujahidin.
Dari kelompok pasukan cilik itu masih tinggal enam orang lagi, diantaranya Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Umar bin Khattab. Mereka terus berusaha dengan segala upaya minta ikut dalam barisan Mujahidin Uhud. Dihadapan Rasulullah, Zaid berkata : “Wahai Nabi, ijinkan aku ikut berjuang. Aku ingin menjadi bagian dari pasukan Muslimin. Aku ingin berperang mengalahkan musuh-musuh Allah.”
Dan Rasulullah menatap satu persatu enam wajah pasukan kecil itu penuh kasih sayang. “Aku kagum dengan keberanian kalian. Tapi, kalian masih terlalu kecil untuk berperang. Sabarlah! Suatu saat nanti kalian bisa ikut berjuang”, Rasulullah menerangkan penuh kelembutan.
Seorang Muslim dalam rombongan pasukan menceritakan kepadaku bahwa dulu si kecil 13 tahun Zaid bin Tsabit pun meminta ijin Rasulullah ikut berperang saat pasukan Muslimin tengah melakukan persiapan Perang Badr, dia datang dengan membawa sebilah pedang yang digenggamnya menyentuh tanah (karena masih kecil), sehingga saat ia berjalan terdengar suara besi bergesekan dengan kerikil. Dan Rasulullah pun menjawab ijin mereka sama seperti sekarang yang Rasulullah lakukan. Saudara Muslim itu pun menceritakan kepadaku bahwa Zaid bin Tsabit adalah seorang Anshar yang ketika berbai’at kepada Rasulullah usianya masih 11 tahun. “Subhanallah, tauhid yang luar biasa, sekiranya aku bisa menjadi murid Rasulullah pastilah hatiku girang tak terperi”, bisikku dalam hati.
-----------
Inspirasi :
Rijal Haolar Rasul (Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah), Khalid Muhammad Khalid, Penerbit : CV. Penerbit Diponegoro, Cetakan keduapuluh 2006.
Seri 10 Sahabat Cilik Rasul : Zaid bin Tsabit, Rina Novia, Penerbit : Zikrul Hakim, Cetakan pertama 2009

Faktor-faktor yang Mendorong Pergolakan

Terjadinya pergolakan di kota-kota dan di daerah-daerah pedalaman terhadap kekuasaan Kuraisy itu serta berbaliknya mereka dari Islam, bukan karena letak geografisnya dengan Medinah saja, tetapi karena faktor-faktor masyarakat Arab dan unsur-unsur asing lainnya, yang bekasnya tampak sekali pada saat-saat terakhir masa Rasulullah.
Islam tersebar dan masuk ke daerah-daerah yang jauh dari Mekah dan Medinah di semenanjung itu baru setelah penaklukan Mekah serta terjadinya ekspedisi Hunain dan pengepungan Ta’if. Sampai pada waktu itu kegiatan Rasulullah terbatas di sekitar kedua kota suci itu, Mekah dan Medinah. Islam baru keluar perbatasan Mekah tak lama sebelum hijrah ke Yasrib (Medinah). Sampai sesudah hijrah pun selama beberapa tahun berikutnya kegiatan Nabi tetap tertuju untuk menjaga kebebasan dakwah Islam di tempat yang baru ini. Setelah kaun Muslimin berhasil menghilangkan kekuasaan Yahudi di Yasrib, dan sesudah memperoleh kemenangan di Mekah, barulah orang-orang itu mau menerima agama yang benar ini. Utusan-utusan berdatangan dari segenap penjuru Semenanjung untuk menyatakan telah masuk Islam. Nabi pun mengutus wakil-wakilnya untuk mengajarkan dan memperdalam ajaran Islam serta sekaligus memungut zakat atau sedekah.

Faktor-faktor Penyebab Murtadnya Masyarakat Arab
Wajar saja bila agama ini tidak dapat mengakar ke dalam hati kabilah-kabilah itu seperti yang sudah dihayati oleh penduduk Mekah dan Medinah serta masyarakat Arab yang berdekatan di sekitarnya. Di tempat asalnya Islam memerlukan waktu dua puluh tahun penuh untuk menjadi stabil. Selama itu pula lawan-lawannya terus berusaha mati-matian melancarkan permusuhan, yang berlangsung hingga selama beberapa tahun. Akibat dan semua itu, kemudian permusuhan berakhir dengan kemenangan di tangan Islam. Ajaran-ajarannya sekarang dapat dirasakan dan meresap ke dalam hati orang-orang Arab Mekah, Ta’if, Medinah serta tempat-tempat dan kabilah-kabilah berdekatan yang dapat berhubungan dengan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Tetapi mereka yang berada jauh dari daerah yang pernah menyaksikan kegiatan Muhammad selama bertahun-tahun terus-menerus itu, mengajak orang kepada ajaran Allah dan agama Allah, agama baru itu tidak membekas pada mereka. Bahkan mereka memberontak dan berusaha hendak kembali kepada kebebasan politik dan agamanya yang lama.

Faktor-faktor Asing
Dalam membangkitkan pergolakan ini faktor-faktor asing sebenarnya tidak pula kurang pengaruhnya daripada faktor-faktor setempat. Mekah dan Medinah serta para kabilah di sekitarnya samasekali tidak mau tunduk pada kekuasaan Persia atau Rumawi yang ketika itu memang sedang menguasai dunia. Bagian utara Semenanjung itu bersambung dengan Syam, sebelah selatannya bersambung dengan Persia dan berdekatan dengan Abisinia (Etiopia), dan keduanya sudah berada di bawah pengaruh kedua imperium itu. Bahkan kawasan itu dan beberapa keamiran sudah berada di bawah kekuasaan mereka. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika pihak yang merasa punya pengaruh dan kekuasaan itu mati-matian berusaha hendak menentang agama baru ini dengan segala cara, dengan jalan propaganda politik, menganjurkan kekuasaan otonomi, dan dengan propaganda agama, kadang untuk kepentingan pihak Nasrai, kadang untuk kepentingan pihak Yahudi dan adakalanya untuk kepentingan paganisma Arab.
Kegiatan segala faktor itu tampak jelas pengaruhnya begitu tersebar berita tentang kematian Nabi. Dengan cukup berhati-hati kegiatan itu sebenarnya memang sudah mulai tampak sebelum Rasulullah wafat. Sementara kita membaca buku ini pengaruh demikian itu akan kita lihat jelas. Faktor-faktor setempat dan asing itu sendiri sudah merupakan logika yang cukup menarik untuk dipercaya, dan logika itulah yang disebarluaskan oleh para penganjurnya di antara berbagai kabilah, sehingga dengan mudah mereka memberontak dan mengobarkan fitnah.
-------------------------
ABU BAKR AS-SIDDIQ, Muhammad Husain Haekal, diterbitkan oleh Litera Antar Nusa, Cetakan Keduabelas, Januari 2010, halaman 59 - 61.

Trik Mengatasi Touch Screen Error Pada Handphone

TERANG DI HATI. Pada artikel ini saya akan berbagi trik kepada Anda semua tentang layar sentuh pada handphone (Touchscreen) yang sering error. Menurut pengalaman saya untuk mengatasi masalah ini tidak begitu rumit asalkan layar sentuhnya tidak dalam keadaan rusak atau pecah. sudah banyak sekali saya menemukan masalah seperti ini, Alhamdulilah berhasil dan bisa menjadi nota buat saya, lumayan kan sedikit buat tambahan penghasilan. jadi kalau menurut saya kalau kita punya masalah seperti ini jangan dulu kita serahkan ke jasa service. Kalau kerusakan seperti ini sudah kita percayakan kepada jasa service maka tidak jarang orang mematok harga yang sangat tinggi. Kasihan kan duit kita kasih kan kepada jasa service dalam waktu beberapa menit, padahal kita juga bisa melakukannya dengan waktu yang tidak lama dan tidak perlu ada basic teknisi atau alat service yang harus kita gunakan dalam melakukan perbaikan ini, cukup kita gunakan jari kita sendiri atau pena pada telepon itu sendiri. Kalau tidak ada pena kita bisa menggunakan logam seperti jarum tapi jangan yang terlalu lancip ujungnya. Bisa juga menggunakan tangkai korek api. Kenapa harus menggunakan benda seperti ini karena di dalam melakukan kalibirasi pena jangan terlalu lebar sentuhannya pada layar tersebut, jika terlalu lebar atau tidak mengenai titik pada layar maka touchsreen masih tetap error. Bagi Anda yang ingin melakukan trik seperti saya silahkan ikuti petunjuk dan cara mengatasi layar sentuh error di bawah ini :
  1. Pertama-tama terlebih dahulu kita cek layar sentuhnya (touchscreen) apakah sudah rusak benar atau sudah pecah.
  2. Jika layar sentuhnya tidak pecah, kita coba sentuh salah satu layarnya apakah liar atau tidak.
  3. Jika layar sentuh-nya liar atau error maka kita cek di pengaturan telepon.
  4. Di pengaturan telepon biasanya kalau sebuah handphone touchscreen pasti ada pengaturan kalibirasi (calibiration)
  5. Jika Anda sudah menemukan pengaturan kalibirasi (calibiration) maka pilihlah menu tersebut.
  6. Jika kamu sudah memilih menu kalibiasi nanti akan ada tampilan blank putih. Pada tampilan blank putih tersebut ada tulisan seperti ini "klik salah satu layar untuk melakukan kalibirasi". Cobalah kamu klik salah satu layarnya, maka akan tampil petunjuk untuk menyentuh layarnya dan kamu ikuti petunjuk tersebut sampai kalibirasi tersebut selesai.
Catatan :
Ketika Anda mengikuti petunjuk klik pada layar telepon kliknya harus pas dan tepat pada titik kalibirasinya, kalau kalibirasi (calibiration)-nya sudah selesai maka tampilan telepon (handphone) tersebut akan kembali ke tampilan awal telepon.

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (4)

Dari Mahmud bin Labid r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Sesungguhnya perkara yang paling aku kuatirkan atas kalian, ialah syirik kecil; yakni riya’.” Dikeluarkan oleh Ahmad dengan sanad yang hasan.
----------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 544-545.

MENDO’AKAN ORANG BERSIN JIKA MEMBACA ALHAMDULILLAH (1)

Abu Hurairah r.a. berkata : Bersabda Nabi s.a.w. : Sesungguhnya Allah suka pada bersin, dan membenci pada menguap. Maka jika bersin salah satu kamu dan membaca ALHAMDULILLAH, maka telah wajib atas tiap Muslim yang mendengarnya menyebut : YAR HAMU KALLAH. (Semoga Allah merahmati engkau). Adapun menguap maka itu dari syaithan, maka apabila menguap salah satu kamu harus menahannya sekuatnya. Karena salah satu kamu jika menguap ditertawakan oleh syaitan. (HR. Buchary).
----------------------
Tarjamah RIADHUS SHALIHIN II, Salim Bahreisy, Penerbit PT Alma’arif Bandung, Cetakan keempat 1979, halaman 51.

Makna dan Filosofi Motif Batik Mega Mendung

Pada bentuk mega mendung, bisa kita lihat garis lengkung dari bentuk garis lengkung yang paling dalam (mengecil) kemudian melebar keluar (membesar) yang menunjukkan gerak yang teratur harmonis. Bisa dikatakan bahwa garis lengkung yang beraturan ini membawa pesan moral dalam kehidupan manusia yang selalu berubah (naik dan turun).
Motif Mega Mendung
Hal itu kemudian berkembang keluar untuk mencari jati diri (belajar atau menjalani kehidupan sosial agama). Pada akhirnya, membawa dirinya memasuki dunia baru menuju ke dalam penyatuan diri setelah melalui pasang surut  (naik dan turun) dan pada akhirnya kembali ke asalnya (sunnatullah). Dengan demikian, kita bisa lihat bentuk mega mendung selalu terbentuk dari lengkungan kecil yang bergerak membesar keluar dan pada akhirnya harus kembali lagi menjadi putaran kecil, tetapi tidak boleh terputus. (Ragam Batik Indonesia)
Motif mega mendung bisa juga melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi penghidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan. (Kriyalea).
Jadi bisa dikatakan bahwa kekhasan motif mega mendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalam motifnya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah lahirnya batik secara keseluruhan di Cirebon.
Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan. (Presiden)
Terlepas dari makna filosofis bahwa mega mendung melambangkan kehidupan manusia secara utuh sehingga bentuknya harus menyatu, ditinjau sisi produksi memang mengharuskan bentuk garis lengkung mega mendung bertemu pada satu titik lengkung berikutnya agar pewarnaan bisa lebih mudah.

Senin, 16 Juni 2014

MENCEGAH KEJAHATAN-KEJAHATAN AKHLAK (3)

Dari Jabir r.a., ia berkata; Rasulullah s.a.w. bersabda : “Takutlah dari perbuatan aniaya, karena aniaya itu kegelapan-kegelapan di hari kiamat; dan takutlah dari kekikiran, karena kekikiran itu telah membinasakan orang-orang sebelum kamu”. Dikeluarkan oleh Muslim.
------------------------------
Tarjamah BULUGHUL MARAM, Ibnu Hajar Asqalany, Penerbit : PT. Alma’arif Bandung, Cetakan ke tujuh, 1984, Bab Kitabul Jami',  halaman 544.